• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 - TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN

4.1 TARGET KINERJA

Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Penyusunan dan Penelaahan Rencana Strategis K/L 2020-2024 menyampaikan bahwa target kinerja merupakan hasil dan satuan hasil yang direncanakan akan dicapai dari setiap indikator kinerja. Tolok ukur keberhasilan pelaksanaan Renstra Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri 2020-2024 diukur dengan berbagai indikator kinerja beserta target kinerjanya. Terdapat sasaran strategis, sasaran program, dan sasaran kegiatan yang menjadi sasaran kinejra Ditjen PDN. Pada sub bab ini akan dijelaskan mengenai hasil dan satuan hasil yang akan dicapai dari setiap indikator kinerja, baik indikator kinerja sasaran strategis, indikator kinerja program dan indikator kinerja kegiatan.

Tabel 4.1 Target Kinerja Sasaran Strategis Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri 2020-2024 SASARAN / INDIKATOR SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Terwujudnya stabilisasi harga dan ketersediaan pasokan barang kebutuhan pokok (SS2)

Inflasi Pangan Bergejolak Persen 3,2 Β± 1 3,2 Β± 1 3,1 Β± 1 3,1 Β± 1 3,1 Meningkatnya pasar produk dalam negeri (SS4)

Pertumbuhan PDB Sub-Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, bukan Mobil dan Sepeda Motor

Persen 4,5 4,8 5,3 5,6 6

Persentase Kontribusi Produk Dalam Negeri dalam Konsumsi Rumah Tangga Nasional

Persen 94 94,3 94,5 94,8 95

Dalam rangka mencapai sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam dokumen Renstra Ditjen PDN 2020-2024, Ditjen PDN telah menetapkan sasaran program (outcome) dan indikator sasaran program. Indikator Sasaran Program merupakan alat ukur yang mengindikasikan keberhasilan pencapaian hasil (outcome) dari suatu program. Indikator Sasaran Program ditetapkan secara spesifik untuk mengukur pencapaian kinerja berkaitan dengan sasaran program (outcome). Sedangkan Indikator Sasaran Kegiatan merupakan alat ukur yang mengindikasikan keberhasilan pencapaian keluaran (output) dari suatu kegiatan. Indikator Sasaran Kegiatan

ditetapkan secara spesifik untuk mengukur pencapaian kinerja berkaitan dengan sasaran (output).

Tabel 4.2 Target Kinerja Program Perdagangan Dalam Negeri pada Meningkatnya Pembinaan Usaha dan Pelaku Distribusi Perdagangan

SASARAN / INDIKATOR SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Meningkatnya pembinaan usaha dan pelaku distribusi perdagangan

Persentase pertumbuhan waralaba

dalam negeri Persen 5 5 5 5 5

Pertumbuhan UMKM binaan fasilitator edukasi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang berjualan di marketplace

Persen 10 10 10 10 10

1. Persentase Pertumbuhan Waralaba dalam Negeri

Waralaba merupakan bagian dari perdagangan dan dibawah kewenangan dari Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri. Waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan Perjanjian Waralaba (Permendag Nomor 71 Tahun 2019).

Waralaba yang digunakan adalah jumlah waralaba dalam satu tahun dan membandingkan dengan waralaba tahun sebelumnya. Dari rumus tersebut kita dapatkan persentase pertumbuhan atau penurunan waralaba dalam satu tahun.

Perhitungan dalam menentukan persentase pertumbuhan waralaba dalam negeri yaitu dengan rumus sebagai berikut :

π‘Š =π‘Šπ‘–βˆ’ π‘Šπ‘–βˆ’1

π‘Šπ‘– Γ— 100%

π‘Š = Persentase pertumbuhan waralaba dalam negeri π‘Šπ‘– = Jumlah waralaba tahun ukur

π‘Šπ‘–βˆ’1= Jumlah waralaba tahun sebelumnya

2. Pertumbuhan UMKM binaan fasilitator edukasi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang berjualan di marketplace.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri memiliki kewenangan untuk memberikan fasilitasi edukasi perdagangan. Fasilitasi tersebut melalui Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE). UMKM yang menjadi sasaran adaah UMKM binaan yang berjualan di marketplace.

