BAB I : PENDAHULUAN
I.6. Metodologi Penelitian
I.6.4 Teknik Analisa Data
Pada penulisan ini teknik analisa data yang digunakan adalah teknik kualitatif yaitu teknik tanpa menggunakan alat bantu atau rumus statistik. Dalam buku Metodologi Penelitian Kualitatif, Salim dan Syahrum31 mengutip pendapat Strauss dan Corbin yang mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang prosedur penemuan yang dilakukan tidak menggunakan prosedur statistik atau kuantifikasi. Langkah – langkah yang ditempuh penulis dalam penulisan ini adalah sebagai berikut;
Pertama, pengumpulan data. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data dan bahan dari buku – buku, situs internet yang memuat tentang sistem rekrutmen politik. Dan juga peneliti melakukan wawancara dengan tokoh – tokoh atau informan yang berkaitan dengan rekrutmen politik DPW PBB Sumatera Utara.
Kedua, penyajian dan menganalisis data yang diperoleh. Pada tahap ini setelah peneliti mengumpulkan data yang diperoleh baik itu data yang mendukung maupun yang membantu, maka selanjutnya adalah menyajikan data dan menganalisis data yang diperoleh tersebut sesuai dengan sifatnya.
Ketiga, penyimpulan data yang diperoleh. Tahap ini adalah tahap terakhir daripada penelitian ini, dari hasil penelitian dan analisis yang penulis lakukan maka penulis mengambil kesimpulan yang dapat membantu dalam memahami hasil penelitian yang dilakukan di DPW PBB Sumatera Utara.
31 Salim dan Syahrum, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Cipta Pustaka Media, 2007, hal. 41
I.7. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan digunakan untuk memudahkan penulis dalam hal pembahasan skripsi, maka penulisan skripsi ini akan dijabarkan ke dalam tiga bab penyajian data dan satu bab sebagai bab penutup. Adapun sistematika penulisan yang penulis gunakan dalam penelitian mengenai pola rekrutmen DPW PBB Sumatera Utara dalam merekrut para calon legislatif DPRD Sumatera Utara adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Pada bab ini menguraikan Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Defenisi Konsep, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
Bab II : Deskripsi Dewan Pimpinan Wilayah PBB Sumatera
Utara Dalam Perpolitikan di Sumatera Utara
Pada bab ini menyajikan deskripsi DPW PBB Sumatera Utara seperti Sejarah Partai Bulan Bintang, Azas, Tujuan, Visi dan Misi Partai Bulan Bintang, Strategi dan Program Perjuangan Partai Bulan Bintang, Hasil perolehan suara Partai Bulan Bintang pada pemilihan umum legislatif pada tahun 1999 dan tahun 2004.
Bab III : Pola Rekrutmen Politik DPW PBB SU Pada Pemilu Anggota Legislatif DPRD SU Tahun 2009
Pada bab ini berisikan penyajian dan pembahasan serta menganalisis data dan fakta yang di dapat di lapangan mengenai pola rekrutmen politik yang dilakukan oleh DPW PBB Sumatera Utara dalam Pemilu Legislatif DPRD Sumatera Utara tahun 2009.
Bab IV : Penutup
Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian dan pembahasan pada bab – bab sebelumnya, serta berisi saran yang dapat berguna bagi DPW PBB Sumut.
BAB II
DESKRIPSI DEWAN PIMPINAN WILAYAH PARTAI BULAN BINTANG SUMATERA UTARA DALAM PERPOLITIKAN DI SUMATERA UTARA
II.1. Sejarah Partai Bulan Bintang
Sesudah partai Masyumi ( Majelis Syuro Muslimin Indonesia ) dibubarkan pada masa pemerintahan Orde Lama pada tahun 1960, maka para pendukung dan pengikut Masyumi kemudian menamakan diri mereka sebagai Keluarga Bulan Bintang, yaitu sebuah komunitas yang mendambakan terlaksananya Syariat Islam ( Ajaran – ajaran Islam ). Bila pada zaman awal kemerdekaan cita – cita politik itu disalurkan dan diperjuangkan melalui partai Masyumi, maka setelah pembubaran itu tokoh – tokoh Masyumi memilih jalan berpolitik dengan dakwah32. Dari dakwah inilah lahir Dewan Dakwah Islamiah Indonesia ( DDII ).
