• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN DATA PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI

P. Tata Cara Perubahan Data Wajib, Penghapusan Nomor Pokok

e-registration

a.Melalui Internet.

1. Melakukan kegiatan seperti pada mendaftar pada angka 1 sampai dengan angka 4.

Catatan : dalam hal Wajib Pajak sudah memiliki account, prosedur angka 3 tidak perlu dilakukan.

2. Melakukan perubahan data sesuai dengan item-item yang berubah..

3. Memilih tombol “perbarui” untuk mengirim formulir Permohonan Pendaftaran dan Perubahan Data pada layar komputer secara elektronis ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.

4. Melakukan kegiatan seperti pada angka 8 sampai dengan angka 12) 5. Menerima :

a. Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak, Surat Keterangan Terdaftar, dan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak bagi Wajib Pajak sesuai dengan prosedur pendaftaran angka 8.

b. Surat Keterangan Terdaftar, dan atau Surat Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak bagi Wajib Pajak.

c.Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak, Surat Keterangan Terdaftar, dan atau Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.

Q. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak Dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

a. Melalui Internet.

1. Melakukan kegiatan seperti pada prosedur pendaftaran angka 1 sampai dengan angka 4)

Catatan : Dalam hal Wajib Pajak sudah memiliki account,prosedur angka 3 tidak perlu dilakukan.

2. Memilih tombol “Penghapusan”untuk mengirim Formulir Registrasi Wajib Pajak secara elektronis ke Kantor Pelayanan Pajak terdaftar.

3. Mencetak Formulir Registrasi Wajib Pajak.

4. Melakukan kegiatan seperti pada prosedur angka 9 sampai dengan angka 12. 5. Menerima Surat Pencabutan Surat Keterangan Terdaftar, Surat Penghapusan

Nomor Pokok Wajib Pajak dan atau Surat Pencabutan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dan atau Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, dari Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak Terdaftar.

R. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak

Yang dimaksud dengan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak adalah tindakan menghapuskan Nomor Pokok Wajib Pajak dari tata usaha Kantor Pelayanan Pajak.

• Wajib Pajak Orang Pribadi yang telah meninggal dunia dan tidak meninggal warisan

• Wanita kawin tidak dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan • Warisan yang telah selesai terbagi dalam kedudukan sebagai Subjek Pajak

sudah selesai dibagi

• Wajib Pajak badan yang telah dibubarkan secara resmi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

• Bentuk Usaha Tetap yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya sebagai bentuk usaha.

• Wajib Pajak Orang Pribadi lainnya selain yang dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang tidak memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak.

S. Sanksi Nomor Pokok Wajib Pajak

Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak dikenakan sanksi perpajakan sebagaimana diatur di dalam Pasal 39 UU No.28 Tahun 2007, yaitu setiap orang yang dengan sengaja :

a) Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. b) Menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak

atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. c) Tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan.

d) Menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap.

e) Menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 f) Memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau pencatatan, atau dokumen lain

yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

g) Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain. h) Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak

memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program on-line di Indonesia dalam Pasal 28 ayat (11).

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI

A. Peranan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.Dengan dimilikinya NPWP ini, menandakan bahwa Wajib Pajak tersebut sudah terdaftar sebagai Wajib Pajak dan mempunyai kewajiban untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang terutang.

NPWP diberikan kepada Wajib Pajak yang mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak ataupun Kantor Penyuluhan Pajak, namun NPWP juga dapat diberikan secara jabatan. Yang dimaksud diberikan secara jabatan adalah pemberian NPWP yang dilakukan terhadap Wajib Pajak atau Pengusaha Wajib Pajak yang telah memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP dan atau di kukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tetapi tidak memnihi kewajiban untuk mendaftarkan dan atau melaporkan usaha berdasarkan data yang diperoleh dan dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak. Dengan kata lain, pemberian NPWP secara jabatan di lakukan secara sepihak oleh fiskus tanpa sepengetahuan Wajib Pajak, lalu oleh fiskus, Wajib Pajak di beri kewenangan agar melaksanakan kewajibanya sebagai Wajib Pajak. Apabila himbauan

tersebut tidak diatnggapi maka Wajib Pajak tersebut di kenakan sanksi Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.

