TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Tekanan Darah .1. Definisi
Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap dinding pembuluh darah (Guyton, 2006). Tekanan darah yang meningkat di atas batas normal (hipertensi) merupakan faktor resiko utama terjadinya penyakit jantung koroner, stroke , gagal jantung , gagal ginjal,pendarahan pada retina yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan (Lilly, 2011).
2.2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah
Menurut Lilly (2011) tekanan darah di pengaruhi oleh cardiac ouput (CO) dan total peripheral resistance (TPR), sehingga dapat dirumuskan sebagai tekanan darah = CO x TPR. Cardiac ouput adalah jumlah darah yang di pompakan oleh jantung per menit. Cardiac output ditentukan oleh stroke volume (SV) dan heart rate (HR) .
Stroke volume adalah jumlah darah yang dipompakan jantung per kuncup. heart rate adalah kecepatan denyut jantung permenit. Stroke volume dipengaruhi oleh tiga hal yaitu preload, kontraktilitas, dan afterload. Preload dikaitkan dengan jumlah darah yang kembali ke jantung dan menyebabkan regangan pada otot jantung. Semakin regang otot jantung, maka semakin kuat pula otot jantung memompa darah. Hal ini dikenal dengan hukum Frank-Starling. Kontraktilitas adalah kekuatan jantung untuk memompa dan ini dipengaruhi oleh preload dan aflterload. Afterload adalah tekanan yang diperlukan untuk membuka katup
semilunar. Semakin tinggi afterload maka stroke volume yang dihasilkan juga semakin sedikit (Tortora, 2012).
Heart rate adalah kecepatan denyut jantung permenit. Heart rate dikendalikan melalui beberapa cara yaitu melalui sistem saraf dan sistem kimia. Pada sistem saraf, heart rate di kendalikan oleh cardiovascular center yang akan membuat heart rate menurun melalui saraf parasimpatis ataupun meningkat melalui saraf simpatis sesuai dengan kebutuhan. Cardiovascular center mendapatkan impulsnya melalui sistem limbik, hypotalamus, baroreseptor yang terdapat pada arkus aorta dan sinus karotis, dan melalui kemoreseptor(Tortora, 2012) .
Hormon dan kation yang merupakan bagian dari sistem kimia juga berperan penting mengatur heart rate. Hormon epinefrin, norepinefrin, dan tiroid berperan untuk meningkatkan heart rate dan kontraktilitas dari jantung. Kation yang berperan untuk aksi potensial di saraf dan serat otot adalah kalium,kalsium, dan natrium. Apabila kadar kalium tinggi pada darah maka dapat menurunkan heart rate dan kontraktilistas, sedangkan kalsium yang tinggi pada interstitial dapat meningkatkan heart rate dan kontraktilitas. Selain faktor kimia dan faktor saraf ada beberapa faktor lagi yang dapat mengatur heart rate seperti usia, temperatur tubuh. Heart rate terlihat lebih tinggi pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa, sedangkan apabila seseorang yang sedang mempunyai suhu tubuh yang meningkat maka akan menyebabkan peningkatan heart rate juga. (Tortora, 2012) .
Total peripheral resistance adalah tahanan pada aliran darah yang terjadi dikarenakan pergesekan antara darah dan dinding pembuluh darah. TPR dipengaruhi oleh diameter lumen pembuluh darah dan kekentalan darah. Diameter lumen pembuluh darah dipengaruhi langsung oleh sistem saraf, apabila reseptor
alfa(α) di aktivasi maka diameter pembuluh darah akan mengecil sehingga meningkatkan TPR, jika reseptor beta (β) yang diaktivasi maka diameter
pembuluh darah akan membesar sehingga menurunkan TPR. Apabila pembuluh darah vena yang mengecil maka jumlah darah yang kembali ke jantung akan
meningkat dan meningkatkan tekanan darah oleh karena preload yang meningkat.(Tortora, 2012).
Selain melalui sistem saraf, diameter pembuluh darah juga dapat di kendalikan oleh regulator lokal dan hormon yang bersirkulasi. Regulator lokal adalah zat yang terdapat di sekitar pembuluh darah. Regulator lokal yang dapat membuat vasokonstriksi adalah endotelin, thromboxan A2, serotonin yang dikeluarkan oleh platelet. Regulator lokal yang dapat membuat vasodilatasi adalah nitrit oksida (NO), kinin, penurunan kadar pH, laktat, peningkatan kadar kalium, peningkatan kadar CO2 dan penurunan kadar O2. Hormon yang berperan dalam perubahan diameter pembuluh darah adalah histamin yang menyebabkan vasodilatasi dan epinefrin, norepinefrin, vasopresin yang menyebabkan vasokonstriksi. (Ganong, 2010 ).
Kekentalan darah adalah perbandingan antara sel darah merah dan plasma darah, apabila sel darah merah lebih banyak dibandingkan dengan plasma darah seperti pada keadaan polycythemia maka dapat meningkatkan tekanan darah. Volume plasma darah diatur oleh beberapa hormon yaitu anti diuretik hormon (ADH), Atrial natriuretic peptide (ANP), dan sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAA). Hormon ADH akan disekresikan apabila terjadi dehidrasi atau penurunan volume darah. Hormon ADH akan meningkatkan absorpsi air di tubulus ginjal sehingga terjadi peningkatan volume darah. ANP adalah peptida yang disekresi oleh sel jantung yang berada di atrium. Sel ini akan mensekresikan ANP apabila atrium jantung terlalu regang. ANP akan menurunkan volume darah dengan cara meningkatkan ekskresi natrium dan air. RAA merupakan satu kesatuan yang berkerja sama untuk meningkatkan volume darah. Renin yang di sekresi oleh sel juxtaglomerular berkerja sama dengan angiotensin converting enzym (ACE) menjadi angiotensin II yang berperan sebagai vasokonstriktor dan menstimulasi sekresi aldosteron. Aldosteron berfungsi untuk meningkatkan reabsorpsi natrium dan air oleh ginjal sehingga meningkatkan volume intravaskular. (Tortora, 2012)
2.2.3. Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah dapat diukur dengan menggunakan beberapa cara yaitu dengan secara manual menggunakan sphygmomanometer dan stetoskop ataupun dengan secara otomatis menggunakan sphygmomanometer elektronik. Untuk mendapatkan tekanan darah yang akurat maka sphygmomanometer perlu di cek dan di validasi, tenaga kerja yang telah terlatih dan posisi pasien yang tepat. Seseorang yang akan di cek tekanan darahnya, idealnya harus duduk dulu selama 5 menit dengan kaki dilantai dan lengan berada sejajar dengan jantung. Kafein, olah raga, dan merokok harus dihindari 30 menit sebelum dilakukan pengukuran. Pengukuran tekanan darah dalam posisi berdiri dianjurkan dilakukan berkala terutama pada orang yang mempunyai hipotensi postural. Ukuran mansetyang pas (setidaknya mengelilingi 80 persen dari lengan) harus diperhatikan untuk mendapatkan tekanan darah yang akurat. Pengukuran tekanan darah setidaknya dilakukan dua kali dan diambil nilai tengahnya (JNC VII, 2003).
Untuk melakukan pengukuran, pertama kita melakukan palpasi pada arteri radialis dan kita pompa manset hingga arteri radialis tidak teraba. Kemudian kita pompa mansetlebih 20-30mmHg dari saat arteri radialis tidak teraba. Manset di buka dengan kecepatan 2 mmHg per detik pada saat dilakukan auskultasi di arteri brakialis. Suara korotkoff yang terdengar pertama kali adalah tekanan darah sistol dan suara korotkoff yang terakhir adalah tekanan darah diastol (JNC VII, 2003). Sistol adalah tekanan kontraksi dan pengosongan darah dari ruang jantung sedangkan diastol adalah relaksasi dan tekanan pengisian pada ruang jantung. (Sherwood, 2007)
2.2.4 Klasifikasi Tekanan Darah
Menurut The Seventh Report of the Joint National Commitee ( JNC VII, 2003) tekanan darah dibagi atas beberapa bagian seperti yang tertampil pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan darah
Klasifikasi tekanan darah Tekanan darah sistolik(mmHG)
Tekanan darah diastolik (mmHG)
Normal <120 Dan <80
Prehipertensi 120-139 Atau 80- 89
Hipertensi tingkat 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi tingkat 2 ≥160 Atau ≥100
(Sumber: JNC VII, 2003)