Selama sisa masa Orde Lama antara tahun 1960 hingga sekitar tahun 1965, lembaga ini benar – benar memusatkan perhatian dalam bidang dakwah. Begitu Orde Lama runtuh maka mereka berkeinginan agar bisa menghidupkan kembali Masyumi, namun langkah ini tidak mendapat restu dari rezim yang memimpin yaitu rezim Orde Baru. Akhirnya pada tahun 1970 – an diselenggarakanlah suatu Muktamar di Malang yang melahirkan suatu gagasan untuk membentuk suatu partai, partai itu dikenal dengan nama PARMUSI ( Partai Muslim Indonesia ).
32 Tim Litbang Kompas, Partai – partai Politik Indonesia – Ideologi dan Program 2004 – 2009, Jakarta : PT Kompas Media Nusantara, 2004, hal. 54
Tetapi disayangkan bahwa ketua terpilih secara demokratis yaitu Mr. Moh Roem tidak disukai oleh rezim Orde Baru, akhirnya terpilih Jarmadi sebagai ketua umum Parmusi. Ketika fusi partai – partai politik terjadi pada tahun 1973 maka secara otomatis Parmusi bergabung dengan partai – partai Islam lain dan penggabungan partai politik ini dinamakan sebagai Partai Persatuan Pembangunan ( PPP ). Dalam sejarah perjalanan politik Indonesia, kekuasaan era Orde Baru telah memarjinalkan aspirasi umat Islam secara politis, fusi partai – partai Islam di dalam PPP tidak pernah menjadi suatu kekuatan politik yang secara signifikan mampu menjadi suara kritis terhadap kekuasaan Orde Baru.
Ketika rezim Orde Baru runtuh pada 21 Mei 1998 maka semangat Masyumi yang masih mengakar dalam diri sejumlah pendukungnya mendorong mereka untuk mendirikan partai baru. Sejumlah tokoh seperti ( Alm ) Dr. Anwar Harjono, Ustadz Muhammad Sulaiman dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH bersama – sama merundingkan bagaimana melahirkan suatu partai politik Islam baru33. Mengenai nama, tempat dan waktu berdirinya PBB sangat jelas tercantum pada Bab I pasal 2 di dalam Anggaran Dasar ( AD ) Partai Bulan Bintang yang menyebutkan bahwa PBB didirikan di Jakarta pada hari Jumat, pada tanggal 23 Rabiul Awal 1419 H bertepatan dengan tanggal 17 Juli 1998 M dan kemudian dideklarasikan pada tanggal 26 Juli 1998 di Masjid Al – Azhar Jakarta34.
33 Ibid., hal. 55
34 Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang, Hasil Muktamar II Partai Bulan Bintang, Jakarta : DPP PBB Periode 2005 - 2010, 2005, hal. 25
PBB pada kelahirannya dibidani oleh Lembaga Kerjasama Umat Islam (LKSUI) dan Badan Koordinasi Umat Islam ( BKUI ). Berdirinya LKSUI diprakarsai oleh Forum Ukhuwah Islamiyah yang didirikan semenjak tahun 1989, forum ini sejak semula memiliki cita – cita ingin mendirikan partai Islam di Indonesia. Para penggagas Partai Bulan Bintang ini seluruhnya berjumlah sebanyak 38 tokoh yang berasal dari 22 organisasi serta 18 Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Islam berskala daerah dan Dewan Dakwah Islam Indonesia ( DDII ) yang umumnya terhimpun di dalamnya. Awalnya para penggagas ini bermaksud menggunakan nama Masyumi, hal ini dikarenakan sebahagian besar pendukung partai ini adalah mereka yang mewarisi semangat dan cita – cita perjuangan dari Masyumi yang menginginkan Syariat Islam dapat diwujudkan di Indonesia.
