BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
A. COVID-19
6. Tatalaksana
Adapun tatalaksana yang dapat diberikan terhadap pasien Covid-19.
(21)
a. Isolasi yang dilakukan pemantauan
1) Isolasi mandiri di rumah selama 10 hari
2) Pasien yang di jaga dan di fi folup melalui telepon seluler oleh FKTP.
3) Folup melalui FKTP setelah 10 hari karantina untuk pemantauan.
b. Non-farmakologis
Berikan edukasi terkait tindakan yang perlu dikerjakan (leaflet untuk dibawa ke rumah
13 B. Vaksin
1. Definisi
Vaksin memberikan sistem kekebalan dengan instruksi yang diperlukan untuk mengenali dan memobilisasi garis pertahanan terhadap mikroorganisme penyebab penyakit, seperti bakteri atau virus. Dalam vaksin klasik, antigen (penanda molekuler khas) dimasukkan ke dalam tubuh, yang berasal dari bakteri yang tidak aktif atau setengah aktif atau virus yang dilemahkan. Antigen ini mampu menyebabkan penyakit, tetapi masih mampu mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, dan sel-selnya mengembangkan antibodi. Jika orang tersebut melakukan kontak dengan patogen asli, sistem kekebalan akan memiliki antibodi yang diperlukan dan akan memperbanyaknya lebih cepat karena telah disensitisasi oleh vaksinasi.(22)
2. Klasifikasi Vaksin Covid-19
Berdasarkan riset baru empat vaksin yang telah resmi diterbitkan dan disahkan untuk digunakan melawan COVID-19 di berbagai belahan dunia.
Oleh karena itu, bagian ini berisi empat rekan yang mengulas hasil vaksin resmi. Vaksin lain masih dalam uji klinis dan data kemanjuran dan keamanannya tidak tersedia. Dari keempatnya, dua adalah mRNA (vaksin mRNA COVID-19 BNT162b2 (Pfizer), vaksin mRNA-1273 (Moderna) sedangkan dua lainnya (vaksin ChAdOx1 nCoV-19 / AZD1222 (AstraZeneca) dan Sinovac China) adalah vaksin vektor.(5)
14
a. Keamanan dan Khasiat vaksin mRNA COVID-19 Vaksin BNT162b2 (Pfizer)
Dari uji coba yang melibatkan ukuran sampel 21720 , kandidat vaksin, 16 tahun menerima 30μg vaksin mRNA ini yang diberikan dalam 2 dosis dengan jarak 21 hari. Di antara 21.720 kandidat yang menerima vaksin, 8 di antaranya menunjukkan tanda-tanda COVID-19 setidaknya satu minggu setelah dosis kedua vaksin. BNT162b2 menunjukkan persentase perlindungan 95% (95% CI, 90,3 - 97.6) dengan masalah keamanan yang ditunjukkan oleh nyeri sementara pada titik injeksi, kelelahan, dan sakit kepala yang dinilai sebagai reaksi lokal normal. Kurang dari 1% mengalami nyeri hebat di tempat suntikan. Vaksin ini dianggap aman untuk pencegahan infeksi COVID-19 dan antibodi bertahan selama 2 bulan. Vaksin ini disetujui oleh US Food and Drug Administration (FDA). Efek samping yang dilaporkan terutama kelelahan dan sakit kepala (59% dan 52%, masing-masing.
b. Keamanan dan Khasiat vaksin mRNA-1273 (Moderna)
Uji klinis yang dilakukan oleh para peneliti dan melibatkan ukuran sampel 30.000 mengungkapkan bahwa vaksin mRNA-1273 adalah diberikan dalam 100 g dosis 28 hari terpisah. Sama seperti, BNT162b2, vaksin enkapsulasi nanopartikel lipid ini diuji dalam plasebo dan vaksin mRNA dengan perbandingan 1:1. Gejala COVID-19 diamati pada 11 pasien dari 15.210 orang yang menerima vaksin
15
mRNA-1273. Kemanjuran ditemukan menjadi 94,1% yaitu (95% CI, 89,5 – 96,8%; p. Menurut para peneliti, tidak ada masalah keamanan dengan vaksin karena hanya reaksi lokal dan sistemik yang diamati yang diamati. Antibodi bertahan selama 4 bulan setelah vaksinasi,Vaksin itu disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) . Terlapor Efek sampingnya terdiri dari nyeri pada titik injeksi (91,6%), kelelahan (68,5%), sakit kepala (63,0%), nyeri otot (59,6%), dan nyeri sendi (44,8%).