π‘ˆ =π‘ˆπ‘– βˆ’ π‘ˆπ‘–βˆ’1

π‘ˆπ‘– Γ— 100%

π‘ˆ = Persentase pertumbuhan UMKM binaan fasilitator edukasi PMSE yang berjualan di π‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘˜π‘’π‘‘π‘π‘™π‘Žπ‘π‘’

π‘ˆπ‘– = UMKM binaan tahun ukur

π‘ˆπ‘–βˆ’1= UMKM binaan tahun sebelumnya

Tabel 4.3 Target Kinerja Program Perdagangan Dalam Negeri pada Meningkatnya Pemanfaatan Sarana Perdagangan yang Mendukung Aktivitas Ekonomi Masyarakat

SASARAN / INDIKATOR SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Meningkatnya pemanfaatan sarana perdagangan yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat

Persentase sarana perdagangan yang dimanfaatkan untuk aktivitas

perdagangan yang telah direvitalisasi

Persen 50 50 50 50 50

Persentase peningkatan Omzet pedagang Pasar Rakyat yang telah direvitalisasi

Persen - 20 20 20 20

1. Persentase Sarana Perdagangan yang Dimanfaatkan untuk Aktivitas Perdagangan yang Telah Direvitalisasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 61 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Pengelolaan Sarana Perdagangan, yang dimaksud dengan revitalisasi usaha untuk melakukan peningkatkan atau pemberdayaan

sarana-prasarana fisik, manajemen, sosial budaya, dan ekonomi atas Sarana Perdagangan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan sarana perdagangan meliputi pasar rakyat, gudang non sistem resi gudang, dan pusat distribusi.

Dalam rangka memperlancar distribusi arus barang serta meningkatkan daya saing pasar dalam negeri, Kementerian Perdagangan perlu meningkatkan pemanfaatan sarana perdagangan berupa pasar rakyat, gudang non sistem resi gudang, dan pusat distribusi yang selama ini sudah dilakukan pembangunan/revitalisasI oleh Kementerian Perdagangan. Sehingga fungsi sarana perdagangan yang telah dibangun/direvitalisasi untuk mendukung kelancaran Distribusi arus barang dan dapat mendukung aktifitas ekonomi masyarakat. Perhitungan indikator ini secara matematis sebagai berikut:

𝑆𝑃 =π‘†π‘ƒπ‘’π‘˜

𝑆𝑃𝑒𝑏× 100%

𝑆𝑃 = Persentase Sarana Perdagangan yang Dimanfaatkan untuk Aktivitas Perdagangan yang Telah Direvitalisasi π‘†π‘ƒπ‘š = jumlah sarana perdagangan yang dimanfaatkan

Sπ‘ƒπ‘π‘Ÿ= jumlah sarana perdagangan yang telah dibangun/direvitalisasi

2. Persentase peningkatan Omzet pedagang Pasar Rakyat yang telah direvitalisasi Omzet yang digunakan adalah omzet tahunan dengan menjumlahkan omzet seluruh pedagang dalam satu tahun berjalan dan membandingkan dengan omzet tahun sebelumnya. Dari rumus tersebut kita dapatkan persentase kenaikan atau penurunan omzet pedagang dalam satu tahun. Perhitungan dalam menentukan persentase kenaikan omzet Pedagang yaitu dengan rumus sebagai berikut :

𝑂 =π‘‚π‘–βˆ’ π‘‚π‘–βˆ’1 𝑂𝑖

Γ— 100%

𝑂 = Persentase peningkatan omzet Pedagang Pasar Rakyat yang telah direvitalisasI

𝑂𝑖 = Omzet Pasar Rakyat yang telah direvitalisasi tahun ukur

π‘‚π‘–βˆ’1 = Omzet Pasar Rakyat yang telah direvitalisasi tahun sebelumnya

Tabel 4.4 Target Kinerja Program Perdagangan Dalam Negeri pada Meningkatnya Aktivitas Perdagangan Antar Pulau

