• Tidak ada hasil yang ditemukan

O L E H. Muhammad Abduh Dalimunthe Dosen Pembimbing : Drs. P. Anthonius Sitepu, M.Si

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "O L E H. Muhammad Abduh Dalimunthe Dosen Pembimbing : Drs. P. Anthonius Sitepu, M.Si"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

REKRUTMEN POLITIK DAN PEMILIHAN UMUM ( Suatu Studi Terhadap Pola Rekrutmen Politik Dewan Pimpinan Wilayah

Partai Bulan Bintang Sumatera Utara Dalam Pemilihan Umum Legislatif DPRD Sumatera Utara Tahun 2009 )

O L E H

Muhammad Abduh Dalimunthe 050906005

Dosen Pembimbing : Drs. P. Anthonius Sitepu, M.Si Dosen Pembaca : Warjio, S.S, MA diplm

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2009

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

MUHAMMAD ABDUH DALIMUNTHE ( 050906005 )

REKRUTMEN POLITIK DAN PEMILIHAN UMUM

( Suatu Studi Terhadap Pola Rekrutmen Politik Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang Sumatera Utara Dalam Pemilihan Umum Legislatif DPRD Sumatera Utara Tahun 2009 )

( Rincian isi skripsi, 120 halaman, 21 buku, 2 Undang - undang RI, 6 sumber resmi Partai Bulan Bintang, 3 surat kabar dan 2 internet )

ABSTRAKSI

Ramlan Surbakti menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan rekrutmen politik adalah seleksi pemilihan dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintahan pada khususnya. Fungsi rekrutmen sangat penting karena merupakan kelanjutan dari fungsi mencari dan mempertahankan kekuasaan.

Selain itu fungsi rekrutmen politik sangat penting bagi kelangsungan sistem politik sebab tanpa elit yang mampu melaksanakan peranannya, kelangsungan sistem politik akan terancam. Rekrutmen politik merupakan proses dimana partai politik mencari anggota baru dan mengajak orang yang berbakat untuk berpartisipasi dalam proses politik melalui organisasi – organisasi massa dan yang melibatkan golongan tertentu, seperti golongan profesional yang mencakup golongan buruh, petani, pemuda, mahasiswa, perempuan dan beberapa golongan lainnya yang berada dalam ruang lingkup kemasyarakatan.

Partai Bulan Bintang mengartikan rekrutmen politik sebagai suatu kegiatan menjaring orang – orang untuk diajukan sebagai calon anggota legislatif dari partai. Artinya disini bahwa masyarakat atau warga negara Indonesia yang telah memenuhi syarat baik itu persyaratan berdasarkan UU Pemilu No. 10 Tahun 2008 dan syarat – syarat yang diajukan Partai Bulan Bintang sendiri berhak untuk mencalonkan diri untuk menjadi calon anggota legislatif melalui PBB. Setelah terpenuhi persyaratan tersebut maka calon anggota legislatif tersebut dapat mengajukan diri kepada Partai Bulan Bintang untuk dijadikan sebagai bakal calon anggota legislatif yang berasal dari internal dan eksternal Partai Bulan Bintang.

(3)

Skripsi ini menggambarkan tentang pola rekrutmen politik yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang Sumatera Utara ( DPW PBB SU ) dalam menjaring para calon anggota legislatif DPRD Sumatera Utara periode 2009 – 2014. Penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif ( penggambaran ) untuk mengetahui bagaimana proses pola rekrutmen politik yang dilakukan oleh DPW PBB SU. Penelitian deskriptif yang penulis gunakan dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan keadaan objek penelitian yang berdasarkan pada fakta – fakta yang ada. Fakta atau data yang ada dikumpulkan, diklasifikasikan dan kemudian di analisa.

Partai Bulan Bintang merupakan peserta pemilu legislatif 2009 yang mendapatkan nomor urut 27, secara Electoral Treshold ( ET ) PBB tidak dapat mengikuti pemilu 2009 namun dengan ketentuan Parlementary Treshold ( PT ) maka PBB dapat mengikuti pemilu 2009. Dengan keikutsertaan PBB dalam pemilu 2009 maka PBB menyiapkan para calon anggota legislatifnya baik itu dari internal maupun eksternal PBB, hal yang pertama dilakukan adalah melaksanakan rekrutmen politik agar terjaring para calon anggota legislatif yang benar – benar memiliki kemampuan yang baik di mata PBB maupun di mata para konstituen PBB.

Pola rekrutmen yang dilakukan oleh DPW PBB Sumatera Utara untuk menjariang calon anggota legislatif DPRD Sumatera Utara pada dasarnya mengacu kepada SK DPP PBB No : SK.PP / 1278 / 2008 Tentang Juklak dan SK DPP PBB No : SK.PP / 1279 / 2008 Tentang Juknis yang mana keduanya membahas permasalahan mengenai Perekrutan, Penyusunan, Penetapan Calon Anggota Legislatif Partai Bulan Bintang.

Dengan mengacu kepada juklak dan juknis tersebut maka disebutkan bahwa rekrutmen politik yang dilakukan oleh PBB dalam menjaring calon anggota legislatifnya adalah berasal dari internal dan eksternal PBB. Yang dimaksud dengan Internal partai adalah anggota biasa, anggota kader, anggota teras dan fungsionaris PBB. Sedangkan yang dimaksud dengan Eksternal partai adalah simpatisan, intelektual, profesional, tokoh masyarakat atau tokoh organisasi dakwah ataupun organisasi masyarakat pendukung PBB yang menyatakan kesediannya untuk menjadi anggota partai. Tetapi implementasi yang terjadi di DPW PBB Sumatera Utara dalam merekrut calon legislatifnya adalah masih menggunakan pola rekrutmen Sistem Rekrutmen Terbuka dan Pertemanan, Kriteria Kalangan Intelektual dan Ketokohan, Sistem Kekeluargaan dan Primordialisme, Ketentuan Kuota 30 % Caleg Perempuan.

Kata Kunci : Rekrutmen Politik, Pemilihan Umum, DPW PBB Sumatera Utara, DPRD Sumatera Utara

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan dan diperbanyak oleh : Nama : Muhammad Abduh Dalimunthe

NIM : 050906005 Departemen : Ilmu Politik

Judul : Rekrutmen Politik dan Pemilihan Umum

( Suatu Studi Terhadap Pola Rekrutmen Politik DPW PBB Sumatera Utara

Dalam Pemilu Legislatif DPRD Sumatera Utara Tahun 2009 )

Menyetujui :

Ketua Departemen Ilmu Politik

( Drs. Heri Kusmanto, MA ) NIP. 132 215 084

Dosen Pembimbing, Dosen Pembaca,

( Drs. P. Anthonius Sitepu, M.Si ) ( Warjio, SS, MA, dipl )

NIP. 131 485 245 NIP. 132 316 810

(5)

Mengetahui : Dekan FISIP USU,

( Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA ) NIP. 131 757 010

(6)

KATA PENGANTAR

Pertama – tama dengan kerendahan hati penulis mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat ALLAH SWT karena dengan rahmat dan hidayatnya akhirnya penulis diberi kesempatan untuk dapat menyelesaikan tugas akhir penulis yaitu berupa sebuah skripsi.

Skripsi ini merupakan suatu kewajiban bagi setiap mahasiswa Fakultas Ilmus Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara ( FISIP USU ), untuk melengkapi syarat – syarat bagi penulis untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial ( S.Sos ). Pada kesempatan yang berbahagia ini penulis memilih satu judul yaitu :

“ REKRUTMEN POLITIK DAN PEMILIHAN UMUM ”

( Suatu Studi Terhadap Pola Rekrutmen Politik Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang Sumatera Utara Dalam Pemilihan Umum Legislatif

DPRD Sumatera Utara Tahun 2009 )

Menyadari karena keterbatasan pengetahuan teoritis dan praktis, bahwa uraian dalam skripsi ini disana – sini mengandung kekurangan atau kelemahan yang sudah pasti jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis masih mengharapkan kritik – kritik dan saran – saran yang konstruktif dari para pembaca tentang segala kekurangan dan kelemahan yang terdapat di dalam skripsi ini.

(7)

Atas bimbingan dan pengarahan dalam menyusun skripsi ini maka penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Kepada Dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara :

- Dekan : Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA - Pembantu Dekan I : Drs. Humaizi, MA

- Pembantu Dekan II : Drs. Mukti Sitompul, M.Si - Pembantu Dekan III : Drs. Burhannudin, M.Si

2. Kepada Bapak Drs. Heri Kusmanto, MA selaku ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP USU dan juga sebagai dosen wali.

