Kinerja Makro Urusan Pendidikan Kota Semarang Tahun 2011-
TARGET NASIONAL REALISA SI
TAHUN NILAI I. Pelayanan Dokumen Kependudukan 1. Cakupan penerbitan Kartu Keluarga 2015 100% 100% 2. Cakupan penerbitan Kartu Tanda Penduduk (KTP) 2015 100% 89,28% 3. Cakupan penerbitan akta kelahiran 2020 90% 96,24% 4. Cakupan penerbitan Akta Kematian 2020 70% 17,09% II. Pemeliharaan Ketentraman & Ketertiban Masyarakat 5. Cakupan penegakan
peraturan daerah dan peraturan kepala daerah di Kabupaten/Kota
2015 100% 100%
6. Cakupan patroli siaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat 2014 3 x patroli dalam sehari 3 kali sehari
7. Cakupan rasio petugas perlindungan masyarakat (Linmas) di Kabupaten / Kota 2014 1 org setiap RT atau sebutan lainnya 80% III. Penanggulangan Bencana Kebakaran 8. Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran di Kabupaten/Kota 2015 80% 80,21%
9. Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate)
2015 75% 81,01%
10. Persentase Aparatur Pemadam Kebakaran yang memenuhi standar Kualifikasi
2015 85% 33,91%
11. Jumlah mobil pemadam kebakaran di atas 3000- 5000 liter pada WMK
2015 90% 100%
Dari hasil realisasi yang dicapai untuk Penerapan Indikator SPM di Kota Semarang sampai dengan tahun 2014 ini terlihat bahwa Pemerintah Kota Semarang telah melaksanakan Standar Pelayanan Minimal yang telah ditetapkan Pemerintah sebanyak 15 bidang antara lain: Bidang Kesehatan, Perumahan Rakyat, Lingkungan Hidup, Sosial, Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, Pendidikan Dasar, Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Ketenagakerjaan, Ketahanan Pangan, Komunikasi dan Informatika, Kesenian, Perhubungan, Penanaman Modal dan Pemerintahan Dalam Negeri.
Pelaksanaan penerapan dan pencapaian Standar Pelayanan Minimal di Kota Semarang sampai dengan Tahun 2014 terdapat beberapa indikator yang belum
memenuhi target Nasional namun akan diupayakan untuk pencapaian target tersebut sampai batas waktu yang telah ditetapkan pada masing-masing bidang.
Meskipun saat ini belum semua indikator Standar Pelayanan Minimal terintegrasi dalam dokumen perencanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategis (Renstra) namun diupayakan terintegrasi dalam Rencana Kerja (Renja) SKPD secara bertahap dengan penyusunan rencana aksi penerapan dan pencapaian Standar Pelayanan Minimal tersebut
Untuk mewujudkan pencapaian Standar Pelayanan Minimal sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat maka perlu dilakukan upaya sebagai berikut :
1. Untuk mencapai Standar Pelayanan Minimal sesuai target Nasional pada
batas waktu yang telah ditetapkan sesuai bidangnya masing-masing maka perlu adanya komitmen bersama stakeholders di lingkungan Pemerintah Kota Semarang dan dukungan dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
2. Meningkatkan pembinaan dan bimbingan teknis secara berkelanjutan
kepada aparatur Satuan Kerja Perangkat Daerah pelaksana Standar Pelayanan Minimal di lingkungan Pemerintah Kota Semarang terutama dalam penyusunan rencana aksi pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal maupun data dasar serta pelaporannya.
3. Perlu adanya sosialisasi dan pedoman / panduan bagi pelaksanaan Standar
Pelayanan Minimal dan pelaporannya yang sistematis dari Pemerintah Pusat sehingga Pemerintah Daerah tidak mengalami kesulitan dalam penerapan dan pelaporannya karena setiap Kementerian/Lembaga Teknis memiliki peraturan tersendiri
2.4. POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH
Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah, dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti perikanan, pertanian, pariwasata dan industry dan lain-lain dengan berpedoman pada rencana tata ruang wilayah.
a. Rencana Kawasan Perdagangan dan Jasa
Kawasan Perdagangan dan Jasa, merupakan kawasan yang dominasi pemanfaatan ruangnya untuk kegiatan komersial perdagangan dan jasa pelayanan. Pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa dilakukan dalam rangka mewujudkan Kota Semarang sebagai sentra perdagangan dan jasa dalam skala regional dan nasional.
