• Tidak ada hasil yang ditemukan

TARGET KINERJA

Dalam dokumen Dicetak: Jakarta, April 2020 (Halaman 135-153)

BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN

A. TARGET KINERJA

Berikut adalah rencana target pada RPJMN sektor EBTKE Tahun 2020-2024:

Tabel 27. Summary RPJM Ditjen EBTKE Tahun 2020-2024

No. Indikator Satuan 2020 2021 2022 2023 2024

1 Porsi EBT dalam bauran energi

nasional

% 13.4 14.5 15.7 17.9 19.5

2 Penurunan Intensitas Energi Final SBM/Miliar Rp 0.9 0.9 0.9 0.8 0.8

3 Kapasitas tambahan pembangkit

EBT MW 686.50 1,001.10 1,921.80 1,778.20 3,662.70 PLTA MW 165.20 440.30 955.90 397.00 1,951.40 PLT Panas Bumi (PLTP) MW 140.00 80.00 132.00 300.00 375.00 PLT Bioenergi MW 246.70 152.00 484.80 159.00 252.60 PLT Surya (PLTS) MW 134.60 328.80 339.10 643.20 643.70 PLT Bayu (PLTB) MW - - 10.00 279.00 440.00

4 Pemanfaatan Biofuel untuk

domestik Juta kilo liter 10 10.2 14.15 14.55 17.35

5 TKDN Sektor Pembangkit EBT % 30 30 33 33 35

- Bayu % 40 40 40 40 40

- Surya % 40 40 40 40 40

- PLTM/PLTMH % 70 70 70 70 70

- Bioenergi % 40 40 40 40 40

- Panas Bumi % 30 30 33 33 35

6 Reduksi Emisi GRK Sektor Energi Juta Ton 58 67 91 116 142

7 Investasi Milliar USD 2.31 2.92 5.56 3.62 7.53

Panas Bumi Milliar USD 1.35 1.33 1.29 1.31 1.56

Bioenergi Milliar USD 0.42 0.2 1.76 0.19 0.33

Aneka EBT Milliar USD 0.53 1.38 2.50 2.11 5.63

Konservasi Energi Milliar USD 0.008 0.01 0.011 0.013 0.014

8 PNBP Panas Bumi Milliar Rp 1196.24 1369.72 1598.97 1970.42 2181.93

Indikator Kinerja Utama merupakan acuan ukuran kinerja yang digunakan oleh masing-masing unit utama di lingkungan Kementerian ESDM dalam hal ini Direktorat Jenderal EBTKE dalam:

1. Menetapkan rencana kinerja tahunan 2. Menyampaikan rencana kerja dan anggaran 3. Menyusun dokumen penetapan kinerja 4. Menyusun laporan akuntabilitas kinerja, dan

Pada dokumen renstra ini, target kinerja telah ditetapkan berdasarkan perencanaan dan perkiraan yang dibuat pada tahun 2019/2020, sehingga tidak menutup kemungkinan pada tahun berjalan perencanaannya dapat berubah seiring dengan penetapan RPJMN, APBN, APBN-P, Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), dan dokumen perencanaan lainnya. Terwujudnya visi dan misi Kementerian ESDM sampai dengan tahun 2024 sangat dipengaruhi oleh pencapaian tujuan dan sasaran strategis Kementerian. Untuk itu setiap sasaran strategis memiliki indikator kinerja yang terukur dengan metode penilaian yang transparan dalam rangka menilai pencapaian secara akurat serta memetakan kendala dan hambatan sedini mungkin, untuk menentukan rekomendasi serta menjalankan langkah-langkah strategis sebagai upaya mengoptimalkan kinerja Kementerian ESDM. Penjabaran indikator kinerja dari Kementerian ESDM sampai dengan tahun 2024 disajikan secara rinci pada tabel di bawah ini.

