• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKAWINAN DALAM ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II PERKAWINAN DALAM ISLAM"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

14 BAB II

PERKAWINAN DALAM ISLAM

1. Pengertian dan Dasar Hukum Perkawinan 1.1. Pengertian Perkawinan

Perkawinan dalam literatur fiqh disebut dengan dua kata yaitu nikah dan zawaj yang berarti bergabung, hubungan kelamin, dan juga berarti akad, kedua kata ini yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari orang Arab (Syarifuddin 2003, 73). Perkawinan adalah sunnatullah yang berlaku bagi semua umat manusia guna melangsungkan hidupnya dan memperoleh keturunan. Islam menganjurkan untuk melaksanakan perkawinan sebagaimana yang dinyatakan dalam berbagai ungkapan dalam al-Qur’an dan al-Hadits (Departemen Agama RI 1999, 136).

Firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Nisaa’ (4) ayat 3:

ىَنْ ثَم ِءاَسِّنلا َنِم ْمُكَل َباَط اَم اوُحِكْناَف ىَماَتَيْلا يِف اوُطِسْقُ ت لاَأ ْمُتْفِخ ْنِإَو لاَأ ىَنْدَأ َكِلَذ ْمُكُناَمْيَأ ْتَكَلَم اَم ْوَأ ًةَدِحاَوَ ف اوُلِدْعَ ت لاَأ ْمُتْفِخ ْنِإَف َعاَبُرَو َثلاُثَو اوُلوُعَ ت (

ءاسنلا : ٣ ).

Artinya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS. al-Nisaa’ 3: 3, Departemen Agama RI 2014, 88).

Sebagaimana disebutkan di dalam kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al- Arba’ah oleh Abdurrahman Al-Jaziri bahwa kata “perkawinan” atau nikah secara etimologi adalah ( ئطو ) yang berarti bersenggama atau bercampur.

Dalam pengertian majaz orang menyebut nikah sebagai aqad, karena aqad sebab diperbolehkan senggama (Al-Jaziri 1990, 5).

Adapun pengertian perkawinan menurut istilah atau menurut syara’ adalah sebagai:

(2)

1. Menurut Ibnu Hajar al Haitami al-Syafi’i adalah:

جيوزتلا وا حاكن لاا ظفلب ءطولا ةحابا نمضتي دقع

Artinya:”Akad yang mengandung kebolehan hubungan suami istri dengan menggunakan lafaz nikah atau tazwij (kawin)” (al-Haitami 1998, 57).

2. Sudarsono dalam buku Pokok-pokok Hukum Islam mengatakan, perkawinan adalah: “suatu akad suci dan luhur antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sebab sahya status sebagai suami istri dan dihalalkannya hubungan seksual dengan tujuan mencapai keluarga sakinah, penuh kasih sayang, kebajikan dan saling menyantuni”

(Sudarsono 1992, 188).

3. Menurut Mahmud Yunus perkawinan adalah: akad antara calon suami dan calon istri untuk membolehkan keduanya bergaul sebagai suami istri ( Yunus 1990, 1).

4. Menurut Muhammad Abu Zahrah, perkawinan adalah:

نم امهيلكلام دحيو امهنوعت ةأرملاو لجرلا نيب ةرشعلا لح ديفي دقع ونا تابجاو نم ويلع امو قوقح

Artinya: “bahwa perkawinan itu adalah suatu akad yang memfaidahkan halalnya hubungan antara laki-laki dan perempuan, saling membantu antara keduanya, dan membatasi apa-apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban bagi keduanya” (Zahra 1975, 10).

5. Menurut Amir Abyan, perkawinan secara istilah adalah akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram sehingga dengan akad tersebut terjadi hak dan kewajiban antara kedua insan itu (Abyan 1994, 39).

Pengertian perkawinan menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1, adalah “Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga

(3)

(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (Abdurrahman 1986, 64).

Perkawinan dapat dikatakan sebagai suatu perjanjian pertalian antara laki-laki dan perempuan yang berisi persetujuan hubungan dengan maksud menyelenggarakan kehidupan secara bersama-sama menurut syarat-syarat dan hukum susila. Dimata orang yang memeluk agama, pengesahan hubungan perkawinan diukur dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan Tuhan sebagai syarat mutlaq dan bagi orang-orang yang tidak mendasarkan perkawinan pada hukum ilahi, perkawinan dalam teori dan prakteknya adalah merupakan suatu kontrak sosial yang berisi persetujuan bahwa mereka akan hidup sebagai suami istri dan persetujuan tersebut diakui undang-undang atau adat dalam suatu masyarakat tersebut (Latif 2001, 13-14).

Dalam Kompilasi Hukum Islam dikatakan bahwa perkawinan adalah suatu akad yang sangat kuat (mitsaqan ghalidza) untuk memenuhi perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah, yang bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah (Abdurrahman 1995, 114).

Dari beberapa pengertian perkawinan menurut istilah yang telah dikemukakan, penulis dapat menyimpulkannya bahwa perkawinan merupakan suatu akad yang dapat menghalalkan hubungan suami istri yang tidak mempunyai hubungan mahram sehingga menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya, yang bertujuan untuk menciptakan keturunan yang sah dan keluarga yang bahagia, sakinah, mawaddah dan rahmah.

1.2. Dasar Hukum Perkawinan

Islam menganjurkan adanya sebuah perkawinan, ia mempunyai pengaruh yang baik bagi pelakunya sendiri dan masyarakat. Perkawinan termasuk salah satu cara agar bisa mendidik anak-anak dengan baik, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia serta memelihara

(4)

nasab, dalam menganjurkan perkawinan Islam menggunakan beberapa cara, adakalanya menyebut perkawinan sebagai salah satu sunnah para nabi dan petunjuknya, yang mana mereka itu merupakan tokoh-tokoh tauladan yang wajib diikuti jejaknya. firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Ra’d (13) ayat 38:

َيِتْأَي ْنَأ ٍلوُسَرِل َناَك اَمَو ًةَّيِّرُذَو اًجاَوْزَأ ْمُهَل اَنْلَعَجَو َكِلْبَ ق ْنِم لاُسُر اَنْلَسْرَأ ْدَقَلَو ٌباَتِك ٍلَجَأ ِّلُكِل ِوَّللا ِنْذِإِب لاِإ ٍةَيآِب (

٣٨ ).

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri- isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mu`jizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu” (Qs. Ar- Ra’du 13: 38, Departemen Agama RI 2014, 254).

Berpasang-pasangan adalah salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada semua makhluk, baik manusia, hewan, maupun tumbuh- tumbuhan, yang telah diterangkan dalam firman Allah surah al-Dzari’at (51) ayat 49 dikatakan:















Artinya:”Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. al-Dzari’at 51: 49, Departemen Agama RI 2014, 552).

