• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.2 Tax Avoidance

2.2.2.1 Pengertian Tax Avoidance

Dalam melakukan penghematan pajak secara legal dapat dilakukan melalui manajemen pajak. Meminimumkan kewajiban pajak dapat dilakukan dengan cara baik yang masih memenuhi ketentuan perpajakan maupun yang melanggar peraturan perpajakan. Istilah yang sering digunakan adalah tax avoidance dan tax evasion. Sophar Lumbantoruan (1996: 489) memaparkan definisi terkait dua istilah tersebut. Tax

Avoidance (penghindaran Pajak) adalah penghindaran pajak dengan

menuruti peraturan yang ada (Lawful). Tax Evasion (penggelapan pajak) adalah penghindaran pajak dengan melanggar ketentuan perpajakan (Unlawful).

Para ahli mengemukakan definisi tentang penyelundupan pajak dan penghindaran pajak dalam Zain (2005) yaitu penggelapan pajak adalah usaha yang dilakukan oleh Wajib Pajak apakah berhasil atau tidak untuk mengurangi atau sama sekali menghapus utang pajak yang berdasarkan ketentuan yang berlaku sebagai pelanggaran terhadap perundang-undangan perpajakan. Penghindaran pajak merupakan usaha yang sama, yang tidak melanggar ketentuan perundang-undangan perpajakan (Harry Graham Balter). penghindaran pajak berkenaan dengan pengaturan sesuatu peristiwa sedemikian rupa untuk meminimumkan atau menghilangkan beban pajak dengan memperhatikan ada atau tidaknya akibat-akibat yang

ditimbulkan., oleh karena itu penghindaran pajak tidak merupakan pelanggaran atas perundang-undangan perpajakan atau secara etik tidak dianggap salah dalam rangka usaha Wajib Pajak untuk mengurangi, menghindari, meminimkan atau meringankan beban pajak dengan cara-cara yang di mungkinkan oleh undang-undang pajak (Pohan, 2008).

Suandy (2008), Penghindaran pajak merupakan rekayasa tax

affairs yang masih berada dalam bingkai ketentuan perpajakan.

Penghindaran pajak dapat terjadi di dalam bunyi ketentuan atau tertulis di undang-undang dan berada dalam jiwa dari undang-undang atau dapat juga terjadi dalam bunyi ketentuan undang-undang tetapi berlawanan dengan jiwa undang-undang.

2.2.2.2 Faktor- Faktor Wajib Pajak Melakukan Tax Avoidance

Suandy (2008) memaparkan beberapa faktor yang memotivasi Wajib Pajak (WP) untuk melakuan penghematan pajak dengan ilegal, antara lain :

1. Tax required to pay, Berdasarkan jumlah pajak yang harus dibayar

oleh Wajib Pajak. Semakin besar pajak yang harus dibayar semakin besar pula kecenderungan WP untuk melakukan pelanggaran.

2. Cost of bribe, Biaya untuk menyuap fiskus. Semakin kecil untuk

menyuap fiskus semakin besar kecenderungan WP untuk melakukan pelanggaran.

3. Probability of detection, Kemungkinan untuk terdetesi. Semakin kecil

kemungkinan suatu pelanggaran terdeteksi maka semakin besar kcenderungan WP untuk melakukan pelanggaran.

4. Size of penalty, Besar sanksi, Semakin ringan sanksi yang diberikan

terhadap pelanggaran maka semakin besar kecenderunagan WP untuk melakukan pelanggaran.

Komite urusan fiskal dari Organization for Economic Corporation

and Development (OECD) menyebutkan ada tiga tipe karakter

penghindaran pajak (tax avoidance):

1. Adanya unsur artifisial di mana berbagai pengaturan seolah-olah terdapat di dalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak.

2. Skema semacam ini sering memanfaatkan loopheles dari undang-undang atau menerapkan ketentuan-ketentuan legal untuk berbagai tujuan, padahal bukan itu yang sebetulnya dimaksudkan oleh pembuat undang-undang.

3. Kerahasiaan juga sebagai bentuk dari skema ini dimana umumnya para konsultan menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran pajak dengan syarat Wajib Pajak menjaga serahasia munkin. (Council

Penghindaran pajak (Tax Avoidance) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Mengambil keuntungan dari berbagai pilihan bentuk badan hukum (legal entity) yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan jenis usaha. Sebagai contoh: pemilihan bentuk usaha perseorangan akan lebih menghemat pajak karena terhindar dari pengenaan pajak berganda seperti yang terjadi pada bentuk usaha perseroan terbatas.

2. Memilih Lokasi perusahaan yang akan didirikan. Misalnya: perusahaan memperluas usahanya dengan mendirikan perusahaan baru didaerah terpencil di Indonesia bagian Timur. Oleh karena daerah tersebut memiliki potensi ekonomi yang layak dikembangkan namun sulit dijangkau, maka pemerintah memberikan beberapa keringanan dalam pajak seperti penyusutan dan amortisasi yang dipercepat, kompensai kerugian yang lebih lama dari seharusnya.

3. Penghindaran Pajak Secara Yuridis yaitu dengan cara memanfaatkan kekosongan atau ketidak jelasan undang-undang. Sebagi contoh: Memberikan tunjangan kepada karyawan dalam bentuk uang atau natura dan kenikmatan (fringe Benefit) dapat sebagai salah satu pilihan untuk menghindari lapisan tarif maksimum (shif to lower bracket).

Karena pada dasarnya pemberian dalam bentuk natura dan kenikmatan (fringe benefit) dapat dikurangkan sebagai biaya oleh pemberi kerja sepanjang pemberian tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan yang dikenakan pajak bagi pegawai yang menerimanya.

Strategi-strategi atau cara-cara yang legal sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku, biasanya dilakuan dengan memanfaatkan hal-hal yang sifatnya ambigu dalam undang-undang sehingga dalam hal ini wajib Pajak memanfaatkan celah-celah yang ditimbulkan oleh adanya ambiguitas dalam undang-undang perpajakan (Suandy, 2008). Strategi penghematan pajak tersebut disebut juga sebagai suatu strategi pajak yang agresif (Crocker dan Slemrod, 2003 dalam Annisa 2011). Strategi pajak seperti ini terkadang kurang disukai oleh para pemegang saham dan investor karena dianggap memiliki resiko yang relatif tinggi (khurana dan Moser, 2009 dalam Annisa 2011). Hal ini di dukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Desai dan Dharmapala (2007), yang hasilnya menunjukkan tidak adanya transfer nilai dari kegiatan tersebut kepada pemegang saham dan juga adanya respons negatif dari para investor terkait kebijakan pajak tersebut. Sehingga aktivitas tax avoidance melahirkan dua perspektif alternatif mengenai motivasi dan efek dari aktivitas pajak tersebut, di satu sisi tax avoidance sebagai perluasan dari kegiatan penghematan pajak (Graham dan Tucker, 2006 dalam Desai dan Dharmapala, 2007). Di sisi lain menyebutkan ada beberapa resiko yang

ditimbulkan oleh kegiatan tax avoidance antara lain : denda, publisitas dan reputasi perusahaan (Friese, Link dan Mayer, 2006).

2.2.2.3 Pengukuran Tax Avoidance

Penghindaran pajak merupakan usaha mengurangi, atau bahkan meniadakan hutang pajak yang harus dibayar perusahaan dengan tidak melanggar undang-undang yang ada . Menurut Dyreng et al, (2010) dalam Budiman (2011) variabel ini dihitung melalui CASH ETR ( Cash effective

Tax Rate) merupakan rasio pembayaran pajak secara kas (cash taxes paid)

atas laba perusahaan sebelum pajak penghasilan (pretax income). Pembayaran pajak secara kas terdapat dalam Laporan Arus Kas pada pos pembayaran pajak penghasilan di arus kas dari aktivitas operasi. Sedangkan laba perusahaan sebelum pajak tedapat dalam Laporan Laba Rugi pada pos laba sebelum pajak penghasilan. Hal ini diharapkan mampu mengidentifikasi keagresifan perencanaan pajak perusahaan yang dilakukan menggunakan perbedaan tetap maupun perbedaan temporer. Perhitungan dapat dijabarkan sebagai berikut :

CETRit = CashTaxesPaid it PretaxIncomeit

Dokumen terkait