SASARAN / INDIKATOR SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Meningkatnya aktivitas perdagangan antar pulau

Persentase pertumbuhan volume perdagangan barang kebutuhan pokok melalui perdagangan antar pulau dengan menggunakan manifest domestik

Persen 5 5 5 5 5

1. Persentase Pertumbuhan Volume Perdagangan Barang Kebutuhan Pokok Melalui Perdagangan Antar Pulau dengan Menggunakan Manifest Domestik Daftar Muatan (Manifes Domestik) Antarpulau adalah dokumen yang berisi data dan/atau informasi terkait Perdagangan Antarpulau. Daftar Muatan (Manifes Domestik) Antarpulau paling sedikit memuat data dan/atau informasi mengenai:

1. Pemilik Muatan (Cargo Owner) Antarpulau;

2. Barang yang diperdagangkan antarpulau;

3. Pengangkutan barang yang diperdagangkan antarpulau; dan 4. Penerima muatan.

Kewajiban melengkapi Daftar Muatan (Manifes Domestik) Antarpulau dilaksanakan oleh Pemilik Muatan (Cargo Owner) antarpulau secara elektronik melalui SINSW (Sistem Indonesia National Single Window) yang terintegrasi dengan SIPT (Sistem Informasi Perizinan Terpadu) Kementerian Perdagangan untuk kemudian diterbitkan nomor laporan atas daftar manifest domestik tersebut.

Pengaturan kegiatan Perdagangan Antarpulau melalui penerbitan nomor laporan data manifes bertujuan untuk integrasi pasar dalam negeri, sehingga terwujud pemerataan ekonomi antar daerah. Semakin banyak laporan data manifest menunjukkan peningkatan aktifitas dari para pelaku usaha yang dengan sendirinya diharapkan dapat menjadi indikator dalam peningkatan aktifitas perdagangan antar pulau secara agregat. Perhitungan dalam menentukan persentase Pertumbuhan Jumlah Laporan Perdagangan antar Pulau yaitu dengan rumus sebagai berikut :

𝐿𝑀 =πΏπ‘€π‘–βˆ’ πΏπ‘€π‘–βˆ’1

πΏπ‘€π‘–βˆ’1 Γ— 100%

𝐿𝑀 = Pertumbuhan Jumlah Laporan Perdagangan antar Pulau berdasarkan Data Manifest Domestik pada tahun berjalan 𝐿𝑀𝑖 = Jumlah Laporan Perdagangan antar Pulau tahun berjalan

πΏπ‘€π‘–βˆ’1= Jumlah Laporan Perdagangan antar Pulau tahun tahun sebelumnya

Tabel 4.5 Target Kinerja Program Perdagangan Dalam Negeri pada Mewujudkan Stabilisasi Harga dan Ketersediaan Pasokan Barang Kebutuhan Pokok

SASARAN / INDIKATOR SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Mewujudkan stabilisasi harga dan ketersediaan pasokan barang kebutuhan pokok Koefisien variasi harga kebutuhan

pokok antar waktu Persen 6 6 5,9 5,9 5,9

1. Koefisien Variasi Harga Kebutuhan Pokok Antar Waktu

Stabilisasi harga merupakan salah satu aspek dalam kebijakan pangan yang senantiasa menjadi agenda pemerintah. Stabilisasi harga komoditi barang kebutuhan pokok merupakan isu yang selalu dibahas dan perkembangan harga itu sendiri selalu dimonitor oleh pemerintah, mengingat sebagian besar komoditi Bapok merupakan produk pertanian yang memiliki karakteristik produksi bersifat musiman dan harga berfluktuasi sementara permintaan terjadi sepanjang waktu. Selain itu stabilisasi harga bapok juga penting dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan pengendalian inflasi.

