• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISIS DAN EVALUASI

B. Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Air

Provinsi Sumatera Utara adalah salah satu Daerah otonomi yang memiliki hak Ekonomi yang luas. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Pemerintah Sumatera Utara dituntut untuk dapat mengisi keuangan daerah sendiri, baik melalui Pajak ataupun sumber-sumber kekayaan Daerah lainnya. Untuk membiayai keuangan daerah tersebut, pemerintah menetapkan Undang-undang mengenai Pemungutan Pajak yaitu Undang-undnag Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dengan adanya Peraturan Daerah tersebut, maka ditindak lanjuti dengan Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 23 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Air Pajak Permukaan di Provinsi Sumatera Utara, dimana nantinya kontribusi dan Pajak ini diharapkan dapat membantu dan mengisi Keuangan Daerah.

Untuk mengetahui Penerimaan Pajak Air Permukaan tahun 2012/2013 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tahun Target Realisasi Petambahan %

2009 12.000.000.000 10.930.411.537 - 2010 13.500.000.000 12.319.784.446 138.937.290.900 2011 12.600.000.000 19.310.323.273 699.053.882.700 2012 50.000.000.000 28.171.850.002 886.152.672.900 2013*) 40.000.000.000 16.721.826.195 1.145.002.380.700 2013*) Keadaan s/d Juni 2013

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa realisasi dari target Penerimaan Pajak Air Permukaan untuk Tahun 2009 yang telah di tetapkan DISPENDA Provinsi Sumatera Utara adalah Rp. 10.930.411.537, penerimaan Pajak Air Permukaan pada Tahun 2010 adalah Rp. 12.319.784.446, kemudian penerimaan Pajak Air Permukaan pada Tahun 2011 adalah Rp. 19.310.323.273, sedangkan penerimaan Pajak Air Permukaan pada Tahun 2012 adalah Rp. 28.171.850.002, dan pada tahun 2013 ini penerimaan Pajak Air Permukaan adalah sebesar Rp. 16.721.826.195. Maka dapat disimpulkan bahwa penerimaan Pajak Air Permukaan dari Tahun 2009 sampai 2013 mengalami peningkatan sebesar Rp. 6.470.926.195.

C. Hambatan-hambatan Utama yang menyebabkan Masih Banyaknya Wajib Pajak tidak membayar Pajak Air Permukaan

1. Kurangnya kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak air

permukaan khususnya yang bergerak di bidang door smeer / cuci mobil Sekala Kecil

2. Masih enggannya perusahaan untuk memberikan data yang akurat

seperti data ubikasi pemakaian dan jumlah titik pengambilan 3. Jauhnya lokasi objek pajak

4. Wajib Pajak tidak mampu membayar Pajak

5. Penunggakan Pajak oleh Wajib Pajak

D. Upaya – upaya yang Dilakukan Oleh Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara untuk Meningkatkan Penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan :

1. Melakukan Koordinasi dengan Kabupaten/kota.

2. Pengadakan Koordinasi dengan di Badan Perizinan Pelayanan terpadu

Provinsi sumatera utara dalam memperolaeh data izin pemakaian Air permukaan Baru.

3. Melakukam Up-Date potensi guna memperoleh data potensi air

permukaan yang akurat setiap tahunnya

5. Melakukan Koordinasi dengan PLN Kitlur Sumbagut untuk memperoleh data perusahaan swasta yang bergerak di bidang ketenagaan listrik.

E. Faktor- faktor yang Mendukung dan Menghambat Pemungutan Pajak Air Permukaan

Melalui prosedur wawancara yang dilakukan kepada salah satu Pegawai Dispenda Provinsi Sumatera Utara, yaitu dengan Bapak Ardiansyah P. Siregar, SE. mengenai faktor-faktor pendukung dan pengahambat diperoleh data sebagai berikut ini :

1. Faktor yang Mendukung Pemungutan Pajak Air Permukaan

Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan dalam penelitian ini, ditemukan hal-hal yang menjadikan Prosuder Pemungutan Pajak Air Permukaan menjadi lebih mudah ataupun mendukung pelaksanaan pemungutannya, seperti tersedianya sarana prasarana dalam pelaksanaan pemungutan. Kemudian adanya aparat yang tersedia yaitu pegawai-pegawai yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan pemungutan, juga Kemudahan mengakses dan memperoleh data Wajib Pajak melalui Badan Pelayanan Perizinan Terpadu.