Disebabkan adanya persoalan hukum, beban historis, moral dan juga mengakomodasi perkembangan aspirasi yang ada dalam forum tersebut, akhirnya dipilih nama Partai Bulan Bintang ( PBB ). Nama ini sudah sejak lama merupakan nama yang akrab dipakai oleh para pendukung partai Masyumi, nama ini diambil dari nama Keluarga Bulan Bintang ketika partai ini dibubarkan oleh Orde Lama pada tahun 1960.
Partai Bulan Bintang dilihat dari azasnya semula waktu pertama kali adalah menggunakan azas Pancasila sebagai azasnya, hal ini mengikuti ketentuan dalam Undang – undang No. 3 tahun 1999, sedangkan Islam sebagai aqidahnya.
Jadi, tepatnya PBB berasaskan Pancasila dan beraqidah Islamiyah.
Kemudian melalui Muktamar I PBB yang diselenggarakan pada tanggal 26 April sampai pada tanggal 1 Mei 2000, partai ini merubah azasnya menjadi Islam. Dalam tafsir azas PBB dijelaskan bahwa azas Islam bagi PBB berarti bahwa warga partai politik meyakini dengan sungguh – sungguh kebenaran Islam sebagai agama Allah yang diturunkan untuk mengeluarkan ummat manusia dari suasana gelap gulita kepada terang benderang. Setiap ucapan, pemikiran dan tindakan warga partai yang senantiasa berlandaskan kepada ajaran Islam yang melampaui ruang dan waktu. Bagi warga Bulan Bintang, ajaran Islam merupakan sumber inspirasi, motivasi, hukum dan pandangan hidup dalam arti sesungguhnya. Azas Islam bagi PBB juga berarti bahwa PBB dalam segala kegiatannya berpedoman kepada petunjuk Islam yang hanif. Pedoman yang lain dapat digunakan selama tidak dilarang oleh Islam secara tegas atau tidak bertentangan dengan semangat Islam yang benar.
Pada pemilu 1999, PBB meraih tidak kurang 2 juta suara pemilih di seluruh Indonesia dan dengan perolehan hasil suara itu PBB menempatkan 13 orang kadernya sebagai elit politik tingkat nasional yang duduk di kursi DPR RI.
Di hadapan partai Islam lainnya PBB menunjukkan sikap yang sangat kooperatif dan menjunjung semangat Ukhuwah Islamiyah, bersama tujuh partai Islam lainnya PBB sepakat untuk menggabungkan sisa hasil suara, dan PBB juga berhasil turut membentuk Poros Tengah bersama partai Islam lainnya sehingga mampu mengimbangi kekuatan suara dari fraksi – fraksi lainnya.
Sedangkan jika dilihat dari aliran pemikiran, partai ini menganut garis pemikiran Islam Modernis, yakni perspektif pemikiran yang meyakini bahwa Islam merupakan ajaran universal yang diwahyukan Tuhan kepada manusia untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia baik di dunia maupun di akhirat. Dengan kata lain partai ini termasuk partai yang menentang pandangan sekuler, yang memisahkan antara ajaran agama dan politik. Justru PBB meyakini bahwa kehidupan politik itu harus dibawah naungan ajaran agama, dan dalam pandangan partai ini ajaran Islam yang bersifat universal itu yang memiliki prinsip – prinsip ajaran yang berkaitan dengan masalah politik35. Partai politik itu dilihat sebagai suatu transformasi dari prinsip-prinsip dasar agama ke dalam bentuk gagasan dan ide. Namun partai ini tidak menganggap dirinya sebagai implementasi dari Islam itu sendiri.