Tabel 28. Sasaran Strategis, Indikator dan Target Kinerja Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM 2020-2024

No. Sasaran Strategis/Indikator Kinerja Utama Satuan Target

2020 2021 2022 2023 2024 1 Meningkatnya Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

TKDN Sektor EBT dalam rangka mendukung Kemandirian Energi Nasional

% 55,45 55,45 55,45 55,45 55,45

Indeks Ketahanan Energi Sektor EBTKE Indeks 49,50 49,95 50,52 51,38 52,30

2 Optimalisasi Kontribusi Sektor ESDM yang Bertanggung Jawab Dan Berkelanjutan

Persentase Realisasi PNBP Panas Bumi % 93 93 93 94 94

Persentase Realisasi Investasi % 90 90 90 90 90

3 Layanan Sektor ESDM yang Optimal

Indeks Kepuasan Layanan Ditjen EBTKE Indeks Skala 4 3,10 3,15 3,20 3,25 3,30

4 Pembinaan, Pengawasan, Dan Pengendalian Sektor ESDM yang Efektif

Indeks Efektivitas Pembinaan dan Pengawasan Indeks 75,5 76,5 77,5 78,5 79,5

Indeks Maturitas SPIP Indeks Skala 5 3,5 3,6 3,7 3,8 3,9

Nilai SAKIP Ditjen EBTKE Nilai 80,1 80,1 80,5 80,5 81

5 Terwujudnya Birokrasi yang Efektif, Efisien, dan Berorientasi pada Layanan Prima

Indeks Reformasi Birokrasi % 80 85 85 90 90

6 Organisasi Fit dan SDM yang Unggul

Nilai Evaluasi Kelembagaan % 73,25 74 74 74 75

Indeks Profesionalitas ASN % 71 73 75 78 82

7 Pengelolaan Sistem Anggaran yang Optimal

Setiap indikator kinerja dibangun dengan asas transparansi dengan metode penilaian yang akurat yang menghubungkan antar komponen-komponen yang terkait. Metode penilaian dan komponen terkait yang menjadi pengungkit indikator kinerja akan diutarakan secara rinci di bawah ini.

Sasaran Strategis 1: Meningkatnya Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

TKDN Sektor EBT dalam rangka mendukung Kemandirian Energi Nasional

Dalam rangka mengukur kemandirian energi nasional yaitu terjaminnya ketersediaan energi dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi dari sumber dalam negeri, maka ditetapkan indikator kinerja yang dapat dijadikan instrumen penilaian yang terukur untuk mencapai sasaran tersebut. Indikator kinerja yang dimaksud yaitu indeks kemandirian energi nasional. Untuk mengukur hal tersebut, maka ditentukan sub indeks, Indikator dan parameter yang merupakan komponen-komponen pengungkit dari penilaian indeks tersebut. Komponen-komponen tersebut yaitu:

Kemandirian terhadap teknologi

Merupakan penilaian terhadap kondisi penguasaan teknologi suatu bangsa dalam membangun akses dan infrastruktur energi nasional yang didasarkan persentase tingkat kandungan dalam negeri terhadap seluruh infrastruktur sektor ESDM yang meliputi TKDN Sektor EBT diantaranya Panas Bumi, Bioenergi, Surya, Air, dan Bayu.

Adapun target dan komponen yang digunakan dalam penilaian indeks kemandirian energi nasional pada Direktorat Jenderal EBTKE sebagai berikut:

Tabel 29. Indikator dan Target Kinerja Indeks Kemandirian Energi Nasional

No. Indikator Kinerja/Komponen Satuan Target

2020 2021 2022 2023 2024

1 TKDN Sektor EBT dalam rangka

mendukung Kemandirian Energi Nasional

% 55,45 55,45 55,45 55,45 55,45

Presentase TKDN Barang dan Jasa % 55,45 55,45 55.45 55.45 55.45

TKDN Sektor EBT % 55.45 55.45 55.45 55.45 55.45

Indeks Ketahanan Energi

Dalam rangka mengukur peningkatan kualitas pelayanan utama Kementerian ESDM yaitu Ketersediaan, Aksesibilitas, Keterjangkauan, dan Penerimaan Masyarakat, maka ditetapkan indikator kinerja yang dapat dijadikan instrumen penilaian yang terukur untuk mencapai sasaran tersebut. Indikator kinerja yang dimaksud yaitu indeks ketahanan energi nasional. Sesuai dengan Perpres No. 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi

Nasional bahwa Ketahanan energi nasional adalah suatu kondisi ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup. Untuk mengukur hal tersebut, maka ditentukan sub indeks, indikator dan parameter yang merupakan komponen-komponen pengungkit dari penilaian indeks tersebut. Komponen-komponen tersebut yaitu:

1. Availability

Merupakan penilaian dari kondisi ketersediaan energi nasional dalam rangka memenuhi kebutuhan energi saat ini maupun dimasa mendatang dengan mempertimbangkan pasokan dalam negeri maupun impor. Kondisi ini dipengaruhi oleh potensi Energi Baru dan Terbarukan diversifikasi energi.

a. Potensi EBT memperlihatkan perkembangan besaran potensi yang dimiliki oleh negara terhadap jenis energi baru dan terbarukan baik yang dikembangkan dalam bentuk listrik seperti panas bumi, surya, angin, air, laut dan biomassa untuk pembangkit, maupun untuk direct use seperti bahan bakar nabati, biomassa untuk memasak, biogas dan lainnya. Adapun parameter yang menjadi penilaian yaitu Rasio Cadangan terhadap potensi Panas Bumi dan Rasio potensi terukur (potensi teknis) terhadap total potensi tenaga air (PLTA/M/MH), Bayu, Surya, Laut dan Bioenergi (untuk listrik maupun langsung).

2. Accessibility

Merupakan penilaian terhadap kondisi keandalan infrastruktur energi dalam rangka menjamin distribusi energi ke seluruh masyarakat Indonesia dengan tetap menjaga keberlanjutannya. Penilaian dari kondisi ini dipengaruhi oleh keandalan infrastruktur energi, optimalisasi pemanfaatan batubara dan penyediaan infrastruktur EBT.

a. Penyediaan dan Infrastruktur EBT sebagai salah satu indikator untuk mengukur kemampuan pengembangan EBT dengan penilaian yang dititik beratkan pada Rasio Pembangkit EBT terhadap Total Pembangkit, Rasio Pemanfaatan terhadap Cadangan terukur Panas Bumi, Rasio Pemanfaatan terhadap Potensi terukur Air, Angin, Surya, Laut dan Bio untuk listrik, Rasio Penggunaan Biofuel (murni bukan campuran) terhadap BBM, dan Jumlah Pemanfaatan Biogas (tidak termasuk pembangkit).

3. Affordability

Merupakan penilaian terhadap kemampuan masyarakat dalam menjangkau harga energi yang disediakan berdasarkan besaran kebutuhan dasar energi sehari-hari, yang mempertimbangkan daya beli masyarakat. Penilaian dari kondisi ini dipengaruhi oleh efisiensi penggunaan energi.

kemampuan penghematan penggunaan energi dengan tetap mempertahankan dan/atau meningkatkan output/produk yang dihasilkan. Adapun parameter yang menjadi penilaian yaitu Intensitas Energi Final dan Rata-Rata Efisiensi Pembangkit Listrik khusus fosil;

4. Acceptability

Merupakan penilaian terhadap tingkat penerimaan masyarakat dalam kaitan terhadap keberlangsungan lingkungan terhadap jenis energi yang digunakan saat ini. Penilaian ini sangat dipengaruhi tingkat emisi gas rumah kaca untuk memperlihatkan peningkatan emisi GRK sektor energi dan pangsa EBT dalam bauran energi primer yang memperlihatkan seberapa besar kemampuan Pemerintah dalam memanfaatkan energi yang lebih ramah lingkungan dalam kaitannya mengurangi penggunaan energi fosil yang memiliki emisi yang besar.

