commit to user BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Desa Pakraman Sukasada
4.1.1 Gambaran Umum Desa Pakraman Sukasada
Banyak orang mendengar nama pulau Bali, akan tetapi sebagian besar orang belum mengenal Singaraja. Singaraja adalah ibu kota Kabupaten Buleleng, Bali, Indonesia. Di Singaraja terdapat banyak sekali desa pakraman yang mempunyai pemandangan bagus dan eksotis, salah satunya adalah Desa Pakraman Sukasada. Desa pakraman merupakan lembaga tradisional dan dikenal semenjak jaman kerajaan dan keberadaanya dilestarikan dan berkembang baik sampai saat ini.
Istilah desa pakraman di Bali dikenal juga dengan nama desa dresta ataupun desa adat yang memiliki wilayah ataupun ruang lingkup yang terdiri dari beberapa dusun/lingkungan/desa dinas yang dikepalai oleh kepala desa, tapi tidak menutup kemungkinan satu desa dinas terdiri dari beberapa desa pakraman. Desa ini merupakan kesatuan dari masyarakat hukum adat di Bali yang memiliki satu kesatuan tradisi, tata krama pergaulan hidup, dan sosial dalam ikatan hukum adat yang berbeda antara satu desa dengan desa yang lain. Desa pakraman memiliki ikatan turun-temurun di Kahyangan Tiga yang terdiri dari Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem Setra yang kesemua itu memiliki wilayah-wilayah tertentu dan aset-aset tanah milik desa, sehingga diistilahkan dengan tanah ayah desa (tanah milik desa yang ditempati oleh warga setempat) dan berhak mengurus rumah tangga sendiri.
Konsep terbentuknya desa pakraman sungguh sangat mulia tujuannya, yaitu untuk pemersatu masyarakat Bali. Ide ini dicetuskan dan dibentuk oleh Mpu Kuturan di tahun I saka 932 (1001 masehi) lewat pertemuan yang dikenal dengan nama Samuan Tiga, dan pada saat itulah terbentuk dan berdirinya desa pakraman (Dherana, 1995:147).
Dalam perkembangannya setelah penjajahan Belanda, ada istilah desa tradisional yang berkembang menjadi desa adat, maka pengertian desa adat dan pakraman menjadi kabur, ada yang masih rancu dan bingung. Hingga pada saat reformasi di tahun 2003, istilah desa pakraman dikembalikan eksistensinya dan kembali lagi ke konsep aslinya. Sehingga desa adat, pakraman dan dresta itu adalah satu dengan
commit to user
istilah yang berbeda. Harapan semua masyarakat Bali dengan adanya desa pakraman ini menjadikan masyarakat tetap menjaga nilai-nilai adat dan budaya yang adi luhung secara berkelanjutan dan menjadi pilar yang kokoh untuk mewujudkan Ajeg Bali. Bali yang merupakan pulau tujuan wisata Internasional yang pastinya banyak pengaruh budaya-budaya asing yang masuk agar dapat tetap disaring, sehingga Bali ke depan tetap sesuai seperti yang diharapkan.
Potensi alam dan budaya dipedesaan yang begitu unik dan hebat tidak akan pernah ada artinya apabila hanya dinikmati oleh masyarakat setempat saja. Keindahan, keunikan dan keanehan yang dimiliki akan tenggelam begitu saja dan tidak akan berkembang menjadi sebuah potensi ekonomi yang sangat berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Jadi, seluruh potensi yang ada di Desa Pakraman Sukasada sudah saatnya untuk diperkenalkan kepada seluruh lapisan masyarakat Bali maupun di luar pulau Bali agar berdaya guna dan memiliki kemanfaatan yang berguna bagi masyarakat sekitar maupun orang lain. Daya saing pariwisata yang justru terbentuk karena keunikan produknya yang tidak dapat “dibeli” di tempat lain dapat dinikmati dalam bentuk keunikan alam, budaya, dan masyarakat di tempatnya (Hermantoro, 2011:111).
Pembangunan pariwisata tidak harus selalu yang fisik seperti halnya membangun tempat hiburan, hotel, dan lain-lain, namun sebuah desa yang seluruh penghuni masyarakatnya merupakan aset industri pariwisata yang perlu “dijual” di dalam dan di luar negeri, dengan seluruh keunikan dan keanehan yang mungkin setiap daerah tidak sama. Kesenian rakyat, upacara adat, tata cara kehidupan sehari–hari, berladang dan lain-lainnya menjadi bagian dari potensi pariwisata Desa Pakraman Sukasada. Keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan baik dari segi kehidupan sosial, budaya, adat-istiadat, arsitektur bangunan, dan struktur ruang desa sangat potensial sebagai modal budaya untuk dikembangkan menjadi wisata berbasis masyarakat.
Wisatawan yang datang ke Desa Pakraman Sukasada dapat menikmati alam pedesaan yang masih bersih dan merasakan hidup di alam desa dengan sejumlah adat dan istiadatnya. Hal ini menunjukkan bahwa, membangun desa wisata sesungguhnya membangun perekonomian berbasis masyarakat, oleh karenanya membangunan desa wisata harus memberdayakan masyarakat sebagai pemilik desa dan sekaligus pemilik
commit to user
industri pariwisata. Sebuah desa wisata akan berkembang dengan baik apabila didukung oleh masyarakat sekitar dan pemerintah, dalam hal ini pemerintah sebagai motivator dan fasilitator, sehingga manfaat pembangunan kepariwisataan akan sangat dirasakan oleh rakyat karena pendapatan asli daerah (PAD) di daerah yang paling besar dan bermanfaat yaitu apa yang langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Sesuai dengan namanya, wisata berbasis masyarakat yang menjadi penggeraknya adalah masyarakat. Masyarakat menjadi pokok, masyarakat yang mandiri, masyarakat yang jauh dari belenggu rendah diri. Masyarakat dalam hal ini lebih cenderung kepada masyarakat yang selama ini hidup dan berkembang di wilayah sekitarnya. Tamu-tamu mereka yang biasa disebut wisatawan bisa menikmati kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, bisa bergaul dengan masyarakat, merasakan sajian makanan dan minuman khas, menikmati alam sekitar dan jenis atraksi yang disuguhkan.
4.1.2 Sejarah Singaraja dan Desa Pakraman Sukasada
Pada jaman dahulu kala di Istana Gelgel sekitar tahun 1568 Raja Sri Aji Dalem Sigening menitahkan putranda Ki Barak Sakti, supaya kembali ketempat tumpah darah bundanya di Den Bukit (Bali Utara). Ki Barak Panji bersama bunda Sri Luh Pasek, setelah memohon diri kehadapan Sri Aji Dalem lalu berangkat menuju Den Bukit diantar oleh empat puluh orang pengiring Baginda yang dipelopori oleh Ki Kadosot. Perjalanan mereka memasuki hutan lebat sangat mengerikan, udara yang sangat dingin menggigilkan, menembus celah-celah bukit, mendaki Gunung-gunung meninggi, menuruni jurang-jurang curam, dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yang agak mendatar. Pada tempat itulah mereka melepaskan lelah seraya membuka bungkusan bekal mereka. Sesekali mereka makan ketupat, mereka sembahyang, kemudian mereka diperciki air tirta oleh Sri Luh Pasek demi keselamatan perjalanannya, belakangan tempat itu diberi nama “Yeh Ketipat”.
Rombongan Ki Barak Panji telah tiba di Desa Gendis/Panji dengan selamat. Tersebutlah Ki Pungakan Gendis, pemimpin desa yang sekali-kali tidak menghiraukan keluh kesah para penduduknya. Ia memerintah hanya semata-mata untuk memenuhi nafsu buruknya, kesenangannya hanyalah bermain judi, terutama sabungan ayam. Oleh karena demikian sikap pemimpin Desa Gendis itu, maka makin lama makin dibenci rakyatnya, dan pada saat terjadi peperangan, ia dibunuh oleh Ki Barak Panji.
commit to user
Desa Gendis lalu di perintah oleh Ki Barak Panji, seorang pemimpin yang gagah berani, adil dan bijaksana. Ki Barak Panji mendengar adanya kapal layer Tionghoa terdampar, kemudian timbullah rasa belas kasihan untuk menolong pemilik kapal tersebut. Baginda bersama-sama dengan Ki Dumpyung dan Ki Kadosot dapat membantu menyelamatkan kapal layar yang terdampar itu di pantai Segara Penimbangan. Setelah bantuannya berhasil, baginda mendapat hadiah seluruh isi kapal tersebut berupa barang-barang tembikar seperti piring, mangkok, dan uang kepeng yang jumlahnya sangat besar.
Kepemimpinan Ki Barak Panji makin lama makin terkenal, beliau selalu memperhatikan keadaan rakyatnya, mengadakan pembangunan di segala bidang baik fisik maupun spiritual. Oleh karena demikian maka penduduk Desa Gendis dan Sekitarnya, secara bulat mendaulat Baginda supaya menjadi Raja, yang kemudian dinobatkan dengan gelar “Ki Gusti Ngurah Panji Sakti”. Untuk mencari tempat yang agak datar, maka Kota Gendis serta Kahyangan Pura Bale Agung-nya di pindahkan ke Utara Desa Panji. Pada tempat yang baru inilah Baginda mendirikan istana lengkap dengan Kahyangan Pura Bale Agungnya guna memenuhi kepentingan masyarakat desanya untuk menghantar persembahyangan di dalam pura maupun upacara di luar pura, serta untuk hiburan-hiburan lainnya, maka baginda membuat seperangkat gamelan gong yang masing-masing di beri nama yaitu sebagai berikut.