Wajib Pajak yang mempunyai NPWP harus mencantumkan NPWP pada dokumen atau berkas yang berhubungan dengan urusan perpajakan. Dokumen Perpajakan itu sangat banyak jumlahnya, ini tentu sangat menyulitkan bagi petugas pajak yang menangani urusan administrasi di Kantor Pelayan Pajak yang berhungan langsung dengan Wajib Pajak. Untuk itu di dalam berbekas atau dokumen perpajakannya telah tercantum kolom yang digunakan untuk tempat NPWP.

Hal yang dilakukan pertama kali terhadap dokumen-dokumen perpajakan seperti Surat Setoran Pajak yang sudah diterima Kantor Pelayanan Pajak adalah penyortiran guna memudahkan dalam pekerjaan memproses lebih lanjut Surat Setoran Pajak (SSP). Penyortiran dilakukan berdasarkan NPWP yang tercantum didalam dokumen perpajakan tersebut, yang diurut dari Nomor Pokok Wajib Pajak yang nomor urut terkecil sampai yang terbesar.

Setelah tahap awal dilakukan, selanjutnya yaitu dengan pencatatan yang di lakukan pada buku register, pengisian buku register ini berdasarkan urutan NPWP yang terkecil sampai yang terbesar yang terdaftar pada Kantor Pelayanan Pajak. Fungsi NPWP adalah sebagai sarana dalam administrasi perpajakan dan tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

Pengurusan NPWP mulai dari terkecil sampai pada yang terbesar ditujukan agar mempermudah dalam proses administrasinya dan untuk mengawasi kepatuhan Wajib Pajak di dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Setelah penyortiran dan pencatatan dilaksanakan, maka atas dokumen-dokumen perpajakannya tersebut dilanjutkan dengan pengarsipan berkas. Dokumen perpajakan tersebut dimasukkan ke dalam anak berkas yang telah di buat kemudian selanjutnya dimasukkan ke dalam induk berkas Wajib Pajak untuk di simpan dan dimasukkan pada rumah berkas. Namun terlebih dahulu dibuat NPWP beserta anak berkas Wajib Pajak, nama Wajib Pajak pada berkas Wajib Pajak beserta anak berkas Wajib Pajak tersebut. Fungsinya ialah untuk memudahkan didalam memasukkan dokumen perpajakannya. Jika kita melihat semakin banyaknya Wajib Pajak bertambah setiap tahunnya, hal ini akan menambah jumlah dokumen Wajib Pajak yang lama maupun Wajib Pajak yang baru.

Untuk itulah pengarsipan perlu dilakukan secara benar dan efisien guna menghindarkan adanya kesalahan-kesalahan di dalam memasukkan berkas Wajib Pajak ke dalam induk berkas Wajib Pajak kemudian ke dalam rumah berkas. Pada Kantor Pelayanan Pajak digunakan NPWP sebagai pedoman pengarsipan, dengan adanya identitas Wajib Pajak yang jelas dan lengkap akan mempermudah dan sangat membantu fiskus untuk menatausahakan setiap berkas Wajib Pajak. Demikian juga halnya dengan induk berkas tersebut di rumah berkas yang menggunakan urutan dan susunan NPWP dalam penataannya.

B. Mekanisme Pendaftaran dan Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Petisah

Adapun mekanisme yang dilakukan dalam hal pendaftaran pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak Orang Pribadi adalah sebagai berikut:

4. Menerima formulir Permohonan Pendaftaran dan Perubahan Data Wajib Pajak, berfungsi sebagai formulir pendaftaran, yang telah ditandatangani Wajib Pajak atau kuasanya yang sah beserta lampirannya.

5. Memeriksa kelengkapan formulir Permohonan Pendaftaran dan Perubahan Data Wajib Pajak yang terdiri dari :

a. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas :

• Fotokopi Kartu Tanda Penduduk bagi penduduk Indonesia, atau Paspor ditambah surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa bagi orang asing.

b Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas :

• Fotokopi Kartu Tanda Penduduk bagi penduduk Indonesia, atau Paspor ditambah surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang sekurang-kurangnya Lurah/ Kepala Desa bagi orang asing.

• Surat keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari instansi yang berwenang sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa.

