Indonesia memiliki tantangan besar dalam mencapai tujuan pembangunan, yaitu pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai konsep Nawacita. Tantangan yang dihadapi Indonesia seperti kondisi geografi berupa daratan, lautan, pegunungan serta banyak pulau-pulau yang tersebar menyebabkan derajat kesehatan untuk daerah tertentu masih rendah.
Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) memiliki topografi yang sulit dijangkau, sehingga infrastruktur merupakan salah satu komponen fisik penting bagi wilayah DTPK, karena terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi infrastruktur dengan kegiatan sosial ekonomi masyarakat, kesejahteraan masyarakat, serta ketersediaan pelayanan kesehatan dan sarana pendukung di DTPK. Infrastruktur yang tidak memadai akan memengaruhi kegiatan sosial ekonomi masyarakat serta fasilitas kesehatan yang minim.
Situasi di DTPK sangat berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Misalnya Sistem Kesehatan Daerah di Bali menggunakan sistem pelayanan rujukan online. Sistem rujukan online tidak dapat diterapkan di DTPK, karena sebagian Kecamatan di Kabupaten Nunukan belum tersentuh listrik dan jaringan komunikasi. SKD di Kota Bandung menerapkan pelayanan spesialistik di Puskesmas.6Sistem pelayanan ini tidak dapat diterapkan di DTPK Kabupaten Nunukan, karena Kabupaten Nunukan terbatas dalam jumlah spesialis.
Pelayanan spesialistik tidak efisien untuk melakukan pelayanan di Puskesmas karena keterbatasan tenaga, biaya dan waktu di Kabupaten Nunukan. Oleh
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kab. Nunukan 2016-2021
105sebab itu, DTPK perlu pendekatan sistem yang disesuaikan dengan karakteristik daerah dan tidak menyamaratakan kebijakan untuk seluruh wilayah Indonesia.
Pendekatan sistem diperlukan apabila menghadapi suatu masalah yang kompleks, agar mampu memahami hubungan bagian dengan bagian lain dengan masalah tersebut.7Indonesia belum memiliki model SKD di DTPK yang menjadi panduan kepada daerah-daerah yang berkategori DTPK.
Kabupaten Nunukan terletak di Provinsi Kalimantan Utara berkarakteristik unik karena memiliki daerah yang berkategori Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan.Batas-batas Kabupaten Nunukan di sebelah Utara berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sabah), sebelah Timur berbatasan dengan Laut Sulawesi, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau, sebelah Barat berbatasan dengan Malaysia (Sarawak).8Luas wilayah 14.247,50 Km2 dengan jumlah penduduk 162.711 jiwa yang tersebar di 16 Kecamatan.
Kabupaten Nunukan merupakan daerah tertinggal, sehingga memiliki permasalahan seperti: a) Pelayanan kesehatan primer masih rendah, selain sarana dan prasarana yang kurang juga karena jarak tempuh antara Puskesmas dengan rumah warga yang jauh dan tidak didukung dengan transportasi umum.
Wilayah kerja Puskesmas cukup luas, secara geografis sebagian sulit dijangkau, jumlah penduduk sedikit, tersebar dalam kelompok-kelompok kecil yang saling berjauhan. b) Biaya transportasi mahal baik darat, laut, sungai maupun udara, salah satu penyebabnya adalah karena kondisi geografis yang sulit. Pesawat perintis merupakan satu-satunya model transportasi yang dapat
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kab. Nunukan 2016-2021
106menghubungkan ibukota Kabupaten dengan Kecamatan terjauh.Transportasi sungai merupakan transportasi utama di pedalaman Kabupaten Nunukan dengan biaya yang relatif mahal.Biaya perjalanan dari ibu Kota Kabupaten ke desa Ogong yang ditempuh dalam satu hari adalah sekitar Rp. 16.000.000 untuk sekali pulang pergi. Transportasi menjadi persoalan penting di Kabupaten Nunukan dan DTPK lain. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan transportasi direncanakan dengan baik. c) Distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata karena faktor geografis seperti pada penelitian UGM bahwa geografis dapat menyebabkan maldistribusi tenaga kesehatan, karena daerah yang sulit dijangkau tidak menarik minat dokter untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama.
SKD DPTK di Kabupaten Nunukan belum berwujud karena tidak ada instrumen kebijakan yang mengatur tentang SKD DTPK di Kabupaten Nunukan, sehingga komponen-komponen Sistem Kesehatan yang sudah ada merujuk pada SKN.SKN tidak cocok diterapkan di Kabupaten Nunukan.Kabupaten Nunukan memiliki karakteristik geografis yang unik karena semua kriteria DTPK ada di Kabupaten Nunukan.Kriteria yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda. Oleh karena itu, akan dikembangkan model SKD DTPK di Kabupaten Nunukan dan Building Block Sistem Kesehatan WHO menjadi landasan sehingga komponen-komponen saling terkait. Building Block Sistem Kesehatan WHO terdiri dari Subsistem Leadership/Governance, Subsistem Pelayanan Kesehatan, Subsistem Pembiayaan Kesehatan, Subsistem SDM Kesehatan dan Subsistem Obat-obatan dan perbekalan kesehatan.
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kab. Nunukan 2016-2021
107Dinas Kesehatan dalam menjalankan tugas dan fungsinya di bidang kesehatan tentunya tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi baik internal maupun eksternal, akan tetapi permasalahan-permasalahan yang dihadapi tersebut harus dipandang sebagai tantangan dan peluang dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan pelayanan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan. Tantangan dan peluang tersebut adalah sebagai berikut : 1) Tantangan
a. Universal Health Coverege (UHC)
b. Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan 100%
c. Kabupaten Nunukan memiliki karakteristik geografi yang unik yaitu memiliki daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan
2) Peluang
a. Adanya peraturan perundang undangan yang menjadi pedoman dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah
b. Adanya komitmen yang kuat dari pemerintah pusat, propinsi, daerah dalam upaya mendukung program-program bidang kesehatan
c. Dukungan Pemerintah Pusat dan Provinsi terhadap daerah perbatasan d. Tersedianya dukungan anggaran kesehatan dari berbagai sumber seperti
Anggaran Dana Desa (ADD)
Kabupaten Nunukan kaya akan hutan alam yang bisa menjadi peluang dalam pengembangan obat-obatan tradisional terutama di Krayan. Melalui pengembangan program Kesehatan tradisional oleh Puskesmas Long Bawan, masyarakat Krayan mengembangkan tanaman di halaman rumah untuk dijadikan obat tradisional seperti tanaman jahe untuk mengobati panas dalam, bawang Dayak untuk tekanan darah tinggi, kolesterol dan lain-lain. Menurut laporan, sejak masyarakat memanfaatkan tanaman lokal untuk pengembangan obat tradisonal, jumlah kunjungan karena kesakitan di Puskesmas Long Bawan menurun.
Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kab. Nunukan 2016-2021
108BAB III