Terkadang perkawinan disebut sebagai karunia yang baik, firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Nahl (16) ayat 72):

ًةَدَفَحَو َنيِنَب ْمُكِجاَوْزَأ ْنِم ْمُكَل َلَعَجَو اًجاَوْزَأ ْمُكِسُفْ نَأ ْنِم ْمُكَل َلَعَج ُوَّللاَو َنوُرُفْكَي ْمُى ِوَّللا ِةَمْعِنِبَو َنوُنِمْؤُ ي ِلِطاَبْلاِبَفَأ ِتاَبِّيَّطلا َنِم ْمُكَقَزَرَو (

٧٢ ).

Artinya : “Allah telah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak- anak dan cucu-cucu dan memberimu rizki dari yang baik-baik”

(QS. al-Nahl 16: 72, Departemen Agama RI 2014, 274).

(5)

Allah SWT menganjurkan agar kaum muslimin saling bantu membantu dalam perkawinan, berusaha mencarikan jodoh untuk orang yang belum mendapat jodoh, karena perkawinan adalah jalan untuk menghindari kefakiran dan kemiskinan, firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Nur (24) ayat 32:

ُمِهِنْغُ ي َءاَرَقُ ف اوُنوُكَي ْنِإ ْمُكِئاَمِإَو ْمُكِداَبِع ْنِم َنيِحِلاَّصلاَو ْمُكْنِم ىَماَيلأا اوُحِكْنَأَو ٌميِلَع ٌعِساَو ُوَّللاَو ِوِلْضَف ْنِم ُوَّللا (

رونلا : ٣٢ )

Artinya : “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah SWT akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah SWT Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui” (QS. al-Nur 24: 32, Departemen Agama RI 2014, 315).

Ayat yang telah dikemukakan juga menjelaskan bahwa perempuan tidak mempunyai wewenang untuk melaksanakan aqad nikah sebab perintah mengawinkan itu ditujukan kepada para wali. Kalau mereka mempunyai wewenang mengawinkan dirinya sendiri, tentu hak wali yang ditetapkan oleh Allah SWT akan hilang jadinya. Pembicaraan yang terdapat dalam ayat yang dimaksud lebih utama ditujukan kepada seluruh manusia untuk kebahagian dan ketentraman rumah tangga (Lubis 2006, 15). Jumhur ulama berpendapat bahwa perintah kawin dalam ayat yang telah dikemukakan itu menunjukkan mubah, tak ubahnya dengan perintah minum dan makan. Hukum yang menyangkut akad ini dengan melihat dalil dalil yang lainnya (Shabuni 2003, 361).

Perintah tegas untuk melaksanakan perkawinan juga terdapat dalam Hadits Rasulullah SAW sebagai berikut:

ويلع للها يلص للها لوسر انل لاق يلاعت ونع للها ىضر دوعسم نب للهادبع نع لاق ملسو :

ونإف جوزتيلف ةءابلا مكنم عاطتسا نم بابشلا رشعم اي أ

رصبلل ضغ

وأ جرفلل نصح ,

موصلاب ويلعف عطتسي مل نمو ,

ءاجو ول ونٍاف

(

ويلع قفتم

).

(6)

Artinya:”Dari Abdulah bin Mas’ud ra. beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: wahai jamaah para pemuda, barang siapa di antara kamu sekalian yang mampu nikah maka hendaklah dia nikah, karena sesungguhnya perkawinan itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kamaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena sesungguhnya puasa itu baginya laksana pengembirian”.

Hadits yang telah dikemukakan berisi anjuran untuk kawin kepada para pemuda, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang kuat dugaan kecintaannya kepada kaum wanita. Dengan perkawinan seorang akan dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan terhadap bahaya perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah SWT. Hadits tersebut juga mengandung arti bahwa seseorang tidak boleh memberatkan diri di luar kemampuannya untuk melakukan perkawinan (al-‘Asqalany tht, 200).

Perkawinan itu dapat menghalangi mata dari melihat hal-hal yang tidak dibolehkan oleh syara’ dan menjaga kehormatan diri dari terjatuhnya pada kerusakan seksual yaitu melalui puasa. Hal ini adalah sebagaimana yang dinyatakan sendiri oleh Nabi SAW dalam haditsnya:

ِنَم ِباَبَّشلا َرَشْعَماَي ملسو ويلع للها ىلص ِوَّللا ُلوُسَر اَنَل َلاَق َلاَق ِوَّللا ِدْبَع ْنَع ْعِطَتْسَي ْمَل ْنَمَو ِجْرَفْلِل ُنَصْحَأَو ِرَصَبْلِل ُّضَغَأ ُوَّنِإَف ْجَّوَزَ تَيْلَ ف َةَءاَبْلا ُمُكْنِم َعاَطَتْسا ٌءاَجِو ُوَل ُوَّنِإَف ِمْوَّصلاِب ِوْيَلَعَ ف (

ملسم هاور )

.

Artinya : “Dari ‘Abdillah, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: hai para pemuda barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk kawin, hendaklah ia kawin. Hal itu lebih membantu menjaga pandangan serta membentengi kemaluan, namun apabila tidak sanggup maka hendaklah berpuasa. Dengan puasa syahwatnya akan melemah” (H.R. Muslim, Naisabury 2005, 638).

Perintah melaksanakan perkawinan dikuatkan lagi oleh Sabda Rasulullah selanjutnya, yakni:

(7)

نع أ ونع ىلاعت للها يضر كل ام نب سن أ

ص يبنلا ن .

و للها دمح م أ

ويلع ىنث

ىنكل لاقو أ

ان أ و ىلص أ

و مان أ و موص أ و رطف أ ىتنس نع بغر نمف ءاسنلا جوزت

ىنم سيلف (

ويلع قفتم ).

Artinya:“Dari Anas bin Malik ra. (katanya): sesungguhnya Nabi SAW setelah beliau memuji Allah dan menyanjungkannya, beliau bersabda: akan tetapi, saya shalat, tidur, berpuasa dan mengawini beberapa wanita, barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka dia bukan termasuk umatku” (Muttafaq Alaih).

Hadits yang telah dikemukakan sebagai dalil bahwa Islam memang mewajibkan umatnya untuk taat beribadah kepada Allah dan tidak terlalu larut dalam kesenangan duniawi. Namun, Islam juga memandang perkawinan sebagai kebutuhan besar manusia. Karena itu, di samping perintah untuk taat beribadah, Islam juga mengajarkan bagaimana caranya mengelola keinginan biologis seorang manusia melalui mekanisme perkawinan.

2. Rukun dan Syarat Perkawinan

Rukun dan syarat menentukan suatu perbuatan hukum, terutama yang menyangkut dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua kata tersebut mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan suatu yang harus diadakan. Dalam hal hukum perkawinan, dalam menempatkan mana yang rukun dan mana yang syarat terdapat perbedaan dikalangan ulama. Perbedaan di antara pendapat tersebut disebabkan oleh karena berbeda dalam melihat fokus perkawinan itu. Namun semua ulama sepakat dalam hal-hal yang terlibat dan yang harus ada dalam suatu perkawinan, yaitu: aqad perkawinan, laki-laki yang akan kawin, perempuan yang akan kawin, wali dari mempelai perempuan, saksi yang menyaksikan aqad perkawinan dan mahar atau maskawin (Syarifuddin 2003, 59).