1. Dua buah gongnya di beri nama Bentar Kedaton. 2. Sebuah bendennya di beri nama Ki Gagak Ora. 3. Sebuah keniknya bernama Ki Tudung Musuh. 4. Teropong bernama Glagah Ketunon.
5. Gendangnya bernama Gelap Kesanga. 6. Keseluruhannya bernama “ Juruh Satukad”.
Karena perbawa dan keunggulan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, maka Kyai Alit Mandala, lurah kawasan Bondalem tunduk kepada Baginda. Kemudian atas kebijaksanaanya maka Kyai Alit Mandala, diangkat kembali menjadi lurah yang memerintah di kawasan Bondalem, Buleleng Bagian Timur.
Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini di beri nama “ Sukasada” yang artinya “Selalu Bersuka Ria”. Selanjutnya
commit to user
di ceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda, lalu atas kebijaksanaan beliau maka Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat.
Untuk lebih memperkuat dalam mempertahankan daerahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang di sebut “Truna Goak” di Desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam Bahasa Bali disebut “Magoak-goakan”. Dari permainan ini akhirnya terbentuknya pasukan truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas, serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan di wakili oleh Ki Gusti Made Batan.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta putra-putra Baginda dan perwira lainnya, memimpin pasukan Truna Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambang. Dalam pertempuran ini Raja Blambangan gugur di medan perang, dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera di dengar oleh Raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang putra Baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal yang mengakibatkan Baginda Raja selalu nampak bermuram durja. Hanya berkat nasehat-nasehat Pandita Purohito, akhirnya kesedihan Baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru di sebelah Utara Sukasada.
Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun caka 1526 atau tahun 1604 Masehi, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan sebuah istana di atas padang rumput alang-alang, yakni ladang tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam Buleleng. Pada ladang Buleleng itu Baginda melihat beberapa buah pondok-pondok yang berjejer memanjang, di sanalah beliau mendirikan istana yang baru yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu jatuh pada tanggal “30 Maret 1604”.
commit to user
Selanjutnya, Istana Raja yang baru dibangun itu disebut “Singaraja” karena mengingat bahwa keperwiraan Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti tak ubahnya seperti Singa. Demikianlah hari lahirnya, Kota Singaraja pada tanggal 30 Maret 1604 yang bersumber pada sejarah Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, sedangkan nama Buleleng adalah nama asli jagung gambal atau jagung gambah yang banyak ditanam oleh penduduk pada waktu itu.
4.1.3 Letak Geografis Desa Pakraman Sukasada
Kabupaten Buleleng/Singaraja terletak di belahan utara Pulau Bali, memanjang dari barat ke timur dan mempunyai pantai sepanjang 144 Km. Secara geografis terletak pada posisi 08° 03’40” - 08° 23’00” LS 114° dan 25’ 55” - 115° 27’ 28” BT. Kabupaten Buleleng berbatasan dengan Kabupaten Jembrana di bagian barat, Laut Jawa/Bali di bagian utara, dengan Kabupaten Karangasem di bagian timur dan di sebelah Selatan berhadapan dengan 4 Kabupaten yaitu: Badung, Gianyar, Bangli, dan Kabupaten Tabanan. Luas Kabupaten Buleleng secara keseluruhan 1.365,88 Km2 atau 24,25 persen dari luas Provinsi Bali. Kabupaten Buleleng merupakan daerah berbukit yang membentang di bagian selatan, sedangkan dibagian utara merupakan dataran rendah. Kabupaten Buleleng juga terdapat gunung berapi dan tidak berapi. Gunung yang tertinggi adalah Gunung Tapak (1903 M) yang berada di Kecamatan Sukasada. Selain itu, di Kabupaten Buleleng terdapat dua buah danau yaitu Danau Tamblingan (110 hektar) yang berada di Kecamatan Banjar, sedangkan Danau Buyan (360 hektar) terletak di Kecamatan Sukasada. Kabupaten Buleleng memiliki iklim tropis yang dipengaruhi oleh angin musim yang berganti setiap enam bulan dengan curah hujan berkisar antara bulan Oktober-April, sedangkan musim panas berkisar antara bulan April-Oktober.
Desa Pakraman Sukasada terletak di Kabupaten Buleleng, tepatnya 21 km sebelah selatan kota Singaraja. Luas wilayah Desa Pakraman Sukasada adalah 7,12 km2 berada pada lereng pegunungan dengan ketinggian 500 - 750 meter dari permukaan laut (mdpl) dan terletak diantara dua bukit besar. Suhu rata-rata di daerah ini antara 20°C sampai 25°C dengan curah hujan sedang hingga 1.500 mm/tahun. Wilayah desa ini memiliki kemiringan tanah sebesar 10 – 30 derajat baik pada pemukiman ataupun
commit to user
pada tanah perkebunan, bahkan pada tempat-tempat tertentu lebih dari 45 derajat (lihat gambar 3, diakses pada tanggal 15 April 2015).
Gambar 3: Peta Singaraja, Buleleng.
Sumber: www.wisata.balitoursclub.com(diakses pada tanggal 15 April 2015).
Adapun letak dan batas-batas wilayah Desa Pakraman Sukasada sebagai berikut. Sebelah Utara, berbatasan dengan kelurahan Beratan. Sebelah timur, berbatasan Desa Sari Mekar. Sebelah selatan, berbatasan dengan Desa Ambengan/Git-git, dan sebelah barat, berbatasan dengan Desa Sambangan (Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng, web:http://bulelengkab.go.id, email: [email protected], diakses pada tanggal 15 April 2015) (lihat tabel 1).
Lokasi Penelitian
Desa
Pakraman
commit to user Tabel 1: Kondisi Wilayah
A. KONDISI WILAYAH 1. Luas Wilayah 2. Batas-batasWilayah a. Utara b. Selatan c. Timur d. Barat : 7,15km2 : Kelurahan Beratan : Desa Ambengan : Desa Sari Mekar : Desa Sambangan
3. Jarak Pemerintahan Desa ke a. Kecamatan b. Kabupaten c. Provinsi : 0 : 1km : 93km
Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng. (web:http://bulelengkab.go.id, diakses pada tanggal 15 April 2015)
Sebagian besar wilayah Kecamatan Sukasada berada pada dataran tinggi, namun pusat pemerintahannya berada pada dataran rendah. Desa Pakraman Sukasada merupakan sebuah desa yang mempunyai hamparan pemandangan yang bagus dan indah untuk dipandang. Adat istiadat, budaya, dan kesenian rakyat menunjukkan kondisi masyarakat yang sangat mentradisi sekali. Salah satu dari keunikan budaya tersebut adalah tajen, memang tajen atau sabung ayam sudah ada di beberapa wilayah di Indonesia, tetapi yang unik di Desa Pakraman Sukasada adalah masyarakat yang ikut melestarikan tajen ini, bukan hanya petaruh saja sehingga tajen dapat menambah keunikan yang bisa ditawarkan kepada wisatawan untuk datang berkunjung ke Desa Pakraman Sukasada.
4.1.4 Demografi Desa Pakraman Sukasada
Sebagai desa yang masih tradisional dan selalu menjunjung tinggi awig–awig (aturan adat) desa, kehidupan masyarakat Desa Pakraman Sukasada selalu
commit to user
mengedepankan prinsip persatuan, kesatuan dan kebersamaan. Eratnya hubungan yang terjalin antar individu di Desa Pakraman Sukasada pada dasarnya adalah setiap aspek kehidupan di desa yang selalu berdasarkan adat, tatanan tersebut senantiasa terjaga dengan adanya sistem pemerintahan adat. Jumlah penduduk di Desa Pakraman Sukasada mencapai 8394 orang tahun 2013. Terdiri dari, 3914 orang laki-laki, 4480 orang perempuan, dan 1184 jumlah orang yang sudah berkeluarga. (Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng, web:http://bulelengkab.go.id, email: [email protected], diakses pada tanggal 15 April 2015), (lihat tabel 2).
Tabel 2: Kependudukan
B. KEPENDUDUKAN 1. Jumlah Penduduk : 8.394orang
2. Jumlah Penduduk Laki-Laki : 3.914orang
3. Jumlah Penduduk Perempuan : 4.480orang
4. Jumlah Keluarga : 1.184keluarga
Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng (web:http://bulelengkab.go.id, diakses pada tanggal 15 April 2015)
Sistem pemerintahan adat di Desa Pakraman Sukasada sangat demokratis, semua masyarakat mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin dengan syarat, seseorang tersebut memiliki jiwa kepemimpinan dan bersikap adil kepada semua anggota masyarakat. Keanggotaan desa adat dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu krama desa (keanggotaan inti), krama bumi pulangan, dan krama bumu (Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng, web:http://bulelengkab.go.id, email: [email protected], diakses pada tanggal 15 April 2015) (lihat tabel 3).
commit to user Tabel 3: Lembaga Pemerintahan Desa
C. LEMBAGA ADA TIDAK JUMLAH KETERANGAN
1. Desa Pakraman √ 3 2. Banjar Dinas/Lingkungan √ 5 3. Banjar Adat √ 1 4. Hansip √ 31 personil 5. Subak √ 5 6. Karang Taruna/Muda-Mudi/Truna-Truni √ 1 7. Sanggar Seni
Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng (web:http://bulelengkab.go.id, diakses pada tanggal 15 April 2015)
Jabatan dalam krama desa dibagi dalam 4 tingkatan, yaitu luanan (sebagai penasehat atau sesepuh desa), Bahan Roras (kelian desa), Tambalapu (menyampaikan informasi kepada warga lainnya.), dan Pengluduan (pelaksana kegiatan). Semua permasalahan yang ada di Desa Pakraman Sukasada diputuskan melalui sangkep (pertemuan/rapat) yang dipimpin oleh kelian desa dengan mengundang krama desa muani (anggota krama desa laki-laki). Ketika berjalannya proses diskusi, kesempatan pertama untuk mengemukakan pendapat diberikan pada luanan, kemudian bahan roras dan dilanjutkan oleh pengluduan. Semua pendapat akan ditampung, dibicarakan lagi, dan diputuskan oleh kelian desa. Jika mereka belum bisa mengambil keputusan, sangkep (pertemuan) akan diulang dengan mengundang keliang gumi. Namun jika kelian desa tetap belum bisa memutuskan, maka pengambilan keputusan dilakukan melalui suara terbanyak.