Menurut Yusril Ihza Mahendra ide besar partai ini adalah Islamic Modernism, didasari keyakinan bahwa Islam adalah ajaran universal yang berisi pedoman etik dan petunjuk – petunjuk untuk menyelesaikan persoalan – persoalan hidup di dunia dan di akhirat maka ide besar itu dapat ditransformasikan ke dalam gagasan – gagasan politik. PBB ingin tampil sebagai partai yang mencerminkan aspirasi keislaman, kebangsaan, serta berwawasan politik yang demokratis.
Keterlibatan Islam dalam kehidupan politik adalah merupakan suatu keharusan, partai ini tidak sepakat dengan pandangan yang membatasi ataupun melarang partai yang berasaskan agama.
35 Tim Litbang Kompas, Op.cit, hal. 56
Di dalam pandangan Partai Bulan Bintang bahwasanya di alam demokrasi semua golongan aliran boleh memiliki hak untuk hidup, kecuali satu – satunya paham yang tidak boleh hidup adalah paham ataupun aliran yang tidak setuju dengan prinsip – prinsip demokrasi. Maka semua aspirasi dan keinginan yang berkembang sepanjang sesuai dengan konteks demokrasi, maka itu berhak hidup, walaupun orang lain tidak setuju. Tetapi ketidaksetujuannya tidak boleh menyebabkan kita memusnahkan keberadaan demokrasi tersebut.
Berkaitan pertanyaan apakah partai ini ( PBB ) dapat mewujudkan niat untuk tegaknya kejayaan Islam, Yusril mengakui pertanyaan ini relatif sulit untuk dijawab. Akan tetapi Yusril juga menyatakan bahwa yang pasti bagi PBB adalah akan menegakan sistem bukan untuk memperjuangkan orang untuk menjadi presiden. Karenanya strategi perjuangan partai difokuskan pada pemenuhan aspirasi dan kepentingan ummat dan bangsa, melakukan reformulasi sistem pemerintahan negara dan pola pembangunan bangsa demi terwujudnya masyarakat dan negara Indonesia yang lebih maju, mandiri, makmur, sejahtera, adil dan merata di bawah limpahan rahmat Allah dan ampunan Allah Swt.
Tetapi dibalik keberhasilan yang diraih PBB dalam pemilu 1999, ada suatu kejadian yang seharusnya tidak perlu terjadi dalam perjalanan politik PBB itu sendiri, pada pertengahan tahun 2000 PBB mengalami konflik internal partai yang dipicu pada kasus pemberian dana yang diperoleh karena bantuan mantan Presiden Habibie kepada Ketua Umum PBB yang saat itu adalah Yusril Ihza Mahendra.
Bantuan dana tersebut menjadi suatu batu sandungan karena dianggap tidak pernah dibicarakan dengan pengurus DPP PBB. Akibatnya sejumlah pengurus DPP PBB mengadukan Yusril Ihza Mahendra ke pengadilan karena telah menerima bantuan dana tanpa sepengetahuan pengurus DPP PBB yang lain.
Akhirnya fungsionaris PBB yang tidak menerima kepemimpinan Yusril membentuk sebuah tim pencari fakta dan menyebut diri mereka sebagai
“Kelompok 16” ( kelompok ini dinamakan kelompok 16 karena pada saat itu tim yang dibentuk untuk mencari fakta sebanyak 16 orang ). Kelompok 16 ini juga sempat mengusulkan Muktamar Luar Biasa partai karena memandang Muktamar Pertama PBB yang memilih Yusril tidak sesuai dengan AD / ART PBB36.
Salah satu tokoh utama dalam kelompok 16 ini adalah Hartono Mardjono (wafat pada 16 Juni 2003) yang tidak mengakui keabsahan Yusril, akhirnya Hartono membentuk Partai Bulan Bintang dengan Hartono sendiri menjadi ketua umum, dengan kata lain PBB versi Hartono. Menanggapi situasi PBB yang seperti ini akhirnya Yusril mengajukan permohonan kepada Mahkamah Agung ( MA ) untuk membubarkan PBB pimpinan versi Hartono Mardjono dan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, akhirnya gugatan ini dimenangkan oleh DPP PBB pimpinan Yusril. Dengan kalahnya Hartono di pengadilan maka selanjutnya pada April 2002 Hartono Mardjono mendirikan Partai Islam Indonesia ( PII ), namun dikemudian hari partai yang dibentuknya ini tidak lolos verifikasi akhir sebagai peserta pemilu 2004.
36 Tim Litbang Kompas, Op.cit, hal. 58
Dengan visi keislaman yang mendasar ini PBB ingin memposisikan diri sebagai partai Islam terdepan yang menegakkan Syariat Islam di Indonesia, Piagam Jakarta adalah model yang dipandang ideal oleh PBB. Maka PBB sampai saat ini sangat konsisten memperjuangkan untuk dimasukkannya Piagam Jakarta ke dalam pasal 29 UUD 1945 karena dengan jalan itulah penerapan Syariat Islam di Indonesia dapat dilakukan secara konstitusional. PBB menganggap adalah wajar jika masyarakat yang mayoritas beragama Islam meminta haknya untuk diterapkan sistem Islam di Indonesia karena Islam tidak hanya mengatur masalah ritual saja ( hablu minnallah ) tetapi juga mengatur hubungan dengan sesama manusia ( hablu minannas ), karena itu perlu suatu tatanan yang menjadikan Islam sebagai konsep dalam berlakunya hukum di Indonesia.
Dalam Sidang Tahunan ( ST ) MPR tahun 2002, fraksi Partai Bulan Bintang sangat teguh untuk menyuarakan aspirasi pemasukan tujuh kata seperti yang terdapat di dalam Piagam Jakarta ke dalam pasal 29 ayat 1, namun pada sidang tahunan MPR tersebut akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil keputusan terhadap pasal 29 dan membiarkan pasal tersebut tetap seperti naskah asli UUD 1945. Keputusan dalam ST MPR 2002 itu tidak sama sekali menyurutkan niat PBB dari pendiriannya untuk memperjuangkan Piagam Jakarta.
Dalam Milad ke Lima ( V ) PBB di Gelora Bung Karno pada Agustus 2003, Yusril mengatakan bahwa partainya tidak akan surut sedikitpun untuk memperjuangkan Piagam Jakarta secara konstitusional untuk dimasukkan ke dalam Pasal 29 UUD 1945.
Namun perjuangan menegakkan Syariat Islam ini akan ditempuh PBB melalui cara – cara yang demokratis, sah dan konstitusional. Karena visi dan misinya yang mengusung ajaran Islam, mencita – citakan berlakunya Syariat Islam di Indonesia maka sempat timbul kesan bahwa partai ini adalah partai Islam yang cendrung tertutup. Namun PBB beranggapan bahwa kehadirannya sebagai partai ke tengah masyarakat bukan sebagai wahana gerakan ideologis Islam, melainkan lahir sebagai partai politik yang beraqidah Islam. Dari ajaran Islam partai ini menimba ajaran yang universal untuk membangun sistem perpolitikan yang baru, yaitu suatu sistem perpolitikan yang didasarkan pada nilai – nilai Islam yang universal. Karena itu semua kegiatan partai harus selaras dengan nilai Islam karena berpartai dalam perspektif PBB tidak lain hanya merupakan suatu ibadah.
Pada pemilu tahun 2004 PBB menjadi salah satu kontestan untuk kedua kalinya setelah pemilu yang pertama PBB ikuti pada tahun 1999. Data yang berasal dari KAPPU ( Komite Aksi Pemenangan Pemilu ) PBB menunjukkan bahwa pada pemilu 2004 ( yang diikuti oleh 24 partai politik peserta pemilu ) maka yang hanya melewati Electoral Treshold sebesar 3 % adalah Partai Golkar, PDIP, PPP, Partai Demokrat, PAN, PKB dan PKS. Pada pemilu 2004 ini PBB tidak melewati Electoral Treshold 3 % walaupun pada kenyataannya dari segi perolehan suara PBB mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan perolehan hasil suara pemilu 1999 dengan suara sebesar 2.984.737 pemilih ( 2,62 % ) dan mendapatkan 11 kursi di DPRserta menempatkan kadernya sebanyak 3 orang di DPRD Sumatera Utara dengan perolehan suara 134.461 dari seluruh daerah
pemilihan yang terdapat di Sumatera Utara. Maka sesuai dengan ketentuan undang – undang karena tidak melewati Electoral Treshold sebesar 3 %, maka PBB tidak dapat mengikuti pemilu pada tahun 2009.