Hal-hal lainnya yang termasuk dalam faktor pendukung Pemungutan Pajak Air Permukaan adalah dengan tersebarnya UPT Dispenda di beberapa Kota untuk melaksanakan Pembayaran Pajak Air Permukaan, hal ini dimungkinkan akan sangat mempermudah proses pemungutan Pajak Air

Permukaan diseluruh wilayah Sumatera Utara. Kemudian dengan diberlakukannya Harga Dasar Air yang sama di Kabupaten Kota baik di Industri maupun Non Industri sebagai langkah yang dianggap akan mempermudah proses Pemungutan pajak Air Permukaan.

2. Faktor yang Menghambat Pemungutan Pajak Air Permukaan

Lalu faktor-faktor penghambat, berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh dari informan, bahwa beberapa hal yang menjadikan pemungutan Pajak Air Permukaan menjadi susah, adanya kendala dan hambatan yang dialami. Yaitu karena belum diperolehnya data tentang pemakaian Air Permukaan dikarenakan masih banyak potensi yang tidak memiliki izin. Dan dalam pelaksanakaan pemungutannya sendiri masih mengalami kekurangan petugas lapangannya sendiri, sehingga membuat hasil menjadi tidak efektif dalam pelaksanaan dilapangan. Bukan hanya kekurangan petugas lapangan namun juga belum tersedianya transportasi petugas baik dalam hal penyampaian SPTPD maupun pemungutannya. Contohnya seperti pegawai yang ditugaskan untuk terjun kelapangan belum diberikan transportasi yang cukup dalam melaksanakan pemungutan Pajak Air Permukaan.

Dalam pelaksanaan Pemungutan Pajak Air Permukaan juga dibutuhkan kerja sama yang baik dengan Kabupaten Kota, namun pihak Kabupaten Kota enggan untuk menyampaikan potensi Air Permukaan dikarenakan Pengelolaan izinnya dikelola oleh Provsu. Selain itu dari Pihak pelaksana Pemungutan sendiri, hambatan ini juga terjadi diakibatkan dari

pihak Wajib pajak itu sendiri. Maksudnya wajib pajak melakukan hal-hal yang mengakibatkan pemungutan pajak tidak berjalan dengan baik, seperti Wajib Pajak tidak menyampaikan data pemakaian Air Permukaan secara terbuka. Juga banyak Wajib Pajak yang tidak menggunakan meteran sehingga penetapan menggunakan sistem penafsiran. Penetapan dengan sistem penafsiran ini juga akan memberikan kendala dengan tidak sesuainya data sebenanrnya. Lalu masih banyak perusahaan yang melaksanakan pembayaran dengan sistem periodik 3 (tiga) bulan sekali.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari uraian masalah yang dikemukakan oleh penulis dari hasil wawancara dan data yang diperoleh dari Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Mekanisme Pemungutan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air

Permukaan diklasifikasikan sebagai berikut : a. Pendataan Potensi

b. Penetapan Pajak

c. Penagihan Pajak

d. Penyetoran Pajak

2. Mekanisme pemungutannya mempercayakan sepenuhnya kepada

wajib pajak untuk melaporkan hasil penjualan kotornya dan kemudian petugas Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara mengadakan pengawasan atas kebenaran pelaporan wajib pajak, menghitung, mengkaji, dan menyetor ke kas daerah. Dalam hal ini dilakukan menjadi terjadinya penyimpangan

3. Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara merupakan unsur

pelaksana pemerintah daerah dalam melaksanakan kewenangan Gubernur Sumatera Utara dibidang Pengelolaan dan Pendapatan daerah.

4. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu 1 (satu) bulan kalender. Wajib Pajak melaporkan ke Dinas selambatnya 15 hari setelah berakhir masa pajak dengan mengisi SPTPD.

