BAB IV PROBLEM PENCATATAN PERKAWINAN
B. Tata Cara dan Prosedur Perkawinan
Perkawinan adalah suatu peristiwa hukum. Sebagai suatu peristiwa hukum maka suatu perkawinan akan mengikuti hukum yang dianut oleh pelakunya. Hukum yang dianut bisa mengacu kepada hukum agama dan kepercayaannya serta hukum negara, mengikuti hukum agama dan kepercayaannya saja atau mengikuti hukum negara saja.10 Semua tergantung pada kemauan para pelakunya meski negara telah mengaturnya. Seperti halnya perkawinan siri, yang dianut oleh sebagian masyarakat di Indonesia, akan mengikuti ketentuan dan tata cara menurut hukum perkawinan Islam.
Tata cara perkawinan siri itu sendiri sebenarnya adalah sama dengan tata cara perkawinan yang telah ditentukan dan diatur dalam hukum perkawinan Islam. Hal demikian tentunya berbeda dengan tata cara perkawinan yang telah ditentukan dan diatur dalam Undang - Undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974 Pasal 12 yang menentukan tata cara pelaksanaan perkawinan untuk selanjutnya diatur dan dijabarkan melalui Peraturan Pemerintah nomor 9 Tahun 1975 dan Peraturan Menteri Agama
9K.H. Ma’ruf Amin , Ketua Komisi Fatwa MUI menggunakan istilah Kawin Bawah
tangan untuk istilah Kawin Siri, suatu perkawinan antara pasangan Muslim yang tidak dicatatkan melalui Pegawai Pencatat Nikah di KUA tetapi tetap sah sepanjang memenuhi syarat dan rukun perkawinan berdasarkan syariat Islam. Lihat penjelasannya pada
www.Hukumonline.com/berita/baca/hol15651/pencatatan-nikah-akan-memperjelas-status-hukum, diakses pada 4 mei 2015.
10
52
No. 11 tahun 2007 serta juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yakni Inpres No. 1 tahun 1991.
Perkawinan yang tidak dicatat dilakukan di hadapan tokoh agama atau di pondok pesantren atau di kediaman tokoh ulama setempat yang dipimpin oleh seorang kyai atau Ustadz dengan dihadiri oleh beberapa orang yang berfungsi sebagai saksi. Bagi pasangan yang ingin melakukan perkawinan tersebut, cukup datang ke tempat Kyai yang diinginkan dengan membawa seorang wali bagi mempelai wanita dan dua orang saksi.11 Biasanya bagi Kyai setelah menikahkan pasangan kawin siri ini, Kyai menyarankan pada mereka agar segera mendaftarkan perkawinan mereka ke Kantor Urusan Agama setempat. Dalam perkawinan siri ini yang bertindak sebagai Qadhi atau orang yang menikahkan adalah tokoh agama atau kyai tersebut setelah menerima pelimpahan dari wali nikah calon mempelai wanita.
Dengan demikian pelaksanaan perkawinan siri ini dilakukan secara lisan dan tidak dicatat dalam suatu bukti tertulis atau akta atau dalam bentuk pencatatan lain. Semua identitas para pihak dan hari, tanggal, tahun dan lain-lain tidak dicatat. Setelah prosesi perkawinan tidak meninggalkan jejak yang bisa dijadikan bukti telah terjadi perkawinan kecuali kamera atau video perekam, bila diabadikan dengan media itu.
Setidaknya dalam kasus perkawinan tidak dicatat, terdapat sedikitnya 17% perkawinan tidak dicatat yang terdapat di daerah yang menjadi tempat penelitian.12
11
Muhammad Yusup , Wawancara pribadi, Bekasi, 6 April 2015. 12
53
2. Perkawinan Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974
Tata cara pencatatan nikah adalah proses pelaksanaan pencatatan nikah dari mulai permulaan pemberitahuan sampai tercatatnya nikah itu, yaitu pada saat penandatanganan akta oleh masing-masing pihak yang berkepentingan. Adapun tata cara atau prosedur malaksanakan perkawinan sesuai urutannya sebagai berikut:
1. Pemberitahuan kehendak nikah
Dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Menteri Agama No. 11 tahun 2007 tentang Pencatatan Perkawinan ditetapkan, bahwa setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan kehendaknya kepada pegawai pencatat di tempat perkawinan akan dilangsungkan.
