• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT. Tempat, Tanggal Lahir : Tarakan,14 Agustus 1998

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT. Tempat, Tanggal Lahir : Tarakan,14 Agustus 1998"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT Yang bertanda tangan dibawah ini,

Nama Lengkap : Riko Ardi Saputra

Tempat, Tanggal Lahir : Tarakan ,14 Agustus 1998

Tahun Masuk : 2018

Peminatan : Kedokteran Klinis

Nama Pembimbing Akademik : dr. Dian Wirdayana, Sp. An Nama Pembimbing Skripsi : dr. As’ari As’ad, Sp KNTM

Nama Pembimbing AIK : Dr. Dahlan Lamabawa,S.Ag.,M.Ag

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan proposal saya yang berjudul:

“KARAKTERISTIK GEJALA KLINIS TERKONFIRMASI COVID-19 YANG BELUM DIVAKSINASI DAN SUDAH DIVAKSINASI DI RUMAH

SAKIT TINGKAT II PELAMONIA MAKASSAR”

Apabila suatu saat nanti terbukti bahwa saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan menerima sanksi yang telah ditetapkan.

Demikian surat pernyataan ini saya buat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Makassar,25 Februari 2022

Riko Ardi Saputra 105421103818

(6)

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama : Riko Ardi Saputra

Ayah : Ari Widodo

Ibu : Ardiana

Tempat, Tanggal Lahir : Tarakan, 14 Agustus 1998

Agama : Islam

Alamat : gg. Cempaka rt 15 no 70

Nomor Telepon/HP : 089602230674

E-mail : [email protected]

RIWAYAT PENDIDIKAN

 SDN 001 SANGATTA UTARA (2004 – 2010)

 SMP Negeri 1 SANGATTA UTARA (2010 – 2013)

 SMA Negeri 2 SANGATTA UTARA (2013 – 2016)

 Universitas Muhammadiyah Makassar (2018 – Sekarang)

(7)

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE MUHAMMADIYAH UNIVERSITY MAKASSAR Thesis, February 25, 2022

Riko ardi saputra, As’ari As’ad,Sp. Kn

1Student of the Faculty of Medicine and Health Sciences, University of Muhammadiyah Makassar Class of 2018/email [email protected]

2Guide

“CHARACTERISTICS OF CONFIRMED CLINICAL SYMPTOMS OF COVID-19 WHO HAVE NOT BEEN VACCINED AND ALREADY VACCINATED AT LEVEL II HOSPITAL PELAMONIA MAKASSAR”

(vii + 46 Pages + 5 Tables + 3 Images)

ABSTRACT

Background: In the face of this Covid-19 pandemic, researchers are trying to develop various types of vaccines that are useful in reducing the risk of being exposed to Covid-19 infection.

Research Objectives: To determine the clinical picture of Covid -19 in patients who have been vaccinated and have not been vaccinated at the Pelamonia Level II Hospital.

Research Methods: This study is a descriptive study with a retrospective method based on the characteristics of confirmed clinical symptoms of COVID-19 before and after vaccination through medical record data.

Results: Respondents who suffered from Covid-19 were more male than female, and most of the respondents were in the young and adult age groups. Respondents who have been vaccinated have milder symptoms than respondents who have not been vaccinated.

(8)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR SKRIPSI, 25 februari 2022

Riko ardi saputra, As’ari As’ad,Sp. Kn

1Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2018/email [email protected]

2Pembimbing

“KARAKTERISTIK GEJALA KLINIS TERKONFIRMASI COVID-19 YANG BELUM DIVAKSINASI DAN SUDAH DI VAKSINASI DI RUMAH SAKIT TINGKAT II PELAMONIA MAKASSAR”

(vii + 46 Halaman + 5 Tabel + 3 Gambar)

ABSTRAK

Latar Belakang: Dalam menghadapi pandemic Covid-19 ini, para peneliti berusaha mengembangkan berbagai jenis vaksin yang bermanfaat dalam mengurangi risiko terpapar infeksi Covid-19.

Tujuan Penelitian: Untuk Mengetahui gambaran klinis Covid -19 pada pasien yang telah tervaksinasi dan belum tervaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia.

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode retrospektif berdasarkan karakteristik gejala klinis terkonfirmasi covid-19 sebelum dan sesudah vaksinasi melalui data rekam medic.

Hasil: Responden yang menderita Covid-19 lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki daripada perempuan, serta sebagian besar responden berada dalam kelompok usia muda dan dewasa. Responden yang telah tervaksinasi memiliki gejala yang lebih ringan daripada responden yang belum tervaksinasi.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

BAB I: PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined.

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

1. Tujuan Umum ... 4

2. Tujuan Khusus ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

1. Bagi Peneliti ... 4

2. Bagi Universitas ... 5

3. Bagi Sosial... 5

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA ... 6

A. COVID-19 ... 6

1. Definisi ... 6

2. Epidemiologi ... 6

3. Etiologi ... 8

4. Patogenesis ... 9

5. Manifestasi Klinis ... 9

(10)

6. Tatalaksana ... 12

B. Vaksin ... 13

1. Definisi ... 13

2. Klasifikasi Vaksin Covid-19 ... 13

C. Tinjauan Keislaman... 16

1. Wabah Penyakit COVID-19 Dalam Pandangan Islam ... 16

2. Pencegahan Wabah ... 17

D. Kerangka Teori ... 19

BAB III : KERANGKA KONSEP ... 21

A. Kerangka Konsep ... 21

1. Usia ... 21

2. Jenis Kelamin ... 22

3. Pasien Covid ... Error! Bookmark not defined. 4. Pasien yang sudah vaksin dan belum vaksin ... Error! Bookmark not defined. 5. Gejala pasien terkonfirmasi positif covid-19 yang sesudah vaksin . Error! Bookmark not defined. BAB IV : METODE PENELITIAN ... 24

A. Desain penelitian ... 24

B. Objek Penelitian ... 24

(11)

1. Tempat Penelitian ... 24

2. Waktu Penelitian... 24

C. Teknik Pengambilan Sampel ... 24

1. Populasi penelitian ... 24

2. Sampel penelitian ... 24

3. Kriteria inklusi ... 24

4. Kriteria Eksklusi ... 25

D. Teknik Pengumpulan Data ... Error! Bookmark not defined. E. Metode Analisa Data ... 25

F. Alur Penelitian ... 26

(12)
(13)

DAFTAR SINGKATAN

ACE2 = Angiotensin Converting Enzyme ARDS = Acute Respiratory Distress Syndrome Covid-19 = Coronavirus disease 2019

FDA = Food and Drug Administration FKTP = Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama MERS-CoV = Midlle East Syndrome Corona Virus RNA = Ribo Nucleic Acid

SARS-CoV2 = Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 TMPRSS2 = Transmembran protease serine 2

UEL = Emergency Use Listing WHO = World Health Organization

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar II 1 Kerangka Teori ... 20 Gambar III.1 Kerangka Konsep... 21 Gambar IV 1 Alur penelitian ... 26

(15)

DAFTAR TABLE

Tabel V 1 Distribusi Sampel Berdasarkan Usia... 27

Tabel V 2 Distribusi Karakteristik Jenis Kelamin ... 28

Tabel V 3 Berdasarkan Status Vaksinasi Covid-19 ... 29

Tabel V 4 Distribusi Berdasarkan Gejala Klinis ... 30

Tabel V 4.1 Distribusi Berdasarkan Gejala Klinis ... 31

(16)

i

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa mencurahkan rahmat serta nikmatnya kepada hamba-hambanya. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kehadirat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana Beliau-lah yang senantiasa berjuang demi menyebarkan agama Allah, agama yang ramatan lil

‘alamin. Alhamdulillah berkat nikmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi yang berjudul “Karakter Gejala Klinis terkonfirmasi Covid-19 Yang Belum Vaksinasi Dan Yang Sudah Divaksinasi Di Rumah Sakit Pelamonia Makassar”

dimana penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua penulis, yaitu bapak Ari Widodo dan ibu Ardiana, serta saudara kandung penulis, Bagas Dwi Saputra, yang senantiasa selalu memberikan bantuan, dukungan dan selalu berdoa untuk penulis selama ini.

Secara khusus penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pembimbing penelian, yaitu dr. As’ari As’ad Sp.KNTM, yang selalu meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi masukkan selama proses pembimbingan berlangsung.

