• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Laksana / Prosedur yang sedang berjalan 1. Proses Flow Chart Produksi

101 1. Material receiving

• Penerimaan bahan-bahan baku yang telah dipesan sebelumnya. 2. Incoming inspection

• Pemeriksaan kuantitas dan kualitas bahan baku sesuai pesanan. 3. Storage

• Bahan baku yang sudah diperiksa dimasukkan ke dalam gudang penyimpanan.

• Bahan yang sudah datang didata dan diberikan ke bagian pembelian dan produksi.

4. Material weighing

• Penimbangan bahan baku yang akan dipergunakan dalam satu kali pemrosesan, hal ini dilakukan dengan tujuan tidak ada material yang sia-sia.selain itu hal ini sangat berpengaruh dengan kualitas produk 5. Mixing

• Proses pencampuran bahan-bahan yang sudah melalui proses penimbangan.

• Pada proses ini, campuran bahan-bahan dipanaskan. 6. Sheeting

• Pada proses ini, bahan yang sudah selesai dipanaskan dicetak menjadi lembaran-lembaran.

7. Compound quality check

102 • Sebaliknya jika hasil sheeting pertama tidak memenuhi standar yang

ditetapkan maka proses akan diulangi ke tahap mixing. 8. Cutting

• Lembaran – lembaran yang sudah lolos proses compound quality check dipotong sesuai bentuk yang diinginkan.

9. Storage

• Pemisahan dan penyimpanan bagian sisa yang tidak terpakai dalam suatu proses agar dapat digunakan untuk dibuat produk yang lain atau untuk diolah lagi

10. Press

• Proses pematangan bahan mentah menjadi hasil produksi yang Selain harus memperhatikan temperatur dan waktu, tekanan tiap barang juga berbeda antara yang satu dengan yang lain, hal ini dilakukan untuk membentuk suatu barang jadi yang sesuai dengan bentuk yang dibutuhkan dan dapat digunakan oleh konsumen

11. Hatsumono & owarimono

• Proses pengecekan produk pertama agar dapat dipastikan bahwa itu adalah produk yang baru keluar dari proses yang terbaru yang sedang dijalankan.

12. Patrol check

• Proses pengecekan produk sesuai dengan kuantitas serta tempat keberadaan produk tersebut.

103 13. Finishing

• Proses penyelesaian akhir, produk dirapihkan produk demi produk hingga memenuhi standar produk yang akan dipasarkan.

14. Checking

• Barang yang sudah jadi di-finishing diperiksa satu per satu secara manual.

• Mendata produk yang tidak memuhi standar. 15. Out going inspection I

• Sampling visual barang. Barang tidak lagi dicek satu per satu 16. Packing

• Proses pengepakan barang hasil produksi yang siap pakai dengan cara memasukan barang persatuan kedalam kantong plastik, kemudian dimasukan kedalam box yang telah tersedia untuk dapat dikirimkan

17. Out going inspection II

• Proses pengecekan terakhir, berupa pengecekan kuantitas barang per-box agar sesuai dengan pesanan

18. F/G Storage

• Penyimpanan barang hasil produksi yang masih tersisa dalam satu proses untuk dapat ditambahkan pada proses barang selanjutnya 19. Delivery

104 3.3.2. Analisa Sistem Jaringan Komputer yang Berjalan pada PT.

Yamagotomu Indonesia

Topologi yang digunakan di PT. Yamatogomu Indonesia adalah jenis Topologi Star. Pada topologi ini, setiap komputer pada jaringan terhubung secara langsung dengan switch atau hub. pada topologi ini, bandwidth dapat digunakan secara optimal, karena setiap komputer mempunyai kabel tersendiri yang terhubung dengan switch atau hub.Bila terjadi gangguan di suatu jalur kabel, maka tidak akan menggangu jaringan secara menyeluruh, tetapi jika menggunakan hub seperti sekarang sangat rentan terhadap collution sehingga sangat mudah mengakibatkan jaringan down.

PT. Yamatogomu Indonesia telah menggunakan jaringan komputer untuk mempermudah pertukaran data dan tersimpan dengan rapi dalam server sehingga memudahkan user untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dengan mudah dan proses pengolahan data tersebar dimasing-masing client sehingga tidak membebani server.Selain itu PT. Yamatogomu Indonesia menggunakan koneksi internet untuk mendapatkan informasi-informasi yang mereka inginkan.

Jaringan komputer PT. Yamatogomu Indonesia menggunakan model client-server dimana terdapat server yang melayani client tetapi proses terjadi di masing-masing client. Server digunakan untuk menyimpan data kedalam database secara terpusat, sehingga akan mempermudah proses pertukaran data dan proses backup. Penggunaan

105 jaringan komputer lebih dititik-beratkan pada file sharing dan printer

sharing. PT.Yamatogomu Indonesia mempunyai 4 gedung yaitu office, production 1 , production 2 dan production 3.

