• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENERAPAN HUKUM DALAM PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM

TATA CARA PENGADAAN TANAH

B. Tata Cara Pengadan Tanah melalui Lembaga Pencabutan Hak

74

Ibid

75

Juanda Panjaitan : Tinjuan Yuridis Penerapan Hukum Dalam Pengadaan Tanah Berdasarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 (Studi Kasus Putusan Pengadilan Nomor : 52/PDT.G/2004/PN-LP), 2008.

USU Repository © 2009

Pasal ini merupakan jaminan bagi rakyat mengenai hak-hakya atas tanah. Pencabutan hak dimungkinkan, tetapi diikat dengan syarat-syarat, misalnya harus disertai denan pemberian gantikerugian yang layak. Elemene-elemen yang terkandung dalam Pasal 18 yaitu adanya kepentingan bangsa dan negara, kepentingan bersama dari rakyat, sebagai bagiab dari kepentingan umum, maka bagi masyarakat yang dicabtut hak atas tanahnya harus diberikan ganti rugi yang layak dan harus diatur dengan suatu undang-undang.

UUPA telah meletakkan suatu kehendak yang pasti bahwa kita tidak mengenal adanya suatu pensitaan tanah seseorang untuk pembangunan, kecuali karena suatu kejahatan, demikin juga tidak mungkin karena pandangan politik sesesorang, tetapi harus dengan suatu ganti rugi dan ganti rugi tersebut harus layak, baik ditinjau dari pemerintah ataupun ditinjau dari yang terkena pencabutan.76

76

AP. Parlindungan, Pencabutan dan Pembebasan Hak Atas Tanah Suatu Studi Perbandingan, Mandar Maju, Bandung, 1993, halaman 5.

Prinsip pemberian ganti rugi yang layak ini dianut juga dalam Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.

Pencabutan hak yang diatur dalam Pasal 18 UUPA jo. Undang-undang No.20 Tahun 1961 adalah merupakan tindakan sepihak yang dilakukan pemerintah, untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat yang pelaksanaannya harus dilakukan sedemikian rupa seperti adanya persetujuan kehendak bersama antara pemilik/pemegang hak atas tanah dengan pemerintah dengan jalan melakukan perbuatan hukum jual beli agar masing-masing merasa tidak dirugikan.

Juanda Panjaitan : Tinjuan Yuridis Penerapan Hukum Dalam Pengadaan Tanah Berdasarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 (Studi Kasus Putusan Pengadilan Nomor : 52/PDT.G/2004/PN-LP), 2008.

USU Repository © 2009

Pencabutan hak atas tanah menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 1961, hanya boleh dilakukan :

1. Untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa sesrta kepentingan bersama dari rakyat demikin pula kepentingan pembangunan.

2. Sebagai cara yang terakhir untuk memperoleh tanah yang diperlukan, yaitu jika musyawarah dengan pemilik/pemegang hak atas tanah tidak dapat membawa hasil yang diharapkan.77

Syarat tersebut jika dihubungkan dengan Pasal 18 UUPA maka dapat ditemuka n lima syarat untuk pencabutan hak atas tanah :

1. Pencabutan hak atas tanah hanya dapat dilakukan untuk kepentingan umum termasuk kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan bersama dari rakyat, dan kepentingan pembangunan.

2. Pencabutan hak atas tanah harus dengan pemberian ganti rugi yang layak kepada pemegang hak.

3. Dilakukan menurut cara yang diatur oleh undang-undang.

4. Pencabutan hak dilakukan apabila pemindahan hak menurut cara biasa tidak mungkin lagi dilakukan (misalnya jual beli atau pembebasan hak).

5. Pencabutan hak dilakukan apabila tanah yang diperlukan tidak mungkin dipperoleh ditempat lain untuk keperluan tersebut.78

77

H. Abdurrahman, Op.cit, halaman 28.

78

Juanda Panjaitan : Tinjuan Yuridis Penerapan Hukum Dalam Pengadaan Tanah Berdasarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 (Studi Kasus Putusan Pengadilan Nomor : 52/PDT.G/2004/PN-LP), 2008.

USU Repository © 2009

Di dalam Undang-undang No. 20 Tahun 1961 menyatakan bahwa bentuk kegiatan pembangunan yang mempunyai sifat kepentingan umum meliputi bidang pembangunan : a) Pertanahan, b) Pekerjaan umum, c) Perlengkapan umum, d) Jasa umum, e) Keagamaan,

f) Ilmu pengetahun dan seni budaya, g) Kesehatan,

h) Olahraga,

i) Keselamatan umum terhadap bencana, j) Kesejahteraan sosial,

k) Makam/kuburan,

l) Parawisata dan rekreasi,

m) Usaha-usaha ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan umum.79

Disamping itu undang-undang pencabutan hak juga mengisyaratkan agar pemindahan hak atas tanah, harus dilakukan dengan persetujuan kehendak dari kedua belah pihak, yaitu pemerintah harus mengupayakan dengan prosedur jual beli atau pembebasan hak dengan pemberian ganti rugi yang layak melalui proses musyawarah. Dilain pihak apabila cara ini tidak dapat dilakukan, pemerintah

79

Juanda Panjaitan : Tinjuan Yuridis Penerapan Hukum Dalam Pengadaan Tanah Berdasarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 (Studi Kasus Putusan Pengadilan Nomor : 52/PDT.G/2004/PN-LP), 2008.