Adapun target dan komponen yang digunakan dalam penilaian indeks ketahanan energi nasional pada Direktorat Jenderal EBTKE sebagai berikut:

Tabel 30. Indikator dan Target Kinerja Indeks Ketahanan Energi Sektor EBTKE

Indikator Kinerja / Komponen Satuan 2020 2021 2022 2023 2024

INDEKS KETAHANAN ENERGI SEKTOR EBTKE Nilai 49,50 49,95 50,52 51,38 52,30

12,67 12,72 12,77 12,82 12,87

A. Availability Nilai 31,16 31,29 31,41 31,54 31,67

Potensi EBT Nilai 31 31 31 32 32

a. Rasio Cadangan terhadap potensi (cadangan +

sumber daya) Panas Bumi % 61 61 61 61 62

Potensi Pabum MWe 23.966 23.966 23.966 23.966 23.966

Cadangan Pabum MWe 14.652 14.677 14.702 14.727 14.752

b. Rasio potensi terukur (potensi teknis) terhadap total

potensi Hidro % 37 37 38 38 38

Potensi Hidro (GW) GWe 94 94 94 94 94

Potensi Teknis Hidro (GW) GWe 35 35 35 35 36

c. Potensi Surya % 15 15 15 15 15

Potensi Surya (MW) MWe 1.385.988 1.385.988 1.385.988 1.385.988 1.385.988

Potensi Teknis Surya (MW) MWe 207.918 208.038 208.158 208.278 208.398

d. Potensi Bayu % 30 30 31 31 31

Potensi Bayu MWe 60.650 60.650 60.650 60.650 60.650

Potensi Teknis Bayu MWe 18.180 18.380 18.580 18.780 18.980

e. Potensi Ocean % 35 35 35 35 35

Potensi Ocean MWe 4.294 4.294 4.294 4.294 4.294

Potensi Teknis Ocean MWe 1.503 1.503 1.503 1.503 1.503

f. Potensi Bioenergi % 9 9 9 9 9

Potensi Bioenergi MWe 32.654 32.654 32.654 32.654 32.654

Indikator Kinerja / Komponen Satuan 2020 2021 2022 2023 2024

6,57 6,72 6,99 7,29 7,83

B. Accessibility Nilai 25,14 25,72 26,76 27,92 29,96

Penyediaan Infrastruktur EBT Nilai 25 26 27 28 30

a. Rasio Pembagkit EBT terhadap Total Pembangkit

(dibandingkan target RUEN) % 24 27 31 35 43

Kapasitas Pembangkit EBT MW 11.008 12.009 13.931 15.709 19.372

Kapasitas Pembangkit EBT RUEN MW 45.156 45.156 45.156 45.156 45.156

b. Rasio Pemanfaatan Cadangan Terukur Panas Bumi % 16 16 17 19 21

Kapasitas PLTP MWe 2.271 2.351 2.483 2.783 3.158

Cadangan MWe 14.652 14.677 14.702 14.727 14.752

c. Rasio Pemanfaatan Potensi terukur EBT Lainnya

untuk Listrik % 3 4 4 5 6 Hidro MWe 6.141 6.582 7.537 7.934 9.886 Bayu MWe 154 154 164 443 883 Surya MWe 281 609 949 1.592 2.235 Ocean MWe - - - - - Bio MWe 2.139 2.291 2.776 2.935 3.187

Lainnya (Hybrid, PJUTS, LTSHE, Pump Storage) MWe 22 22 22 22 22

d. Rasio Penggunaan Biodisel terhadap Minyak Solar % 100 100 100 100 100

% Campuran Biodiesel % 30% 50% 50% 50% 50%

Biodisel Ribu KL 10.000 10.200 14.150 14.550 17.350

e. Pemanfaatan Biogas (dibandingkan Target RUEN) % 7,7 8,1 8,5 9,0 9,4

Konsumsi Biogas Komunal RT Juta M3 29 31 32 34 35

Target Biogas RUEN (juta m3) 2024 = 376,8 Juta M3 376,8 376,8 376,8 376,8 376,8

18,10 18,13 18,16 18,19 18,21

C. Affordability (Keterjangkauan) Nilai 94,76 94,91 95,06 95,21 95,36

Efisiensi penggunaan Energi Nilai 100 100 100 100 100

a. Penurunan Intensitas Energi Final % 100 100 100 100 100

Penurunan Intensitas Energi Final SBM/Miliar IDR 0,90 0,90 0,90 0,80 0,80

Target Penurunan Intensitas Energi Final (1%) SBM/Miliar IDR 0,90 0,90 0,90 0,80 0,80