Berikut ini merupakan gambaran secara umum dari jaringan komputer yang sedang berjalan pada PT. Yamatogomu Indonesia

Gambar 3.3 Topologi Jaringan Komputer pada PT. Yamatogomu Indonesia saat ini

PT. Yamatogomu Indonesia menggunakan Telkom speedy unlimited dari ISP telkom dengan menggunakan teknologi ADSL.

106 PT. Yamatogomu Indonesia memiliki Kantor Pusat di Jepang dan memiliki

beberapa pelanggan/distributor di negara lain, yaitu: 1. AINAK (Amerika)

2. PHILINAK (Filipina) 3. SIAMNAK (Thailand) 4. EURONAK (Ceko)

Berikut Topologi mengenai jaringan WAN PT.Yamatogomu Indonesia

Gambar 3.4 : Topologi WAN PT. Yamatogomu Indonesia dengan kantor pusat dan pelanggan/distributor.

107 3.4. Analisis Lalu-lintas Distribusi Data

Leader tiap bagian menyusun laporan harian, kemudian laporan tersebut dimasukan kedalam database perusahaan.Database inilah yang nantinya akan digunakan sebagai sumber dalam penyusunan PPAP.Saat ini kantor pusat dan pelanggan/distributor belum dapat mengakses database ini secara langsung.

Distribusi data saat ini masih dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan menggunakan e-mail dan fax. Namun analisa lalu lintas data dapat dilakukan dengan menghitung besarnya ukuran data yang harus dikirimkan dari PT. Yamatogomu Indonesia ke kantor pusat dan pelanggan. Setelah dilakukan wawancara dan pengamatan, diperoleh informasi sebagai berikut:

1. Ukuran file PPAP yang harus dikirmkan ke tiap-tiap pelanggan dan kantor pusat di Jepang yang juga merupakan pelanggan PT. Yamatogomu Indonesia setiap tiga hari sekali berukuran 25 MB. 2. File laporan keuangan yang dikirim tiap minggu sekali dengan

ukuran lebih dari 10 MB.

3. File laporan gaji karyawan yang dikirim 1 bulan sekali dengan ukuran 10MB per bulan.

Dari informasi di atas, dapat diperoleh data sebagai berikut :

1. Rata–rata besar file yang akan dikirm ke pabrik setiap harinya dalam satu kali pengiriman adalah 25 MB. Dengan pengiriman 8-9 kali per bulannya. Dengan total lebih dari 200 MB per bulannya.

108 2. File keuangan dikirim ke kantor pusat di jepang 4 kali tiap

bulannya dengan total lebih dari 40 MB per bulannya.

3. File laporan gaji karyawan dikirim ke kantor pusat di jepang tiap bulannya dengan total lebih dari 10 MB per bulannya.

Gambar 3.5 Aliran data PT. Yamatogomu Indonesia

Total data yang dikirim perbulannya dari PT. Yamatogomu Indonesia ke kantor pusat dan pelanggan/distributor sebesat lebih dari 250MB. Hal ini menyebabkan sarana e-mail menjadi tidak efektif untuk dijadikan sarana pengiriman data.

109 3.5. Permasalahan Yang Dihadapi

PT. Yamatogomu Indonesia sebagai pusat produksi yang berpusat di Jepang, dan memiliki pelanggan di beberapa negara lainnya, sangat perlu untuk berinteraksi baik dengan pelanggan-pelangannya tersebut. Pertukaran informasi yang bersifat umum dan rahasia serta pertukaran data antara pusat produksi di Indonesia dengan kantor pusat dan pelanggan, merupakan hal yang sering dilakukan.

Berdasarkan analisis sistem yang berjalan maka dapat diketahui bahwa sistem jaringan antara PT. Yamatogomu Indonesia dengan kantor pusat di Jepang dan pelanggan-pelanggannya masih terpisah dan memiliki server dan database sendiri-sendiri.

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, didapat 2 pokok masalah : a. Masalah jaringan internal :

1. Tidak adanya pengaturan hak akses di dalam jaringan perusahaan. Ini mengakibatkan semua user dengan bebas dapat melihat maupun merubah isi data yang di-share pada semua jaringan.

b. Masalah WAN :

1. Data yang harus dikirimkan melalui e-mail minimal setiap dua kali dalam seminggu, kepada kantor pusat di Jepang dan pelanggan/distributor besar di negara lain, biasanya berupa hasil scan. Ukuran datanya rata-rata mencapai 25Mb atau bahkan lebih. Melebihi kuota yang diberikan oleh email.

110 2. Pengiriman data keuangan 10MB setiap minggunya.

3. Pengiriman data melalui e-mail, dirasa kurang dalam hal sistem keamanannya. Karena data-data yang dikirimkan tersebut sifatnya rahasia.

