• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN KURATOR DALAM PEMBERESAN BOEDEL PAILIT A. Pengertian dan Sejarah Kepailian

B. Tujuan, Asas-asas dan Dasar Hukum Kepailitan

Louis E. Levinthal dalam bukunya yang berjudul The Early History of Bankruptcy Law tujuan utama dari hukum kepailitan digambarkan sebagai berikut :

“All bankruptcy law, however, no matter when or where devised and enacted, has at least two general objects in view. It aims first, to secure an equitable division of the insolvent debtor‟s property among all his creditors, and in the second place, to prevent on the part of the insolvent debtor conduct detrimental to the interest of his creditors. In other words, bankruptcy law seeks to protect the creditors, first, from one another and, secondly, from their debtor. A third object, the protection of the honest debtor from his creditors, by means of the discharge, is ought to be attained in some of the systems of bankruptcy, but this is by no means a fundamental feature of the law.”

Dari penjelasan diatas dapat diuraikan bahwa tujuan hukum kepailitan adalah :

44 Elyta Ras Ginting, Hukum Kepailitan Teori Kepailitan, Op. Cit. hlm. 41.

a. Untuk menjamin pembagian yang sama terhadap seluruh harta debitor bagi para kreditornya.

b. Untuk mencegah agar debitor pailit tidak melaukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditor.

c. Untuk memberikan perlindungan kepada debitur yang beritikad baik dari para kreditornya, dengan cara memperoleh pembebasan utang.45

Sedangkan menurut Profesor Radin dalam bukunya The Nature of Bankruptcy mengungkapkan bahwa:

“purpose of all bankruptcy laws is to provide a collective forum for sorting out the rights of the various claimants against the assets of debtor where there are not enough assets to go around.” 46

Sederhananya dapat diartikan tujuan dari semua undang-undang kepailitan (Bankruptcy Laws) diberbagai negara adalah untuk memberikan suatu forum kolektif untuk memilah-milah hak-hak dari berbagai penagih terhadap aset seorang debitur yang tidak cukup nilainya.

Menurut Rudhi prasetya, adanya lembaga kepailitan berfungsi untuk mencegah kesewenang-wenangan pihak kreditor yang memaksa dengan berbagai cara agar debitor membayar utangnya. Dengan adanya lembaga kepailitan memungkinkan debitor membayar utang-utangnya secara tertib dan adil yaitu:

a. Dengan dilakukannya penjualan atas harta pailit yang ada, yakni seluruh harta kekayaan yang tersisa dari debitor

45Adrian Sutedi, Op. Cit. hlm. 29.

46 Imran Nating, Op. Cit. hlm. 9.

b. Membagi hasil penjualan harta pailit tersebut kepada para kreditor sesuai dengan hak prefensinya dan proporsionalnya.

Sutan Remy Sjahdenini berpendapat bahwa tujuan dari hukum kepailitan adalah:

a. Melindungi para kreditor konkuren untuk memperoleh hak-hak mereka sesuai dengan asas jaminan. Semua harta kekayaan debitur, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi jaminan bagi perikatan debitur, yaitu dengan cara memberikan fasilitas dan prosedur untuk mereka dapat memenuhi tagihan-tagihannya terhadap debitur. Asas jaminan tersebut diatur dalam pasal 1131 KUHPerdata. Hukum kepailitan menghindari terjadi perebutan yang dilakukan oleh para kreditor terhadap harta debitur berkenaan dengan asas jaminan tersebut. Tanpa adanya Undang-Undang Kepailitan, maka akan terjadi kreditor yang lebih kuat mendapatkan bagian yang lebih banyak daripada kreditor yang lemah.

b. Menjamin agar pembagian harta debitur pailit kepada para kreditornya sesuai dengan asas pari passu (membagi secara proporsional harta kekayaan debitur kepada para kreditur berdasarkan besarnya tagihan masing-masing). Asas pari passu diatur dalam pasal 1132 KUHPerdata.

c. Setelah dinyatakan pailit oleh pengadilan maka debitur secara hukum tidak memiliki kewenangan untuk mengurus hartanya maka dari itu tujuan hukum kepailitan juga untuk mencegah agar debitur tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditornya.47

Sebagaiman disebutkan dalam penjelasan umum UU KPKPU keberadaan undang-undang ini didasarkan pada beberapa asas dalam kepailitan. Asas- asas tersebut antara lain.