3. Kepada Bapak Drs. Anthonius Sitepu, M.Si selaku Dosen Pembimbing.

4. Kepada Bapak Warjio, SS, MA, dipl selaku Dosen Pembaca.

5. Kepada Bapak ... selaku Dosen Penguji.

6. Kepada seluruh dosen dan asisten dosen yang telah mengajar penulis serta seluruh staf Program Studi Ilmu Politik FISIP USU.

7. Kepada Dewan Pimpinan Wilayah ( DPW ) Partai Bulan Bintang ( PBB ) Sumatera Utara

- Ir. Bustinursyah M.Sc, IAI ( Uca Sinullingga ) selaku Wakil Ketua I ( satu ) DPW PBB Sumut.

- Irwan A. Hasibuan, SE, M.Si selaku Sekretaris DPW PBB Sumut

(8)

8. Kepada Ayahanda ( Alm ) Togar Dalimunthe, SH dan kepada Ibunda Israwani, A.Ma yang tiada putus – putusnya memberikan dukungan moral maupun material dalam daya dan upaya menyekolahkan penulis dari SD sampai ke Perguruan Tinggi, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan di Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

9. Kepada adik – adikku Rina Melati Dalimunthe ( semoga tahun depan dapat menamatkan kuliahnya ) dan Anugerah Mubarak Dalimunthe ( terus berjuang untuk menggapai cita – citamu ).

10. Kepada Nenek dan Bouku yang telah memberikan dorongan materi dan moral serta kepada keluarga besarku terima kasih atas doanya sehingga penulis bisa menyelesaikan perkuliahan selama di Ilmu Politik Fisip USU.

11. Kepada Ari Ramadhani ( terima kasih telah mengenalkan aku ke Bang Indra, cepat tamat ya dari IPDN ), Bang Indra ( terima kasih telah memperkenalkan penulis kepada real world perpolitikan di Binjai dan telah memperkenalkan penulis ke Partai Bulan Bintang ).

12. Kepada Fadly Nst ( terima kasih telah menemani aku ke rumah Pak Uca sampai larut malam ) dan juga terima kasih kepada panitia inti Bazar Buku Perpustakaan USU tahun 2009.

13. Kepada teman hedon masa lalu Robi dan Topik semoga kalian cepat juga menyelesaikan perkuliahan yang sudah sangat menjenuhkan ini dan jangan sering – sering kumpul di kantin.

(9)

14. Kepada teman – teman seperjuangan Studi Tour UUM Malaysia dan PSU Thailand 24 – 29 Agustus 2008 ( Mirina, Andini, Rima, Tika, Dayat, Rici, Bang Halomoan, Bang Azrul, Bang Fauzan, Bang Irfan, Welly, Sony, dan Duniaman semoga ilmu yang di dapat disana dapat dipergunakan untuk masa depan.

15. Kepada Geim ( Dame, kenapa di saat terakhir peristiwa itu harus terjadi ), ( Anissa, jangan suka lemot kali seperti mamak – mamak yang harus diulang – ulang ), ( Sandra, gimana dengan si kawan apa sudah tidak bisa lagi ), ( Titin, teruskan perjuangan menyelesaikan skripsi ), ( Ika, kemana saja kenapa jarang kali ngumpul dengan Geim )

16. Kepada teman – teman yang pemikirannya tidak sanggup lagi di terima di Komisariat HMI FISIP USU ( Ilham, Cun – Cun, Wina, Liza, Andin, Arif, Putera, Fani, Reno, Rani, Jiji, Dini, Dea Pajak, ) semoga suatu saat kita menjadi orang yang hebat dalam pemikiran dan tingkah laku kita.

17. Kepada teman – teman semua stambuk Ilmu Politik ( Jean Ari, Nurhidayat, Suhendra, Mimi, Rika, Hervina, Heri, Sayuti, Irna, Vera, Danil, Afif, Rifki, Muda, Abi, Reza, Jaka ) dan terima kasih kepada semua teman – teman politik yang tidak dapat disebutkan secara satu – persatu.

18. Kepada “ Seseorang ” yang telah dipisahakan jarak dan waktu semoga kamu bahagia disana dan suatu saat kita dapat bertemu dan kembali bersama untuk selamanya.

(10)

Akhir kata, atas segala budi baik semua pihak kiranya mendapat ridho dari Allah SWT dan semoga ilmu yang dipelajari oleh penulis dalam bangku perkuliahan dapat berguna untuk kepentingan dan kemajuan penulis serta ilmu yang di dapat dapat berguna bagi bangsa dan negara.

Amin..

Medan, Mei 2009

Penulis

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I : PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah ... 1

I.2. Rumusan Masalah ... 13

I.3. Tujuan Penelitian ... 14

I.4. Manfaat Penelitian ... 14

I.5. Kerangka Teori ... 15

I.5.1. Pemilu dan Sistem Pemilu ... 15

I.5.1.1 Pemilihan Umum ... 15

I.5.1.2 Sistem Pemilihan Umum ... 17

I.5.2. Partai Politik dan Fungsi Partai Politik ... 19

I.5.2.1 Pengertian Partai Politik ... 19

I.5.2.2 Fungsi Partai Politik ... 20

I.5.3. Rekrutmen Politik dan Sistem Rekrutmen Politik ... 24

I.5.3.1 Pengertian Rekrutmen Politik ... 24

I.5.3.2 Sistem Rekrutmen Politik ... 26

(12)

I.5.4. Konsep Perwakilan ... 28

I.6. Metodologi Penelitian ... 29

I.6.1 Jenis Penelitian ... 29

I.6.2 Lokasi Penelitian ... 30

I.6.3 Teknik Pengumpulan Data ... 30

I.6.4 Teknik Analisa Data ... 31

I.8. Sistematika Penulisan ... 32

BAB II : DESKRIPSI DEWAN PIMPINAN WILAYAH PARTAI BULAN BINTANG SUMATERA UTARA DALAM PERPOLITIKAN DI SUMATERA UTARA II.1. Sejarah Partai Bulan Bintang ... 34

II.2. Azas, Tujuan, dan Sifat Partai Bulan Bintang ... 46

II.2.1. Azas Partai Bulan Bintang ... 46

II.2.2. Tujuan Partai Bulan Bintang ... 46

II.2.3. Sifat Partai Bulan Bintang ... 46

II.3. Visi dan Misi Partai Bulan Bintang ... 47

II.4. Strategi dan Program Perjuangan Partai Bulan Bintang ... 47

II.4.1. Strategi Perjuangan Partai Bulan Bintang ... 47

(13)

II.4.2. Program Perjuangan Partai Bulan Bintang ... 48

II.4.2.1 Program Internal Partai Bulan Bintang ... 48

II.4.2.2 Program Eksternal Partai Bulan Bintang ... 52

II.5. Sejarah Berdirinya DPW PBB Sumatera Utara ... 63

II.6. Perolehan Suara Partai Bulan Bintang Dalam Pemilu Legislatif DPRD Sumatera Utara Tahun 1999 dan 2004 ... 65

BAB III : POLA REKRUTMEN POLITIK DPW PARTAI BULAN BINTANG SUMATERA UTARA PADA PEMILU ANGGOTA LEGISLATIF DPRD SUMATERA UTARA TAHUN 2009 III.1. Pemilu Legislatif DPRD Sumatera Utara Tahun 2009 ... 69

III.2. Partai Politik Pada Pemilu DPRD SU Tahun 2009 ... 74

III.3. Persyaratan Bakal Calon Anggota Legislatif DPRD SU Berdasarkan UU Pemilu No. 10 Tahun 2008 dan Berdasarkan Pada Ketentuan PBB ... 77

III.3.1. Persyaratan Umum Calon Anggota Legislatif Berdasarkan UU Pemilu No. 10 Tahun 2008 ... 77

III.3.2. Persyaratan Khusus Calon Anggota Legislatif Berdasarkan Pada Ketentuan PBB ... 81

(14)

III.4. Sumber Perekrutan Bakal Calon Anggota Legislatif

DPRD Sumut Oleh DPW PBB Sumut ... 82

III.4.1. Pola Rekrutmen DPW PBB SU Menggunakan

Sistem Internal dan Eksternal PBB ... 83

III.4.2. Pola Rekrutmen DPW PBB SU Menggunakan

Sistem Rekrutmen Terbuka ... 85

III.4.3. Pola Rekrutmen DPW PBB SU Menggunakan

Kriteria Kalangan Intelektual dan Ketokohan ... 87

III.4.4. Pola Rekrutmen DPW PBB SU Menggunakan

Sistem Kekeluargaan dan Primordialisme ... 89

III.4.5. Pola Rekrutmen DPW PBB SU Menggunakan

Ketentuan Kuota 30 % Caleg Perempuan ... 92

III.5. Penilaian Bakal Calon Anggota Legislatif DPRD

Sumatera Utara Oleh DPW PBB Sumatera Utara ... 94

III.5.1. Penilaian Calon Legislatif yang Berasal

Dari Internal PBB ... 96

(15)