Selanjutnya penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperoleh ilmu pengetahuan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

(17)

ii

2. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar, Ibunda Prof.Dr.dr. Suryani As’ad, M.Sc, Sp.GK(K) yang telah memberikan sarana dan prasarana sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini dengan baik.

3. Ibunda Juliani Ibrahim selaku Pembina organisasi Medical Ar-Razi Research Community Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar sekaligus koordinator blok penelitian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberi pengetahuan tentang penelitian dan senantiasa memberi masukkan kepada penulis.

4. Seluruh dosen dan staf di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. dr. Dian Wirdiyana Sp. An selaku pembimbing akademik saya yang telah memberikan semangat dan motivasi selama proses perkuliahan dan dalam menyelesaikan penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa proposal skripsi ini masih memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan,. Penulis juga berharap penelitian ini dapat membantu sebagai tambahan referensi pada penelitian yang dilakukan dikemudian hari.Akhir kata, penulis berharap semoga Allah membalas segala kebaikan pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan penelitian ini.

Makassar, Februari 2020

Riko ardi saputra

(18)

iii

(19)

1

BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

berdasarkan tanggal 31 Desember 2019, Kantor Organisasi Kesehatan Cina menginformasikan bahwa ditemukan perkara radang paru-paru dengan etiologi yang tidak didapati di metropolis Wuhan, Provinsi Hubei. Dalam rentang waktu 3 hari (31 Desember 2019 - 3 Januari 2020), total kasus dari jenis pneumonia ini tercatat sebanyak 44 kasus. The Chinese Authorities mengidentifikasi adanya tipe baru dari corona virus, yang telah diisolasi pada 7 Januari 2020. (1,2)

Dalam perjalanannya, 2019-nCov atau yang sejak tanggal 11 Februari 2020 dikenal dengan Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS- CoV-2) menyebar dengan sangat cepat. Hingga pada tanggal 7 Agustus 2021, pada situs resmi WHO telah tercatat 200.840.180 kasus dengan jumlah kematian mencapai 4.265.903 kasus. Negara Amerika Serikat menempati posisi pertama kasus Coronavirus disease 2019 (COVID 19) terbanyak dengan jumlah kasus tercatat 35.229.302 kasus dengan jumlah kematian mencapai 610.180 kasus. Di Indonesia sendiri, pada tanggal yang sama, tercatat 3.607.863 kasus dengan jumlah kematian mencapai 104.010 kasus.(1)(3)

Melihat pandemi ini, para ilmuwan di seluruh dunia melakukan penelitian sebagai usaha dalam menangani pandemi Covid-19. Vaksin merupakan salah satu hal yang dikembangkan dalam rangka pengendalian pandemi ini. Program vaksinasi mulai dimasifkan berdasarkan mula Desember 2020. Tercatat

(20)

2

terdapat 13 vaksin yang sudah terdaftar pada WHO Emergency Use Listing (EUL). Vaksin yang terdaftar dan telah dievaluasi oleh WHO/UEL antara lain sebagai berikut

1. Pfizer/BioNtech Comirnaty vaccine didaftarkan pada tanggal 31 Desember 2020.

2. SII/Covishield dan AstraZeneca/ AZD1222 vaccines yang ditingkatkan oleh AstraZeneca/Oxford yang dipabrikasi oleh State institude di india dan SK Bio respectively didaftarkan berdasarkan 16 Februari 202

3. Janssen/Ad26.COV 2.S yang ditingkatkan Johnson & Johnson, didaftarkan berdasarkan 12 Maret 2021

4. Moderna COVID-19 vaccine (mRNA 1273) didaftarkan berdasarkan tanggal 30 April 2021

5. Sinopharm COVID-19 vaccine yang ditingkatkan oleh (CNBG) didaftarkan berdasarkan 7 Mei 2021

6. Sinovac-CoronaVac didaftarkan pada 1 June 2021.(4)

Salah satunya Vaksin dari china CoronaVac COVID-19 yang dikembangkan oleh Sinovac telah terbukti tidak berbahaya dan protektif setelah uji coba fase ketiganya di berbagai negara di dunia, salah satu faktor yang meningkatkan kepercayaan publik terhadap peluncurannya di berbagai belahan dunia. Menurut hasil ilmiah, vaksin Sinovac 100 persen efisien dan efektif dalam mencegah infeksi sedang, 77,9% efektif dalam mencegah kemungkinan kasus ringan, dan memiliki kemanjuran keseluruhan setidaknya 50,4 persen dalam uji coba terakhir. Pakar vaksin telah mengindikasikan bahwa

(21)

3

hasil uji coba cukup baik untuk vaksin didaftarkan untuk digunakan di antara populasi umum. diperkirakan bahwa antibodi terakhir 6 bulan pada vaksinasi.

Vaksin ini disetujui oleh pemerintah China setelah uji klinis fase 3 yang dilakukan di Brasil dan negara lain yang melibatkan 50.000 peserta. Alergi dilaporkan sebagai efek samping utama dari vaksin tersebut.(5)

Penelitian oleh Bradley T, et al. menunjukkan bahwa 3 minggu setelah vaksinasi tunggal, orang dengan infeksi SARS-CoV-2 baru-baru ini atau status seropositif memiliki tingkat antibodi yang lebih tinggi terhadap empat antigen SARS-CoV-2 daripada mereka yang tidak memiliki riwayat infeksi.(6)

Pada penelitian yang dilakukan di inggris ada 6673 orang dewasa di rawat di rumah sakit,3932 orang di kecualikan yang tidak ada tanda atau gejala penyakit pernapasan ,2741 dengan tanda atau gejala penyakit pernafasan 1938,untuk vaksin BNT1626b (Pfizer) terdapat 135 tes yang terdeteksi positif:

18 divaksinasi dan 117 tidak di vaksinasi, ChAdOx1 nCoV-19 (AstraZeneca) terdapat 36 tes terdeksi positif: 9 divaksinasi dan 27 tidak divaksinasi.(7)

Adapun pandemi ini sendiri merupakan suatu ujian yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang tersurat dalam QS Al-Baqarah ayat 155-157.

(22)

4

Menilik hal yang telah disebutkan di atas, peneliti pun berkeinginan untuk melakukan penelitian mengenai perbedaan gambaran klinis Covid -19 pada pasien yang telah tervaksinasi dan belum tervaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana karakteristik gejala klinis terkonfirmasi Covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah di vaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk Mengetahui gambaran klinis Covid -19 pada pasien yang telah tervaksinasi dan belum tervaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran klinis Covid -19 pada pasien yang telah tervaksinasi dan belum tervaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia.

b. Mengetahui efektifitas vaksinasi dalam mencegah terjadinya gejala berat yang ditimbulkan Covid-19

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

a. Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diterima terkait dengan gambaran klinis Covid -19.

(23)

5

b. Memperluas wawasan peneliti terkait dengan penyakit dan vaksin COVID-19.

2. Bagi Universitas

a. Menambah referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan terkait dengan penyakit dan vaksin Covid-19.

b. Menambah referensi ilmu tentang respirasi, terkhusus tentang penyakit Covid-19.

3. Bagi Sosial

Menambah pemahaman masyarakat tentang karakteristik gejala klinis terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah di vaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar.

(24)

6

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

A. COVID-19 1. Definisi

Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) merupakan manifestasi multiorgan yang disebabkan oleh infeksi virus Coronavirus 2 (SARSCoV- 2) yang parah, yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada tahun 2019.(8)

Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) merupakan saluran pernapasan baru penyakit yang menyebar luas dan cepat ke seluruh penjuru dunia. Presentasi klinis yang paling umum dari COVID-19 sekarang terkenal dan termasuk demam, batuk, kelelahan, sakit kepala, ketidaknyamanan gastrointestinal, dyspnea dan nyeri otot.(9)

2. Epidemiologi

Kasus pertama kali di temukan di Wuhan, China. Wabah penyakit ini mengalami peningkatan kasus setiap harinya dan mengalami penunjakan diantara akhir januari hingga awal februari 2020 dan pada 3 maret 2020 dilaporkan bahwa SARS-CoV-2 telah mengakibatkan 80.270 kasus yang terkonfirmasi di laboratorium dan klinis serta 2981 kematian pasien (10).

Pada awal terjadinya wabah, kasus COVID-19 sebagaian besar adalah orang tua. Studi terhadap 85 pasien COVID-19 di Wuhan menunjukkan jika usia yang sangat rentan terkena COVID-19 adalah usia rata rata 65 tahun. Setelah wabah di Cina, SARS-CoV-2 menyebar ke seluruh dunia.