4.1.5 Ekonomi Desa Pakraman Sukasada
Desa Pakraman Sukasada secara ekonomi didukung dari berbagai sektor usaha dan sektor pertanian, tanaman pangan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam
commit to user
pembentukan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Komoditi tanaman pangan memberikan kontribusi terhadap sektor pertanian dalam arti luas sebesar 46,77 persen. Komoditi tanaman pangan yang terus dikembangkan dan ditingkatkan produksinya adalah; padi dan palawijaya, sayur-sayuran (bawang merah, bawang putih, bawang daun, kentang, buncis, kubis, petai, sawi, wortel, cabai, tomat, terong, mentimun, kangkung, bayam), dan buah-buahan (alpukat, mangga, rambutan, anggur, duku/langsat, jeruk, durian, sawo, jambu biji, pisang, pepaya, nanas, salak, dan anggur).
Peternakan juga berkontribusi terhadap perekonomian daerah. Potensi peternakan di Desa Pakraman Sukasada didukung oleh adanya sumber daya alam berupa lahan sawah, lahan kering, lahan perkebunan sebagai sumber hijau makanan ternak (HMT). Populasi ternak maupun hewan besar maupun kecil yang telah berkembang di Desa Pakraman Sukasada meliputi; sapi potong, sapi perah, kerbau, Babi Bali, babi sadliback, babi landrace, kambing kacang, kambing PE, domba, ayam buras, ayam ras, itik, dan aneka ragam ternak lainnya. Potensi areal lahan perkebunan tahun 2013 seluas 39.160 Ha atau 28,67 persen dari luas wilayah Kabupaten Buleleng (136.588 Ha). Komoditi perkebunan yang menjadi produk andalan adalah; kopi robusta, kopi arabika, jambu mete, cengkeh, kakao, kelapa dan tembakau virgina (lihat tabel 4), (Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng, web: http://bulelengkab.go.id, email: [email protected], diakses pada tanggal 15 April 2015).
Tabel 4: Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan
D. PERTANIAN, PERKEBUNAN DANPETERNAKAN 1. Komoditas Pertanian yang
Dikembangkan
: Pertanian Padi dan Sayur Mayur
2. Komoditas Perkebunan yang Dikembangkan
: Tembakau
3. Potensi Peternakan yang Dikembangkan
: Unggas
Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng (web:http://bulelengkab.go.id, diakses pada tanggal 15 April 2015)
commit to user
4.1.6 Pariwisata yang Ada di Desa Pakraman Sukasada
Di Desa Pakraman Sukasada belum mempunyai kelengkapan sarana dan prasarana yang menunjang untuk dijadikan suatu obyek pariwisata, karena masyarakat Desa Pakraman Sukasada masih sangat minim kesadarannya untuk menjadikan suatu obyek pariwisata, sebagai contoh adalah air terjun Git-git yang minimnya pengelolaan wisata air, padahal air terjun itu sangat bagus sekali, mata air panas banjar yang kurang terkenal, pantai lovina yang memiliki spot diving dan snorkling yang indah. Karena kurangnya promosi pariwisata sehingga banyak turis hanya mampir lalu lewat. Tugu Tri Yudha Sakti saat ini pengelolaannya juga masih sangat kurang, dari segi perawatan dan kebersihannya. Tugu Tri Yudha Sakti yang merupakan tempat bersejarah untuk mengenang para pahlawan dalam perjuangan rakyat Bali untuk mempertahankan daerahnya dari kolonialisme Belanda, yang pada saat itu ingin memecah-belah rakyat Bali pasca proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Disamping itu, lokasi monumen jauh dari keramaian, sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat untuk persembahyangan dan kemah spiritual untuk mencari ketenangan dan kedamaian (lihat tabel 5), (Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng, web:http://bulelengkab.go.id, email: [email protected], diakses pada tanggal 15 April 2015).
Tabel 5: Pariwisata Desa Pakraman Sukasada.
E. PARIWISATA ADA TIDAK JUMLAH KETERANGAN
a. Wisata Alam √ - Kurang Terawat
b. Wisata Budaya √ -
c. Wisata Kuliner √ -
d. Wisata Bahari √ -
e. Tugu Tri Yudha Sakti √ Kurang Terawat
Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng (web:http://bulelengkab.go.id, diakses pada tanggal 15 April 2015)
Dalam pengembangan pariwisata, perlu ditingkatkan langkah-langkah yang terarah dan terpadu terutama mengenai pendidikan tenaga-tenaga kerja dan perencanaan pengembangan fisik. Kedua hal tersebut hendaknya saling terkait, sehingga pengembangan tersebut menjadi realistis dan proporsional. Dalam buku yang di tulis
commit to user
Yoeti (1985: 164), suatu obyek pariwisata harus memenuhi tiga kriteria agar obyek tersebut diminati pengunjung, yaitu sebagai berikut.
1) Something to see adalah obyek wisata tersebut harus mempunyai sesuatu yang bisa di lihat atau di jadikan tontonan oleh pengunjung wisata. Dengan kata lain obyek tersebut harus mempunyai daya tarik khusus yang mampu untuk menyedot minat dari wisatawan untuk berkunjung di obyek tersebut. 2) Something to do adalah agar wisatawan yang melakukan pariwisata di sana
bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk memberikan perasaan senang, bahagia, relax berupa fasilitas rekreasi, baik itu arena bermain ataupun tempat makan, terutama makanan khas dari tempat tersebut sehingga mampu membuat wisatawan lebih betah untuk tinggal di sana.
3) Something to buy adalah fasilitas untuk wisatawan berbelanja yang pada umumnya adalah ciri khas atau icon dari daerah tersebut, sehingga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.
Suatu tempat atau keadaan alam yang sangat menarik pasti sangat dinikmati oleh wisatawan pada umumnya. Objek wisata yang mempunyai potensi dan daya tarik wisata yang baik harus terus dibangun dan dikembangkan, sehingga mempunyai daya tarik agar wisatawan puas akan objek wisata yang dikunjunginya. Potensi dan daya tarik wisata di dalam objek wisata yang berwujud pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa adalah keadaan alam, beserta flora dan faunanya.
4.2 Bentuk Tajen di Desa Pakraman Sukasada
Sudah sejak lama tradisi sabung ayam sudah tumbuh dan berkembang di Bali, awalnya berkembang dari rangkaian upacara dewa yajna yang dinamakan upacara Tabuh Rah, yang mana tabuh rah ini mempersyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol/syarat menyucikan umat manusia dari ketamakan atau keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi. Tabuh rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta yajna dimana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya. Kemudian terjadi pergeseran makna ritual tabuh rah, yang kemudian mengarah kepada judi atau yang disebut dengan tajen. Tajen dan tabuh rah
commit to user
dikembangkan sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, walau sebenarnya tajen dan tabuh rah berada pada nilai yang berbeda. Untuk dapat lebih memahami tentang tabuh rah dan bentuk tajen terutama di Desa Pakraman Sukasada pada sub bab ini perlu dipaparkan dua hal penting, yaitu; (1) tinjauan tentang tabuh rah, dan (2) bentuk tajen di Desa Pakraman Sukasada.
4.2.1 Tinjauan Tentang Tabuh Rah
Tabuh rah secara etimologis berasal dari kata majemuk tabuh dan rah. Tabuh sama artinya dengan tabur, sedangkan rah artinya darah, jadi tabuh rah berarti menaburkan darah. Tabuh rah merupakan ritual keagamaan (yajna) yang ditandai dengan taburan darah binatang sebagai pemberian persembahan kepada bhuta dan kala (makhluk gaib yang sifatnya merusak) agar mereka tidak mengganggu umat manusia (Tinggen, 2001:1). Tabuh rah biasanya dilakukan dengan beberapa cara dan selalu berhubungan dengan upacara bhuta yajna atau yang biasa disebut dengan mecaru (membuat upacara korban). Bhuta yajna sering dilakukan dengan cara mecaru karena makna dari upacara bhuta yajna adalah mengharmoniskan unsur-unsur Panca Maha Bhuta di Bhuana Agung dan Bhuana Alit, Ginarsa (Mertha, 2010:14).
