• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

Dalam dokumen KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN (Halaman 26-44)

CONTOH BAB III

F. Teknik Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisa dengan menggunakan statistika deskriptif yang dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu: akuntabilitas (Y), gaya kepemimpinan (X1), kecerdasan emosional (X2), dan pengambilan keputusan rasional (X3), Langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan analisa data pada penelitian ini adalah :

1.Membuat deskripsi data sebagai hasil kuantifikasi terhadap jawaban responden atas kuesioner. Proses kuantifikasi dilakukan dengan cara pemberian skor pada masing-masing butir dalam kuesioner. Angka-angka yang merupakan data mentah kemudian diolah dengan menggunakan statistika deskriptif dan gambaran umum dari variasi data penelitian disajikan melalui nilai rata-rata (mean), simpangan baku, varians, modus, median, dan distribusi frekuensi dan menggunakan histogram.

.

1.

2. Melakukan uji persyaratan analisis dengan Uji Normalitas Data Galat Taksiran dan uji Homogenitas.

a. Menentukan garis persamaan regresi.

Sebelum melakukan uji normalitas dan homogenitas, maka terlebih

dahulu dilakukan menghitung/menentukan garis persamaan

regresi, dengan menggunakan rumus :

= a + b X1 ; = a + b X2 ; = a + b X3 ; 1 Di mana :

X = skor variabel bebas a = konstanta regresi

b = koefisien arah regresi

dan rumus untuk mencari nilai dari :

a = (∑Y) (∑X1 2) - ( ∑X1) (∑X1Y) n ∑X12 - (∑X1)2 b = n ∑X1 Y - (∑X1) ( ∑Y) n ∑X12 - (∑X1)2 1 Sugiyono, Op.Cit., Hal. 245.

CONTOH BAB III

. = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 ; 1 Dengan: ∑X1Y = b1 ∑X12 + b2 ∑X1∑X2 + b3 ∑X1∑X3 ∑X2Y = b1 ∑X1 ∑X2 + b2 ∑X22 + b3 ∑X2∑X3 ∑X3Y = b1 ∑X1 ∑X2 + b2 ∑X2 ∑X3 + b3 ∑X32

CONTOH BAB III

b. Melakukan uji normalitas data.

Penggunaan statistik parametris bekerja dengan asumsi bahwa data setiap variabel penelitian yang akan dianalisis membentuk distribusi normal. Suatu data yang membentuk distribusi normal bila jumlah data di atas dan di bawah rata-rata adalah sama, demikian juga dengan simbangan bakunya. Oleh karena itu maka uji normalitas merupakan persyaratan dalam analisa regresi sebelum pengujian hipotesis dilakukan. Uji normalitas data galat taksiran dilakukan untuk mengetahui apakah nilai galat taksiran e = (Y- ) berdistribusi normal atau tidak. Apabila dari hasil pengujian data tidak berdistribusi normal maka penelitan dengan parametris tidak dapat dilanjutkan.

CONTOH BAB III

Uji normalitas Galat Taksiran Regresi Y atas X dilakukan dengan menggunakan uji Liliefors (statistik L) pada α = 0,05. Hipotesis statistik pengujian normalitas data adalah:

H0 : e berdistribusi normal Kriteria pengujian:

Untuk menerima atau menolak hipotesis nol, maka Lo dibandingkan dengan nilai kritis L untuk Uji Liliefors dengan taraf α = 0,05., maka: tolak hipotesis nol bahwa populasi berdistribusi normal jika Lo yang diperoleh dari data pengamatan melebihi L dari daftar, atau dengan lain :

H0 = diterima jika Lhitung < Ltabel, hal ini menunjukkan bahwa data berdistribusi normal.

Ha = diterima jika Lhitung > Ltabel, hal ini menunjukkan bahwa data berdistribusi tidak normal.

Adapun prosedur pengujian normalitas dengan Uji Liliefors dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Lakukan pengamatan terhadap x1, x2, ....xn dijadikan bilangan baku z1, z2, ...zn, dengan menggunakan rumus zi = xi – x dan

s

(x dan s) masing-masing merupakan rata-rata dari simpangan baku sampel.

Untuk tiap bilangan baku ini dan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F (zi) = P (z ≤ zi ).

Selanjutnya hitung proporsi z1, z2, ....zn yang lebih kecil atau sama dengan zi. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S (zi), maka

S (zi) = banyaknya zi, z2, ..., zn yang ≤ zi n

Hitung selisih F (zi) – S (zi), kemudian tentukan harga mutlaknya.

Menggunakan harga yang paling besar di antara harga-harga mutlak selisih tersebut, dan harga ini disebut Lo.

CONTOH BAB III

.

c. Melakukan uji persyaratan analisis dengan Uji Homogenitas

Salah satu persyaratan dalam melakukan analisa regresi adalah adanya normalitas residu dari setiap variabel. Untuk pengujian homogenitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Barlet.

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

Ho: Pasangan variabel memiliki varians yang homogen.

