• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II REGULASI KEBIJAKAN IZIN TINGGAL ORANG ASING

C. Tata Cara Permintaan, Persyaratan, Pemberian dan

perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia.90 Jenis-jenis visa Republik Indonesia:

a. Visa Dinas. b. Visa Diplomatik. c. Visa biasa terdiri dari:

1) Visa Singgah yang terdiri dari: a) Visa Singgah.

b) Visa Singgah saat kedatangan. 2) Visa Kunjungan yang terdiri dari:

a) Visa kunjungan.

b) Visa kunjungan saat kedatangan. c) Visa kunjungan kolektif.

d) Visa kunjungan beberapa kali kedatangan. 3) Visa tinggal terbatas.

Visa Dinas, diberikan kepada mereka yang melaksanakan tugas resmi dari pemerintah yang bersangkutan atau diutus organisasi internasional tetapi tugas tersebut tidak bersifat diplomatik.

Visa Diplomatik, diberikan kepada mereka yang tugasnya bersifat diplomatik. Visa Singgah, diberikan bagi mereka yang bermaksud singgah di wilayah Negara RI untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal untuk singgah selama 14 hari sejak diberikan ijin masuk.

Visa Singgah Saat Kedatangan, diberikan bagi orang asing yang bermaksud singgah di Indonesia untuk keperluan yang bersifat mendadak atau di negaranya tidak terdapat perwakilan Rl, diberikan dengan persetujuan Direktur Jenderal Imigrasi untuk singgah selama 14 hari sejak diberikan izin masuk.

Visa Kunjungan, diberikan bagi mereka yang bermaksud melakukan kunjungan selama 60 hari ke Indonesia untuk keperluan sebagai berikut:

a. Kunjungan pemerintah. b. Kunjungan wisata.

c. Kunjungan sosial budaya. d. Kunjungan usaha.

Visa Kunjungan Saat Kedatangan, diberikan untuk keperluan sesuai di atas, yaitu dalam hal-hal yang bersifat mendadak permintaan dari instansi pemerintah atau lembaga swasta yang memerlukan dan menjamin selama permohonan berada di Indonesia untuk jangka waktu 30 hari sejak diberikan izin masuk.

Visa Kunjungan Beberapa Kali Perjalanan (Multiple Visa) adalah visa kunjungan yang diberikan kepada orang asing untuk melakukan beberapa kali perjalanan ke wilayah Indonesia dan berlaku selama 1 (satu) tahun dalam kunjungan usaha tidak untuk bekerja, paling lama 60 hari setiap kali kunjungan terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk di wilayah Indonesia.

Visa Tinggal Terbatas, diberikan bagi mereka yang bermaksud untuk: a. Menanamkan modal.

b. Bekerja.

c. Melakukan tugas sebagai rohaniawan.

d. Mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah.

e. Menggabungkan diri dengan suami dan orang tua bagi istri dan atau anak sah dan seorang WNI.

f. Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi istri dan atau anak sah di bawah umur dari orang tua asing dalam rangka menanamkan modal, bekerja, melaksanakan tugas rohaniawan serta mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah.

g. Visa Tinggal Terbatas diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Indonesia paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk di wilayah Indonesia.

1. Tata Cara Permintaan Visa

1). Sesuai dengan ketentuan Pasal 5 Peraturan No. 32 Tahun 1994 tentang Visa, izin Masuk dan Izin Keimigrasian disebutkan bahwa permintaan Visa diajukan kepada perwakilan RI di luar negeri atau kepada pejabat di tempat lain yang ditetapkan oleh Pemerintah RI.

2). Permohonan Visa juga dapat diajukan oleh sponsor di Indonesia langsung kepada Dirjen Imigrasi di Jakarta.

3). Berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman Republik lndonesia No. M.IZ.01.10 Tahun 1995 Pasal 6, disebutkan bahwa beberapa permohonan visa tertentu wajib diteruskan kepada Dirjen Imigrasi untuk memperoleh persetujuan antara lain:

(a).Permohonan Visa Tinggal Terbatas (Vitas) kecuali permohonan Vitas bagi pemohon visa yang lahir di luar negeri setelah ibunya memperoleh Vitas atau memiliki Izin Masuk Kembali ke wilayah Indonesia yang masih berlaku dan pemohon visa yang lahir di luar negeri dari orang tua WNI. (b).Permohonan Multiple Visa untuk jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun. (c).Permohonan visa yang tidak mempunyai paspor kebangsaan.

(d).Permohonan visa warga negara dari negara yang sedang bergejolak atau menurut pertimbangan pejabat pemberi visa, pemberian atau penolakan permintaan visa perlu mendapat persetujuan dari Menteri Luar Negeri. (e).Permohonan Visa Singgah dan Visa Kunjungan saat Kedatangan. 2. Persyaratan Permohonan Visa

1). Paspor atau surat perjalanan yang masih berlaku.