III.5.2. Penilaian Calon Legislatif yang Berasal

Dari Eksternal PBB ... 99

III.6. Implikasi Pola Rekrutmen Politik Oleh DPW PBB SU

Dalam Pemilu Legislatif DPRD SU Tahun 2009 ... 102

III.6.1.Implikasi Pola Rekrutmen Politik DPW PBB SU

Menggunakan Sistem Internal dan Eksternal PBB . 103

III.6.2.Implikasi Pola Rekrutmen Politik DPW PBB SU

Menggunakan Sistem Rekrutmen Terbuka ... 104

III.6.3.Implikasi Pola Rekrutmen Politik DPW PBB

Sumatera Utara Menggunakan Kriteria Kalangan

Intelektual dan Ketokohan Masyarakat ... 105

III.6.4.Implikasi Pola Rekrutmen Politik DPW PBB

Sumatera Utara Menggunakan Sistem

Kekeluargaan dan Primordialisme ... 106

III.6.5.Implikasi Pola Rekrutmen Politik DPW PBB Sumatera

Utara Menggunakan Ketentuan Kuota 30 %

(16)

Calon Legislatif Perempuan ... 108

III.6.6. Hasil Pemilihan Umum Legislatif DPRD

Sumatera Utara Pada Tanggal 9 April 2009 ... 110

BAB IV : KESIMPULAN ... 114 DAFTAR PUSTAKA ... 117

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Demokrasi pada mulanya merupakan suatu gagasan tentang pola kehidupan yang muncul sebagai reaksi terhadap kenyataan sosial politik yang tidak manusiawi di tengah – tengah masyarakat. Reaksi tersebut tentu datangnya dari orang – orang yang berpikiran idealis dan bijaksana. Mereka terusik dan tergugah melihat adanya pengekangan terhadap Hak – hak Azazi Manusia1. Ada tiga nilai ideal yang mendukung demokrasi sebagai suatu gagasan kehidupan yaitu kemerdekaan ( freedom ), persamaan ( equality ), dan keadilan ( justice )2.

Dalam kenyataan hidup, ide tersebut terealisasikan melalui perwujudan simbol – simbol dan hakikat dari nilai – nilai dasar demokrasi tersebut. Itu berarti bahwa simbol demokrasi, makna dan hakikat demokrasi tersebut benar – benar mewakili atau diangkat dari kenyataan hidup yang sepadan dengan nilai – nilai itu sendiri. Sejalan dengan semakin mendunianya demokrasi, pemikiran tentang demokrasi pun semakin berkembang. Pemikiran itu berintikan tentang kekuasaan dalam negara, dalam negara demokrasi rakyatlah yang memiliki dan mengendalikan kekuasaan dan kekuasaan itu dijalankan adalah demi kepentingan rakyat dan kesejahteraan rakyat.

1 Parulian Donald, Menggugat Pemilu, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1997, hal. 1

2 Arbi Sanit, Perwakilan Politik di Indonesia, Jakarta : Rajawali Press, 1985, hal. 25

(18)

Sebagaimana yang dikatakan oleh Abraham Lincoln bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemerintahan ada karena rakyat ada, dan yang memerintah adalah rakyat, serta tujuan adanya pemerintahan itu sendiri pun adalah untuk kesejahteraan rakyat. Dengan demikian rakyat menjadi kata kunci dalam berjalannya proses demokrasi tersebut.

Untuk memilih sebahagian rakyat yang akan duduk di dalam pemerintahan maupun parlemen maka perlu diadakannya suatu proses dan kegiatan, proses dan kegiatan memilih itu disederhanakan penyebutannya dengan pemilihan. Dalam hal pemilihan itu semua rakyat harus ikut tanpa dibeda – bedakan, maka dipakailah istilah Pemilihan Umum ( Pemilu )3.

Pemilu merupakan sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) yang berdasarkan Pancasila sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang – Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 19454. Undang – undang Republik Indonesia No. 10 tahun 2008 Bab I ( Ketentuan Umum ), pada pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 19455.

3 Parulian Donald, Op.cit, hal. 4

4 Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Jakarta : PT. Gramedia, 1992, hal. 17

5 UU Negara Republik Indonesia No. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu

(19)

Dengan melalui pemilu rakyat akan memunculkan para calon pemimpin dan menyaring calon pemimpin tersebut berdasarkan nilai – nilai yang berlaku, keikutsertaan rakyat dalam pemilu dapat juga dipandang sebagai wujud partisipasi dalam proses pemerintahan karena melalui pemilu inilah masyarakat ikut menentukan kebijaksanaan dasar yang akan dilaksanakan pemimpin yang terpilih tersebut. Dalam sebuah negara yang menganut paham demokrasi, pemilu merupakan suatu keharusan, tak ada demokrasi tanpa diadakannya pemilihan umum. Pemilihan umum memang bukanlah segala – galanya yang menyangkut dengan demokrasi, tetapi bagaimanapun pemilu memililki arti yang sangat penting dalam proses dinamika negara. Pemilu adalah peristiwa perhelatan rakyat paling akbar yang hanya terjadi sekali dalam lima tahun di Indonesia dan hanya melalui pemilulah rakyat secara langsung benar – benar menunjukkan eksistensinya sebagai pemegang kedaulatan negara.

Dalam melakukan pemilihan ini rakyat haruslah terlebih dahulu memenuhi persyaratan berdasarkan undang – undang yang berlaku di suatu negara, untuk kemudian menggunakan hak pilihnya di dalam pemilu tersebut. Di Indonesia sendiri pemilu sudah dilaksanakan sejak tahun 1955 pada masa Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, pemilu 1955 ini adalah contoh pelaksanaan pemilu yang sangat demokratis. Sejalan dengan terjadinya berbagai peristiwa yang dialami dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia akhirnya penyelenggaraan pemilu berikutnya baru dapat dilaksanakan pada tahun 1971.

(20)

Pemilu selama masa pemerintahan Orde Baru ( pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 ) adalah pemilu yang sangat tidak demokratis. Penentuan para calon yang diajukan untuk duduk di lembaga – lembaga legislatif baik di DPR maupun DPRD adalah sepenuhnya berada di tangan elit partai politik pada tingkatan masing – masing. Akibatnya aspirasi dan kepentingan masyarakat tentang siapa yang layak menjadi calon legislatif cendrung di fait occompli. Pada masa pemerintahan era ORBA ini pemerintah selalu mendesain hasil pemilu secara manipulatif untuk mempertahankan struktur politik yang berlaku, sehingga yang selalu menang adalah Golkar dan yang selalu menjadi presiden adalah Soeharto. Sebelum pemilihan presiden dilakukan oleh anggota MPR dan DPR RI maka kita sudah mengetahui siapa yang akan menang untuk menjadi presiden.

Pemilu adalah salah satu agenda reformasi yang harus dilaksanakan, maka pemerintah melaksanakan pemilu lebih awal pada tahun 1999. Pada pemilu 1999 ini menghasilkan PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu. Pada tahun 2004 pemilu berhasil dilaksanakan dengan aman, bahkan ada hal yang berbeda dalam pemilu kali ini, pada pemilu ini masyarakat melaksanakan pemilu secara langsung untuk memilih para wakilnya yang akan duduk di DPRD Kabupaten / Kota, DPRD Provinsi dan DPR RI serta anggota DPD, Presiden pun dipilih secara langsung oleh rakyat. Pada pemilu 2004 Partai Golkar keluar sebagai pemenang pemilu dan yang terpilih secara langsung dalam pemilihan Presiden adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang berasal dari Partai Demokrat, dan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden yang berasal dari Partai Golkar.

(21)

Pemilihan umum dilaksanakan untuk memilih para wakil rakyat yang akan duduk di dalam lembaga legislatif ( parlemen ) atau yang sering kita sebut dengan nama DPR. Parlemen dalam istilah teknis biasanya disebut dengan istilah legislature yang artinya adalah badan pembuat undang – undang ( legislator )6. Lembaga perwakilan menurut latar belakang pemikiran UUD Negara Republik Indonesia merupakan wadah wakil – wakil partai politik yang berasal dari hasil pemilu. Suatu negara yang demokratis harus mempunyai lembaga legislatif dalam struktur ketatanegaraannya karena selain berfungsi sebagai penyalur aspirasi rakyat juga berfungsi sebagai pengawas bagi lembaga lainnya terutama lembaga eksekutif. Penggunaan konsep perwakilan dalam sistem politik berkorelasi dengan lembaga parlemen sebagai lembaga yang dibangun oleh para wakil rakyat.