1. Asas Keseimbangan

Undang-undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupahkan perwujudan asas keseimbangan. Di satu pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh debitor yang tidak jujur. Di lain pihak, terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh kreditor yang tidak beritikad baik.48

2. Asas kelangsungan usaha

Undang-undang kepailitan juga memungkinkan atau memberikan kesempatan kepada debitor dimana apabila debitor dinilai masih memiliki itikad baik dan dipandang mempunyai prospek untuk melangsungkan usahanya, untuk melanjutkan usahanya dan melunasi utang-utangnya kepada kreditor.

47 Bernard Nainggolan, Op. Cit., hlm. 10.

48 Bagus Irawan, Aspek-Aspek Hukum Kepailitan, Perusahaan dan Asuransi, (Bandung:

Alumni, 2007), hlm. 34.

3. Asas keadilan

Undang-undang kepailitan menjamin bagi seluruh pihak yang berkepentingan guna pembagian harta pailit. sesuai dengan asas pari passu sebagaimana yang diatur dalam pasal 1132 KUHPerdata dimana dalam membagi harta pailit dilakukan secara proporsional.

Asas ini juga untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran tagihannya tanpa mempedulikan kreditor lainnya.

4. Asas integrasi

Asas integrasi artinya antara sistem hukum formil dan materil dalam undang-undang kepailitan merupahkan suatu kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan acara perdata nasional.

Selain asas-asas yang secara eksplisit dijelaskan dalam penjelasan umum undang-undang kepailitan diatas. Menurut Sutan Remy Sjahdeini,suatu undang-undang kepailitan termasuk undang-undang kepailitan di Indonesia seyogiyanya memuat asas-asas berikut:

a. Undang-undang kepailitan harus dapat mendorong kegairahan investasi asing, mendorong pasar modal, dan memudahkan perusahaan Indonesia memperoleh kredit luar negeri.

b. Undang-undang kepailitan harus memberikan perlindungan yang seimbang bagi kreditor dan debitor.

c. Putusan pernyataan pailit seyogianya berdasarkan persetujuan para kreditor mayoritas

d. Permohonan pernyataan seyogianya hanya dapat diajukan terhadap debitor yang insolven, yaitu yang tidak membayar utangnya kepada para kreditor mayoritas.

e. Sejak dimulainya pengajuan permohonan pernyataan pailit, seyogianya diberlakukan keadaan diam.

f. Undang-undang kepailitan harus mengakui hak separatis dari kreditor pemegang hak jaminan.

g. Permohonan pernyataan pailit harus diputuskan dalam waktu yang tidak berlarut-larut.

h. Proses kepailitan harus terbuka untuk umum.

i. Pengurus perusahaan yang karena kesalahannya mengakibatkan perusahaan dinyatakan pailit harus bertanggungjawab secara pribadi.

j. Undang-undang kepailitan seyogianya memungkinkan upaya rekstrurisasi utang debitor terlebih dahulu sebelum diajukan permohonan pernyataan pailit.

k. Undang-undang kepailitan harus mengkriminalisasi kecurangan menyangkut kepailitan debitor.49

Yang merupakan dasar hukum kepailitan adalah :

49 Ibid. Hlm. 32.

1) Undang-undang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan dan PKPU

2) Beberapa pasal dalam KUHPerdata, seperti Pasal 1139, 1149, 1134, dan lain-lain.

3) KUHPidana seperti pasal 396,397, 398, 399, 400, 520, dan lain-lain.

4) Perundang-undangan dibidang Pasar Modal, perbankan, BUMN dan lain-lain.

5) Undang-undang Perseroan Terbatas, Undang-undang Hak Tanggungan dan lain-lain.

