FASILITASI PERMODALAN
2. CSR BUMN / BUMS
2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Perangkat Daerah
Dengan memperhatikan tugas pokok, fungsi dan sumberdaya yang dimiliki oleh organisasi dan komparasi capaian dengan renstra Kementrian Koperasi dan Usaha Mikro, maka dapat diidentifikasi tantangan pengembangan pelayanan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Surabaya dalam lima tahun ke depan sebagai berikut :
Berkaitan dengan hasil Renstra Kementerian Koperasi dan UKM dan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Propinsi Jawa Timur berdasarkan analisa Sasaran di dapat sebagai berikut pada tabel 2.14 di bawah :
1. Pertumbuhan jumlah koperasi dan usaha mikro
2. Tingginya perhatian pemerintah dan animo masyarakat untuk pengembangan produktifitas koperasi dan UMKM
3. Muncul dan tumbuhnya usaha kreatif
4. Peluang pertumbuhan pangsa pasar bagi kegiatan usaha mikro ditingkat regional, nasional dan internasional
5. Kerjasama dan dukungan stakeholder eksternal kepada pelaku usaha mikro 6. Kemampuan daya saing dan semangat kewirausahaan pelaku usaha mikro
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Tabel 2.14
Komparasi Capaian Sasaran Renstra PD Kabupaten/kota terhadap Sasaran Renstra PD Provinsi dan Renstra K/L
No Sasaran Renstra PD Indikator Sasaran Renstra PD Sasaran pada Renstra PD Provinsi Sasaran pada Renstra Kementerian 1 Meningkatnya
Produktivitas Koperasi
Tingkat Pertumbuhan
Produktivitas Koperasi Meningkatnya Nilai Tambah Bruto K-UKM Mewujudkan Koperasi yang Berdaulat, Mandiri, Maju dan Modern
Mewujudkan UMKM yang berdaulat dan Mampu Bersaing di Pasar Domestik Global 4 Meningkatnya Produktivitas Usaha Mikro Persentase Pertumbuhan Produktivitas Pelaku Usaha Mikro
Pengembangan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang selanjutnya di sebut UMKM, dalam konteks Tata Ruang Kota, terkait Lokasi dan strategi pengembangan perlu diselaraskan dengan Visi dan Misi pembangunan Kota Surabaya sesuai dengan RPJMD 2021-2026 “Gotong Royong Menuju Kota Dunia yang Maju, Humanis dan Berkelanjutan”, dengan misi “Mewujudkan perekonomian inklusif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan pembukaan lapangan kerja baru melalui penguatan kemandirian ekonomi lokal, kondusifitas iklim investasi, penguatan daya saing Surabaya sebagai pusat penghubung perdagangan dan jasa antar pulau serta internasional”.
Untuk hasil telaahan ini akan melihat rencana pembangunan dan insfrastruktur kota, sebagai pedoman pengembangan sektor koperasi dan UMKM di Surabaya lima tahun mendatang. Acuan pengembangan didasarkan kepada RTRW dan RDTR Kota Surabaya, yang akan dijabarkan pada penjelasan selanjutnya:
Pengembangan dan program pemberdayaan UMKM dalam RTRW dijabarkan melalui Kebijakan Struktur Ruang dan Pola Ruang dalam RTRW Kota Surabaya Tahun 2014-2034 sebagai sektor usaha industri, sektor informal, sektor permukiman dan sektor perdagangan dan jasa. Beberapa strategi komponen pengembangannya, antara lain:
67 | B a b 2
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
a. Komponen Kawasan Peruntukan Industri, Program yang diarahkan adalah Pengembangan Industri Kerajinan dan Industri Rumah Tangga; dan,
b. Komponen Kawasan Kegiatan Usaha bagi sektor Informal, Program yang diarahkan adalah :
- Pengembangan Sentra Pedagang Kaki Lima dengan konsep wisata kuliner yang terintegrasi dengan kawasan budidaya budidaya antara lain pada kawasan dengan peruntukan perkantoran, perdagangan dan jasa, pelayanan umum, terminal dan taman kota yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya;
- Penataan kawasan peruntukan sektor usaha informal melalui pembangunan sentra Pedagang Kaki Lima yang memperhatikan nilai estetika lingkungan; dan,
- Penyediaan sarana prasarana pendukung di kawasan peruntukan sektor usaha informal. c. Komponen Permukiman, Program yang diarahkan adalah penataan dan sentralisasi
Pedagang Kaki Lima yang terintegrasi dengan hunian vertikal yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya; dan,
d. Komponen Kawasan Perdagangan dan Jasa, Program yang diarahkan adalah : - Pengembangan dan revitalisasi pasar tradisional; dan,
- Penyediaan ruang UMKM oleh sektor swasta, terintegrasi dengan pengembangan bangunan komersial sebagai bentuk kontribusi dalam pengembangan ekonomi mikro di Surabaya
Pengembangan sebaran sektor UMKM dalam Konsep Tata Ruang Kota terkait dengan Peruntukan Guna Lahan, Kepadatan Penduduk dan Infrastruktur Kota akan dijabarkan pada penjelasan selanjutnya terkait dengan sebaran aktivitas Koperasi, Pasar Rakyat dan Sentra Wisata Kuliner.
