• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Tata Cara Penelitian

Identifikasi tanaman kemangi dilakukan di Laboratorium

Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta dengan mengacu pada buku panduan menurut Steenis (1975),

untuk memastikan bahwa tanaman yang digunakan benar-benar tanaman

kemangi.

2. Pengumpulan daun kemangi

Daun kemangi diperoleh dari Pasar Tradisional Beringharjo,

Yogyakarta. Bagian tanaman yang digunakan adalah bagian daun berwarna

hijau yang masih segar. Daun dipisahkan dari batang dan bunga, kemudian

dilakukan pencucian untuk menghilangkan kotoran yang kemungkinan masih

terdapat di daun.

3. Destilasi minyak atsiri daun kemangi

Destilasi uap dan air dilakukan dengan menimbang terlebih dahulu

bobot daun kemangi segar, kemudian didestilasi menggunakan air selama 4-6

jam. Daun kemangi berada di atas air dengan adanya pembatas sehingga air

tidak menyentuh daun kemangi secara langsung. Kemudian uap air dan

minyak dialirkan melalui pendingin dan hasil destilasi ditampung. Destilat

yang dihasilkan adalah berupa minyak dan air. Digunakan natrium sulfat

anhidrat untuk menarik air dari hasil destilat minyak atsiri, sehingga yang

4. Karakterisasi minyak atsiri daun kemangi a. Pemeriksaan organoleptis

Pemeriksaan organoleptis minyak atsiri dilakukan dengan melihat

warna, kejernihan, dan bau minyak atsiri hasil destilasi uap dan air.

Minyak kemangi memiliki warna kuning jernih, bau khas menyengat dan

mudah menguap (Dewi, 2008).

b. Pengukuran nilai bobot jenis minyak kemangi

Piknometer dicuci dan dibersihkan dengan air dan etanol 96%.

Dikeringkan dengan arus udara kering. Menimbang piknometer yang

bersih dan kering dengan seksama. Mengisi piknometer dengan air hingga

penuh, lalu direndam dalam air es sehingga suhunya mencapai ± 2ºC di

bawah suhu percobaan. Kemudian piknometer dikeluarkan dan dibiarkan

hingga suhu piknometer mencapai suhu ruangan, kemudian pipa kapiler

ditutup. Usap air yang menempel di dinding piknometer kemudian

ditimbang dengan seksama. Melihat kerapatan air pada suhu percobaan.

Kemudian piknometer dicuci dan dibersihkan, dan digunakan untuk

menghitung kerapatan minyak atsiri daun kemangi dengan cara yang sama

dengan perlakuan pada air. Di replikasi sebanyak tiga kali.

c. Pengukuran nilai indeks bias

Pengukuran indeks bias menggunakan alat hand refractometer

pada cahaya terang dan dilihat dengan memutar skala sampai terlihat garis

batas gelap dan terang dengan jelas.

5. Identifikasi kualitatif minyak atsiri daun kemangi dengan metode KLT

Fase diam yang digunakan silika gel GF254 dan fase gerak yang

digunakan untuk daun kemangi adalah n-heksana - etilasetat (10:1 v/v).

Deteksi menggunakan sinar UV 254 dan 366 nm dengan penampak bercak

yang digunakan adalah vanilin asam sulfat, dengan standar eugenol.

6. Penyiapan media uji

Pembuatan media MHA yaitu mencampurkan serbuk MHA 34 g

dalam aquadest 1000 ml. Pembuatan media MHB mencampurkan 21 g dalam

aquadest 1000 ml. Kemudian disterilkan dalam autoklaf 121C pada 1 atm selama 15 menit.

