• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Kelola Pemerintahan yang Baik (Good Governance)

Dalam dokumen Oleh : MILLATI HANIFAH WARDANI NIM : (Halaman 50-59)

PRINSIP PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM

D. Tata Kelola Pemerintahan yang Baik (Good Governance)

Good governance merupakan suatu sistem pemerintahan yang layak dimana tata pemerintahan yang layak dan baik dan berwibawa. Konsep good governance pertama digagas oleh Bank Dunia (World Bank), United Nations Development Program (UNDP), Asian Development Bank (ADB), dan kemudian dikembangkan oleh banyak pakar di negara-negara berkembang untuk mewujudkan gagasan-gagasan baik menyangkut tata pemerintahan

46 Yesi Anggraini, “Perbandingan Perencanaan Pembangunan Nasional Sebelum dan Sesudah Amandemen Undang-Undang Dasar 1945”, …, h. 80.

berdasarkan kondisi lokal dengan mengutamakan unsur-unsur kearifan lokal.47

Lebih lanjut, Good governance dapat diartikan sebagai kualitas hubungan antara pemerintah dengan masyarakat yang dilayani dan dilindungi, maka berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa good governance merupakan tata kelola pemerintahan yang baik yang diselenggarakan secara bertanggung jawab. Terbentuknya good governance yang baik tidak hanya dinilai dengan tanggung jawab pemerintah untuk terbuka, mau mendengar, tanggap, dan mau melibatkan masyarakat, tetapi juga melalui peran masyarakat untuk bertanggung jawab, aktif serta memiliki kesadaran.48

Jimly Asshiddiqie menyatakan dalam sistem negara modern yang berdasar pada supremasi hukum dan konstitusi, negara, pasar, dan masyarakat madani harus berada dalam kedudukan yang harus seimbang, dan berada dalam hubungan sinergis dan secara fungsional saling menunjang.49 Akan tetapi, pembedaan diantara ketiganya dianggap penting, sehingga ketiganya tidak saling mengintervensi ke dalam urusan masing-masing. Ketiga wilayah atau ruang lingkup kekuasaan itu mempunyai logika dan hukum-hukumnya sendiri. Ketiganya diidealkan harus berjalan seiring dan sejalan, sama-sama kuat dan sama-sama saling mengendalikan satu sama lain, tetapi tidak boleh saling mencampuri atau dicampuradukkan.50

Berbicara tentang penerapan good governance pada sektor publik juga tidak dapat terlepas dari visi Indonesia masa depan sebagai fokus tujuan pembangunan kepemerintahan yang baik. Pemerintah yang baik dapat dikatakan sebagai pemerintah yang menghormati kedaulatan rakyat,

47 Agus Dwiyanto, “Mewujudkan Good Geovernance Melalui Pelayanan Publik”, (Yogyakarta: UGM Press, 2006), h. 52.

48 Abdullah, Kasman, “Penyelenggaraan Pemerintahan Dalam Konsep Good Governance”,

Jurnal Meritokrasi Vol. 1 No. 1, (2002) h. 65.

49 Jimly Asshiddiqie, “Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia”, (Jakarta: PSHTN FH-UI, 2004), h. 92

50 Jimly Asshiddiqie, “Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan Dalam

memiliki tugas pokok yang mencakup mlindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Semua itu sudah seharusnya dijadikan landasan bagi pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan sehingga dapat terwujud kepemerintahan yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip good governance. United Nations Develompent Programme (UNDP) menetapkan karakteristik yang harus dimiliki dalam tata kelola pemerintahan yang baik, yakni:51

a) Partisipasi (participation)

Partisipasi diartikan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan untuk turut serta dalam proses pengambilan keputusan atau kebijakan publik dalam penyelenggaraan negara.

b) Supremasi hukum (rule of law)

Pemerintah dalam hal ini menjamin bahwa segala pengambilan kebijakan publik akan didasarkan kepada hukum untuk menjamin tidak terlanggarnya hak warga negara.

c) Transparansi (transparency)

Proses pengambilan keputusan, pelaksanaan, serta evaluasi suatu kebijakan publik harus transparan dan tidak boleh terhalang.

d) Daya tanggap (responsiveness)

Instansi pemerintahan harus memberikan pelayanan yang responsif pada masyarakat yang membutuhkan pelayanan publik.

e) Beriorentasi kepada kesepakatan (consensus orientation)

Kebijakan publik yang diambil oleh pemerintah harus didasarkan kepada pertimbangan terbaik atas kesepakatan bersama dengan masyarakat. f) Berkeadilan (equity)

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah harus berkeadilan dan bersifat non-diskriminatif.

51 Hanif Nurcholis, “Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi Daerah”, (Jakarta: Grasindo, 2005), h. 300-3001.

g) Efektif dan Efisien (effectiveness and efficiency)

Pengambilan kebijakan publik harus mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan dan menggunakan sumber daya secara optimal.

h) Akuntabilitas (accountability)

Seluruh kebijakan publik yang dibuat oleh negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

i) Visi strategis (strategic holder)

Pejabat publik harus memiliki visi dan misi strategis untuk membangun masa depan negara menuju ke arah yang lebih baik berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang menyejahterakan.