Sebaran fasilitas Koperasi, Sentra Kuliner dan Pasar Rakyat hanya ditemukan pada area budidaya (non RTH). Dengan dominasi sebaran berada pada peruntukan Perdagangan dan
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Jasa serta Permukiman, sedangkan lainnya tersebar pada peruntukan Fasilitas Umum, Industri, Kawasan Militer dan Pelabuhan, seperti terlihat pada gambar 19 dibawah :
Gambar 19
Peta Sebaran SWK dan Pasar Tradisional dalam Konteks Peruntukan
Konteks Kepadatan Penduduk menjadi salah satu indikasi pola perkembangan kota, dikaitkan dengan sebaran fasilitas Koperasi, Sentra Kuliner dan Pasar Rakyat secara umum mengikuti pola perkembangan Kota, dimana semakin padat penduduk disuatu kawasan maka jumlah fasilitas cenderung lebih banyak. Pada gambar 20 menjelaskan sebaran SWK dan Pasar Tradisional yang dibina oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Surabaya.
69 | B a b 2
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Gambar 20
Peta Sebaran SWK dan Pasar Tradisional dalam Konteks Kepadatan Penduduk
Sebaran fasilitas Koperasi, Sentra Kuliner dan Pasar Rakyat dilihat dari peta infrastruktur hirarki jalan, keseluruhan fasilitas terlayani oleh jaringan jalan, yang tersebar baik pada kelas arteri, sekunder maupun jalan lokal dan lingkungan. Hal ini menunjukan perkembangan fasilitas koperasi, sentra kuliner dan pasar rakyat, tidak hanya terletak di koridor utama kota melainkan juga tersebar sampai dengan koridor skala lingkungan.
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Gambar 21
Peta Sebaran SWK dan Pasar Tradisional dalam Konteks Jaringan Jalan
Lingkup wilayah RDTR Kota Surabaya adalah seluruh wilayah adminsitrasi darat Kota Surabaya yang terbagi atas 12 Unit Pengembangan (UP) atau dikenal juga dengan Bagian Wilayah Perkotaan (BWP). Telaahan dari sebaran Koperasi dan UMKM, nantinya akan dikaitkan dengan posisi pengembangannya dalam konteks Unit Pengembangan (UP). Pembagian Wilayah Perkotaan di Surabaya seperti terlihat pada tabel 2.15 dibawah :
71 | B a b 2
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Tabel 2.15
Pembagian Wilayah Perkotaan dalam Unit Pengembangan
No Unit Pengembangan Lingkup Kecamatan Luasan (ha) 1 UP I Rungkut Rungkut, Tenggilis Mejoyo, dan Gunung Anyar 3.903,27
2 UP II Kertajaya Mulyorejo dan Sukolilo 4.757,53
3 UP III Tambak Wedi Kenjeran dan Bulak 1.490,03
4 UP IV Dharmahusada Gubeng dan Tambaksari 1.678,72
5 UP V Tanjung Perak Pabean Cantian, Semampir, dan Krembangan 2.300,09 6 UP VI Tunjungan Simokerto, Bubutan, Tegalsari, dan Genteng 1.504,25
7 UP VII Wonokromo Sawahan dan Wonokromo 1.544,83
8 UP VIII Dukuh Pakis Dukuh Pakis dan Sukomanunggal 1.984,32
9 UP IX Ahmad Yani Jambangan, Wonocolo, Gayungan 1.652,44
10 UP X Wiyung Wiyung, Karang Pilang, dan Lakarsantri 4.033,12 11 UP XI Tambak Oso Wilangon Benowo, Tandes, dan Asemrowo 5.434,03
12 UP XII Sambikerep Sambikerep dan Pakal 3.633,13
Beberapa telaahan terkait Koperasi dan UMKM berdasarkan dokumen RDTR, antara lain : a. Tipologi kegiatan usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam Nomenklatur RDTR
masuk dalam beberapa kelompok kegiatan dan tipologi kegiatan :
Perumahan dengan tipologi kegiatan
- Rumah usaha, Fungsi rumah tetapi juga dipakai untuk kegiatan usaha perdagangan / jasa skala lingkungan (bukan industri); dan,
- Home industri, Fungsi rumah tetapi juga dipakai untuk kegiatan industri skala rumah tangga yang merupakan usaha mikro dan kecil dan tidak menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan.
