BAB III METODOLOGI PENELITIAN
E. Tata Cara Penelitian
1. Pengumpulan dan penyiapan simplisia rimpang kunir putih
Rimpang kunir putih (Curcuma mangga Val.) diperoleh dari Kulonprogo. Rimpang dicuci dengan air mengalir kemudian dilakukan sortasi basah. Rimpang dikupas kulitnya lalu diiris tipis-tipis (± 3 mm). Pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven pada suhu 30 – 40ºC sampai rimpang kering, ditandai dengan mudah dipatahkan atau hancur bila diremas. Setelah simplisia kering, dilakukan sortasi kering.
2. Pembuatan serbuk rimpang kunir putih
Simplisia yang sudah kering diserbuk dengan mesin penyerbuk kemudian diayak dengan derajat kehalusan (20/30) (Anonim, 1986).
3. Pembuatan ekstrak rimpang kunir putih
Ekstrak rimpang kunir putih diperoleh dengan proses perkolasi serbuk rimpang kunir putih dengan cairan penyari berupa campuran etanol dan air dengan perbandingan 70 : 30 (etanol 70% v/v). Serbuk rimpang kunir putih sebanyak 1 kg dimasukkan ke dalam bejana dan dibasahi dengan cairan penyari sebanyak 1,5 L (sampai semua serbuk terendam), dimaserasi selama 24 jam. Serbuk yang telah dibasahi tersebut lalu dimasukkan ke dalam sebuah perkolator, kemudian ditambahkan sejumlah cairan penyari sehingga cairan penyari mulai menetes dan serbuk masih ditutupi dengan suatu lapisan cairan penyari. Cairan penyari dibiarkan menetes dan ditambahkan terus-menerus sampai diperoleh hasil perkolat tidak berwarna. Perkolasi 1 kg serbuk rimpang kunir putih membutuhkan pelarut etanol sekitar 7 L.
4. Penetapan konsentrasi ekstrak rimpang kunir putih dengan nilai SPF 30 a. Scanning serapan pada panjang gelombang UV
Ekstrak rimpang kunir putih diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 200 – 400 nm. Dari range tersebut, diamati panjang gelombang yang memberikan serapan.
b. Pengukuran konsentrasi ekstrak rimpang kunir putih
Berbagai konsentrasi ekstrak rimpang kunir putih diukur absorbansinya pada panjang gelombang 300 nm. Absorbansi yang didapat kemudian dihitung sebagai nilai SPF. Konsentrasi yang mendekati nilai SPF 30 adalah konsentrasi ekstrak yang digunakan untuk percobaan selanjutnya. Rumus konversi absorbansi menjadi nilai SPF :
T 1 SPF= (Stanfield, 2003) T log I I log A 0 − = − = (Walters et al., 1997) SPF 1 log A=− A = log SPF SPF = 10A c. Pembuatan larutan baku kurkumin
Standar kurkumin E. Merck® dilarutkan dalam etanol p.a. sebagai larutan stok. Dibuat seri pengenceran menggunakan etanol p.a. dari larutan stok hingga diperoleh konsentrasi 4,0966 mg%, 5,1208 mg%, 6,1449 mg%,
7,1691 mg%, 8,7054 mg%, dan 9,2174 dan mg%. Larutan baku tersebut diukur serapannya pada λ 300 nm dengan spektrofotometer. Pembuatan seri larutan baku dan pengukuran serapan tersebut setiap konsentrasi diulangi sebanyak 3 kali, kemudian dibuat persamaan garis regresi linear kurva bakunya.
5. Pengukuran kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang kunir putih 10 % a. Penetapan panjang gelombang (λ) maksimum
Larutan baku kurkumin diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV– Vis pada panjang gelombang 200 – 700 nm. Panjang gelombang maksimum ditandai dengan nilai serapan yang paling besar.
b. Pembuatan larutan baku kurkumin
Standar kurkumin E. Merck® dilarutkan dalam etanol p.a. sebagai larutan stok. Dibuat seri pengenceran menggunakan etanol p.a. dari larutan stok hingga diperoleh konsentrasi 0,1792 mg%, 0,2560 mg%, 0,3328 mg%, 0,4097 mg%, dan 0,4865 mg%. Larutan baku tersebut diukur serapannya pada λ maks dengan spektrofotometer. Pembuatan seri larutan baku dan pengukuran serapan tersebut setiap konsentrasi diulangi sebanyak 3 kali, kemudian dibuat persamaan garis regresi linear kurva bakunya.
