• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6 Teknik Analisa Data

Teknik analisis data adalah proses kategori urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar, yang membedakannya dengan penafsiran yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan diantara dimensi-dimensi uraian. (Iskandar, 2009:136). Penelitian ini mengarah pada metodologi penelitian etnografi karena penelitian memberikan gambaran mengenai sentral

budaya dalam memahami cara hidup kelompok yang diteliti. Sedangkan menurut Sugiyono dalam Iskandar (2009:138), “analisis data kualitatif adalah proses mencari dan

menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil pengamatan (observasi), wawancara, catatan lapangan, dan studi dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain”. Hal-hal penting bagi peneliti dalam strategi analisis data, sebagai berikut:

1. Mempresentasikan secara kronologis peristiwa yang diamati, mulai dari awal hingga akhir.

2. Mempresentasikan kejadian-kejadian kritis atau peristiwa kunci, berdasarkan urutan kepentingan kejadian tersebut.

3. Memfokuskan analisis dan presentasi pada individu-individu atau kelompok-kelompok, bila memang individu atau kelompok tersebut menjadi unit analisis primer.

4. Mengorganisir data dengan menjelaskan proses-proses yang terjadi (seleksi, pengambilan keputusan, komunikasi, dll).

5. Memfokuskan pengamatan pada isu-isu kunci yang diperkirakan akan sejalan dengan upaya menjawab pertanyaan primer.

Menurut Moleong dalam Iskandar (2009: 142), penelitian budaya (etnografi) telah banyak digunakan dalam penelitian sosial dan pendidikan, untuk itu, perlu bagi peneliti memahami tentang analisis data yang digunakan dalam penelitian budaya. Tahapan analisis tersebut dapat digunakan dalam penelitian kualitatif. Adapun tahapan analisis kualitatif dapat berawal dari pelaksanaan penelitian. Adapun tahapan-tahapan penelitian etnografi (budaya), sebagai berikut:

1. Memilih situasi sosial (setting social) tempat, subjek penelitian, aktivitas subjek (place,actor,activity).

2. Melakukan kajian awal (grand tour) di setting sosial di lapangan 3. Melakukan observasi partisipatif, wawancara, dan studi dokumentasi 4. Melakukan analisis domain

5. Melakukan observasi, dan wawancara terfokus 6. Melaksanakan analisis taksonomi

7. Melakukan observasi dan wawancara terseleksi 8. Melakukan analisis komponen sosial

9. Melakukan analisis tema 10.Menemukan tema budaya 11.Menyusun laporan penelitian

Berdasarkan langkah-langkah penelitian kualitatif di atas, terlihat bahwa proses penelitian kualitatif adalah berangkat dari yang luas, kemudian menemukan fokus kajian, dan meluas lagi. Langkah-langkah penelitian kualitatif di atas dapat digunakan dalam setting sosial budaya pendidikan. Analisis data dalam penelitian kualitatif berdasarkan pada tahapan penelitian, yaitu: (i) analisis domain, (ii) analisis taksonomi, (iii) analisis komponen sosial (iv) analisis tema waktu. “Domain analysis is the first type of etnographic analysis. In later steps will consider taxonomic analysis, which involves a search for the way cultural domains are organize, the componential analysis, which involves a search for the attributes of terms in each domain. Finally we will consider theme analysis, which involves a search for the relationship among domain and for how they are linked to the cultural scene as whole”. Analisis domain merupakan langkah pertama dalam penelitian. Langkah selanjutnya adalah analisis taksonomi, yang aktivitasnya adalah mencari bagaimana domain yang dipilih itu dijabarkan menjadi lebih rinci,

seterusnya analisis komponensial dilakukan untuk melihat perbedaan yang spesifik setiap rician yang dihasilkan dari analisi taksonomi. Yang terakhir adalah analisis tema budaya, yang aktivitasnya mencari hubungan di antara domain dan bagaimana hubungannya dengan keseluruhan, selanjutnya dirumuskan ke dalam suatu tema atau judul peneliti (Spradley 1980 dalam Sugiyono 2007:345).