c. Keamanan dan Khasiat vaksin ChAdOx1 nCoV-19 / AZD1222 (AstraZeneca)
Vaksin ini telah dicoba di Afrika Selatan, Inggris, dan baru-baru ini di Brasil dengan peserta yang menerima 5×kan10^ 10 molekul vaksin berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh . Uji klinis fase 3 melibatkan ukuran sampel 23.848 peserta. Kemanjuran vaksin keseluruhan dihitung sebagai 70,4% (95% CI, 54,8-80,6, 30[0,5%]
dari 5807 pasien). Vaksin vektor virus ini terbukti manjur dan aman untuk memerangi COVID19 karena hanya 79 pasien dari 5.807 pasien yang menerima vaksin ChAdOx1 menunjukkan COVID19 gejala.
Antibodi bertahan selama. bulan setelah vaksinasi. Vaksin ini telah disetujui oleh Institutional Biosafety Komite (IBC) [13]. Sisi utama efek termasuk kelelahan dan sakit kepala.
16
d. Keamanan dan Khasiat vaksin Sinovac China
Vaksin CoronaVac COVID-19 China yang dikembangkan oleh Sinovac telah terbukti tidak berbahaya dan protektif setelah uji coba fase ketiganya di berbagai negara di dunia, sebuah faktor yang meningkatkan kepercayaan publik terkait peluncurannya di berbagai belahan dunia [21 ]. Menurut hasil ilmiah, vaksin Sinovac adalah 100.
persen efisien dan efektif dalam mencegah infeksi sedang, 77,9%
efektif dalam mencegah kemungkinan kasus ringan, dan memiliki kemanjuran keseluruhan setidaknya 50,4 persen dalam uji coba terakhir Brasil [20]. Pakar vaksin telah mengindikasikan bahwa hasil uji coba cukup baik untuk vaksin didaftarkan untuk digunakan di antara populasi umum. Dia diperkirakan bahwa antibodi terakhir 6 bulan pada vaksinasi. Vaksin ini disetujui oleh pemerintah China setelah uji klinis fase 3 yang dilakukan di Brasil dan negara lain yang melibatkan 50.000 peserta. Alergi dilaporkan sebagai efek samping utama di antara peserta.
C. Tinjauan Keislaman
1. Wabah Penyakit COVID-19 menurut Pandangan Islam
dunia telah dikejutkan adanya sebuah temuan kasus wabah penyakit menular yag berbahaya dan dapat mengancam seluruh manusia di dunia yaitu wabah COVID-19 yang diduga bersumber dari Wuhan di Cina.
Akibat karena adanya wabah ini, banyak cara telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia lewat Satuan gabungan Penanganan COVID-19
17
yang memberlakukan strategi pemutusan melalu Social Distancing dan Physical Distancing ataupu dengan melakukan karantina mandiri. Terlepas dari segala usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah dan msyarakat, telah diterangkan cara dan petunjuk untuk bisa menghadapi masalah seperti ini di dalam Al-Qur’an karena sudah banyak sekali kisah kisah berbagai penyakit berbahaya seperti COVID-19 ini. Menurut konsepsi Al-Quran tidak satupun manusia sepanjang hidupnya yang bisa terlepas dari cobaan ataupun ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Hal ini telah tercantum dalam QS Al-Anbiyat : 35.
ُّ لُك ُّ سْفَن ُُّةَقِٕىۤاَذ ُّ ت ْوَمْلا ُّْمُك ْوُلْبَن َو ُّ رَّشلا ب ُّ رْيَخْلا َو ُّ ةَنْت ف اَنْيَل ا َو ۗ َُّن ْوُعَج ْرُت Terjemahnya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada kami.” (QS Al-Anbiyat : 35)
Dengan munculnya wabah COVID-19 ini, umat manusia senantiasa harus ikhtiar sesuai dengan petunjuk petunjuk Al-Qur’an dan selalu bertawakkal sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada kondisi seperti ini, umat manusia harus selalu meningkatkan keimanannya dan meyakini bahwa apa yang menimpa seorang hamba tidak akan meleset darinya.