2). Tiket untuk keberangkatan dan tiket untuk kembali atau tiket untuk melakukan perjalanan ke negara tujuan sesuai dengan jenis visa yang diminta. 3). Pas photo.

4). Bila dianggap perlu keterangan jaminan tersedianya biaya hidup selama di wilayah Indonesia.

5). Surat rekomendasi dari instansi yang berwenang bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia berupa RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing) dan TA/01 bagi mereka yang meminta visa tinggal terbatas (Kitas). 6). Surat rekomendasi disertai bukti-bukti lainnya bagi orang asing yang

menanamkan modal di Indonesia.

7). Bagi orang asing yang tidak memiliki paspor kebangsaan harus disertai bahwa suatu waktu dalam kurun waktu 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan yang bersangkutan dapat kembali ke negara yang memberikan surat perjalanan atau ke negara lain yang menjadi tempat tinggal pemohon.

3. Pemberian Visa91

1). Visa Diplomatik dan Visa Dinas: Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri berwenang memberikan dan menolak Visa Dipiomatik dan Visa dinas, Visa tersebut hanya bisa diberikan kepada pemegang Visa Diplomatik dan Visa Dinas.

2). Visa Singgah, Visa Kunjungan dan Visa Tinggal Terbatas diberikan kepada: (a) Kepala Perwakilan Rl di luar negeri atau pejabat lain yang ditunjuk

berwenang memberikan atau menolak pemberian Visa Singgah, Visa Kunjungan dan Visa Tinggal Terbatas.

(b) Visa Singgah dan Visa Kunjungan bagi orang asing yang tidak memiliki paspor kebangsaan atau orang asing dan negara-negara tertentu (Negara rawan atau bergejolak) dan Visa Tinggal Terbatas diberikan setelah msmperoleh persetujuan Dirjen Imigrasi.

(c) Pejabat pemberi visa berwenang atas kuasa sendiri memberikan Visa Tinggal Terbatas:

(1) Pemohon visa setelah orang tuanya memperoleh visa tinggal terbatas memiliki izin tinggal tetap.

(2) Pemohon visa yang orang tuanya WNI.

91 Prosedur khusus pemberian visa adalah proses pemberian visa yang harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Imigrasi, sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 6 Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M-02-IZ.01.10 Tahun 1995 tentang visa singgah, visa kujungan, visa tinggal terbatas, izin masuk dan izin keimigrasian yaitu:

a. Permohonan visa tinggal terbatas.

b. Permohonan visa kunjungan beberapa kali perjalanan lebih dari 1 tahun. c. Permohonan visa dari orang asing yang tidak mempunyai paspor kebangsaan.

3) Visa Singgah saat kedatangan dan Visa kunjungan saat kedatangan orang asing:

(a) Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI; berwenang mernberikan visa singgah saat kedatangan bagi orang asing untuk keperluan yang bersifat mendadak atau di negaranya tidak terdapat RI dengan persetujuan dari Dirjen Imigrasi.

(b) Visa singgah saat kedatangan diberikan kepada orang asing yang bermaksud singgah di Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asalnya atau singgah ke Indonesia untuk bergabung dengan alat angkut yang akan meneruskan perjalanan ke luar wilayah Indonesia.

(c) Visa Singgah saat Kedatangan diberikan kepada:

(1) Warga negara dari negara-negara yang dibebaskan dari keharusan memiliki visa, namun kedatangan di Indonesia tidak melalui pelabuhan yang ditentukan untuk BVKS (Bebas Visa Kunjungan Singkat).

(2) Warga negara lainnya setelah memperoleh persetujuan Dirjen Imigrasi.

4. Penolakan Visa

Pejabat pemberi Visa menolak perrnintaan Visa apabila permohonan visa yang bersangkutan:

2). Tidak termasuk dalam daftar penangkalan.

3). Menderita gangguan jiwa atau penyakit menular yang membahayakan kesehatan umum.

4). Tidak mempunyai izin masuk kembali ke negara yang memberikan surat perjalanan bagi orang asing yang tidak mempunyai paspor kebangsaan.

5). Belum melunasi biaya permintaan visa yang telah ditentukan. 5. Surat Perjalanan Republik Indonesia

Pasal 3 Undang-Undang No. 9 Tahun 1992 menentukan bahwa setiap orang yang masuk atau ke luar wilayah Indonesia wajib memiliki Surat Perjalanan. Yang dimaksud Surat Perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara.92

Setiap orang yang masuk atau ke luar wilayah Indonesia wajib melalui pemeriksaan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi. Tempat Pemeriksaan Imigrasi adalah pelabuhan, bandar udara, atau tempat-tempat lain yang ditetapkan oleh Menteri Kehakiman sebagai tempat masuk atau ke luar wilayah Indonesia.93

Surat perjalanan ini lazim disebut paspor atau surat perjalanan (keterangan) laksana paspor yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara kepada warga negaranya atau kepada orang asing tertentu yang berdiam atau

92 Ibid, hlm. 75. 93 Ibid, hlm. 76.

bertempat tinggal di negara tersebut, paspor berfungsi sebagai bukti identitas dan sebagai dokumen perjalanan untuk melakukan perjalanan antar negara.