Pendekatan untuk mengukur terjaganya stabilitas harga barang kebutuhan pokok adalah dengan menghitung koefisien variasi (biasanya disingkat KV) antar waktu (antar bulan dalam periode 1 tahun). Koefisien variasi barang kebutuhan pokok antar waktu dihitung berdasarkan dari data harga secara runtun waktu yang menggambarkan fluktuasi (simpangan terhadap rata-rata) yang digunakan untuk mengetahui stabilitas harga barang antar waktu. Semakin kecil nilai koefisien variasi dari masing-masing komoditas barang kebutuhan pokok yang dihitung maka dapat diinterpretasikan bahwa harga relatif stabil ataumemiliki fluktuasi yang rendah. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut:

𝐾𝑉 = 𝑆

xΜ„

π‘₯ 100%

𝐾𝑉 = Koefisien Variasi

𝑆 = Simpangan Baku dari harga ratarata untuk periode 12 bulan xΜ„ = nilai rata βˆ’ rata per bulan per tahun

Data yang digunakan adalah data harga bulanan nasional untuk masing-masing komoditas. Jumlah barang kebutuhan pokok yang dipakai dalam menghitung koefisien variasi ini berjumlah 10 macam, yaitu: beras, gula pasir, jagung, kedelai, tepung terigu, minyak goreng, susu kental manis, daging ayam, daging sapi, dan telur.

Tabel 4.6 Target Kinerja Program Perdagangan Dalam Negeri dalam Meningkatkan Penggunaan Produk Dalam Negeri

SASARAN / INDIKATOR SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Meningkatnya penggunaan produk dalam negeri

Persentase kontribusi produk dalam negeri dalam konsumsi rumah tangga nasional

Persen 94 94,3 94,5 94,8 95

Persentase tingkat penggunan barang dalam negeri yang diperdagangkan di toko swalayan

Persen 80 82 83 84 85

1. Persentase Kontribusi Produk Dalam Negeri dalam Konsumsi Rumah Tangga Nasional

Kontribusi produk dalam negeri dalam konsumsi rumah tangga merupakan nilai konsumsi rumah tangga yang dikurangi dengan nilai konsumsi yang dipenuhi oleh barang yang diimpor dari luar negeri. Dengan demikian untuk menghitung besaran kontribusi produk dalam negeri dalam konsumsi rumah tangga adalah dengan menggunakan pendekatan rasio penggunaan produk dalam negeri terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga. Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap produk dalam negeri dapat meningkatkan daya saing produk nasional dan mendorong pertumbuhan produksi barang dalam negeri.

Penghitungan nilai rasio penggunaan produk dalam negeri terhadap pengeluaran adalah 1 dikurangi dengan hasil nilai impor barang konsumsi dibagi dengan nilai pengeluaran konsumsi rumah tangga dikalikan 100 persen. Nilai impor barang konsumsi bersumber pada data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik. Adapun barang konsumsi yang dihitung dalam indikator kinerja ini adalah:

a. Produk makanan/minuman (belum diolah) untuk rumah tangga;

b. Produk makanan/minuman (olahan) untuk rumah tangga;

c. Bahan bakar dan pelumas (olahan) d. Mobil penumpang;

e. Alat angkutan bukan untuk industri;

f. Barang konsumsi tahan lama (produk farmasi, peralatan listrik, dll);

g. Barang konsumsi setengah tahan lama (alas kaki, pakaian jadi, dll) h. Barang konsumsi tidak tahan lama (sabun, kosmetik, dll); dan i. Barang konsumsi lain yang tidak diklasifikasikan.

Cara penghitungannya adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

𝑔 = 1 βˆ’ (π‘™π‘π‘˜

πΎπ‘Ÿπ‘‘) Γ— 100%

𝑔 = rasio penggunaan barang produksi dalam negeri terhadap pengeluaran rumah tangga

π‘™π‘π‘˜ = nilai impor barang konsumsi

πΎπ‘Ÿπ‘‘ = nilai pengeluaran konsumsi rumah tangga

2. Persentase Tingkat Penggunan Barang Dalam Negeri Yang Diperdagangkan Di Toko Swalayan

Indikator ini merupakan salah satu ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 56 tahun 2014 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Toko modern sebagaimana dimaksud di atas secara bertahap meningkatkan penjualan barang serupa yang diproduksi di Indonesia dan melaporkan pelaksanaannya kepada Menteri melalui Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri. Indikator tersebut berguna untuk mengetahui sejauh mana implikasi peraturan terhadap toko swalayan dalam mematuhi dan berpartisipasi dengan aktif dalam membantu mengembangkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Indonesia.