C. Pengertian dan Jenis Kurator 1. Pengertian Kurator

Isitilah kurator atau curator mulai muncul pada masa pemerintahan Justianus. Pada masa itu, berlaku prosedur sita umum harta debitor yang berstatus sebagai anggota senat yang disebut senatus consultum. Harta dari anggota senat yang pailit tidak dijual secara umum (bonorum venditio).

Tapi hakim menunjuk seseorang yang akan menghimpun dan menyimpan seluruh harta anggota senat tersebut dan membayar seluruh tagihan kreditor secara pro rata. Orang yang ditunjuk untuk mengurus harta senator yang pailit disebut curator bonorum.50

Berdasarkan sejarah kelahirannya tersebut, seorang kurator adalah orang kepercayaan yang ditunjuk oleh kreditor atau oleh hakim untuk

50 Elyta Ras Ginting, Hukum Kepailitan Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, Op.

Cit., hlm. 53.

mengurus kepentingan kreditor dalam hal debitornya tidak lagi mampu membayar utangnya.

Menurut R. Keay dalam McPherson The Law of Company Liquidation Fourth Edition, Sydney: LBC information Servie, 1999, P287, memberikan definisi mengenai kurator adalah perwakilan pengadilan dan dipercayai dengan mempertaruhkan reputasi pengadilan untuk melaksanakan kewajibannya dengan tidak memihak.51

Dalam Konteks UU KPKPU, kurator didefinisikan dalam Pasal 1 angka 5 dan dalam Pasal 70 ayat (1) UU KPKPU. Pasal 1 angka 5 UU KPKPU mendefinisikan Kurator sebagai „Balai Harta Peninggalan‟ atau orang perseorangan yang diangkat oleh Pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitor pailit dibawah pengawasan „Hakim Pengawas‟

sesuai dengan undang-undang ini.

Pengertian Kurator ditegaskan kembali dalam Pasal 70 ayat (1) UU KPKPU, yaitu „Balai Harta Peninggalan‟ dan „Kurator lainnya‟.

Sedangkan penjelasan mengenai „Kurator lainnya‟ terdapat pada Pasal 70 ayat (2) yang berbunyi sebagai berikut:

“ Yang dapat menjadi kurator sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah:

a. Orang perseorangan yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus atau membereskan harta pailit; dan

b. Terdaftar pada kementerian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan.”

51Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Grafiti, 2002), hal. 205.

Dari ketentuan Pasal 70 ayat (2) huruf a dan b tersebut dapat disimpulkan bahwa khusus kurator orang perseorangan, disyaratkan ada keahlian khusus dibidang pengurusan dan pemberesan harta pailit, dan secara administratif telah terdaftar pada kementerian atau Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Selain itu kurator perorangan merupakan anggota aktif organisasi profesi kurator dan pengurus, seperti Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI), Himpunan Kurator dan Pengurus Indonesia (HKPI) dan Ikatan Kurator dan Pengurus Indonesia (IKAPI).52

Di dalam pasal 15 ayat (1) UU KPKPU ditentukan bahwa dalam putusan pernyataan pailit harus diangkat kurator dan seorang hakim pengawas yang ditunjuk dari hakim pengadilan. Kurator yang dimaksud adalah balai harta peninggalan atau kurator lainnya. Balai harta peninggalan berindak sebagai kurator dalam hal debitor, kreditor atau pihak yang berwenang mengajukan permohonan pailit tidak mengajukan usul pengangkatan kurator kepada pengadilan maka balai harta peninggalan diangkat sebagai kurator. Dari ketentuan pasal 15 ayat (2) UU KPKPU dapat diketahui bahwa pengangkatan kurator itu adalah kewenangan pengadilan niaga. Dengan demikian, boleh saja masing-masing pihak mengusulkan kurator yang berbeda tetapi kata akhir ada pada majelis hakim pengadilan niaga.53

52 Elyta Ras Ginting, Hukum Kepailitan Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, Op.

Cit. hlm. 54.

53 Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit. hlm. 207.