Kawasan perdagangan dan jasa ditetapkan tersebar pada setiap Bagian wilayah Kota (BWK) terutama di pusat-pusat BWK sehingga dapat mengurangi kepadatan dan beban pelayanan di pusat kota. Arahan pemanfaatan ruang kawasan perdagangan dan jasa adalah sebagai berikut:
1. Pusat kawasan perdagangan dan jasa dengan lingkup pelayanan skala
regional, nasional maupun internasional, berada di kawasan Peterongan, Tawang dan Siliwangi;
2. Kawasan perdagangan dan jasa khusus, yaitu kawasan perdagangan dan
jasa dengan perlakuan dan komoditas khusus. Kawasan perdagangan dan jasa dengan perlakuan khusus adalah kawasan Pasar Johar. Kawasan pasar Johar merupakan pasar tradisional skala pelayanan regional yang terletak di pusat kota, selain itu Pasar Johar merupakan bagian dari ikon Kota
Semarang. Kawasan perdagangan dan jasa dengan komoditas khusus adalah Pasar Agro yang direncanakan di BWK V. Pasar agro ini digunakan untuk memasarkan produk-produk pertanian yang ada di Kota Semarang dan daerah-daerah yang ada di sekitarnya. Pasar agro ini dirancang untuk memiliki skala pelayanan regional, sehingga diperlukan dukungan jalan sekurang-kurang kolektor sekunder.
3. Kawasan perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan sebagian wilayah
kota sampai dengan kota tersebar pada setiap pusat BWK dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung ruang serta lingkup pelayanannya;
4. Kawasan perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan lingkungan dapat
berlokasi dimanapun sepanjang memiliki dukungan akses jalan sekurang- kurangnya jalan lokal sekunder.
5. Kawasan perdagangan dan jasa direncanakan secara terpadu dengan
kawasan sekitarnya dan harus memperhatikan kepentingan semua pelaku sektor perdagangan dan jasa termasuk pedagang informal atau pedagang sejenis lainnya;
6. Pada pembangunan fasilitas perdagangan berupa kawasan perdagangan
terpadu, pelaksana pembangunan/ pengembang wajib menyediakan prasarana lingkungan, utilitas umum, area untuk pedagang informal dan fasilitas sosial dengan dengan proporsi 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan luas lahan dan selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Daerah;
7. Pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa harus memperhatikan
kebutuhan luas lahan, jenis-jenis ruang dan fasilitas pelayanan publik yang harus tersedia, kemudahan pencapaian dan kelancaran sirkulasi lalu lintas dari dan menuju lokasi.
b. Rencana Kawasan Permukiman, Perdagangan dan Jasa
Potensi pergeseran peruntukan non komersial ke arah komersial ini harus diantisipasi dalam kebijakan penataan ruang wilayah Kota Semarang. Hal ini bertujuan untuk mengarahkan perkembangan yang ada agar konflik antar kegiatan kawasan, antar pelaku kegiatan, dan antar jenis kegiatan ekonomi tidak terjadi.
