• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

H. Instrumen Penelitian

I. Tata Cara Penelitian

Observasi awal yang dilakukan adalah pencarian informasi mengenai jumlah pria lansia yang masih aktif di Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta. Jumlah pria lansia yang masih aktif adalah pria lansia yang tergabung dalam komunitas atau organisasi lansia yang ada di Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta. Hasil dari observasi awal adalah keputusan memilih Kelurahan Baciro sebagai lokasi penelitian dan pria lansia yang tergabung dalam komunitas lansia Kelurahan Baciro sebagai subyek penelitian. Peneliti memilih Kelurahan

Baciro sebagai lokasi penelitian karena, Kelurahan Baciro terdiri dari 22 RW dan masing–masing RW memiliki perkumpulan lansia yang terorganisir dengan baik yaitu memiliki struktur kepengurusan yang jelas.

2. Permohonan ijin dan kerjasama

Permohonan izin pertama diajukan kepada Walikota Daerah Istimewa Yogyakarta untuk untuk memperoleh izin melaksanakan penelitian di Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta. Surat izin penelitian dari Walikota Daerah Istimewa Yogyakarta ini dapat ditujukan kepada instansi pemerintah tertentu untuk keperluan penelitian (dinas kesehatan, kelurahan, kecamatan, organisasi), dan memiliki batasan waktu yaitu dari tanggal 25 September 2014 sampai 25 Desember 2014, kemudian diperpanjang pada tanggal 23 Februari 2015 sampai 23 Mei 2015.

Permohonan izin kedua ditujukan kepada Kepala Camat Gondokusuman DIY untuk memperoleh izin melaksanakan penelitian di Kecamatan Gondokusuman yaitu di Kelurahan Baciro, dan izin tersebut diperoleh dari Walikota DIY.

Permohonan izin ketiga diberikan kepada Kepala Kelurahan Baciro untuk memperoleh izin melaksanakan penelitian di kelurahan tersebut dan dapat melibatkan masyarakat di Kelurahan Baciro sebagai subyek dalam penelitian, serta untuk peminjaman ruangan di Kantor Kelurahan untuk digunakan dalam penelitian.Izin dari Kepala Kelurahan Baciro diperoleh pada tanggal 8 Oktober 2014.

Permohonan izin keempat ditujukan kepada ketua Komunitas Lansia Kelurahan Baciro untuk memperoleh izin melibatkan lansia khususnya anggota pria lansia dalam peneitian.Permohonan izin ini diperoleh pada tanggal 14 Oktober 2014.

Permohonan izin kelima ditujukan kepada ketua Komunitas Lansia RW yang ada di Kelurahan Baciro untuk melibatkan anggota lansia lansia khususnya anggota pria lansia dalam peneitian, serta membantu dalam hal mengundang para peserta seminar atau subyek penelitian dan observasi (terkait kriteria inklusi yang ditetapkan).

3. Pembuatan kuesioner

Kuesioner yang dibuat terdiri dari 3 bagian utama yaitu bagian pertama memuat aspek pengetahuan tentang antibiotika. Tingkat pengetahuan tentang antibiotika diukur melalui pernyataan tentang cara memperoleh antibiotika dan tingkat pengetahuan umum tentang antibiotika (pengertian umum, cara

penggunaan, resistensi antibiotika, efek samping) dengan jawaban “ya” dan

tidak”.

Bagian kedua kuesioner mengenai sikap dan bagian ketiga mengenai tindakan penggunaan antibiotika. Pada bagian ini menggunakan skala Likert dengan pilihan “1” Sangat Setuju (SS), “2” Setuju (S), “3” Tidak Setuju (TS), dan “4” Sangat Tidak Setuju (STS).Item pernyataan pada bagian kedua ini dibuat 2 jenis pernyataan yaitu unfavourable dan favourable. Hal ini dilakukan untuk melihat konsistensi jawaban responden dalam setiap pernyataan.

4. Pencarian subyek penelitian

Waktu pencarian subyek penelitian dilakukan setelah mendapatkan izin penelitian dari Walikota Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Kecamatan Gondokusuman, Kepala Kelurahan Baciro, dan Ketua Komunitas Lansia Kelurahan Baciro. Kemudian dari izin yang diterima diteruskan kepada Ketua Komunitas RW untuk memperoleh informasi lengkap terkait jumlah anggota lansia, pekerjaan, dan pendidikan terakhir pria lansia yang ada di masing–masing RW di Kelurahan Baciro, data yang diperoleh digunakan untuk menentukan populasi target. Langkah selanjutnya adalah pencarian subyek penelitian (menggunakan teknik sampling) dengan mendatangi rumah masing–masing populasi target atau menemui pengurus di tempat populasi target tersebut (dalam hal ini ketua RT/RW, pengurus organisasi lansia). Peneliti mendatangi subyek penelitian kemudian menyampaikan maksud kedatangan, menjelaskan secara singkat gambaran penelitian yang akan dilakukan, serta menanyakan kesediaan subyek penelitian untuk terlibat di dalam penelitian, dengan memberikan undangan kepada subyek penelitian untuk menghadiri seminar yang akan dilaksanakan.