Karaketristik tersebut merupakan pondasi penyelenggaraan negara yang baik. Orientasi pembangunan harus ditujukan untuk kesejahteraan dan keadilan masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip good governance sangat penting dalam pelaksanaan pelayanan publik untuk meningkatkan kinerja aparatur negara. Pada hakikatnya negara dalam hal ini aparatur pelayanan publik haruslah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara holistik.

Tata kelola pemerintahan yang baik tidak hanya diakomodir dalam tataran filosofis, pemerintah secara yuridis mengejawantahkan landasan ide tersebut dalam peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 menjadi landasan yuridis pemerintah untuk mengimplementasikan good governance sebagai acuan penggunaan wewenang pejabat pemerintahan dalam mengambil kebijakan atau keputusan dan/atau melakukan tindakan dalam ruang lingkup penyelenggaraan pemerintahan.

Pengakomodiran asas-asas umum secara spesifik tertuang Pasal 10 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 sebagai syarat sah atau tidaknya keputusan dan/atau tindakan yang dilakukan oleh pejabat tata usaha negara. Praktik penyelenggaraan negara harus didasarkan kepada asas-asas umum pemerintahan yang baik, yaitu:

Secara formil, asas kepastian hukum didefinisikan sebagai memberi hak kepada yang berkepentingan untuk mengetahui dengan tepat apa yang dikehendaki dari padanya.52 Esensi penting yang dibangun di dalam asas kepastian hukum (legal certainty) sesungguhnya menghendaki dihormatinya hak-hak hukum yang diperoleh individu warga negara berdasarkan suatu keputusan kebijakan pejabat tata usaha negara, sehingga terciptanya stabilitas hukum, dalam hal ini suatu keputusan yang telah dikeluarkan pejabat tata usaha negara harus berisi kepastian dan tidak begitu mudah untuk dicabut kembali.53

Oleh karena itu, asas kepastian hukum menekankan kepada landasan peraturan perundang-undangan dalam penyelenggaraan pemerintahan, sering kali juga disebut sebagai asas legalitas. Asas kepastian hukum menggariskan bahwa “seluruh kebijakan dan keputusan atau tindakan harus didasarkan pada landasan hukum yang jelas dan kuat dan tidak melanggar hukum”.

b. Asas Kepentingan Umum

Asas kepentingan umum dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang administrasi pemerintahan didefinisikan sebagai asas yang mendahulukan kesejahteraan dan kemanfaatan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, selektif, dan tidak diskriminatif. Pada prinsipnya, asas penyelenggaraan kepentingan umum menghendaki agar dalam setiap keputusan yang merupakan perwujudan dari penyelenggaraan tugas pokok pejabat tata usaha negara dan/atau instansi pemerintah yang diwakilinya, selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan individu dan golongan. Kuntjoro Purbopranoto berpandangan bahwa kelemahan

52 Philipus M Hadjon dkk., “Pengantar Hukum Administrasi di Indoensia”, (Yogyakarta: UGM Press, 2011), h. 274.

53 Safri Nugraha, “Laporan Akhir Tim Kompendium Bidang Hukum Pemerintahan yang

asas kepastian legalitas yang kaku dan membutuhkan waktu lama untuk melakukan perubahan, sementara dinamika kehidupan orang banyak terus bergerak dan mengalami perubahan yang cepat, sehingga sering kali Pemerintah bertindak atau mengeluarkan keputusan tata usaha negara berdasarkan kebijaksanaan untuk menyelenggarakan kepentingan umum.54

c. Asas Keterbukaan

Keterbukaan menurut Undang-Undang Administrasi Pemerintahan didefinisikan sebagai melayani masyarakat untuk mendapatkan akses dan memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara. Asas keterbukaan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan haknya untuk mengakses data/informasi yang benar terkait langkah dan hasil-hasil yang dicapai oleh pemerintah. Hak tersebut dimaksudkan sebagai bagian dari pengikutsertaan secara aktif (partisipasi) masyarakat dalam memperbaiki dan mengurus negara.

Penerapan asas keterbukaan berarti mewajibkan negara untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat dalam memberikan tanggapan dan kritik yang membangun terhadap pemerintah, memberikan penilaian terhadap penyelenggaraan pemerintahan atas informasi penyelenggaraan negara yang transparan. Transparansi menjadi dasar keterbukaan pemerintah dalam pengambilan kebijakan. Akan tetapi penerapan prinsip ini harus tetap mengindahkan aturan hukum, moral dan sosial yang berlaku.55 Dalam hal ini, keterbukaan informasi tidak boleh menderogasi hak asasi pribadi atau golongan,

54 Ridwan H.R., “Hukum Administrasi Negara”, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), h. 277.

55 Idup Suhady, “Kepemerintahan yang Baik, Modul Diklat Prajabatan Gol. I dan II,” (Jakarta: Lembaga Administrasi Negara, 2009), h. 23-24.