(8)

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan bahwa:

وناكر ) حاكنلا يا خ

ةسم ( ةغيصو نادىاشو ىلوو جوزو ةجوز ).

Artinya:“Rukun nikah itu ada lima yaitu calon istri, calon suami, wali, dua orang saksi dan sighat” (Haitami 1998, 99).

Mahmud Yunus mengatakan bahwa rukun perkawinan adalah bagian dari hakikat perkawinan (Yunus 1990, 19). Adapun rukun perkawinan secara lebih rinci adalah:

1. Calon suami.

2. Calon perempuan.

3. Wali nikah.

4. Dua orang saksi.

5. Sighat akad (ijab dan qabul).

Adapun syarat-syarat yang berkaitan dengan kelima rukun tersebut adalah:

1. Syarat-syarat calon suami:

a. Beragama Islam.

b. Laki-laki.

c. Tertentu/jelas orangnya.

d. Tidak sedang mengerjakan haji atau umrah

e. Tidak terkena halangan perkawinan (Mudhor 1994, 52).

Dalam hal ini, halangan perkawinan yang dimaksud dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surah al-Nisaa’ (4) ayat 22-23, yakni:



































 





























(9)















































































Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak- anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan;

saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak- anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak- anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. an-Nisa 4: 22-23, Departemen Agama RI 2014, 81-82).

Berdasarkan ayat yang telah dikemukakan, ayat tersebut mengandung dua makna yaitu, pertama, wanita-wanita yang disebut Allah sebagai mahram adalah wanita yang haram dinikahi dan yang kedua, wanita-wanita yang tidak disebutkan itu halal dinikahi, karena Allah memang tidak menyebutkannya (Syakir 2008, 293). Maka halangan

(10)

perkawinan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat yang telah dikemukakan dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu halangan tetap (muabbad) dan halangan tidak tetap (ghairu muabbad). Setelah dirinci, hubungan mahram ini dapat dilihat sebagai berikut:

a) Mahram muabbad (larangan perkawinan untuk selamanya), yaitu: 1) Ibu kandung, 2) Ibu mertua, 3) Nenek (baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu), 4) Anak perempuan kandung (termasuk cucu perempuan dari anak perempuan atau anak laki-laki), 5) Saudara perempuan (baik seibu dan sebapak, maupun saudara seibu atau sebapak saja), 6) Saudara perempuan bapak, 7) Saudara perempuan ibu, 8) Anak perempuan dari anak laki-laki, 9) Ibu persesusuan, 10) Saudara perempuan ibu sepersusuan, 11) Anak perempuan dari saudara perempuan, 12) Saudara perempun sepersusuan, 13) Ibu tiri, 14) Anak tiri, dan 15) Istri dari anak laki-laki (menantu).

Mengenai keharaman menikahi anak tiri sebagai mana telah dikemukakan dalam ayat yang dimaksud menunjukkan bahwa haram menikahi anak tiri oleh seorang laki-laki yang telah bercampur dengan ibunya. Dengan demikian, tidak haram bagi laki-laki yang menikahi putri istrinya atau putri anak-anaknya jika ia menceraikan istrinya sebelum bercampur (Azzam 2009, 143).

b) Mahram ghairu muabbad (larangan yang sifatnya kondisional), di mana ketentuan ini ditujukan pada pihak laki-laki, yaitu: 1) Mengawini dua orang bersaudara sekaligus, 2) Mengawini wanita yang sedang bersuami sah, 3) Mengawini wanita yang masih dalam masa iddah ( Rahman 1996, 20-21). 4) Tidak cakap hukum untuk kehidupan berumah tangga, 5) Larangan karena talak tiga (kecuali jika istri sudah menikah lagi), 6) Tidak sedang mengerjakan haji atau umrah, 7) Berbeda agama, dan 8) Sudah mempunyai empat orang istri (poligami di luar batas) (Mudhor 1994, 52).

(11)

Kedua macam halangan yang dimaksud mesti dijauhi oleh seseorang yang bermaksud melangsungkan perkawinan. Ketika salah satu unsur tersebut terdapat dalam perkawinannya, maka konsekuensinya adalah terhadap status sahnya nikah tersebut.

2. Syarat-syarat calon istri: 1) Beragama Islam, 2) Perempuan, 3) Jelas orangnya, 4) Dapat dimintai persetujuannya, 5) Tidak terkena halangan perkawinan, 6) Tidak dalam status sebagai istri sah atau dalam masa iddah, 7) Tidak sedang mengerjakan haji atau umrah.

Berdasarkan penjelasan dari kedua rukun perkawinan ini (calon saumi/calon istri), bahwa masing-masing harus berjenis kelamin yang jelas. Jadi, perkawinan pasangan LGBT tidaklah sah menurut hukum Islam

3. Syarat-syarat wali: 1) Beragama Islam, 2) Baligh, 4) Berakal, 5) Merdeka, 6) Laki-laki, 7) Adil, 8) Tidak sedang ihram. ( Sudarsono 1992, 200)

4. Syarat-syarat saksi: 1) Islam, 2) Baligh, 3) Berakal, 4) Merdeka, 5) Adil, 6) Laki-laki, 7) Mendengar dan melihat (tidak bisu), 8) Mengerti maksud ijab qabul, 9) Kuat ingatannya, 10) Berakhlak baik 11), Tidak sedang menjadi wali.

Mengenai hal adil yang menjadi syarat bagi seorang saksi dalam perkawinan, adil adalah orang yang bebas dari dosa-dosa besar seperti zina, syirik, durhaka kepada orangtua, minum khamar dan sejenisnya.

Selain itu seorang yang adil adalah orang yang menjauhi dosa-dosa kecil secara ghalibnya, termasuk orang yang riba (rentenir) dianggap tidak adil dan tentunya tidak sah sebagai seorang saksi. Ulama dari Mazhab Hanafi berpendapat bahwa sifat adil tidak disyaratkan bagi saksi. Pernikahan tetap sah, meskipun saksi yang dihadirkan adalah dua orang fasik, karena pada dasarnya maksud dari kesaksian adalah sebagai pemberitahuan. Ulama dari Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa

(12)

saksi haruslah orang yang bersifat adil. Sebagai dasarnya adalah sabda Rasulullah saw.

لدع يدىاشو يلوب لاإ حاكن لا

Artinya: “Pernikahan dinyatakan tidak sah kecuali dengan kehadiran seorang wali dan dua orang saksi yang adil”.