Beberapa Surat Perjalanan Republik Indonesia yang diatur menurut Undang- Undang No. 9 Tahun 1992 terutama Pasal 29, 30, 31 dan Pasal 33 adalah sebagai berikut:

a. Paspor biasa, paspor untuk orang asing, surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia dan surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing di Indonesia diberikan oleh Menteri Kehakiman atapun pejabat yang ditunjuk dalam hal ini Direktur Jenderal Imigrasi yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada Kepala Kantor Imigrasi di daerah dan untuk luar negeri diberikan oleh Pejabat Imigrasi atau pejabat dinas luar negeri pada perwakilan Republik Indonesia.

b. Paspor diplomatik, paspor dinas dan surat perjalanan laksana paspor dinas dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri atau pejabat yang ditunjuk dan pengeluarannya hanya di Indonesia.

c. Paspor haji dikeluarkan oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Agama dan dikeluarkan hanya di Indonesia. Bagi warga negara Indonesia yang bertempat tinggal di luar negeri dan bila ingin menunaikan ibadah haji dapat menggunakan paspor biasa yang dikeluarkan oleh perwakilan Republik Indonesia.

Undang-Undang No. 9 Tahun 1992 Pasal 29 ayat (2) menjelaskan bahwa Surat perjalanan Republik Indonesia adalah dokumen negara, yang berarti jika tidak

dipergunakan lagi harus dikembalikan kepada negara dan tidak dapat dipindahtangankan, oleh sebab itu maka pemegang paspor tidak dinyatakan sebagai pemilik (owner) tapi sebagai pemegang paspor (passport holder).

Bagi warga negara Indonesia yang bertempat tinggal di luar negeri, dapat diberikan paspor biasa dan surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia oleh perwakilan Republik Indonesia yang wilayah kerjanya termasuk tempat tinggal yang bersangkutan, bagi warga negara Indonesia yang bertempat tinggal di luar negeri, paspor biasa diperlukan selain untuk keperluan melakukan perjalanan antar negara, juga sebagai identitas kewarganegaraan Indonesia.

Dalam keadaan khusus tidak dapat diberikan paspor biasa, sebagai penggantinya diberikan Surat Perjalanan Laksana Paspor untuk warga negara Indonesia. Keadaan khusus di sini dimaksudkan seperti dalam rangka pemulangan warga negara Indonesia dari luar negeri, karena paspornya hilang di luar negeri dan akan kembali ke Indonesia, pemberangkatan rombongan warga negara Indonesia untuk tujuan khusus yang tidak memerlukan paspor biasa bagi anggota rombongan atau karena ada perjanjian bilateral khusus dengan negara lain seperti pengiriman tenaga kerja atau dalam rangka legalisasi Tenaga Kerja Indonesia yang telah berada di luar negeri dan keadaan khusus lainnya.

Dalam Penjelasan Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang No. 9 Tahun 1992 dijelaskan bahwa Paspor Diplomatik diberikan oleh Menteri Luar Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia kepada warga negara Indonesia (Pejabat Diplomatik) yang akan ditempatkan pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri dengan

status diplomatik atau yang ditugaskan mengadakan perjalanan dinas yang bersifat diplomatik seperti menghadiri rapat atau konferensi sebagai anggota delegasi yang perlu diberikan status diplomatik. Paspor Dinas dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri atau pejabat yang ditunjuk kepada warga negara Indonesia yang tidak diberi status diplomatik atau sebagai anggota delegasi keluar negeri untuk menghadiri pertemuan yang sifatnya tidak dengan status diplomatik atau pejabat pemerintah dalam rangka penugasan keluar negeri, misal untuk belajar, seminar, dan keperluan dinas lainnya.

Dalam hal khusus tidak dapat diberikan paspor dinas, maka dapat dikeluarkan surat perjalanan laksana paspor dinas, misalnya untuk misi rombongan angkatan bersenjata Republik Indonesia yang akan mengikuti latihan bersama dengan negara lain dalam waktu yang singkat dan tidak diperlukan setiap anggota diberikan paspor dinas.

Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing, hanya diberikan kepada

orang asing pemegang izin tinggal tetap dulu disebut penduduk Indonesia tapi

berstatus asing (belum menjadi warga negara) dan tidak memiliki paspor kebangsaan karena keperluan yang bersangkutan dapat diberikan surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing dengan ketentuan dokumen tersebut tidak mengikat kewarganegaraan, harus memiliki visa negara yang dituju dan izin untuk kembali ke Indonesia.

Jika orang asing telah memperoleh paspor kebangsaan maka surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi dan harus

diserahkan kepada Kantor Imigrasi setempat atau perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.94

94 Kepala Bidang/Seksi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Medan, Medan, Tgl 11 Desember 2008.

Dokumen terkait