c. Intensitas Energi Primer % 100 100 100 100 100

b. Penyusunan SKEM % 100 100 100 100 100

Jumlah Peralatan yang disusun SKEM Peralatan 3 2 1 -

-Jumlah Peralatan yang disusun SKEM Peralatan 3 2 1 -

-Produktivitas Energi Sektoral % 87 88 88 88 89

a. Konsumsi Energi Industri per PDB Industri % 75 75 76 77 78

b. Konsumsi Energi Komersial per PDB Komersial % 100 100 100 100 100

12,16 12,38 12,60 13,09 13,39

D. Acceptability Nilai 86,09 87,62 89,17 92,61 94,76

Emisi gas rumah kaca Nilai 86 88 89 93 95

a. Emisi GRK Sektor Energi % 100 100 100 100 100

Reduksi Emisi GRK Sektor Energi Juta Ton 58,00 67,00 91,00 116,00 142,00

Reduksi Target NDC Juta Ton 57,63 67,05 91,33 115,90 142,35

b. Pangsa EBT dalam Bauran Energi Primer % 58 63 68 78 85

Pangsa EBT dalam Bauran Energi Primer (termasuk

biomasa modern) % 13,40% 14,50% 15,70% 17,90% 19,50%

Bauran EBT RUEN % 23,00% 23,00% 23,00% 23,00% 23,00%

Sasaran Strategis 2 : Optimalisasi kontribusi sektor ESDM yang bertanggung jawab dan berkelanjutan

Dalam rangka mengukur Optimalisasi kontribusi sektor ESDM yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, maka ditetapkan 2 (dua) indikator kinerja yang dapat dijadikan instrumen penilaian yang terukur. indikator kinerja yang dimaksud yaitu Persentase Realisasi Penerimaan PNBP dan Persentase Realisasi Investasi. Adapun metode penilaian dan komponen pengungkit dari kedua indikator tersebut yaitu:

1. Penilaian persentase realisasi PNBP diukur berdasarkan tingkat keberhasilan capaian berdasarkan target PNBP dalam tahun yang sama, dimana target akan ditetapkan 1 (satu) tahun sebelumnya melalui mekanisme tertentu. Sumber PNBP sektor EBTKE berasal dari Panas Bumi.

2. Persentase realisasi investasi diukur berdasarkan tingkat keberhasilan capaian berdasarkan target realisasi investasi sektor ESDM yang ditetapkan 1 (satu) tahun sebelumnya melalui mekanisme tertentu. Investasi sektor EBTKE berasal dari Panas Bumi, Bioenergi, Aneka EBT dan Konservasi Energi.

Adapun target dan komponen yang digunakan dalam penilaian Persentase Realisasi Penerimaan PNBP dan Persentase Realisasi Investasi sebagai berikut:

Tabel 31. Indikator dan Target Kinerja Optimalisasi kontribusi sektor ESDM yang bertanggung jawab dan berkelanjutan

