BAB III METODE PENELITIAN
4.3 Tata Cara Pelaksanaan Upacara Adat Upah-Upah
4.3.2 Tata Cara Pelaksanaan Upacara Adat Upah-Upah Sembuh Sakit
1. Para perempuan akan membakar kemenyan yang sudah disiapkan. Kemenyan diletakkan di atas wadah dasa (tempurung kelapa yang sudah dikikis hingga licin dan menghitam), atau di atas piring alumunium sebagai tempat bara.
Saat aromanya menyebar, kemenyan kemudian diserahkan kepada tuan rumah secara estafet, pertanda upah-upah siap dilaksanakan. Kemudian pengatur upacara menyerahkannya kepada pengupah--upah selanjutnya diserahkannya kemenyan kepada orang yang duduk di sebelahnya, begitu seterusnya hingga seluruh orang diruangan mendapat kemenyan, kegiatan ini diulang sebanyak tujuh kali putaran dan akan berakhir di hadapan pengupah-upah. Upacara ini diadakan sebagai upaya pembersihan tempat upacara dari hasrat-hasrat jahat yang mengganggu manusia dan prosesi upacara.
2. Pengupah-upah akan menabur beras kuning kepada orang yang diupah-upah setelah sebelumnya berdo'a kepada Allah swt. agar diberi kemudahan saat acara berlangsung.Tahap selanjutnya adalah mengupah-upah. Pengupah-upah akan melakukan prosesi dengan menaburkan nasi upah-upah keatas kepala orang yang diupah-upah, sambil bergerak memutar kearah kanan tujuh kali putaran . Menghitungnya dalam bahasa Pesisir diucapkan dengan jelas:
“since” (satu), “duo” (dua), “tigo” (tiga), “ampek” (empat), “limo” (lima),
“anam” (enam), “tujuh”, dengan fonem yang tenang.
3. Pengupah-upah memberikan pesan dan nasehat kepada orang yang diupah-upah sebagai penguat dirinya atas keterbebasan dari hal-hal yang mengikatnya.
4. Pengupah-upah kembali menghitung satu sampai tujuh dan disusul oleh kalimat “salangkan kerbau tujuh sekandang, masih dapat dikendalikan, apalagi semangat kalian”. Rentetan terakhir pengupah-upah akan mengembalikan ketempat semula kemenya yang telah digunakan. Usai upah-upah, para tamu akan memakan jamuan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Upacara upah-upah ditutup dengan do'a setelah semua tamu menikmati jamuan yang ada.
Gambar 14. Proses penyampaian doa upah-upah pada orang sakit
Gambar 15. Proses penyampaian doa upah-upah pada orang sakit
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Upacara adat upah-upah pada masyarakat Pesisir Sibolga ini bertujuan untuk mengembalikan semangat ke badan sekaligus mengandung ungkapan-ungkapan yang bermakna doa, harapan dan nasihat terhadap orang atau sekelompok orang yang di upah-upah. Aktivitas saling membantu dan bergotong royong merupakan nilai kemanusian yang terkandung dalam budaya Upah-Upah yaitu nilai solidaritas karena saling menghargai dan merasakan kepuasan ketika saling membantu dalam mempersiapkan acara Upah-Upah. Kebudayaan.di masa lampau dapat merumuskan hubungan sebab akibat mengapa suatu peristiwa dapat terjadi dalam kehidupan tersebut, seperti halnya nilai budaya upacara adat upah-upah pada masyarakat pesisir sibolga.
2. Bentuk kegiatan upah-upah merupakan bentuk kegiatan baku, tak berubah dari masa ke masa, karena itu ia digolongkan pada kegiatan tradisi. Begitu juga dengan perlengkapan yang digunakan pada acara upah-upah tondi terdiri dari persembahan yang di sajikan untuk roh tondi antara lain telur ayam , ikan mas, maupun ikan ihan yang digunakan tergantung tingkat penyakit dan upacara yang hendak diupah- upah tondi masing- masing objek tersebut mengandung makna tersendiri.
3. Pelaksanaan upacara adat upah memiliki banyak jenis, namun upah-upah memasuki hidup baru (diberikan kepada pasangan pernikahan) dilaksanakan untuk membangun rasa syukur, mempertahankan nilai-nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Hampir setiap orang tua di Pesisir selalu berniat, dan bernazar untuk melaksanakan upacara adat upah-upah ini sejak sang anak masih kecil dan adat ini selalu wajib dilaksanakan pada acara pernikahan di masyarakat pesisir sibolga. Jadi, dapat disimpulkan bahwa upacara adat upah-upah pada masyarakat pesisir sibolga masih dijalankan dengan baik dan upacara adat upah upah ini tentu memiliki makna baik makna tersirat maupun tersurat.
4. Hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat empat jenis Upah-Upah yaitu Upah-Upah Hajat Tercapai, Upah-Upah Sembuh Sakit, Upah-Upah Selamat, dan Upah-Upah Khusus.
5. Segala sesuatu yang terdapat dalam Upah-upah ini yang perlu dilestarikan karena upah-upah termasuk budaya nenek moyang dan perlu untuk dipertahankan keberadaannya karena merupakan salah satu khasanah budaya bangsa.
5.2 Saran
1. Nilai- nilai yang terkandung dalam upacara adat upah-upah pada masyarakat pesisir sibolga sebaiknya harus tetap dilestarikan dan dijaga agar dapat diwarisan kepada generasi- generasi penerus. dan akan lebih baik upacara adat upah-upah ini dijadikan sebuah dokumen salah satunya buku agar dapat menjadi referensi untuk pelestarian budaya suku pesisir sibolga. Semua kalangan sukuyang ada di pesisir sibolga harus bekerja keras dan bekerja sama untuk kembali dan merevitalisasi nilai-nilai tradisi upah- upah sebab tradisi ini merupakan suatu identitas budaya yang dapat membedakan dengan suku lainnya.
2. Tradisi Upah-Upah merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Indonesia yang harus dilestarikan akan lebih baik diperlukannya perhatian pemerintah dalam menjaga tradisi Upah-Upah ini. Karena masyarakat pesisir sibolga masih mempercayai Tradisi ini.
3. Hal yang demikianlah sebaiknya kita lestarikan dan dijaga.Sebaiknya kita melestarikan setiap kebudayaan, tradisi, maupun adat, khususnya adat upah-upah yang menjadi adat asli masyarakat pesisir sibolga. Kita harus mempelajari untuk memahami nasehat dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Mulai dari anak-anak sampai orang tua harus tahu tentang upah-upah ini, agar upah-upah-upah-upah ini tidak dilupakan. Adat upah-upah-upah-upah ini hendaknya di ajarkan kepada anak-anak dengan cara di beri pengetahuan tentang adat ini agar adat ini diketahui oleh masyarakat pesisir sejak dini.
DAFTAR PUSTAKA
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasution. 2016. Makna simbolik tradisi upah-upah tondi batak mandailing di kota pekan baru. Universitas Riau.
Pranata. 2018. Nilai-nilai budaya batak dalam novel perempuan bernama Arjuna karya remy sylado. (STKIP) PGRI Sumatera Barat.
Sunarti. 2008. Nilai-nilai budaya dalam novel tiba-tiba malam karya putu wijaya:
tinjauan semiotika. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Brunvand,1982. Folklore, Yogyakarta: Medpress
Syahdi. 2013. Nilai budaya legenda tengku raden dimasyarakat melayu kualuh-leidong di desa kuala beringin kabupaten labuhan batu utara. Universitas Sumatera Utara.
Lampiran 1. Daftar Informan Penelitian
1. Informan 1
Nama : Nurmila Tarigan
Tempat, tanggal lahir : 3 Oktober 1990 Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Sipange
Tempat, tanggal wawancara: Rumah informan, 05 Oktober 2020
2. Informan 2
Nama : Fitri Yanti Apriani Manalu Tempat, tanggal lahir : 4 April 1995 Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jln Dangol Lumban Tobing Pesantren Pandan Tempat, tanggal wawancara: Rumah informan, 03 Oktober 2020
3. Informan 3
Nama : Rostianna Panggabean
Tempat, tanggal lahir : 5 Oktober 1980 Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jln. Faisal Tanjung, Aektolang
Tempat, tanggal wawancara: Rumah informan, 07 Oktober 2020
3. Informan 3
Nama : Megawati Hutagalung
Tempat, tanggal lahir : 31 Januari 1980 Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jln.Maraden Panggabean, Aektolang
Tempat, tanggal wawancara: Rumah informan, 08 Oktober 2020
4. Informan 4
Nama : Vinda Panggabean
Tempat, tanggal lahir : 11 November 1986 Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Usaha Butik Pakaian
Alamat : Dolok Sanggul, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Tempat, tanggal wawancara: Rumah informan, 13 November 2020