Perdagangan dan Jasa dengan tipologi kegiatan
- Tempat usaha makanan dan minuman, tempat usaha dan/atau produksi untuk jasa boga atau pengolahan makanan dan/atau minuman;
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
- Tempat usaha workshop, tempat usaha yang sifatnya melakukan servis dan produksi tetapi masih dikategorikan masuk dalam jasa komersial;
- Tempat usaha restoran, bangunan/gedung yang fungsi utamanya untuk kegiatan usaha (swasta/perseorangan) penyediaan makanan dan minuman didalam 1 (satu) tempat tetap yang tidak berpindah-pindah;
- Toko, Tempat usaha yang sifatnya menjual atau menyewakan suatu barang;
- Rumah toko, Rumah Toko / Rumah Kantor adalah tempat usaha yang fungsi utamanya adalah toko/ kantor, tetapi sebagian juga dimanfaatkan untuk rumah tinggal;
- Sentra makanan, tempat usaha yang dapat berupa bangunan dan/atau ruang terbuka baik permanen maupun semi permanen berupa tenant- tenant tempat penjualan makanan jadi atau siap santap ;
- Sentra PKL, lokasi binaan pelaku usaha yang melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah dan/atau swasta yang terdiri atas lokasi permanen dan lokai sementara yang ditetapkan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah; dan,
- Pasar Rakyat, Pasar yang ruang lingkup pelayanannya meliputi satu lingkungan permukiman di sekitar lokasi pasar, dengan jenis barang yang diperdagangkan meliputi kebutuhan pokok sehari-hari.
b. Arahan pengembangan Daya Tarik Wisata (DTW) buatan manusia, termasuk didalamnya kegiatan kuliner maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menempel pada pengembangan Kampung Wisata/ Tematik dalam mendorong ekonomi lokal, seperti (kampung tempe, kampung bordir, kampung unggulan kue, kampung krupuk gunung anyar- kejeran, kampung handycraft, kampung tas, kampung herbal, kampung jamur, kampung sepatu, kampung paving, kampung made)
73 | B a b 2
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
c. Ketentuan teknis kegiatan Sentra PKL, antara lain :
Berada pada rumija minimal 6 m (enam meter);
Mencukupi dan menyediakan kebutuhan parkir di dalam persil; dan apabila kebutuhan parkir pada rekomendasi lalu lintas tidak mencukupi maka kegiatan yang dimohon tidak dapat diijinkan; dan,
Apabila berada pada lokasi tanah aset Pemerintah Daerah, maka harus melakukan sosialisasi kepada warga setempat dan mendapat izin dari instansi yang berwenang. Unit Pengembangan (UP) di Surabaya terbagi menjadi 12 bagian, dengan karakter sebaran UMKM antara lain :
Pasar Rakyat, terlihat tersebar di area periferi Kota antara lain di UP I, UP II, UP III, UP IX, UP X, UP XI dan UP XII;
Sentra Wisata Kuliner, tersebar lebih merata tersebar lebih merata pada UP I s.d. UP XII; dan
Koperasi, Sebaran kegiatan koperasi ini didominasi di Surabaya Utara (UP III dan V), Surabaya Pusat (UP VI), Surabaya Timur (UP IV) dan Surabaya Selatan (UP VII, VIII, IX, X) sebagai titik sebaran dan aktivitas penduduk yang tertinggi.