5. Uji validitas isi

Uji validitas isi ketiga aspek dilakukan bersamaan sehingga daftar rekomendasi dari setiap ahli ditindak lanjuti untuk setiap aspek. Uji validitas instrumen dalam penelitian ini sebagai konfirmasi dari kuesioner sebelumnya. Hal ini dikarenakan kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner pengembangan, yang sudah melalui tahap validitas isi lebih dari dua orang ahli di

bidangnya. Terdapat seorang ahli yang terlibat hingga proses pengujian validitas konten, yaitu dosen di Fakultas Farmasi yang juga merupakan Kepala Program Studi Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

6. Uji pemahaman bahasa

Uji pemahaman bahasa dilakukan kepada 30 responden uji pemahaman bahasa yang memiliki kriteria yang serupa dengan kiteria yang ditetapkan dalam penelitian (Umar, 2005). Uji pemahaman dalam penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sonosewu Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul Yogyakarta. Uji pemahaman bahasa dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman responden terhadap maksud dan tujuan pernyataan yang dibuat oleh peneliti. Dari 40 butir-butir pernyataan kuesioner yang diujikan, terdapat beberapa butir pernyataan yang dinilai sulit dipahami oleh responden. Berikut hasil pengujian Pemahaman Bahasa pada responden.dipaparkan pada tabel IV.

Tabel IV. Pernyataan pada Tiap Aspek Kuesioner yang Sulit Dipahami oleh Lay People

No Aspek Pernyataan

1 Pengetahuan 1,7, 11,14

2 Sikap 8

3 Tindakan 10

Butir-butir pernyataan yang dinilai sulit untuk dipahami ini kemudian diperbaiki dari segi struktur kalimat dan kata yang digunakan. Hasil uji pemahaman bahasa menunjukkan terdapat beberapa kalimat yang sulit dipahami karena penggunaan bahasa medis. Proses perbaikan butir-butir pernyataan ini mengikuti salah satu kriteria yang dinyatakan oleh Budiman dan Riyanto (2013)

yaitu menghindari kalimat yang rumit dengan menuliskannya dalam Bahasa yang sederhana dan jelas. Penyerdehanaan kalimat diharapkan dapat mempermudah responden memahami maksud pernyataan kuesioner. Pemahaman Bahasa ini berpengaruh pada tanggapan responden untuk tiap pernyataan. Apabila struktur kalimat yang digunakan buruk maka akan membingungkan responden dan kemungkinan besar menimbulkan tanggapan yang tidak konsisten. Tanggapan yang tidak konsisten dapat mempengaruhi hasil pengujian reliabilitas.

Hasil uji pemahaman bahasa diketahui bahwa bahasa yang digunakan dalam kuesioner tersebut dapat dimengerti oleh responden. Pada pengujian bahasa yang kedua tidak ditemukan respon negatif sehingga keempat puluh aitem kusioner dapat dilanjutkan ke tahap pengujian berikutnya, yaitu uji reliabilitas. 7. Uji reliabilitas instrumen

Pada penelitian ini, uji reliabilitas ketiga aspek dilakukan bersamaan sesuai tata cara penelitian uji kualitas instrumen. Uji kualitas instrumen ini meliputi uji reliabilitas dan seleksi aitem. Uji kualitas instrumen ini dilakukan sebanyak satu kali. Pada uji yang pertama, dari ketiga aspek yang diujikan kuesioner aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan telah reliabel sehingga tidak perlu dimasukkan kembali ke dalam uji kualitas instrumen selanjutnya. Aitem yang dimasukkan pada pengujian kualitas instrumen merupakan 40 aitem yang telah valid secara konten dari pengujian sebelumnya dan telah melalui uji pemahaman bahasa pada responden..

Reliabilitas menunjukkan konsistensi hasil pengukuran jika pengetesannya dilakukan secara berulang kali terhadap suatu populasi individu

atau kelompok (Supraktiknya, 2014), dan sejauh mana pengukuran tersebut dapat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda jika dilakukan kembali pada subyek yang sama (Azwar, 2006). Uji reliabilitas untuk aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan dilihat dari nilai koefisien Cronbac alfa. Koefisien minimum yang dipandang memuaskan untuk reliabilitas tes adalah 0,60, di bawah angka tersebut sebuah tes menjadi kurang memadai untuk digunakan bagi perorangan, sebab hal tersebut menunjukkan bahwa kesalahan baku skor tampak sedemikian sehingga interpretasi skor menjadi meragukan (Supraktiknya, 2014). Uji reliabilitas penelitian ini dilakukan di Kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman Yogyakarta dengan jumlah responden 30 orang. Lokasi ini dipilih sebagai tempat uji reliabilitas karena dari segi geografis dan keadaan sosio–demografi hampir sama dengan Kelurahan Baciro Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa keseluruhan aitem dalam kuesioner memiliki konsistensi yang tinggi dan dapat digunakan untuk mengukur hal yang sama secara berulang–ulang.

