• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Cara Perkawinan

Dalam dokumen BAB II PERKAWINAN DALAM ISLAM (Halaman 27-32)

4. Proses dan Tata Cara Perkawinan 1. Proses Perkawinan

4.2. Tata Cara Perkawinan

Untuk melaksanakan perkawinan harus dilaksanakan menurut tata cara yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Adapun tata cara atau prosedur pelaksanaan perkawinan menurut hukum perkawinan di Indonesia adalah sebagai berikut:

4.2.1 Pemberitahuan

Dalam Pasal 3 PP No. 9 Tahun 1975 ditetapkan, bahwa “Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan kehendaknya kepada pegawai pencatat nikah di tempat perkawinan akan dilangsungkan.”

Bagi orang yang beragama Islam, pemberitahuan disampaikan kepada Kantor Urusan Agama, karena berlaku Undang-undang No. 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah,Talak dan Rujuk. Sedangkan bagi orang yang bukan beragama Islam, pemberitahuannya dilakukan kepada kantor catatan sipil setempat (Nuruddin, Taringan 2006, 125).

Pemberitahuan tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) PP No.9 Tahun 1975 ditentukan paling lambat 10 hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan. Namun ada pengecualiannya terhadap jangka waktu tersebut karena suatu alasan yang penting diberikan oleh Camat (atas nama) Bupati Kepala Daerah ( Nuruddin, Taringan 2006, 125).

Mengenai siapakah yang dapat memberitahukan kepada pegawai pencatat perkawinan itu dapat dilakukan oleh calon mempelai, orang tua mempelai atau wakilnya. Sesuai Pasal 4 PP ini pemberitahuan dapat secara lisan atau tulisan.

Pemberitahuan secara lisan atau tertulis oleh calon mempelai atau oleh orang tua atau walinya. Pemberitahuan memuat nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman calon mempelai dan apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin, disebutkan juga nama

isteri atau suami terdahulu (Pasal 3, 4, dan 5 PP Tahun 1975). Surat persetujuan dan keterangan asal-usul (Ramulyo 1999, 171).

Kemudian isi pemberitahuan tersebut telah ditentukan secara limitative oleh pasal 5 yaitu, bahwa pemberitahuan memuat tentang nama, umur, agama/keprecayaan, pekerjaan, tempat kediaman calon mempelai, apabila salah seorang atau kedua calon mempelai pernah kawin disebutkan juga nama istri atau suami terdahulu (Nuruddin, Taringan 2006, 127).

Pegawai pencatat nikah atau P3NTR yang menerima pemberitahuan kehendak nikah memeriksa calon suami, calon isteri, dan wali nikah tentang ada atau tidaknya halangan perkawinan itu dilangsungkan baik karena melanggar peraturan tentang Perkawinan.

Selain surat keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1975 tentang kewajiban Pegawai Pencatat Nikah dan tata kerja Pengadilan Agama dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan Perkawinan bagi yang beragama Islam atau disingkat PMA No. 3/1975, yang berbunyi:

1. Orang yang hendak menikah, talak, cerai, dan rujuk, harus membawa surat keterangan dari Kepala desanya masing-masing.

2. Orang yang tidak mampu harus pula membawa “Surat keterangan tidak mampu” dari kepala Desanya.

4.2.2 Penelitian

Setelah adanya pemberitahuan akan adanya perkawinan, prosedur selanjutnya diadakan penelitian yang dilakukan pegawai pencatat nikah.

Sesuai Pasal 6 ayat 9 (1) PP No . 9 Tahun 1975 pegawai pencatat meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan baik menurut hukum munakahat ataupun menurut perundang-undangan yang berlaku. Syarat-syaat perkawinan seperti yang telah diuraikan di atas mengenai persetujuan calon mempelai, umur, izin orang tua dan seterusnya, inilah pertama-tama diteliti pejabat tersebut.

Dalam pemeriksaan diperlukan penelitian terhadap:

1. Kutipan akta kelahiran atau surat kenal lahir calon mempelai.

Dalam hal tidak ada akta kelahiran atau surat kenal lahir, dapat dipergunakan surat keterangan asal-usul calon mempelai yang diberikan oleh Kepala Desa.

2. Persetujuan calon mempelai sebagai dimaksud pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

3. Surat keterangan tentang orang tua (ibu –bapak) dari Kepala Desanya.

4. Surat Izin dari Pengadilan Agama sebagai dimaksud Pasal 6 ayat (5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun.

5. Surat dispensasi dari pengadilan Agama, bagi calon suami yang belum berumur 19 tahun dan bagi calon isteri ynag belum mencapai 16 (enam belas) tahun.

6. Surat izin dari pejabat menurut peraturan yang berlaku baginya, jika salah seorang calon mempelai atau keduanya anggota angkatan bersenjata.

7. Surat keterangan pejabat yang berwenang mencatat perkawinan tentang ada atau tidaknya halangan menikah bagi calon isteri, karena perbedaan hukum dan atau kewarganegaraan (Ramulyo 1999, 171-172).

Hasil pemeriksaan itu ditulis dan ditandatangani oleh Pegawai Pencatat nikah atau P3NTR dan mereka yang berkepentingan dalam daftar pemeriksaan nikah menurut contoh yang diumumkan oleh Menteri Agama. Kemudian P3NTR membuat daftar pemeriksaan nikah itu rangkap 2 (dua) sehelai dikirim kepada Pegawai Pencatat Nikah yang diperlukan dan yang lain disimpan.