c. Pengukuran kadar kurkumin dalam ekstrak
Ekstrak rimpang kunir putih diambil 10 mL lalu diencerkan dengan etanol p.a. sampai 100 mL (konsentrasi ekstrak 10 % v/v), kemudian larutan tersebut diambil 5 mL lalu diencerkan dengan etanol p.a. sampai 10 mL sehingga diperoleh konsentrasi ekstrak 5 % v/v. Ekstrak tersebut kemudian
diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum dengan spektrofotometer. Pembuatan ekstrak dan pengukuran serapan diulangi sebanyak 4 kali. Serapan yang didapat kemudian dimasukkan ke dalam persamaan garis regresi linear kurva baku dan dikalikan dengan faktor pengenceran sehingga diperoleh kadar kurkumin dalam ekstrak 10 % v/v. 6. Optimasi proses pembuatan gel
a. Formula
i. Formula gel sunscreen menurut A Formulary of Cosmetic Preparation (Ash dan Michael, 1977)
Ethanol (SD-40) 48,0
Carbopol® 940 1,0
Escalol 106 (Glyceryl-p-amino benzoate) 3,0
Monoisopropilamine 0,09
Aquadest 47,91 Parfum 9,5 ii. Dalam optimasi formula ini dilakukan modifikasi formula dengan
berbagai konsentrasi gelling agent :
Carbopol® 940 (3 % b/v) 28,33 – 38,33 gram
Sorbitol 10 – 20 gram
Ekstrak rimpang kunir putih 10 gram
Aquadest 40 gram
Tabel II. Formula desain faktorial Formula Carbopol® 3 % (g) Sorbitol (g)
1 28,33 10
a 38,33 10
b 28,33 20
ab 38,33 20
b. Pembuatan gel
Ekstrak rimpang kunir putih dan sorbitol dicampur secara manual dengan pengadukan tanpa pemanasan sampai homogen (campuran 1). Carbopol® dan aquadest juga dicampur secara manual dengan pengadukan tanpa pemanasan sampai homogen (campuran 2). Campuran (1) dimasukkan ke dalam campuran (2) kemudian dicampur menggunakan mixer dengan kecepatan 700 rpm selama 10 menit. Setelah campuran homogen, tambahkan TEA sedikit demi sedikit sambil tetap dicampur mengunakan mixer dengan kecepatan 700 rpm selama 5 menit.
7. Uji sifat fisik dan stabilitas gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih a. Uji daya sebar
Uji daya sebar sediaan gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih dilakukan 48 jam setelah pembuatan dengan cara : gel ditimbang seberat 1,0 gram, diletakkan di tengah kaca bulat berskala. Di atas gel diletakkan kaca bulat lain dan pemberat dengan berat total 125 gram, didiamkan selama 1 menit, kemudian dicatat penyebarannya (Garg, Aggarwal, dan Singla, 2002). b. Uji viskositas
Pengukuran viskositas menggunakan alat Viscotester Rion seri VT 04 dengan cara : gel dimasukkan dalam wadah dan dipasang pada portable
viscotester. Viskositas gel diketahui dengan mengamati gerakan jarum penunjuk viskositas. Uji ini dilakukan dua kali, yaitu (1) segera setelah gel selesai dibuat dan (2) setelah disimpan selama 1 bulan untuk uji stabilitas. 8. Uji iritasi primer
0,5 g gel diletakkan di bawah kasa berukuran 1 inci persegi yang ditempatkan di atas bagian kulit yang telah dicukur. Kasa diikatkan dengan cermat pada hewan selama 24 jam. Pada akhir periode, kasa diambil dan reaksi kulit diberi angka sesuai dengan tingkat (1) eritema dan (2) pembentukan edema. Reaksi kulit dibaca lagi setelah 48 jam dan 72 jam (Lu, 1995).
Tabel III. Evaluasi reaksi iritasi kulit (Lu, 1995)
Jenis Iritasi Skor
Tanpa eritema 0
Eritema hampir tidak tampak 1
Eritema berbatas jelas 2
Eritema moderat sampai berat 3
Eritema
Eritema berat (merah bit) sampai sedikit membentuk kerak 4
Tanpa edema 0
Edema hampir tidak tampak 1
Edema tepi berbatas jelas 2
Edema moderat (tepi naik ± 1 mm) 3
Edema
Edema berat (tepi naik lebih dari 1 mm dan meluas keluar daerah pejanan)
4
Tabel IV. Kriteria iritasi (Lu, 1995)
Indeks Iritasi Kriteria Iritasi Senyawa Kimia
< 2 Kurang merangsang
2-5 Iritan Moderat