Apabila akad nikah disaksikan oleh orang yang tidak diketahui adil atau tidaknya, perkawinan itu tetap sah karena mungkin perkawinan itu dilaksanakan di tempat-tempat orang yang tidak mengetahui adil atau tidaknya saksi sehingga keharusan untuk mengetahuinya lebih dulu tentu saja akan menyulitkan. Karena itu, bagi saksi yang tidak diketahui kefasikannya, hal itu cukup dilihat dari lahiriahnya. Apabila setelah akad , ternyata yang menjadi saksi adalah orang yang fasik, maka kefasikkannya tidak berpengaruh atas sahnya akad karena syarat keadilan adalah berdasarkan apa yang dilihat (Sabiq 2015, 273).

5. Ijab dan Qabul

Kriteria ijab dan qabul yang dihukum sah, yaitu:

a. Ijab dan qabul dilafazkan oleh orang yang baligh berakal (cakap hukum).

b. Ijab dan qabul harus dilafazkan dalam satu majlis.

c. Qabul tidak berbeda dengan ijab kecuali dalam hal-hal yang sifatnya lebih baik atau lebih sempurna.

d. Orang yang mengucapkan ijab tidak mencabut ijabnya dan tidak menunjukkan sifat berpaling dari suasana ijab sebelum qabul diucapkan.

e. Kedua belah pihak mendengar ijab dan qabul secara jelas dan memahami maksudnya dengan baik.

f. Ijab dan qabul itu bersifat tuntas atau tidak dikaitkan dengan syarat lainnya yang dapat membatalkan akad tersebut.

(13)

g. Kedua belah pihak sudah mumayyiz, bila salah satu pihak ada yang gila atau masih kecil dan belum mumayyiz, maka pernikahannya tidak sah (Dahlan 1996, 1331-1332).

6. Mahar

Agama Islam di dalam melindungi dan memuliakan kaum wanita adalah dengan memberikan hak yang dipintanya berupa mahar kawin.

Mahar ialah pemberian yang dilakukan oleh mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan yang hukumnya wajib, yang berupa harta atau manfaat karena adanya ikatan perkawinan tetapi tidak ditentukan bentuk dan jenisnya, besar dan kecilnya, karena mahar merupakan suatu kewajiban yang harus dibayarkan suami kepada istrinya. Kewajiban membayar mahar ini disebabkan dua hal yaitu ada akad nikah yang sah dan terjadi senggama. Pemberian mahar dalam syariat Islam dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan derajat kaum perempuan yang sejak zaman Jahiliyyah telah di-injak harga dirinya. Dengan adanya mahar, status perempuan tidak dianggap sebagai barang yang diperjualbelikan (Saebani 2001, 261). Dasar hukum adanya mahar dalam perkawinan yaitu, firman

Allah dalam al-Qur’an surah An-Nisaa (4

) ayat 4:































Artinya : “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (QS. an-Nisa 4:

4, Departemen Agama RI 2014, 79).

Ketentuan mahar di Indonesia ditetapkan dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 30 yang menyatakan, “Calon mempelai pria wajib membayar

(14)

mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlah, bentuk, dan jenisnya disepakati oleh kedua belah pihak”.

Berdasarkan syarat-syarat yang telah dikemukakan, penulis dapat menyimpulkan bahwa ijab dan qabul harus dilafazkan oleh orang yang baligh dan berakal, hendaklah ucapan qabul tidak menyalahi ucapan ijab, ijab dan qabul diucapkan dalam satu majlis, pihak-pihak yang melakukan akad harus dapat menggunakan pernyataan masing-masingnya secara jelas dan memahami maksudnya dengan baik, dan mahar bukanlah termasuk rukun dan syarat dalam suatu perkawinan namun dijadikan sebagai pemberian yang wajib oleh mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan, karena mahar merupakan hak dari Istri yang wajib dilaksanakan suami.

3. Tujuan dan Hikmah Perkawinan 3.1. Tujuan Perkawinan

Manusia diciptakan Allah SWT mempunyai naluri manusiawi yang perlu mendapat pemenuhan, dan pada itu manusia diciptakan oleh Allah untuk mengabdikan dirinya kepada Khaliq dengan segala aktifitas hidupnya. Pemenuhan naluri manusiawi manusia yang antara lain keperluan biologis termasuk aktivitas hidup, agar manusia menuruti tujuan kejadiaanya, Allah mengatur kehidupan itu dengan aturan pernikahan (Sudarsono 1992, 78).

Tujuan perkawinan menurut agama Islam adalah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia. Harmonis dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota keluarga, sejahtera artinya terciptanya ketenangan lahir dan batin disebabkan terpenuhinya keperluan hidup lahir dan batinnya, sehingga timbulah kebahagiaan yakni kasih sayang antara anggota keluarga (Ghazali 2001, 22), sehingga kalau diringkas ada dua tujuan orang melangsungkan perkawinan, yaitu memenuhi nalurinya dan memenuhi

(15)

petunjuk agama. Mengenai naluri manusia seperti tersebut dalam al- Qur’an surah Ali Imran (3) ayat 14 :



















Artinya: “ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak “ (QS. Ali-Imran 3: 14).

Menurut Imam Al-Ghazali tujuan perkawinan itu dapat dikembangkan menjadi lima, yaitu:

1. Mendapatkan dan melangsungkan keturunan.

Naluri manusia mempunyai kecenderungan untuk mempunyai keturunan yang sah, keabsahan anak keturunan yang diakui oleh diri sendiri, masyarakat, negara dan kebenaran keyakinan agama Islam memberi jalan untuk itu. Agama memberi jalan hidup manusia, agar hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Kehidupan keluarga bahagia, umumnya antara lain ditentukan oleh kehadiran anak-anak. Anak- anak merupakan buah hati dan belahan jiwa. Banyak kehidupan rumah tangga kandas karena tidak mendapat karunia anak.

Al-Qur’an juga menganjurkan agar manusia selalu berdoa agar dianugrahi putra-putri yang menjadi mutiara dari istrinya, sebagaimana tercantum dalam surah al-Furqan (25) ayat 74:



























Artinya:”Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami

(16)

imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Furqon 25: 74, Departemen Agama RI 2014, 366).

Anak sebagai keturunan bukan saja menjadi buah hati, tetapi juga sebagai penolong dalam hidup di dunia, bahkan akan memberikan tambahan amal kebajikan di akhirat nanti, manakala dapat mendidiknya menjadi anak yang sholeh, karena apa bila seseorang diberkati oleh anak dan keluarganya maka dia akan merasa tenang (Al Qurtubi 2008, 343).

2. Memenuhi hajat manusia untuk menyalurkan syahwatnya dan menumpahkan kasih sayangnya.

Sudah menjadi kodrat iradah Allah SWT, manusia diciptakan berjodoh-jodoh dan mempunyai keinginan untuk berhubungan antara wanita dengan pria, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al- Baqarah (2) ayat 187 yang menyatakan:



























Artinya : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka” (QS. al- Baqarah 2: 187, Departemen Agama RI 2014, 29).