No. Indikator Kinerja/Komponen Satuan Target

2020 2021 2022 2023 2024

Sasaran Strategis: Meningkatnya kontribusi sektor ESDM

1 Persentase Realisasi PNBP % 93,00 93,00 93,00 94,00 94,00

PNBP Panas Bumi Miliar Rp 1.196,24 1.369,72 1.598,97 1.970,42 2.181,93

2 Persentase Realisasi Investasi % 90,00 90,00 90,00 90,00 90,00

Investasi EBTKE Miliar USD 2,31 2,92 5,56 3,62 7,53

Sasaran Strategis 3 : Layanan Sektor ESDM yang Optimal

Dalam rangka mengukur Layanan Sektor ESDM yang Optimal, maka ditetapkan indikator kinerja yang dapat dijadikan instrumen penilaian yang terukur. indikator kinerja yang dimaksud yaitu Indeks Kepuasan Layanan Sektor ESDM. Sejalan dengan gerakan reformasi birokrasi guna membangun kepercayaan publik yang lebih baik, Kementerian ESDM telah berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui beberapa terobosan inovatif berupa penetapan standar-standar pelayanan yang terukur, guna mengukur sejauh mana kualitas pelayanan yang telah diberikan Kementerian ESDM kepada masyarakat, perlu dilakukan pengukuran tingkat kepuasan pengguna layanan berdasarkan indikator-indikator spesifik yang ditetapkan berdasarkan kepentingan aspek dari setiap layanan dan kepuasan dari

1. Persyaratan layanan/Standar Operasional Prosedur (SOP)

Aspek Persyaratan layanan/Standar Operasional Prosedur (SOP) didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap kebutuhan persyaratan layanan/Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap kesesuaian pelayanan dengan persyaratan layanan/ Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan sebelumnya.

2. Kemudahan Prosedur Pelayanan

Aspek Kemudahan Prosedur Layanan didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan ter hadap kebutuhan prosedur pelayanan yang mudah dalam sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap kemudahan prosedur pelayanan yang diberikan. 3. Kecepatan Waktu Layanan

Aspek Kecepatan Waktu Layanan didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap kebutuhan waktu layanan yang cepat dalam sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap kecepatan waktu pelayanan yang diberikan. 4. Kewajaran terhadap Biaya/Tarif yang dibebankan

Aspek Kewajaran terhadap Biaya/Tarif yang dibebankan didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap kebutuhan tarif yang wajar dalam sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap kewajaran tarif yang dibebankan terhadap pengguna layanan dengan jenis layanan yang diberikan.

5. Kesesuaian Produk Pelayanan pada standar pelayanan dengan hasil produk pelayanan Aspek Kesesuaian Produk Pelayanan pada standar pelayanan dengan hasil produk pelayanan didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap kebutuhan pencantuman produk layanan yang dikeluarkan dalam standar layanan serta penilaian kepuasan terhadap hasil produk pelayanan jika dibandingkan dengan produk pelayanan yang dijanjikan dalam standar pelayanan.

6. Kompetensi dan kemampuan petugas (Layanan Tatap Muka) atau Ketersediaan informasi sistem online (Layanan Online)

a. Kompetensi dan kemampuan petugas (Layanan Tatap Muka)

Aspek Kompetensi dan Kemampuan Petugas didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap perlu tidaknya kompetensi dan kemampuan petugas pada sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap kompetensi dan kemampuan petugas yang diberikan.

b. Ketersediaan informasi sistem online (Layanan Online)

Aspek Ketersediaan informasi sistem online didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap ketersediaan informasi pada sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap tingkat ketersediaan informasi pada sistem online untuk layanan yang diberikan.

7. Perilaku petugas (Layanan Tatap Muka) atau kemudahan dan kejelasan fitur sistem

online (Layanan Online)

a. Perilaku petugas (Layanan Tatap Muka)

Aspek Perilaku Petugas didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap penilaian perilaku petugas pada sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap perilaku petugas yang diberikan.

b. Kemudahan dan kejelasan fitur sistem online (Layanan Online)

Aspek kemudahan dan kejelasan fitur sistem online didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap kemudahan dan kejelasan fitur pada sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap tingkat kemudahan dan kejelasan fitur sistem online untuk layanan yang diberikan.

8. Kualitas Sarana dan Prasarana

Aspek Kualitas Sarana dan Prasarana didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap kualitas sarana dan prasarana pada sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap kualitas sarana dan prasarana yang sediakan.