2. Pencegahan Wabah
jika kita rujuk pada sejarah nabi adalah wabah yang sudah terjadi dengan kondisi yang hampir sama, hingga penanganannya pun sama.
Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati
18
wilayah yang sedang terkena wabah, hal ini terdapat Dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim.
ُّ بَُّعَق َوُّاَذ إوُّ،اَھوَلُخْدَتُّ َلََفُّ ض ْرا بُّ نوُعُّاَّطلا بُّْمُثْع مَسُّاَذ ٳ
ُّاوُجُّ ُرْخَتُّ َلََفُّاَھ بُّْمُتْنَأ َوُّ ض ْرا اَھْن م
Artinya:
"Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. “QS: an-Nahl: 106)
َرْسُعْلا ُمُكِب ُدْي ِرُي َلَّ َو َرْسُيْلا ُمُكِب ُ هاللّٰ ُدْي ِرُي Artinya :
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS: al-Baqarah: 185)
ْمُكْيَلَع َلَعَج اَم َو ْمُكىٰبَتْجا َوُه ۗ ج َرَح ْنِم ِنْيِ دلا ىِف
Artinya :
19
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS: al-Hajj: 78)
فْنَا َو ا ْوُعْيِطَا َو ا ْوُعَمْسا َو ْمُتْعَطَتْسا اَم َ هاللّٰ اوُقاتاَفِِ ْۗمُكِسُفْنَ ِ لَّ ا ًرْيَخ ا ْوُق
Artinya :
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”
(QS: al-Taghabun 16)
Berdasarkan dari Quran Surat diatas bahwa kita pahami pada pandemi covid-19 yang telah kita rasakan , salah satu factor untuk mengancam nyawa seta jiwa manusia, maka sudah menjadi wajib bagi umat manusia untuk menjauhi dirinya dari wabah tersebut. Demikian maka kita pahami bahwa tidak mengerjakan shalat secara berjamaah disebabkan factor sakit atau takut bukanlah bermaksud menghindari sholat berjamaah tetapi memelihara nyawa (hifdz al-nafs) itu karena jika keberadaan umat Islam yang sehat dan kuat, niscaya Islam tidak dapat menyebarkan kebaikan yang di amalkan.
D. Kerangka Teori
20
Vaksinasi Covid-19
Sistem kekebalan akan memiliki antibodi yang diperlukan dan akan memperbanyaknya lebih cepat
Immunitas tubuh meningkat
Gambar II 1 Kerangka Teori
21
BAB III : KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep ini dibuat bertujuan agar mengetahui bagaimana wujud klinis Covid -19 pada pasien yang telah tervaksinasi dan belum tervaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia adalah:
B. Difinisi Operasional
1. Usia
Definisi : Data usia pasien yang terkonfirmasi COVID-19 berdasarkan rekam medic Covid-19 yang sudah vaksin dan
belum di vaksin Independent
Variable (X) Dependent
Variable (Y)
Gambar III.1 Kerangka Konsep
22
Keteranga : Data pasien per jenis kelamin yang terkonfirmasi COVID-19 berdasarkan rekam medik
Alat takar : Rekam medic Hasil takar : 1. Laki-laki
2. perempuan Skala ukur : Nominal
3. Status Vaksinasi COVID-19
Definisi : Status vaksinasi COVID-19 pasien saat terkonfirmasi menderita COVID-19
Alat Ukur : Konfirmasi dari partisipan/keluarga partisipan Hasil ukur : 1. Sudah divaksin
2. Belum divaksin Skala Data : Kategorik
23 4. Gejala Klinis Covid-19
Definisi : Data Gejala Klinis pasien pasien yang terkonfirmasi COVID-19
alat takar : Rekam medic
Hasil takar : 1. Gejala Repirasi 2. Gejala Neurologi 3. Gejala gastrointestinal 4. Gejala lainnya
Skala Data : Kategorik
24
BAB IV : METODE PENELITIAN
A. Desain penelitian
Observasi ini menggunakan deskriptif dan metode retrospektif dengan karakter gejala klinis terkonfirmasi covid-19 sebelum dan sesudah vaksinasi berdasarkan tipe usia,jenis kelamin,covid-19,vaksin atau belum vaksin,dan gejala. Melewati rekam medic sebagai data observasi.
