• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANGGUNG JAWAB KURATOR DALAM PEMBERESAN BOEDEL PAILIT

C. Tantangan Dalam Membereskan Boedel Pailit dan Tugas Utama Kurator

Secara teoritis dengan diangkatnya Kurator sebagaimana yang dituangkan dalam putusan pernyataan pailit oleh hakim pengadilan niaga, sekilas tampaknya tidak ada masalah. Artinya, Kurator secara yuridis

89 Ibid, hlm. 70.

mempunyai kewenangan untuk mengurus harta pailit. Akan tetapi, dalam melaksanakan tugasnya Kurator sangat mungkin mengalami berbagai hambatan antara lain, karena:90

1. Tidak diizinkannya atau dihalang-halangi masuk ke kantor atau rumah debitor.

2. Mendapatkan ancaman balik dari debitor atau karyawan atau suruhan dari debitor.

3. Surat atau dokumen tidak diserahkan oleh debitor.

4. Dilaporkan ke polisi dengan alasan penggelapan.

5. Dilaporkan atas pencemaran nama baik, dll.

Oleh karena itu, sekalipun dalam menjalankan tugas mendapatkan hambatan, kurator harus tetap membereskan harta pailit. Langkah yang pertama haru dilakukan kurator adalah mengumumkan ikhtisar putusan pengadilan dalam berita negara dengan surat kabar yang berskala nasional.91

Dalam hal pengurusan dan pemberesan harta pailit, Kurator kerap mendapat tantangan dalam melaksanakan tugasnya jika menyangkut pada kepailitan perseroan terbatas. Bahkan kehadiran kurator ditolak oleh para pengurus perseroan dengan alasan pengurusan harta perseroan pailit harus dilakukan oleh seorang likuidator yang akan ditentukan sendiri oleh RIPS.

Dari satu sisi, alasan ini memiliki dasar hukum karena sesuai dengan

90 Bernard Nainggolan, Op. Cit. hlm. 62.

91 Ibid, hlm. 63.

ketentuan pembubaran perseroan dan likuidasi yang diatur oleh UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, perseroan yang dibubarkan wajib diikuti dengan likuidasi harta perseroan dan selanjutnya pengurusan dan pemberesan harta perseroan dilakukan oleh seorang likuidator yang dipilih oleh RUPS. Namun jika perseroan dinyatakan pailit atas permohonan salah satu kreditornya, tugas likuidator digantikan oleh kurator yang ditunjuk dalam putusan pailit.92

Dalam kaitan pengurusan dan pengelolaan, Kurator harus melaksanakan semua upaya untuk mengamankan harta pailit dan menyimpan semua surat, dokumen, uang, perhiasan, efek dan surat berharga lainnya dengan memberikan tanda terima. Kemudian, sebelum melakukan pemberesan, kurator harus menguangkan seluruh boedel pailit.

Salah satu prinsip yang harus dipegang oleh para kurator dalam proses pemberesan harta pailit adalah CASH IS THE KING, yakni kurator sedapat mungkin harus menguangkan seluruh harta pailit, tidak hanya itu saja kurator juga berhak melakukan penjualan asset debitor dalam proses kepailitan.93

Bilamana dianggap perlu dan menguntungkan bagi para kreditor, kurator juga berhak mengusulkan untuk melanjutkan usaha perusahaan debitor pailit. Jika hal ini mendapat persetujuan, maka kurator akan bertindak sama seperti direksi yang akan menjalankan usaha perusahaan

92 Elyta Ras Ginting, Hukum Kepailitan Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, Op.

Cit. hlm.162.

93 Bernard Nainggolan, Op. Cit. hlm. 64.

tersebut. Menurut Bernard Nainggolan, seorang kurator di Jakarta, ada kalanya bagian harta pailit tidak dapat segera dibereskan (diuangkan atau dijual). Kurator, dengan persetujuan hakim pengawas berhak mengambil keputusan, tindakan apa yang harus dilakukan terhadap bagian harta pailit tersebut.