Pada dasarnya parlemen merupakan mekanisme untuk merealisasikan gagasan normatif bahwa pemerintahan harus dijalankan dengan berdasarkan kehendak rakyat ( will of the people ). Otoritas dari suatu pemerintahan akan tergantung kepada kemampuannya untuk mentransformasikan kehendak rakyat sebagai nilai tertinggi di atas kehendak negara ( will of the state ). Parlemen di negara demokrasi disusun sehingga mewakili mayoritas dari rakyat, anggota parlemen umumnya mewakili rakyat melalui partai politik. Dengan demikian masyarakat adalah pihak yang diwakili yang menyerahkan kekuasaannya atau mandatnya untuk mewakili kepentingannya kepada lembaga perwakilan dalam proses politik dan pemerintahan.

6 Bambang Cipto, Dewan Perwakilan Rakyat Dalam Era Pemerintahan dan Industrial, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1995, hal. 5

(22)

Dalam analisis sistem politik bahwa lembaga legislatif dapat dimasukkan dalam struktur yang berada dalam proses konversi sehingga terlihat bahwa fungsi utamanya adalah pembuat undang – undang. Parlemen dipandang tidak hanya sebagai lembaga perwakilan rakyat dalam negara yang demokratis melainkan lebih dipandang sebagai lembaga yang menjalankan tugas pelaksana kedaulatan rakyat secara luas yakni melaksanakan kerja – kerja secara keberlanjutan termasuk melaksanakan fungsi pengawasan terhadap presiden dan pemerintah.

Setiap warga negara Indonesia berhak untuk duduk dalam lembaga legislatif, namun ada beberapa persyaratan yang terlebih dahulu dilakukan sebagai calon wakil rakyat, salah satu persyaratan tersebut adalah harus memiliki partai politik, partai politik disini berguna sebagai kendaraan politik.

Selain diadakannya pemilu sebagai indikator untuk mewujudkan demokrasi, maka di suatu negara harus berkembang dan tumbuh partai – partai politik. Partai politik berfungsi sebagai kendaraan politik atau instrumen seseorang untuk masuk ke dalam lembaga legislatif. Partai politik berfungsi maksimal dan efektif sebagai wadah aspirasi politik masyarakat, dan sebagai media untuk melakukan lobi – lobi ( bergaining – bergaining ) politik mengenai kebijakan – kebijakan negara ( pemerintah ). Demi perwujudan demokrasi dan tersalurnya aspirasi publik, jelas tidak bisa dilepaskan dari berdirinya partai politik itu sendiri sebagai suatu kebutuhan politik masyarakat7.

7 Koirudin, Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004, hal. 8

(23)

Timbulnya sejarah partai politik di Indonesia diawali dari permulaan usaha penyusunan pemerintahan sentral republik yang didasarkan atas pasal I sampai dengan pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945, dan dengan dikeluarkannya Maklumat Pemerintah No. X RI pada tanggal 3 November 1945 yang berisi anjuran mendirikan partai politik dalam rangka memperkuat perjuangan kemerdekaan. Setelah adanya maklumat tersebut maka bermunculan berbagai partai politik di Indonesia yang antara lain seperti Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia ( PKI ), Partai Buruh Indonesia, Partai Rakyat Jelata atau sering disebut Murba, Majelis Syuro Muslimin Indonesia ( Masyumi ), dan Partai Nasionalis Indonesia ( PNI )8. Dengan dikeluarkannya Maklumat Pemerintah maka sampai saat ini banyak partai yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Indonesia, kecuali pada masa pemerintahan Orde Baru yang mengeluarkan kebijakan Fusinya sehingga partai politik hanya berjumlah tiga.

Ketika pintu reformasi telah dibuka maka partisipasi masyarakat pun meningkat dalam bidang politik, hal ini dapat dilihat banyaknya partai politik yang bermunculan ketika mengikuti pemilu pada tahun 1999 ( partai yang mengikuti pemilu sebanyak 48 partai politik ), pada tahun 2004 ( partai yang mengikuti pemilu sebanyak 24 partai politik ) dan pemilu pada tahun 2009 ( partai yang mengikuti pemilu sebanyak 38 partai dan 6 partai lokal yang berada di Nanggroe Aceh Darussalam, hal ini terjadi sesuai dengan isi MoU Helsinki yang salah satunya tentang pembentukan partai – partai lokal di Aceh ).

8 P.K Poerwantana, Partai Politik Di Indonesia, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1994, hal. 26

(24)

Untuk menjelaskan bagaimana partai politik itu sebagai wadah atau lembaga yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berdemokrasi, maka kita harus melihat teori yang dikemukakan oleh Gabriel Almond. Teori yang dikemukakan oleh Almond tersebut adalah Teori Sistem, Teori Struktur dan Teori Fungsi yang mana teori – teorinya ini lahir sebagai akibat atau sebagai reaksi terhadap Pendekatan Tradisional9. Teori Sistem dapat dipahami sebagai suatu ekologi sistem yang menunjukkan adanya suatu organisasi yang berinteraksi dengan lingkungannya baik lingkungan intra maupun lingkungan ekstra yang memberikan pengaruh dan dipengaruhi oleh lingkungan.

Untuk melaksanakan semua kegiatan sistem politik itu, maka sistem politik harus mempunyai struktur. Struktur adalah suatu pelembagaan hubungan organisasi antara komponen – komponen yang membentuk bangunan ( konstruksi atau kerangka ). Secara singkat struktur dapat dikatakan sebagai lembaga yang menjalankan fungsi – fungsi tertentu seperti parlemen, birokrasi, badan – badan peradilan, partai politik, kelompok – kelompok kepentingan, dan badan eksekutif.

Agar struktur berjalan maka harus mempunyai fungsi, salah satunya adalah fungsi input. Fungsi Input dijalankan oleh struktur politik masyarakat atau sektor kehidupan politik rakyat yang terdiri dari fungsinya. Suatu fungsi input yang akan menjadi output haruslah melalui proses yang sekaligus menandai bekerjanya suatu sistem politik, proses tersebut dikatakan sebagai proses perubahan ( konversi ), di dalam proses ini terjadi interaksi antara input dan output.

9 P. Anthonius Sitepu, Sistem Politik Indonesia, Medan : Pustaka Bangsa Press, hal. 35

(25)

Sejalan dengan teori tersebut maka Almond membagi Fungsi Input itu terdiri dari, Sosialisasi Politik ( Political Education ), Artikulasi Kepentingan, Agregasi ( Pengumpulan ) Kepentingan, Komunikasi Politik, dan Rekrutmen Politik. Salah satu fungsi input partai politik adalah rekrutmen politik, dalam pengertiannya rekrutmen politik adalah cara untuk mengisi jabatan – jabatan politik dan jabatan – jabatan di pemerintahan. Menurut Almond, proses rekrutmen politik merupakan kesempatan rakyat untuk menyeleksi kegiatan – kegiatan politik dan jabatan pemerintahan melalui cara penampilan media komunikasi, menjadi anggota organisasi, mencalonkan diri untuk jabatan tertentu, pendidikan dan latihan.

Untuk melakukan rekrutmen biasanya dilakukan oleh institusi – institusi atau agen – agen tertentu baik secara formal dan informal. Secara formal ada komisi – komisi rekrutmen secara administratif, sedangkan secara informal bisa dilakukan melalui kelompok – kelompok kepentingan. Untuk jabatan – jabatan politik maka salah satu agen yang melakukan rekrutmen politik adalah partai politik. Sesuai dengan fungsi yang dimilikinya, partai politik melakukan rekrutmen untuk mengisi jabatan – jabatan politik, anggota partai, pemimpin partai, dan jabatan – jabatan politik lainnya yang tersedia di dalam kehidupan sosial masyarakat. Rekrutmen politik merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan sistem politik, sebab tanpa para elit yang mampu melaksanakan peranannya, kelangsungan hidup sistem politik akan terancam karena tidak adanya suatu struktur organisasi yang mengurusi kehidupan masyarakat.

(26)

Partai politik harus mampu melaksanakan rekrutmen dengan serius dan melalui prosedur – prosedur yang berlaku di dalam internal partai, bukan hanya asal comot saja untuk duduk sebagai kader partai atau sebagai calon anggota legislatif yang bertarung pada pemilu legislatif pada tanggal 9 April 2009. Seleksi atau rekrutmen politik yang dilakukan oleh partai politik sangatlah menentukan sosok calon anggota legislatif yang tampil dan yang akan dipilih oleh rakyat pada pemilu 2009. Selama ini proses internal partai politik cendrung tertutup dalam hal rekrutmen politik, persaingan elit partai lebih dominan sehingga kerap kali mengabaikan proses rekrutmen yang terbuka.