9. Penanganan pengaduan

Aspek Penanganan Pengaduan didefinisikan sebagai persepsi pengguna layanan mengenai kepentingan terhadap keberadaan fasilitas dan penanganan pengaduan dalam sebuah layanan serta penilaian kepuasan terhadap fasilitas dan penanganan pengaduan yang diberikan.

Adapun target dan komponen yang digunakan dalam penilaian Indeks Kepuasan Layanan Sektor ESDM sebagai berikut:

Tabel 32. Indikator dan Target Kinerja Indeks Kepuasan Layanan Sektor ESDM

No. Indikator Kinerja/Komponen Satuan Target

2020 2021 2022 2023 2024 Sasaran Strategis: Layanan Sektor ESDM yang Optimal

Indeks Kepuasan Layanan Ditjen EBTKE Nilai (Skala 4) 3,10 3,15 3,20 3,25 3,30

Sasaran Strategis 4: Pengawasan, Pengendalian, Monitoring & Evaluasi sektor ESDM yang efektif

Dalam rangka mengukur efektivitas terhadap Pengawasan, Pengendalian, Monitoring & Evaluasi sektor ESDM, maka ditetapkan indikator kinerja yang dapat dijadikan instrumen penilaian yang terukur untuk mencapai sasaran tersebut. indikator kinerja yang dimaksud yaitu Indeks Efektivitas Pembinaan dan Pengawasan, Indeks Maturitas Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

(SAKIP) ESDM. Untuk mengukur hal tersebut, maka ditentukan komponen-komponen pengungkit dari penilaian indeks tersebut. Komponen-komponen tersebut yaitu:

1. Indeks Efektivitas Pembinaan dan Pengawasan

Indeks Efektivitas Pembinaan dan Pengawasan merupakan metode penilaian yang digunakan Kementerian ESDM dalam meningkatkan efektivitas pembinaan dan pengawasan terhadap proses dari seluruh bidang usaha sektor ESDM. Adapun komponen penilaian dalam menentukan nilai indeks tersebut yaitu:

a. Sub Sektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi

Merupakan indikator penilaian terhadap pembinaan dan pengawasan sub sektor Ketenagalistrikan mencakup Badan Usaha Perusahaan Listrik Negara (PLN),

Independent Power Producer (IPP), Private Power Utility (PPU), mengacu pada

Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, Permen ESDM Nomor 32 Tahun 2018 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga BBN sebagai Bahan Bakar Lain, Permen ESDM Nomor 39 Tahun 2017 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Fisik Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Energi dan peraturan turunannya. Metode penilaian indeks Efektivitas Pembinaan dan Pengawasan dengan melakukan survei terhadap badan usaha sektor ESDM (Ditjen minyak dan gas bumi, mineral dan batubara, ketenagalistrikan, dan energi baru terbarukan dan konservasi energi) dengan mengambil sampel pada setiap jenis usaha dan sub sektor.

2. Indeks Maturitas Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

Tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang dilakukan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan daerah.

a. Lingkungan Pengendalian

Merupakan penilaian terhadap kemampuan pimpinan dalam menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan dampak perilaku positif dan kondusif untuk penerapan sistem pengendalian intern dalam lingkungan kerjanya, melalui penegakan integritas dan etika, komitmen terhadap kompetensi, kepemimpinan yang kondusif, struktur organisasi sesuai kebutuhan, delegasi wewenang dan tanggung jawab, kebijakan pembinaan SDM, peran APIP yang efektif, hubungan kerja yang baik.

b. Penilaian Risiko

Merupakan penilaian terhadap kemampuan pimpinan dalam menetapkan tujuan Kementerian yang memuat pernyataan dan arahan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis dan terikat waktu. Pernyataan dan arahan ini wajib dikomunikasikan kepada seluruh pegawai. Adapun parameter dari penilaian ini yaitu identifikasi risiko dan analisis risiko.