Kriteria pengujian yang digunakan adalah:1

Ho : ditolak jika 2 ≥ 2 (1 – α ) ( k – 1), di mana

2 (1 – α ) ( k – 1) didapat dari daftar distribusi chi-kuadrat dengan peluang ((1 – α ) dan dk = ( k – 1)

CONTOH BAB III

Adapun prosedur perhitungan dengan menggunakan uji Bartlett adalah sebagai berikut:

Menentukan varians gabungan dari semua

sampel:

S2 = { ∑ (ni – 1) si2 / ∑ (ni – 1) }

Menentukan harga satuan B :

B = ( log s2 ) ∑ (ni – 1)

Menggunakan statistik chi kuadrat :

2 = (ln 10) { B - ∑ (ni – 1) log si2 } Dengan ln 10 = 2,30 disebut “logaritma asli dari bilangan 10”

CONTOH BAB III

• Hipotesis statistik :

H1 = regresi berarti (signifkan)

H0 = regresi tidak berarti (tidak signifkan)

• Kriteria pengujian keberartian regresi adalah: H1 diterima, jika Fhitung > Ftabel

Ho ditolak, jika Fhitung < Ftabel.

Regresi dikatakan berarti jika menerima H1 dan menolak Ho.

.

a. Melakukan Pengujian Hipotesis dengan menggunakan uji Koefisien Korelasi Sederhana, Korelasi Ganda dan Uji Keberartian (Signifikansi) Koefisien Korelasi.

Uji Koefisien Korelasi dan Uji Keberartian hipotesis pertama:

variabel gaya kepemimpinan (X1) dengan variabel

akuntabilitas (Y).

Uji Koefisien Korelasi Hipotesis pertama adalah menghitung seberapa besar hubungan dependen variabel/variabel terikat (akuntabilitas) dengan variabel independen/variabel bebas (gaya kepemimpinan) dengan menggunakan rumus

perhitungan korelasi product moment sebagai berikut:1

n ∑ xi yi – (∑xi) (∑yi) r X1Y =

n ∑ xi 2 - (∑ xi ) 2 n ∑ yi 2 - (∑ yi ) 2

CONTOH BAB III

.

dimana :

rX1Y = korelasi antara variabel X1 dengan Y

xi = ( X1i - X )

yi = ( Y– Y )

Koefisen korelasi untuk sampel diberi simbol dengan r. Pedoman interpretasi terhadap koefisien korelasi adalah sebagai berikut :

Tabel 3-12

Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi1

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat rendah 0,20 – 0,399 Rendah 0,40 – 0,599 Sedang 0,60 – 0,799 Kuat 0,80 – 1,000 Sangat kuat 1 Sugiyono, Op.Cit,, P. 231.

CONTOH BAB III

.

Menghitung Koefisien Determinasi, yaitu suatu koefisien yang menunjukkan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y, yang dinyatakan dalam angka persentase,

dengan rumus koefisien determinasi adalah:1

KP = r2 x 100%

Di mana :

KP = Nilai Koefisien Determinan r = Nilai Koefisien Korelasi

CONTOH BAB III

.  Melakukan uji keberartian (signifikansi) koefisien korelasi

dengan uji t.1 Rumus : r √ n - 2 t = √ 1 - r2 Hipotesis statistik : H0 = tidak signifikan H1 = signifikan. Kriteria pengujian:

H1 diterima jika thitung > ttabel

Ho diterima jika thitung < ttabel

CONTOH BAB III

Pengujian keberartian (signifkansi) dilakukan pada taraf signifkan 0,05 dan dengan derajat kebebasan (dk) = n = 2. Apabila H1 diterima maka koefsien korelasi signifkan dan dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel X dan Y terdapat hubungan yang positif, tetapi jika H0 diterima maka tidak terdapat hubungan yang positif antara variabel X dan Y.

• Uji Koefsien Korelasi dan Uji Keberartian hipotesis kedua: kecerdasan emosional (X2) dengan akuntabilitas (Y)

CONTOH BAB III

G. Hipotesis Statistik

Untuk pengujian statistik maka dirumuskan hipotesis statistik sbagai berikut :

1. H0 : ρy1 ≤ 0 H1 : ρy1 > 0 Keterangan :

H0 : Gaya kepemimpinan tidak memiliki hubungan positif dengan akuntabilitas.

H1 : Gaya kepemimpinan memiliki hubungan positif dengan akuntabilitas.

CONTOH BAB III

2. H0 : ρy2 ≤ 0 H1 : ρy2 > 0

Keterangan :

H0 : Kecerdasan emosional tidak memiliki hubungan positif dengan akuntabilitas.

H1 : Kecerdasan emosional memiliki hubungan positif dengan akuntabilitas..

CONTOH BAB III

3. H0 : ρy3 ≤ 0 H1 : ρy3 > 0

Keterangan :

H0 : Pengambilan keputusan rasional tidak memiliki hubungan positif dengan akuntabilitas.

H1 : Pengambilan keputusan rasional memiliki hubungan positif dengan akuntabilitas.

CONTOH BAB III

4. H0 : ρy.123 ≤ 0

H1 : ρy.123 > 0 Keterangan :

H0 : Gaya kepemimpinan, kecerdasan emosional dan pengambilan keputusan rasional secara bersama-sama tidak memiliki hubungan positif dengan akuntabilitas.

H1 : Gaya kepemimpinan, kecerdasan emosional dan pengambilan keputusan rasional secara bersama-sama memiliki hubungan positif dengan akuntabilitas.

Di mana :

H0 : Hipotesis nol.

H1 : Hipotesis alternatif

SELESAI

Dalam dokumen KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN (Halaman 26-44)

Dokumen terkait