Melihat proses rekrutmen pada pemilu 2009, maka ada beberapa fenomena yang terjadi dalam penjaringan calon legislatif yang dilakukan oleh partai politik, antara lain adalah10 : Pertama, maraknya partai – partai untuk merekrut para artis sebagai calon legislatif. Kedua, adalah kemunculan generasi kedua dari penguasa masa lalu dengan memanfaatkan isu kepemimpinan, nama – nama seperti Puan Maharani, Dave Laksono, dan Eddy Baskoro muncul sebagai calon legislatif.

Ketiga, adalah isu kepemimpinan muda, figur muda dianggap dapat membawa pembaharuan dan dinilai relatif tidak terkait dengan penyimpangan di masa lampau. Keempat, penerapan rekrutmen terbuka dalam menjaring para calon legislatif. Sejumlah partai politik berani menerapkan metode rekrutmen terbuka untuk mengakomodir figur – figur potensial dari kalangan masyarakat.

10 http://cetak.kompas.com, dinamika.penjaringan.caleg, ditulis pada 10 September 2008 oleh Dedi Mariana dan diakses pada 23 Desember 2008 – 13.00

(27)

Dengan gambaran yang dikemukakan penulis diatas, maka penulis ingin menulis mengenai pola rekrutmen politik yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang ( DPW PBB ) Sumatera Utara dalam pemilu legislatif DPRD Sumatera Utara pada tahun 2009. Bagaimana para calon legislatif ini direkrut oleh PBB, kriteria apa saja yang digunakan oleh DPW PBB Sumatera Utara dalam melakukan seleksi calon legislatif tersebut. Faktor – faktor sosial budaya mana saja yang mempengaruhi seleksi serta hubungan di antara proses seleksi serta kualifikasi para calon yang dihasilkan oleh DPW PBB Sumatera Utara Apakah DPW PBB Sumatera Utara lebih berorientasi kepada kader partainya sendiri untuk diajukan menjadi calon legislatif DPRD Sumatera Utara, ataukah lebih berorientasi kepada ketokohan, kemampuan, pengalaman, kepribadian, watak, keterkenalan, pendidikan yang dimiliki calon legislatif yang pada dasarnya berasal dari eksternal Partai Bulan Bintang.

Apakah pola rekrutmen yang dilakukan DPW PBB Sumatera Utara masih mengikuti garis yang sangat ditentukan oleh faktor primordial seperti agama, hubungan darah, dan kesamaan daerah. Apakah rekrutmen politik DPW PBB Sumatera Utara dilakukan berdasarkan kesetiaan kader terhadap partai dan kedekatan calon legislatif dengan pemimpin partai ataukah lebih mengutamakan pertimbangan profesional. Apa yang menjadi tolak ukur yang dipakai Partai Bulan Bintang untuk menentukan nama – nama calon anggota legislatif tersebut. Dalam penelitian ini saya memilih Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang Sumatera Utara dikarenakan beberapa alasan, alasan tersebut adalah :

(28)

Pertama, saya melihat Partai Bulan Bintang dari segi perjuangannya dimana PBB ini terus memperjuangkan penegakan Syariat Islam di Indonesia.

Dibanding dengan partai politik lain yang berasaskan Islam maka hanya PBB yang satu – satunya meletakkan visi dan misinya untuk memperjuangkan penegakan Syariat Islam. Syariat artinya adalah jalan atau ketentuan – ketentuan yang harus diikuti, menurut istilah syariat bermakna perundang – undangan yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia baik itu menyangkut masalah ibadah, akhlak, makanan, minuman, pakaian, maupun muamalah ( interaksi sesama manusia dalam berbagai aspek kehidupan ), termasuk juga dalam kehidupan berpolitik guna meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti11. Di dalam kehidupan yang demokratis ini PBB tidak memaksakan untuk terwujudnya Syariat Islam dengan cara – cara yang inkonstitusional, penegakan Syariat Islam ini diperjuangkan dengan cara yang sangat demokratis melalui para wakil – wakil PBB yang duduk di parlemen.

Apabila pembahasan mengenai Syariat Islam itu tidak disetujui oleh parlemen maka itu tidak menjadi masalah bagi PBB dan yang harus dilakukan adalah tetap memperjuangkan Syariat Islam agar dapat diwujudkan di Indonesia.

Kedua, saya ingin melihat apakah partai ini mampu bersaing dalam pemilu legislatif 2009 dengan partai – partai besar lainnya yang telah memiliki basis massa yang cukup kuat di Sumut seperti Golkar dan PDIP. Ketika pemilu 2004 partai Golkar dan PDI Perjuangan yang menguasai perolehan suara di Sumatera

11 Majelis Syuro Partai Bulan Bintang, Syariat Islam Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2008, hal. 10

(29)

Utara ini sedangkan PBB hanya bisa meletakkan wakilnya sebanyak tiga orang di DPRD Sumatera Utara. Maka dengan itu apakah pada pemilu 2009 PBB akan mampu bersaing dengan partai peserta pemilu 2009 lainnya.

Ketiga, sebagai salah satu partai peserta pemilu 2009 tentunya PBB memiliki pola tersendiri di dalam hal rekrutmen politik, rekrutmen politik yang dilakukan DPW PBB Sumatera Utara merupakan salah satu strategi untuk memenangkan pemilu 2009 khususnya di Sumatera Utara. Oleh karena itu saya ingin melihat bagaimana pola rekrutmen politik yang dilakukan oleh DPW PBB Sumatera Utara. Apa yang menjadi tolak ukur DPW PBB Sumatera Utara untuk merekrut calon anggota legislatifnya sehingga seseorang tersebut dapat menjadi calon legislatif dari DPW PBB Sumatera Utara.

I.2. Rumusan Masalah

Sejalan dengan latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah :

1. Bagaimana deskripsi Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang Sumatera Utara ?

2. Bagaimana pola rekrutmen calon anggota legislatif yang dilakukan oleh DPW PBB Sumatera Utara dalam Pemilihan Umum Legislatif DPRD Sumatera Utara pada tahun 2009 ?

(30)

I.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui deskripsi Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang Sumatera Utara.

2. Untuk mengelaborasi pola rekrutmen calon anggota legislatif yang dilakukan oleh DPW PBB Sumatera Utara dalam Pemilihan Umum Legislatif DPRD Sumatera Utara pada tahun 2009.

I.4. Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Bagi Penulis

Manfaat penelitian ini bagi penulis dapat menambah wawasan dan pengalaman berharga dalam kapasitas kemampuan penulis untuk melihat bagaimana DPW PBB Sumatera Utara melakukan pola rekrutmen calon anggota legislatif pada pemilu legislatif tahun 2009.

2. Manfaat Secara Akademis

Secara akademis dapat menambah referensi penelitian bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

3. Manfaat Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap DPW PBB Sumatera Utara dalam hal pola rerkrutmen politik calon legislatif DPRD Sumatera Utara pada tahun 2009.

(31)

I.5. Kerangka Teori

Kerangka teori diperlukan dalam setiap penelitian untuk memberikan landasan teoritis bagi penulis dalam menyelesaikan masalah dalam proses penelitian, kerangka teori membantu seorang peneliti dalam menentukan tujuan dan arah penelitian. Adapun kerangka teori yang menjadi landasan berpikir penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

I.5.1. Pemilihan Umum dan Sistem Pemilihan Umum I.5.1.1 Pemilihan Umum

Untuk mendapatkan wakil rakyat yang akan duduk di lembaga perwakilan maka ada suatu kegiatan atau agenda yang dilakukan oleh masyarakat, agenda itu adalah Pemilihan Umum ( Pemilu ). Pemilu merupakan pesta rakyat terbesar yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali di Indonesia. Pemilu merupakan sarana tak terpisahkan dari kehidupan politik negara demokrasi modern, di bangsa yang matang demokrasinya pun pemilu mutlak diperlukan. Tetapi karena cendrung rutin banyak warga negara yang tidak hadir dalam hal proses pemilu ini12.

Haryanto dalam bukunya Partai Politik Suatu Tinjauan Umum mengutip pendapat Harris G.Warren dan kawan – kawan mengenai pengertian pemilihan umum, maka disebutkan yang dimaksud dengan pemilu adalah13 :

12 Lance Castles, Pemilu 2004, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004, hal. 1

13 Haryanto, Partai Politik : Suatu Tinjauan Umum, Yogyakarta : Penerbit Liberty, 1984, hal. 81

(32)

“ Election are the occasions when citizens choose their officials and decide what they want government to do, in making these decisions, citizens determine what rights they want to have and keep ”.