Allah SWT mengetahui bahwa kalau saja wanita dan pria tidak diberi kesempatan untuk menyalurkan nalurinya itu, ia akan membuat pelanggaran. Maka dengan perkawinan manusia dapat menyalurkan naluri seksualnya serta menyalurkan cinta dan kasih sayang dikalangan pria dan wanita secara harmonis dan bertanggung jawab. Penyaluran cinta dan kasih sayang yang di luar perkawinan tidak akan menghasilkan keharmonisan dan tanggung jawab yang layak, karena didasarkan atas kebebasan yang tidak terikat oleh satu norma.

(17)

3. Memenuhi panggilan agama, memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan.

Ketenangan hidup serta cinta kasih sayang keluarga dapat ditunjukkan melalui perkawinan. Orang-orang yang tidak melakukan penyaluran dengan perkawinan akan mengalami ketidakwajaran dan dapat menimbulkan kerusakan, entah kerusakan dirinya sendiri ataupun orang lain bahkan masyarakat, karena manusia mempunyai nafsu, dan nafsu itu condong untuk mengajak kepada perbuatan yang tidak baik, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an surah Yusuf (12) ayat 53:























Artinya : “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku” (QS. al-Yusuf 12: 53, Departemen Agama RI 2014, 242).

Dorongan nafsu yang utama ialah nafsu seksual, karenanya perlulah penyaluran dengan baik, yakni perkawinan. Perkawinan dapat mengurangi dorongan yang kuat atau dapat mengembalikan gejolak nafsu seksual.

4. Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima hak serta kewajiban, juga sungguh-sungguh untuk memperoleh harta kekayaan yang halal.

Hidup sehari-hari menunjukkan bahwa orang-orang yang belum berkeluarga tindakannya sering masih dipengaruhi oleh emosinya sehingga kurang mantap dan kurang bertanggung jawab, suami istri yang perkawinannya didasarkan pengalaman agama, jerih payah dalam usahanya dan upahnya mencari keperluan hidupnya dan

(18)

keluarganya yang dibinanya dapat digolongkan ibadah. Dengan demikian, melalui rumah tangga dapat ditimbulkan gairah bekerja dan tanggung jawab serta berusaha mencari harta yang halal.

5. Membangun rumah tangga untuk membentuk masyarakat yang tentram atas dasar cinta dan kasih sayang.

Suatu kenyataan bahwa manusia di dunia tidaklah berdiri sendiri, melainkan bermasyarakat yang terdiri dari unit-unit yang kecil yaitu keluarga yang terbentuk melalui perkawinan. Ketenangan dan ketentraman untuk mencapai kebahagiaan dapat diperoleh dengan adanya ketenangan dan ketentraman anggota keluarga dalam keluarga. Keluarga merupakan bagian masyarakat yang menjadi faktor terpenting dalam penentuan ketenangan dan ketentraman masyarakat. Ketenangan dan ketentraman keluarga tergantung dari keberhasilan pembinaan yang harmonis antara suami istri dalam suatu rumah tangga. Keharmonisan diciptakan oleh adanya kesadaran anggota keluarga dalam menggunakan hak dan pemenuhan kewajiban. Allah menjadikan unit keluarga yang dibina dengan perkawinan antara suami istri dalam membentuk ketenangan dan ketentraman serta mengembangkan cinta dan kasih sayang sesama hamba-Nya (al-Ghazali 2001, 24). Demikian diungkapkan dalam al- Qur’an surah ar-Rum (30) ayat 21:









































Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram

(19)

kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. ar-Rum 30: 21, Departemen Agama RI 2014, 456).

Allah menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang, kata al mawaddah adalah cinta dan ar rahmah adalah sayang, dan ada pula yang berkata bahwa al mawaddah cinta seorang suami kepada istrinya dan ar rahmah adalah kasih sayang kepada istrinya bila dia terkena sesuatu yang buruk. Kebersamaan antara suami dan istri akan menimbullkan kentraman di antara keduanya (Qurtubi 2008, 39-40).

3.2. Hikmah Perkawinan

Adapun hikmah-hikmah perkawinan antara lain:

3.2.1. Memantapkan keyakinan kepada Allah SWT.

Melalui perkawinan suami istri dapat memantapkan keyakinan terhadap Allah SWT, karena lawan jenisnya itu yang diperolehnya, Allah SWT lah yang menciptakan sesuai dengan firman-Nya dalam Surah al- Dzariat (51) ayat 49:

















Artinya :”Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. al-Dzariat 51: 49, Departemen Agama RI 2014, 522).

Berpasang-pasangan merupakan pola hidup yang ditetapkan oleh Allah SWT bagi makhluk-Nya sebagai sarana untuk memperbanyak (melanjutkan) keturunan dan mempertahankan hidup, yang mana, masing-masing pasangan telah diberi bekal oleh Allah SWT untuk mencapai tujuan tersebut dengan sebaik mungkin.

(20)

3.2.2. Mendatangkan ketenangan bathin.

Allah SWT menciptakan manusia dari diri yang satu masing- masing dari mereka sebelum dilahirkan ke dunia ini telah ditentukan nasibnya, salah satunya adalah jodoh, sesuai dengan Firman-Nya dalam surah al-A’raf (7) ayat 189:





























































Artinya :”Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata:

"Sesungguhnya jika Engkau memberi Kami anak yang saleh, tentulah Kami termasuk orang-orang yang bersyukur" (QS. al- A’raf 7: 189, Departemen Agama RI 2014, 175).

Ayat yang dimaksud menjelaskan bahwa manusia diciptakan bepasang-pasangan, ketika telah menikah maka yang diharapakan ialah kelahiran anak-anak yang shaleh, anak-anak yang mengerti akan susahnya ketika sang ibu mengandung selama 9 (sembilan) bulan, karena begitu besar perkara kehamilan dan begitu besar bahaya yang ditanggung oleh seorang ibu yang melahirkan. Dengan hadirnya seorang anak maka kedua orangtuanya akan merasakan ketenangan batin dan kententraman (Al Qurtubi 2008, 860-862).

(21)

3.2.3. Menimbulkan dan meningkatkan semangat berusaha

Dalam membina dan menempuh bahtera rumah tangga perlu kematangan lahir bathin, bagi calon mempelai suami maupun mempelai istri, maka dengan rasa tangungjawab menimbulkan semangat untuk berusaha maupun penghasilan guna kebutuhan keluarga.

3.2.4. Menyalurkan Nafsu Seksual dengan Baik

Dorongan seksual yang dikendalikan oleh nafsu untuk mendatangkan lawan jenis merupakan lawan dari hati nurani yang sangat kuat. Apabila dorongan itu di halangi atau tidak dapat disalurkan secara baik dapat menimbulkan kegelisahan. Untuk itu perlu arahan, salah satuya adalah perkawinan, dengan demikian InsyaAllah akan dapat menghindarkan diri dari penyelewengan, firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Rum (30) ayat 21:











































Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan- Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. al-Rum 3: 21, Departemen Agama RI 2014, 406).