Unsur-unsur Panca Maha Bhuta merupakan lima unsur yang menyusun alam semesta, seperti pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa/ether. Pertiwi adalah sesuatu di sekitar kita yang mewujud, berbentuk, dan dapat dirasakan seperti besi, logam, kayu, dan lain sebagainya, biasanya pertiwi lebih dikenal dengan tanah. Apah adalah segala sesuatu yang lentur, mengalir, fleksibel, luwes, mendinginkan, dan tidak memiliki bentuk yang kokoh, secara nyata wujud apah adalah elemen air. Teja merupakan elemen api, yang dapat menghasilkan panas dan cahaya. Bayu merupakan sesuatu yang menaungi atau melingkupi jagat raya. Bentuk dari elemen bayu adalah angin yang melingkupi bumi. Akasa/ether merupakan unsur ruang kosong, dengan kata lain alam tempat tinggal seluruh makhluk hidup, Ginarsa (Mertha, 2010:16-17). Tabuh rah dilaksanakan dengan perantara hewan yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia seperti bebek, kerbau, ayam, dan masih banyak lagi. Media yang sering digunakan dalam ritual tabuh rah adalah ayam (ayam jantan), karena ayam memiliki bermacam-macam warna, baik yang memiliki satu macam warna maupun warna campuran. Begitu juga dengan bhuta dan kala memiliki warna yang dapat disimbolkan
commit to user
dengan berbagai warna ayam (Hidayat, 2011:30). Ayam yang dipilih tidak sembarangan dan harus sesuai dengan caru panca sata, yaitu upacara korban yang memiliki lima warna ayam yang masing-masing berwarna putih, merah, siungan (ayam putih yang paruh dan kakinya berwarna kuning seperti burung siung), hitam, dan brumbun (ayam yang warna bulunya campuran, yaitu putih, merah, kuning, hijau, dan hitam). Seperti tabel di bawah ini.
Tabel 6: Ketentuan Caru Panca Satha
No Ayam Arah Urip Warna Bhuta Dewa Askara
1 Putih Timur 5 Putih Jangitan Iswara Sa (sang) 2 Biying Selatan 9 Merah Langkir Brahma Ba (bang) 3 Putih
siungan
Barat 7 Kuning Lembukanya Maha Dewa
Ta (tang)
4 Hitam Utara 4 Hitam Taruna Wisnu A (ang)
5 Brumbun Tengah 8 Panca Warna
Tiga Sakti Siwa
I (ing)
Sumber: (Arista, 2011:7)
Ayam yang telah dipilih sesuai dengan warnanya (melambangkan bhuta dan kala), yaitu bhuta putih yang bersemayan di timur diberi suguhan korban ayam yang bulunya berwarna putih, bhuta bang (merah) yang bersemayam di barat diberi suguhan korban ayam yang bulunya berwarna hitam, dan bhuta panca warna yang bersemayam di tengah-tengah diberi suguhan korban ayam berwarna brumbun (Mertha, 2010:17). Awalnya, ritual tabuh rah menggunakan darah manusia, namun lambat laun berubah menggunakan darah binatang (karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan) (Tinggen, 2001:5). Darah manusia dipersembahkan kepada dunia gaib atau kekuatan besar dari alam yang dianggap sebagai roh. Selain digunakan sebagai persembahan, darah dianggap sebagai penebusan dosa dan dapat mempererat hubungan antara manusia dengan alam semesta (salah satu hubungan dalam Tri Hita Karana) (Tinggen, 2001:6).
Tabuh rah umumnya diadakan di tempat pecaruan berlangsung dan dalam pelaksanaannya dengan cara perang sata (adu tanding). Namun yang perlu diperhatikan dalam ritual tabuh rah adalah hanya dilakukan tiga sehet (tiga kali pertandingan) dan
commit to user
tidak boleh lebih dari itu (Tinggen, 200:6). Adapun maksud dilakukannya tiga pertandinagn tersebut adalah agar nantinya darah yang jatuh kepertiwi (tanah) sebanyak tiga kali. Darah yang menetes tersebut dihaturkan pada tiga bhucari, yaitu darah yang pertama dipersembahkan pada Dhurga Bhucari, percikan darah yang kedua dipersembahkan pada Kale Bhucari, dan percikan darah yang terakhir dipersembahkan pada Bhuta Bhucari (Widyana, 2013:51).
Ritual tabuh rah dapat dilakukan dengan berbagai hal, salah satunya dengan cara perang sata yaitu mengadu ayam yang satu dengan ayam yang lainnya sampai salah satu meneteskan darah ke pertiwi (tanah). Cara melaksanakan perang sata adalah dua ayam jago dipilih terlebih dahulu, kemudian dipasangkan alat berbentuk pisau kecil (taji) yang diikat dengan benang dan diletakan di kaki ayam tersebut setelah itu kedua ayam tersebut diadu di arena. Sebelum benar-benar dilepaskan di arena, kedua ayam tersebut berhadapan satu sama lain, dihadap-hadapkan (diadu) tetapi belum dilepaskan di arena (pura-pura), setelah kedua ayam terlihat marah barulah keduanya diadu di arena. Taji yang dipasang pada ayam tersebut berfungsi sebagai alat yang membuat ayam jago tersebut mengeluarkan darah pada saat diadu. Selain perang satha, persembahan dapat dilakukan dengan cara ayam disembelih lehernya hingga mengeluarkan darah, adapula dengan cara kerbau hitam yang telah diupacarai diikat di pohon kemudian ditusuk menggunakan keris khusus. Menurut kepercayaan umat Hindu, ayam yang dijadikan Yajna nantinya akan naik derajatnya pada reinkarnasi yang selanjutnya dan menjadi binatang dengan derajat yang lebih tinggi atau menjadi manusia.
4.2.1.1 Ritual Agama Hindu yang Memakai Tabuh rah
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk (beraneka ragam), bentuk dari kemajemukan ini salah satunya diwujudkan dalam beraneka ragam ritual keagamaan dan upacara-upacara suci pada setiap suku dan wilayah tempat tinggal. Ritual keagamaan maupun upacara suci memiliki bentuk, cara, dan tujuan yang berbeda-beda antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan kepercayaan yang dianut. Ritual merupakan seperangkat tindakan yang selalu melibatkan aspek agama dan kekuatan magis yang dimantapkan oleh tradisi, sedangkan upakara merupakan gerakan atau pelaksanaan dari rangkaian perbuatan atau upacara
commit to user
pada pelaksanaan yajna (upacara pengorbanan) yang dianggap suci (Nugroho, 2010:1). Bagi masyarakat Hindu, kegiatan ritual khususnya ritual keagamaan sangat penting bagi kehidupan mereka. Ritual keagamaan merupakan perwujudan dari aktifitas-aktifitas manusia atau tindakan manusia untuk menunjukkan kebaktian sekaligus menjalin komunikasi dengan Tuhan, dewa-dewa, roh nenek moyang, dan makhluk-makhluk gaib lainnya yang mereka percayai. Ritual keagamaan secara simbolik menggambarkan tujuan manusia dalam mencari keselamatan dan ketenangan secara spiritual. Pelaksanaan ritual keagamaan dilakukan secara khidmat, hati-hati, dan bijaksana karena tindakan dan rangkaian kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang suci, baik upacara maupun upakaranya.
Semua tindakan manusia selalu berkaitan dengan ritual, di manapun mereka berada dan bagaimana tipe dari manusia tersebut. Beberapa ritual diurai sebagai sebuah kebudayaan karena merupakan ciptaan, tindakan, atau kebiasaan dalam masyarakat. Di Bali, ritual keagamaan dianggap sebagai kegiatan rutinitas yang dilakukan masing-masing anggota masyarakat. Setiap hari mereka melakukan kegiatan upakara ritual yang berkaitan dengan agama, seperti memberikan persembahan dalam bentuk banten/sesajen di dalam rumah, halaman, dan sanggah mereka. Tujuan dari persembahan tersebut adalah agar rumah dan pekarangannya diberikan perlindungan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, serta memberikan ketenangan bagi setiap anggota keluarga. Sanggah atau merajan merupakan tempat suci untuk beribadah bagi suatu keluarga tertentu. Sanggah berasal dari kata sanggar yang artinya tempat suci, dan merajan berasal dari kata praja yang artinya keluarga. Secara singkat etnis Bali Hindu menyebut tempat persembahyangan keluarganya dengan sebutan sanggah atau merajan. Di sanggah atau merajan sering diadakan upacara ritual keagamaan, seperti piodalan atau pujawali yang dilaksanakan setiap tahun, sesuai dengan perhitungan kalender saka Bali. Kegiatan ritual keagamaan juga dilakukan saat upacara atau acara-acara besar umat Hindu seperti nyepi, galungan, kuningan, saraswati, siwa ratri, dan hari besar lainnya. Hari-hari perayaan tersebut memiliki makna dan fungsi yang berbeda-beda, seperti contoh galungan. Galungan merupakan hari raya umat Hindu sebagai ucapan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terciptanya dunia dan isinya. Dari berbagai hari besar umat Hindu tersebut, beberapa diantaranya menggunakan ritual tabuh rah seperti nyepi, piodalan atau pujawali yang diadakan di pura.
commit to user
Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru Saka berdasarkan penanggalan/kalender saka yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Umat Hindu merayakan hari raya nyepi mulai tiga hari sebelum hari H, sampai beberapa hari sesudah hari nyepi. Sehari sebelum nyepi, yaitu saat Tilem Sasih Kesanga (bulan mati yang ke 9) umat Hindu melaksanakan upacara bhuta yajna yang diikuti oleh semua masyarakat, mulai dari keluarga, warga banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya. Masing-masing lapisan masyarakat memberikan persembahan sesuai dengan kemampuan ekonomi yang dimiliki. Persembahan melalui pecaruan yang dikorbankan merupakan nyomya, yaitu persembahan yang dapat menetralisir kekuatan negatif bhuta kala agar segala kekotoran (leteh) yang menyebabkan bahaya dapat hilang (Noviasih, 2002:30).