Terhadap semua itu, kembali lagi ditegaskan bahwa, apapun keputusan dan tindakan yang dilakukan kurator harus berlandaskan pada visi utama, yakni memaksimalkan nilai atau mutu harta pailit. Jika nilai atau mutu boedel pailit meningkat, itu berarti menguntungkan bagi para kreditor. Untuk memaksimalkan nilai atau mutu harta pailit, dengan berpedoman pada pasal 25 UU KPKPU, Kurator dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Mengajukan usul untuk melanjutkan usaha debitor pailit.

b. Mengajukan usul pada hakim pengawas untuk menyegel harta pailit.

c. Mengalihkan harta pailit yang biaya pemeliharaannya membebani biaya kepailitan.

d. Menyimpan uang tunai di bank untuk meningkatkan nilainya dari perolehan bunga bank.

e. Membatalkan perbuatan debitor pailit yang dilakukan sebelum dirinya dinyatakan pailit yang menurut penilaian kurator telah merugikan harta pailit.

f. Meneruskan atau memutuskan perjanjian sewa-menyewa.

g. Melakukan pemutusan hubungan kerja guna menekan biaya kepailitan.

h. Menerima warisan debitor i. Membatalkan hibah, dll

Kurator apabila akan melanjutkan usaha debitor sesuai dengan asas kelangsungan usaha yang terdapat dalam UUK-PKPU kurator harus memenuhi dua syarat, yakni syarat prosedural dan syarat substansial.

Syarat prosedural merupakan syarat syarat yang di atur dalam UUK-PKPU mengenai tata cara seorang kutaror dalam hal akan melanjutkan usaha debitor, sedangkan syarat subtansial adalah syarat dimana tugas seorang kurator adalah untuk meningkatkan mutu boedel pailit atau untuk kepentingan kreditor, oleh karena itu syarat mutlak dilakukannya tindakan melanjutkan usaha debitor pailit adalah bilamana kurator yakin dan dapat menunjukkan bahwa tindakan melanjutkan usaha tersebut adalah untuk meningkatkan mutu dan nilai harta pailit yang pada nantinya akan menguntungkan para kreditor yang disertai dasar bahwa perusahaan masih going concern.94

Dasar hukum yang memperkuat kewenangan kurator tersebut terdapat dalam Pasal 104 UU KPKPU yang menyebutkan bahwa berdasarkan persetujuan panitia kreditor sementara, Kurator dapat melanjutkan usaha Debitor yang dinyatakan pailit walaupun terhadap putusan pernyataan pailit tersebut diajukan kasasi atau peninjauankembali.

94 Ibid, hlm. 85-86.

Manfaat dari pelanjutan usaha perusahaan yang pailit sebagaimana dikemukakan oleh J.B. Huizink bahwa nilai suatu perusahaan sering lebih tinggi dari pada jumlah nilai dari masing-masing unitnya. Lebih lanjut Huizink menyatakan bahwa pelanjutan kegiatan usaha dapat didorong juga oleh berbagai alasan, misalnya karena kurator melihat kemungkinan-kemungkinan untuk meneruskan perusahaan pailit itu dalam bentuk yang lebih ramping, baik oleh si pailit (setelah penawaran suatu perdamaian) atau yang lebih sering, oleh pihak lain. Alasan kedua, yang lebih umum, adalah untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang sedang berjalan atau untuk mewujudkan tercapainya hasil yang lebih besar dalam rangka pencairan perusahaan tersebut.95

Dalam hal membereskan harta pailit dari perseroan terbatas yang berkerja untuk membagun suatu bangunan, Kurator kerap menghadapi tantangan. Salah satu bentuk tantangan tersebut berupa bangunan yang sudah mulai dibangun tetapi belum selesai. Kejadian yang sering terjadi, apabila harus dijual, bangunan tersebut belum memiliki nilai ekonomis yang sepadan dengan biaya pembangunannya, sehingga kurator lebih memilih untuk melanjutkan usaha debitor tersebut lalu menjualnya saat bangunan tersebut sudah selesai.

Kelanjutan usaha dari Perseroan Terbatas pailit bergantung kepada cara pandang Kurator serta kreditor atas prospek usaha debitor pailit di masa mendatang. Dengan mempertimbangkan ketentuan Pasal 104 UU

95 Catur Irianto, Op. Cit.

KPKPU dan Asas Kelangsungan Usaha, Kurator bersama-sama Panitia Kreditor dengan persetujuan Hakim Pengawas, dapat mengusulkan agar PT yang telah dinyatakan insolven dapat tetap melangsungkan usaha.96

D. Tanggung Jawab Kurator dalam Memaksimalkan Boedel Pailit Guna