3.2.5. Menyambung Silaturrahmi Antara Sesama Manusia.

Dengan perkawinan akan dapat membina pesaudaraan sekurang- kurangnya antara keluarga pihak suami dan keluarga pihak istri, sehingga timbul hubungan timbal balik yang erat (Ramulyo 1996, 31). Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah al-Hujarat (49) ayat 13.

(22)











































Artinya :”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS.

al-Hujarat 49: 13, Departemen Agama RI 2014, 517).

Selain hikmah-hikmah yang telah dikemukakan, Sayyid Sabiq menyebutkan pula hikmah-hikmah yang lain, diantaranya sebagai berikut:

1. Sesungguhnya naluri seks merupakan naluri yang paling kuat, yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Bilamana jalan keluar tidak dapat memuaskannya, maka banyaklah manusia yang mengalami kegoncangan, kacau dan menerobos jalan yang jahat. Kawin merupakan jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan memuaskan naluri seks ini. Dengan kawin badan menjadi segar, jiwa jadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram perasaan tenang menikmati barang yang halal.

2. Perkawinan merupakan jalan terbaik untuk menciptakan anak-anak menjadi mulia, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia serta memelihara nasab yang oleh Islam sangat diperhatikan.

Banyak jumlah keturunan mempunyai kebaikan umum dan khusus, sehingga beberapa bangsa ada yang berkeinginan keras untuk memperbanyak jumlah rakyatnya dengan memberikan perangsang- perangsang melalui pemberian upah bagi orang yang anaknya banyak.

Bahkan dahulu ada pepatah ”anak banyak berarti suatu kemegahan”.

(23)

Semboyan ini hingga sekarang tetap berlaku dan belum pernah ada yang membatalkannya.

3. Naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh saling melengkapi dalam suasana hidup dengan anak-anak dan akan timbul pula perasaan- perasaan ramah, cinta dan sayang yang merupakan sifat-sifat baik yang menyempurnakan kemanusiaan seseorang.

4. Kesadaran atas tanggung jawab beristri dan menanggung anak-anak akan menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam memperkuat bakat dan bawaan seseorang. Ia akan lebih cekatan bekerja karena dorongan tanggung jawab dan kewajiban, sehingga ia akan banyak bekerja dan mencari penghasilan yang dapat memperbesar jumlah kekayaan dan memperbanyak jumlah produksi, juga dapat mendorong usaha mengeksploitasi kekayaan alam yang dikaruniakan Allah bagi kepentingan hidup manusia.

5. Pembagian tugas, dimana yang satu mengurus dan mengatur urusan rumah tangga, sedangkan yang lain bekerja di luar, sesuai dengan batas-batas tanggung jawab antara suami-istri dalam menangani tugas-tugasnya. Perempuan bertugas mengatur dan mengurusi rumah tangga, memelihara dan mendidik anak-anak, serta menciptakan suasana yang sehat untuk suaminya beristirahat guna melepaskan lelah dan memperoleh kesegaran badan kembali. Sementara itu, suami bekerja dan berusaha mendapatkan penghasilan untuk belanja dan keperluan rumah tangga. Dengan pembagian yang adil seperti ini masing-masing pasangan menunaikan tugasnya yang alami sesuai keridhaan Ilahi, dihormati oleh umat manusia dan membuahkan hasil yang menguntungkan.

6. Dengan perkawinan dapat membuahkan diantaranya tali kekeluargaan, memperteguh kelanggengan rasa cinta antar keluarga dan memperkuat hubungan kemasyarakatan yang memang oleh Islam direstui dan ditunjang. Kerena masyarakat yang saling menunjang lagi

(24)

saling menyayangi akan menjadi masyarakat yang kuat lagi bahagia (Sabiq 2015, 206-207).

Dari uraian yang telah dikemukakan dapat penulis ambil kesimpulan, bahwa dengan perkawinan membawa manusia pada rasa tanggung jawab dan sekaligus menyalurkan jiwa kebapakan bagi seorang laki-laki dan jiwa keibuan bagi seorang perempuan yang akan mendidik anaknya dan memperkuat hubungan dalam masyarakat.

4. Proses dan Tata Cara Perkawinan 4.1. Proses Perkawinan

Dalam al-Qur’an, Allah SWT telah memberikan penjelasan, bahwa Allah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku serta berbangsa-bangsa agar mereka dapat berinteraksi (berhubungan) dan saling kenal mengenal (Tihami 2010, 21). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Hujarat (49) ayat 13 :











































Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS.

al-Hujarat 49: 13, Departemen Agama RI 2014, 517).

Dengan demikian, Islam memiliki etika dalam pergaulan dan membolehkan perkenalan antara laki-laki dan perempuan yang mana ada tahapan secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :

(25)

4.1.2. Proses ta’aruf atau perkenalan

Ada beberapa motivasi yang mendorong seseorang laki-laki memilih seorang perempuan untuk pasangan hidupnya dalam perkawinan dan demikian pula dorongan seorang perempuan waktu memilih laki-laki untuk menjadi pasangan hidupnya (Syarifuddin 2006, 48). Hal ini dijelaskan Nabi dalam haditsnya (muttafaq alai) berasal dari Abu Hurairah, ucapan Nabi yang bunyinya:

لاق ونع للها ىضر ةريرى ىبأ نعو

: ملس و ويلع للها يلص للها لوسر لاق :

عبرلأ ةأرملا حكنت ,

اهلامل , اهبسحلو ,

اهلامجلو ,

و دل اهني , ذب رفظاف ا

نيدلا ت

كادي تبرت ,

ويلع قفتم (

يراخبلا هاور )

.

Artinya : “ Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Muhammad SAW Bersabda :perempuan itu dikawini dengan empat motivasi, karena hartanya, karena kedudukan atau kebangsaannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah perempuan karena agamanya, kamu akan mendapat keberuntungan” (HR. Bukhari).

Setelah bertemu dan tertarik satu sama lain, selanjutnya pihak yang akan menikah harus melihat Agama, harta, kedudukan, kebangsaan dan kecantikan, agar tidak terjebak dalam hawa nafsu perkawinan. Karena perkawinan yang baik harus dilandasi dari perkenalan, mengetahui latar belakang keluarga, budaya dan lain sebagainya. Namun dari empat motivasi yang telah dikemukakan sebaiknya dan dianjurkan dalam sunnah Nabi perkawinan itu harus dilandasi dengan agama, karena agama akan menguatkan iman seseorang dalam membina keluarga yang bahagia.

4.1.3. Proses Khitbah atau Peminangan

Perkawinan itu baru dapat dilaksanakan apabila adanya persetujuan antara calon suami dan istri. Dimana antara calon suami istri tersebut harus saling suka sama suka dan tidak ada unsur keterpaksaan dari pihak manapun juga. Dapat kita lihat bahwa suatu perkawinan itu harus didasarkan kepada unsur sukarela di antara kedua belah pihak

(26)

tanpa ada paksaan agar tercipta tujuan perkawinan itu sendiri (Rofiq 2013, 57). Seperti Sabda Rasulullah SAW:

لاق ملسو ويلع للها يلص للها ل وسر نأ ونع للها يضر ةريرى ىبأ نع :

لا

رم أتست ىتح مي لأا حكنت ,

نذأتست ىتح ركبلا حكنت لاو ,

اولاق : للها لوسراي

تكست نأ لاق ؟ اهنذإ فيكو (

يراخبلا هاور )

Artinya :” Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda : tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta Izin darinya.” mereka bertanya, “ wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinya ?” Beliau menjawab, “ Dengan ia diam” (HR.Bukhari, Albani 2007, 562).

