• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Langkah-langkah yang Menyimpang dari Asimilas

1. Tetap Memakai Bahasa Tionghoa

1.1. Tata Tertib Sidang Sinode: “Tidak Harus Berbahasa Indonesia Saja.”

Bila sidang-sidang sinode GKT, dari yang pertama sampai yang kesembilan, diperiksa lebih lanjut maka akan tampak pola penggunaan bahasa seperti tabel di bawah ini:

Tabel 4.2. Pola Penggunaan Bahasa dalam Sidang Sinode GKT Tahun 1968-1980

No Macam Sidang Kehadiran Unsur Pemerintah, Militer dan DGI

Bahasa Yang Dipakai 1 Sidang Tahunan 1969, THKTKH Klasis Jatim, 8- 10 Januari 1968

Tidak ada. Bahasa

Tionghoa 2 Sidang Sinode

Ke I

29 April-3 Mei 1968

M. Abednego, Dirjen Bimas Kristen Protestan.

Rasjid Padmosudiro, Kepala Petugas Urusan Kristen, Jawatan Urusan Agama Provinsi Jawa Timur. Dr. S.A.E. Nababan, Sekretaris Umum DGI. May. Pdt. M.G. Simanjuntak, Kepala Rawatan Rohani Protestan, Kodam VIII/Brawijaya. Bahasa Tionghoa Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 3 Sidang Sinode Ke II 8-11 Juli 1969 Tidak ada. Bahasa Tionghoa. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

4 Sidang Sinode Ke III 7-10 Juli 1970 Tidak ada. Bahasa Tionghoa. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 5 Sidang Sinode Ke IV 20-23 Juli 1971 Tidak ada. Bahasa Tionghoa. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 6 Sidang Sinode Ke V 10-13 Juli 1072 Hardjoprajitno, Kepala Bagian Kristen, Perwakilan Departemen Agama Provinsi Jawa Timur.

May. A.J.I. Rampen, Kepala Rawatan Rohani Protestan, Kodam VIII/Brawijaya. Wakil-wakil Sinode GKI Jawa Timur. Bahasa Tionghoa Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 7 Sidang Sinode Ke VI 24-25 Juli 1973 Hardjoprajitno, Kepala Bagian Kristen, Perwakilan Departemen Agama Provinsi Jawa Timur.

Wakil-wakil Sinode GKI Jawa Timur tidak bisa hadir.

Bahasa Tionghoa Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 8 Sidang Sinode Ke VII 14-17 Oktober 1975 Pdt. P.M. Sihombing, wakil BPH DGI. Pdt. RWK Adisoesila, wkil BPH DGW Jawa Timur, Bali, Lombok.

Penatua D.S. Ibrahim, wakil Moderamen Sinode GKI Jatim. Bahasa Tionghoa Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 9 Sidang Sinode Ke VIII 25-28 Oktober 1977. Dirjen Bimas Kristen/Protestan, Departemen Agama RI. Pembimbing Bimas

Hanya bahasa Indonesia. Tanpa bahasa

Kristen/Protestan Provinsi Jawa Timur.

Pdt. P.M. Sihombing, wakil BPH DGI, Jakarta. (Ikut dari awal sampai akhir dan terlibat aktif).

Ketua Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan

(GKJW).

Ketua Moderamen Sinode GKI Jatim. Tionghoa. Tanpa penterjemah bahasa Tionghoa. 10 Sidang Sinode IX 15-17 Januari 1980 Aristarkus, Penyelenggara Bimas Kristen/Protestan Departemen Agama Kabupaten Malang. Letkol. Pdt. J.S. Saragih, Kepala Rawatan Rohani Protestan Kodam VIII/ Brawijaya, Jawa Timur. May. Pdt. Dj. Bengngu, Kepala Rawatan Rohani Protestan Kodam XVI/ Udayana, Bali.

(Diangkat sebagai Penasihat Sidang. Ikut sidang dari awal sampai akhir!) Hanya bahasa Indonesia. Tanpa bahasa Tionghoa. Tanpa penterjemah bahasa Tionghoa.