Analisis data penelitian naturalistic yang dikemukakan oleh Spradley maka analisis data dilakukan di lapangan bersama-sama dengan pengumpulan data. Ada empat tahap analisis data yang diselingi dengan pengumpulan data:

1. Analisis Domain

Analisis domain diperlukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau setting sosial. Dalam analisis domain peneliti menetapkan domain-domain yang akan diteliti melalui fenomena-fenomena lapangan yang berhubungan dengan aktivitas (Place, actor, activity) tempat, subjek dan aktivitas di lapangan. Pengumpulan data lapangan sangat diperlukan sebagai dasar menjalankan penelitian, semakin banyak yang dipilih maka semakin banyak waktu yang diperlukan untuk pengumpulan data dan analisi data, sehingga diharapkan mendapat temuan yang baik.

Ada enam tahap yang dilakukan dalam analisis Domain yaitu:

a. memilih salah satu hubungan semantik untuk memulai dari sembilan semantik yang tersedia: hubungan, termasuk, suatu bagian, sebab-akibat, rasional, lokasi tempat bertindak, fungsi, alat tujuan dan urutan serta memberi alat atribut.

b. menyiapkan lembaran analisis domain.

c. memilih salah satu sampel lapangan yang dibuat terakhir untuk memulainya

d. Mencari istilah acuan dan istilah bagian yang cocok dengan hubungan semantik dari catatan lapangan.

e. mengulangi usaha pencarian domain sampai semua hubungan semantik hasil. f. membuat daftar domain yang ditemukan (teridentifikasi) (Moleong, 2007:150).

2. Analisis Taksonomi

Analisis taksonomi merupakan langkah lanjut dari analisis domain, hasil analisis domain tersebut dijabarkan lebih rinci dan lebih terfokus, sehingga nampak secara detail apa-apa yang berhubungan dengan domain-domain tersebut. Analisis taksonomi ini dilakukan dengan menggunakan teknik observasi terfokus, wawancara mendalam, dan studi dokumen yang berhubungan dengan domain-domain yang diteliti. Tujuh langkah yang dilakukan dalam analisis taksonomi yaitu:

a) memilih satu domain untuk dianalisis

b) mencari kesamaan atas dasar hubungan semantik yang sama yang digunakan untuk domain itu

c) mencari tambahan istilah bagian

d) mencari domain yang lebih besar dan lebih inklusif yang dapat dimasukkan sebagai sub bagian dari domain yang sedang dianalisis

e) membentuk taksonomi sementara

f) mengadakan wawancara terfokus untuk mengecek analisis yang telah dilakukan g) membangun taksonomi secara lengkap.

3. Analisis Komponen

Analisis komponen merupakan kelanjutan dari analisis taksonomi, yang mana domain yang telah dijadikan fokus melalui analisis taksonomi. Dalam analisis komponen adalah mencari perbedaan atau yang kontras, data ini dicari dengan melakukan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Delapan langkah yang dilakukan dalam analisis komponen yaitu:

a. memilih domain yang akan dianalisis b. menyiapkan lembaran paradigma

c. mengidentifikasi dimensi kontras yang memiliki dua nilai

d. menggabungkan dimensi kontras yang berkaitan erat menjadi satu e. menyiapkan pertanyaan kontras untuk ciri yang tidak ada

f. mengadakan pengamatan terpilih untuk melengkapi data g. menyiapkan paradigma lengkap (Moleong, 2007)

4. Analisis Tema

Analisis tema merupakan kelanjutan dari analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dari analisis ketiga ini maka akan mendapat konstruksi bangunan yang utuh yang menjelaskan tentang (place, actor, activity) setting sosial yang selama ini kabur, dengan adanya analisis ini maka akan menjadi terang. Moleong (2007) analisis tema merupakan seperangkat prosedur untuk memahami secara holistik pemandangan yang sedang diteliti. Sebab setiap kebudayaan terintegrasi dalam beberapa jenis pola yang lebih luas. Terdapat tujuh langkah untuk menemukan tema yaitu:

a. melebur diri

b. melakukan analisis komponen terhadap istilah acuan

c. menemukan perspektif yang lebih luas melalui pencarian domain dalam pemandangan budaya

d. menguji dimensi kontras seluruh domain yang telah dianalisis e. mengidentifikasi domain terorganisir

f. membuat gambar untuk menvisualisasi hubungan antara domain g. mencari tema yang universal