Jika para pihak tidak mendapati kesepakatan untuk menunjuk salah satu kurator dari beberapa kurator yang diusulkan oleh masing-masing mereka maka pengadilan niaga dapat saja menetapkan balai harta peninggalan sebagai kurator. Pasal 15 ayat (3) UU KPKPU juga menegaskan bahwa kurator yang diangkut harus independen, tidak mempunyai benturan kepentingan dengan debitor atau kreditor, dan tidak sedang menangani perkara kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang lebih dari 3 (tiga) perkara. Independen dan tidak mempunyai benturan kepentingan berarti kelangsungan keberadaan kurator tersebut tidak tergantung pada debitor atau kreditor dan kurator tidak memiliki kepentingan ekonomis yang sama dengan kepentingan ekonomis debitor atau kreditor.

Independensi kurator tersebut telah dijabarkan pula dalam Standar Profesi Kurator dan Pengurus sebagai berikut:

“ Untuk memelihara objektivitas dan independensinya dalam bertindak, kurator atau pengurus harus bebas dari pengaruh siapapun dan apapun serta tidak memiliki benturan kepentingan dengan pihak manapun yang terlibat dalam kepailitan atau penundaan pembayaran.”54

Selanjutnya menurut Sutan Remy Sjahdeini benturan kepentingan terjadi apabila terjadi hal-hal sebagai berikut:

a. Kurator menjadi salah satu kreditor.

54 Kode Etik Profesi Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia, Bagian Pertama; Prinsip Etika Profesi.

b. Kurator memiliki hubungan kekeluargaan dengan pemegang saham pengendali atau dengan pengurus dari perseroan debitor.

c. Kurator memiliki saham lebih dari 10% pada salah satu perusahaan kreditor atau pada perseroan debitor.

d. Kurator adalah pegawai, anggota direksi, atau anggota komisaris dari salah satu perusahaan kreditor atau dari perusahaan debitor.55

Syarat untuk dapat didaftar sebagai kurator menurut Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusi Republik Indonesia nomor M.01-HT.05.10 tahun 2005 tentang pendaftaran kurator dan pengurus, yaitu:

1. Warga negara Indonesia yang berdomisili di Indonesia.

2. Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

3. Setia kepada pancasila dan UUD Negara Republi Indonesia.

4. Sarjana hukum atau sarjana ekonomi jurusan akuntansi.

5. Telah mengikuti pelatihan calon kurator dan pengurus yang diselenggarakan oleh organisasi profesi kurator dan pengurus bekerja sama dengan Departemen Hukum dan HAM Republik Indoneisa.

6. Tidak pernah dipenjara karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan hukuman pidana 5 tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

55 Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit. hlm. 209.

7. Tidak pernah dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga.

8. Membayar biaya pendaftaran, dan 9. Memiliki keahlian khusu.

Jika ternyata dalam perjalanan tugasnya sebagai kurator ia mengetahui bahwa ia ternyata memiliki benturan kepentingan dengan salah satu atau lebih kreditor, hakim pengawas, atau dengan anggota majelis hakim untuk pengurusan tersebut, maka kurator diwajibkan untuk :

1. Memberitahukan secara tertulis adanya benturan kepentingan tersebut kepada hakim pengawas, debitor, rapat kreditor, dan komite kreditor jika ada, dengan tembusan kepada dewan kehormatan AKPI, serta wajib segera memanggil rapat kreditor untuk diselenggarakannya secepatnya untuk memutuskan masalah benturan tersebut.

2. Segera mengundurkan diri.

Di dalam UU KPKPU memungkinkan terjadinya penggantian kurator. Dalam pasal 71 ayat (1) UU KPKPU menyatakan bahwa pengadilan dapat setiap waktu mengabulkan usul penggantian kurator, setelah memanggil dan mendengar kurator, dan mengangkat kurator lain dan/atau mengangkat kurator tambahan atas:

1. Permohonan kurator sendiri.

2. Permohonan kurator lainnya, jika ada.

3. Usul hakim pengawas.

4. Permintaan debitor pailit.

Ini berarti keputusan untuk mengganti/mengangkat lagi kurator atas permohonan kurator sendiri/kurator lain/hakim pengawas/debitur pailit adalah diskresi hakim (wewenang hakim). Hakim berwenang untuk mengangkat atau tidak mengangkat, atau mengganti atau tidak mengganti kurator tersebut.56