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Gambar 22
Peta Sebaran SWK dan Pasar Tradisional dalam Konteks Unit Pengembangan (UP)
Pengembangan Koperasi dan UMKM dalam konteks tata ruang dan infrastruktur perlu memperhatikan beberapa hal dasar, antara lain :
Zonasi Peruntukan, Berada pada zona area budidaya atau non RTH;
Aksesibilitas, Terfasilitasi oleh fasilitas infrastruktur dasar (listrik, air) dan dapat diakses; dan,
Lokasi, Pertimbangan pemilihan lahan dengan tujuan pemenuhan kebutuhan lingkungan, maupun pengembangan potensi UMKM ekonomi lokal.
Berdasarkan hasil telaahan Rencana Tata Ruang di Kota Surabaya disampaikan hasil terkait dengan Rencana Strategis Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Kota Surabaya pada tabel 2.16 serta Hasil Telaahan Pola Ruang Wilayah Provinsi / Kabupaten / Kota Surabaya sebagai berikut :
75 | B a b 2
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Tabel 2.16
Hasil Telaahan Pola Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota Surabaya
No Indikasi Program Pemanfaatan Ruang pada Periode Perencanaan Berkenaan Struktur Ruang terhadap Pengaruh Rencana Kebutuhan Pelayanan PD
Arahan Lokasi Pengembangan Pelayanan
PD 1 1. Program Pelayanan Izin Usaha Simpan
Pinjam,
2. Program Pengawasan Dan Pemeriksaan Koperasi,
3. Program Pendidikan Dan Latihan Perkoperasian
4. Program Pemberdayaan Dan Perlindungan Koperasi
Membuka peluang Koperasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan koperasi
Kota Surabaya
2 1. Program Pemberdayaan Usaha Menengah, Usaha Kecil, Dan Usaha Mikro (UMKM) 2. Program Pengembangan UMKM
Pendampingan Usaha Mikro untuk meningkatkan daya saing kualitas dan kuantitas
Kota Surabaya
Pemberdayaan usaha mikro (UM) serta Koperasi merupakan langkah yang strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian. Daya saing usaha-usaha ekonomi lokal, inovasi produk dan jasa, serta pengembangan industri kreatif di Kota Surabaya adalah daya saing UM pada sektor barang, jasa dan koperasi. UM menjadi satu sektor yang memiliki peran strategis terhadap perekonomian Kota Surabaya, yang antara lain ditunjukkan dengan penyerapan tenaga kerja dan kontribusi terhadap PDRB Kota Surabaya melaui peningkatan produktivitas usaha.
Peningkatan jumlah koperasi di Kota Surabaya disertai dengan peningkatan pertumbuhan jumlah anggota koperasi, hal ini menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota dapat dikatakan berhasil. Pada tahun 2016 jumlah anggota koperasi di Kota Surabaya sebanyak 261.799 orang, pada tahun 2017 jumlah anggota koperasi juga meningkat menjadi 262.153 orang, serta ditahun 2018 jumlah anggota koperasi mencapai 266.396 Orang, selanjutnya pada tahun 2019 jumlah anggota koperasi meningkat menjadi 271.267 orang dan tahun 2020 meningkat menjadi 270.530 orang Secara rinci pertumbuhan anggota koperasi dapat dilihat pada Tabel 2.167
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Tabel 2.17
Pertumbuhan Anggota Koperasi Tahun 2016 – 2020
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020
Jumlah anggota koperasi 261.799 262.153 266.396 271.267 270.530
Pembinaan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota dapat dikatakan cukup berhasil, hal tersebut dapat ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah koperasi aktif. Pada tahun 2016 jumlah koperasi di Kota Surabaya adalah sebanyak 1.726 koperasi dengan koperasi aktif sebanyak 1.461 koperasi. Sedangkan pada tahun 2017 jumlah koperasi di Kota Surabaya adalah sebanyak 1.747 koperasi dengan koperasi aktif sebanyak 1.484 koperasi, pada tahun 2018 jumlah koperasi meningkat menjadi 1.750 koperasi dengan jumlah koperasi aktif sebanyak 1.487 koperasi. Selanjutnya, pada tahun 2019 jumlah koperasi kembali meningkat sebanyak 1.784 koperasi dengan koperasi aktif sebanyak 1.521 koperasi dan di tahun 2020 jumlah koperasi meningkat menjadi 1.817 koperasi dengan koperasi aktif sebanyak 1.554. Secara rinci presentase koperasi aktif dapat dilihat pada Tabel 2.18.