Selain empat tahap analisis data diatas juga diperlukan interpretasi data dalam sebuah penelitain. Interpretasi data merupakan upaya memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan. Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi yang akurat yang diperoleh dari lapangan (Moleong, 2007:115).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hambatan komunikasi antara mertua dan menantu pada suku Karo di desa Batukarang. Proses penelitian dilakukan selama kurang lebih 8 bulan, dimulai bulan Mei 2012. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti melakukan pran penelitian dengan cara mengadakan observasi ke lokasi penelitian yaitu desa Batukarang kecamatan Payung Kabupaten Karo, pra penelitian ini dengan bertanya kepada kepala desa dan ketua adat setempat.

Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah data etnografi dimana data tersebut diperoleh dari hasil observasi dan hasil wawancara. Data tersebut diolah dan dianalisis guna memperoleh kesimpulan hasil penelitian. Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data mengenai gambaran Rebu antara mertua dan menantu pada suku Karo di desa Batukarang dari masing-masing informan yang direkam melalui alat perekam suara. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan sistematik dan terbuka dengan alat bantu perekam suara agar data yang diperoleh dapat disimpan dan selanjutnya dapat diolah.

Dalam melakukan wawancara ini, peneliti menyiapkan pedoman pertanyaan wawancara agar informasi yang akan digali tidak keluar dari konteks. Informan yang diwawancara berjumlah 9 orang informan saja yang dianalisa dikarenakan informasi merupakan data jenuh. Dalam penentuan informan, pertama-tama dipilih satu orang informan, karena peneliti tidak tahu siapa yang memahami informasi subjek penelitian.

Setelah dilakukan observasi selama beberapa hari, akhirnya peneliti menemukan informan yang dapat menjabarkan pengetahuan serta pengalaman mereka selama menjalankan Rebu.

Karakteristik informan-informan tersebut dapat dilihat dalam tabel dibawah ini : Tabel 4.1 Karakteristik Informan No Nama Jenis Kelamin

Umur Agama Status

1. Herlina Sembiring Wanita 80 tahun Katolik Mertua 2. Erba Kalto Manik Pria 51 tahun Kristen Mertua 3. Langit Ketaren Pria 52 tahun Islam Mertua 4. Bahagia Bangun Pria 58 tahun Katolik Mertua 5. Mansur Pelawi Pria 49 tahun Islam Menantu 6. Evi Melva Perangin-angin Wanita 22 tahun Kristen Menantu 7. Kiki Tarigan Wanita 23 tahun Islam Menantu 8. Susanti Sitepu Wanita 30 tahun Katolik Menantu 9. Antoni Bangun Pria 46 tahun