Arahan pemanfaatan ruang kawasan permukiman, perdagangan dan jasa adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan Fungsi Rencana Kawasan Permukiman, Perdagangan dan
Jasa dilakukan di kawasan pusat kota (Central Bussiness Distric/CBD)
Peterongan – Tawang – Siliwangi;
2. Pengembangan jenis kegatan ini di kawasan Peterongan – Tawang – Siliwangi
bertujuan untuk mendukung terwujudnya kawasan Peterongan – Tawang –
Siliwangi sebagai kawasan perdagangan dan jasa skala pelayanan regional/ nasional/ internasional;
3. Pengembangan kawasan permukiman, perdagangan dan jasa di kawasan
Peterongan – Tawang – Siliwangi tetap mempertahankan Kampung Heritage
sebagai kawasan permukiman dan pariwisata;
4. Pengembangan kegiatan permukiman di kawasan ini dilakukan secara
vertikal dengan pola rumah susun/ apartemen/ kondominium.
c. Rencana Kawasan Pendidikan
Dalam hal pendidikan, Kota Semarang diharapkan dapat berperan sebagai pusat pendidikan khususnya pendidikan tinggi di wilayah Jawa Tengah. Mempertimbangkan hal tersebut, maka rencana pengembangan kawasan pendidikan tinggi di Kota Semarang dilakukan sebagai berikut :
1. Mengarahkan pengembangan pendidikan tinggi/akademi dengan skala regional nasional yang berada di kawasan Tembalang, Pedurungan, Sekaran, dan Mijen. Pengembangan fasilitas pendidikan tinggi skala pelayanan regional/ nasional perlu didukung dengan penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung yang memadai.
2. Kawasan Pendidikan Bendan perlu ada pembatasan pengembangan karena
kondisi fisiknya yang rawan bencana alam dan kegiatan pendidikannya yang kurang berkembang. Kawasan ini akan dialihkan sebagai kawasan jasa pelayanan untuk penginapan, rapat, pertemuan, seminar, dan sebagainya.
3. Pembangunan fasilitas pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di pusat
kota diarahkan pada lokasi atau kawasan atau ruas jalan yang memadai serta tidak menimbulkan gangguan pada lingkungan.
4. Pembangunan fasilitas pendidikan ditepi ruas jalan utama harus
mempertimbangkan kelancaran pergerakan pada ruas jalan tersebut.
5. Untuk pendidikan dasar dan menengah diarahkan sebagai fasilitas
pelayanan lokal, jadi fasilitas ini akan dikembangkan disetiap BWK sebagai bagian dari fasilitas lingkungan dan bagian wilayah kota.
d. Rencana Kawasan Pemerintahan dan Perkantoran
Kawasan Pemerintahan, merupakan kawasan yang dominasi pemanfaatan ruangnya untuk penyelenggaraan kegiatan Pemerintahan, baik Pemerintah Pusat, regional Provinsi, maupun Pemerintah kota. Rencana kawasan pemerintahan dan perkantoran dalam RTRW Kota Semarang ini adalah :
1. Kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi
Kawasan perkantoran utama Pemerintah Provinsi direncanakan berada di Jalan Pahlawan dan Jalan Madukoro. Lokasi pengembangan kantor
Pemerintah Provinsi dapat dilakukan dilokasi lain dengan tetap
mempertimbangkan kemudahan jangkauan pelayanan bagi pengguna dan masyarakat Provinsi Jawa Tengah.
2. Kawasan perkantoran Pemerintah Kota Semarang
Kawasan Pemerintah Kota Semarang direncanakan di Jalan Pemuda dan Jalan Soekarno-Hatta (di dekat kawasan kawasan Masjid Agung Jawa Tengah). Kawasan perkantoran yang ada di Jalan Pemuda direncanakan untuk Kantor Walikota dan DPRD Kota Semarang, kawasan ini sekaligus berfungsi sebagai balaikota. Sedangkan kawasan perkantoran Pemerintah Kota Semarang yang ada di Jalan Soekarno-Hatta diperuntukkan untuk pelayanan pemerintahan.