Calon suami, calon isteri, dan wali nikah masing-masing mengisi ruang nomor III, IV, V dari daftar pemeriksaan nikah sedang diruang-ruang lainnya diisi oleh Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR. Apabila

mereka tidak pandai menulis, maka ruang III, IV, yaitu diisi oleh Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR pengiriman lembar pertama daftar pemeriksaan nikah oleh P3NTR dilakukan selambat-lamabatnya 15 (lima belas) harus sesudah akad nikah dilangsungkan. Apabila lembar-lembar pertama dari daftar pemeriksaan hilang, maka oleh P3NTR dibuatkan salinan dari daftar lembar kedua dengan berita acara sebab-sebab hilangnya. Apabila calon suami atau wali nikah karena bertempat tinggal diluar daerah, tidak hadir untuk diperiksa, maka pemeriksaan padanya dimintakan pertolongan kepada Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR yang mewilayahi tempat tinggalnya (Nuruddin, Taringan 2006, 95).

Pegawai pencatat nikah atau P3NTR ini memeriksa calon suami atau wali nikah itu, kemudian mengirimkan daftar pemeriksaannya kepada Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR yang bersangkutan. Apabila ternyata dari pemeriksaan itu terdapat halangan pernikahan menurut hukum agama atau peraturan perundang-undangan tentang perkawinan atau belum dipenuhi persyaratan ketentuan tersebut dalam pasal 8 Peraturan Menteri Agama Nomor 6 Tahun 1975 ini keadaan itu segera diberitahukan kepada calon suami dan wali nikah atau wakilnya oleh Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR pasal 7 PP No. 9 Tahun 1975 jo. Pasal 9 dan 10 PMA No. 3/1975.

4.2.3 Pengumuman

Setelah dipenuhi tata cara dan syarat-syarat pemberitahuan serta tiada sesuatu halangan perkawinan, maka tahap berikutnya adalah pegawai pencatat perkawinan menyelenggarakan pengumuman.

Berdasarkan Pasal 8 PP N0. 9 Tahun 1975 pengumuman tentang adanya kehendak melangsungkan perkawinan.

Adapun mengenai caranya, surat pengumuman tersebut ditempelkan menurut formulir yang ditetapkan pada kantor catatan perkawinan pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca

oleh umum. Kemudian mengenai isi yang dimuat dalam pengumuman itu menurut Pasal 9 peraturan pemerintah tersebut adalah:

1. Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman dari calon mempelai dan dari orang tua calon mempelai apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin disebutkan nama isteri dan (atau) suami mereka terlebih dahulu

2. Hari, tanggal jam dan tempat perkawinan akan dilangsungkan.

Adapun pengumuman tersebut, bertujuan agar masyarakat umum mengetahui siapakah orang-orang yang hendak menikah. Selanjutnya dengan adanya pengumuman itu apabila ada pihak yang keberatan terhadap perkawinan yang hendak dilangsungkan maka yang bersangkutan dapat mengajukan keberatan kepada kantor pencatat perkawinan (Nuruddin, Taringan 2006, 129).

4.2.4 Pelaksanaan

Sesuai ketentuan pemberitahuan tentang kehendak calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan, maka perkawinan itu dilangsungkan setelah hari kesepuluh sejak pengumuman di atas dilakukan.

Mengenai bagaimana cara pelaksanaan perkawinan, Pasal 10 ayat (2) PP No. 9 Tahun 1975 ternyata menegasksan kembali Pasal 2 (1) Undang-undang Perkawinan, yaitu perkawinan dilaksanakan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan, supaya sah.

Peraturan pemerintah ini juga mensyaratkan bahwa perkawinan dilaksanakan di hadapan pegawai pencatat perkawinan yang berwenang dan dihadiri oleh dua orang saksi. Sesaat sesudah dilangsungkan perkawinan sesuai Pasal 10 PP No. 9 Tahun 1975, selanjutnya kedua mempelai menandatangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh pegawai pencatat perkawinan. Selain yang menandatangani kedua mempelai, akta perkawinan ditandatangani pula oleh para saksi dan pencatat perkawinan yang menghadirinya, dalam Pasal 11 ayat (2). PP. No.

9 Tahun 1975 juga ditentukan, bagi yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, akta perkawinan ditanda-tangani pula oleh wali nikah atau yang mewakili. Dengan selesainya penandatanganan akta perkawinan itu, maka perkawinan telah tercatat secara resmi.

Akta perkawinan itu dibuat rangkap dua, untuk helai pertama disimpan oleh pegawai pencatat perkawinan, kemudian untuk helai kedua disimpan panitera dalam wilayah kantor pencatatan perkawinan itu berada. Meskipun demikian untuk melaksanakan perkawinan saja tampaknya keharusan hadir secara fisik bukan suatu hal yang mutlak, karena secara fisik bukan suatu hal yang mutlak, karena baik Pasal 2 ayat (1) Undang-undang perkawinan dan Pasal 10 PP No 9 Tahun 1975 hanya menunjuk pelaksanaan perkawinan berdasarkan hukum agama dan kepercayaannya. Tidak dibicarakan secara tegas mengenai masalah ketidakhadiran jika ada calon mempelai yang berhalangan untuk datang di hadapan Pegawai Pencatat Perkawinan (Nuruddin, Taringan 2006, 65).

Dalam dokumen BAB II PERKAWINAN DALAM ISLAM (Halaman 27-32)

Dokumen terkait