Meskipun barang dagangan hasil produksi dalam negeri paling sedikit 80 persen dari jumlah dan jenis barang yang diperdagangkan di toko swalayan, namun dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 56 tahun 2014, Menteri Perdagangan memberikan izin penyediaan barang dagangan produksi dalam negeri kurang dari 80 persen kepada toko modern yang berbentuk stand alone brand dan/atau outlet/toko khusus (specialty stores), dalam hal barang dagangan:

a. memerlukan keseragaman produksi (uniformity) dan bersumber dari satu kesatuan jaringan pemasaran global (global supply chain);

b. memiliki brand/merek sendiri yang sudah terkenal di dunia (premium product) dan belum memiliki basis produksi di Indonesia; atau

c. berasal dari negara tertentu untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya yang tinggal di Indonesia.

Sasaran indikator program (Eselon I) selanjutnya diuraikan menjadi sasaran kegiatan (output) dan indikator kegiatan. Sasaran kegiatan ini menjadi kegiatan pada unit Eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri dan membentuk komponen anggaran. Berikut ini adalah rincian indikator kinerja kegiatan pada setiap kegiatan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri.

Tabel 4.7 Sasaran dan Indikator Kegiatan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri 2020-2024 NO INDIKATOR SASARAN KEGIATAN SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Terwujudnya dukungan terhadap informasi dan rancangan peraturan yang disetujui

1 Persentase berita positif terhadap informasi bidang PDN yang dipublikasikan

Persen 90 90 90 90 90

2 Jumlah rancangan peraturan di bidang Perdagangan Dalam Negeri yang disetujui

Peraturan 6 6 6 6 6

Terwujudnya Pengelolaan program yang transparan, akuntabel, dan bersih 1 Persentase penyusunan dokumen

program sesuai ketentuan

Persen 100 100 100 100 100

Terwujudnya Kepuasan pegawai terhadap layanan Kesekretariatan 1 Indeks Kepuasan Layanan Internal

Kesekretariatan Ditjen PDN

Persen 75 75 80 80 80

Meningkatnya Kualitas Pelayanan Publik Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri 1 Indeks Kepuasan Masyarakat Atas

Layanan Publik

Nilai 80 80 80 80 80

Meningkatnya birokrasi yang transparan, akuntabel dan bersih 1 Nilai Hasil Evaluasi SAKIP Ditjen

PDN

Nilai 80 80 80 80 80

2 Nilai Kinerja Anggaran Ditjen PDN Nilai 80 81 82 83 84 Terwujudnya dukungan layanan teknis dan administrasi yang berkualitas

1 Indeks kualitas layanan teknis dan administrasi Direktorat Bina Usaha dan Pelaku Distribusi

Persen 80 80 80 80 80

2 Indeks kualitas layanan teknis dan administrasi Direktorat Sarana Distribusi dan Logistik

Persen 80 80 80 80 80

3 Indeks kualitas layanan teknis dan administrasi Direktorat Kebutuhan Pokok dan Barang Penting

Persen 80 80 80 80 80

4 Indeks kualitas layanan teknis dan administrasi Direktorat

Penggunaan dan Pemasaran Produk Dalam Negeri

Persen 80 80 80 80 80

NO INDIKATOR SASARAN KEGIATAN SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Meningkatnya kapasitas pelaku usaha dan aparatur di bidang perdagangan