Jika kedua calon suami dan istri telah setuju dengan rencana perkawinannya, maka dilakukanlah proses khitbah atau peminangan, dalam bahasa Arab khitbah (ةبطخلا) diartikan dengan penyampaian kehendak untuk melangsungkan ikatan perkawinan, terdapat dalam al- Qur’an surah al-Baqarah (2) ayat 235:



















Artinya : “Tidak ada halangan bagimu menggunakan kata sindiran dalam meminang perempuan” (QS. al-Baqarah 2: 235, Departemen Agama RI 2014, 38).

Khitbah adalah permintaan seorang laki-laki untuk menguasai seorang wanita tertentu dari keluarganya dan bersekutu dalam urusan kebersamaan hidup. Atau seorang laki-laki menampakkan kecintaanya untuk mengawini seorang wanita yang halal dikawininya secara syara’

(Azzam 2009, 8).

Adapun pelaksanaannya beragam, adakalanya peminang itu sendiri yang meminta langsung kepada yang bersangkutan, atau melalui keluarga, dan atau melalui utusan seseorang yang dapat dipercaya untuk meminta orang yang dikehendaki. Peminangan itu diadakan sebelum berlangsungnya akad nikah. Keadaan ini pun sudah membudaya di

(27)

tengah masyarakat dan dilaksanakan sesuai dengan tradisi setempat. Di antaranya pihak laki-laki yang mengajukan pinangan kepada pihak perempuan dan adakalanya pihak perempuan yang mengajukan pinangan kepihak laki-laki.

4.2. Tata Cara Perkawinan

Untuk melaksanakan perkawinan harus dilaksanakan menurut tata cara yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Adapun tata cara atau prosedur pelaksanaan perkawinan menurut hukum perkawinan di Indonesia adalah sebagai berikut:

4.2.1 Pemberitahuan

Dalam Pasal 3 PP No. 9 Tahun 1975 ditetapkan, bahwa “Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan kehendaknya kepada pegawai pencatat nikah di tempat perkawinan akan dilangsungkan.”

Bagi orang yang beragama Islam, pemberitahuan disampaikan kepada Kantor Urusan Agama, karena berlaku Undang-undang No. 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah,Talak dan Rujuk. Sedangkan bagi orang yang bukan beragama Islam, pemberitahuannya dilakukan kepada kantor catatan sipil setempat (Nuruddin, Taringan 2006, 125).

Pemberitahuan tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) PP No.9 Tahun 1975 ditentukan paling lambat 10 hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan. Namun ada pengecualiannya terhadap jangka waktu tersebut karena suatu alasan yang penting diberikan oleh Camat (atas nama) Bupati Kepala Daerah ( Nuruddin, Taringan 2006, 125).

Mengenai siapakah yang dapat memberitahukan kepada pegawai pencatat perkawinan itu dapat dilakukan oleh calon mempelai, orang tua mempelai atau wakilnya. Sesuai Pasal 4 PP ini pemberitahuan dapat secara lisan atau tulisan.

Pemberitahuan secara lisan atau tertulis oleh calon mempelai atau oleh orang tua atau walinya. Pemberitahuan memuat nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman calon mempelai dan apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin, disebutkan juga nama

(28)

isteri atau suami terdahulu (Pasal 3, 4, dan 5 PP Tahun 1975). Surat persetujuan dan keterangan asal-usul (Ramulyo 1999, 171).

Kemudian isi pemberitahuan tersebut telah ditentukan secara limitative oleh pasal 5 yaitu, bahwa pemberitahuan memuat tentang nama, umur, agama/keprecayaan, pekerjaan, tempat kediaman calon mempelai, apabila salah seorang atau kedua calon mempelai pernah kawin disebutkan juga nama istri atau suami terdahulu (Nuruddin, Taringan 2006, 127).

Pegawai pencatat nikah atau P3NTR yang menerima pemberitahuan kehendak nikah memeriksa calon suami, calon isteri, dan wali nikah tentang ada atau tidaknya halangan perkawinan itu dilangsungkan baik karena melanggar peraturan tentang Perkawinan.

Selain surat keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1975 tentang kewajiban Pegawai Pencatat Nikah dan tata kerja Pengadilan Agama dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan Perkawinan bagi yang beragama Islam atau disingkat PMA No. 3/1975, yang berbunyi:

1. Orang yang hendak menikah, talak, cerai, dan rujuk, harus membawa surat keterangan dari Kepala desanya masing-masing.

2. Orang yang tidak mampu harus pula membawa “Surat keterangan tidak mampu” dari kepala Desanya.

4.2.2 Penelitian

Setelah adanya pemberitahuan akan adanya perkawinan, prosedur selanjutnya diadakan penelitian yang dilakukan pegawai pencatat nikah.

Sesuai Pasal 6 ayat 9 (1) PP No . 9 Tahun 1975 pegawai pencatat meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan baik menurut hukum munakahat ataupun menurut perundang-undangan yang berlaku. Syarat-syaat perkawinan seperti yang telah diuraikan di atas mengenai persetujuan calon mempelai, umur, izin orang tua dan seterusnya, inilah pertama-tama diteliti pejabat tersebut.

Dalam pemeriksaan diperlukan penelitian terhadap:

(29)

1. Kutipan akta kelahiran atau surat kenal lahir calon mempelai.

Dalam hal tidak ada akta kelahiran atau surat kenal lahir, dapat dipergunakan surat keterangan asal-usul calon mempelai yang diberikan oleh Kepala Desa.

2. Persetujuan calon mempelai sebagai dimaksud pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

3. Surat keterangan tentang orang tua (ibu –bapak) dari Kepala Desanya.

4. Surat Izin dari Pengadilan Agama sebagai dimaksud Pasal 6 ayat (5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun.

5. Surat dispensasi dari pengadilan Agama, bagi calon suami yang belum berumur 19 tahun dan bagi calon isteri ynag belum mencapai 16 (enam belas) tahun.

6. Surat izin dari pejabat menurut peraturan yang berlaku baginya, jika salah seorang calon mempelai atau keduanya anggota angkatan bersenjata.

7. Surat keterangan pejabat yang berwenang mencatat perkawinan tentang ada atau tidaknya halangan menikah bagi calon isteri, karena perbedaan hukum dan atau kewarganegaraan (Ramulyo 1999, 171-172).

