• Tidak ada hasil yang ditemukan

(%) Target Renstra

Dalam dokumen Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015 (Halaman 168-171)

Target Renstra 2015 : 30%

KEMENTERIAN KESEHATAN RI|BAB V KESEHATAN KELUARGA 139

struktur organisasi yang berbeda sehingga menjadi penyebab koordinasi pencatatan dan pelaporan tidak berjalan dengan baik. Selain itu terjadi perubahan definisi operasional indikator penjaringan kesehatan peserta didik oleh sekolah pada Renstra 2014 menjadi penjaringan kesehatan peserta didik oleh Puskesmas pada Renstra 2015.

Data dan informasi tentang cakupan Puskesmas yang melakukan penjaringan peserta didik kelas VII dan X menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.23.

5. Pelayanan Kesehatan pada Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA)

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Semua anak mempunyai hak untuk mendapatkan

perlindungan. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang

dan berpartisipasi, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Organisasi Kesehatan Dunia/WHO mendefinisikan kekerasan terhadap anak sebagai semua bentuk tindakan/perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi, komersial atau lainnya yang mengakibatkan

cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks

hubungan tanggung jawab.

Menurut KOMNAS Perlindungan Anak (2006), pemicu kekerasan terhadap anak di antaranya

yaitu 1) Kekerasan dalam rumah tangga, yaitu dalam keluarga terjadi kekerasan yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya. Anak seringkali menjadi

sasaran kemarahan orang tua, 2) Disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan

sebagaimana seharusnya. Adanya disfungsi peran ayah sebagai pemimpin keluarga dan peran ibu sebagai sosok yang membimbing dan menyayangi, 3) Faktor ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. 4) Pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga. Orang tua menganggap bahwa anak adalah seseorang yang tidak tahu apa-apa. Dengan demikian pola asuh apapun berhak dilakukan oleh orang tua. Di samping itu, kekerasan pada anak terinspirasi dari tayangan-tayangan televisi maupun media-media lainnya yang tersebar di lingkungan masyarakat.

Dalam bidang kesehatan, pemerintah melakukan intervensi dalam bentuk penyediaan akses pelayanan kesehatan bagi korban kekerasan pada anak yang terdiri dari pelayanan di tingkat dasar melalui puskesmas. Pendekatan pelayanan kesehatan KtA di puskesmas dilakukan melalui tiga aspek yaitu meliputi aspek medis (pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang), mediko legal (visum et repertum) dan psikososial (rumah aman). Penatalaksanaan kasus merupakan multidisiplin dengan melibatkan lembaga pelayanan kesehatan, lembaga perlindungan anak, lembaga bantuan hukum, aparat penegak hukum dan lembaga sosial lainnya, yang terbentuk dalam mekanismes kerja jejaring.

Pelayanan kesehatan lebih difokuskan pada upaya promotif dan preventif seperti penyuluhan mengenai dampak KtA terhadap tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikologis di sekolah melalui program UKS dan di tingkat masyarakat memberikan penyuluhan kepada

140 BAB V KESEHATAN KELUARGA |KEMENTERIAN KESEHATAN RI

ibu-ibu PKK dan lain-lain. Selain itu, Puskesmas juga memberikan pelayanan kuratif yaitu penanganan darurat medis, pelayanan rehabilitatif dengan memberikan konseling. pelayanan rujukan mediko legal dan psikososial.

Program KtA diarahkan untuk menyediakan akses pelayanan kesehatan secara

komprehensif di pelayanan tingkat dasar dan rujukan. Target Puskesmas mampu tata laksana KtA adalah setiap kabupaten/kota memiliki minimal dua Puskesmas mampu

tata laksana KtA. Kriterianya adalah memiliki tenaga terlatih tata laksana kasus KtA (dokter atau dokter gigi dan perawat atau bidan) dan melakukan pelayanan rujukan kasus

KtA.