B. Objek Penelitian 1. Tempat
Rumah Pelamonia, Makassar 2. Waktu Penelitian
September – November 2021 C. Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Seluruh pasien yang terkena covid-19 di RS Pelamonia Makassar.
2. Sampel
Semua pasien terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah di vaksinasi di Rs.pelamonia Makassar.sampel yang dipakai untuk observasi memakai total sampling.
3. Kriteria inklusi
penderita terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah di vaksinasi di Rumah Sakit Pelamonia Makassar.
25 4. Kriteria Eksklusi
1. rekam medic yang sulit terbaca.
2. adanya ketidak lengkapan data dibagian variabel yang diperlukan.
D. Cara penyatuan data
Data sekunder didapatkan dari semua catatan rekam medis terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah di vaksinasi.
E. Metode Analisa Data
Data setelah dikumpulkan dianalisis menggunakan SPSS. Pengolahan data mengunakan langkah berikut :
1. Editing : untuk melengkapi data rekamedi pasien.
2. Coding : untuk memberi kode data yang di dapatkan.
3. Entry : memasukan data di aplikasi SPSS 4. Cleaning : pemeriksaan data.
26 F. Alur Penelitian
G. Etika Penelitian
1. Memberikan Surat kepada pihak RS pelamonia makassar
2. privasi informasi/informasi hanya peneliti mengetahui data tersebut.
Gambar IV 1 Alur penelitian
27
BAB V: HASIL PENELITIAN
A. GAMBARAN UMUM POPULASI/SAMPEL
Penelitian tentang karakteristik gejala klinis terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah divaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar pada bulan Oktober-November 2021. Data yang digunakan adalah berasal dari rekam medis pasien yang terkonfirmasi poitif COVID-19 di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 345 sampel. Hal yang diteliti pada seluruh sampel adalah mencakup usia, jenis kelamin, status vaksinasi, dan gejala klinis yang dialami.
Data yang telah terkumpul dari rekam medis pasien kemudian dimasukkan ke dalam suatu tabel induk (master table) menggunakan aplikasi Microsoft Excel. Selanjutnya, data tersebut diolah menggunakan aplikasi SPSS (Statistical Product and Service Solution) dalam perangkat komputer.
B. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar yang secara demografis berada di , Jl. Jend.Sudirman No 27, Pisang Utara, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90157.
C. DESKRIPSI KARAKTERISTIK SAMPEL 1. Usia
Tabel V 1 Distribusi Berdasarkan Usia
Usia N Presentase
(%)
0-10 10 2.8
11-20 30 8.5
21-30 95 26.8
28
Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V.1, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 berjumlah 354 orang, dimana didapatkan pasien yang berusia 0-10 berjumlah 10 orang (2.8%), berusia 11-20 berjumlah 30 orang (8.5%), berusia 21-30 berjumlah 95 orang (26.8%), berusia 31-40 berjumlah 52 orang (14.7%), berusia 41-50 berjumlah 52 orang (14.7%), berusia 51-60 berjumlah 62 orang (17.5%), berusia 61-70 berjumlah 33 orang (9.3%), berusia 71-80 berjumlah 17 orang (4.8%), berusia 81-90 berjumlah 1 orang (0.3%), dan berusia 91-100 berjumlah 2 orang (0.6%).