c. Kegiatan Pengendalian

Merupakan penilaian terhadap kemampuan pimpinan dalam melakukan kegiatan Pengendalian sesuai dengan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi Kementerian. Kegiatan pengendalian diutamakan pada kegiatan pokok Kementerian, dikaitkan dengan proses penilaian risiko, dipilih sesuai dengan sifat khusus Kementerian, serta kebijakan dan prosedur ditetapkan secara tertulis. Adapun kegiatan pengendalian yang dimaksud, dilaksanakan dengan reviu kinerja, pembinaan SDM, pengendalian sistem informasi, pengendalian fisik aset, penetapan persentase review indikator, pemisahan fungsi, otorisasi, pencatatan, pembatasan akses, akuntabilitas, dokumentasi SPI.

d. Informasi dan Komunikasi

Merupakan penilaian terhadap kemampuan pimpinan dalam mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat. Komunikasi atas informasi tersebut harus diselenggarakan secara efektif yaitu menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi serta mengelola, mengembangkan dan memperbarui sistem informasi secara terus menerus dengan parameter penilaian mencakup Informasi dan komunikasi efektif. e. Pemantauan

Merupakan penilaian terhadap kemampuan pimpinan dalam melakukan pemantauan Sistem Pengendalian Intern yang dilakukan secara berkelanjutan, evaluasi terpisah, dan tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan review lainnya. Parameter penilaian mencakup pemantauan berkelanjutan dan evaluasi terpisah. 3. Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)

Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan penerapan pelaksanaan Manajemen Kinerja berupa rangkaian sistematik dari berbagai aktivitas, alat, dan prosedur yang bertujuan untuk memastikan terdapat perbaikan berkelanjutan guna meningkatkan kinerja K/L sesuai dengan sasaran pembangunan nasional, pencapaian target-target, dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Penerapan SAKIP dilakukan berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN yang merupakan asas akuntabilitas dalam penyelenggaraan negara serta UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang merupakan Asas pengelolaan

keuangan negara adalah akuntabilitas berorientasi hasil dan penerapan anggaran berbasis prestasi kinerja. Kewajiban melaporkan akuntabilitas keuangan dan akuntabilitas kinerja pemerintah tercantum pada PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. SAKIP diperlukan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran berorientasi pada hasil tercantum pada Perpres Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Adapun target dan komponen yang digunakan dalam menilai efektivitas Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Sektor ESDM sebagai berikut:

Tabel 33. Indikator dan Target Kinerja Sasaran Strategis Pengawasan, Pengendalian, Monitoring & Evaluasi sektor ESDM yang efektif

No. Indikator Kinerja/Komponen Satuan Target

2020 2021 2022 2023 2024 Sasaran Strategis: Pengawasan, Pengendalian, Monitoring & Evaluasi sektor ESDM yang efektif

A. Indeks Efektivitas Pembinaan dan

Pengawasan Nilai 75,5 76,5 77,5 78,5 79,5

B. Indeks Maturitas SPIP Skor (Skala 5) 3,5 3,6 3,7 3,8 3,9

C. Nilai SAKIP Ditjen EBTKE Nilai 80,1 80,1 80,5 80,5 81

Sasaran Strategis 5: Terwujudnya birokrasi yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan prima

Dalam rangka mengukur peningkatan nilai dari birokrasi yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan prima, maka ditetapkan indikator kinerja yang dapat dijadikan instrumen penilaian yang terukur untuk mencapai sasaran tersebut. indikator kinerja yang dimaksud yaitu Indeks Reformasi Birokrasi. Indeks reformasi Birokrasi merupakan penilaian terhadap evaluasi birokrasi yang berpedoman pada Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah. Evaluasi difokuskan pada upaya-upaya yang dilakukan oleh Kementerian ESDM dalam pelaksanaan reformasi birokrasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai kemajuan pelaksanaan program reformasi birokrasi dalam

Dalam dokumen Dicetak: Jakarta, April 2020 (Halaman 135-153)

Dokumen terkait