7. Uji daya antibakteri minyak atsiri daun kemangi dengan metode difusi sumuran

a. Penyiapan larutan uji

Dari hasil destilasi dibuat berbagai variasi pengenceran dengan

melarutkan minyak atsiri dengan etanol 96%. Dibuat beberapa variasi

konsentrasi destilat minyak kemangi yaitu 2,5%; 5%; 10%; 15%; 20%; 50%

dan 100%. Konsentrasi 100% minyak kemangi sebagai kontrol positif dan

b. Pembuatan suspensi bakteri

Diambil 1-3 ose kultur murni bakteri Staphylococcus epidermidis

dan Bacillus subtilis, diinokulasikan ke dalam 10 ml MHB dan divortex

serta diinkubasi 37C selama 24 jam. Dibuat suspensi bakteri sesuai standar Mc Farland 0,5 (1,5.108 CFU/ml).

c. Uji daya antibakteri minyak atsiri daun kemangi terhadap

Staphylococcus epidermidis dan Bacillus subtilis dengan difusi sumuran

Pada uji ini digunakan kontrol sterilitas media dan kontrol

pertumbuhan bakteri uji. Kontrol sterilitas media ini berfungsi untuk

memastikan bahwa media yang digunakan bebas dari kontaminan. Kontrol

ini dibuat dengan menuang media MHA pada cawan petri steril.

Sedangkan kontrol pertumbuhan uji berfungsi untuk melihat bakteri

apakah suspensi bakteri yang digunakan dapat tumbuh dengan baik.

Pembuatan media ini dengan menambahkan bakteri uji pada media MHA

kemudian dilakukan pour plate pada cawan petri steril.

Pembuatan media untuk difusi sumuran menggunakan

perbandingan media dengan volume 1:6. Satu bagian, yaitu 5 ml

digunakan sebagai layer bawah, dituang ke dalam cawan petri steril dan

dibiarkan memadat terlebih dahulu. Enam bagian, yaitu 30 ml digunakan

sebagai layer atas, yang dituang setelah media diinokulasi dengan bakteri

uji.

Pembuatan lubang sumuran pada media MHA menggunakan

variasi konsentrasi minyak atsiri, kontrol pelarut (etanol 96%) dan kontrol

positif (minyak kemangi 100%). Pembuatan lubang menembus layer atas,

sedangkan layer bawah sebagai alas supaya sampel tidak menyebar ke

dasar cawan petri.

Minyak atsiri dengan berbagai variasi konsentrasi diinokulasikan

sebanyal 50 l dan diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37C. Saat akan diinkubasi sebelumnya cawan petri dibungkus menggunakan plastic wrab.

Daya antibakteri yang diamati berdasarkan zona hambat yang terbentuk

dibandingkan kontrol pelarut etanol 96% dikurangi dengan diameter

sumuran yang digunakan (8mm). Dilakukan replikasi 3 kali.

8. Penentuan nilai KHM dan KBM dengan dilusi padat

Uji ini menggunakan tiga macam kontrol, yaitu kontrol sterilitas media,

kontrol pertumbuhan bakteri, dan kontrol negatif (kontrol pelarut). Kontrol

pelarut ini berfungsi untuk melihat apakah pelarut yang digunakan untuk

melarutkan minyak atsiri, yaitu etanol 96% memiliki aktivitas menghambat

pertumbuhan bakteri uji atau tidak. Pembuatannya dengan cara menambahkan

bakteri uji dan etanol 96% ke dalam media MHA, kemudian dilakukan pour

plate ke dalam cawan petri steril.

a. Uji daya antibakteri dengan dilusi padat

Untuk pengujian antibakteri dengan dilusi padat, variasi konsentrasi

minyak kemangi didapatkan berdasarkan daya hambat yang diperoleh

pada difusi sumuran. Konsentrasi terkecil yang mempunyai aktivitas

konsentrasinya diturunkan dan dinaikkan untuk nantinya dapat diketahui

nilai KHM dan KBM dari minyak atsiri daun kemangi.

Pembuatan suspensi dilakukan untuk kedua bakteri uji yang

kekeruhannya sudah dibandingkan dengan standar Mc Farland 0,5 dan

diinkubasi selama 24 jam. Variasi konsentrasi minyak kemangi yang telah

ditentukan sebanyak 1 ml bersama dengan suspensi bakteri sebanyak 1 ml

dimasukkan ke dalam cawan petri steril secara pour plate. Diinkubasikan

selama 24 jam dengan suhu 37oC.

