• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

K. Tata Cara Penelitian

a. Studi Pustaka

Sebelum dilakukan penelitian, peneliti melakukan studi pustaka untuk memperoleh informasi maupun penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelummnya mengenai swamedikasi khususnya swamedikasi common cold. b. Penentuan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan dengan melakukan pemilihan lokasi penelitan secara random pada tingkat kabupaten, tingkat kecamatan, tingkat desa, tingkat dusun dan tingkat sampel.

c. Perijinan

Sebelum dilakukan penelitian dilakukan perijinan. Perijinan dimulai dari tingkat propinsi yaitu ke bagian perijinan Bappeda Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga ke tingkat dusun maupun RW kepada pihak yang bersangkutan. Disamping melakukan perijinan, peneliti juga mencari informasi mengenai data penduduk pada lokasi yang terpilih sebagai tempat penelitian. d. Perhitungan Besar Sampel

Perhitungan besar sampel dilakukan dengan menggunakan rumus sampel klaster. Pemilihan sampel dilakukan secara random pada tingkat kabupaten, tingkat kecamatan, tingkat desa, tingkat dusun dan tingkat sampel.

2. Pembuatan Instrumen Penelitian

Penyusunan instrumen penelitian baik kuesioner maupun pedoman wawancara, masing-masing melalui beberapa langkah. Kuesioner meliputi

pembuatan kuesioner, uji pemahaman bahasa, uji validitas, dan uji reliabilitas. Sedangkan untuk pedoman wawancara meliputi pembuatan pedoman wawancara dan uji validitas.

a. Pedoman Wawancara

1) Pembuatan Pedoman Wawancara

Wawancara digunakan untuk mengidentifikasi problem swamedikasi penyakit common cold terhadap sampel ibu-ibu pada bulan Juli 2007 di 8 dusun, di 4 desa, di 2 kecamatan, di kabupaten Kulon Progo dan Kota Yogyakarta yang penah melakukan swamedikasi penyakit common cold. Waktu wawancara ditentukan sesuai kesepakatan dengan setiap responden.

Pedoman wawancara harus dapat merangkum item-item pertanyaan mengenai problem swamedikasi penyakit common cold. Pedoman wawancara berisi prosedur dalam wawancara dan semua pertanyaan yang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini. Semua pertanyaan yang telah disusun oleh pewawancara diketik (ditulis) sedemikian rupa sehingga setiap pertanyaan mempunyai kolom jawaban tersendiri. Hal ini untuk mempermudah peneliti membaca hasil wawancara.

2) Uji Validitas

Pengujian validitas pedoman wawancara ini bertujuan untuk mengetahui kejelasan tujuan dan lingkup informasi yang hendak diungkap, yaitu sejauh mana

item-item pertanyaan dapat mencakup seluruh kawasan isi obyek yang hendak diukur.

Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi (content validity), yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgment, untuk melihat sejauh mana tes mencerminkan atribut yang hendak diukur (Azwar,2003). Uji validitas isi wawancara ini dilakukan analisis rasional terhadap item-item yang telah disusun yaitu dengan menanyakan kelayakan pertanyaan kepada dosen pembimbing sebagai profesional, hal ini dimaksudkan untuk melihat kesesuaian antara item

dengan aspek yang bersangkutan.

Kemudian peneliti melihat apakah semua jawaban telah memenuhi aspek yang diinginkan peneliti dan sesuai dengan tujuan wawancara. Jika belum terpenuhi dan sesuai, peneliti harus merevisi ulang pertanyaan yang belum tepat. Tetapi bila sudah sesuai harapan maka harus dilanjutkan ke langkah berikutnnya yaitu wawancara kepada responden.

b. Kuesioner

1) Pembuatan kuesioner

Kuesioner sebagai data kuantitatif digunakan untuk mengetahui gambaran pola swamedikasi penyakit common cold melalui studi PST (pengetahuan, sikap, tindakan), dan digunakan untuk mencari hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan responden terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan swamedikasi penyakit common cold di kabupaten Kulon Progo dan kota Yogyakarta. Kuesioner ini mengacu pada metode skala Likert.

Informasi yang diperoleh peneliti merupakan dasar pengambilan kesimpulan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga diperlukan instrument yang mampu mengungkap secara cermat atau valid dan konsisten atau

reliable (Azwar, 2003). Pembuatan kuesioner ini telah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Dalam penelitian ini dilakukan uji coba kuesioner yaitu uji pemahaman bahasa, uji validitas, dan uji reliabilitas. Menurut Arikunto (2006), uji coba kuesioner dapat dilakukan terhadap 15-50 responden yang memiliki keadaan kurang lebih sama dengan responden yang sesungguhnya (populasi). Pada penelitian ini dilakukan uji coba terhadap 17 ibu-ibu (merupakan 10% dari jumlah responden sesungguhnya) di luar sampel di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

2) Uji Pemahaman Bahasa

Uji pemahaman bahasa dilakukan untuk mengetahui apakah bahasa yang digunakan dalam kuesioner mudah dipahami atau tidak oleh responden. Melalui hasil uji coba pemahaman bahasa, dapat diketahui bagaimana pertanyaan maupun pernyataan dapat dimengerti oleh responden dalam memberikan jawaban. Setelah itu dapat dilakukan perubahan kalimat dalam kuesioner agar responden dapat memahami maksud kalimat pertanyaan maupun pernyataan sehingga responden memberikan jawaban yang diharapkan oleh peneliti.

3) Uji Validitas

Suatu instrumen mempunyai validitas tinggi jika instrumen dapat mengungkap secara tepat sasaran yang dimaksud dalam pengukuran (Hadi, 1991). Uji validitas perlu dilakukan untuk mengetahui kejelasan tujuan dan lingkup

informasi yang hendak diungkap, yaitu sejauh mana item-item pertanyaan dapat mencakup seluruh kawasan isi obyek yang hendak diukur. Pengujian validitas ini dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan (Azwar, 2003). Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi (content validity), yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat

professional judgment, untuk melihat sejauh mana tes mencerminkan atribut yang hendak diukur (Azwar,2003).

4) Uji Reliabilitas

Reliabilitas suatu alat ukur diperlukan untuk melihat sejauh mana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif sama jika dilakukan pengukuran pada subyek yang sama (Hadi, 1991). Koefisien reliabilitas menunjukkan besarnya inkonsistensi skor hasil pengukuran. Semakin tinggi koefisien reliabilitas berarti semakin reliabel instrumen tersebut. Reliabilitas dinyatakan dengan koefisisen reliabilitas yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai 1,00. Semakin tinggi reliabilitasnya mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya, sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2003). Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan pendekatan konsistensi internal dengan sekali tes melalui teknik Alpha Cronbach. Pada penelitian ini diperoleh nilai Alpha Cronbach adalah 0,778. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuesioner reliabel.

3. Pengambilan Data

Penyebaran kuesioner dan wawancara terhadap sampel ibu-ibu dilakukan pada bulan Juli 2007 di 8 dusun, di 4 desa, di 2 kecamatan, di kabupaten Kulon Progo dan Kota Yogyakarta. Peneliti mendampingi responden selama pengisian kuesioner dengan tujuan jika responden mengalami kesulitan dapat bertanya langsung. Data yang didapat melalui wawancara bersifat subyektif. Semua jawaban dianggap benar. Prosedur dan semua pertanyaan tercantum pada transkrip wawancara. Data yang terkumpul adalah hasil wawancara yang berupa tulisan yang dicatat oleh raportur sesuai hasil wawancara dan telah dikonfirmasikan kembali kepada responden.

Dokumen terkait