Umat Hindu merayakan nyepi dengan cara tidak melakukan aktivitas apapun seperti biasanya. Pada hari itu, suasana tampak seperti mati atau tak berpenghuni karena mereka melakukan catur brata penyepian, yang terdiri dari amati geni atau tidak menghidupkan api, amati karya atau tidak bekerja, amati lelungan atau tidak berpergian, dan amati lelanguan atau tidak bersenang-senang. Selain pada hari nyepi, acara lain yang menggunakan tabuh rah adalah piodalan atau pujawali. Piodalan merupakan upacara Dewa Yajna, terutama saat piodalan di sanggah atau merajan. Perayaan semacam ini diartikan sebagai bentuk perenungan atas kekurangan diri seseorang karena kemampuan manusia yang terbatas, sehingga dapat mendekatkan diri kepada para leluhur, dewa atau betare yang berada pada sanggah atau merajan di setiap rumah. Upacara piodalan yang dilaksanakan di sanggah atau merajan tidak sebesar seperti yang dilaksanakan di pura (karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit), sehingga piodalan di sanggah tidak menggunakan tabuh rah, namun digantikan dengan persembahan telur. Piodalan yang menggunakan ritual tabuh rah biasanya dilakukan di pura. Istilah pura berasal dari bahasa sansekerta yang artinya kota atau benteng. Pura merupakan tempat ibadah umat Hindu, yaitu tempat untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Yang dimaksud dengan pura adalah sebuah tempat yang dipandang suci atau yang disucikan oleh umat Hindu dalam suatu acara tertentu (Ambara, 2006:21).
Acara-acara seperti nyepi dan piodalan dilengkapi dengan pemberian sesajen (umat Hindu menyebutnya dengan istilah banten). Banten berasal dari kata bang yang
commit to user
artinya Brahma dan enten yang artinya ingat atau yang dibuat sadar. Banten merupakan alat bantu dalam pemujaan. Sesajen atau banten yang biasanya ada saat ritual keagamaan diantaranya daun, bunga, buah, air, dan api. Fungsi dari banten sendiri adalah sebagai ucapan terimakasih dan alat perantara untuk berkomunikasi kepada Shang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu, banten juga dimanifestasikan sebagai alat pensucian dan sebagai pengganti mantra. Banten selalu berhubungan dengan upacara keagamaan, terutama agama Hindu. Menurut Smith dalam teorinya berpendapat bahwa, terdapat tiga gagasan dalam religi atau agama, yaitu; pertama, sistem upacara merupakan suatu perwujudan dari religi atau agama. Kedua, bagi para pemeluk agama upacara religi atau keagamaan yang dilaksanakan warga masyarakat secara bersama-sama mempunyai fungsi sosial untuk menjaga solidaritas mereka. Ketiga, fungsi persembahan (bersaji) dalam upacara keagamaan Smith (Widnyana, 2013:9). Dalam upacara keagamaan dimana manusia menyajikan sebagian dari tubuh binatang, terutama darah, kemudian dipersembahkan kepada dewa, roh nenek moyang, dan makhluk gaib lainnya. Bagi agama Hindu, dewa-dewa dianggap sebagai sesuatu yang istimewa, sehingga selama melaksanakan upacara keagamaan selalu dilakukan dengan khidmat, keramat, dan penuh hati-hati. Di dalam fungsi sesaji yang bentuknya menyajikan darah binatang kepada para dewa, maksudnya adalah untuk menjalin hubungan atau bentuk solidaritas manusia kepada para dewa. Berdasarkan konsep ini, dapat disimpulkan bahwa suatu upacara agama yang bersifat religius harus memiliki keyakinan untuk menjaga hubungan yang harmonis, antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam dapat diwujudkan dalam bentuk sesaji. Dengan adanya sesaji yang dipersembahkan, maka akan ada sebuah tingkat kepuasan tersendiri dari pelaku yang melaksanakan ritual keagamaan dan meyakini bahwa upacara yang mereka lakukan benar-benar diterima oleh para dewa.
Menurut Purwita (1978:4) munculnya tabuh rah seperti menjadi kelaziman dalam melakukan upacara bhuta yajna di Bali, rupa-rupanya berpangkat kepada suatu corak upacara berkorban pada jaman purba. Tradisi masyarakat Bali yang berakar pada ajaran agama Hindu melahirkan suatu tradisi yang erat kaitannya dengan yajna. Menurut Parisada Hindu Dharma (Jaya, 2013:5), menyatakan tri kerangka dasar agama Hindu yang terdiri dari ajaran tattwa atau filsafat agama Hindu, ajaran susila atau etika agama
commit to user
Hindu, dan upacara atau ritual agama Hindu yang kesemuanya berkaitan dengan penerapan ajaran ritual, salah satunya adalah tabuh rah. Seiring perkembangan jaman, tabuh rah yang semulanya untuk persembahan dewa/dewa yajna telah mengalami pergeseran makna. Adapun pergeseran maknanya berupa kegiatan judi yang dilakukan yaitu kegiatan tajen. Tajen merupakan suatu ajang yang mempertontonkan aksi tarung ayam jago. Ayam-ayam tersebut dipertaruhkan kekuatannya dan dijadikan sebagai taruhan yang berupa uang, sehingga stereotip tajen tidak terlepas dari kegiatan yang erat kaitannya dengan judi.
Pegeseran makna semula yang sekiranya hanya untuk persembahan atau yajna, karena berbagai faktor berubah menjadi tradisi judi. Perubahan tersebut tentunya tidak terlepas dari masyarakat itu sendiri. Kebangkitan Hindu di Nusantara juga akan menghilangkan secara berangsur-angsur “budaya tajen”, karena tajen sebagai permainan judi memang dilarang dalam ajaran Hindu. Belum lagi menyiksa binatang yang digolongkan dalam himsa karma, perbuatan yang sangat nista (Setia, 2006:197). Namun, tajen yang seringkali dianggap sama dengan ritual tabuh rah oleh sebagian masyarakat, menjadikan hal tersebut pembenaran. Konteks pembenaran dalam hal disini yaitu pergeseran makna persembahan kepada pencipta, bergeser menjadi kenikmatan untuk penikmat tajen/bebotoh. Dengan adanya bebotoh, memberikan peluang bagi sebagian masyarakat Desa Pakraman Sukasada tanpa berpikir panjang dalam mendapatkan dana untuk pembangunan banjar di Desa Pakraman Sukasada.
4.2.2 Bentuk Tajen di Desa Pakraman Sukasada
Tajen berasal dari kata taji yang dalam bahasa Indonesia berarti tajam (dengan makna sesuatu yang runcing), benda runcing tersebut berupa pisau kecil. Taji atau pisau kecil inilah yang nantinya akan dipasang pada kaki ayam yang akan diadu. Tajen merupakan pertarungan sabung ayam yang di dalamnya mengandung unsur perjudian dan tidak ada unsur ritual keagamaannya sebagai salah satu bentuk hiburan yang disertai taruhan uang. Taruhan uang itu sendiri dalam agama Hindu adalah judi atau dyuta, sedang menyebabkan matinya ayam atau makhluk untuk kesenangan semata didalam ajaran agama hindu dinamai himsa karma yang tidak baik dilakukan oleh setiap orang yang berusaha untuk mengamalkan dharma. Namun, sebagian masyarakat Bali ada yang
commit to user
menganggap bahwa tajen merupakan bagian dari ritual keagamaan yang boleh dijalankan.
Permainan judi tajen kalau kita kaji terdiri dari dua suku kata yaitu “judi” dan “tajen”. Dalam Ensiklopedia Indonesia (Sumber www.EnsiklopediaIndonesia.tajen.com yang diakses pada tanggal 15 April 2015), judi diartikan sebagai suatu kegiatan pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan, permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya. Sedangkan Kartini Kartono (2007:65) mengartikan judi adalah pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai, dengan menyadari adanya risiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan, dan kejadian-kejadian yang belum pasti hasilnya. Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, perjudian sudah dikenal dan digemari sebagian masyarakat di beberapa daerah sehingga perjudian telah menjadi kebiasaan bahkan tradisi bagi penggemarnya. Judi diartikan sebagai suatu kegiatan pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari suatu pertandingan atau permainan yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya. Menurut Kitab Undang-undang Pidana Pasal 303 ayat (3) sebagai berikut.
“Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana pada umumnya kemungkinan mendapat untung tergantung pada peruntungan belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertarungan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya, yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya”.
Professor Nyoman Sirtha dari Universitas Udayana menjelaskan, tajen di Bali bisa diklasifikasikan menjadi tiga, yakni tabuh rah, tajen terang dan tajen branangan
(artikel Raden Muhamad Arie Andhiko Ajie, https://icssis.files.wordpress.com/2013/09/2013-02-21.pdf. Yang diakses pada
tanggal 15 April 2015 hal 252). Tabuh rah adalah ritual agama Hindu yang sebenarnya, biasanya ditemui dalam upacara bhuta yajna. Sedangkan tajen terang merupakan bentuk tajen yang didukung oleh desa adat dengan tujuan untuk menggalang dana bagi pelaksanaan upacara maupun pembangunan. Pada tajen terang, unsur judinya sudah ada, tetapi dianggap tidak terlalu penting, sebab yang lebih diutamakan adalah sisi hiburannya. Berdasarkan hukum adat, tajen terang tidak dilarang, bahkan setiap desa
commit to user
adat memiliki awig-awig yang mengatur tata cara tajen meski tidak tertulis. Jenis tajen yang dianggap buruk adalah tajen branangan, sebab pada tajen ini tujuan utamanya adalah bermain judi, jadi pelaksanaannya memang sembunyi-sembunyi. Di sumber yang sama, seorang bebotoh (pelaku tajen yang bertaruh) bernama Nyoman Raka menerangkan bahwa, pembagian tajen menjadi terang dan branangan tidak begitu berarti, sebab di keduanya sama-sama ada judinya. Bahkan menariknya, jumlah taruhan di tajen terang justru sangat tinggi, bisa mencapai puluhan juta rupiah, sedangkan di tajen branangan hanya ratusan ribu rupiah, karena yang mengikutinya hanya bebotoh kelas teri.