(25)

7

Pada awal April 2020, jumlah pasien COVID-19 dilaporkan tertinggi di Amerika Serikat kemudian diikuti Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, dan China.(11)

Kasus wabah COVID-19 pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tangga 2 maret sejumlah 2 kasus (64 tahun dan 31 tahun). Pasien tersebut diduga pernah melakukan kontak dengan orang asing yang terjangkit virus corona selama berada di Indonesia. Hingga tanggal 24 april 2020 jumlah kasus COVID-19 di Indonesia mencapai 8.211 kasus. Dari jumlah tersebut, 1.002 dinyatakan sembuh dan 689 meninggal dan sisanya menjalani perawatan(12). Wabah ini mengalami peningkatan terus menerus hingga 28 Juli 2021, Pemerintah Republik Indonesia telah melaporkan sebanyak 3.287.727 orang terkonfirmasi positif COVID-19.

Terdapat 88.659 kematian terkait COVID-19 yang dilaporkan dan 2.640.676 pasien telah pulih dari COVID-19.(13)

Jumlah kasus baru secara global yang dilaporkan pada tanggal 19- 25 Juli 2021 lebih dari 3,8 juta yang mengalami peningkatan sebanyak 8%

disbanding sebelumnya. Rata rata sekitar 540.000 kasus dilaporkan setiap hari. Amerika serikat menduduki peringkat pertama dengan kasus COVID19 terbanyak dengan penambahan kasus baru sebanyak 90.660 kasus.(14)

Pada umunya Separuh agung kejaidan yang telah terkonfirmasi yaitu pasien yang ber usia 30-79 tahun (86,6%) beserta kebanyakan pasien dengan umur ≥60 tahun mengalami kematian. Pasien di fraksi usia ≥80

(26)

8

tahun tampak menaik kematian yang menaik (20,3%) di tengah semua fraksi umur yang ada. Sementara kelompok usia ana 0-9 tahun dilaporkan berjumlah relative rendah. Selain itu, laporan dari berbagai negara di dunia membuktikan jika tidak tampak ketewasan kedapatan pada kasus ringan dan tingkat ketewasan terdapat 49% adalah pasien dikategorikan kasus kritis.(15)

3. Etiologi

Coronavirus sebagai virus RNA besar beruntai tunggal positif yang menginfeksi manusia, tetapi juga beragam hewan. Coronavirus dideskripsikan pada tahun 1966 oleh Tyrell dan Bynoe, membudidayakan virus dari pasien dengan flu awam.(16)

Berlandaskan morfologi sebagai virion bola dengan pelindung inti yang di kombinasikan dasar perlindungan yang hamper mirip korona matahari, yang di indikasikan sebagai coronavirus.terdapat empat sub family, yang terdiri dari alpha‐, ‐, gamma‐,beta, delta ‐ corona ada. virus korona alfa dan beta nyatanya timbul dari hewan menyusi, khususnya hewan kelelawar, virus gamma dan delta timbul akibat hewan babi dan burung. Genom mempunyai ukuran yang bermacam macam dari 26 kb dan 32 kb.dari tujuh subtipe coronavirus yang hanya menginfeksi manusia, beta-coronavirus bisa mengakibatkan penyakit atau kematian yang membuat parah, untuk alphacoronavirus membuat infeksi tanpa timbul gejala atau gejala ringan CoV ‐ 2 terdapat juga dari keluarga keturunan B dari beta ‐ coronavirus dan termasuk dalam virus SARS ‐ CoV.(16)

(27)

9 4. Patogenesis

Diagnosis Covid-19 diakibatkan SARS-CoV2, salah satu genus β.

Virus ditularkan paisen covid melalui droplet yang menyebarkan ke kanal napas melalui batuki, prosedur nebulizer atau intubasi. Ventilasi yang buruk mempercepat penularannya. Virus ini dapat bertahan pada bahan yang berbahan stainless steel 5,6 jam dan plastik 6,8 jam. Virus yang menyatu pada sel inang secara lsnung menyatu ke reseptor seluler ACE2 . kaitan yang terbentuk sepuluh kali lebih kuat dibandingkan SARS-CoV, selanjutnya masuk ke sitoplasma, setelah terjadi pengkodean, poliprotein dipecah oleh protease dan chymotrypsin diaktifkan. Kompleks yang dihasilkan mendorong produksi RNA melalui replikasi dan transkripsi, ditumbuhkan ke lumen retikulum endoplasma. Virion kemudian dilepaskan dari sel yang terinfeksi melalui eksositosis. Virus segera di lepasakan yang dapat mengakbitkan menginfeksi sel-sel ginjal, hati, jantung, intestin, dan limfosit T, dan juga kanal pernafasan terbawah.

Menimbulkan gejala . Masa inkubasi 1- 14 hari, yang biasanya terjadi 3- 7 hari.(17)

5. Manifestasi Klinis

terdapat orang-orang yang terinfeksi tidak ada menunjukkan gejala dan tidak mengalami ganguan kesehatan. Gejala COVID-19 yang paling sring adalah demam, rasa capek, dan batuk . Beberapa pasien kadang mengalami mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, nyeri

(28)

10

kepala, konjungtivitis, sakit tenggorokan, diare, hilang penciuman dan pembauan atau ruam kulit.(18)

Pada kasus berat akan mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, gagal multi-organ, termasuk gagal ginjal atau gagal jantung akut hingga berakibat kematian. Orang lanjut usia (lansia) dan orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan paru, diabetes dan kanker berisiko lebih besar mengalami keparahan.(18)

Tanda dan gejala yang di timbulakna dan yang paling sering terjadi meliputi: demam (87,9%), batuk tidak berdahak (67,7%), sering merasa lelah (38,1%). Gejala lain ringan sedang di barengi timbulnya dahak (33,4%), nafas sesak (18,6%), tenggorokan merasa sakit ( 13,9%), nyeri kepala (13,6%), arthralgia (14,8%), menggigil (11,4%), mual atau muntah (5,0%), hidung merasa tersumbat (4,8%), diare (3,7%), diare (3,7%), dan hemoptisis (0,9%) ), dan kongesti konjungtiva (0,8%). anosmia,. Gejala berat sesak napas pada dada (18,6%) frekuensi napas lebih dari 30 x/menit, hipoxemia, PaO2/FiO2 ratio 50% hingga 24-48 jam.(19)

Berdasarkan beratnya kasus, COVID-19 dibedakan menjadi tanpa gejala, ringan, sedang, berat dan kritis.(20)

a. Tanpa gejala

hal ini merupakan tingkat paling ringan. Pasien tidak terdapat gejala.

(29)

11 b. Ringan

Pasien yang terdapat gejala dan tidak ada bukti yang sepsifik terdapat pneumonia . kadang terdapat gejalal seperti demam, batuk, fatigue, anoreksia, napas cepat, mialgia. Gejala tidak spesifik lainnya seperti sakit tenggorokan, kongesti hidung, sakit kepala, diare, mual dan anosmia atau ageusiayang muncul sebelum terdapat gejala pernapasan juga sering diinfokan. Pasien tua dan immunocompromised gejala atipikal seperti fatigue, kesadaran menurun, menurun mobilitas, diare, hilang nafsu makan, delirium, dan tidak terdapat demam.

c. Sedang/Moderat

pasien dengan tanda klinis pneumonia (demam, batuk, sesak, napas cepat) tetapi tidak terdapat pneumonia termasuk SpO2 yang kurang dari 93% dengan udara atau, anak-anak : pasien klinis pneumonia tidak berat (batuk atau sesak ditambah napas cepat atau tarikan dinding dada) dan tidak terdpat pneumonia ringan maupun berat). Kriteria sesak nafas : usia 5 tahun, ≥ 30x/menit.

d. Berat

Pada pasien dewasa atau remaja : pasien terdapat tanda klinis pneumonia (batuk sesak dan demam) ditambah satu dari: frekuensi napas > 30 x/menit,stress yang mengakibatkan pernapasan berat, atau SpO2 < 93% pada pasien anak : pasien dengan tanda klinis pneumonia

(30)

12

(batuk atau kesulitan bernapas), ditambah setidaknya satu dari berikut ini:

1) SpO2 5 tahun, ≥30x/menit 2) pernapasan tidak teratur

3) bahaya yang biasa terjadi : ketidakmampuan menyusui atau minum, letargi atau kejang.dan kesadaran menurun

4) Napas cepat/tarikan dinding dada/takipnea : usia 5 tahun,

≥30x/menit.

e. Kritis

Pasien dengan terjangkit ARDS, sepsis,sepsis yang syok dan saturasi oksigen < 85%

6. Tatalaksana

Adapun tatalaksana yang dapat diberikan terhadap pasien Covid-19.

