• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Tata Cara Penelitian

Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Sistematika Tumbuhan,

Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Untuk membuktikan bahwa

tanaman yang digunakan untuk penelitian adalah tanaman senggugu

(Clerodendrum serratum L.).

2. Preparasi Ekstrak Metanol Daun Senggugu

Daun senggugu diperoleh dari Kebun Obat Universitas Sanata Dharma.

Daun senggugu dipanen pada bulan Januari 2014. Daun senggugu yang telah

dikumpulkan, kemudian dibersihkan dengan air mengalir. Setelah itu daun

senggugu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari dengan

ditutup kain hitam untuk menghindari sinar matahari secara langsung.

Pengeringan daun senggugu dioptimalkan dengan dikeringkan dalam oven dengan

suhu terkontrol hingga daun sudah benar-benar kering (kadar air < 10%) dengan

ciri bila diremas bergemirisik dan berubah menjadi serpihan. Simplisia yang

kering kemudian digiling hingga menjadi serbuk halus dengan blender, kemudian

dituang dalam bejana maserasi. Kemudian ditambah metanol p.a. sebanyak 200

mL dan dicampur homogen. Campuran dimaserasi pada suhu ruangan selama 1

hari. Kemudian disaring dengan kertas Whatman filter dengan corong Buchner.

Hasil penyarian diuapkan pelarutnya menggunakan vaccum rotary evaporator

pada suhu 400C-500C. Hasil penyaringan filtrat diuapkan lagi dengan waterbath

hingga diperoleh ekstrak kental.

3. Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dilakukan di Laboratorium

Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM).

Ekstrak kental ditimbang sebanyak 50 mg, kemudian dimasukkan ke dalam labu

dan ditambahkan 10 mL asam klorida 4 N. Larutan kemudian dihidrolisis atau

refluk dengan pendingin balik selama 30 menit, lalu didinginkan dan ekstraksi

dengan 5 mL dietileter. Fase dietileter diambil, lalu diuapkan dengan gas nitrogen.

Sampel dan pembanding rutin ditotolkan sebanyak 10 µL pada plat KLT silika gel

60 F 254 sebagai fase diam. Plat KLT kemudian dimasukkan ke dalam bejana

jenuh fase gerak butanol : asam asetat : air (3:1:1), dan dieluasikan hingga batas.

Setelah terelusi hingga batas plat dikeringkan. Hasil plat KLT yang diperoleh

diidentifikasi di bawah lampu UV (254 nm dan 366 nm) dan dideteksi dengan

4. Orientasi Kelarutan Ekstrak MetanolDaun Senggugu

Orientasi kelarutan ekstrak metanol daun senggugu dilakukan dengan

menggunakan pelarut DMSO. DMSO ditambahkan pada beberapa mg ekstrak

sampai ekstrak larut, kemudian diencerkan dengan aquabidest steril. Konsentrasi

DMSO yang digunakan adalah 0,2%.

5. Sterilisasi Alat

Alat-alat yang digunakan untuk uji antiangiogenesis dicuci bersih dan

dikeringkan kemudian dibungkus dengan kertas payung dan disterilkan dengan

pemanasan basah dalam autoklaf, suhu 121oC selama 15-30 menit.

6. Pembuatan Larutan Uji dan Larutan bFGF

a. Preparasi bFGF Sebagai Induktor Angiogenesis. bFGF yang digunakan

sebanyak 25 ng/µ L menggunakan larutan PBS pH 7,4 kemudian diencerkan

sehingga didapat kadar 1 ng/µ L. Preparasi bFGF ini dilakukan secara aseptis

di dalam Laminar Air Flow (LAF). Kadar bFGF yang diberikan untuk

setiap telur perlakuan terinduksi adalah 10 ng.

b. Preparasi Sediaan Larutan Uji. Ekstrak metanol daun senggugu dilarutkan

dengan DMSO – aquabidest steril kemudian dibuat seri konsentrasi (0,175, 0,35 dan 0,7 mg/mL). Konsentrasi pelarut (DMSO– aquabidest steril) disesuaikan dengan hasil orientasi kelarutan ekstrak metanol daun