1 Jumlah Fasilitator edukasi perdagangan melalui sistem elektronik

Jumlah 130 200 200 200 200

2 Persentase pertumbuhan waralaba dalam negeri

Persen 5 5 5 5 5

3 Jumlah pelaku usaha dan aparatur yang mendapat pembinaan di bidang usaha perdagangan dalam negeri

Orang 1000 2000 2000 2000 2000

Meningkatnya kemudahan dan kesempatan berusaha dalam perdagangan dalam negeri 1 Jumlah rancangan peraturan terkait

kebijakan usaha perdagangan

Jumlah Rancangan

4 6 6 6 6

2 Persentase pemenuhan komitmen melalui sistem perizinan online bidang perdagangan dalam negeri

Persen 100 100 100 100 100

3 Persentase pertumbuhan waralaba dalam negeri

Persen 5 5 5 5 5

Meningkatnya Pengembangan Sarana Perdagangan yang Mendukung Aktifitas Ekonomi Masyarakat

1 Persentase Jumlah Pasar Rakyat hasil revitalisasi yang dimonitor dan dievaluasi

Persen 100 100 100 100 100

2 Persentase Pembangunan Sarana Perdagangan yang sesuai dengan perencanaan

Persen 85 85 85 85 85

Meningkatnya hasil pembinaan pelaku usaha di bidang sarana perdagangan 1

Meningkatnya partisipasi Pelaku Usaha dalam perdagangan antar pulau yang melaporkan manifest domestik

1

Jumlah jenis barang yang dilaporkan oleh pelaku usaha (cargo owner) pada data manifest domestik

Jumlah

18 20 22 24 26

2

Jumlah pelaku gerai maritim yang difasilitasi pada program

penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang di darat, laut dan udara di daerah 3TP

Jumlah

225 235 245 255 265

Terjaganya stabilitas harga barang dan kebutuhan pokok 1 Koefisien variasi harga bapk hasil

pertanian antar waktu

Persen

3 3 2.9 2.9 2.9

NO INDIKATOR SASARAN KEGIATAN SATUAN TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 2 Koefisien variasi harga bapok

holtikultura antar waktu

Persen

24 24 23 23 23

3 Koefisien variasi harga bapok peternakan dan perikanan antar waktu

Persen

6 6 5.9 5.9 5.9

4 Koefisien variasi harga bapok industri antar waktu

Persen

5 5 4.9 4.9 4.9

5 Koefisien variasi harga barang penting antar waktu

Persen

3 3 3 2.9 2.9

Meningkatnya Kualitas Pelayanan Data dan Informasi harga barang kebutuhan pokok dan barang penting

1 Persentase kesesuaian data dan informasi harga barang kebutuhan pokok dan barang penting dengan kondisi riil lapangan

Persen 100 100 100 100 100

2 Persentase tingkat ketepatan waktu penyampaian data dan informasi harga barang kebutuhan pokok dan barang penting secara periodik

Persen 100 100 100 100 100

Meningkatnya Kapasitas dan Kewirausahaan Pelaku UMKM serta Penggunaan Produk Dalam Negeri

1 Jumlah Pelaku UMKM yang Mendapat Fasilitasi Peningkatan Kualitas Produk dan Kapasitas Usaha

UMKM 3000 3000 3000 3000 3000

2 Persentase Kenaikan Omzet Pelaku UMKM yang Memperoleh Fasilitasi

Dalam periode pembangunan 5 (lima) tahun mendatang, peran pemerintah bersama seluruh pemangku akan semakin penting. Seiring dengan maraknya revolusi industri 4.0 di berbagai bidang yang diiringi dengan stagnasi perekonomian global dan tren penurunan harga komoditas internasional, sejumlah tantangan yang dihadapi Kementerian Perdagangan pada umumnya dan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri pada khususnya, menjadi semakin luas. Menguatnya pasar produk dalam negeri, terwujudnya konsumen yang cerdas dan pelaku usaha yang bertanggung jawab, serta optimalisasi peran Pasar Berjangka Komoditi, Sistem Resi Gudang, dan Pasar Lelang Komoditas menjadi semakin penting dalam menghadapi

Dokumen terkait