3. Kawasan Perkantoran Swasta
Kawasan perkantoran menengah dan besar diarahkan pada kawasan perdagangan dan jasa, sedangkan kawasan perkantoran kecil lokasinya dapat di kawasan permukiman dengan memperhatikan akses pelayanan.
e. Rencana Kawasan Industri
Kawasan Industri, merupakan kawasan yang dominasi pemanfaatan ruangnya untuk kegiatan-kegiatan di bidang industri seperti pabrik dan pergudangan. Dalam RTRW Kota Semarang 2010-2030 pengembangan kawasan industri lebih dibatasi, hal ini sesuai dengan visi Kota Semarang yang akan lebih mengedepankan pengembangan sektor tersier (perdagangan dan jasa) sebagai penopang utama perekonomian kota. Kawasan industri direncanakan di BWK III (Kawasan industri dan pergudangan Tanjung Emas), BWK IV (Genuk), BWK X (Kawasan Industri Tugu dan Mijen). Kegiatan industri diprioritaskan untuk pengembangan industri modern dengan kadar polusi rendah.
Rencana sebaran industri Kota Semarang adalah sebagai berikut:
2. Kawasan Industri Tugu
3. Kawasan Industri Candi
4. Kawasan industri dan Pergudangan Tanjung Emas
5. Kawasan Industri Mijen
6. Kawasan Industri Pedurungan
f. Rencana Kawasan Olah Raga
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan lapangan olahraga, maka selain lapangan olahraga yang resmi dan dikelola oleh Pemerintah, diperlukan areal terbuka, yang dapat difungsikan sebagai lapangan olah raga yang ada di lingkungan masyarakat. Lapangan olah raga yang ada di Kota Semarang antara lain stadion olahraga GOR Jatidiri di Kecamatan Gajahmungkur yang berskala regional/nasional, stadion yang berskala kota Stadion Citarum dan Stadion Diponegoro. Sedangkan GOR Trilomba Juang telah dilakukan rehabilitasi mulai tahun 2013 dan dilanjutkan ke tahap 2 pada tahun 2014.
g. Rencana Kawasan Wisata / Rekreasi
Kawasan Wisata, merupakan kawasan yang dominasi pemanfaatan ruangnya untuk kegiatan wisata dan rekreasi. Sesuai dengan potensi yang dimiliki, fasilitas rekreasi Kota Semarang direncanakan meliputi:
2. Wisata bahari/pantai ditetapkan pada BWK III (Kawasan Marina) dan
BWK X (direncanakan di kawasan pantai di Kecamatan Tugu) dimana pembangunannya harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan ekosistem di wilayah pantai/pesisir;
3. Wisata satwa berada pada di BWK X, yaitu di Kawasan Kebun Binatang
yang ditekankan pada upaya pelestarian satwa dan lingkungan alam di dalamnya;
4. Wisata pertanian (agrowisata) berada pada BWK VI (Kecamatan
tembalang), BWK VIII (Kecamatan Gunungpati), dan BWK IX (Kecamatan Mijen) juga berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan pertanian perkotaan dan budidaya pertanian.
5. Lokasi yang ditetapkan dan rencana pengembangan kawasan wisata
Religi dan Religi:
BWK III : Kawasan Gereja Blenduk dan Kuil Sam Po Kong
BWK V : Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah
BWK VII : Kawasan Vihara Watugong
6. Wisata alam dan cagar budaya
BWK I : Kampung Pecinan dan Kampung Melayu
BWK III : Museum Ronggowarsito, kawasan Maerokoco, kawasan Kota
Lama Semarang
BWK VII : Kawasan Hutan Wisata Tinjomoyo
BWK VIII : Gua Kreo, Waduk Jatibarang, Lembah Sungai Garang.
BWK X : Taman lele
7. Wisata belanja dikembangkan di Kawasan Johar, Simpang Lima dan
koridor Jalan Pandanaran.
8. Wisata Mainan Anak berada di Kecamatan Candisari , WaterPark (BWK
IX dan BWK III)
Pengembangan kawasan wisata ini direncanakan untuk dapat mendukung fungsi kota Semarang sebagai Kawasan Perkotaan dengan skala regional/ nasional/ internasional.
h. Rencana Kawasan Perumahan dan Permukiman
Kawasan Perumahan dan permukiman, adalah kawasan yang
pemanfaatannya untuk perumahan dan permukiman, serta berfungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan
sarana lingkungan. Kawasan ini terdiri dari kawasan perumahan yang dibangun oleh penduduk sendiri dibangun oleh perusahaan pembangunan perumahan dan dibangun oleh pemerintah.