(21)

a. Isolasi yang dilakukan pemantauan

1) Isolasi mandiri di rumah selama 10 hari

2) Pasien yang di jaga dan di fi folup melalui telepon seluler oleh FKTP.

3) Folup melalui FKTP setelah 10 hari karantina untuk pemantauan.

b. Non-farmakologis

Berikan edukasi terkait tindakan yang perlu dikerjakan (leaflet untuk dibawa ke rumah

(31)

13 B. Vaksin

1. Definisi

Vaksin memberikan sistem kekebalan dengan instruksi yang diperlukan untuk mengenali dan memobilisasi garis pertahanan terhadap mikroorganisme penyebab penyakit, seperti bakteri atau virus. Dalam vaksin klasik, antigen (penanda molekuler khas) dimasukkan ke dalam tubuh, yang berasal dari bakteri yang tidak aktif atau setengah aktif atau virus yang dilemahkan. Antigen ini mampu menyebabkan penyakit, tetapi masih mampu mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, dan sel-selnya mengembangkan antibodi. Jika orang tersebut melakukan kontak dengan patogen asli, sistem kekebalan akan memiliki antibodi yang diperlukan dan akan memperbanyaknya lebih cepat karena telah disensitisasi oleh vaksinasi.(22)

2. Klasifikasi Vaksin Covid-19

Berdasarkan riset baru empat vaksin yang telah resmi diterbitkan dan disahkan untuk digunakan melawan COVID-19 di berbagai belahan dunia.

Oleh karena itu, bagian ini berisi empat rekan yang mengulas hasil vaksin resmi. Vaksin lain masih dalam uji klinis dan data kemanjuran dan keamanannya tidak tersedia. Dari keempatnya, dua adalah mRNA (vaksin mRNA COVID-19 BNT162b2 (Pfizer), vaksin mRNA-1273 (Moderna) sedangkan dua lainnya (vaksin ChAdOx1 nCoV-19 / AZD1222 (AstraZeneca) dan Sinovac China) adalah vaksin vektor.(5)

(32)

14

a. Keamanan dan Khasiat vaksin mRNA COVID-19 Vaksin BNT162b2 (Pfizer)

Dari uji coba yang melibatkan ukuran sampel 21720 , kandidat vaksin, 16 tahun menerima 30μg vaksin mRNA ini yang diberikan dalam 2 dosis dengan jarak 21 hari. Di antara 21.720 kandidat yang menerima vaksin, 8 di antaranya menunjukkan tanda-tanda COVID- 19 setidaknya satu minggu setelah dosis kedua vaksin. BNT162b2 menunjukkan persentase perlindungan 95% (95% CI, 90,3 - 97.6) dengan masalah keamanan yang ditunjukkan oleh nyeri sementara pada titik injeksi, kelelahan, dan sakit kepala yang dinilai sebagai reaksi lokal normal. Kurang dari 1% mengalami nyeri hebat di tempat suntikan. Vaksin ini dianggap aman untuk pencegahan infeksi COVID-19 dan antibodi bertahan selama 2 bulan. Vaksin ini disetujui oleh US Food and Drug Administration (FDA). Efek samping yang dilaporkan terutama kelelahan dan sakit kepala (59% dan 52%, masing-masing.

b. Keamanan dan Khasiat vaksin mRNA-1273 (Moderna)

Uji klinis yang dilakukan oleh para peneliti dan melibatkan ukuran sampel 30.000 mengungkapkan bahwa vaksin mRNA-1273 adalah diberikan dalam 100 g dosis 28 hari terpisah. Sama seperti, BNT162b2, vaksin enkapsulasi nanopartikel lipid ini diuji dalam plasebo dan vaksin mRNA dengan perbandingan 1:1. Gejala COVID- 19 diamati pada 11 pasien dari 15.210 orang yang menerima vaksin

(33)

15

mRNA-1273. Kemanjuran ditemukan menjadi 94,1% yaitu (95% CI, 89,5 – 96,8%; p. Menurut para peneliti, tidak ada masalah keamanan dengan vaksin karena hanya reaksi lokal dan sistemik yang diamati yang diamati. Antibodi bertahan selama 4 bulan setelah vaksinasi,Vaksin itu disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) . Terlapor Efek sampingnya terdiri dari nyeri pada titik injeksi (91,6%), kelelahan (68,5%), sakit kepala (63,0%), nyeri otot (59,6%), dan nyeri sendi (44,8%).

c. Keamanan dan Khasiat vaksin ChAdOx1 nCoV-19 / AZD1222 (AstraZeneca)

Vaksin ini telah dicoba di Afrika Selatan, Inggris, dan baru-baru ini di Brasil dengan peserta yang menerima 5×kan10^ 10 molekul vaksin berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh . Uji klinis fase 3 melibatkan ukuran sampel 23.848 peserta. Kemanjuran vaksin keseluruhan dihitung sebagai 70,4% (95% CI, 54,8-80,6, 30[0,5%]

dari 5807 pasien). Vaksin vektor virus ini terbukti manjur dan aman untuk memerangi COVID19 karena hanya 79 pasien dari 5.807 pasien yang menerima vaksin ChAdOx1 menunjukkan COVID19 gejala.

Antibodi bertahan selama. bulan setelah vaksinasi. Vaksin ini telah disetujui oleh Institutional Biosafety Komite (IBC) [13]. Sisi utama efek termasuk kelelahan dan sakit kepala.

(34)

16

d. Keamanan dan Khasiat vaksin Sinovac China

Vaksin CoronaVac COVID-19 China yang dikembangkan oleh Sinovac telah terbukti tidak berbahaya dan protektif setelah uji coba fase ketiganya di berbagai negara di dunia, sebuah faktor yang meningkatkan kepercayaan publik terkait peluncurannya di berbagai belahan dunia [21 ]. Menurut hasil ilmiah, vaksin Sinovac adalah 100.

persen efisien dan efektif dalam mencegah infeksi sedang, 77,9%

efektif dalam mencegah kemungkinan kasus ringan, dan memiliki kemanjuran keseluruhan setidaknya 50,4 persen dalam uji coba terakhir Brasil [20]. Pakar vaksin telah mengindikasikan bahwa hasil uji coba cukup baik untuk vaksin didaftarkan untuk digunakan di antara populasi umum. Dia diperkirakan bahwa antibodi terakhir 6 bulan pada vaksinasi. Vaksin ini disetujui oleh pemerintah China setelah uji klinis fase 3 yang dilakukan di Brasil dan negara lain yang melibatkan 50.000 peserta. Alergi dilaporkan sebagai efek samping utama di antara peserta.

C. Tinjauan Keislaman

1. Wabah Penyakit COVID-19 menurut Pandangan Islam

dunia telah dikejutkan adanya sebuah temuan kasus wabah penyakit menular yag berbahaya dan dapat mengancam seluruh manusia di dunia yaitu wabah COVID-19 yang diduga bersumber dari Wuhan di Cina.

Akibat karena adanya wabah ini, banyak cara telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia lewat Satuan gabungan Penanganan COVID-19

(35)

17

yang memberlakukan strategi pemutusan melalu Social Distancing dan Physical Distancing ataupu dengan melakukan karantina mandiri. Terlepas dari segala usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah dan msyarakat, telah diterangkan cara dan petunjuk untuk bisa menghadapi masalah seperti ini di dalam Al-Qur’an karena sudah banyak sekali kisah kisah berbagai penyakit berbahaya seperti COVID-19 ini. Menurut konsepsi Al- Quran tidak satupun manusia sepanjang hidupnya yang bisa terlepas dari cobaan ataupun ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Hal ini telah tercantum dalam QS Al-Anbiyat : 35.