Tabel 2.18
Persentase Koperasi Aktif Kota Surabaya Tahun 2016 – 2020
No. Uraian 2016 2017 2018 2019 2020
1 Jumlah koperasi 1.726 1.747 1.750 1.784 1.817 2 Jumlah koperasi aktif 1.463 1.484 1.487 1.521 1.554 3 Persen koperasi aktif 84,65 84,95 84,97 85,26 85,53
Sumber: Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, 2020
Rasio volume usaha koperasi dibandingkan dengan jumlah koperasi aktif pada tahun 2018 mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2016 jumlah volume usaha koperasi adalah sebesar 1,657 milyar dari 1.463 koperasi, pada tahun 2017, volume usaha koperasi meningkat menjadi 1,797 milyar dari 1.484 koperasi, di tahun 2018 volume usaha koperasi meningkat mencapai 2,092 milyar dari 1.487 koperasi, tahun 2019 volume usaha koperasi meningkat mencapai 2,128 milyar dari 1.521 koperasi, dan tahun 2020
77 | B a b 2
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
volume usaha koperasi menurun menjadi 1,865 milyar dari 1.554 koperasi. Secara rinci rasio volume usaha koperasi dibandingkan dengan jumlah koperasi dapat dilihat pada Tabel 2.19.
Tabel 2.19
Rasio Volume Usaha Koperasi Aktif Terhadap Jumlah Koperasi Aktif di Kota Surabaya Tahun 2016 – 2020
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020
Jumlah Koperasi Aktif 1.463 1.484 1.487 1.521 1.554 Volume Usaha Koperasi Aktif (Rp. Milyar) 1.657 1.797 2.092 2.128 1.865
Rasio 1,13 1,21 1,41 1,4 1,2
Sumber: Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, 2019
Dasar perekonomian juga ditunjukkan dengan peningkatan jumlah UMKM. Sampai dengan tahun 2018 jumlah UMKM tercatat sebanyak 26.854 di mana sebanyak 22.924 merupakan Usaha Mikro dan Kecil. Jumlah usaha kecil dan menengah yang tercatat merupakan usaha kecil dan menengah yang telah memiliki izin dan untuk usaha mikro yang tercatat merupakan jumlah usaha mikro baik yang memiliki izin maupun yang masih belum memiliki izin. Secara rinci rekap data presentase usaha mikro dan kecil Kota Surabaya dapat dilihat pada tabel 2.20berikut.
Tabel 2.20
Persentase Usaha Mikro dan Kecil Kota Surabaya Tahun 2016 – 2019
No. Uraian 2016 2017 2018 2019 2020
1 Jumlah seluruh
UMKM 26.854 26.854 26.854 26.854 26.854
2 Jumlah Usaha Mikro
dan Kecil 22.924 22.924 22.924 22.924 22.924
3 Persentase Usaha
Mikro dan Kecil 85,37 85,37 85,37 85,37 85,37
Sumber: Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, 2020
Guna peningkatan pelayanan yang maksimal pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah berikut disampaikan analisis terhadap dokumen hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), pada tabel 2.21:
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Tabel 2.21
Hasil Analisis terhadap Dokumen KLHS Kota Surabaya Dinas Koperasi dan Usaha Mikro
No Aspek Kajian Ringkasan KLHS Implikasi terhadap Pelayanan PD
Catatan bagi Perumusan Program dan Kegiatan
PD 1 Kapasitas daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup untuk pembangunan
2 Perkiraan mengenai dampak dan risiko
lingkungan hidup
3 Kinerja layanan/jasa ekosistem - -
4 Efisiensi pemanfaatan sumber daya alam -
5 Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi
terhadap perubahan iklim -
6 Tingkat ketahanan dan potensi
keanekaragaman hayati -
Data diatas menunjukan kecenderungan perkembangan sektor koperasi dan UMKM, dengan meningkatnya persentase dan quantitas pada beberapa komponen pengamatan. Tren positif perkembangan sektor koperasi dan UMKM dalam kacamata sosial dan ekonomi, juga harus dapat menjamin keutuhan lingkungan hidup, salah satunya dengan meminimalisir dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan hidup, sehingga dapat tercapai pembangunan berkelanjutan.