Pertumbuhan bakteri dilihat dari kekeruhan media, semakin banyak

pertumbuhan bakteri maka media akan semakin keruh, begitu pula

sebaliknya. Pembacaan hasil daya antibakteri diberi penilaian dengan

notasi (+++) untuk pertumbuhan bakteri yang sangat keruh, (++) keruh, (+)

agak keruh, dan (-) jernih. Kekeruhan media perlakuan dibandingkan

dengan kontrol sterilitas dan kontrol pertumbuhan.

b. Penentuan nilai KHM dan KBM

Penentuan nilai KHM dan KBM dengan melakukan streak plate

dari hasil uji daya antibakteri secara dilusi padat. Media dari hasil uji

dilusi padat berbagai variasi konsentrasi yang memberikan kejernihan

media secara visual, diambil 1 ose dan dilakukan streak plate pada media

MHA steril.

Nilai KHM ditentukan dari konsentrasi terkecil yang menunjukkan

media jernih kemudian dilakukan streak plate dan masih terjadi

menunjukkan media jernih kemudian dilakukan streak plate dan tidak

terjadi pertumbuhan bakteri di tempat dilakukan streak plate.

9. Pembuatan gel anti bau kaki minyak atsiri daun kemangi

Formula gel dalam 100 g (Yuliani, 2005).

R/ Etanol 96% 26,7 g Propilenglikol 12,4 g Larutan carbopol 3% b/v 34,0 g Aquadest 17,2 g Trietanolamin 1,4 g Minyak atsiri 10,0 g

Komposisi minyak atsiri daun kemangi yang dimasukkan dalam

formula didapatkan dari nilai diameter zona hambat yang memberikan nilai

paling besar. Hal ini dilakukan agar daya hambat yang diberikan gel minyak

kemangi adalah yang paling baik.

Dari formula tersebut di atas dilakukan modifikasi sebagai berikut:

Tabel I. Formula sediaan gel anti bau kaki minyak kemangi Material Gel Minyak

Kemangi (gram)

Kontrol Basis Gel Minyak Kemangi (gram) Etanol 96% 24,8 29,1 Propilenglikol 11,5 13,5 Larutan carbopol 3% b/v 31,5 37,1 Aquadest 15,9 18,8 Trietanolamin 1,3 1,5 Minyak atsiri 15 -

Larutan carbopol 3% b/v dibuat dengan cara mengembangkan

carbopol dalam aquadest yang sesuai dalam formula selama 24 jam.

Selanjutnya dicampurkan dengan propilenglikol, aquadest, etanol, minyak

atsiri daun kemangi, dan trietanolamin dengan mixer sampai terbentuk sediaan

gel.

10.Uji sifat fisik sediaan gel anti bau kaki minyak atsiri daun kemangi

Pengukuran sifat fisik gel anti bau kaki minyak kemangi dilakukan

48 jam setelah pembuatan, yang meliputi:

a. Uji viskositas

Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan Viscotester Rion

seri VT 04. Sebanyak 100 gram sediaan dimasukkan ke dalam wadah dan

dipasang pada portable viscotester. Viskositas diamati pada skala yang

ditunjukkan jarum penunjuk setelah tercapai kestabilan.

b. Uji daya sebar

Pada satu sisi double plate berskala diletakkan 0,5 g gel dan kemudian

disatukan, didiamkan selama 1 menit, diberi beban 50 g didiamkan 1

menit, diberi tambahan beban 50 g dan didiamkan 1 menit, kemudian

diberi tambahan 50 g, sehingga bobot beban total 150 g, dan didiamkan 1

menit kemudian diukur diameter penyebarannya dengan melihat dari

beberapa sisi.

11.Uji daya antibakteri sediaan gel anti bau kaki minyak atsiri daun kemangi terhadap Staphylococcus epidermidis dan Bacillus subtilis dengan metode difusi sumuran

Dibuat 6 lubang sumuran dengan diameter 8 mm pada cawan petri

yang telah berisi MHA double layer. Masing-masing sumuran diisi 100 mg

gel minyak kemangi, 100 mg kontrol basis gel, 50 µl (minyak kemangi 15%),

100 mg kontrol positif (Clindamycin phosphate gel), 50 µl kontrol negatif

(etanol 96%), kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. Sebelum

diinkubasi, cawan petri dibungkus menggunakan plastic wrab.

Dokumen terkait