Tabel V. Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Hasil uji (nilai α) Keterangan Pengetahuan tentang antibiotika 0,712 Reliabel

Sikap mengenai antibiotika 0,640 Reliabel

tindakan mengenai antibiotika 0,683 Reliabel 8. Pemilihan pembicara seminar

Penentuan pembicara seminar diawali dengan memilih nara sumber tepat yang profesional dan memiliki kompetensi di bidangnya yaitu Apoteker, sehingga mampu memberikan informasi dan memotivasi responden mengenai materi yang

akan diberikan yaitu Antibiotika. Apoteker merupakan professional kesehatan terakhir yang menemui pasien. Apoteker memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pasien mengerti maksud dari terapi obat dan cara penggunaannya yang tepat (Kurniawan dan Chabib, 2010). Hal ini didukung dengan studi tambahan yang menunjukkan bahwa pentingnya edukasi terhadap pasien yang berkesinambungan dan intervensi oleh apoteker menghasilkan perbaikan yang signifikan dalam kepatuhan pasien (Kurniawan dan Chabib, 2010). Nara sumber yang berperan sebagai pembicara dalam penelitian ini adalah seorang Apoteker, yang juga merupakan seorang dosen di Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

9. Pelaksanaan seminar

Seminar dilaksanakan pada tanggal 22 November 2014 pukul 09.00-12.30. Seminar diawali dengan sambutan dari Pengurus lansia Kelurahan Baciro, dan sambutan dari peneliti yaitu ucapan terima kasih untuk para peserta seminar yang juga akan menjadi sebyek dalam penelitian atas kehadiran dan keterlibatan dalam penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian informasi terkait rangkaian acara yang akan dilaksanakan yaitu sebelum seminar, para subyek penelitian akan diberikan informed consent yang selanjutnya diisi dan ditanda tangani oleh subyek penelitian sebagai bukti kesediaannya untuk berpartisipasi di dalam penelitian ini. Setelah mengisi informed consent subyek penelitian diberikan kuesioner pre intervention yang harus dijawab berdasarkan panduan yang diberikan oleh peneliti yaitu pengisian jawaban harus berdasarkan petunjuk dalam kuesioner, semua pernyataan dan pertanyaan dalam kuesioner harus diisi

secara lengkap dan merupakan jawaban sendiri tanpa melihat jawaban atau bertanya pada peerta lain, kuesioner pre intervention langsung dikumpulkan kepada petugas setelah peserta selesai menjawab. Seminar dimulai dengan sambutan dan perkenalan dari pembicara seminar, dan dilanjutkan dengan pemberian materi seminar kepada peserta seminar. Setelah pembicara selesai memberikan materi, kemudian dilanjutkan dengan sesi pertanyaan oleh peserta seminar terhadap materi yang belum dipahami. Kuesioner post intervention diberikan setelah sesi pertanyaan berlangsung dengan panduan dan petunjuk yang diberikan oleh peneliti.

10. Pengumpulan data

a. Pre intervetion dan post intervention I

Data diperoleh dari hasil penelitian jawaban kuesioner pre intervetion dan kuesioner post intervention yang dikumpulkan dari setiap subyek penelitian. Untuk Pre intervention dan post intervetion, data diambil dihari yang sama dengan pelaksanaan seminar, dimana data Pre intervention diperoleh sebelum seminar diberikan untuk melihat pengetahuan, sikap, dan tindakan sebelum diberikan intervensi seminar yang kemudian akan dibandingkan juga dengan data post intervention ke I, II dan III. Data post intervetiont I diperoleh langsung sesudah seminar dilaksanakan untuk melihat pengetahuan, sikap, dan tindakan sesudah diberikan intervensi seminar. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan prosedur analisis yang sesuai, namun sebelumnya dilakukan selisih antara nilai pre intervetion dan post intervetion.

b. Post intervetion II dan post intervention III

Data post intervetion II diambil 1 bulan setelah intervensi seminar diberikan, dan data post intervetion III didapatkan 2 bulan setelah intervensi seminar diberikan untuk melihat pengetahuan, sikap, dan tindakan subyek penelitian setelah diberikan intervensi seminar dalam rentang waktu tersebut. Tujuan data diambil 1 bulan dan 2 bulan setelah diberikan seminar adalah untuk melihat apakah dengan rentang waktu tersebut peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan subyek penelitian setelah diberikan seminar tetap mengalami peningkatan yang sama dengan post intervetion I atau terdapat perubahan (baik mengalami peningkatan atau penurunan).

Dokumen terkait