4. Memiliki banyak server yang terpisah-pisah sehingga tidak efisien.

5. Komunikasi (seperti pertukaran data dan informasi) masih menggunakan e-mail, YahooMessenger, dan telepon.

6. Tidak dapat melakukan sharing data karena setiap kantor memiliki server dan jaringan sendiri-sendiri yang tidak saling terhubung.

7. Database tidak terpusat melainkan tersebar pada setiap server kantor sehingga sulit untuk melakukan pencarian data secara menyeluruh.

Dari hasil wawancara diketahui permintaan perusahaan antara lain: 1. Pengiriman data dapat dilakukan dengan teknologi WAN.

2. Jaringan yang dapat mengimplementasikan VoIP dan video conference pada masa mendatang.

3. Biaya yang dikeluarkan diatur seminimal mungkin. 4. Mudah konfigurasinya.

111 3.6. Usulan penyelesaian masalah

Dikarenakan PT. Yamatogomu Indonesia menggunakan jaringan public untuk melakukan transfer data ke kantor pusat serta pelanggan, maka proses transfer data antar perusahaan menjadi tidak aman. Banyak alternatif yang ada untuk memecahkan masalah tersebut, salah satunya yaitu menggunakan encryption e-mail. Proses ini sama sekali tidak memerlukan biaya dikarenakan softwarenya gratis dan mudah didapat. Tetapi dengan menggunakan encryption e-mail, PT. Yamatogomu Indonesia tidak dapat terhubung dengan jaringan internal kantor pusat dan pelanggannya. Sehingga tidak dapat melakukan hubungan misalnya chatting antar LAN dan printer sharing. Oleh karena itu, disarankan membuat sebuah jalur private antara PT. Yamatogomu Indonesia dengan kantor pusat agar data yang dikirimkan tidak diketahui oleh pihak yang tidak diinginkan. Dengan adanya jalur private, maka proses pengiriman data dapat melalui file sharing atau printer sharing. Jalur private dibuat untuk pengiriman data antara ke PT.Yamatogomu Indonesia ke pelanggan dan kantor pusat yang berada pada negara yang berbeda

Beberapa alternatif jalur private yang ada antara lain :

1. Pembuatan jalur private dengan media kabel ( Leased line) Pembuatan jalur private dengan media kabel memerlukan biaya yang sangat mahal apabila tidak digunakan secara maksimal karena letak dari kantor pusat dan kantor cabang serta pelanggan sangat jauh sehingga membutuhkan biaya yang

112 sangat mahal. Adapun keunggulan dari teknologi ini adalah

mudah dikonfigurasi dan bandwith yang tetap.

2. Pembuatan jalur private dengan media wireless

Pembuatan jalur private dengan media wireless tidak mungkin dilakukan karena untuk membuat jaringan wireless dan pengimplementasian beda negara sangat sulit dikarenakan jarak yang terlalu jauh.

3. Pembuatan jalur private dengan media internet yaitu dengan tunneling VPN.

Pembuatan jalur private dengan media internet dengan peralatan tambahan yang minimal sehingga tidak begitu membebankan anggaran perusahaan. Bebas biaya bulanan.

4. Penggunaan jalur private dengan ATM

Pembuatan jalur private dengan menggunakan ATM relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan jenis switched-connection lainnya. Namun memiki beberapa kerugian seperti sulit apabila terjadi masalah dikarenakan konfigurasi yang kompleks, dan biaya yang besar.

113 5. Penggunaan jalur private dengan menggunakan frame relay

Pembuatan jalur private dengan menggunakan frame relay memerlukan biaya yang mahal dan memerlukan biaya bulanan. Konfigurasi frame relay dinilai sulit dan membutuhkan alat tambahan. Frame relay memberikan koneksi permanen, shared, dan koneksi bandwith medium yang mengirim baik suara maupun lalu lintas trafik.

Dilihat dari perbandingan yang diatas dapat disimpulkan teknologi WAN yang mendukung PT. Yamatogomu Indonesia adalah VPN dan frame relay. Dikarenakan pertimbangan biaya dan kemudahan implementasi maka VPN dinilai paling tepat untuk diimplementasikan pada jaringan komputer PT. Yamatogomu Indonesia.

Ada 2 macam pilhan VPN yang dapat digunakan oleh PT. Yamatogomu Indonesia, yaitu :

1. Site to site VPN

Site to site VPN menghubungkan semua jaringan satu sama lain, sebagai contoh, mereka dapat menghubungkan kantor cabang dengan kantor pusat. Setiap tempat dilengkapi dengan VPN gateway, seperti router, firewall, VPN concetrator atau perlengkapan keamanan.