ُّ لُك ُّ سْفَن ُُّةَقِٕىۤاَذ ُّ ت ْوَمْلا ُّْمُك ْوُلْبَن َو ُّ رَّشلا ب ُّ رْيَخْلا َو ُّ ةَنْت ف اَنْيَل ا َو ۗ َُّن ْوُعَج ْرُت Terjemahnya:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada kami.” (QS Al-Anbiyat : 35)

Dengan munculnya wabah COVID-19 ini, umat manusia senantiasa harus ikhtiar sesuai dengan petunjuk petunjuk Al-Qur’an dan selalu bertawakkal sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada kondisi seperti ini, umat manusia harus selalu meningkatkan keimanannya dan meyakini bahwa apa yang menimpa seorang hamba tidak akan meleset darinya.

2. Pencegahan Wabah

jika kita rujuk pada sejarah nabi adalah wabah yang sudah terjadi dengan kondisi yang hampir sama, hingga penanganannya pun sama.

Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati

(36)

18

wilayah yang sedang terkena wabah, hal ini terdapat Dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim.

ُّ بَُّعَق َوُّاَذ إوُّ،اَھوَلُخْدَتُّ َلََفُّ ض ْرا بُّ نوُعُّاَّطلا بُّْمُثْع مَسُّاَذ ٳ

ُّاوُجُّ ُرْخَتُّ َلََفُّاَھ بُّْمُتْنَأ َوُّ ض ْرا اَھْن م

Artinya:

"Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

َو َه ِرْكُا ْنَم الَِّا ٖٓ هِناَمْيِا ِدْعَب ْْۢنِم ِ هللّٰاِب َرَفَك ْنَم ْنِكٰل َو ِناَمْيِ ْلَّاِب ْۢ نِٕىَمْطُم ٗهُبْلَق

َش ْنام ا ًرْدَص ِرْفُكْلاِب َح َر

ٌمْيِظَع ٌباَذَع ْمُهَل َوۗ ِ هاللّٰ َنِ م ٌبَضَغ ْمِهْيَلَعَف Artinya:

“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. “QS: an- Nahl: 106)

َرْسُعْلا ُمُكِب ُدْي ِرُي َلَّ َو َرْسُيْلا ُمُكِب ُ هاللّٰ ُدْي ِرُي Artinya :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS: al-Baqarah: 185)

ْمُكْيَلَع َلَعَج اَم َو ْمُكىٰبَتْجا َوُه ۗ ج َرَح ْنِم ِنْيِ دلا ىِف

Artinya :

(37)

19

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS: al-Hajj: 78)

فْنَا َو ا ْوُعْيِطَا َو ا ْوُعَمْسا َو ْمُتْعَطَتْسا اَم َ هاللّٰ اوُقاتاَفِِ ْۗمُكِسُفْنَ ِ لَّ ا ًرْيَخ ا ْوُق

Artinya :

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”

(QS: al-Taghabun 16)

Berdasarkan dari Quran Surat diatas bahwa kita pahami pada pandemi covid-19 yang telah kita rasakan , salah satu factor untuk mengancam nyawa seta jiwa manusia, maka sudah menjadi wajib bagi umat manusia untuk menjauhi dirinya dari wabah tersebut. Demikian maka kita pahami bahwa tidak mengerjakan shalat secara berjamaah disebabkan factor sakit atau takut bukanlah bermaksud menghindari sholat berjamaah tetapi memelihara nyawa (hifdz al-nafs) itu karena jika keberadaan umat Islam yang sehat dan kuat, niscaya Islam tidak dapat menyebarkan kebaikan yang di amalkan.

D. Kerangka Teori

(38)

20

Vaksinasi Covid-19

Sistem kekebalan akan memiliki antibodi yang diperlukan dan akan memperbanyaknya lebih cepat

Immunitas tubuh meningkat

Gambar II 1 Kerangka Teori

(39)

21

BAB III : KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep ini dibuat bertujuan agar mengetahui bagaimana wujud klinis Covid -19 pada pasien yang telah tervaksinasi dan belum tervaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia adalah:

B. Difinisi Operasional

1. Usia

Definisi : Data usia pasien yang terkonfirmasi COVID-19 berdasarkan rekam medic

Alat takar : Rekam Medik Hasil takar : 1. 0 – 10 Tahun

2. 11 – 20 Tahun Karkteristik Pasien :

Covid-19

Gejala Klinis terkonfirmasi Covid-19 yang sudah vaksin dan

belum di vaksin Independent

Variable (X) Dependent

Variable (Y)

Gambar III.1 Kerangka Konsep

(40)

22

3. 21 – 30 Tahun 4. 31 – 40 Tahun 5. 41 – 50 Tahun 6. 60-70 Tahun 7. 71-80 Tahun 8. 80-90 tahun 9. 91-100 tahun Skala Data : ordinal

2. Jenis Kelamin

Keteranga : Data pasien per jenis kelamin yang terkonfirmasi COVID-19 berdasarkan rekam medik

Alat takar : Rekam medic Hasil takar : 1. Laki-laki

2. perempuan Skala ukur : Nominal

3. Status Vaksinasi COVID-19

Definisi : Status vaksinasi COVID-19 pasien saat terkonfirmasi menderita COVID-19

Alat Ukur : Konfirmasi dari partisipan/keluarga partisipan Hasil ukur : 1. Sudah divaksin

2. Belum divaksin Skala Data : Kategorik

(41)

23 4. Gejala Klinis Covid-19

Definisi : Data Gejala Klinis pasien pasien yang terkonfirmasi COVID-19

alat takar : Rekam medic

Hasil takar : 1. Gejala Repirasi 2. Gejala Neurologi 3. Gejala gastrointestinal 4. Gejala lainnya

Skala Data : Kategorik

(42)

24

BAB IV : METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

Observasi ini menggunakan deskriptif dan metode retrospektif dengan karakter gejala klinis terkonfirmasi covid-19 sebelum dan sesudah vaksinasi berdasarkan tipe usia,jenis kelamin,covid-19,vaksin atau belum vaksin,dan gejala. Melewati rekam medic sebagai data observasi.

B. Objek Penelitian 1. Tempat

Rumah Pelamonia, Makassar 2. Waktu Penelitian

September – November 2021 C. Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Seluruh pasien yang terkena covid-19 di RS Pelamonia Makassar.

2. Sampel

Semua pasien terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah di vaksinasi di Rs.pelamonia Makassar.sampel yang dipakai untuk observasi memakai total sampling.

3. Kriteria inklusi

penderita terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah di vaksinasi di Rumah Sakit Pelamonia Makassar.

(43)

25 4. Kriteria Eksklusi

1. rekam medic yang sulit terbaca.

2. adanya ketidak lengkapan data dibagian variabel yang diperlukan.

D. Cara penyatuan data

Data sekunder didapatkan dari semua catatan rekam medis terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah di vaksinasi.

E. Metode Analisa Data

Data setelah dikumpulkan dianalisis menggunakan SPSS. Pengolahan data mengunakan langkah berikut :

1. Editing : untuk melengkapi data rekamedi pasien.

2. Coding : untuk memberi kode data yang di dapatkan.

3. Entry : memasukan data di aplikasi SPSS 4. Cleaning : pemeriksaan data.

(44)

26 F. Alur Penelitian

G. Etika Penelitian

1. Memberikan Surat kepada pihak RS pelamonia makassar

2. privasi informasi/informasi hanya peneliti mengetahui data tersebut.

Gambar IV 1 Alur penelitian

(45)

27

BAB V: HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN UMUM POPULASI/SAMPEL

Penelitian tentang karakteristik gejala klinis terkonfirmasi covid-19 yang belum divaksinasi dan sudah divaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar pada bulan Oktober-November 2021. Data yang digunakan adalah berasal dari rekam medis pasien yang terkonfirmasi poitif COVID-19 di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 345 sampel. Hal yang diteliti pada seluruh sampel adalah mencakup usia, jenis kelamin, status vaksinasi, dan gejala klinis yang dialami.

Data yang telah terkumpul dari rekam medis pasien kemudian dimasukkan ke dalam suatu tabel induk (master table) menggunakan aplikasi Microsoft Excel. Selanjutnya, data tersebut diolah menggunakan aplikasi SPSS (Statistical Product and Service Solution) dalam perangkat komputer.

B. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar yang secara demografis berada di , Jl. Jend.Sudirman No 27, Pisang Utara, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90157.

