• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tekanan Modernitas Terhadap Makna Tradisi Tajen

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 35-39)

4.3 Tajen Dijadikan Sebagai Modal Budaya di Desa Pakraman Sukasada .1 Makna Tradisi Tajen

4.3.2 Tekanan Modernitas Terhadap Makna Tradisi Tajen

Modernisasi adalah proses perubahan masyarakat beserta dengan kebudayaannya dari hal-hal yang bersifat tradisional menuju modern. Globalisasi pada hakikatnya merupakan suatu kondisi meluasnya budaya yang seragam bagi seluruh masyarakat di dunia apabila proses globaliasi muncul sebagai akibat adanya arus informasi dan komunikasi yang sering online setiap saat dan dapat di jangkau dengan biaya yang relatif murah. Sebagai akibatnya adalah, masyarakat dunia menjadi satu lingkungan yang seolah-olah saling berdekatan dan menjadi satu sistem pergaulan dan satu sistem budaya yang sama. Kita semua harus hidup dalam dunia modern dan harus menghadapi media global dan periklanan, suka atau tidak, media global makin bertambah mempengaruhi pikiran dan selera setiap orang. Kita tidak mampu tinggal di masa dahulu dan melarikan diri dari kemajuan, tetapi ada ancaman bahwa dalam generasi ini kita dapat menghilangkan kebudayaan lokal.

Modernisasi dan globalisasi sebagai suatu perkembangan baru memunculkan pengaruh-pengaruh yang menguntungkan maupun merugikan, maka sebaiknya proses modernisasi dan globalisasi harus di seleksi secara matang dan bijaksana agar tidak menimbulkan perkerdilan kemampuan manusia, serta pengkerdilan struktur budaya masyarakat setempat. Melalui modernisasi dan globalisasi, akan terjadi suatu aliran ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya-budaya khususnya dari negara-negara maju menuju ke negara-negara berkembang dan terbelakang. Disisi lain, aliran ilmu pengetahuan dan teknologi budaya ini pasti akan menggusur dan memarginalkan budaya-budaya lokal.

Tabuh rah yang merupakan budaya lokal Bali yang dalam pelaksanaannya adalah untuk melengkapi upacara keagamaan. Tabuh rah yang dalam perkembangannya

commit to user

disalah fungsikan atau mengalami pergeseran makna menjadi ajang judi sehingga menjadi permainan judi tajen, sejalan dengan teori komodifikasi Karl Marx bahwa, komodifikasi adalah proses yang diasosiasikan dengan kapitalisme di mana objek, kualitas, dan tanda-tanda diubah menjadi komoditas, yaitu sesuatu yang tujuan utamanya adalah untuk dijual di pasar (Barker, 2005:175).

Beberapa daerah khususnya di pulau Bali, belum ada tindakan tegas mengenai hal ini, dikarenakan bebotoh menjadikan alasan upacara agama sebagai kedok agar dapat beroperasi dalam bermain tajen. Walaupun tajen berdampak negatif terhadap segi pariwisata yang dalam aturannya terhindar dari jenis permainan judi, namun dibalik semua itu terdapat pula segi-segi positif bagi sebagian masyarakat yang bergelut di dunia tajen tersebut, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dalam permainan judi tajen. Singaraja sebagai tujuan wisata yang jika di lihat banyak tamu asing yang kebetulan lewat dan melihat aktifitas tajen, hal demikian ini mungkin perlu mendapatkan penjelasan yang benar dari pemandu wisatanya. Obyektifitas Struktur sosial dalam fungsionalisme ataupun strukturalisme dalam pariwisata yang positif bersifat beroposisi dan mengekang pelaku judi tajen karena dalam tajen bersifat perjudian.

Sedangkan strukturasi menurut Giddens, obyektifitas struktur tidak bersifat eksternal, tetapi tidak terpisah dari tindakan dan praktik sosial yang kita lakukan. Struktur bukanlah benda, melainkan skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial (Giddens, 2010:26). Kalau kita lihat kehidupan dan aktifitas seputar tempat tajen di Desa Pakraman Sukasada akan banyak dijumpai orang berjualan nasi, kopi, buah-buahan, bakso dan lain-lain. Bebotoh dan penonton menikmati sekali makanan yang dijajakan oleh para pedagang tersebut. Selain pedagang, yang bisa mengais rejeki di tempat tajen adalah tukang ojek, tukang parkir, tukang sapu, dan sebagainya. Itulah sebabnya para penikmat tajen senang mengatakan bahwa, uang yang berputar di tempat tajen tidak lari keluar pulau, melainkan hanya berputar dikalangan masyarakat. Menurut Anthony Giddens bahwa, individu bukanlah obyek dalam proses modernisasi melainkan individu memainkan peran yang sangat penting dalam proses ini disamping keberadaan institusi penting lain yang menopang modernitas, dinamisme modernitas berasal dari pemisahan ruang dan waktu dan penggabungan ulang mereka dalam bentuk

commit to user

yang memungkinkan adanya “penzonaan” ruang waktu kehidupan sosial renggangnya sistem sosial (Giddens, 2005:21).

Menurut Giddens, tindakan manusia disebabkan oleh dorongan eksternal dengan mereka yang menganjurkan tentang tujuan dari tindakan manusia kemudian dilanjutkan dengan mengatakan bahwa struktur bukan bersifat eksternal bagi individu-individu melainkan dalam pengertian tertentu lebih bersifat internal. Terkait dengan aspek internal ini Giddens menyandarkan pemaparannya pada diri seorang subyek yang memiliki sifatnya yang otonom serta memiliki andil untuk mengontrol struktur itu sendiri (Giddens, 2010:23).