katolik Ketua Adat

4.1.2 Hambatan Komunikasi Mertua dan Menantu 1. Wawancara 1 (Herlina Sembiring)

Pada wawancara pertama, Nande Herlina Sembiring berumur 80 tahun dimana adalah mertua dari Bapak Mansur Pelawi. Ia tinggal bersama dengan anak, menantu dan kedua cucunya semenjak anak dan menantunya menikah. Ia memiliki 3 orang anak dan hanya anak kedua yang tinggal dengan nya di rumah saat ini. Karena tidak ada teman saya dirumah maka saya setuju kalau anak dan menantu saya tinggal di rumah dan saya merasa senang karena ada teman saya dirumah. Saya tidak terlalu dekat dengan menantu saya karena antara mertua dan menantu dalam suku Karo tidak boleh ngomong. Dan selama ini saya merasa nyaman untuk tinggal bersama karena selama ini menantu saya juga mengikuti peraturan yang dirumah saya sehingga kami pun tidak pernah berselisih paham satu sama lain. Selain itu, saya juga masih ikut membantu perekonomian keluarga saya dan masih ikut mengurus cucu-cucu saya tetapi saya tidak ikut membantu pekerjaan rumah tangga karena yang mengerjakan adalah anak saya. Saya sangat senang tinggal bersama sehingga saya tidak pernah menyarankan anak dan menantu untuk tinggal terpisah dengan saya. Tentu saja saya mengetahui tentang rebu dan menurut saya hal itu bagus karena antara mertua dan menantu bisa untuk saling menghormati dan saya menerapkan rebu tetapi saya juga pernah beberapa kali melanggar rebu itu sendiri. Tetapi saya tidak pernah mendapat sanksi/hukuman yang terlalu berat yang diberikan kepada saya, hanya dinasehati oleh penatua-penatua adat di desa ini. Untuk mengantisipasi agar saya tidak melanggar rebu, saya kan masih bekerja dan kalau pagi itu saya pergi ke ladang jadi saya hanya sore sampe malam saja di rumah dan kalau udah di rumah saya langsung istirahat di kamar. Dan cara membina hubungan yan baik setelah rebu dilanggar ya kalau dirumah saya tidak boleh berdua dirumah dengan menantu saya dan lebih sering berada di kamar saja.

Bapak Erba Kalto Manik telah tinggal bersama menantunya selama 2 tahun semenjak anaknya menikah dan saat ini ia telah memiliki 4 orang, 3 orang perempuan dan 1 orang laki-laki dan kini ia tinggal bersama anak kedua, menantu dan juga seorang cucunya. Ia setuju untuk tinggal bersama mereka karena karena anak dan menantunya belum punya pekerjaan yang mapan untuk hidup mandiri tetapi ia merasa senang karena suasana rumah menjadi ramai apalagi saya telah memiliki cucu.

Menurut adat istiadat Karo saya tidak bisa begitu dekat dengan menantu saya dan kalau mau ngomong ya saya harus ada perantaraan misalnya melalui suaminya atau istri saya. Saya merasa nyaman kalau tinggal dengan menantu saya karena menantu saya mengikuti peraturan yang diterapkan dirumah saya. Dan sejauh ini saya belum pernah berselisih paham baik dengan anak maupun dengan menantu saya. Karena mereka belum memiliki pekerjaan yang mapan sampai sekarang ini tentu saja saya masih ikut membantu perekonomian keluarga seperti membeli susu ataupun perlengkapan cucu saya tetapi saya tidak ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga dikarenakan yang mengerjakan adalah istri dan menantu saya. Pernah suatu saat saya membicarakan kepada anak dan menantu saya untuk tinggal terpisah dengan mereka seperti mengontrak rumah diluar agar mereka juga bisa belajar mandiri .

Di dalam keluarga saya masih menerapkan rebu itu kan untuk orang Karo seperti saya ini sehingga alangkah baiknya budaya seperti itu harus dilestarikan agar tidak punah ditelan modernisasi zaman. Pendapat saya kalau rebu itu sekarang ini sebaiknya rebu itu kalo bisa dihilangkan lah gitu sesuai dengan perkembangan zaman sekarang ini karena rebu itu membuat kita dengan menantu menjadi canggung menghadapi menantu dan mertua karna ga bisa ngomong kan gitu. Jadi misalnya berdua dirumah kan agak susah misalnya saya ada keperluan ternyata cuma berdua dirumah jadi ga bisa ngomong, ga bisa nanya-nanya itu kan susah dan gitu menurut saya rebu ini ya kalo bisa dihilangkan. Memang yang liat mertua dan menantu yang tinggal di kota itu ga ada lagi rebu tapi saya masih pegang tradisi juga walaupun ga merasa nyaman tapi ya kalo bisa dihilangkan aja rebunya. Tetapi begitupun saya masih menerapkannya dan belum pernah melanggarnya.