rahasia dan keselamatan negara, serta tidak boleh diketahui, dimiliki dan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak memiliki hak.56

d. Asas Kemanfaatan

Kemanfaatan didefinisikan secara luas dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan dengan mencakup kepentingan antara individu, warga negara indonesia dengan warga negara asing, pemerintah, serta kelompok masyarakat satu dengan lainnya. Dalam penyelenggaraan negara, kemanfataan harus diterapkan secara seimbang dan dinikmati oleh seluruh pihak yang berkepentingan. Kemanfaatan berkaitan erat dengan asas keadilan dan proporsionalitas yang juga merupakan bagian dari asas-asas umum pemerintahan yang baik.

e. Asas Ketidakberpihakan

Asas ketidakberpihakan menghendaki keputusan dan/atau tindakan pejabat tata usaha negara yang mempertimbangkan kepentingan para pihak secara keseluruhan dan tidak diskriminatif. Berdasarkan landasan tersebut, unsur-unsur yang membentuk asas ketidakberpihakan dalam Undang-Undang Administrasi Pemerintahan, adalah:

1) Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan;

2) Dalam menetapkan dan/atau melakukan Keputusan dan/atau Tindakan;

3) Mempertimbangkan kepentingan para pihak secara keseluruhan 4) Tidak diskriminatif.

Asas ketidakberpihakan memberikan kewajiban terhadap setiap badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam membuat keputusan, perlakuan atau tindakan, mempertimbangkan kepentingan para pihak secara keseluruhan dan wajib bersikap dan bertindak adil, dan tidak diskriminatif atas dasar apapun. Negara dituntut adil dan profesional

56 Idup Suhady, “Kepemerintahan yang Baik, Modul Diklat Prajabatan Gol. I dan II”... h. 24.

dalam penyelenggaraan pemerintahan sesuai peraturan perundang-undangan yang menjadi landasannya. Asas ini sejalan dengan amanat Pasal 27 Undang-Undang Dasar 1945 yang memberikan kedudukan yang sama kepada semua warga Negara di depan hukum dan pemerintahan. Asas ini memberikan pedoman bagi aparatur pemerintah di dalam perbuatannya yang berakibat hukum agar menempatkan dirinya sebagai subyek hukum agar menempatkan dirinya sebagai subyek hukum yang sama kedudukannya dengan pihak lain.57

f. Asas Kecermatan

Kecermatan menggariskan bahwa keputusan dan/atau tindakan pejabat tata usaha negara dipersiapkan dengan cermat dan berdasarkan pada informasi dan dokumen yang lengkap untuk mendukung legalitas penetapan dan pelaksanaan keputusan tata usaha negara. Asas kecermatan (carefulness) mewajibkan pengambil kebijakan (pejabat tata usaha negara) untuk bertindak hati-hati, yaitu dengan cara mempertimbangkan secara komprehensif mengenai segenap aspek dari materi keputusan, agar tidak menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat.58

g. Asas Tidak Menyalahgunakan Wewenang

Tidak menyalahgunakan wewenang berarti pengambilan keputusan seorang pejabat/instansi didasarkan pada kewenangan yang diberikan Negara kepadanya, serta digunakan sesuai dengan maksud diberikannya kewenangan tersebut. Asas ini dikenal sebagai “detournement de pouvoir” atau asas larangan bertindak sewenang-wenang.59 Asas ini merupakan pedoman bagi pejabat pemerintah

57 Faried Ali dan Nurlina Muhidin, “Hukum Tata Pemerintahan”, (Bandung: Refika Aditama, 2012), h. 131.

58 Safri Nugraha, “Laporan Akhir Tim Kompendium Bidang Hukum Pemerintahan yang

Baik”, (Jakarta: BPHN, 2007), h. 12.

59 Safri Nugraha, “Laporan Akhir Tim Kompendium Bidang Hukum Pemerintahan yang

maupun badan aparatur pemerintahan agar tidak bertindak atas sesuatu yang bukan wewenangnya atau menjadi wewenang pejabat lain/badan lain.60

h. Asas Pelayanan Yang Baik

Asas tersebut didefinisikan sebagai pemberian pelayanan oleh pemerintah yang tepat waktu, memiliki prosedur dan biaya yang jelas, sesuai dengan standar pelayanan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tujuan dari asas tersebut ialah agar masyarakat atau publik merasa puas dengan pelayanan yang dilakukan oleh pejabat publik, sehingga kualitas pelayanan dan instansi pun dapat meningkat dan berkembang seiring waktu.

60 Faried Ali dan Nurlina Muhidin, "Hukum Tata Pemerintahan", (Bandung: Refika Aditama, 2012), h. 132.

49

BAB IV

PENYELESAIAN SENGKETA PADA PEMBANGUNAN NEW

Dalam dokumen Oleh : MILLATI HANIFAH WARDANI NIM : (Halaman 50-59)