Hal ini nantinya menjadi pertimbangkan dalam menentukan arah kebijakan atau program pengembangan sektor koperasi dan UMKM, khususnya dalam arah menetapkan lokasi pembangunan di area yang memang dialokasikan untuk bangunan dan bukan ruang terbuka hijau, adapun hasil analisis yang berimplikasi pada tantangan dan peluang dan macam pelayanan / kegiatan, perkiraan besaran kebutuhan pelayanan dan arahan lokasi pengembangan pelayanan yang dibutuhkan pada Tabel 2.22 sebagai berikut:
79 | B a b 2
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
Tabel 2.22
Perkiraan Besaran Kebutuhan Pelayanan dan Arahan Lokasi Pengembangan Pelayanan
No Kegiatan Indikator Lokasi Target Rp
Tahun 2022 Tahun 2023 Tahun 2024 Tahun 2025 Tahun 2026 Satuan 1 Penerbitan Izin Usaha Simpan
Pinjam untuk Koperasi dengan Wilayah Keanggotaan dalam Daerah Kabupaten/Kota
Jumlah penerbitan izin usaha simpan pinjam koperasi
Kota Surabaya
33 34 33 30 28 koperasi
595.493.935 648.933.961 706.398.618 771.466.615 839.678.152
2 Pemeriksaan dan Pengawasan Koperasi, Koperasi Simpan Pinjam/Unit Simpan Pinjam Koperasi yang Wilayah Keanggotaannya dalam Daerah Kabupaten/ Kota
Jumlah koperasi yang mendapatkan pengawasan
Kota Surabaya
415 415 415 415 415 koperasi
1.005.430.679 1.023.128.515 1.121.845.143 1.198.254.379 1.281.571.651
3 Pendidikan dan Latihan Perkoperasian bagi Koperasi yang Wilayah Keanggotaan dalam Daerah Kabupaten/Kota
Jumlah pengurus/pengelola yang mendapat pendidikan dan pelatihan Kota Surabaya 100 (179 orang) 100 (179 orang) 100 (179 orang) 100 (179 orang) 100 (179 orang) prosentase 477.037.074 484.062.471 491.297.054 498.751.078 506.429.348 4 Pemberdayaan dan
Perlindungan Koperasi yang Keanggotaannya dalam Daerah Kabupaten/Kota
jumlah koperasi yang
difaslitasi untuk meningkatkan usaha koperasi
Kota Surabaya
83 83 83 83 83 koperasi
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
No Kegiatan Indikator Lokasi Target Rp
Tahun 2022 Tahun 2023 Tahun 2024 Tahun 2025 Tahun 2026 Satuan 5 Pemberdayaan Usaha Mikro
yang Dilakukan melalui Pendataan, Kemitraan, Kemudahan Perizinan, Penguatan Kelembagaan dan Koordinasi dengan Para Pemangku Kepentingan
Jumlah pelaku usaha mikro yang mendapatkan fasilitasi kemitraan
Kota Surabaya
135 136 136 136 136 orang
Jumlah sentra usaha yang pelaku usaha mikro nya mendapatkan pembinaan Kota Surabaya 10 10 10 10 9 sentra 311.410.151 337.108.852 349.253.840 362.493.904 376.921.632 9.505.508.470 7.601.009.960 8.065.532.345 8.566.283.047 8.683.566.383
6 Pengembangan Usaha Mikro dengan Orientasi Peningkatan Skala Usaha menjadi Usaha Kecil
Jumlah pelaku usaha mikro produktif yang mendapatkan fasilitasi pembinaan untuk meningkatkan kinerja usaha
Kota Surabaya 500 500 500 500 500 Pelaku usaha mikro (orang) 1.459.099.590 1.559.575.177 1.669.221.476 1.788.047.242 1.917.711.893 7 Administrasi Keuangan Perangkat Daerah Persentase ketersediaan anggaran untuk gaji dan tunjangan ASN Kota Surabaya 100 100 100 100 100 prosentase 11.956.779.193 12.255.698.673 12.562.091.14 0 12.876.143.41 8 13.198.047.00 4
8 Administrasi Umum Perangkat Daerah
Persentase ketersediaan barang dann jasa perkantoran
Kota Surabaya
100 100 100 100 100 prosentase
81 | B a b 2
Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
No Kegiatan Indikator Lokasi Target Rp
Tahun 2022 Tahun 2023 Tahun 2024 Tahun 2025 Tahun 2026 Satuan 9 Pemeliharaan Barang Milik
Daerah Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah
Persentase pemeliharaan dan pengadaan sarana perkantoran
Kota Surabaya
100 100 100 100 100 prosentase
Rancangan Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 2021
BAB III
PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH