BAB III. GAMBARAN DATA FAKTUR PAJAK
L. Tatacara Pembatalan Faktur Pajak
1. Dalam hal terjadi pembatalan transaksi penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya telah diterbitkan, maka Faktur Pajak tersebut harus dibatalkan.
2. Pembatalan transaksi harus harus didukung oleh bukti atau dokumen yang membuktikan bahwa telah terjadi pembatalan transaksi. Bukti dapat berupa pembatalan kontrak atau dokumen lain yang menunjukkan telah terjadi pembatalan transaksi.
3. Fakur Pajak yang dibatalkan harus tetap diadministrasi (disimpan) oleh Pengusaha Kena Pajak Penjual yang menerbitkan Faktur Pajak tersebut.
4. Pengusaha Kena Pajak Penjual yang membatalkan Faktur Pajak harus mengirimkan surat pemberitahuan dan copy dari Faktur Pajak yang dibatalkan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena Penjual dikukuhkan dan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak Pembeli dikukuhkan.
5. Dalam hal Pengusaha Kena Pajak Penjual belum melaporkan Faktur Pajak yang dibatalkan di dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, maka Pengusaha Kena Pajak penjual harus tetap melaporkan Faktur Pajak tersebut dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
dengan mencantumkan nilai 0 (nol) pada kolom DPP, PPN atau PPN dan PPnBM.
6. Dalam hal Pengusaha Kena Pajak Penjual telah melaporkan Faktur Pajak tersebut dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai sebagai Faktur Pajak Keluaran, maka Pengusaha Kena Pajak penjual harus melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai Masa Pajak yang bersangkutan, dengan cara melaporkan Faktur Pajak yang dibatalkan tersebut dengan mencantumkan nilai 0 (nol) pada kolom DPP, PPN atau PPN dan PPnBM.
7. Dalam hal Pengusaha Kena Pajak Pembeli telah melaporkan Faktur Pajak tersebut dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai sebagai Faktur Pajak Masukan, maka Pengusaha Kena Pajak Pembeli harus melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai Masa Pajak yang bersangkutan, dengan cara melaporkan Faktur Pajak yang dibatalkan tersebut dengan mencantumkan nilai 0 (nol) pada kolom DPP,PPN atau PPN dan PPnBM.
BAB IV
ANALISIS DAN EVALUASI DATA
A.Fungsi dan Kewajiban Membuat Faktur Pajak Oleh Pengusaha Kena Pajak
Fungsi faktur pajak adalah sebagai bukti pungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) jika ada transaksi penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak antara pihak yang menyerahkan dan penerima BKP dan/atau JKP tersebut. PPN yang telah dipungut tersebut bagi Pengusaha Kena Pajak sebagai Pajak Keluaran yang harus disetor ke kas negara.Bagi penerima BKP dan/atau JKP, PPN yang telah dibayarkan pada saat membeli BKP dan/atau JKP tersebut sebagai Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.Pajak Masukan yang dikreditkan harus menggunakan Faktur Pajak yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) dan ayat (9) UU PPN Nomor 42 Tahun 2009.
Berdasarkan Undang - Undang Pajak Pertambahan Niai Nomor 42 Tahun 2009 Pasal 13 ayat (1) Kewajiban Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah membuat faktur pajak untuk setiap :
a. Penyerahan BKP sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (1) huruf a atau huruf f dan/atau Pasal 16D
b. Penyerahan JKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c
c. Ekspor BKP Tidak Berwujud sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g
d. Ekspor JKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf h
B.Prosedur Dan Tatacara Pemberian Nomor Seri Faktur Pajak Berdasarkan Peraturan Perundang – Undangan Terbaru
Aturan baru mengenai sistem penomoran faktur pajak yang diberlakukan sejak 1 Juni 2013 sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER- 24/PJ/2012 dan perubahannya Nomor PER-08/PJ/2013, dimana nomor seri faktur pajak tidak lagi dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) sendiri tetapi diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak dimana tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan sebagai (PKP).
Adapun prosedur yang harus dilaksanakan oleh PKP untuk mendapatkan nomor seri faktur pajak tersebut sesuai Nomor PER-24/PJ/2012 :
a. Pengajuan Permohonan Kode Aktivasi dan Password
1) PKP mengajukan surat permohonan Kode Aktivasi dan Password ke Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan sesuai dengan formulir sebagaimana diatur dalam Lampiran IVA yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak.
2) Surat permohonan Kode Aktivasi dan Password sebagaimana dimaksud pada nomor (1) harus diisi dengan lengkap dan disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan.
3) Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan Kode Aktivasi dan Password ke PKP dalam hal PKP memenuhi syarat sebagai berikut :
a. PKP telah di Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP terdaftar berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-05/PJ/2012 dan perubahannya dan laporan hasil registrasi ulang/verifikasi menyatakan PKP tetap dikukuhkan.
b. PKP telah dilakukan verifikasi berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.03/2012.
4) Dalam hal PKP memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada nomor (3),Kantor Pelayanan Pajak:
a. Menerbitkan surat pemberitahuan Kode Aktivasi yang ditandatangani oleh Kepala Seksi Pelayanan atas nama Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana diatur dalam Lampiran IVB.
b. Mengirimkan Password melalui surat elektronik (e-mail) ke alamat e-mail PKP yang dicantumkan dalam surat permohonan Kode Aktivasi dan Password
5) Surat pemberitahuan Kode Aktivasi sebagaimana dimaksud pada nomor (4) huruf a dibuat dalam 2 (dua) rangkap yang peruntukannya masing-masing sebagai berikut:
a. Lembar ke-1,disampaikan kepada PKP
b. Lembar ke-2,untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak.
6) Dalam hal PKP tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada nomor (3),Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan surat pemberitahuan penolakan Kode
Aktivasi dan Password sebagaimana diatur dalam Lampiran IVC dalam 2 (dua) rangkap yang peruntukannya masing – masing sebagai berikut:
a. Lembar ke-1,disampaikan kepada PKP
b. Lembar ke-2,untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak.
7) Dalam hal surat pemberitahuan Kode Aktivasi dan surat pemberitahuan penolakan tidak diterima oleh PKP dan kembali pos (kempos),Kantor Pelayanan Pajak akan memberitahukan informasi tersebut melalui surat elektronik (e-mail) ke alamat e-mail PKP yang dicantumkan dalam surat permohonan Kode Aktivasi dan Password.
8) PKP sebagaimana dimaksud pada nomor (6) dan/atau nomor (7) dapat mengajukan kembali surat permohonan Kode Aktivasi dan Password ke Kantor Pelayanan Pajak setelah memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada nomor (3) dan/atau telah menyampaikan surat pemberitahuan perubahan alamat ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) sesuai dengan prosedur pemberitahuan perubahan alamat.
9) Dalam hal PKP tidak menerima Password karena kesalahan penulisan alamat e- mail pada surat permohonan Kode Aktivasi dan Password, PKP harus mengajukan permohonan Update E-mail.
10)Surat pemberitahuan Kode Aktivasi yang hilang dapat dimintakan kembali ke Kantor Pelayanan Pajak dengan melampirkan fotokopi surat keterangan kehilangan dari kepolisian dan bukti penerimaan surat dari surat dari KPP atas surat permohonan Kode Aktivasi dan Password.
11) Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan surat pemberitahuan Kode Aktivasi atau surat pemberitahuan penolakan Kode Aktivasi dan Password dalam jangka waktu paling lama (tiga) hari kerja setelah permohonan diterima.
12)Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal surat pemberitahuan Kode Aktivasi dicetak,DJP dapat melakukan aktivasi kembali (re-aktivasi) atas Kode Aktivasi yang telah dimiliki oleh PKP melalui surat pemberitahuan Kode Aktivasi yang dikirim melalui pos ke alamat PKP yang bersangkutan.
b. Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak
1) PKP menyampaikan surat permintaan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana diatur dalam Lampiran IVD yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ke KPP tempat PKP dikukuhkan.
2) Surat permintaan Nomor Seri Faktur Pajak harus diisi secara lengkap dan disampaikan langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan. 3) KPP menerbitkan surat pemberitahuan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana
diatur dalam Lampiran IVE ke PKP yang telah memenuhi syarat sebagai berikut :
i) Telah memiliki Kode Aktivasi dan Password,dan
ii) Telah melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN untuk 3 (tiga) masa pajak terakhir yang telah jatuh tempo secara berturut-turut pada tanggal permintaan disampaikan ke KPP.
4) PKP yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada nomor (2) dan (3),tidak dapat diberikan Nomor Seri Faktur Pajak.
5) Surat pemberitahuan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada nomor (3) ditandatangani oleh Kepala Seksi Pelayanan atas nama Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan dibuat dalam 2 (dua) rangkap yang peruntukannya masing – masing sebagai berikut:
i) Lembar ke-1,disampaikan kepada PKP
ii) Lembar ke-2, untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak.
6) Surat pemberitahuan Nomor Seri Faktur Pajak yang hilang,rusak, atau tidak tercetak dengan jelas,dapat dimintakan kembali ke KPP dengan menunjukkan surat permintaan Nomor Ser Faktur Pajak.
7) Jumlah Nomor Seri Faktur Pajak yang dapat diberikan kepada PKP oleh KPP adalah :
a. 75 Nomor Seri untuk PKP baru atau PKP yang melaporkan SPT secara manual/hardcopy
b. 120% dari jumlah faktur pajak yang diterbitkan PKP selama 3 bulan berturut – turut yang telah jatuh tempo pada saat pengajuan permintaan untuk PKP yang melaporkan SPT secara elektronik pada masa sebelumnya.
8) Nomor Seri Faktur Pajak yang tidak digunakan dalam suatu tahun pajak tertentu dilaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan bersamaan dengan SPT Masa PPN masa pajak Desember tahun pajak yang bersangkutan dengan menggunakan formulir sebagaimana diatur dalam Lampiran IVF.
9) Dalam hal PKP pindah tempat kegiatan usaha yang wilayah kerjanya berada di luar wiayah KPP tempat PKP dikukuhkan sebelumya,maka PKP yang
bersangkutan harus mengajukan permohonan Kode Aktivasi dan Password ke Kantor Pelayanan Pajak yang membawahi tempat kegiatan usaha PKP yang baru dengan menunjukkan asli pemberitahuan Kode Aktivasi dari KPP sebelumnya. 10)Dalam hal PKP pindah tempat kegiatan usaha yang wiayah kerjanya berada
diluar wilayah KPP tempat PKP dikukuhkan sebelumhya,maka PKP masih dapat menggunakan Nomor Seri Faktur Pajak yang belum digunakan.
Jumlah Wajib Pajak Pengusaha Kena Pajak
Yang Melaksanakan Prosedur Sistem Baru Penomoran Faktur Pajak
No Keterangan Jumlah PKP
1 Wajib Pajak Pengusaha Kena Pajak (WP PKP)
Tahun 2011
1102
2
Wajib Pajak Pengusaha Kena Pajak yang telah di registrasi ulang dan dilakukan verifikasi sesuai PER-05/PJ/2012 (Februai – 31 Agustus 2012)
1. Penelitian Administrasi : 684
2. Penelitian Lapangan : 610
3 WP PKP yang dicabut status PKP-nya setelah
diregistrasi ulang.
610
4 WP PKP yang terdaftar sebagai PKP setelah di
registrasi ulang (s/d 31 Desember 2012)
492
5 WP PKP Tahun 2013 (s/d 26 Juni 2013) 819
6 WP PKP yang mengajukan surat permohonan
Kode aktivasi Tahun 2013
819
7 WP PKP yang mengajukan surat permintaan
Nomor Seri Faktur Pajak
819
Dari data diatas jumlah Wajib Pajak Pengusaha Kena Pajak tahun 2011 di KPP Pratama Medan Belawan adalah sebesar 1102 (seribu seratus dua) PKP. Pada tahun 2012 Direktorat Jenderal Pajak mengeluarkan peraturan baru yaitu Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-05/PJ/2012 dimana seluruh Pengusaha Kena Pajak yang berada pada wilayah kerja KPP Pratama Medan Belawan wajib dilakukan Registrasi Ulang dan Verifikasi oleh Kantor Pelayanan Pajak tersebut. Dalam melaksanakan registrasi ulang dan verifikasi ada 2 (dua) tahap yang harus dilaksanakan oleh petugas pajak (fiskus) yaitu tahap pertama adalah Penelitian Administrasi dan tahap kedua adalah Penelitian Lapangan.
Penelitian Administrasi adalah penelitian yang dilakukan berdasarkan sejauh mana para wajib pajak melaksanakan kewajibannya di bidang perpajakan seperti kewajiban melaporkan SPT Masa PPN. Jika dilihat dari data diatas ada sekitar 684 (enam ratus delapan puluh empat) PKP yang tidak melaksanakan kewajiban administrasinya. Dalam kasus ini dapat dikategorikan bahwa PKP yang terdaftar di KPP Pratama Medan Belawan tidak taat pajak karena lebih dari 50% dari jumlah PKP tidak melaksanakan kewajibannya
Penelitian Lapangan adalah penelitian yang dilakukan dengan cara petugas pajak untuk terjun langsung ke lapangan melihat keadaan yang sebenarnya terhadap PKP yang tidak jelas keberadaannya.Penelitian lapangan dilakukan setelah penelitian administrasi dilaksanakan dan mendapatkan hasilnya. Berdasarkan tabel diatas pada tahap administrasi lapangan ada sekitar 610 (enam ratus sepuluh) PKP yang tidak melaksanakan kewajibannya,sudah tidak memenuhi syarat subjektif dan objektif
sebagai PKP dan ada yang tidak jelas keberadaanya sehingga status mereka dicabut sebagai PKP.
Jadi jumlah WP PKP yang dicabut status PKP-nya setelah dilakukan registrasi ulang dan verifikasi yang dilaksanakan selama Februari – 31 Desember 2012 adalah 610 (enam ratus sepuluh) PKP dan sisanya sekitar 492 ( empat ratus sembilan puluh dua) adalah WP PKP yang masih terdaftar sebagai PKP di KPP Pratama Medan Belawan untuk tahun 2012. Dilihat dari data tahun 2011 sampai dengan 2012 jumlah PKP yang terdaftar di KPP Pratama Medan Belawan semakin menurun dengan adanya kebijakan sesuai PER-05/PJ/2012 namun dengan adanya kebijakan ini kita dapat mengetahui ternyata banyak PKP yang terdaftar di KPP Pratama Medan Belawan yang tidak lagi memenuhi kriteria sebagai PKP.
Untuk tahun 2013 berdasarkan data diatas PKP yang terdaftar di KPP Pratama Medan Belawan dari 492 (empat ratus sembilan puluh dua) menjadi 819 (delapan ratus sembilan belas) PKP. Ada peningkatan jumlah yang cukup signifikan hampir mencapai 50% yang terdaftar sebagai PKP, peningkatan jumlah ini dikarenakan kebijakan baru sesuai PER-24/PJ/2012 dimana Nomor Seri Faktur Pajak diterbitkan oleh KPP.KPP akan memberikan nomor seri faktur pajak kepada PKP apabila Pengusaha tersebut telah memenuhi kriteria sebagai PKP sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Faktur pajak sendiri juga mempunyai peran yang penting bagi PKP dalam hal pengkreditan pajak masukan bagi PKP yang telah membayar PPN pada saat membeli BKP dan/atau JKP.Jika dulu Nomor Seri Faktur Fajak dapat dibuat sesuka hati oleh PKP tetapi sekarang berbeda, hal inilah yang
mendorong Pengusaha untuk mengukuhkan usaha mereka sebagai PKP untuk mendapatkan fasilitas yaitu dapat mengkreditkan pajak masukan mereka dengan adanya faktur pajak. Tidak semudah itu juga untuk mendapatkan Nomor Seri Faktur Pajak,PKP harus mengikuti prosedur yang telah diberlakukan dalam proses mendapatkan nomor seri tersebut.
Pada tahun 2013 setelah diperhatikan ada sekitar 819 (delapan ratus sembilan belas) PKP yang mengajukan Surat Permohonan Kode Aktivasi dan Password yang mulai dilaksanakan 1 Maret 2013 dan juga sudah mengajukan Surat Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak. 1 Juni 2013 Nomor Seri tersebut sudah diberlakukan sesuai dengan PER-08/PJ/2013 sehingga PKP langsung sigap untuk memperoleh Nomor Seri tersebut.
Jika dilihat dari fenomena seperti ini ternyata fungsi pajak yang salah satunya adalah mengatur (Reguler) telah kelihatan dengan jelas dengan adanya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-24/PJ/2013 yang secara tidak langsung sudah sedikit berhasil mengatur para Pengusaha di Indonesia yang memang layak menjadi wajib pajak untuk mengukuhkan usaha mereka. Dan kita juga dapat memahami jika kita melaksanakan kewajiban perpajakan kita dengan baik maka kita akan mendapatkan fasilitas yang tersedia di bidang perpajakan. Peraturan ini sudah cukup sukses untuk mengatur para pengusaha dan penertiban administrasi PPN khususnya.
C.Hambatan – Hambatan Dalam Pelaksanaan Pemberian Nomor Seri Faktur Pajak Menurut Peraturan Perundang – Undangan Terbaru Kepada Pengusaha Kena Pajak
Hambatan-Hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan pemberian Nomor Seri Faktur Pajak kepada Pengusaha Kena Pajak yang terjadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan yaitu:
1) Pada Saat Registrasi Ulang dan Verifikasi sesuai PER-05/PJ/2012 :
a. Kepatuhan Wajib Pajak dalam pelaporan SPT Masa PPN masih rendah sehingga dilakukan penelitian administrasi apakah PKP tersebut masih melaksanakan keawajibannnya dan masih memenuhi syarat subjektif dan objektif sebagai PKP.Jika sudah tidak memenuhi kriteria sebagai PKP maka satus PKP-nya akan dicabut by system.
b. Kurang Pahamnya para pengusaha mengenai prosedur yang harus diikuti untuk mendapatkan Nomor Seri Faktur Pajak.
c. Di dalam penelitian lapangan biasanya kendala yang sering terjadi yaitu alamat WP PKP yang terdata di Kantor Pelayanan Pajak dimana PKP terebut terdaftar tidak benar sehingga alamat tersebut tidak ditemui.
d. Kerusakan pada Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) 2) Pada Saat Proses Pengajuan Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak
a. Alamat Wajip Pajak PKP tidak jelas/benar sesuai yang tertera di Surat Permohonan Pengajuan Kode Aktivasi dan Password yang dibuat oleh PKP tersebut sehingga alamat tidak ditemukan dan terjadi kembali pos
( kempos). Akibatnya Surat Pemberitahuan Kode Aktivasi dan Password tidak sampai ke wajib pajak,
b. E-mail Wajib Pajak PKP yang tertera di Surat Permohonan Kode Aktivasi dan Password tidak valid sehingga Password yang dikirim melalui e-mail tidak sampai ke alamat e-mail Wajib Pajak PKP.
D.Upaya - Upaya Yang Dilakukan Dalam Mengatasi Hambatan – Hambatan Dalam Pemberian Nomor Seri Faktur Pajak Kepada Pengusaha Kena Pajak
1) Pada saat Registrasi Ulang dan Verifikasi sesuai PER-05/PJ/2012 :
a. Melakukan sosialisasi secara umum atau melalui AR (Account Representative) dengan cara menghimbau untuk melaporkan SPT Masa PPN mereka agar tidak dikenakan sanksi administrasi ataupun denda. b. Melakukan sosialisasi yang berkesinambungan secara umum atau melalui
AR mengenai prosedur yang harus diikuti untuk memperoleh Nomor Seri Faktur Pajak
c. Jika alamat Pengusaha Kena Pajak tidak ditemukan pada saat penilitian lapangan hal pertama yang dilakukan adalah menghubungi wajip pajak melalui telepon dan langsung menanyakan dimana alamat wajip pajak yang sebenarnya.
d. Jika kerusakan SIDJP terjadi masalah maka ditunggu sampai sistem jaringan kembai normal.
2) Pada Saat Proses Pengajuan Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak
a. Jika alamat wajip pajak yang tercantum di surat permohonan Kode Aktivasi dan Password tidak dapat ditemukan pada saat pengiriman surat pemberitahuan Kode Aktivasi dan Password dan kembali pos (kempos) sehingga tidak sampai ke wajib pajak adalah menghubungi kembali wajib pajak tersebut dan mengingatkan wajib pajak untuk melakukan update alamat wajib pajak tersebut.
b. Jika Password yang dikirim melalui e-mail tidak sampai ke wajib pajak karena e-mail tidak valid maka petugas pajak menghubungi kembali wajib pajak untuk meng-update e-mail pengusaha tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.KESIMPULAN
1) Prosedur mengenai sistem baru penomoran faktur pajak adalah suatu tata cara pelaksanaan aturan-aturan dan ketetapan-ketetapan dalam hal penomoran faktur pajak, kapan dan saat faktur pajak harus dibuat,fungsi dan kewajiban membuat faktur pajak,syarat-syarat pembuatan faktur pajak. Dimana sistem baru penomoran faktur pajak terletak pada nomor seri faktur pajak,yang dulunya nomor seri tersebut dibuat sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak tetapi sekarang telah berubah semenjak adanya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER- 24/PJ/2012 dan perubahannya Nomor PER-08/PJ/2013. Nomor Seri Faktur Pajak diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan untuk memperoleh Nomor Seri tersebut PKP harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Dengan tahapan :
a. PKP telah dilakukan Registrasi Ulang oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat pengusaha tersebut dikukuhkan sesuai dengan PER-05/PJ/2012 atau telah dilakukan verifikasi.
b. Telah melakukan update e-mail dan pembenaran alamat wajib pajak sesuai dengan kondisi sebenarnya,apabila terjadi perubahan.
d. Menerima Surat Pemberitahuan Kode Aktivasi dan Password melalui pos dan e-mail
e. Mengajukan Surat Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak
f. Memasukkan Kode Aktivasi dan Password dengan benar pada saat mengajukan permintaan Nomor Seri Faktur Pajak
g. Menerima Surat Pemberitahuan Nomor Seri Faktur Pajak
2) Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang telah mengajukan Surat Permohonan Kode Aktivasi dan Password adalah sebesar 819 (delapan ratus sembilan belas ) PKP dan yang sudah mengajukan Surat Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak sebesar 819 (delapan ratus sembilan belas) PKP juga.
3) Hambatan – Hambatan Dalam Pelaksanaan Pemberian Nomor Seri Faktur Pajak Menurut Peraturan Perundang – Undangan Terbaru Kepada Pengusaha Kena Pajak
e. Pada Saat Registrasi Ulang dan Verifikasi sesuai PER-05/PJ/2012 :
i. Kepatuhan Wajib Pajak dalam pelaporan SPT Masa PPN masih rendah sehingga dilakukan penelitian administrasi apakah PKP tersebut masih melaksanakan keawajibannnya dan masih memenuhi syarat subjektif dan objektif sebagai PKP.Jika sudah tidak memenuhi kriteria sebagai PKP maka satus PKP-nya akan dicabut by system.
ii. Kurang Pahamnya para pengusaha mengenai prosedur yang harus diikuti untuk mendapatkan Nomor Seri Faktur Pajak.
iii. Di dalam penelitian lapangan biasanya kendala yang sering terjadi yaitu alamat WP PKP yang terdata di Kantor Pelayanan Pajak dimana PKP terebut terdaftar tidak benar sehingga alamat tersebut tidak ditemui. iv. Kerusakan pada Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) f. Pada Saat Proses Pengajuan Permintaan Nomor Seri Faktur Pajak
c. Alamat Wajib Pajak PKP tidak jelas/benar sesuai yang tertera di Surat Permohonan Pengajuan Kode Aktivasi dan Password yang dibuat oleh PKP tersebut sehingga alamat tidak ditemukan dan terjadi kembali pos ( kempos). Akibatnya Surat Pemberitahuan Kode Aktivasi dan Password tidak sampai ke wajib pajak,
d. E-mail Wajib Pajak PKP yang tertera di Surat Permohonan Kode Aktivasi dan Password tidak valid sehingga Password yang dikirim melalui e-mail tidak sampai ke alamat e-mail Wajib Pajak PKP.
4) Upaya - Upaya Yang Dilakukan Dalam Mengatasi Hambatan – Hambatan Dalam Pemberian Nomor Seri Faktur Pajak Kepada Pengusaha Kena Pajak
e. Pada saat Registrasi Ulang dan Verifikasi sesuai PER-05/PJ/2012 :
i. Melakukan sosialisasi secara umum atau melalui AR (Account Representative) dengan cara menghimbau untuk melaporkan SPT Masa PPN mereka agar tidak dikenakan sanksi administrasi ataupun denda. ii. Melakukan sosialisasi yang berkesinambungan secara umum atau
melalui AR mengenai prosedur yang harus diikuti untuk memperoleh Nomor Seri Faktur Pajak.
iii. Jika alamat Pengusaha Kena Pajak tidak ditemukan pada saat penilitian