Pemberitahuan tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Menteri Agama No. 11 tahun 2007 bahwa ditentukan paling lambat 10 hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan. Namun, ada pengecualiannya terhadap jangka waktu tersebut karena satu alasan yang penting diberikan oleh Camat (atas nama) Bupati Kepala Daerah.13
Bagi orang yang beragama Islam, pemberitahuan disampaikan kepada Kantor Urusan Agama, karena berlaku Undang-undang No. 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk. Sedangkan bagi orang
13
M. Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam,( Jakarta : Siraja, 2003), h. 126-127.
54
yang bukan beragama Islam, pemberitahuannya dilakukan kepada Kantor Catatan Sipil setempat.14
Pemberitahuan kehendak nikah dapat dilakukan oleh calon mempelai atau orang tua atau wakilnya dengan membawa surat-surat seperti yang diperlukan,antara lain:
a) Surat persetujuan kedua calon mempelai.
b) Akta kelahiran atau surat kenal lahir atau surat keterangan asal-usul. c) Surat keterangan mengenai orang tua.
d) Surat keterangan untuk kawin dari Kepala Desa yangmewilayahi tempat tinggal yang bersangkutan. (Model Na).
e) Surat izin kawin dari pejabat yang ditunjuk oleh MENHAKAM/PANGAB bagi calon mempelai anggota ABRI
f) Surat izin beristeri lebih dari satu (1) untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS)15.
g) Surat kutipan buku pendaftaran talak/cerai atau surat talak/cerai jika calon mempelai seorang janda atau duda.
h) Surat keterangan kematian suami/istri dari Kepala Desa yang mewilayahi tempat tinggal atau tempat matinya suami/istri.
i) Surat izin dan atau dispensasi bagi calon mempelai yang belum mencapai umur menurut ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 6 ayat 2 s/d 6 dan Pasal 7 ayat 1 s/d 3. j) Surat dispensasi Camat bagi perkawinan yang akan dilangsungkan
kurang dari 10 hari kerja setelah pengumuman.
k) Surat izin poligami dari Pengadilan Agama bagi calon suami yang hendak beristri lebih dari seorang.
l) Surat keterangan tidak mampu dari Kepala Desa mereka yang tidak mampu.
14
Amiur Nurudin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2004), h. 125.
15
Untuk Pegawai Negeri Sipil, izin tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1983 jo. Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 1990 tentang izin perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil.
55
m) Surat kuasa yang disahkan oleh Pegawai Pencatat Nikah apabila salah seorang mempelai atau keduanya tidak dapat hadir sendiri karena sesuatu alasan yang penting sehingga mewakilkan kepada orang lain.16 2. Penelitian
Setelah adanya pemberitahuan akan adanya perkawinan, prosedur selanjutnya diadakan penelitian yang dilakukan Pegawai Pencatatat Nikah. Sesuai Pasal 6 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, bahwa Pegawai Pencatat meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan (larangan nikah) baik menurut hukum munakahat17 ataupun menurut perundang-undangan yang berlaku18.
3. Pengumuman
Setelah dipenuhi tata cara dan syarat - syarat pemberitahuan serta tidak ada halangan perkawinan, maka tahap berikutnya adalah pegawai pencatat perkawinan menyelenggarakan pengumuman. Berdasarkan Pasal 8 PP No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang - undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan pengumuman tentang adanya kehendak melangsungkan perkawinan. Pegawai pencatat menempelkan surat pengumuman dalam bentuk yang telah ditetapkan pada kantor - kantor pencatatan perkawinan yang daerah hukumnya meliputi wilayah tempat
16
Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Pedoman Konselor Keluarga Sakinah, 2001, h. 23-24.
17
Menurut pendapat para ulama fiqh bahwa yang terdapat larangan nikah apabila terdapat diantara calon mempelai adanya hubungan sedarah, hubungan perwalian, hubungan saudara karena tali pernikahan, dan hubungan sepersusuan.
18
Yang dimaksud Perundang – undangan yang berlaku adalah Undang – undang perkawinan yang berlaku di Indonesia yaitu Undang – Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan.
56
dilangsungkannya perkawinan dan tempat kediaman masing - masing calon mempelai.
4. Pelaksanaan
Sesuai ketentuan pemberitahuan tentang kehendak calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan, maka perkawinan itu dilangsungkan setelah hari kesepuluh sejak pengumuman.
5. Pencatatan
Berdasarkan Peraturan Menteri Agama No. 11 tahun 2007 tentang Pencatatan Perkawinan bahwa perkawinan dianggap sah tercatat secara resmi apabila akta perkawinan telah ditandatangani oleh kedua mempelai, dua orang saksi, pegawai pencatat dan bagi yang beragama Islam juga wali atau yang mewakilinya. Dan pada pasal 11 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 dijelaskan bahwa dengan pencatatan akta perkawinan, maka perkawinan telah tercatat secara resmi.19