2. Jenis kelamin
Tabel V 2 Distribusi Karakteristik Jenis Kelamin Jenis
Kelamin N Presentase
(%)
Laki-laki 227 64.1
Perempuan 127 35.9
Total 354 100
Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 2, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 227 orang (64.1%) dan perempuan 127 orang (35.9%)
29 3. Status vaksinasi Covid-19
Tabel V 3 Distribusi Berdasarkan Status Vaksinasi Covid-19
Status vaksin N Presentase
(%)
Belum vaksin 203 57.3
Sudah vaksin 151 42.7
Total 354 100
Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 3, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang belum melakukan vaksinasi sebanyak 203 orang (57.3%) dan yang sudah melakukan vaksinasi sebanyak 151 (42.7%).
4. Tingkatan Berat Kasus Gejala Covid-19
a. Tingkat Berat Kasus Gejala Covid-19 Sudah di Vaksim Tabel V 4.1 Distribusi Berdasarkan Gejala Klinis
Tingkatan
Berat Kasus N Presentase
(%) bahwa sampel tingkatan berat kasus gejala covid-19 sudah di vaksin yang mengalami gejala ringan berjumlah 136 orang (90.1%), gejala sedang berjumlah 11 orang (11%), dan gejala berat berjumlah 4 orang (4%)
b. Tingkat Berat Kasus Gejala Covid-19 Belum di Vaksim Tabel V 4.2 Distribusi Berdasarkan Gejala Klinis
30 Tingkatan
Berat Kasus N Presentase
(%) bahwa sampel tingkatan berat kasus gejala covid-19 belum di vaksin yang mengalami gejala ringan berjumlah 101 orang (49.8%), gejala sedang berjumlah 50 orang (24.6%), gejala berat berjumlah 25 orang (12.3%), dan kritis berjumlah 27 orang (13.3%) .
c.
5. Gejala Klinis
Tabel V 5 Distribusi Berdasarkan Gejala Klinis
Gejala Klinis N Status Vaksinasi Presentase Belum Sudah (%)
Gejala Respirasi 288 167 121 81.36
Gejala Neurologis 127 75 52 35.88
Gejala Gastrointestinal 111 74 37 31.36
Gejala lainnya 249 141 108 70.39
Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala respiratori berjumlah 288 orang (81.36%), gejala neurologis berjumlah 127 orang (35.88%), gejala gastrointestinal berjumlah 111 orang (31.36%), dan yang mengalami gejala lainnya berjumlah 249 orang (70.39%).
31 d. Gejala Respiratori
Tabel V 5.1 Distribusi Berdasarkan Gejala Respiratori Gejala Respirasi N Status vaksinasi Persentase
(%) Belum Sudah
Batuk 269 151 118 76.0
Rhinnorhea 85 43 42 24.0
Sesak napas 83 72 11 23.4
Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4.1, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala respirasi berupa batuk ditemukan terjadi pada 269 orang (76.0%), rhinnorea ditemukan terjadi pada 85 orang (24.0%), dan sesak napas ditemukan pada 83 orang (23.4%).
e. Gejala Neurologis
Tabel V 5.2 Distribusi Berdasarkan Gejala Neurologis Gejala
Neurologis N Status vaksinasi Persentase Belum Sudah (%)
32
Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4.2, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala neurologis berupa anosmia ditemukan terjadi pada 86 orang (23.4%), nyeri kepala ditemukan terjadi pada 52 (14.7%), pusing ditemukan terjadi pada 14 orang (4.0%), ageusia ditemukan terjadi pada 11 orang (3.1%), nyeri seluruh badan ditemukan terjadi pada 4 orang (1.1%), kejang ditemukan terjadi pada 2 orang (0.6%), dan nyeri pinggang ditemukan terjadi pada 1 orang (0.3%).
f. Gejala Gastrointestinal
Tabel V 5.3 Distribusi Berdasarkan Gejala Gastrointestinal Gejala
Gastrointestinal N Status vaksinasi Persentase Belum Sudah (%)
Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4.3, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala gastrointestinal berupa nyeri menelan ditemukan terjadi pada 57 orang (16.1%), mual ditemukan terjadi pada 32 orang (9.0%), muntah ditemukan terjadi pada 31 orang (8.8%), nyeri ulu hati ditemukan terjadi pada 20 orang (5.6%), diare ditemukan terjadi pada 14 orang (4.0%), dan nyeri perut ditemukan terjadi pada 7 orang (2.0%).
g. Gejala lainnya
Tabel V 5.4 Distribusi Berdasarkan Gejala Lainnya
Gejala Lainnya N Status vaksinasi Persentase (%) Belum Sudah
33
Demam 240 137 103 67.8
Lemas 64 33 31 18.1
Menggigil 18 13 5 5.1
Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4.4, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala gastrointestinal berupa demam ditemukan terjadi pada 240 orang (67.8%), lemas ditemukan terjadi pada 64 (18.1%), dan menggigil ditemukan terjadi pada 18 orang (5.1%).