Bentuk tajen di Desa Pakraman Sukasada tidak banyak berbeda dengan tajen pada umumnya di Bali, tajen di Desa Pakraman Sukasada termasuk jenis tajen branangan, karena tidak mendapat izin dari tetua adat atau kepala adat Desa Pakraman Sukasada. Arena tajen di sebut dengan kalangan, di tempat inilah masyarakat/bebotoh pecinta tajen berbaur dengan yang lainnya, keberadaan bebotoh amat menentukan ramai-tidaknya tajen, bahkan tajen dan bebotoh ibarat dua sejoli yang tak terpisahkan. Arena tajen sering diramaikan teriakan-teriakan istilah yang tak lazim, antara lain; gasal, cok, pada, telude, apit, dan kedapang. Teriakan-teiakan di tempat permainan tajen di Bali pada umumnya semua sama, tidak terkecuali di desa pakraman Sukasada. Tajen yang sudah lama tumbuh dan berkembang di Pulau Bali (sejak belasan generasi sebelumnya) hingga saat ini telah merasuk ke sebagian warga di Bali, terutama kaum laki-laki, bagi kaum laki-laki tajen dianggap sebagai simbol kemaskulinan mereka. Pelaku atau pemain tajen disebut dengan bebotoh atau pakembar. Bebotoh atau pakembar berfungsi sebagai pemegang ayam sebelum ayam diadu. Bebotoh atau pakembar harus dapat memiliki keahlian dalam melihat atau membaca situasi apabila bebotoh atau pakembar tersebut ingin memenangkan permainan tajen. Pelaksanaan dari permainan tajen ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perang sata dalam melaksanakan ritual tabuh rah.
Pertama kali sebelum memulai pertandingan, bebotoh atau pakembar terlebih dahulu mengikat/memasangkan taji di kaki ayam yang akan diadu. Seperti pernyataan di atas, taji yang dalam bahasa Indonesia berarti tajam (dengan makna sesuatu yang runcing). Benda yang runcing tersebut berupa pisau kecil. Taji atau pisau kecil inilah yang nantinya akan dipasang pada kaki ayam yang akan diadu (lihat gambar 4).
commit to user Gambar 4: Bebotoh yang Sedang Memasang Taji Dokumentasi: Made Prasta (10 Agustus 2014)
Taji merupakan pisau cukur yang tajam atau pedang-pedang baja yang lurus, yang panjangnya empat atau lima inci. Taji dipasang dengan cara melilitkan seutas tali panjang di kaki ayam jago. Bagi masyarakat Bali, taji diasah hanya saat gerhana bulan dan bulan tidak penuh, taji yang telah diasah harus disimpan dengan baik dan tidak boleh terlihat oleh perempuan. Setelah taji dipasang, kemudian kedua ayam berhadapan satu sama lain di dalam pusat ring pertandingan. Sesudah bebotoh atau pakembar memasangkan taji, kemudian harus memperkenalkan ayamnya dengan cara mengelilingi arena. Sebutir kelapa yang telah dilubangi di tengahnya diletakan di dalam seember air, kira-kira dua puluh satu detik (ceng) lamanya kelapa itu tenggelam. Ceng merupakan tanda memulainya sebuah pertarungan sabung ayam dan di akhiri dengan bunyi gong. Selama dua puluh satu detik tersebut atau saat pertandingan berlangsung, para pemain tidak boleh menyentuh ayam jago mereka.
Tajen biasa dilakukan di tempat khusus, yang disebut sebagai kalangan yakni sebuah arena yang dilengkapi dengan kursi yang dibuat berundak-undak menurun ke
commit to user
tengah serta pembatas panggung penonton yang terbuat dari bambu dengan ukuran 50×50 meter, memiliki atap yang terbuat dari bambu dan ditutupi oleh terpal. Arena tajen berbentuk bujur sangkar dengan sisi sepuluh kaki orang dewasa (lihat gambar 5).
Gambar 5: Gambar lapangan Permainan Judi Tajen Dokumentasi: Made Prasta (10 Agustus 2014)
Kedua bebotoh atau pakembar kemudian membawa ayam mereka ke tengah-tengah arena, sehingga kedua ayam akan saling berhadap-hadapan, kemudian kedua ayam tersebut diadu namun tidak dilepaskan (berpura-pura). Bebotoh yang ingin mendapatkan “musuh” biasanya meneriakkan sistem taruhan yang dipilih dari tempatnya, tanpa perlu berkeliling arena, maka yang menimpali teriakannya akan menjadi lawan taruhan. Gasal adalah sistem taruhan dengan perbandingan lima banding empat. Cok, sistem taruhan tiga lawan empat, pada (sama) adalah taruhan satu lawan satu. Telude, dua banding tiga, apit menggunakan satu banding dua, sedangkan kedapang, sembilan banding sepuluh. Bebotoh pun dapat menggunakan jari tangan sebagai isyarat sistem taruhan yang ia inginkan. Maka lawan yang berminat pun membalas dengan isyarat serupa. Setelah seekor ayam dinyatakan sebagai “petarung unggulan”, seseorang yang meneriakkan “cok” berarti memegang ayam yang menjadi lawan si unggulan. Syaratnya, kalau menang ia akan mendapatkan uang sebesar taruhan,
commit to user
sedangkan kalau kalah ia hanya membayar tiga perempat dari jumlah taruhan yang disepakati.
Jenis ayam yang digunakan mulai dari ayam kampung biasa, kemudian meningkat ke ayam keker, bekisar, dan bahkan ayam bangkok. Apabila dulu ayam hanya diberi makanan dari ketela (singkong), namun sekarang yang diberikan adalah nasi, jagung dan konsentrat yang memiliki kandungan gizi tinggi yang lebih bagus. Selain itu, beberapa ayam jago diberikan obat kuat tambahan (supplement) sebelum diadu di arena tajen sehingga mampu mematikan lawannya dalam sekejap. Begitu juga dengan alat pertaruhannya, apabila mungkin dahulu bertaruh menggunakan pis bolong namun sekarang menggunakan uang sungguhan (Subadra, 2008:2).
Ada tiga golongan pemain dalam permainan sabung ayam menurut mentalnya (Hasil penelitian Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Udayana dalam Mertha, 2001:35), yaitu.
1. Pemain profesional, adalah para pemain yang memandang sabung ayam sebagai lapangan pekerjaan sehari-hari dan selalu aktif melakukan permainan sabung ayam.
2. Pemain amatir, adalah pemain yang menganggap permainan sabung ayam sebagai hiburan dan kesenangan belaka dan bagi mereka sabung ayam merupakan hal yang menyenangkan.
3. Pemain pelarian atau insidental, adalah pemain yang melakukan sabung ayam sebagai pengadu nasib. Pemain ini menganggap sabung ayam sebagai permainan yang tidak baik, namun karena desakan ekonomi keikutsertaan dalam permainan sabung ayam hanya sebagai pelarian.
Permainan tajen khususnya di Desa Pakraman Sukasada memiliki sistem taruhan agar permainan mereka lebih menarik. Di dalam sabung ayam, pertaruhan atau yang sering orang Bali menyebutnya dengan toh, taruhan pusat tunggal di tengah-tengah di antara uang-uang pokok (toh ketengah-tengah) adalah taruhan resmi yang dibatasi lagi dengan jaringan aturan-aturan dan dibuat diantara kedua pemilik jago dengan wasit sebagai pengawas dan saksi public, dalam tajen pun ada wasit yang disebut saya. Di setiap tajen ada empat saya yang bertugas yakni saya kemong, ketek, garis, dan lap. Saya kemong biasanya selalu didampingi gong kecil yang disebut kemong. Saya kemong paling tinggi jabatannya, ia menentukan kapan memulai dan mengakhiri pertarungan.
commit to user
Jika salah seekor ayam aduan sudah terkapar, bebotoh yang kalah akan menghampiri lawan untuk menyerahkan uang taruhan. Di dalam metajen ini pun terdapat suatu ke-sportifitasan antar sesama bebotoh, mereka yang kalah dengan sportif mengaku kalah dengan menyerahkan uang kepada sang pemenang, dan disinilah letak kekhasan yang terdapat pada permainan tajen.
Tajen sifatnya dinamis dan selalu mengikuti perkembangan jaman, hal ini sejalan dengan teori strukturasi Anthony Giddens bahwa manusia adalah subyek yang aktif dan kreatif (Giddens, 2009:94). Giddens menolak pendapat bahwa manusia adalah boneka ciptaan aturan-aturan dan struktur-struktur eksternal, menurutnya struktur berada di luar individu. Struktur memiliki keberadaan yang sebenarnya dalam pola-pola pikir berisi aturan-aturan dan sumber-sumber (pengetahuan, kemampuan, dan kecakapan praktis) yang diperoleh seseorang melalui sosialisasi (Giddens, 2009:95). Manusia memproduksi tatanan sosial karena kebutuhan akan kepercayaan dan rasa takut akan ketidakpastian. Keinginan ini disebut keamanan ontologis. Kehidupan sosial dibuat rutin dan konvensional sehingga setiap orang merasa aman (Sutrisno, 2005:187-188).