i. Rencana Kawasan Pemakaman Umum
Pembangunan Tempat Pemakaman Umum dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan memenuhi kebutuhan tempat pemakaman umum di KotaSemarang. Kawasan Tempat Pemakaman Umum dapat menjadi bagian dari Ruang Terbuka Hijau yang pelaksanaan pembangunannya dilakukan sebagai berikut :
2. Pembangunan Tempat Pemakaman Umum dilakukan dengan pengembangan
makam-makam yang telah ada maupun pembangunan makam baru, dan didukung dengan penyediaan prasarana dan sarana permakaman;
3. Pembangunan Tempat Pemakaman Umum skala kota berada di Bergota yang
termasuk di BWK I dan Pemakaman di Kecamatan Gayamsari yang termasuk di BWK V;
4. Pada skala lingkungan pembangunan tempat pemakaman umum dilakukan
dengan pembangunan makam baru pada lahan fasilitas umum atau dengan optimalisasi dan pengembangan lahan makam yang telah ada sesuai dengan kapasitas, kebutuhan, dan lingkup pelayanannya;
5. Untuk mendukung penyediaan tempat pemakaman umum setiap perusahaan
pembangunan perumahan yang melaksanakan pembangunan perumahan, diwajibkan menyediakan lahan pemakaman umum seluas 2% (dua persen) dari keseluruhan luas lahan;
6. Penyediaan tempat pemakaman umum dapat dilakukan dengan penyediaan
lahan pemakaman di sekitar lokasi pembangunan atau berpartisipasi dengan menyerahkan uang yang akan digunakan untuk pengembangan makam Kepada Pemerintah Kota Semarang senilai harga tanah seluas 2% (dua persen) dari keseluruhan luas lahan.
j. Rencana Kawasan Khusus
Kawasan Khusus, merupakan kawasan dengan kondisi dan karakteristik yang bersifat khusus karena jenis kegiatan yang diwadahi memiliki kondisi dan perlakuan tertentu. Dalam Kebijakan penataan ruang Kota Semarang, kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan khusus adalah kawasan militer dan kawasan pelabuhan.
Kawasan militer berada di BWK III (Kawasan Bandara Militer A Yani) dan BWK VII (Kawasan Kodam). Kawasan Pelabuhan berada di wilayah BWK III yaitu di Kawasan Pelabuhan Laut Tanjung Emas. Pelaksanaan pembangunan di kawasan khusus harus tetap memperhatikan keterpaduan dengan lingkungan sekitarnya.
k. Rencana Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH)
Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) adalah adalah ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori Ruang Terbuka Hijau (RTH), berupa lahan yang diperkeras atau yang berupa badan air, maupun kondisi permukaan tertentu yang tidak dapat ditumbuhi tanaman atau berpori.
2.5. PERMASALAHAN PEMBANGUNAN DAERAH
Permasalahan pembangunan daerah merupakan “gap expectation” antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat perencanaan sedang dibuat. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal dan kelemahan
yang tidak diatasi. Faktor-faktor yang menjadi peluang maupun yang menjadi faktor penghambat perlu ditelaah dan dianalisis lebih dalam.
Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/ kegagalan kinerja pembangunan daerah dimasa lalu, khususnya yang berhubungan dengan kemampuan manajemen pemerintahan dalam memberdayakan kewenangan yang dimilikinya.
Selain itu tahun 2015 adalah periode tahun terakhir dari tahapan Perencanaan Pembangunan Daerah Jangka Menengah RPJMD Kota Semarang 2010-2015. Untuk itulah sebagai tahun transisi, dokumen RKPD Tahun 2015 ini harus mampu menyelesaikan tujuan akhir dari perencanaan RPJMD 2010-2015 sekaligus mempersiapkan jawaban dari tantangan yang akan datang dalam
RPJMD periode depan yakni periode tahun 2015-2020. Perencanaan
pembangunan tahun 2016 yang diwujudkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Semarang tahun 2016 disusun dengan mendasarkan pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang tahun 2005-2025
Evaluasi meliputi seluruh program dan kegiatan yang dikelompokkan menurut kategori urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah, menyangkut realisasi capaian target kinerja keluaran kegiatan dan realisasi target capaian kinerja program tahun lalu terhadap RPJMD, selanjutnya telaahan hasil evaluasi mencakup
2.5.1 Permasalahan Daerah yang Berhubungan dengan Prioritas dan Sasaran
Pembangunan Daerah.