Pendapat Warren dan kawan – kawannya tersebut pada intinya menyatakan bahwa pemilu merupakan kesempatan bagi para warga negara untuk memilih pejabat – pejabat pemerintah dan memutuskan apakah yang mereka inginkan untuk dikerjakan oleh pemerintah. Dan dalam membuat keputusan itu para warga negara menentukan apakah yang sebenarnya mereka inginkan untuk dimiliki.

Sistem multipartai yang dianut oleh Indonesia berdampak pada kontestan pemilu 2009, hal ini dapat dilihat dari banyaknya partai politik yang menjadi peserta pemilu. Jumlah partai politik yang bertarung pada pemilu 2009 ini adalah sebanyak 38 partai politik untuk skala nasional dan 6 partai politik untuk skala daerah ( partai lokal yang terdapat di Nanggroe Aceh Darussalam ). Kontestan pemilu kali ini lebih banyak dibandingkan dengan pemilu 2004, hal ini sesuai dengan keinginan masyarakat yang hidup di alam demokrasi. Salah satu keinginan masyarakat adalah mendirikan partai politik, untuk mendirikan partai politik harus memenuhi persyaratan yang diatur di dalam Undang – undang No. 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik. Untuk ikut di dalam pemilu, partai politik harus lulus dalam verifikasi yang dilakukan oleh KPU Pusat maupun KPU daerah. Salah satu peserta partai politik tersebut adalah Partai Bulan Bintang (PBB) yang mendapatkan nomor urut 27 pada pemilu 2009.

(33)

I.5.1.2 Sistem Pemilihan Umum

Pada dasarnya sistem pemilu yang digunakan oleh suatu negara berbeda dengan sistem pemilu di negara lain, hal ini disesuaikan dengan sistem kepartaian, luas wilayah, dan jumlah penduduk. Dalam wacana ilmu politik kita kenal beberapa sistem pemilihan umum yang antara lain adalah Sistem Pemilihan Organis dan Sistem Pemilihan Mekanis14. Sistem pemilihan umum secara mekanis adalah sistem pemilu yang selalu dipergunakan oleh kebanyakan negara, pada dasarnya Sistem Pemilihan Mekanis ini terbagi dua yaitu15 :

1. Sistem Pemilihan Distrik ( Single Member Constituency )

Sistem pemilihan distrik adalah suatu sistem pemilihan umum dimana suatu wilayah yang menyelenggarakan suatu pemilihan umum untuk memilih wakil di parlemen, jumlah kursi yang tersedia dibagi sesuai dengan jumlah distrik, dan tiap distrik memilih hanya satu wakil untuk duduk di parlemen.

2. Sistem Pemilihan Proporsional ( Multi Member Constituency )

Sistem pemilihan proporsional adalah sistem pemilihan umum dimana kursi yang tersedia di parlemen pusat untuk diperebutkan dalam suatu pemilu, dibagi – bagikan kepada partai – partai / golongan – golongan politik yang turut dalam pemilihan tersebut sesuai dengan imbangan suara yang diperolehnya dalam pemilihan yang bersangkutan.

14 Bintan R.Saragih, Lembaga Perwakilan dan Pemilu di Indonesia, Jakarta : Gaya Media Pratama, 1987, hal. 171

15 Ibid., hal. 174

(34)

Sistem pemilu Indonesia ditentukan berdasarkan UU Pemilu, pada pemilu 1999 menggunakan sistem pemilu Proporsional dengan memilih tanda gambar, pada pemilu 2004 menggunakan sistem pemilu Proporsional Daftar Calon Terbuka, dan pada pemilu 2009 telah ditetapkan memakai sistem Proporsional Terbuka Terbatas dengan menggunakan sistem suara terbanyak. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 12 / PUU-VI / 2008 tentang suara terbanyak telah menghapus pasal 214 Undang – undang No. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu, pasal ini dihapus karena tidak sesuai dengan alam demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia dan bertentangan dengan UUD 1945.

Maka dalam pemilu 2009 ini setiap calon anggota legislatif yang memiliki suara terbanyak dengan persentase 30 % atau sesuai dengan BPP ( Bilangan Pembagi Pemilih ) maka dia akan lolos ke dalam lembaga legislatif, ini berbeda dengan pemilu 2004 yang masih mencantumkan nama – nama anggota legislatif tetapi masih menggunakan sistem nomor urut kecil untuk lolos ke dalam lembaga legislatif walaupun menggunakan sistem BPP tetapi pada dasarnya nomor urut satu yang selalu menjadi anggota legislatif.

Dalam pemilu 2009 partai politik harus melewati ambang batas Parlementary Treshold ( PT ) sebesar 2,5 % untuk duduk di lembaga legislatif terutama di DPR RI, ada ketentuan yang berdasarkan pasal 202 ayat 1 UU No. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu yang menyatakan bahwa partai politik peserta pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan skurang – kurangnya 2,5 % dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR.

(35)

I.5.2. Partai Politik dan Fungsi Partai Politik I.5.2.1 Pengertian Partai Politik

Partai berasal dari bahasa latin yaitu Partire yang bermakna membagi.

Partai merupakan peralihan jangka panjang dari istilah faksi, dimana faksi di Eropa sekitar abad XVIII memiliki konotasi negatif dan sangat dikenal sebagai organisasi penghasut yang ada dalam setiap bentuk organisasi politik. Faksi berasal dari bahasa Latin, yakni facere yang artinya bertindak atau berbuat. Dalam pengertian politik faksi adalah kelompok yang melakukan tindakan – tindakan merusak, kejam dan bengis.

Miriam Budiarjo dalam bukunya Dasar – dasar Ilmu Politik merumuskan sendiri pengertian partai politik, maka partai politik dalam pandangan Miriam Budiarjo adalah sebagai berikut :

“ Suatu kelompok yang terorganisir yang anggotanya mempunyai orientasi, nilai – nilai dan cita – cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik ( biasanya ) secara konstitusionil untuk melaksanakan beberapa kebijaksanaan – kebijaksanaan mereka ”16.

Pengertian partai politik secara normatif dimuat dalam berbagai peraturan kepartaian yang ada dan pernah ada. Dalam Undang – undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2008 pasal 1 ayat 1 pada Bab I ( Ketentuan Umum ), yang berbunyi sebagai berikut :

16 Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1978, hal.160

(36)

“ Partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita – cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945”17.

I.5.2.2 Fungsi Partai Politik

Sebagai suatu struktur politik, partai politik tentu memiliki fungsi – fungsi tertentu. Fungsi utama partai politik itu adalah mencari dan mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan program – program yang disusun berdasarkan ideologinya. Cara yang digunakan partai politik dalam sistem politik demokrasi untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan ialah dengan turut serta dalam pemilihan umum.

Apabila kekuasaan untuk memerintah telah diperoleh maka partai politik tersebut berperan pula sebagai pembuat keputusan politik. Partai politik yang tidak memperoleh kedudukan mayoritas pada badan perwakilan rakyat akan berperan sebagai pengontrol partai mayoritas18. Miriam Budiarjo dalam bukunya Dasar – dasar Ilmu Politik, mengidentifikasi beberapa macam fungsi dari partai politik19, adapun fungsi partai politik itu menurut Miriam Budiarjo yaitu :

17 UU Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik

18 Ramlan Surbakti, Op.cit, hal. 117

19 Miriam Budiarjo, Op.cit, hal. 163

(37)

1. Partai Politik Sebagai Sarana Komunikasi Politik

Salah satu tugas dari partai politik adalah menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat yang berkembang dan beredar ( opinion public ) serta mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran pendapat dalam masyarakat berkurang. Proses ini dinamakan sebagai proses “ Penggabungan Kepentingan (interest aggregation) ”. Sesudah digabung pendapat dan aspirasi dari masyarakat ini kemudian diolah dan dirumuskan dalam bentuk yang teratur.

Proses ini dinamakan “ Perumusan Kepentingan ( Interest Articulation ) ”. Di lain pihak partai politik berfungsi juga sebagai alat untuk memperbincangkan dan menyebarluaskan rencana dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

2. Partai Politik Sebagai Sarana Sosialisasi Politik

Partai politik juga memiliki peranan sebagai sarana sosialisasi politik, di dalam ilmu politik sosialisasi politik diartikan sebagai proses melalui mana seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik yang umumnya berlaku dalam masyarakat dimana ia berada. Biasanya proses sosialisasi berjalan secara berangsur – angsur dari masa kanak – kanak sampai dia dewasa. Disamping itu sosialisasi politik juga mencakup proses melalui mana masyarakat menyampaikan norma – norma dan nilai – nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses sosialisasi ini bisa diperoleh dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sosial lainnya selama dia masih hidup di dunia. Cara sosialisasi tersebut bisa berasal dari media cetak ataupun dari media elektronik.