6. Mengisi kolom-kolom pada formulir Permohonan Pendaftaran dan Perubahan Data Wajib Pajak yang diisi oleh petugas.

7. Mengirim kelengkapan persyaratan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.

8. Menerima kartu Nomor Pokok Wajib Pajak dan Surat Keterangan Terdaftar dan atau Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dari Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak.

Catatan: Dalam hal alamat Wajib Pajak terbukti tidak benar, maka permohonan pendaftaran Wajib Pajak dan atau pelaporan usaha Wajib Pajak ditolak dan Wajib Pajak menerima Surat Penolakan Pendaftaran Wajib Pajak dan Pelaporan

C. Hak Dan Kewajiban Setelah Memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak

Banyak wajib pajak yang sudah memiliki NPWP tetapi tidak memenuhi hak dan kewajibannya sebagai Wajib Pajak. Hal ini disebabkan oleh karena Wajib Pajak tidak mau dan tidak tahu menggunakan haknya dikarenakan Wajib Pajak menganggap segala yang berhubungan dengan pajak merepotkan dan

peraturan-peraturan yang senantiasa berubah membuat masyarakat bingung, misalnya Wajib Pajak tidak menggunakan haknya membuat Surat Permohonan Penundaan masuknya SPT karena Wajib Pajak merasa malas, dan menganggap pengurusannya sulit sehingga ia lebih memilih dikenakan denda daripada mengurus surat permohonan masuknya SPT.

Sedangkan sebagian lagi belum mengetahui apa sebenarnya hak dan kewajibannya sebagai Wajib Pajak sehingga Wajib Pajak tersebut tidak menjadi Wajib Pajak aktif, tetapi hanya sekedar menjadi Wajib Pajak pasif agar memperoleh NPWP yang digunakan untuk kepentingan pribadinya. Seharusnya menjadi Wajib Pajak mempunyai kewajiban menghitung, menyetor, dan melaporkan pajaknya walaupun nihil. Wajib Pajak tetap mempunyai kewajiban melapor, jika Wajib Pajak terlambat atau tidak melaporkan pajaknya maka Wajib Pajak tersebut akan tetap dikenakan sanksi sesuai Peraturan Perundangan-Undangan yang berlaku.

Wajib pajak yang telah memiliki NPWP mempunyai hak:

1. Mendapatkan pelayanan dari instansi-instansi tertentu atau fiskus.

2. Memperoleh dokumen-dokumen yang dipergunakan untuk pembayaran pajak terutang.

3. Membuat permohonan penundaan pemasukan SPT, penundaan dan pengangsuran pembayaran pajak.

4. Meminta adanya suatu keterangan tertulis yang menjadi dasar penggenaan pajak dalam Surat Ketetapan Pajak (SKP).

6. Meminta kompensasi dan restitusi pajak.

7. Meminta penghapusan atau pengurangan sanksi serta pembetulan SPT yang salah.

8. Memberi kuasa kepada orang lain untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Wajib pajak yang telah memiliki NPWP mempunyai kewajiban:

1. Menghitung sendiri besar pajaknya yang harus dibayar oleh Wajib Pajak. 2. Menyetorkan pajaknya yang terutang ke Bank-Bank Persepsi atau Kantor Pos. 3. Melaporkan pembayaran pajaknya ke Kantor Pelayanan Pajak yang terutang.

D. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Direktorat Jenderal Pajak Untuk Meningkatkan Jumlah Wajib Pajak

Untuk mendukung penerimaan pajak agar optimal, upaya peningkatan Wajib Pajak yang dilakukan Dirjen Pajak untuk meningkatkan jumlah Wajib Pajak yang memiliki NPWP dapat ditempuh dengan dua cara yaitu:

1. Ekstensifikasi Pajak yaitu: Tindakan yang dilakukan oleh Dirjen Pajak dengan melakukan penambahan jumlah Wajib Pajak. Dalam hal ini, Dirjen Pajak memberikan wewenang kepada Wajib Pajak untuk mendaftarkan diri, artinya yang Wajib Pajak mendaftarkan diri hanyalah yang sudah memenuhi ketentuan menjadi Wajib Pajak dengan penghasilan satu tahun di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak

(PTKP),PTKP 2009 adalah Rp 15.840.000 untuk Wajib Pajak, Rp 1.320.000 tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin, Rp 1.320.000 tambahan untuk setiap anggota sedarah dalam garis keturunan paling banyak tiga orang untuk setiap keluarga.Tetapi tetap saja tingkat kesadaran pajak kita masih rendah, sehingga Dirjen Pajak melakukan berbagai upaya dengan pendekatan biaya hidup Wajib Pajak tersebut,apakah memiliki/menyewa rumah yang cukup besar, listrik 1.300W, telepon, Handphone, mobil, motor, dll.