3. Wawancara 3 (Langit Ketaren)

Langit Ketaren adalah seorang petani yang telah berusia 52 tahun dan telah memiliki 3 orang anak. Ia tinggal bersama dengan anaknya yang ketiga dan menantunya dari anak ketiga

selama 3 tahun. Ia memilih tinggal bersama menantunya karena anak pertama dan keduanya memilih tinggal diluar kota dan untuk menemaninya dan istrinya maka ia meminta kepada anak dan menantunya untuk tinggal bersama dan ia merasa senang rumahnya menjadi ramai karena ia juga telah memiliki satu orang cucu yang juga ikut tinggal bersamanya. Ia sudah menganggap menantunya seperti anak sendiri tetapi karena keadaan Rebu maka ia tidak bisa berkomunikasi dengan menantunya secara leluasa tetapi walau begitu keadaannya ia tetap merasa nyaman tinggal bersama menantunya, disamping itu menantunya juga mengikuti peraturan yang diterapkan dirumahnya. Dan sejauh ini pula ia belum pernah berselisih paham dengan menantunya. Ia juga masih bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya, oleh karena itu, ia tidak ikut mengurus cucunya begitu juga dengan urusan pekerjaan rumah tangga karena telah diurus oleh menantu dan dibantu oleh istrinya. Bapak Langit Ketaren tidak pernah menyaranakan anak dan menantunya untuk tinggal terpisah karena ia tidak mau tinggal hanya berdua dengan istrinya karena ia akan merasa kesepian. Ditengah keluarga, ia telah mengetahui tentang rebu dan ia berpendapat kalau rebu itu harus dipertahankan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di zaman modern seperti ini. Bapak Langit Ketaren juga masih menerapkan rebu ditengah keluarganya. Tetapi ia juga beberapa kali telah melanggar rebu tersebut karena tidak adanya perantara berbicara dengan menantunya pada saat itu. Setelah melanggar rebu itu, ia hanya dinasehati oleh istrinya untuk tidak mengulangi hal itu lagi. Dan cara mengantisipasi agar tidak melanggar rebu, ia berusaha untuk tidak tinggal berdua dirumah dengan menantunya dan untuk membina hubungan yang baik kembali dengan menantunya setelah rebu itu dilanggar ya seperti biasa saja karena memang tidak boleh berbicara langsung juga.

4. Wawancara 4 (Bahagia Bangun)

Bapak Bahagia Bangun adalah seorang guru yang berusia 58 tahun. Ia telah memiliki 3 orang anak dan tinggal bersama dengan menantu dari anak kedua selama 7 tahun dan juga tinggal dengan 2 orang cucunya. Alasan Bapak Bahagia Bangun untuk tinggal bersama karena anaknya belum mampu untuk membeli rumah. Tetapi ia senang bisa tinggal bersama anak dan menantunya, tapi ia tidak bisa dekat dengan menantunya karena dalam adar Karo seorang mertua dan menantu tidak boleh saling berbicara, duduk setikar ataupun saling bertatap muka. Walaupun begitu ia tetap merasa nyaman tinggal dengan menantunya selain itu menantunya juga mengikuti peraturan yang ia buat dirumahnya. Selama tinggal bersama, ia dan menantunya tidak pernah

berselisih paham satu sama lain karena mereka tidak boleh berbicara secara langsung. Ia juga masih bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, tetapi ia tidak ikut mengurus cucu dan pekerjaan rumah tangga karena sudah dikerjakan oleh menantunya. Suatu waktu, ia pernah menyarankan anak dan menantunya untuk tinggal terpisah agar mereka dapat hidup mandiri. Bapak Bahagia Bangun sudah sejak lama mengetahui mengenai rebu dan ia berpendapat bahwa rebu tersebut harus dilestarikan dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari begitu pun juga dengan keluarganya yang masih menjalankan adat rebu itu. Ia tidak pernah melanggar rebu dan kalaupun ia melanggar rebu, untuk saat sekarang ini tidak ada hukuman/sanksi yang berat akan tetapi hanya dinasehati oleh penatua adat setempat. Untuk mengantisipasi agar tidak melanggar rebu maka menantu perempuan nya harus dijauhi dan tidak boleh tatap muka, tidak boleh berpapasan, dan kalaupun terlanjur bertatap muka maka salah satu harus buang muka. Cara membina hubungan yang baik kembali seharusnya melakukan rebu itu kembali seperti biasanya karena memang pada dasarnya mertua laki-laki dan menantu perempuan tidak boleh berbicara secara langsung apalagi harus saling meminta maaf.