Sebagaimana uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tajen merupakan bentuk dari tabuh rah yang terstruktur dan berpola dalam lintas ruang dan waktu yang di rubah oleh agen atau yang disini disebut bebotoh. Realitas-realitas tersebut menunjukkan bahwa struktur yang dibuat oleh bebotoh yaitu tajen dilakukan secara berulang atau secara rutin diselenggarakan sebagai bentuk eksis dalam praktik-praktik sosial yang direproduksi oleh agen/bebotoh. Tajen di Desa Pakraman Sukasada sekarang ini adalah tajen yang bernuansa judi dan menjadi sebuah taruhan dengan menggunakan materi uang, sehingga tajen yang sekarang dilakukan Desa Pakraman Sukasada merupakan perjudian murni bukan yajna. Namun, tajen memiliki satu-kesatuan sudut pandang dari masyarakat bahwa aktivitas tersebut masih merupakan bagian dari suatu aktivitas yang menyenangkan bagi para bebotoh yang ada sejak dahulu.
4.2.2.1 Kehidupan di Arena Tajen
Penyelenggaraan tajen di suatu arena tidak hanya menjadi sarana bagi pemilik ayam dan para bebotoh, melainkan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam kehidupan penyelenggaraan tajen. Tajen bagaikan dua mata sisi uang, disatu sisi tajen merupakan suatu bentuk kriminal, disisi lainnya tajen dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk
commit to user
mencari nafkah dan penggalian dana. Seringkali dijumpai setiap ada penyelenggaraan tajen di suatu arena, selalu terdapat kios-kios yang disediakan untuk tempat berjualan, tersedianya tempat berjualan tentu dimanfaatkan oleh pedagang, baik dari Desa Pakraman Sukasada maupun dari luar desa. Biasanya, jenis makanan dan minuman yang dijual oleh pedagang. Selain pedagang di kios-kios, pedagang acung pun memanfaatkan acara ini untuk mencari nafkah dari kehidupan tajen. Jasa lainnya yang ditawarkan di tempat sekitar arena tajen adalah tukang pijat dan jasa peminjam uang atau rentenir. Selain pedagang, keunikan lainnya dari setiap pelaksanaan tajen adalah adanya rentenir perempuan yang juga mencari nafkah di acara tersebut. Keunikan tersebut menunjukkan bahwa acara tajen yang didominasi oleh kaum laki-laki, ternyata juga dihadiri oleh kaum perempuan, adanya kaum perempuan yang ikut mencari nafkah di arena tajen tersebut menunjukkan adanya kesetaraan gender.
Konteks kesetaraan gender yang dimaksud adalah bahwa laki-laki dan perempuan turut serta dalam pelaksanaan acara tajen tersebut. Secara tidak langsung stereotif yang menyatakan bahwa perempuan harus bekerja di ranah domestik (mengurus dapur, anak dan rumah tangga), dibantah dengan adanya perempuan yang turut serta dalam arena tajen tersebut. Sebaliknya, dengan adanya rentenir perempuan yang ikut mencari nafkah di arena tajen tersebut menunjukkan bahwa perempuan kini tidak lagi berada di ranah domestik, tetapi juga mampu berada di ranah publik (mencari nafkah seperti laki-laki).
Pada umumnya, hal yang sama dilakukan oleh para pedagang dan masyarakat lainnya yang mencari nafkah di arena tajen. Mereka biasanya sudah mengetahui dimana dan kapan akan diselenggarakan acara tajen. Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka telah terbiasa mencari nafkah di arena tajen, kebiasaan tersebut tidak terlepas dari berkalanya suatu pelaksanaan ngaben di suatu arena tajen. Selain mengandalkan kebiasaan tersebut, terkadang antar pedagang dan pencari nafkah lainnya saling bertukar informasi terkait dengan tempat ramai untuk dapat berjualan. Tidak hanya kehidupan di luar arena pertandingan tajen, kehidupan lainnya pun terjadi di dalam arena tajen. Banyak masyarakat yang mencari nafkah di dalam arena, sebagai contoh; Pertama, petugas kebersihan arena tajen yang bertugas membersihkan arena sebelum dan sesudah diselenggarakannya tajen. Kedua, (saya) juri dalam pertandingan tajen yang bertugas memandu jalannya pertarungan. Ketiga, tukang cabut bulu ayam yang bertugas
commit to user
mencabut bulu ayam yang mati dan kalah dalam pertarungan untuk kemudian dijual lagi. Keempat, (pakembar) tukang pegang ayam yang bertugas memegang ayam saat akan diadu. Semua peranan di atas mempunyai peran dan tujuannya masing-masing. Mereka merupakan satu kesatuan dari sistem arena tajen tersebut, meskipun keberadaan pelaksanaan tajen dilarang secara hukum agama dan pemerintah, tetapi banyak yang memanfaatkan arena tajen untuk mencari penghasilan, hal tersebut dikarenakan ketatnya persaingan hidup di Bali.
Persaingan tersebut menyebabkan masyarakat melakukan apa saja demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dengan uang, memungkinkan orang-orang mengatasi kebutuhan yang diinginkannya secara langsung melalui keterlibatan mereka dalam suatu transaksi (Johnson, 1986:284). Pernyataan Johnson tersebut terkait dengan apa yang dilakukan oleh anggota masyarakat di atas bahwa, apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut untuk mencari penghasilan berupa uang. Hal tersebut dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari, uang mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari demi mempertahankan kelangsungan hidup. Tajen dipandang sebagai media untuk mengubah nasib dan mengadu keberuntungan oleh sebagian orang, bagi sebagian yang lain, tajen dijadikan sebagai mata pencaharian seperti berdagang, jasa pemeliharaan ayam, dan lain-lain. Tajen merupakan fenomena sosial yang ada di kehidupan masyarakat, hampir setiap daerah seperti Bali, Jawa, Sumatra, dan dipulau-pulau yang lain ada permainan judi tajen tetapi dengan bahasa yang tentu berbeda.
Banyak masyarakat Desa Pakraman Sukasada yang ikut serta dalam tajen ini, terutama masyarakat yang memiliki SDM yang rendah, mereka hanya ikut sebagai tukang parkir, penjual makanan, atau menggelar perjudian di sekitar tempat tajen. Masyarakat di Desa Pakraman Sukasada sangat bergantung pada tajen sebagai mata pencaharian untuk mencari uang (lihat gambar 6).
commit to user
Gambar 6: Masyarakat sekitar yang berjualan di sekitar tempat tajen di Desa Pakraman Sukasada.
Dokumentasi: Made Prasta (10 Agustus 2014)
Walau sama-sama sabung ayam tajen dan tabuh rah memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Tajen merupakan bentuk hiburan yang lekat dengan kegiatan judi sedangkan tabuh rah adalah murni kegiatan ritual keagamaan. Dalam perkembangannya, ritual suci tabuh rah mengalami pergeseran makna, seperti yang di katakan oleh Giddens (Wirawan, 2012:292) melalui idenya, manusia masuk ke dalam dunia sambil mempunyai niat untuk memengaruhi dan mengubahnya. Agen dalam hal ini adalah bebotoh yang mempunyai peran sangat penting dalam perubahan ini. Seni pertarungan ayam yang seru dan mengasyikkan kemudian sering dijadikan ajang berjudi.
Hal inilah sebagai salah satu polemik jika tajen dibubarkan, banyak masyarakat yang ikut berperan serta dalam tajen. Hal ini memang negatif, tetapi dengan menimbang masyarakat yang ikut dalam hal ini menjadi sangat dilematis. Meskipun berulang kali digerebek oleh pihak yang berwajib, mereka akan menggelar tajen di tempat yang
commit to user
berbeda dan akan terus berulang seperti itu. Disinilah diharapkan pariwisata berperan penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat Desa Pakraman Sukasada, misalnya seperti wisata berbasis masyarakat. Dengan penerapan wisata berbasis masyarakat, masyarakat yang berjualan di sekitar tempat tersebut dapat menjajakan makanannya dengan tenang tanpa merasa risau akan adanya penggrebekan yang dilakukan oleh polisi, dan jika tajen dijadikan wisata berbasis masyarakat juga dianggap lebih positif untuk masyarakat luas.
Sedangkan strukturasi Anthony Giddens juga menyatakan konsep rutinisasi, hal apapun yang dikerjakan dengan kebiasaan, merupakan elemen paling dasar dari aktivitas sosial sehari-hari. Rutinisasi merupakan hal penting dalam mekanisme psikologis, yaitu rasa percaya atau keselamatan ontologis dilanggengkan dalam aktivitas kehidupan sosial sehari-hari. Dengan pembawaan kesadaran praktis, antara isi yang secara potensial eksplosif dari kesadaran dan monitoring refleksif dari tindakan saat agen tersebut ditampilkan (Giddens, 1998:56). Menurut Giddens, struktur lahir atas beberapa kesadaran sebagai hasil dari pengaruh kejadian sehari-hari dalam konteks tindakan sosial yang dilakukan secara terus menerus (rekursif) (Giddens, 1998:56). Kesadaran praktis sendiri terdiri atas semua hal yang aktor-aktor mengetahui secara diam-diam tanpa dapat memberi mereka pernyataan diskursif secara langsung.