Upaya peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan melalui penyiapan fasilitator pusat dan daerah serta tenaga pemberi pelayanan di Puskesmas yang dilakukan dengan menyelenggarakan pelatihan (training of trainer) secara berjenjang dalam rangka menyediakan Puskesmas mampu tata laksana KtA dengan menggunakan dana APBN maupun dekonsentrasi. Selain itu, pada tahun 2012–2013 telah dilaksanakan penguatan

pelayanan rujukan di rumah sakit. Jumlah Puskesmas mampu tata laksana KtA pada tahun 2014 sebanyak 1.694 Puskesmas. Persentase kabupaten/kota dengan minimal

dua Puskesmas mampu tata laksana KtA yaitu 78,07%, meningkat dibanding tahun 2013 yang sebesar 76,26%. Saat ini, sudah tersedia 71 RS Umum/RS Bhayangkara di 28 provinsi yang memiliki PPT/PKT (menjadi Pusat Pelayanan Terpadu untuk korban KtA) dan 39 RS di 33 provinsi yang melakukan pelayanan KtA di IGD oleh tenaga kesehatan terlatih.

Pada tahun 2014 target program perlindungan kesehatan anak yaitu Puskesmas mampu tata laksana KtA dengan indikator tiap kabupaten/kota memiliki minimal dua Puskesmas yang mampu tata laksana kasus KtA sebesar 90% belum tercapai. Hal itu disebabkan karena program tersebut bukan merupakan program prioritas. Akibatnya dukungan dan komitmen pemerintah daerah terhadap program KtA dirasakan kurang. Hal itu dapat dilihat dari dukungan anggaran yang belum memadai dan sebagian besar tenaga kesehatan yang telah dilatih penanganan KtA dimutasi khususnya dokter.

Pada Pasal 108 KUHAP ayat (3) dinyatakan bahwa setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang mengetahui tentang terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib segera melaporkan hal itu kepada penyelidik atau penyidik. Untuk itu, telah dibuat Permenkes Nomor 68 Tahun 2013 tentang Kewajiban Pemberi Layanan Kesehatan untuk memberikan informasi atas adanya dugaan kekerasan terhadap anak. Diharapkan dengan Permenkes ini, tenaga kesehatan dapat bekerja lebih profesional.

KEMENTERIAN KESEHATAN RI|BAB V KESEHATAN KELUARGA 141

GAMBAR 5.29

PERSENTASE KABUPATEN/KOTA

DENGAN MINIMAL 4 PUSKESMAS MAMPU TATA LAKSANA KTA MENURUT PROVINSI TAHUN 2015

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016

Pada tahun 2014 indikator ini hanya menghitung persentase kabupaten/kota dengan dua Puskesmas yang mampu melaksanakan tata laksana KtA, maka pada tahun 2015 terjadi perubahan jumlah Puskesmas. Jumlah Puskesmas mampu melaksanakan tata laksana KtA bertambah dari 2 menjadi 4 Puskesmas, karena itu cakupan provinsi menjadi rendah. Atau dengan kata lain kriteria kabupaten bertambah jumlah Puskesmasnya, namun tidak didukung dengan anggaran yang ada sehingga cakupan program tidak dapat berjalan dengan baik.

Pada Gambar 5.29 dapat diketahui bahwa pada tahun 2015 terdapat 36,19% kabupaten/kota di Indonesia yang telah memiliki empat puskesmas mampu tata

laksana KtA. Pada tahun 2015 terdapat empat provinsi dengan persentase 100%. Jumlah tersebut menurun jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2014 dimana

terdapat empat belas provinsi dengan persentase 100%. Provinsi dengan persentase 100%

artinya seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut telah memiliki sedikitnya empat puskesmas mampu tata laksana KtA.

5,88 7,14 8,33 9,09 16,67 18,18 20,00 22,22 23,68 27,27 28,57 30,00 30,77 36,19 40,00 40,74 40,91 42,86 47,06 50,00 53,33 57,14 66,67 70,00 71,43 77,27 81,82 100,00 100,00 100,00 100,00 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 Sumatera Selatan Kalimantan Tengah Riau Jambi Sulawesi Selatan Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Sumatera Barat Jawa Timur Maluku Kep. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Indonesia Kalimantan Utara Jawa Barat Aceh Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Banten Sulawesi Utara Jawa Tengah Sulawesi Barat Bengkulu Provinsi Kepulauan Riau Nusa Tenggara Timur Papua Barat Lampung DKI Jakarta DI Yogyakarta Bali (%)

Dalam dokumen Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015 (Halaman 168-171)