(38)

3. Partai Politik Sebagai Sarana Rekrutmen Politik

Partai politik juga berfungsi untuk mencari dan mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai politik.

Dengan demikian partai politik turut memperluas partisipasi politik ( political recruitmen ), caranya ialah melalui kontak pribadi, persuasi dan cara lainnya. Juga diusahakan untuk menarik golongan muda untuk dididik menjadi kader partai yang dimasa mendatang dapat menggantikan pimpinan lama. Tanpa adanya rekrutmen politik ini maka dapat dipastikan suatu partai akan tidak berjalan dan dapat dipastikan terjadinya kekosongan kekuasaan. Artinya tidak ada kader yang akan bersaing untuk memperebutkan jabatan – jabatan politik dan pemerintahan.

Dan regenerasi pemimpin politik pun tidak dapat berjalan dengan baik.

4. Partai Politik Sebagai Sarana Pengatur Konflik

Dalam suasana demokrasi, persaingan dan perbedaan pendapat dalam masyarakat merupakan soal yang wajar. Jika sampai terjadi konflik maka partai politik berusaha untuk mengatasi konflik tersebut. Seperti konflik yang terjadi di Ambon dan Maluku maka disinilah fungsi partai politik untuk menyelesaikan masalah konflik tersebut bukan sebaliknya mempertajam konflik yang terjadi.

Tetapi kenyataannya partai politik yang sering mengalami sendiri konflik tersebut dalam internal partai mereka sendiri, sehingga fungsi partai politik sebagai pengatur konflik di tengah masyarakat tidak berjalan dengan baik karena masalah internal partai sendiri tidak dapat diselesaikan sehingga masyarakat apatis terhadap kinerja partai politik itu sendiri dalam hal mengendalikan konflik.

(39)

Selain yang dikemukakan oleh Miriam Budiarjo diatas mengenai fungsi partai politik maka ada tambahan yang dikemukakan oleh Koirudin dalam bukunya Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi20, yang antara lain adalah :

1. Partai Politik Sebagai Artikulasi Kepentingan

Artikulasi kepentingan adalah suatu proses penginputan berbagai kebutuhan, tuntutan dan kepentingan melalui wakil – wakil kelompok yang masuk ke dalam lembaga legislatif. Agar kepentingan, tuntutan dan kebutuhan kelompoknya dapat terwakili dan terlindungi dalam pembuatan kebijakan publik.

Pemerintah dapat mengeluarkan suatu keputusan dapat bersifat menolong masyarakat dan bisa pula dinilai sebagai kebijakan yang justru menyulitkan masyarakat itu sendiri.

2. Partai Politik Sebagai Agregasi Kepentingan

Agregasi kepentingan merupakan cara bagaimana tuntutan – tuntutan yang dilancarkan oleh kelompok – kelompok yang berbeda, digabungkan menjadi alternatif pembuatan kebijakan publik. Agregasi kepentingan dijalankan dalam sistem politik yang tidak memperbolehkan persaingan partai secara terbuka, fungsi organisasi itu terjadi di tingkat atas, dalam birokrasi dan berbagai jabatan militer sesuai dengan kebutuhan dari rakyat. Agregasi kepentingan ini sangat erat kaitannya dengan relasi antara masyarakat luas yang mengagregasikan diri atau diagregasikan oleh pemimpin politik, terutama di dalam partai politik.

20 Koirudin, Op.cit, hal. 86

(40)

Secara normatif maka fungsi partai politik itu sebenarnya terdapat dalam Bab V ( Tujuan dan Fungsi ) pasal 11 ayat 1 UU RI Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik yang berbunyi21 : Pertama, pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kedua, penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. Ketiga, penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. Keempat, Partisipasi politik warga negara Indonesia, dan yang Kelima, Rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.

I.5.3. Rekrutmen Politik dan Sistem Rekrutmen Politik I.5.3.1 Pengertian Rekrutmen Politik

Dikutip dari buku Hesel Tangkilisan Kebijakan Publik yang Membumi, Ramlan Surbakti menjelaskan bahwa rekrutmen politik adalah seleksi pemilihan dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintahan pada khususnya. Fungsi rekrutmen sangat penting karena merupakan kelanjutan dari fungsi mencari dan mempertahankan kekuasaan. Selain itu fungsi rekrutmen politik sangat penting bagi kelangsungan sistem politik sebab tanpa elit yang

21 UU Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik

(41)

mampu melaksanakan peranannya, kelangsungan sistem politik akan terancam22. Di samping itu rekrutmen politik dapat dinyatakan sebagai salah satu cara untuk menyeleksi para warga negara untuk kemudian diorbitkan untuk menjadi calon pemimpin, dengan lebih mengkhususkan kepada orang – orang yang mempunyai bakat yang cukup menonjol23. Rekrutmen politik merupakan proses dimana partai politik mencari anggota baru dan mengajak orang yang berbakat untuk berpartisipasi dalam proses politik melalui organisasi – organisasi massa dan yang melibatkan golongan – golongan tertentu, seperti golongan profesional yang mencakup golongan buruh, petani, pemuda, mahasiswa, perempuan dan beberapa golongan lainnya yang berada dalam ruang lingkup kemasyarakatan.

Rekrutmen Politik menurut Partai Bulan Bintang24 adalah kegiatan menjaring orang – orang untuk diajukan sebagai calon anggota legislatif dari partai. Artinya disini bahwa masyarakat atau warga negara Indonesia yang telah memenuhi syarat baik itu persyaratan berdasarkan UU Pemilu No. 10 Tahun 2008 dan syarat – syarat yang diajukan Partai Bulan Bintang sendiri berhak untuk mencalonkan diri untuk menjadi calon anggota legislatif melalui PBB. Setelah terpenuhi persyaratan tersebut maka calon anggota legislatif tersebut dapat mengajukan diri kepada Partai Bulan Bintang untuk dijadikan sebagai bakal calon anggota legislatif yang berasal dari internal dan eksternal Partai Bulan Bintang.

22 Hesel Tangkilisan, Kebijakan Publik yang Membumi, Yogyakarta : Lukman Offset dan YPAPI, 2003, hal. 187

23 Haryanto, Op.cit, hal. 19

24 SK DPP PBB No : SK.PP / 1278 / 2008 Tentang Juklak Perekrutan, Penyusunan, Penetapan, Calon Anggota Legislatif Partai Bulan Bintang pada Bab I pasal 1 ayat 9

(42)

I.5.3.2 Sistem Rekrutmen Politik

Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang secara politik paling aktif, merupakan minoritas dalam suatu masyarakat dan mereka itu besar artinya disebabkan oleh dua alasan yaitu25 : pertama, karena hal tersebut merupakan ciri utama dari semua sistem politik, dengan kemungkinan pengecualian sistem yang ada dalam beberapa masyarakat primitif, dan yang kedua karena hal itu merupakan basis dari sejumlah teori penting yang berusaha menjelaskan bekerjanya sistem – sistem politik sehubungan dengan oligarki – oligarki, kaum elit, dan kelas – kelas. Dalam buku Sosiologi Politik, Michael Rush dan Philip Althoff mengemukakan pendapat mengenai sistem pengrekrutan politik.

Perekrutan politik menurut Rush dan Althoff adalah sebagai berikut :

a. Sistem Pengrekrutan Metode “ Penyortiran ( Penarikan Undian ) ”. Ini merupakan metode pengrekrutan tertua yang dipergunakan untuk memperkokoh kedudukan pemimpin – pemimpin politik, metode ini digunakan pada masa Yunani Kuno.

b. Sistem Pengrekrutan “ Pilih Kasih ”. Sistem ini terdapat di Amerika Serikat yang pada hakikatnya adalah suatu sistem pengrekrutan bergilir, misalnya Presiden dan Wakil Presiden Dewan Federal Swiss yang memangku jabatan hanya untuk setahun, dan tidak boleh dipilih kembali pada masa jabatan berikutnya.

25 Michael Rush dan Philip Althoff, Pengantar Sosiologi Politik, Jakarta : Rajawali Pers, 2005, hal.181

(43)

c. Sistem Pengrekrutan “ Perebutan Kekuasaan ”. Perebutan kekuasaan bisa dilakukan dengan jalan kekerasan. Misalnya penggulingan dengan kekerasan suatu rezim politik, apakah hal itu berlangsung dengan kudeta, revolusi, intervensi militer dari luar, pembunuhan atau kerusuhan rakyat.

d. Sistem Pengrekrutan “ Patronage ”, patronage merupakan bagian dari suatu sistem penyuapan dan merupakan suatu sistem korupsi yang rumit yang merasuki banyak bidang kehidupan masyarakat.