Permasalahan pembangunan Kota Semarang yang akan dihadapi di Tahun 2016 yang berhubungan dengan sasaran pembangunan daerah sebagaimana Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang serta prioritas lain dari kebijakan nasional/provinsi yang bersifat mandatory adalah sebagai berikut:
Tabel 2.104
Permasalahan Pembangunan Daerah Tahun 2016 No Tujuan /Sasaran Pembangunan
(RPJMD) Kota Semarang Permasalahan Tahun 2016
1. Mengembangkan pemerataan akses dan mutu pendidikan dasar 9 tahun dan rintisan wajar 12 tahun didukung oleh sarana/prasarana yang memadai
dan tenaga pendidikan yang
profesional serta peningkatan tata kelola pendidikan yang berskala standar nasional
1. Kualitas sarana dan prasarana sekolah masih belum merata, kondisi fisik ruang kelas untuk kegiatan belajar terutama Sekolah-Sekolah di wilayah pengembangan masih ada yang perlu untuk diperhatikan
2. Kualifikasi Pendidik PAUD Non Formal yang terlatih masih belum mencapai target, karena yang belum terpadu.
3. Masih adanya kesenjangan mutu dan
pelayanan pendidikan diantara sekolah-
sekolah.
4. Relevansi Pendidikan belum mengarah pada kebutuhan pasar kerja
2. Pengembangan pemerataan
jangkauan dan mutu pelayanan
kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan perseorangan /rujukan
1. Masih terdapat Jumlah penderita DBD 2.364 kasus naik 89,12% dari tahun lalu (1.250 kasus); Jml penderita baru TB BTA (+) 1.120
No Tujuan /Sasaran Pembangunan
(RPJMD) Kota Semarang Permasalahan Tahun 2016
dengan rintisan pengembangan pelayanan berskala rumah sakit, pengembangan profesionalisme dan kompetensi tenaga kesehatan yang didukung dengan pesebaran sarana dan prasarana dan terwujudnya
jaminan pemeliharaan kesehatan
masyarakat.
jiwa turun 0,7% dari tahun lalu. 2. Masih tingginya AKI 29 kasus.
3. Persiapan Puskesmas terhadap Program
Jaminan Kesehatan Nasional.
4. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin yang cukup tinggi.
5. Masih belum optimalnya SDM Kesehatan serta distribusi yang tidak merata di daerah.
6. Akses pelayanan kesehatan khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu sebagian tidak mengenai sasaran yang tepat
3. Pengembangan sistem pengendalian
laju pertumbuhan dan
persebarannya, fasilitasi Keluarga Berencana dan sistem administrasi kependudukan yang terintegrasi.
1. Masih tingginya urbanisasi sebagai dampak Kota semarang merupakan pusat perdagangan, pendidikan, jasa, pemerintah merupakan daya tarik penduduk
2. Diperlukan peningkatan pelayanan
administrasi kependudukan dan capil untuk menunjang pelayanan publik yang cepat dan efisien.
3. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam ber KB yang baru mencapai Cakupan Peserta KB Aktif 76,46% th 2013.
4. Fasilitasi pengembangan kesempatan kerja/ berusaha, kesejahteraan dan perlindungan tenaga kerja, serta kualitas tenaga kerja yang mampu bersaing di era global
1. Meski Tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 5,4% (BPS) atau 8,89% (data skunder) namun dirasa masih cukup tinggi.