C. DESKRIPSI KARAKTERISTIK SAMPEL 1. Usia

Tabel V 1 Distribusi Berdasarkan Usia

Usia N Presentase

(%)

0-10 10 2.8

11-20 30 8.5

21-30 95 26.8

(46)

28

31-40 52 14.7

41-50 52 14.7

51-60 62 17.5

61-70 33 9.3

71-80 17 4.8

81-90 1 0.3

91-100 2 0.6

Total 354 100

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V.1, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 berjumlah 354 orang, dimana didapatkan pasien yang berusia 0-10 berjumlah 10 orang (2.8%), berusia 11-20 berjumlah 30 orang (8.5%), berusia 21-30 berjumlah 95 orang (26.8%), berusia 31-40 berjumlah 52 orang (14.7%), berusia 41-50 berjumlah 52 orang (14.7%), berusia 51-60 berjumlah 62 orang (17.5%), berusia 61-70 berjumlah 33 orang (9.3%), berusia 71-80 berjumlah 17 orang (4.8%), berusia 81-90 berjumlah 1 orang (0.3%), dan berusia 91-100 berjumlah 2 orang (0.6%).

2. Jenis kelamin

Tabel V 2 Distribusi Karakteristik Jenis Kelamin Jenis

Kelamin N Presentase

(%)

Laki-laki 227 64.1

Perempuan 127 35.9

Total 354 100

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 2, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 227 orang (64.1%) dan perempuan 127 orang (35.9%)

(47)

29 3. Status vaksinasi Covid-19

Tabel V 3 Distribusi Berdasarkan Status Vaksinasi Covid-19

Status vaksin N Presentase

(%)

Belum vaksin 203 57.3

Sudah vaksin 151 42.7

Total 354 100

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 3, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang belum melakukan vaksinasi sebanyak 203 orang (57.3%) dan yang sudah melakukan vaksinasi sebanyak 151 (42.7%).

4. Tingkatan Berat Kasus Gejala Covid-19

a. Tingkat Berat Kasus Gejala Covid-19 Sudah di Vaksim Tabel V 4.1 Distribusi Berdasarkan Gejala Klinis

Tingkatan

Berat Kasus N Presentase

(%)

Ringan 136 90.1

Sedang 11 7.3

Berat 4 2.6

Total 151 100

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari table V 4.1 diketahui bahwa sampel tingkatan berat kasus gejala covid-19 sudah di vaksin yang mengalami gejala ringan berjumlah 136 orang (90.1%), gejala sedang berjumlah 11 orang (11%), dan gejala berat berjumlah 4 orang (4%)

b. Tingkat Berat Kasus Gejala Covid-19 Belum di Vaksim Tabel V 4.2 Distribusi Berdasarkan Gejala Klinis

(48)

30 Tingkatan

Berat Kasus N Presentase

(%)

Ringan 101 49.8

Sedang 50 24.6

Berat 25 12.3

Kritis 27 13.3

Total 203 100

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari table V 4.1 diketahui bahwa sampel tingkatan berat kasus gejala covid-19 belum di vaksin yang mengalami gejala ringan berjumlah 101 orang (49.8%), gejala sedang berjumlah 50 orang (24.6%), gejala berat berjumlah 25 orang (12.3%), dan kritis berjumlah 27 orang (13.3%) .

c.

5. Gejala Klinis

Tabel V 5 Distribusi Berdasarkan Gejala Klinis

Gejala Klinis N Status Vaksinasi Presentase Belum Sudah (%)

Gejala Respirasi 288 167 121 81.36

Gejala Neurologis 127 75 52 35.88

Gejala Gastrointestinal 111 74 37 31.36

Gejala lainnya 249 141 108 70.39

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala respiratori berjumlah 288 orang (81.36%), gejala neurologis berjumlah 127 orang (35.88%), gejala gastrointestinal berjumlah 111 orang (31.36%), dan yang mengalami gejala lainnya berjumlah 249 orang (70.39%).

(49)

31 d. Gejala Respiratori

Tabel V 5.1 Distribusi Berdasarkan Gejala Respiratori Gejala Respirasi N Status vaksinasi Persentase

(%) Belum Sudah

Batuk 269 151 118 76.0

Rhinnorhea 85 43 42 24.0

Sesak napas 83 72 11 23.4

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4.1, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala respirasi berupa batuk ditemukan terjadi pada 269 orang (76.0%), rhinnorea ditemukan terjadi pada 85 orang (24.0%), dan sesak napas ditemukan pada 83 orang (23.4%).

e. Gejala Neurologis

Tabel V 5.2 Distribusi Berdasarkan Gejala Neurologis Gejala

Neurologis N Status vaksinasi Persentase Belum Sudah (%)

Anosmia 86 40 46 23.4

Nyeri kepala 52 33 19 14.7

Pusing 14 10 4 4.0

Ageusia 11 7 4 3.1

Nyeri seluruh

badan 4 2 2 1.1

Kejang 2 2 0 0.6

Nyeri pinggang 1 1 0 0.3

(50)

32

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4.2, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala neurologis berupa anosmia ditemukan terjadi pada 86 orang (23.4%), nyeri kepala ditemukan terjadi pada 52 (14.7%), pusing ditemukan terjadi pada 14 orang (4.0%), ageusia ditemukan terjadi pada 11 orang (3.1%), nyeri seluruh badan ditemukan terjadi pada 4 orang (1.1%), kejang ditemukan terjadi pada 2 orang (0.6%), dan nyeri pinggang ditemukan terjadi pada 1 orang (0.3%).

f. Gejala Gastrointestinal

Tabel V 5.3 Distribusi Berdasarkan Gejala Gastrointestinal Gejala

Gastrointestinal N Status vaksinasi Persentase Belum Sudah (%)

Nyeri menelan 57 23 24 16.1

Mual 32 23 9 9.0

Muntah 31 25 6 8.8

Nyeri ulu hati 20 19 1 5.6

Diare 14 10 4 4.0

Nyeri perut 7 6 1 2.0

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4.3, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala gastrointestinal berupa nyeri menelan ditemukan terjadi pada 57 orang (16.1%), mual ditemukan terjadi pada 32 orang (9.0%), muntah ditemukan terjadi pada 31 orang (8.8%), nyeri ulu hati ditemukan terjadi pada 20 orang (5.6%), diare ditemukan terjadi pada 14 orang (4.0%), dan nyeri perut ditemukan terjadi pada 7 orang (2.0%).

g. Gejala lainnya

Tabel V 5.4 Distribusi Berdasarkan Gejala Lainnya

Gejala Lainnya N Status vaksinasi Persentase (%) Belum Sudah

(51)

33

Demam 240 137 103 67.8

Lemas 64 33 31 18.1

Menggigil 18 13 5 5.1

Berdasarkan dari data yang diperoleh dari tabel V 4.4, diketahui bahwa sampel yang terkonfirmasi Covid-19 yang mengalami gejala gastrointestinal berupa demam ditemukan terjadi pada 240 orang (67.8%), lemas ditemukan terjadi pada 64 (18.1%), dan menggigil ditemukan terjadi pada 18 orang (5.1%).

(52)

34

BAB VI: PEMBAHASAN

A. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan berjudul Karakteristik Gejala Klinis Terkonfirmasi Covid-19 Yang Belum Divaksinasi dan Sudah Di Vaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar diperoleh 354 sampel. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui gambaran klinis Covid -19 pada pasien yang telah tervaksinasi dan belum tervaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia berdasarkan umur, jenis kelamin, status vaksinasi dan gejala klinis yang dialami.

Berdasarkan distribusi usia, didapatkan bahwa responden yang berada pada kelompok usia muda dan dewasa lebih banyak yang terkonfirmasi menderita Covid-19 dibandingkan dengan kelompok usia yang lain. Penelitian ini sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Ibrahim ME, et al. dimana pada penelitiannya disebutkan bahwa responden yang berada pada midle-aged group merupakan kelompok yang paling banyak terinfeksi oleh Covid-19.(23) Pada observasi yang di buat oleh Malmgren J, et al. disebutkan meskipun kelompok yang banyak terinfeksi Covid-19 adalah kelompok umur di atas 60 tahun, namun presentase kejadian pada kelompok usia 0-19 tahun dan 20-39 tahun terus mengalami kenaikan yang signifikan tanpa adanya penurunan angka kejadian pada kelompok tersebut meskipun saat telah diberlakukannya ketentuan untuk berdiam diri di rumah. Hal ini dijelaskan lebih lanjut dapat disebabkan oleh adanya pengaruh predominan dari aktivitas sosial.(24)

Pada penelitian yang dilakukan oleh Michela Antonelli. disebutkan bahwa kelompok yang memiliki gejala klinis yang ringan dan tidak terlalu parah kebanyakan dari pasien yang sudah divaksinasi. Pada penelitian tersebut juga mengatakan bahwa pasien yang memiliki gejala Covid-19 yang parah adalah sekelompok orang yang belum pernah divaksinasi. (25)

(53)

35

Berdasarkan distribusi jenis kelamin, pada penelitian ini ditemukan bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 227 orang (64.1%).

Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan perempuan yang berjumlah 127 orang (35.9%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nikpouraghdam M, et al. dimana ratio rawat inap pada laki-laki dibanding perempuan adalah 1.93:1.(26)

Seperti yang diketahui bahwa Angiotensin-converting enzyme-2 (ACE 2) yang dikode oleh ACE 2 gene telah terbukti menjadi reseptor dari SARS- Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Pada penelitian tentang expression level dan pattern human ACE 2 menggunakan a single-cell RNA-sequencing (RNA-seq) yang dilakukan oleh Zao Y, et al. diindikasikan bahwa ekspresi dari ACE2 pada laki-laki Asia lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Pada penelitian yang menggunakan populasi orang China, ditemukan bahwa paru-paru laki-laki Asia mengekspresikan ACE 2 dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan perempuan.(27)(28)

Berdasarkan distribusi berdasarkan status vaksinasi, didapatkan bahwa jumlah pasien yang terkonfirmasi positif menderita Covid-19 sebagian besar adalah responden yang belum melakukan vaksinasi Covid-19, yaitu berjumlah 203 orang (57.3%). Menurut CDC, kemampuan vaksin akan menurun dalam mencegah terjadinya infeksi Covid-19, namun vaksinasi Covid-19 terus mengurangi kemungkinan untuk rawat inap dan terjadinya kematian pada orang yang terinfeksi Covid-19.(29)

Menurut hasil penelitian Liu Q, et al.diketahui bahwa orang yang telah memperoleh single doze vaksin Covid-19 memiliki efektivitas sekitar 40-60%

dalam mencegah terjadinya manifestasi clinis dari Covid-19, sedangkan yang telah mendapat dosis kedua memiliki efektivitas sekitar 85% atau lebih.(30)

(54)

36

Dilihat dari distribusi responden berdasarkan gejala klinis, 288 orang responden mengalami gejala respirasi dan merupakan gejala tertinggi yang dialami oleh responden yang terkonfirmasi Covid-19. Hal ini disebabkan ekspresi ACE2 ditemukan paling banyak pada paru-paru dibandingkan dengan organ lain.(11)

Gejala respirasi yang paling banyak diderita oleh responden adalah batuk dimana ditemukan sebanyak 269 orang (76%). Penelitian ini sejalan dengan apa yang dialakukan oleh Grant MC, et al. dimana pada penelitiannya didapatkan gejala batuk merupakan gejala respirasi terbanyak dari gejala respirasi yang terjadi pada responden yang terkonfirmasi positif Covid-19.(31) Disribusi responden berdasarkan gejala neurologis didapatkan bahwa gejala terbanyak yang dialami responden adalah anosmia yang berjumlah 26 orang (23.4%). Dalam halaman ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rogers JP, et al. dan Chou SHY, et al dimana yang diperoleh dalam dua penelitian ini gejala neurologis yang paling umum dijumpai adalah nyeri kepala.(32) (33) Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Favas TT, et al. disebutkan bahwa anosmia merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada gangguan penciuman pada sistem saraf perifer.(34)

Pada gejala gastrointestinal yang paling sering ditemui pada responden adalah nyeri menelan dimana terjadi pada 57 orang (16.1%). Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Grant MC, et al. dimana gejala gastrointestinal yang paling sering muncul adalah diare.(31)

Berdasarkan gejala lain yang dialami responden, didapatkan bahwa gejala demam merupakan gejala yang paling sering ditemui yaitu sebesar 240 orang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amin et al.

yang menyebutkan bahwa gejala demam merupakan gejala yang paling sering ditemui pada responden yang terkonfirmasi menderita Covid-19.(35)

(55)

37 B. TINJAUAN KEISLAMAN

Pandemi Covid-19 telah berlangsung sejak tahun 2020 di Indonesia. Tak dapat dipugkiri, ini merupakan suatu ujian bagi umat manusia di seluruh dunia.

Tak hanya masalah kesehatan, namun permasalahan dari berbagai bidang bermunculan seiring terus berlanjutnya pandemi ini. Namun, kita sebagai umat muslim, hendaknya menyakini bahwa hal ini adalah ketentuan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala ,

(56)

38

Sebagai umat Islam, kita hendaknya menjadikan sebagai momen muhasabah diri dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta meningkatkan kadar keimanan kita, tentunya dalam hal ini kita ta melupakan untuk melakukan ikhtiar agar terhindar dari wabah Covid-19 ini, salah satunya dengan melakukan vaksinasi.

BAB V I I

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berlandaskan dari penelitian yang sudah dilakukan berjudul Karakteristik Gejala Klinis Terkonfirmasi Covid-19 Yang Belum Divaksinasi dan Sudah Di Vaksinasi di Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Didapatkan jumlah Berdasarkan dari data yang diperoleh diketahui bahwa sampel tingkatan berat kasus gejala covid-19 yang sudah di vaksin yang mengalami gejala ringan berjumlah 136 orang (90.1%), gejala sedang berjumlah 11 orang (11%), dan gejala berat berjumlah 4 orang (4%)

2. Didapatkan jumlah Berdasarkan dari data yang diperoleh diketahui bahwa sampel tingkatan berat kasus gejala covid-19 yang belum di vaksin yang mengalami gejala ringan berjumlah 101 orang (49.8%), gejala sedang berjumlah 50 orang (24.6%), gejala berat berjumlah 25 orang (12.3%), dan kritis berjumlah 27 orang (13.3%) .

(57)

39 B. Saran

Berlandaskan hasil dan manfaat hasil observasi di atas maka dari itu saran yang dapat peneliti bagikan sebgai berikut :

1. Disarakan untuk tetap menajaga protokol kesehatan demi menekan jumlah penyebaran kasus COVID-19.

2. Melakukan penelitian lebih lanjut tentang karakteristik gejala klinis pasien COVID-19.

3. Observasi selanjutnya, dengan dilakukanya penelitian yang bertujuan mengetahui hubungan kasus covid yang belum di vaksin dan sudah di vaksin

4. Melakukan peneltian dalam skala yang lebih meluas.

C. dependensi penelitian

observasi yang dilakukan telah dilakukan sesuai prosedur bertaraf ilmiah, tetapi masih memiliki dependensi yaitu:

1. Adanya kesulitan dalam mengumpulan data rekamedis pasien COVID- 19.

2. Pandemic COVID-19 yang menjadi salah satu keterbatasan peneliti dalam mengumpulan data pasien COVID-19.

Tidak adanya batasan jumlah minimal sampel pada pene

(58)

40

(59)

41

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Novel Coronavirus (2019-nCoV) SITUATION REPORT - 1. 2020.

2. Lewnard JA, Lo NC. COVID-19 in children: the link in the transmission chain. 2020;20:633–4.

3. World Health Organization. WHO Coronavirus Disease (COVID-19) Dashboard. 2021.

4. World Health Organization. Coronavirus disease (COVID-19): Vaccines.

2021.

5. HalimM, Halim A TY. HalimM, Halim A, Tjhin Y. Kajian Literatur Khasiat dan Keamanan Vaksinasi COVID-19. J Clin Med Res.

2021;3(1):1- 10. 2021;

6. Bradley T, Grundberg E, Selvarangan R, LeMaster C, Fraley E, Banerjee D, et al. Antibody Responses after a Single Dose of SARS-CoV-2 mRNA Vaccine. new Engl J o f Med. 2021;384(20).

7. atherine Hyams, RobinMarlow, ZandileMaseko, Jade King, LanaWard, Kazminder Fox, Robyn Heath, Anabella Turner ZF, LeighMorrison, Gabriella Ruffino, Rupert Antico, David Adegbite, Zsuzsa Szasz-Benczur, Maria Garcia Gonzalez, Jennifer Oliver LD, AdamFinn JO. nCoV-

19COVID-19 dalam mencegah rawat inap pada orang berusia setidaknya 80 tahun: studi kasus-kontrol tes-negatif. 2020;

(60)

42

8. Han AY, Mukdad L, Long JL LI. Anosmia in COVID-19: 2020;45(6):423–

8., Mechanisms and significance. Chem Senses. 2020;

9. Marinosci A, Landis BN CA. Possible link between anosmia and COVID- 19: sniffing out the truth. Eur Arch Oto-Rhino-Laryngology.