34
BAB VI: PEMBAHASAN
A. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan berjudul Karakteristik Gejala Klinis Terkonfirmasi Covid-19 Yang Belum Divaksinasi dan Sudah Di Vaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar diperoleh 354 sampel. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui gambaran klinis Covid -19 pada pasien yang telah tervaksinasi dan belum tervaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia berdasarkan umur, jenis kelamin, status vaksinasi dan gejala klinis yang dialami.
Berdasarkan distribusi usia, didapatkan bahwa responden yang berada pada kelompok usia muda dan dewasa lebih banyak yang terkonfirmasi menderita Covid-19 dibandingkan dengan kelompok usia yang lain. Penelitian ini sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Ibrahim ME, et al. dimana pada penelitiannya disebutkan bahwa responden yang berada pada midle-aged group merupakan kelompok yang paling banyak terinfeksi oleh Covid-19.(23) Pada observasi yang di buat oleh Malmgren J, et al. disebutkan meskipun kelompok yang banyak terinfeksi Covid-19 adalah kelompok umur di atas 60 tahun, namun presentase kejadian pada kelompok usia 0-19 tahun dan 20-39 tahun terus mengalami kenaikan yang signifikan tanpa adanya penurunan angka kejadian pada kelompok tersebut meskipun saat telah diberlakukannya ketentuan untuk berdiam diri di rumah. Hal ini dijelaskan lebih lanjut dapat disebabkan oleh adanya pengaruh predominan dari aktivitas sosial.(24)
Pada penelitian yang dilakukan oleh Michela Antonelli. disebutkan bahwa kelompok yang memiliki gejala klinis yang ringan dan tidak terlalu parah kebanyakan dari pasien yang sudah divaksinasi. Pada penelitian tersebut juga mengatakan bahwa pasien yang memiliki gejala Covid-19 yang parah adalah sekelompok orang yang belum pernah divaksinasi. (25)
35
Berdasarkan distribusi jenis kelamin, pada penelitian ini ditemukan bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 227 orang (64.1%).
Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan perempuan yang berjumlah 127 orang (35.9%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nikpouraghdam M, et al. dimana ratio rawat inap pada laki-laki dibanding perempuan adalah 1.93:1.(26)
Seperti yang diketahui bahwa Angiotensin-converting enzyme-2 (ACE 2) yang dikode oleh ACE 2 gene telah terbukti menjadi reseptor dari SARS-Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Pada penelitian tentang expression level dan pattern human ACE 2 menggunakan a single-cell RNA-sequencing (RNA-seq) yang dilakukan oleh Zao Y, et al. diindikasikan bahwa ekspresi dari ACE2 pada laki-laki Asia lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Pada penelitian yang menggunakan populasi orang China, ditemukan bahwa paru-paru laki-laki Asia mengekspresikan ACE 2 dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan perempuan.(27)(28)
Berdasarkan distribusi berdasarkan status vaksinasi, didapatkan bahwa jumlah pasien yang terkonfirmasi positif menderita Covid-19 sebagian besar adalah responden yang belum melakukan vaksinasi Covid-19, yaitu berjumlah 203 orang (57.3%). Menurut CDC, kemampuan vaksin akan menurun dalam mencegah terjadinya infeksi Covid-19, namun vaksinasi Covid-19 terus mengurangi kemungkinan untuk rawat inap dan terjadinya kematian pada orang yang terinfeksi Covid-19.(29)
Menurut hasil penelitian Liu Q, et al.diketahui bahwa orang yang telah memperoleh single doze vaksin Covid-19 memiliki efektivitas sekitar 40-60%
dalam mencegah terjadinya manifestasi clinis dari Covid-19, sedangkan yang telah mendapat dosis kedua memiliki efektivitas sekitar 85% atau lebih.(30)
36
Dilihat dari distribusi responden berdasarkan gejala klinis, 288 orang responden mengalami gejala respirasi dan merupakan gejala tertinggi yang dialami oleh responden yang terkonfirmasi Covid-19. Hal ini disebabkan ekspresi ACE2 ditemukan paling banyak pada paru-paru dibandingkan dengan organ lain.(11)
Gejala respirasi yang paling banyak diderita oleh responden adalah batuk dimana ditemukan sebanyak 269 orang (76%). Penelitian ini sejalan dengan apa yang dialakukan oleh Grant MC, et al. dimana pada penelitiannya didapatkan gejala batuk merupakan gejala respirasi terbanyak dari gejala respirasi yang terjadi pada responden yang terkonfirmasi positif Covid-19.(31) Disribusi responden berdasarkan gejala neurologis didapatkan bahwa gejala terbanyak yang dialami responden adalah anosmia yang berjumlah 26 orang (23.4%). Dalam halaman ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rogers JP, et al. dan Chou SHY, et al dimana yang diperoleh dalam dua penelitian ini gejala neurologis yang paling umum dijumpai adalah nyeri kepala.(32) (33) Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Favas TT, et al. disebutkan bahwa anosmia merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada gangguan penciuman pada sistem saraf perifer.(34)
Pada gejala gastrointestinal yang paling sering ditemui pada responden adalah nyeri menelan dimana terjadi pada 57 orang (16.1%). Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Grant MC, et al. dimana gejala gastrointestinal yang paling sering muncul adalah diare.(31)
Berdasarkan gejala lain yang dialami responden, didapatkan bahwa gejala demam merupakan gejala yang paling sering ditemui yaitu sebesar 240 orang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amin et al.
yang menyebutkan bahwa gejala demam merupakan gejala yang paling sering ditemui pada responden yang terkonfirmasi menderita Covid-19.(35)
37 B. TINJAUAN KEISLAMAN
Pandemi Covid-19 telah berlangsung sejak tahun 2020 di Indonesia. Tak dapat dipugkiri, ini merupakan suatu ujian bagi umat manusia di seluruh dunia.
Tak hanya masalah kesehatan, namun permasalahan dari berbagai bidang bermunculan seiring terus berlanjutnya pandemi ini. Namun, kita sebagai umat muslim, hendaknya menyakini bahwa hal ini adalah ketentuan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
38
Sebagai umat Islam, kita hendaknya menjadikan sebagai momen muhasabah diri dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta meningkatkan kadar keimanan kita, tentunya dalam hal ini kita ta melupakan untuk melakukan ikhtiar agar terhindar dari wabah Covid-19 ini, salah satunya dengan melakukan vaksinasi.
BAB V I I
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berlandaskan dari penelitian yang sudah dilakukan berjudul Karakteristik Gejala Klinis Terkonfirmasi Covid-19 Yang Belum Divaksinasi dan Sudah Di Vaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Didapatkan jumlah Berdasarkan dari data yang diperoleh diketahui bahwa sampel tingkatan berat kasus gejala covid-19 yang sudah di vaksin yang mengalami gejala ringan berjumlah 136 orang (90.1%), gejala sedang berjumlah 11 orang (11%), dan gejala berat berjumlah 4 orang (4%)
2. Didapatkan jumlah Berdasarkan dari data yang diperoleh diketahui bahwa sampel tingkatan berat kasus gejala covid-19 yang belum di vaksin yang mengalami gejala ringan berjumlah 101 orang (49.8%), gejala sedang berjumlah 50 orang (24.6%), gejala berat berjumlah 25 orang (12.3%), dan kritis berjumlah 27 orang (13.3%) .
39 B. Saran
Berlandaskan hasil dan manfaat hasil observasi di atas maka dari itu saran yang dapat peneliti bagikan sebgai berikut :
1. Disarakan untuk tetap menajaga protokol kesehatan demi menekan
1. Disarakan untuk tetap menajaga protokol kesehatan demi menekan