Untuk menghilangkan tajen memang sangat dilematis sekali, melalui tajen ini banyak sekali pembangunan gedung yang bisa berguna untuk masyarakat khususnya di Desa Pakraman Sukasada, hal ini bisa dilihat dari pembangunan pura, pembangunan balai masyarakat, dan melalui tajen ini juga bisa memberdayakan anak-anak Desa Pakraman Sukasada yang memang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya. Tidak dipungkiri juga pemasukan kas desa yang lebih banyak dihasilkan dari tajen. Implikasi tajen terhadap budaya dan adat di Bali jika dilaksanakan sesuai dengan yang disadari oleh warga masyarakat akan berpengaruh positif, karena tajen dapat menyeimbangkan kepentingan duniawi dengan spiritual. Artinya, selain dapat menjadi hiburan, tajen juga dapat menjadi sarana penggalian dana. Sebaliknya, jika masyarakat menyimpang dari nilai-nilai yang terkandung dalam budaya dan adat, maka tajen berfungsi sebagai permainan judi yang bisa menyengsarakan masyarakat. Sekarang, semua tergantung masyarakat Desa Pakraman Sukasada yang harus menilai masih layakkah tajen untuk tidak diperhitungkan.

Bila dilihat dari sejarah nilai dan perjuangan, tajen memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi obyek wisata bagi para wisatawan. Menurut Otto (2014:18), pariwisata juga dapat dikatakan sebagai katalisator pembangunan, hal itu disebabkan oleh dampak yang diberikan pada kehidupan perekonomian di negara yang dikunjungi oleh wisatawan. Mungkin dengan kemasan yang menarik motivasi individu jadi bertambah untuk menjadi pertunjukan bernilai jual sehingga motivasi wisatawan secara individu dianalisis dari segi tingkat keinginan (dorongan) dan daya tarik tujuan (attractiveness tourist destination) (Otto, 2014:19).

commit to user

Dengan motivasi dari wisatawan yang sangat besar dan daya tarik tajen yang menarik, diharapkan masyarakat di Desa Pakraman Sukasada akan mendapatkan penghasilan dari hal tersebut. Tentu dengan cara yang sukla atau di restui oleh pemerintah, tanpa menggunakan perjudian. Hal ini juga akan menjadi solusi bagi polemik tradisi tajen, polemik yang selalu muncul di masyarakat Desa Pakraman Sukasada. Senada dengan hal itu Richards (2011:87) mengatakan bahwa kreatif telah mempengaruhi pariwisata di sejumlah cara serta peningkatan konten kreatif yang terintegrasi ke dalam produk pariwisata, dan pariwisata telah menjadi arena kreatifitas pengembangan keterampilan. The differences in tourist behaviors among various cultures and/or nationalities exist within tourists’ motivation (Yuan and Mc. Donald, 1990:14). Jika dilihat dari sudut pandang Giddens (Wirawan, 2012:314) terhadap motivasi dari wisatawan maka dapat dibedakan menjadi tiga dimensi internal perilaku, yaitu Pertama adalah motivasi tidak sadar, kedua adalah kesadaran praktis, dan ketiga adalah kesadaran diskursif. Motivasi tidak sadar menyangkut keinginan dan kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan, tetapi bukanlah tindakan itu sendiri, ini berarti bahwa wisatawan mempunyai motivasi keinginan dan kebutuhan untuk menonton tajen tetapi tidak jarang dalam bertaruh. Kesadaran praktis, yaitu saat wisatawan menonton acara tajen dengan diam tanpa suara saat ayam-ayam bertarung (dikarenakan semua bebotoh diam) tetapi wisatawan tidak mengetahui kenapa diam. Kesadaran diskursif, yaitu saat wisatawan merasa terpesona dengan permainan tajen dan mereka suka dengan tajen dan jawaban mereka bervariasi tentang permainan tajen. Melalui pemahaman pada dimensi pelaku tersebut, wisatawan menjadi tahu bahwa apa sebenarnya yang tersembunyi dibalik permainan tajen. Wisatawan diharapkan akan mengerti dengan segala keunikan masyarakat dan keunikan adat sebelum mulai permainan tajen bahwa, tanpa masyarakat menjelaskan kenapa masyarakat Desa Pakraman Sukasada sangat bergantung dengan tajen, dan bagaimana wisata ini berbasis masyarakat, wisatawan juga diharapkan mengerti bahwa kebudayaan ini sebenarnya berkembang di Desa Pakraman Sukasada dengan segala adat budaya yang kental, karena mereka terjun langsung di arena tersebut.

Sesuai dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, di balik tekanan modernitas terhadap makna tajen, banyak yang membutuhkan tajen sebagai mata pencaharian mereka sebagai contoh sebagai penjual makanan, menjadi ojek, atau

commit to user

menjadi penyelenggara tajen. Tekanan-tekanan modernitas dan globalisasi yang semakin mencengkeram itulah yang menyebabkan tajen semakin berkembang dari waktu ke waktu, kreatifitas bebotoh dalam selalu berinovasi dan selalu menghadirkan yang baru dalam permainan tajen. Kreatifitas itu pula yang sangat digemari oleh para bebotoh untuk datang walaupun hanya sekedar melihat tajen, membeli makanan di sana, menjadi tukang ojek, dan lain sebagainya. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam tajen senantiasa dibuat oleh bebotoh untuk kesenangan individu mereka maupun kelompok mereka. Sedangkan menurut teori strukturasi Anthony Giddens bahwa, manusia sebagai agen perubahan secara kontinyu mereproduksi struktur sosial, artinya individu dapat melakukan perubahan atas struktur sosial, waktu dan ruang merupakan sebuah unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat. Artinya tanpa ada ruang dan waktu, maka tidak akan terjadi tindakan dan praktik sosial (Martono, 2012:116-117).

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 35-39)

Dokumen terkait