Di dalam pasal 71 ayat (2) memberikan ketentuan mengenai kemungkinan bagi pengadilan untuk memberhentikan kurator atau mengangkat kurator. Menurut pasal tersebut, pengadilan harus memberhentikan atau mengangkat kurator atas permohonan atau atas usul kreditor konkuren berdasarkan putusan rapat kreditor yang diselenggarakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 90. Putusan tersebut diambil dengan persyaratan berdasarkan suara setuju lebih dari ½ (satu per dua) jumlah kreditor konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat dan yang mewakili lebih dari ½ (satu per dua) jumlah piutang kreditor konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut. Maksudnya, hakim mempunyai kewajiban mutlak atas perintah undang-undang untuk memberhentikan atau mengangkat kurator atas permohonan/usul kreditor konkuren berdasarkan rapat kreditor dengan persyaratan:

a. Disetujui oleh lebih dari ½ jumlah kreditor konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat; dan

56 Jono, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 143.

b. Mewakili lebih dari ½ jumlah piutang kreditor konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut.57

Jika kurator akan mengundurkan diri maka kurator menyatakan pengunduran diri secara tertulis kepada pengadilan, dengan tembusan kepada hakim pengawas, panitia kreditor atau kurator lainnya jika ada.

Kurator terdahulu wajib:

1) Menyerahkan seluruh berkas-berkas dan dokumen, termasuk laporan-laporan dan kertas kerja kurator yang berhubungan dengan penugasan kepada kurator pengganti dalam jangka waktu 2x24 jam.

2) Memberikan keterangan selengkapnya sehubungan dengan pengurusan tersebut khusunya mengenai hal-hal yang bersifat material serta diperkirakan dapat memberikan landasan bagi kurator pengganti untuk memahami penugasan selanjutnya.

3) Wajib membuat laporan pertanggungjawaban atas penugasannya dan menyerahkan salinan laporan tersebut kepada kurator pengganti.

2. Jenis Kurator

Dalam UU KPKPU dikenal beberapa jenis kurator yang digolongkan berdasarkan pengangkatannya yaitu:

a. Kurator Sementara

57 Ibid, hlm. 144.

Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) UU KPKPU, kurator sementara diangkat atas permohonan dari kreditor, Kejaksaan, Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal, atau Menteri Keuangan. Pengangkatan Kurator Sementara dilakukan sebelum debitor dinyatakan pailit oleh majelis hakim. Oleh karena itu, kewenangan kurator sementara terbatas hanya pada pengawasan pengelolaan usaha debitor.58

b. Kurator yang diangkat dalam putusan pailit

Hal ini jelas disebutkan dalam Pasal 15 ayat (1) UU KPKPU, bahwa setelah dinyatakan pailit oleh pengadilan harus segera ditunjuk seorang kurator dan hakim pengawas. UU KPKPU memberikan hak kepada pemohon pailit untuk menunjuk seorang kurator sebagai pengurus dan pemberes harta pailit. Apabila pemohon tidak menunjuk seorang kurator maka secara otomatis yang mengurus dan membereskan harta pailit tersebut adalah Balai Harta Peninggalan.59 c. Kurator Pengganti

Kehadiran kurator pengganti dalam kepailitan adalah dikarenakan adanya usul penggantian atau penambahan kurator yang diatur dalam Pasal 71 ayat (1) dan (2) UU KPKPU. Usul penggantian dan penambahan kurator dapat diajukan oleh Kurator sendiri, Kurator lainnya, Hakim Pengawas, Debitor pailit, atau Keputusan Mayoritas Kreditor konkuren.60

58 Elyta Ras Ginting, Hukum Kepailitan Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit Op.

Cit. hlm. 67.

59 Ibid, hlm.70.

60 Ibid, hlm. 72.

d. Kurator Tambahan

Selain mengajukan usul penggantian, Pasal 71 UU KPKPU juga memberi kesempatan untuk menambah jumlah kurator.61