Hasil pemeriksaan itu ditulis dan ditandatangani oleh Pegawai Pencatat nikah atau P3NTR dan mereka yang berkepentingan dalam daftar pemeriksaan nikah menurut contoh yang diumumkan oleh Menteri Agama. Kemudian P3NTR membuat daftar pemeriksaan nikah itu rangkap 2 (dua) sehelai dikirim kepada Pegawai Pencatat Nikah yang diperlukan dan yang lain disimpan.

Calon suami, calon isteri, dan wali nikah masing-masing mengisi ruang nomor III, IV, V dari daftar pemeriksaan nikah sedang diruang- ruang lainnya diisi oleh Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR. Apabila

(30)

mereka tidak pandai menulis, maka ruang III, IV, yaitu diisi oleh Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR pengiriman lembar pertama daftar pemeriksaan nikah oleh P3NTR dilakukan selambat-lamabatnya 15 (lima belas) harus sesudah akad nikah dilangsungkan. Apabila lembar-lembar pertama dari daftar pemeriksaan hilang, maka oleh P3NTR dibuatkan salinan dari daftar lembar kedua dengan berita acara sebab-sebab hilangnya. Apabila calon suami atau wali nikah karena bertempat tinggal diluar daerah, tidak hadir untuk diperiksa, maka pemeriksaan padanya dimintakan pertolongan kepada Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR yang mewilayahi tempat tinggalnya (Nuruddin, Taringan 2006, 95).

Pegawai pencatat nikah atau P3NTR ini memeriksa calon suami atau wali nikah itu, kemudian mengirimkan daftar pemeriksaannya kepada Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR yang bersangkutan. Apabila ternyata dari pemeriksaan itu terdapat halangan pernikahan menurut hukum agama atau peraturan perundang-undangan tentang perkawinan atau belum dipenuhi persyaratan ketentuan tersebut dalam pasal 8 Peraturan Menteri Agama Nomor 6 Tahun 1975 ini keadaan itu segera diberitahukan kepada calon suami dan wali nikah atau wakilnya oleh Pegawai Pencatat Nikah atau P3NTR pasal 7 PP No. 9 Tahun 1975 jo. Pasal 9 dan 10 PMA No. 3/1975.

4.2.3 Pengumuman

Setelah dipenuhi tata cara dan syarat-syarat pemberitahuan serta tiada sesuatu halangan perkawinan, maka tahap berikutnya adalah pegawai pencatat perkawinan menyelenggarakan pengumuman.

Berdasarkan Pasal 8 PP N0. 9 Tahun 1975 pengumuman tentang adanya kehendak melangsungkan perkawinan.

Adapun mengenai caranya, surat pengumuman tersebut ditempelkan menurut formulir yang ditetapkan pada kantor catatan perkawinan pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca

(31)

oleh umum. Kemudian mengenai isi yang dimuat dalam pengumuman itu menurut Pasal 9 peraturan pemerintah tersebut adalah:

1. Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman dari calon mempelai dan dari orang tua calon mempelai apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin disebutkan nama isteri dan (atau) suami mereka terlebih dahulu

2. Hari, tanggal jam dan tempat perkawinan akan dilangsungkan.

Adapun pengumuman tersebut, bertujuan agar masyarakat umum mengetahui siapakah orang-orang yang hendak menikah. Selanjutnya dengan adanya pengumuman itu apabila ada pihak yang keberatan terhadap perkawinan yang hendak dilangsungkan maka yang bersangkutan dapat mengajukan keberatan kepada kantor pencatat perkawinan (Nuruddin, Taringan 2006, 129).

4.2.4 Pelaksanaan

Sesuai ketentuan pemberitahuan tentang kehendak calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan, maka perkawinan itu dilangsungkan setelah hari kesepuluh sejak pengumuman di atas dilakukan.

Mengenai bagaimana cara pelaksanaan perkawinan, Pasal 10 ayat (2) PP No. 9 Tahun 1975 ternyata menegasksan kembali Pasal 2 (1) Undang-undang Perkawinan, yaitu perkawinan dilaksanakan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan, supaya sah.

Peraturan pemerintah ini juga mensyaratkan bahwa perkawinan dilaksanakan di hadapan pegawai pencatat perkawinan yang berwenang dan dihadiri oleh dua orang saksi. Sesaat sesudah dilangsungkan perkawinan sesuai Pasal 10 PP No. 9 Tahun 1975, selanjutnya kedua mempelai menandatangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh pegawai pencatat perkawinan. Selain yang menandatangani kedua mempelai, akta perkawinan ditandatangani pula oleh para saksi dan pencatat perkawinan yang menghadirinya, dalam Pasal 11 ayat (2). PP. No.

(32)

9 Tahun 1975 juga ditentukan, bagi yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, akta perkawinan ditanda-tangani pula oleh wali nikah atau yang mewakili. Dengan selesainya penandatanganan akta perkawinan itu, maka perkawinan telah tercatat secara resmi.

Akta perkawinan itu dibuat rangkap dua, untuk helai pertama disimpan oleh pegawai pencatat perkawinan, kemudian untuk helai kedua disimpan panitera dalam wilayah kantor pencatatan perkawinan itu berada. Meskipun demikian untuk melaksanakan perkawinan saja tampaknya keharusan hadir secara fisik bukan suatu hal yang mutlak, karena secara fisik bukan suatu hal yang mutlak, karena baik Pasal 2 ayat (1) Undang-undang perkawinan dan Pasal 10 PP No 9 Tahun 1975 hanya menunjuk pelaksanaan perkawinan berdasarkan hukum agama dan kepercayaannya. Tidak dibicarakan secara tegas mengenai masalah ketidakhadiran jika ada calon mempelai yang berhalangan untuk datang di hadapan Pegawai Pencatat Perkawinan (Nuruddin, Taringan 2006, 65).

Referensi

Dokumen terkait

Pada bab ini penulis hendak memaparkan Kritik Ki Hajar Dewantara terhadap Model pendidikan Barat (konservatif), Pemaknaan: Intepretasi terhadap Pendidikan yang

Dari hasil perhitungan yang ada, biaya pembangunan dalam waktu hampir 7 tahun tahun akan BEP (break even point), dan ini sangat menguntungkan bagi investor

Hal ini perlu dilakukan melihat rendahnya tingkat promosi perusahaan. Selama ini CV. Playbil hanya melakukan kegiatan promosi melalui brosur dan internet sementara

Hasil penelitian pengembangan ini menyimpukan bahwa, (1) penilaian ahli media, ahli materi, ahli pembelajaran dan peserta didik terhadap produk yang dikembangkan memiliki

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakter fenotipik jagung hibrida Bima 3, Bisi 16, dan NK 99, baik dari hasil biji maupun bagian vegetatif tanaman berupa

DK, perempuan, usia 16 tahun, penduduk Desa Santong, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur.. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah

Dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas demi peningkatan kualitas kesehatan penduduk Indonesia, dibutuhkan upaya nyata dalam memperbaiki

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa karbon nanotube dapat menjadi material pendukung yang lebih baik bagi katalis Pt pada membran penukaran proton (PEM) Fuel cell