Untuk dapat mengikuti pemilu tahun 2009 maka PBB harus bergabung dengan partai politik lain, baik bergabung dengan partai politik lain yang telah melewati batas Electoral Treshold 3 % seperti Partai Golkar, PDI Perjuangan, PPP, Partai Demokrat, PAN, PKB, dan PKS ataupun pilihan yang kedua dengan bergabung dengan sesama partai politik yang tidak melewati Electoral Treshold seperti PBR, PDS, PPDK dan partai lainnya sehingga mencapai Electoral Treshold sebesar 3 %. Hasil Mukatamar II PBB yang dilaksanakan di Surabaya pada April 2005 merekomendasikan untuk membuat partai baru atau mengganti nama partai dengan azas dan ideologi yang sama.
Menyadari kondisi tersebut maka Ketua Umum Partai Bulan Bintang menugaskan kepada Bidang Penelitian dan Pengembangan ( Litbang ) PBB untuk melakukan penelitian, yang mana penelitian ini untuk memperoleh masukan mengenai kenapa terjadi penurunan perolehan kursi PBB dan bagaimana sikap masyarakat terhadap PBB dan potensi PBB. Litbang telah melakukan survey pada 11 provinsi, 22 kabupaten / kota dan 44 kecamatan yang mewakili Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur, serta Indonesia bagian Tengah dari Bulan Februari 2006 sampai dengan Juli 2006 dengan mewawancarai 1260 responden.
Berdasarkan hasil penelitian Litbang PBB tersebut maka ketua umum PBB menindaklanjutinya dengan meminta kepada KAPPU, Litbang dan Dewan Pakar PBB untuk menyusun strategi pemenangan pemilu 2009. Ketiga badan khusus PBB tersebut berhari – hari melakukan diskusi dengan memanggil para pakar di bidang komunikasi dan politik. Hasil diskusi tersebut dijadikan bahan acuan untuk menyusun strategi pemenangan pemilu PBB tahun 2009. Akhirnya untuk membuat panduan yang dapat dipakai dan dijadikan pedoman oleh semua jajaran partai, dibentuklah tim perumus yang terdiri dari 7 orang yang direkrut dari unsur DPP, LITBANG, KAPPU, DPR, dan Dewan Pakar PBB. Ketujuh orang tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Azis Darwis ( Dewan Pakar ), Zainul Bahar Nur, SE ( DPP ), H. Nur Syamsi Nurlan, SH dan Dra. Ellya Yunus (Litbang ), Edy Wahyudin, MBA, dan Ir. Irwansyah Tanjung ( KAPPU ) dan M. Tonas ( DPR )37.
Karena tidak Electoral Treshold sebesar 3 % maka untuk mengikuti pemilu tahun 2009 Partai Bulan Bintang akhirnya merubah namanya menjadi Partai Bintang Bulan. Nama Partai Bintang Bulan ini hanya membalikkan saja agar dalam hal penyingkatan nama partai agar tetap menyebutkan PBB sehingga masyarakat tetap mengenal nama PBB ini sebagai partai politik yang masih ada pada pemilu 2009. UU Nomor 10 Tahun 2008 telah menganulir ketentuan Electoral Threshold yang diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD. UU Nomor 12 Tahun 2003 menetapkan electoral
37 Panduan Materi Rapat Kerja Wilayah Komite Aksi Pemenangan Pemilihan Umum (KAPPU) dan Konsolidasi Pembina Daerah Pemilihan Legislatif Pemilu 2009 Partai Bulan Bintang Sumatera Utara.
threshold 3 %. Kemudian diperkuat dalam UU Nomor 10 Tahun 2008 pada Bab Ketentuan Peralihan Pasal 315, tentang Parliamentary Threshold ( 3 % kursi DPR, atau 4 % kursi DPRD Provinsi ataupun 4 % kursi DPRD Kabupaten / Kota di seluruh Indonesia ).