2. Masih belum optimalnya Kualitas SDM tenaga kerja yang secara tidak langsung berpengaruh pada daya saing tenaga kerja
3. Masih tingginya angka kecelakaan kerja dan jumlah perselisihan hubungan industrial PHI/PHK/Unjukrasa yang ada dengan jumlah perselisihan pekerja-pengusaha mencapai 211 kasus di th 2013.
5. Pengembangan peran pemuda dan
organisasi kepemudaan dalam
mendukung sikap dan perilaku, kepeloporan, kemandirian, inovasi, dan kreativititas serta wawasan kebangsaan dan cinta tanah air guna
meningkatkan partisipasi dalam
pembangunan
1. Peran serta pemuda dalam pembangunan fisik dan non fisik dirasa masih belum optimal;
2. Menurunnya sikap pemuda dalam mendukung
sikap dan perilaku, kepeloporan, kemandirian, inovasi, dan kreativititas, wawasan kebangsaan 3. Terbatasnya akses pemuda dalam kepeloporan
6. Pengembangan pembudayaan
olahraga masyarakat dan fasilitasi olahraga prestasi unggulan yang didukung sarana prasarana olahraga yang memadahi
1. Belum optimalnya prestasi olah raga dan budaya olahraga, dan sarana dan prasarana
olahraga yang masih terbatas/ tidak
No Tujuan /Sasaran Pembangunan
(RPJMD) Kota Semarang Permasalahan Tahun 2016
7. Pengembangan pelayanan dan
aksesbilitas perpustakaan berbasis teknologi informasi, optimalisasi minat baca masyarakat dan rintisan Perpustakaan berbasis IT
1. Meski secara data jumlah perpustakaan/ rumah pintar meningkat menjadi 170unit, namun budaya baca masyarakat harus terus didukung melalui Gerakan Gemar Membaca (GGM) ataupun melalui akses yang lebih mudah dan merata (web/internet).
8. Pengembangan dan pelestarian seni dan budaya tradisional, bangunan bersejarah serta benda cagar budaya dalam rangka memperkuat identitas dan jati diri masyarakat
1. Masih belum tingginya minat generasi muda terhadap seni dan budaya tradisional sehingga sulit untuk menghasilkan generasi penerus khususnya terhadap seni tradisi dan budaya lokal;
2. Belum optimalnya kepedulian masyarakat terhadap seni dan budaya;
3. Kurang lengkapnya fasilitas dan kualitas sarana dan prasarana di obyek wisata
9. Peningkatan pemahaman,
penghayatan, dan pengamalan ajaran
agama/kepercayaan melalui
pemeliharaan kerukunan hubungan antar dan inter umat beragama serta
fasilitasi sarana prasarana
peribadatan,
1. Menurunnya sikap dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan norma /etika agama; 2. Pendidikan agama untuk anak-anak akan
semakin diperlukan dan menjadi kebutuhan di masyarakat.
10. Pengembangan pemahaman politik untuk mewujudkan budaya politik
demokratis yang santun dan
partisipasi politik yang didukung oleh infra dan supra struktur politik yang sehat
1. Masih rendahnya tingkat kesadaran
masyarakat dalam demokrasi politik;
11. Pengembangan kualitas
penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien sesuai dengan prinsip-prinsip good governance yang didukung penerapan e-government menuju e-city,
1. Belum optimalnya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan pengawasan
serta pengendalian penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan;
2. Masih terbatasnya kemampuan masyarakat dalam penggunaan teknologi tepat guna
12. Pengembangan sumber-sumber
pendapatan daerah yang potensial dan kreatif dengan tidak membebani rakyat
1. Meskipun mengalami kenaikan secara jumlah (rupiah) maupun prosentasenya terhadap APBD, potensi pendapatan asli daerah masih dapat ditingkatkan lagi melalui optimalisasi sumber-sumber pendapatan yang sudah ada atau melalui ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan yang lain;
2. Diperlukan SDM yang memadai untuk
mendukung pelaksanaan pengelolalan PBB dan BPHTB
13. Pengembangan budaya kerja
aparatur yang profesional, bersih, beretika, dan berwibawa serta anti