5. Saat pajak terutang adalah saat pengambilan dan atau pemanfaatan air permukaan atau saat terbitnya SKPD yang ditanda tangani oleh kepala UPTD DISPENDAPSU.

6. Tarif pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan ditetapkan

oleh Peraturan Gubernur adalah sebesar 10% (sepuluh persen)

7. Faktor-faktor yang mendukung proses pemungutan Pajak Air

Permukaan adalah sebagai berikut : a. Tersedianya sarana dan prasarana b. Aparat yang tersedia

c. Mudahnya data Wajib Pajak diperoleh melalui Badan Pelayanan

Perizinan Terpadu.

d. Tersebarnya UPT Dinas Pendapatan Daerah dibeberapa kota untuk

melaksanakan pembayaran Pajak Air Permukaan.

e. Diberlakukannnya Harga Dasar Air yang sama di Kabupaten kota

baik di industri maupun non industri.

8. Faktor-faktor yang menghambat proses pemungutan Pajak Air

a. Masih belum diperolehnya data tentang pemakaian Air Pajak Permukaan dikarenakan banyak potensi yang tidak memiliki izin.

b. Masih belum tersedianya transportasi petugas baik dalam hal

penyampaian STPD maupun pemungutannya.

c. Masih kurangnya pegawai di lapangan untuk pemungutan Pajak

Air Permukaan.

d. Kabupaten Kota enggan menyampaikan potensi Air Permukaan

dikarenakan pengelolaan izinnya dikelola oleh Provsu.

e. Masih enggannya Wajib Pajak menyampaikan data pemakaian Air

Permukaan secara terbuka.

f. Masih banyak Wajib Pajak yang belum menggunakan meteran

sehingga penetapan dilakukan menggunakan penafsiran.

g. Masih banyak perusahaan melaksanakan pembayaran dengan

sistem periodik yaitu tiga bulan sekali.

B. Saran – Saran

Untuk mengakhiri penulisan dari laporan PKLM ini, maka penulis memberikan saran-saran terkaitg dengan pelaksanaan mekanisme pemungutan Pajak Air Permukaan. Adapun beberapa sarannya sebagai berikut :

1. Diharapkan pemerintah harus menjunjung tinggi azas keadilan dalam

bertindak dan dalam pembuatan peraturan, agar peraturan daerah bisa terhindar dan bebas dari KKN.

2. Bagi wajib pajak dan seluruh lapisan masyarakat diharapkan memiliki kesadaran yang besar akan pembangunan daerah dan peduli pajak agar terus berkembang dan memiliki kualitas yang tinggi bagi masyarakat.

3. Pelaksana Pajak sebagaiknya melakukan sosialisasi dengn masyarakat dan

wajib pajak mengenai Pajak Air Permukaan, baik dari penetapan pajak, tarif pajak juga tatacara perhitungan Pajak.

4. Dilakukan peningkatan terhadap pemungutan pajak dengan memriksa,

mengawasi, dan mengadakan razia secara berkala terhadap wajib pajak maupun potensi yang ada.

5. Untuk peningkatan penerimaan Pajak Air Permukaan di Kantor

DISPENDAPSU harus dilakukan evaluasi terhadap potensi-potensi yang ada untuk memaksimalkan penerimaan pajak air permukaan.

2. Bagi wajib pajak dan seluruh lapisan masyarakat diharapkan memiliki kesadaran yang besar akan pembangunan daerah dan peduli pajak agar terus berkembang dan memiliki kualitas yang tinggi bagi masyarakat.

3. Pelaksana Pajak sebagaiknya melakukan sosialisasi dengn masyarakat dan

wajib pajak mengenai Pajak Air Permukaan, baik dari penetapan pajak, tarif pajak juga tatacara perhitungan Pajak.

4. Dilakukan peningkatan terhadap pemungutan pajak dengan memriksa,

mengawasi, dan mengadakan razia secara berkala terhadap wajib pajak maupun potensi yang ada.

5. Untuk peningkatan penerimaan Pajak Air Permukaan di Kantor

DISPENDAPSU harus dilakukan evaluasi terhadap potensi-potensi yang ada untuk memaksimalkan penerimaan pajak air permukaan.

Dokumen terkait