2020;277(7):2149–50.No Title. 2020;

10. Ge H, Wang X, Yuan X, Xiao G, Wang C, Deng T et al. The epidemiology and clinical information about COVID-19. Eur J Clin Microbiol Infect Dis.

2020;39(6):1011–9. 2020.

11. Yuki K, Fujiogi M KS. COVID-19 pathophysiology: A review. Clin Immunol. 2020;215(April).

12. Hikmawati I SR. Epidemiology of COVID-19 in Indonesia: common source and propagated source as a cause for outbreaks. J Infect Dev Ctries.

2021;15(5):646–52.

13. Organization. WH. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Situation Report - 65. J Am Med Womens Assoc. 2021;39.

14. WHO. COVID-19 Weekly Epidemiological Update 35-Epidemiologi.

World Heal Organ. 2021;(December):1–3.

15. Khaedir Y. Perspektif Sains Pandemi Covid-19: Pendekatan Aspek Virologi Dan Epidemiologi Klinik. Maarif. 2020;15(1):40–59.

16. Velavan TP, Meyer CG. The COVID-19 epidemic. Trop Med Int Heal.

2020;25(3):278–80.

(61)

43

17. Sukmana M YF. Sukmana M, Yuniarti FA. The Pathogenesis

Characteristics and Symptom of Covid-19 in the Context of Establishing a Nursing Diagnosis. J Kesehat Pasak Bumi Kalimantan. 2020;3(1):21.

18. Riadi A. Pedoman Pencegahan Pengendalian Coronavirus desease (COVID-19). Math Didact J Pendidik Mat. 2020;4:1–214.

19. Sukmana M YF. The Pathogenesis Characteristics and Symptom of Covid- 19 in the Context of Establishing a Nursing Diagnosis. J Kesehat Pasak Bumi Kalimantan. 2020;3(1):21.

20. Erlina Burhan, Fathiyah Isbaniah, Agus Dwi Susanto TY, Aditama,

Soedarsono, Teguh Rahayu Sartono, Yani Jane Sugiri R, Tantular, Bintang YM Sinaga R. DHH. Pneumoni COVID-19 : DIAGNOSIS &

PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 2020. 67 p.

21. PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN I. Pedoman tatalaksana COVID_19 Edisi 3 Desember 2020. Pedoman Tatalaksana COVID-19. 2020. 36–37 p.

22. Daniela Calina Anca Oana Docea Demetrios Petrakis Alex M. Egorov Aydar A. Ishmukhametov Alexsandr G. Gabibov Michael I. Shtilman Ronald Kostoff Félix Carvalho Marco Vinceti Demetrios A. Spandidos Aristidis Tsatsakis. Towards effective COVID‑19 vaccines: Updates, perspectives and challenges. 2020;3–16.

23. Ibrahim mutasim e, Al-aklobi obaid s, Abomughald mosleh m, Al-

ghamdi mushabab a. Epidemiological, clinical, and laboratory findings for

(62)

44

patients of different age groups with confirmed coronavirus disease 2019 (COVID-19) in a hospital in Arab Saudi. PLoS One. 2021;(1–14).

24. Malmgren J, Guo B, Kaplan HG. Continued proportional age shift of confirmed positive COVID-19 incidence over time to children dan young adults : Washington State March-August 2020. PLoS One. 2021;1–12.

25. Michela Antonelli, Rose S Penfold, Jordi Merino, Carole H Sudre, Erika Molteni, Sarah Berry, Liane S Canas, Mark S Graham KK, Marc Modat, Benjamin Murray, Eric Kerfoot, Liyuan Chen, Jie Deng, Marc F Österdahl, Nathan J Cheetham, David A Drew LHN, Joan Capdevila Pujol, Christina Hu, Somesh Selvachandran, Lorenzo Polidori, Anna May, Jonathan Wolf, Andrew T Chan AH, Emma L Duncan, Tim D Spector, Sebastien

Ourselin* CJS. Risk factors and disease profile of post-vaccination SARS- CoV-2 infection in UK users of the COVID Symptom Study app: a prospective, community-based, nested, case-control study. 2022;22.

26. Nikpouraghdam M, Farahani AJ, Alishiri G, Heydari S, Ebrahimnia M, Samadinia H, et al. Epidemiological characteristics of coronavirus disease 2019 (COVID-19) patients in IRAN: A single center study. J if Clin Virol 127. 2020;104378:1–4.

27. Zao Y, Zhao Z, Wang Y, Zhou Y, Ma Y, Zuo W. Single-Cell RNA

Expression Profiling of ACE2, the Receptor of SARS-CoV-2. Am J Respir Crit Care Med. 2020;202(5):756–9.

28. Zhao Y, Zhao Z, Wang Y, Zhou Y, Ma Y, Zuo W. Single-cell RNA

(63)

45

expression profiling of ACE2, the putative receptor of Wuhan 2019-nCov.

BioRxiv. 2020;

29. Centers for Disease Control and Prevention. Benefit of Getting Vaccinated.

2022.

30. Liu Q, Qin C, Liu M, Liu J. Effectiveness and safety of SARS-Cov-2 vaccine in real-world studies: a systematic review and meta-analysis. Infect Dis proverty. 2021;10(132):1–15.

31. Grant MC, Geoghegan L, Arbyn M, Mohammed Z, Guinness LM, Clarke EL, et al. The prevalence of symptoms in 24.410 adult infected by the novel coronavirus (SARS-CoV-2; COVID-19): A systematic reviews and meta-analysis of 148 studies from 9 countries. PLoS One. 2020;1–19.

32. Rogers JP, Watson CJ, Badenoch J, Cross B, Butler M, Song J, et al.

Neurology and neuropsychiatry of COVID-19: a systematic review and meta-analysis of the early literature reveals frequent CNS manifestations and key emerging narratives. J Neurol Neurosurg Psychiatry. 2021;92:932–

41.

33. Chou SHY, Beghi E, Helbok R, Moro E, Sampson J, Altamirano V, et al.

Global Incidence of Neurological Manifestations Among Patients Hospitalized and the ENERGY Consortium. JAMA Netw Open.

2021;4(5):1–14.

34. Favas TT, Dev P, Chaurasia RN, Chakeavarty K, Mishra R, Joshi D, et al.

Neurological manifestations of COVID-19: a systematic review and meta-

(64)

46

analysis of proportions. Neurol Sci. 2020;41:3437–70.

35. Amin MT, Hasan Ma, Bhuiya NMMA. Prevalence of Covid-19 Associated Symptoms, Their Onset and Duration, and Variations Among Different Groups of Patients in Bangladesh. Front Public Heal. 2021;9:1–13.

(65)

47

(66)

48

(67)

49

(68)

50

(69)

51

(70)

52

(71)

53

(72)

54

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi pasien hemodialisa yang terinfeksi Covid-19 di Jakarta Utara yang diwakili dari dua rumah sakit di Jakarta Utara yaitu

Pada jurnal AHA (2020) mengemukakan bahwa penanganan pasien Covid-19 di IGD rumah sakit menggunakan penanganan IHCA yaitu penanganan pasien Covid-19 yang terkena

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penggunaan Antidiabetik Oral pada pasien Diabetes Melitus tipe II di Instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah

Pada laporan kasus ini, kami melaporkan seorang pasien COVID-19 yang datang dengan presentasi GI tanpa gejala respiratorik di Rumah Sakit Pusat Rujukan COVID-19

Peneliti menganggap perlu mengadakan penelitian dengan masalah tersebut atas dasar alasan untuk mengetahui pengaruh penayangan iklan di televisi dengan minat beli konsumen

Kriteria inklusi sampel pada penelitian ini adalah: pasien rawat inap yang didiagnosa positif COVID-19 pada bulan Agustus hingga Desember 2020; pasien dengan tingkat keparahan

Pada Tugas Akhir ini dianalisis sebuah model Markov waktu diskrit untuk penyebaran penyakit menular pada model epidemik SIR, yang mengkaji dari jurnal “ Generalized Markov models

dengan ini menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul: STUDI ANALISIS GEDUNG BAJA TIGA LANTAI DENGAN KANTILEVER BENTANG PANJANG MENGGUNAKAN RANGKA BATANG PRATT,