Dalam Pasal 316 ayat d ketentuan Electoral Threshold dalam UU Nomor 12 Tahun 2003 dan Parliamentary Threshold dalam Pasal 315 UU Nomor 10 Tahun 2008, itu dianulir dengan ketentuan bahwa bagi parpol peserta Pemilu 2004 yang tidak memenuhi Parliamentary Threshold yang diatur dalam Pasal 315 dapat mengikuti Pemilu 2009 apabila memiliki kursi di DPR RI hasil Pemilu 2004.
Ketentuan peralihan ini membuat sembilan parpol peserta pemilu 2004 yang tidak lolos Electoral Threshold dan Parliamentary Threshold mendapat free pass ( secara otomatis ) menjadi peserta pemilu 2009 yakni PBR, PBB, PDS, Partai Demokrasi Kebangsaan ( PDK ), PKPB, Partai Persatuan Demokrasi Indonesia ( PPDI ), Partai Pelopor, dan PNI Marhaenisme ).
Dengan demikian PBB dapat mengikuti pemilu pada tahun 2009 karena Partai Bulan Bintang mendapatkan kursi sebanyak 11 orang di kursi DPR. Dengan mendapatkan kursi sebesar 11 kursi maka Partai Bintang Bulan mengubah namanya kembali menjadi Partai Bulan Bintang. Pada pemilu 2009 nama resmi partai ini adalah Partai Bulan Bintang dan sebagai kontestan pemilu PBB mendapatkan nomor urut partai yaitu 27 ( dua puluh tujuh ) dari partai politik nasional dan partai politik lokal Aceh.
II.2. Azas, Tujuan, dan Sifat Partai Bulan Bintang38
Sesuai dengan Hasil Muktamar II Partai Bulan Bintang maka Anggaran Dasar Partai Bulan Bintang menyebutkan azas, tujuan, sifat dan fungsi Partai Bulan Bintang adalah sebagai berikut :
II.2.1. Azas Partai Bulan Bintang Partai ini berazaskan Islam
II.2.2. Tujuan Partai Bulan Bintang
1. Tujuan Umum didirikannya partai ini adalah terwujudnya cita – cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan UUD 1945 dan berkembangnya kehidupan demokrasi dengan menghormati kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan prinsip – prinsip ajaran Islam.
2. Tujuan khusus didirikannya Partai ini adalah mewujudkan tegaknya syariat Islam.
II.2.3. Sifat Partai Bulan Bintang
Partai politik ini bersifat mandiri dan aktif melaksanakan al – amru bi
‘l - ma’ruf wa nahyu ani ‘l – munkari.
38 Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang, Loc.cit
II.3. Visi dan Misi Partai Bulan Bintang
Visi dan Misi Partai Bulan Bintang sesuai dengan Hasil Muktamar II Partai Bulan Bintang di Surabaya pada tahun 2005 adalah sebagai berikut :
Visi Partai Bulan Bintang adalah terwujudnya kehidupan masyarakat Indonesia yang Islami.
Misi Partai Bulan Bintang adalah membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang maju, mandiri, berkepribadian tinggi, cerdas, berkeadilan, demokratis dan turut menciptakan perdamaian dunia berdasarkan nilai – nilai Islam.
II.4. Strategi dan Program Perjuangan Partai Bulan Bintang39 II.4.1. Strategi Perjuangan Partai Bulan Bintang
II.4. Strategi dan Program Perjuangan Partai Bulan Bintang39 II.4.1. Strategi Perjuangan Partai Bulan Bintang