114

2. Remote access VPN

Remote access VPN memperbolehkan host individual, seperti telecommuters, pengguna mobile, dan pengguna ekstranet, untuk mengakses jaringan perusahaan melalui internet. Setiap host umumnya memiliki klien VPN. Menggunakan software atau web-based client.

Dengan pertimbangan keamanan dan kebutuhan perusahaan site to site VPN yang dirasa paling cocok untuk digunakan pada PT. Yamatogomu Indonesia.

Untuk memastikan tempat saling terhubung, diperlukan suatu konfigurasi routing yang memungkinkan bukan hanya menghubungkan, melainkan juga memperhatikan faktor skalabilitas. Untuk itu, dipilihlah penggunaan dynamic routing protocol.

Ada 2 jenis dynamic routing protocol yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan PT. Yamatogomu Indonesia yaitu vector routing protocol dan link state routing protocol.

115 Berikut ini adalah tabel perbandingan antara distance vector routing

protocol dan link state routing protocol.

Tabel 3.1 Tabel Perbandingan antara Distance Vector Routing Protocol dengan Linkstate Routing Protocol

Distance vector Link-State

• Melihat topologi jaringan dari sudut pandang router lain yang terhubung langsung dengannya.

• Menghitung jarak dari satu router ke router lain.

• Update yang berkala dan cukup sering

• Slow convergence

• Mengirimkan copy dari routing table ke router yang berhubungan langsung dengannya.

• Memiliki pandangan umum dari keseluruhan topologi.

• Menghitung jarak terpendek ke semua router lainnya.

• Update yang berdasarkan perubahan topologi.

• Fast convergence.

• Mengrimkan link-state routing update ke router lain.

Terlihat dari perbandingan pada tabel 3.1, dapat dikatakan bahwa linkstate lebih baik dari pada distance vector.

116 Berikut ini adalah perbandingan beberapa routing protocol:

Tabel 3.2 Tabel perbandingan antara Beberapa jenis Routing Protocol

Type Distance vector Link state

Protocol RIPv1 RIPv2 EIGRP OSPF IS-IS

Router table update method

Broadcast Multicast Multicast Multicast Multicast

Full table updates Depend on how many device Depend on how many device none1 30 minutes 15 minutes

Full routing table updates

Y N N N N

Incremental updates N Y Y Y Y

Route path selection algorithm Bellman-Ford Bellman-Ford Dual2 SPF3 SPF3 Limit to network diameter Hop counts (15) Hop counts (15) Hop counts (224) N/A N/A VLSM N Y4 Y4 Y Y Route summarization N Y Y Y Y

1 membuat peta topologi dari hello packets dan queries 2 Diffusing Update Algorithm (DUAL)

3 shortest path first 4 Manual summarization

117 Dari perbandingan pada table 3.2 secara keseluruhan, terlihat bahwa yang

terbaik adalah EIGRP.

Adapun pemilihan Routing protocol yang cocok PT. Yamatogomu Indonesia melalui pertimbangan sebagai berikut :

1. EIGRP merupakan routing protocol yang bersifat proprietary, sehingga perusahaan harus membeli peralatan Cisco untuk setiap tempat untuk bisa mengimplementasikannya. Berhubung peralatan Cisco mahal, maka pengimplementasiannya akan menjadi sangat mahal.

2. PT. Yamatogomu Indonesia adalah perusahaan besar yang akan terus berkembang meliputi perkembangan komunikasi jaringan yang memudahkan komunikasi antara PT. Yamatogomu Indonesia dengan pelanggan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang memudahkan proses bisnis yang terjadi. Dengan demikian routing protocol yang mempunyai batasan yang kecil seperti RIPv1 dan RIPv2 tidak layak untuk digunakan.

3. IS-IS merupakan routing protocol yang paling tidak umum digunakan. Penggunaan routing protocol ini mengharuskan perusahaan untuk mencari network administrator yang mengerti routing protocol ini, sedangkan orang yang mempelajari routing protocol ini sedikit di Indonesia karena dokumentasinya yang sedikit. Karena itu routing protocol ini tidak direkomendasikan

118 4. OSPF memiliki kemampuan yang hampir menyamai EIGRP, selain itu

dokumentasi dan skalabilitasnya tinggi, ditambah OSPF bersifat open source, menjadikan OSPF pilihan yang paling ideal.

Setelah membandingkan kelebihan dan kekurangan beberapa Routing protocol seperti disebut pada tabel 3.2, OSPF dinilai paling tepat untuk diimplementasikan pada WAN PT. Yamatogomu Indonesia.

Dengan pertimbangan diatas, maka akan dirancang sebuah WAN dengan teknologi site to site VPN dengan routing protocol OSPF. Dengan adanya teknologi VPN dengan routing protocol OSPF, diharapkan masalah pada jaringan PT. Yamatogomu Indonesia baik masalah internal maupun WAN dapat diatasi.

Dokumen terkait