Dari tabel di atas terlihat bahwa pola pemakaian bahasa yang selama ini terjadi sejak sidang sinode pertama adalah bahasa Tionghoa dan terjemahan bahasa Indonesia. Pola ini terlihat pula dalam susunan dokumen notulen-notulen dan akta-akta sidang yang dikirim kepada jemaat-jemaat GKT. Dokumen-dokumen tersebut selalu tersusun dalam dua bahasa: bahasa Tionghoa di halaman-halaman depan dan bahasa Indonesia di halaman- halaman belakang. Buletin sinode, yang diterbitkan oleh Badan Pengurus (BP) Sinode GKT pada tahun 70-an juga dicetak dalam dua bahasa: Tionghoa dan Indonesia. Bahkan dalam edisi-edisi

tertentu seperti Natal, ucapan-ucapan selamat Natal yang dimuat

hampir seluruhnya dalam bahasa Tionghoa.86

Pemakaian bahasa Indonesia dalam sidang kedelapan dan kesembilan, dengan demikian, menyimpang dari kebiasaan. Di bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa penyimpangan ini disebabkan oleh kehadiran unsur-unsur pemerintah, tentara dan

DGI selama persidangan; dan karena tekanan dari luar (eksternal)

untuk membuktikan kesejatian keindonesiaannya. Pada tahun 1981, sidang tidak lagi dihadiri oleh utusan tentara dan DGI. Kini orang-orang Tionghoa hanya sendirian dengan sesamanya. Seperti sidang-sidang sebelumnya, tata tertiba sidang hanya ada enam butir saja. Dari butir satu sampai butir lima, peraturannya boleh dikatakan sama persis dengan tata tertib dua sidang sebelumnya.

Tabel 4.3. Perbandingan Tata Tertib Persidangan Sinode

No Tata Tertib Sidang Ke VIII/1977

Tata Tertib Sidang Ke IX/1979

Tata Tertib Sidang Ke X/1981

1 Para peserta dengan tanda merah mem- punyai hak memilih dan hak dipilih.

Para peserta dengan tanda kuning tua mem-punyai hak me-milih dan dipilih.

Peserta dengan tanda merah dan biru berhak memilih dan dipilih.

2 Demi ketertiban, maka para pem- bicara diharap angkat tangan dulu. Demi ketertiban, maka peserta diharap angkat tangan dulu. Demi ketertiban, para peserta diharap- kan mengangkat tangan.

3 Waktu pembicaraan jangan terlalu lama.

Waktu berbicara jangan terlalu lama.

Waktu berbicara jangan terlalu lama. 4 Tidak boleh

merokok.

Dalam ruangan sidang tidak diper- kenankan merokok.

Dalam ruangan tidak boleh merokok. 5 Jika meningalkan

rapat, harap lapor dulu pada ketua

Meninggalkan tempat harap lapor pada pimpinan

Meninggalkan tempat harap lapor pada pimpinan

86 Lihat misalnya Berita Warga Gereja Kristus Tuhan Indonesia 26,

sidang. sidang. sidang. 6 Hanya memakai

bahasa Indonesia.

Sidang hanya me- makai bahasa Indonesia. Memakai bahasa Indonesia dan Tionghoa.

Namun pada butir terakhir, butir keenam, sidang kali ini menerapkan peraturan yang berbeda. Perbedaan ini terjadi atas usulan seorang utusan dari GKT Semarang, yang juga salah seorang anggota Majelis Persidangan. Ia meminta supaya peserta diizinkan “memakai bahasa bebas dalam arti tidak harus menggunakan bahasa Indonesia, asal saja ada penterjemahnya.” Alasannya, “demi pengungkapan pendapat secara bebas.”87

Pemakaian bahasa Indonesia secara eksklusif selama dua sidang terakhir dirasa menghambat pengungkapan pikiran dan pendapat oleh mereka yang fasih berbahasa Tionghoa. Tanpa satupun protes sidang secara aklamasi menerima usul ini untuk menjadi peraturan dalam tata tertib persidangan.

Peraturan ini memang terbukti memberi keleluasaan yang amat besar seperti yang diharapkan. Peserta sidang yang tidak dapat berbahasa Indonesia kini dengan leluasa dapat ambil bagian dalam percakapan. Jika dalam dua sidang sebelumnya mereka hadir namun tidak berbicara, atau pendapatnya dititipkan melalui peserta lain yang bisa berbahasa Indonesia maka dalam sidang kali ini mereka sendiri yang langsung berbicara. Seorang peserta sidang yang bernama Ko Tuan An pernah hadir dalam sidang tahun 1977 sebagai wakil Badan Kesejahteraan Pendeta/Penginjil. Waktu itu ia harus menyampaikan suatu laporan. Namun karena tidak dapat berbahasa Indonesia dengan fasih maka laporan itu ia titipkan kepada seorang peserta lain yang dapat berbahasa Indonesia untuk melaporkannya “atas nama Sdr. Ko Tuan An.”88 Dalam sidang

berikutnya yang kembali berlangsung dalam bahasa Indonesia, ia

87 Notulen Sidang Sinode Gereja Kristus Tuhan Ke-10, Lawang, 3-5

Nopember 1981: 1.

88 Notulen Sidang Sinode Gereja Kristus Tuhan Ke-7, Lawang, 14-17

malah tidak hadir. Ia baru hadir kembali pada sidang tahun 1981 sebagai wakil komisi sinode yang bertugas mencari dana untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan sinodal. Namun berbeda dari dua sidang sebelumnya, kini ia sendiri yang berbicara dan menyampaikan laporannya secara langsung dalam bahasa

Tionghoa.89

Selain secara lisan, peserta sidang juga diizinkan memulis dalam aksara Tionghoa. Hal ini berbeda dari sidang tahun 1977. Dalam pleno pemilihan BP Sinode periode 1977-1981, tata tertib sidang mengharuskan penulisan nama calon badan pengurus sinode dalam aksara Indonesia. Sejumlah besar peserta sidang lalu mengalami kesulitan menuliskan nama. Untuk mengatasinya, pimpinan sidang lalu mengizinkan peserta yang merasa kesulitan untuk “mencantumkan nomer”90 calon saja. Dengan peraturan

yang baru di Sidang Sinode 1981, peserta sidang tidak lagi mengalami kesulitan serupa sewaktu memilih badan pengurus sinode periode 1981-1985. Kini, baik nama yang memilih maupun yang dipilih, “boleh ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Tionghoa.”91

Sidang Sinode 1981 menjadi titik balik pemakaian bahasa Tionghoa di forum-forum rapat gerejawi yang tertinggi. Cara bahasa Tionghoa dipergunakan oleh persidangan ini kemudian menjadi patokan yang terus dipakai dalam sidang-sidang sinode selanjutnya. Pada Sidang Sinode Ke-11 tahun 1983, tata tertib sidang dengan tegas mengatur bahwa peserta “boleh memakai bahasa Mandarin yang diterjemahkan.” Sidang sinode tahun 1985

89 Notulen Sidang Sinode Gereja Kristus Tuhan Ke-10, Lawang, 3-5

Nopember 1981: 3. Contoh lain adalah seorang yang bernama Koo Nyong Ing. Dalam sidang 1977 dan 1980, ia hanya berbahasa Indonesia saja. Dalam sidang 1981, dalan suatu pleno, ia tanpa ragu memakai bahasa Tionghoa sementara di pleno lainnya memakai bahasa Indonesia. Orang lain adalah Pdt. Daniel Yonathan. Sebagai orang yang fasih berbahasa Indonesia dan Tionghoa, ia dengan tangkas memakai dua bahasa ini di mana perlu. Hal-hal seperti ini tidak dilakukan dalam dua sidang sebelumnya.

90Notulen Sidang Sinode Gereja Kristus Tuhan Ke-7: 5. 91 Ibid., 14.

maju selangkah lebih jauh, dengan menyediakan dua penterjemah resmi ke dalam bahasa Indonesia, yaitu Ev. Johan Eddy S. dan Ev. Sofia Chen. Penunjukkan tenaga penterjemah khusus ini kembali dilakukan lagi pada sidang tahun 1987. Setelah ini bahasa Tionghoa terus dipergunakan namun kini tanpa penterjemah khusus. Sidang tampaknya tidak merasa perlu berbuat demikian karena urusan itu dapat langsung ditangani oleh beberapa tenaga

pekerja gerejawi yang hadir.92

1.2. Buku Nyanyian Jemaat: “Kembalikan Teks Bahasa