2. Intensifikasi Pajak yaitu: Dengan melakukan peningkatan kualitas aparatur perpajakan (Tax Administration Reform), pelayanan prima terhadap Wajib Pajak, dan pembinaan kepada para Wajib Pajak, pengawasan administratif, pemeriksaan, penyidikan, serta penegakan hukum.Tindakan ini berupa upaya Dirjen Pajak dengan melakukan berbagai penyuluhan, seminar, lokakarya, pelatihan, simulasi, brosur, majalah, surat kabar, radio dan sebagainya.

Berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pajak bernomor SE-68/PJ/2009 tentang Target Rasio Penyampaian SPT Tahunan PPh pada 2009, Dirjen Pajak telah memerintahkan kepada Kepala Kanwil Dirjen Pajak bersama para Kepala KPP di wilayah kerjanya masing- masing untuk membuat target bulanan pemasukan SPT. Dirjen Pajak juga melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan jumlah Wajib Pajak dengan cara sebagai berikut:

1. Melakukan inventarisasi terhadap Wajib Pajak yang tidak atau belum menyampaikan SPT Tahunan PPh tahun pajak 2008.

2. Melakukan pemisahan antara Wajib Pajak baru dan lama (khusus Wajib Pajak Orang Pribadi)

3. Segera mengirimkan imbauan kepada Wajib Pajak baru dan segera menerbitkan Surat Teguran bagi Wajib Pajak lama yang dilanjutkan dengan Surat Tagihan Pajak sesuai ketentuan yang berlaku.

4. Memberikan edukasi perpajakan terutama kepada Wajib Pajak baru.

Upaya peningkatan jumlah Wajib Pajak juga didukung dengan adanya berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam tahun 2009, yaitu:

1.

Pembebasan biaya fiskal ke luar negeri mulai 2009 bagi yang memiliki NPWP dan telah berusia 21 tahun. Bagi masyarakat yang telah memiliki NPWP akan dibebaskan dari pengenaan Fiskal Luar Negeri mulai 2009. Pemungutan Fiskal Luar Negeri ini kelak akan dihapuskan secara total mulai 2011.

Ketentuan Tentang Kepemilikan NPWP Bagi Orang Yang Akan Bepergian Ke Luar Negeri.

2.

Sunset Policy adalah kebijakan pemberian fasilitas perpajakan, yang berlaku hanya di tahun 2008, dalam bentuk penghapusan sanksi administrasi perpajakan

berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-Undang Ketentuan Umun dan Tata Cara Perpajakan (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007)

Sunset Policy ini hanya berlaku dalam 1 tahun, yaitu mulai berlaku dari 1 januari 2008 sampai 31 Desember 2008.

Yang dapat memanfaatkan Sunset Policy adalah:

a) Orang Pribadi yang belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), yang dalam tahun 2008 secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan menyampaikan SPT Tahunan PPh untuk tahun pajak 2007 dan tahun-tahun pajak sebelumnya paling lambat 31 Maret 2009.

b) Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan yang telah memilki NPWP sebelum tahun 2008, yang menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2006 dan tahun-tahun pajak sebelumnya untuk melaporkan penghasilan yang belum diperhitungkan dalam pelaporan SPT Tahunan PPh yang telah disampaikan.

3.

Selain itu, dalam aturan RUU PPh ini juga diatur penerimaan tarif pemotongan atau pemungutan PPh yang berbeda bagi masyarakat yang telah memiliki NPWP.

Ketentuan Tentang Pengenaan PPh Pasal 21, 22, Dan 23 Yang Lebih Besar Dari Orang Pribadi/Badan Yang Tidak Memiliki NPWP.