Menurut Nazaruddin Syamsudin yang dikutip dari buku Hesel Tangkilisan, Kebijakan Publik yang Membumi26 dikatakan bahwa sistem rekrutmen politik itu dibagi dua, yaitu sistem rekrutmen terbuka dan sistem rekrutmen tertutup. Adapun pengertian dari kedua sistem rekrutmen yang dikemukakan oleh Nazaruddin Syamsuddin tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, Sistem Rekrutmen Terbuka adalah sistem rekrutmen dengan menyediakan dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh warga negara untuk ikut bersaing dalam proses penyeleksian. Dasar penilaian dilaksanakan melalui proses dan dengan syarat yang telah ditentukan, melalui pertimbangan yang objektif dan rasional, dimana setiap orang yang memenuhi syarat untuk mengisi jabatan politik yang dipilih oleh rakyat mempunyai peluang yang sama dalam melakukan kompetisi untuk mengisi jabatan – jabatan baik itu jabatan politik maupun jabatan administratif.

26 Hesel Tangkilisan, Op.cit, hal. 189

(44)

Kedua, Sistem Rekrutmen Tertutup adalah sistem rekrutmen yang kesempatan untuk masuk dan dapat menduduki posisi politik tidaklah sama bagi setiap warga negara artinya hanya individu tertentu yang dapat direkrut untuk menempati posisi di dalam jabatan politik maupun di dalam jabatan pemerintahan.

Dalam cara yang tertutup ini orang mendapatkan posisi elit melalui cara – cara yang tidak rasional seperti pertemanan, pertalian keluarga, dan sebagainya.

I.5.4. Konsep Perwakilan Politik

Negara yang menganut sistem kepartaian Dwi Partai ataupun Multipartai tentunya memiliki partai yang menjadi pemenang dalam pemilu. Kemenangan merupakan hal yang sangat diharapkan oleh setiap partai politik yang menjadi kontestan dalam pemilu, dengan kemenangan maka partai politik ini akan mampu menempatkan para wakilnya di parlemen.

Alfred de Grazia, dikutip dari buku Arbi Sanit Perwakilan Politik Indonesia mengungkapkan bahwa pengertian dari Teori Perwakilan Politik adalah hubungan antara dua pihak, yaitu antara wakil dengan terwakili dimana wakil memegang kewenangan untuk melakukan berbagai tindakan yang berkenaan dengan kesepakatan yang dibuatnya dengan terwakili27. Namun perwakilan dapat dipahami sebagai unsur dari suatu negara yang demokrasi yaitu dengan adanya DPR karena rakyat tidak dapat memerintah atau mengartikulasikan kepentingan dengan cara sendiri – sendiri maka harus diwakilkan.

27 Arbi Sanit, Op.cit, hal. 1

(45)

Pada dasarnya perwakilan itu dikenal ada dua sistem yaitu, Perwakilan Politik ( Political Representation ) dan Perwakilan Fungsional ( Functional Representation ). Perwakilan Politik senantiasa diartikan dengan perwakilan yang dilembagakan oleh partai politik ataupun organisasi politik yang hidup di tengah masyarakat, sedangkan Perwakilan Fungsional biasanya lebih menekankan pada perwakilan atas golongan dan profesi yang terdapat di kehidupan masyarakat, misalnya Kelompok Militer, Kelompok Intelektual, Buruh, Kelompok Pengusaha, Kelompok Nelayan, PGRI, HKTI, dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya28.

I.6. Metodologi Penelitian

I.6.1. Jenis Penelitian

Penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif ( penggambaran ) untuk mengetahui bagaimana proses pola rekrutmen politik yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang Sumatera Utara ( DPW PBB SU ).

Penelitian deskriptif yang penulis gunakan dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan keadaan objek penelitian yang berdasarkan pada fakta – fakta yang ada. Fakta atau data yang ada dikumpulkan, diklasifikasikan dan kemudian di analisa29.

28 P. Anthonius Sitepu, Op.cit, hal. 10

29 Hadari Nawawi dan H. Matini, Penelitian Terapan, Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 2000, hal. 73

(46)

I.6.2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian bertempat di kantor Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang Sumatera Utara di Jalan Mayjend D.I Panjaitan No. 168 Medan ( 20154 ) dengan Nomor Telp / Fax ( 061 ) 4522818.

I.6.3. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Lisa Harisson dalam bukunya Metodologi Penelitian Politik mengatakan bahwa teknik pengumpulan data yang dapat digunakan, adalah teknik penelitian perpustakaan ( library research ) yang sering disebut dengan metode dokumentasi seperti media massa, sumber partai, biografi, autobiografi, dan penelitian lapangan seperti wawancara dan observasi30. Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut :

1. Studi Pustaka, studi pustaka adalah studi dengan mempelajari buku – buku Peraturan dan keputusan yang dikeluarkan oleh DPP PBB maupun DPW PBB Sumut menganai Rekrutmen Calon Legislatif.

2. Media Cetak, media cetak yang digunakan adalah Harian Waspada.

3. Wawancara, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan dialog langsung dengan responden yang berhubungan dengan objektif penelitian. Objek penelitian dalam penulisan ini adalah Ir. Bustinursyah, M.Sc, IAI sebagai Wakil Ketua I DPW PBB Sumatera Utara dan Irwan A. Hasibuan, SE, M.Si sebagai Sekretaris DPW PBB Sumatera Utara.

30 Lisa Harison, Metodologi Penelitian Poliitk, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007, hal. 128

(47)

I.6.4. Teknik Analisa Data

Pada penulisan ini teknik analisa data yang digunakan adalah teknik kualitatif yaitu teknik tanpa menggunakan alat bantu atau rumus statistik. Dalam buku Metodologi Penelitian Kualitatif, Salim dan Syahrum31 mengutip pendapat Strauss dan Corbin yang mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang prosedur penemuan yang dilakukan tidak menggunakan prosedur statistik atau kuantifikasi. Langkah – langkah yang ditempuh penulis dalam penulisan ini adalah sebagai berikut;

Pertama, pengumpulan data. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data dan bahan dari buku – buku, situs internet yang memuat tentang sistem rekrutmen politik. Dan juga peneliti melakukan wawancara dengan tokoh – tokoh atau informan yang berkaitan dengan rekrutmen politik DPW PBB Sumatera Utara.

Kedua, penyajian dan menganalisis data yang diperoleh. Pada tahap ini setelah peneliti mengumpulkan data yang diperoleh baik itu data yang mendukung maupun yang membantu, maka selanjutnya adalah menyajikan data dan menganalisis data yang diperoleh tersebut sesuai dengan sifatnya.

Ketiga, penyimpulan data yang diperoleh. Tahap ini adalah tahap terakhir daripada penelitian ini, dari hasil penelitian dan analisis yang penulis lakukan maka penulis mengambil kesimpulan yang dapat membantu dalam memahami hasil penelitian yang dilakukan di DPW PBB Sumatera Utara.

31 Salim dan Syahrum, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Cipta Pustaka Media, 2007, hal. 41

Referensi

Dokumen terkait

Perlindungan hukum bagi tenaga kerja outsourcing di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kota Balikpapan meliputi Perlindungan persyaratan hubungan kerja,

Fluida mengalir keatas melalui suatu partikel packed bed pada kecepatan. rendah, partikel tersebut tetap

384 IA KURNIA SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH BANDUNG. 385 WANDY ZULKARNAEN SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI

Senada dengan itu Sullivan (dalam Sulastri, 2009) mengatakan bahwa peran dan tugas guru adalah memberikan kesempatan belajar, yaitu dengan (a) melibatkan siswa secara

MONITORING KESIAPAN PERPINDAHAN DAN RAPAT KOORDINASI PEMANTAPAN PROGRAM PERPINDAHAN DAN PENEMPATAN • Terlaksananya pelaksanaan perpindahan transmigran sesuai

Pustakawan dalam memberikan informasi tidak lagi bersumber pada buku teks dan jurnal yang ada di rak, tetapi dengan memanfaatkan Internet untuk mendapatkan informasi yang segar bagi

Pola pervasif deficit sosial dan interpersonal yang ditandai oleh ketidak senangan akut dengan, dan penurunan kapasitas untuk, hubungan erat dan

bahwa Peraturan Daerah Kota Pariaman Nomor 04 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, sebagaimana telah diubah dengan