4.1.3 Hambatan Komunikasi Menantu dengan Mertua 1. Wawancara 5 (Mansur Pelawi)

Bapak Mansur Pelawi telah tinggal di desa Batukarang selama 25 tahun semenjak menikah dan selama itu ia tinggal bersama dengan mertuanya di desa tersebut. Istrinya adalah anak kedua dari 3 bersaudara dan bekerja sebagai petani di desa tersebut dan begitupun dengan Bapak Mansur Pelawi dimana letak ladang mereka tidak jauh dari rumah mertuanya. Karena tidak ada lagi yang menemani ibu mertua dirumahnya maka hal itulah yang membuat Bapak Mansur Pelawi memilih tinggal bersama dengan mertuanya dan selama ini pula ia merasa nyaman tinggal bersama mertuanya begitu pun dengan kedua anaknya. Bapak Mansur Pelawi dekat dengan mertuanya layaknya orang tua kandung tetapi tidak bisa berbicara secara langsung dan melakukan kontak fisik seperti antara mertua dan menantu pada umumnya. Selama tinggal bersama ia tidak pernah berselisih paham dengan mertuanya.Dalam keluarga saya mencari

nafkah untuk kebutuhan sehari-hari keluarga, Saya juga tidak pernah jenuh tinggal bersama dengan mertua saya. Sebelum menikah, saya tidak pernah mendengar Rebu karena pada suku saya tidak ada yang namanya dan setau saya rebu antara mertua dan menantu tidak bisa ngomong itu saja yang saya tau tetapi saya menjalankan rebu karena saya telah menjadi orang Karo dan harus menjalankan adat istiadat yang ada di Karo termasuk rebu. Menurut saya rebu itu ada baiknya dan juga ada kurang juga jadi kita dengan mertua seperti jauh. Saya juga pernah melanggar rebu pada saat mertua saya sakit dan saya harus membawa mertua saya untuk berobat ke dokter karena pada saat itu di rumah tidak ada orang lain selain saya. Dan saya sudah beberapa kali melanggar rebu tapi pastinya saya sudah tidak ingat lagi. Sewaktu saya melanggar rebu saya tidak mendapat hukuman/sanksi hanya dinasehati sama orang yang sudah tua yang mengerti adat. Kalo tidak dalam keadaan terpaksa sebisa mungkin saya tidak didalam rumah berdua dengan mertua saya untuk mengantisipasi agar tidak melanggar rebu lagi. Setelah melanggar rebu tidak ada hal-hal yang dilakukan untuk mengembalikan keadaan seperti semula, ya kembali seperti biasa saja karena kan saya melanggar itu pun karena mertua saya sakit.

Pendapat Bapak Mansur Pelawi dan Nande Herlina Sembiring dapat peneliti simpulkan bahwa mereka adalah mertua dan menantu yang tinggal bersama di rumah Nande Herlina Sembiring bersama dengan kedua cucunya yang tidak lain anak Bapak Mansur Pelawi. Mereka saling hidup berdampingan dan harmonis walaupun mereka melaksanakan rebu dirumah. Selama tinggal bersama mereka pernah melanggar rebu itu sendiri tetapi itu pun karena Bapak Mansur Pelawi ingin menolong mertuanya yang sakit. Tetapi setelah itu mereka menjalankan rebu itu kembali seperti semula dan hanya dinasehati oleh penatua-penatua adat di desa Batukarang agar tidak terulang pelanggaran rebu itu lagi. Dan untuk mencegah pelanggaran rebu, mereka

Dokumen terkait