Bagi wajib pajak (WP) penerima penghasilan dari pekerjaan yang tidak mempunyai NPWP akan dikenakan pemotongan PPh 21 sebesar 20% lebih tinggi dari tarif normal. Tapi bagi WP penerima penghasil dari jasa yang tidak mempunyai

NPWP dikenakan pemotongan PPh pasal 23 sebesar 100% lebih tinggi dari tarif normal.

Dan bagi WP yang dikenakan PPh pasal 22 yang tidak mempunyai NPWP, dikenakan pemungutan PPh 22 sebesar 100% lebih tinggi dari tarif normal.

Sebagai tambahan dapat disampaikan bahwa peningkatan NPWP juga dimungkinkan dilakukan melalui sarana elektronik (e-regsitration). Ini menandakan bahwa kemudahan fasilitas yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak juga telah meningkatkan kesadaran wajib pajak tentang pentingnya kepemilikan NPWP.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil analisis dan evaluasi data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Peranan daripada NPWP adalah sebagai sarana dalam administrasi perpajakan dan Tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

2. Setelah memperoleh NPWP, wajib pajak akan memperoleh hak untuk mendapatkan pelayanan dari instansi-instansi tertentu atau fiskus, Memperoleh dokumen-dokumen yang dipergunakan untuk pembayaran pajak terutang, Membuat permohonan penundaan pemasukan SPT, penundaan dan pengangsuran pembayaran pajak, meminta adanya suatu keterangan tertulis yang menjadi dasar penggenaan pajak dalam SKP, melakukan keberatan dan banding, meminta kompensasi dan restitusi pajak, meminta penghapusan atau pengurangan sanksi serta pembetulan SPT yang salah, memberi kuasa kepada orang lain untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya.

3. Setelah Memperoleh NPWP, Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk Menghitung sendiri besar pajaknya yang harus dibayar oleh wajib pajak, menyetorkan pajaknya yang terutang ke bank-bank persepsi atau kantor pos, melaporkan pembayaran pajaknya ke kantor pelayanan pajak yang terutang.

4. Upaya peningkatan wajib pajak yang dilakukan Dirjen Pajak untuk meningkatkan jumlah wajib pajak yang memiliki NPWP dapat ditempuh dengan dua cara yaitu ektensifikasi dan intensifikasi perpajakan.

B. Saran

Adapun dari hasil analisis dan sintesis atas pembahasan yang dilakukan, maka dapat diberikan saran/rekomendasi untuk dikaji dan ditindaklanjuti, yaitu:

1. Hendaknya peningkatan jumlah wajib pajak (meningkatnya pendaftaran NPWP) menjadi sebuah program yang berkelanjutan dalam rangka meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak.

2. Ada baiknya dalam pelaksanaan sosialisasi mengenai peranan NPWP kepada masyarakat ke depannya, peranan para akademisi seperti mahasiswa perpajakan dapat menjadi bahan pertambangan bagi Direktorat Jenderal Pajak, yang dalam hal ini KPP Pratama Medan Petisah. Dalam hal ini, pihak KPP Pratama Medan Petisah dapat berkoordinasi dengan pihak akademisi dalam rangka melaksanakan sosialisasi ke masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Cyrus, Sihaloho, 2003. Modul Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta.

Marsyahrul, Tony, 2005. Pengantar Perpajakan, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia; Jakarta.

Mardiasmo, 2008. Perpajakan. Penerbit Andi; Yogyakarta.

Rusjdi, Muhammad, 2006. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, PT. Indeks Kelompok Gramedia;Jakarta.

Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Direktorat Jenderal Pajak. 2009. Seri KUP: NPWP&Manfaatnya. Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Humas Direktorat Jenderal Pajak RI.

Direktorat Jenderal Pajak. 2009. Seri KUP: NPWP &Pengukuhan PKP. Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Humas Direktorat Jenderal Pajak RI.

Direktorat Jenderal Pajak. 2009. Seri KUP: Tata Cara Pendaftaran dan Pemberian NPWP serta Pelaporan dan Pengukuhan PKP. Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Humas Direktorat Jenderal Pajak RI.

Direktorat Jenderal Pajak. 2008. Sosialisasi Sunset Policy 2008 (Slide Presentasi). Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I.

Direktorat Jenderal Pajak. 2008. Sosialisasi Pengenalan Pokok-Pokok Perubahan UU PPh yang Baru (Slide Presentasi). Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I.

Dokumen terkait