Dari uraian di atas mengenai kehidupan di arena tajen dapat dimaknai bahwa praktik-praktik sosial yang di perlihatkan di atas antara penjual makanan, bebotoh, dan para pencari nafkah di sekitar arena tajen merupakan suatu dualitas dari struktur yang tidak bisa dipisahkan, dan berhubungan erat dengan ruang dan waktu yang dilakukan secara berulang. Seperti dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan, mereka saling membutuhkan satu sama lain antara tajen, para penjual, bebotoh dan pihak-pihak lain yang berkepentingan di arena tajen yang dilakukan secara berulang-ulang selama bertahun-tahun.
4.3 Tajen Dijadikan Sebagai Modal Budaya di Desa Pakraman Sukasada 4.3.1 Makna Tradisi Tajen
Tajen merupakan fenomena sosial yang ada di kehidupan sosial masyarakat dan hampir di setiap daerah seperti Bali, Jawa, dan Sumatra ada tajen atau, di tempat lain sering disebut sabung ayam, bukan hanya diramaikan olah bebotoh orang Bali saja,
commit to user
tetapi juga dari suku lain seperti Jawa, Lampung, Batak, Palembang, dan daerah-daerah lainnya. Aturan main dan perangkat tajen juga sama dengan di Bali, karena budaya ini dibawa dan dikembangkan langsung oleh para bebotoh transmigran yang merantau ke daerah-daerah tersebut.
Tajen telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Bali sejak zaman para leluhur masyarakat Bali dan terus berkembang sampai sekarang. Tajen pada umumnya dilakukan oleh kalangan laki-laki baik orang tua, remaja, bahkan belakangan ini anak-anak usia sekolah dasar pun sudah mulai menggeluti tajen ini. Tajen selalu dikaitkan dengan pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan upacara keagamaan di Bali, seolah-olah tajen ini dipandang sebagai pelengkap kegiatan upacara keagamaan oleh para bebotoh tajen itu sendiri. Tajen di Desa Pakraman Sukasada dilaksanakan di tempat-tempat tertutup yang ditumbuhi oleh banyak pepohonan, di tempat itu para bebotoh membentuk sebuah kalangan, yang berfungsi sebagai tempat ayam-ayam aduan yang nantinya akan diadu. Di tempat inilah masyarakat pecinta tajen berbaur dengan yang lainnya, pada umumnya di tempat kalangan tajen ini dipenuhi oleh para pedagang yang juga memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan hasil usahanya, selain itu banyak pula peluang-peluang berbisnis lainnya yang dapat dikembangkan di sini misalnya, tukang ojek yang siap menjual jasanya menghantar dan menjemput para pelaku tajen yang tidak membawa sepeda motor ke tempat tajen tersebut.
Belakangan ini pemerintah Singaraja gencar menghimbau kepada masyarakat pelaku tajen di kota Singaraja bahwa, segala bentuk perjudian yang berkembang di masyarakat akan dihapus dan dilarang peredarannya, karena pemerintah yang merasa dirugikan oleh adanya judi tajen tersebut menganggap bahwa judi tajen pada akhirnya akan menyengsarakan masyarakat itu sendiri baik dari segi ekonomi, pendidikan, dan kondisi sosial kemasyarakatan. Bentuk kepedulian pemerintah terhadap penghapusan segala bentuk perjudian diperkuat dengan diberlakukannya undang-undang yang melarang segala bentuk perjudian. Dalam kenyataannya di lapangan, terjadi pro-kontra di kalangan masyarakat mengenai kebijakan yang dilaksanakan pemerintah tersebut. Sebagian masyarakat mendukung kebijakan tersebut, namun bagi para bebotoh kebijakan tersebut sangat merugikan dirinya, mereka berdalih bahwa tajen sudah menjadi kebudayaan masyarakat Bali sejak para leluhur mereka terdahulu sehingga peninggalan leluhur wajib dilestarikan secara turun temurun, selain alasan tersebut
commit to user
mereka juga menjadikan tradisi tabuh rah yang harus dilaksanakan pada upacara Butha Yajna sebagai “senjata” dalam melakukan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah.
Dalam kenyataannya, pemerintah dinilai gagal dalam menghapus segala bentuk perjudian di Bali khususnya di Desa Pakraman Sukasada, walaupun sudah banyak oknum-oknum pelaku perjudian yang terbukti melakukan judi khususnya judi tajen telah ditangkap dan diperoses sesuai hukum yang berlaku, namun pemerintah gagal dalam merubah kebiasaan metajen yang telah mengakar dan mendarah daging bagi sebagian masyarakat Bali. Itu baru sedikit saja masalah yang menjadi kendala pemerintah, masih banyak problema dan dilema yang melilit kalangan penegak hukum dalam kaitannya memberantas judi tajen di Bali.
Belakangan ini, fenomena yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa banyak oknum kepolisian bekerja sama dengan pelaku judi tajen, kerjasama yang dimaksud tentu konotasinya negatif, karena banyak oknum kepolisian yang menerima suap dari para pelaku tajen, sehingga oknum polisi tersebut membiarkan saja kegiatan judi tajen dengan leluasa dilakukan oleh para pecinta tajen tersebut. Karena tajen sangat sukar untuk di berantas, maka pemerintah juga tidak mampu untuk mencegah, sekarang tergantung pada masyarakat itu sendiri dan menurut peneliti, sebagai payung hukum agar tidak menjadi konotasi yang negatif adalah tajen dijadikan sebagai modal budaya untuk pengembangan wisata yang berbasis masyarakat, khususnya di Desa Pakraman Sukasada agar tajen tidak dianggap selalu berkonotasi buruk, akan tetapi dengan adanya wisata berbasis masyarakat diharapkan tajen menjadi kebudayaan yang dimiliki masyarakat bali dengan segala kebaikan dan mampu mengangkat sektor ekonomi masyarakat Desa Pakraman Sukasada seperti tukang ojek, tukang parkir, orang yang berjualan di sana dan sebagainya.
Bagi sebagian besar orang, tajen telah dijadikan sebagai media untuk mengadu nasib, untuk mengadu keberuntungan, tetapi banyak juga yang menjadikan tajen sebagai sarana hiburan khususnya bagi kalangan yang berduit karena mereka ke tajen hanya untuk mencari kesenangan saja dan sama sekali bukan untuk mencari kemenangan dalam bentuk uang. Selain itu, tajen juga telah difungsikan sebagai lahan untuk berusaha atau sumber mata pencaharian seperti berdagang, jasa pemeliharaan ayam, ojek, dan lain-lain.
commit to user
Tajen bukan merupakan kegiatan yang baru dan bahkan dapat dikatakan bahwa kita yang hidup sekarang inilah yang jauh lebih baru atau muda daripada keberadaan tajen. Keberadaan tajen terus berlanjut dari jaman dahulu, sekarang, dan akan terus ada sampai dengan masa yang akan datang. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Giddens bahwa, perkara sentral ilmu sosial ialah “praktik sosial yang berulang dan terpola dalam lintas ruang dan waktu”. Dalam masyarakat, tidak ada praktik sosial tanpa tindakan beberapa orang, maka tindakan pelaku (agency) tidak mungkin diabaikan oleh ilmu sosial (Giddens, 2010:23). Tajen merupakan suatu kebudayaan yang tidak akan pernah hilang dari waktu ke waktu, praktik sosial yang dilakukan berulang-ulang dalam lintas ruang dan waktu yang dilakukan oleh agen-agen untuk dijadikan media atau sumber mata pencaharian penduduk Desa Pakraman Sukasada.
Dalam kegiatannya, tajen memiliki aturan-aturan tertentu misalnya seperti penentuan menang atau kalahnya pertarungan ayam dan ukuran waktu untuk menyatakan lawannya kalah yang hanya dipahami oleh para bebotoh saja dan hanya dipakai pada saat berada dalam kehidupan tajen saja. Ketika keluar dari arena tajen, aturan tersebut sama sekali tidak dipakai dan berarti di kelompok sosial yang lain. Istilah-istilah yang dipakai di dalam kegiatan tajen hanya bisa dipelajari oleh seseorang yang berminat untuk menekuninya dan sama sekali tidak diwariskan atau diturunkan dari generasi sebelumnya dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Begitu juga cara menentukan lawan ayam aduannya, biasanya diajarkan oleh para bebotoh yang sudah lebih banyak dan sudah ahli dalam dunia tajen. Contoh lain yang harus dipelajari adalah cara mengikat taji, sesorang harus dilatih dan memiliki keahlian khusus untuk mengerjakannya sehingga tidak semua bebotoh bisa melakukannya.
Tajen secara jelas memiliki karakteristik-karakteristik budaya. Sebagaimana disebutkan oleh (Reisinger, 2003:76), suatu budaya memiliki sepuluh karakteristik, antara lain; fungsi, fenomena sosial, memiliki ketentuan, dapat dipelajari, hanya berlaku di dalam grup tertentu, bernilai, bisa dikomunikasikan, dinamis, telah berjalan dalam waktu yang lama, dan bisa memuaskan keinginan dalam kelompoknya. Bagi para bebotoh, tajen memiliki kepuasan tersendiri dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya, mulai dari pengurungan ayam, pemeliharaan, pengaduan, sampai dengan kemenangan ayam kesayangannya. Kepuasan inilah yang dijadikan sebagai salah satu unsur dan merupakan inti dan nilai (value) dari budaya yang tidak berwujud