7. Uji Antiangiogenesis

Satu atau beberapa hari sebelum diberi perlakuan, telur diinkubasi dalam

inkubator laboratorium pada suhu 37oC agar dapat menyesuaikan diri dengan

lingkungan barunya. Telur ayam usia 9 hari diberikan diperlakuan. Tahap awal

perlakuan yaitu dengan membersihkan telur dari kotoran yang menempel di

cangkang telur menggunakan alkohol 70%. Telur diberi tanda pada kerabang telur

yang meliputi batas ruang udara, lokasi embrio dan daerah yang akan dibuat segi

empat (jendela) berukuran 1x1 cm di atas embrio menggunakan pensil. Lokasi

embrio diketahui melalui candling menggunakan cahaya lampu pada telur.

Kerabang telur pada bagian kutub yang mengandung ruang udara dan kerabang di

atas embrio dibersihkan dengan iodin povidon. Selanjutnya pada ruang udara

tersebut dibuat lubang kecil dan pada daerah yang dibuat segiempat (jendela)

dibuat luka dengan menggunakan mini drill dan scalpel.

Udara dari ruang udara disedot dengan penyedot udara sampai berpindah

dari kutub kerabang bagian atas telur. Perlakuan ini dilakukan dengan posisi telur

horizontal, di ruang gelap, dan melalui candling, sehingga ruang udara buatan

yang terbentuk di atas embrio dapat terlihat.

Kerabang telur di atas embrio dipotong dengan mini drill untuk

membuat lubang segiempat dengan luas 1x1 cm. Melalui lubang ini, paper disc

untuk setiap perlakuan diimplantasikan ke dalam telur. Subyek uji berupa telur

dibagi secara acak dalam 6 kelompok (masing-masing perlakuan terdiri dari 3

telur), sebagai berikut :

b. Kelompok II adalah kelompok pelarut dengan implantasi paper disc + pelarut

(DMSO – aquabidest steril).

c. Kelompok III kelompok kontrol bFGF + pelarut adalah kelompok telur dengan

implantasi paper disc termuati bFGF 10 ng + pelarut (DMSO – aquabidest steril) sebanyak 10µ L.

d. Kelompok IV, V dan VI merupakan kelompok perlakuan yang digunakan

untuk melihat efek penghambatan ekstrak metanol daun senggugu dengan 3

variasi konsentrasi (0,175 ; 0,35 dan 0,7 mg/mL). Kelompok ini adalah

kelompok telur implantasi paper disc termuati bFGF 10 ng + larutan ekstrak

metanol daun senggugu dengan masing-masing konsentrasi sebanyak 10 µL.

Setelah diberi perlakuan implantasi paper disc sesuai kelompok

perlakuan, lubang kecil pada daerah kutub dan lubang segiempat ditutup dengan

parafin solidum yang dicairkan. Telur kemudian diinkubasi pada suhu 37oC

dengan kelembaban relatif 60% selama 3 hari atau 72 jam dengan inkubator,

kemudian telur dimasukkan ke dalam kulkas selama 24 jam. Telur dibuka (umur

13 hari) dengan cara menggunting cangkang telur menjadi dua bagian dimulai dari

cangkang yang dekat dengan rongga udara menggunakan gunting bedah secara

hati-hati agar tidak merusak chorioallantoic membrane telur, setelah itu

chorioallantoic membrane dibersihkan secara hati-hati dengan aquabidest steril.

Chorioallantoic membrane yang melekat pada bagian cangkang yang terdapat

paper disc diamati secara makroskopis. Pengamatan makroskopis dilakukan

secara langsung dan tidak langsung. Pengamatan makroskopis secara langsung

jumlah pembuluh darah baru yang terbentuk pada paper disc dan di sekitar paper

disc dan secara tidak langsung dengan foto kamera hasil CAM. Pembuluh darah

baru yang dihitung yaitu pembuluh darah tipis yang keluar dari pembuluh darah

utama. Pembuluh darah utama adalah pembuluh darah besar yang berada disekitar

paper disk. Pengamatan makroskopis ini dilakukan oleh empat orang pengamat.

Dokumen terkait