USU Repository © 2009

diberikan kewenangan untuk melakukan pencabutan hak. Kewenangan ini dipergunakan pemerintah agar proses untuk mendapatkan tanah dapat dilakukan dengan cepat untuk kepentingan pembangunan tanpa melalui prosedur yang panjang. Meskipun syarat yang ditentukan untuk itu, substansi hukumnya sangat kabur atau tidak mengandung unsur kepastian hukum.80

a. Rencana peruntukannya dan alasan-alasannya, bahwa untuk kepentingan umum harus dilakukan pencabutan hak itu,

Pencabutan hak itu merupakan tindakan yang sangat penting karena berakibat mengurangi hak seseorang, maka yang memutuskan adalah Pejabat Eksekutif yang tertinggi yaitu adalah Presiden. Dengan demikian pencabutan hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya adalah merupakan wewenang tunggal dari Presiden, sebagai Pejabat Administrasi Tertinggi.

Prosedur yang dilakukan oleh pemerintah dalam melakukan pencabutan hak adalah pemerintah yang hendak mengajukan permohonan pencabutan hak, dapat secara langsung mengajukan permohonan, sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 2 Undang-undag No. 20 Tahun 1961, yaitu : Permintaan untuk melakukan pencabutan hak atas tanah dan/atau benda tersebut diajukan oleh yang berkepentingan kepada presiden dengan perantaraan Kepala BPN (dimulai dari Kantor Pertanahan/Kantor Wilayan BPN setempat) yang berisi :

b. Identitas pemegang hak dan tanahnya,

c. Rencana penampungan orang-orang yang akan dicabut haknya,

80

Juanda Panjaitan : Tinjuan Yuridis Penerapan Hukum Dalam Pengadaan Tanah Berdasarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 (Studi Kasus Putusan Pengadilan Nomor : 52/PDT.G/2004/PN-LP), 2008.

USU Repository © 2009

d. Juga dilampirkan pertimbangan Kepala Daerah dan penaksiran besar/bentuk ganti kerugian oleh Panitia Penaksir,

e. Selanjutnya ditingkat pusat disertai pertimbangan dari Mentri yang bersangkutan sebagai yang memerlukan tanah dan Mentri Kehakiman.81

Setelah keluar Keputusan Presiden tentang pencabutan hak atas tanah dan pembayaran gatikerugian serta penampungan baru telah deselenggarakan, barulah penguasaan atas tanah dan benda-benda diatasnya dapat dilaksanakan (pencabutan hak secara biasa), kecuali pencabutan tersebut dalam keadaan sangat mendesak (pencabutan hak secara mendesak), penguasaan tanah dapat dilakukan asalkan sudah keluar Surat Keputusan Kepala BPN yang memperkenankan pencabutan hak tersebut sekalipun belum dibayar ganti kerugiaanya, tetapi selanjutnya harus diteruskan permohonan itu sampai keluar Keputusan Presidan pencabutan haknya. Dan jika ternyata permintaan pencabutan hak ditolak maka tanah dan benda-benda yang ada diatasnya harus dikembalikan kepada pemiliknya sebagaimana semula dan/atau diberi ganti kerugian yang sepadan. Apalagi jika tanah yang dicabut hakyan itu tidak dipergunakan sebagaimana peruntukan pada permohonannya semula maka bagi pemegang hak diberi prioritas utama mendapatkan kembali tanah tersebut.

Suatu azas yang berlaku dalam pencabutan hak atas tanah yaitu harus lebih dahulu diusahakan melalui cara biasa agar tanah itu diperoleh dengan suatu persetujuan. Dengan kata lain walaupun sudah keluar Keputusan Presiden pencabutan hak atas tanahnya, tetapi disamping itu tercapai kesepakatan/persetujuan jual-beli

81

Juanda Panjaitan : Tinjuan Yuridis Penerapan Hukum Dalam Pengadaan Tanah Berdasarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 (Studi Kasus Putusan Pengadilan Nomor : 52/PDT.G/2004/PN-LP), 2008.

USU Repository © 2009

atau tukar-menukar maka jalan jual-beli atau tukar-menukar itulah yang ditempuh. Oleh karena itu pencabutan hak adalah satu-satunya jalan terakhir untuk memperoleh tanah dan/atau benda lainnya yang diperlukan untuk kepentingan umum. Dan disini berlaku azas yang menyatakan bahwa kepentinan umum harus didahulukan daripada kepentingan orang seoranag, maka dalam keadaan memaksa pencabutan dapat dilaksanakan jika musyawarah tidak membawa hasil.82

Jika pemegang hak atas tanah keberatan terhadap besar ganti kerugian yang ditetapkan maka ia dapat meminta banding ke Pengadilan Tinggi setempat sebagai upaya yang pertama dan terakhir untuk menetapkan besar ganti kerugian yang lebih layak. Pencabutan hak yang bersifat memaksa sebagaimana dinyatakan diatas mempertegas bahwa keberatan pemegang hak atas tanah tentang gantikerugian tidak dapat menunda jalannya pencabutan hak dan penguasaannya, dengan kata lain pencabutan itu tidak dapat diganggu gugat di Pengadilan ataupun dihalang-halangi pelaksanaannya. Tanah yang telah dicabut haknya dengan suatu Keputusan Presiden dan telah dilakukan pembayaran ganti kerugian jatuh menjadi tanah negara, kemudian diberi hak kepada yang berkepentingan dengan hak yang sesuai.83

Dengan keluarnya Keppres No. 55 Tahun 1993 tersebut maka tidak dikenal lagi istilah pembebasan tanah, istilah pembebasan tanah telah diganti pelepasan atau penyerahan hak atas tanah dan dinyatakan tidak berlaku tiga peraturan pokok yang