METO DOLO G I PENELITIAN
H. Instrumentasi Pe nelitian
I. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis uji Kai Kuadrat (X2) untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel. Dengan batas kem aknaan yang dipakai adalah 5% (p < 0,05) (T aufiqurohm an, 2003).
43
Persam aan yang digunakan adalah :
X2 = n (ad – bc)2
(a + b)(c + d)(a + c)(b + d) Keterangan :
X2 = Kai Kuadrat
N = Jum lah sampel/ subjek penelitian
a, b, c, d = Frekuensi dalam tiap-t iap tabel
Tabel 1. T abel Distribusi :
Kriteria Dem ensia
T idak Demensia Jumlah Subtipe Stroke Post Stroke Iskemik a b a + b Post Stroke Hemoragik c d c + d Jumlah a + c b + d n
44
Pengam bilan sampel dilakukan di poliklinik dan bangsal Unit Penyakit Saraf RSUD dr. Moewardi Surakarta, pada bulan April hingga Mei 2009. Sampel penelitian berjumlah 60 orang yang terdiri dari 30 pasien post stroke iskemik dan 30 pasien post stroke hemoragik. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 2. Distribusi sampel demensia berdasarkan usia
Usia Jumlah n % ≤ 39 1 3,12 40 - 44 1 3,12 45 - 49 6 18,7 50 - 54 5 15,6 55 - 59 4 12,5 60 - 64 4 12,5 65 - 69 7 21,8 ≥ 70 4 12,5 Jum lah 32 100
45
Tabel 3. Distribusi sampel demensia berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelam in Jumlah
n %
Pria 19 59,37
Wanita 13 40,62
Jum lah 32 100
Sum ber : Data Primer, April - Mei 2009
Tabel 4. Distribusi sam pel berdasarkan subtipe stroke yang diderita pasien terhadap kejadian dem ensia
Kriteria Dem ensia Tidak Dem ensia Jum lah
Subtipe Stroke Post Stroke Iskemik 11 18,33% 19 31,67% 30 Post Stroke Hemoragik 21 35% 9 15% 30 Jumlah 32 53,33% 28 46,67% 60
Sum ber : Data Primer, April - Mei 2009 X2 = 3,841 p = 0,05<p<0,01
Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa dari 30 sampel pasien post stroke iskemik didapatkan 11 pasien (18,33 %) dengan gangguan demensia dan 19 pasien (31,67 %) yang tidak m engalami dem ensia. Sedangkan dari 30 sampel pasien post stroke hemoragik, didapatkan 21 pasien (35 %) dengan gangguan dem ensia dan 9 pasien (15 %) yang tidak mengalam i demensia. Jumlah pasien yang mengalami demensia lebih banyak pada sam pel pasien post stroke hem oragik daripada sampel pasien post stroke iskem ik.
Hasil perhitungan dengan m etode Kai Kuadrat (X2) hitung = 6,696. Sedangkan Kai Kuadrat (X2) tabel (0,05:1) = 3,841. Jadi Kai Kuadrat (X2) hit ung > Kai Kuadrat (X2) tabel dengan nilai p : 0,05<p<0,01. Dari data tersebut menunjukkan terdapat hubungan yang berm akna secara statistik ant ara subtipe stroke dengan kejadian demensia pada pasien post stroke di RSUD dr. Moewardi.
47 BAB V PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan dengan m elakukan wawancara pada pasien post stroke di poliklinik dan bangsal Unit Penyakit Saraf RSUD dr. Moewardi Surakart a. Dari 30 sam pel pasien post stroke iskem ik didapatkan 11 pasien (18,33 %) dengan gangguan dem ensia dan 19 pasien (31,67 %) yang tidak mengalam i dem ensia, sedangkan dari 30 sam pel pasien post stroke hemoragik, didapat kan 21 pasien (35 %) dengan gangguan demensia dan 9 pasien (15 %) yang tidak mengalami demensia. Hasil perhitungan menggunakan metode Kai Kuadrat (X2) hitung = 6,696 sedangkan Kai Kuadrat (X2) tabel (0,05:1) = 3,841. Jadi Kai Kuadrat (X2) hitung > Kai Kuadrat (X2) tabel dengan nilai p<0,01. Dari data tersebut m enunjukkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara subtipe stroke dengan kejadian dem ensia pada pasien post stroke di RSUD dr. Moewardi.
Dari tabel 2, distribusi sampel demensia berdasarkan usia, dapat diketahui bahwa penderita demensia yang berusia ≤ 39 tahun sebanyak 1 pasien (3,12 %), 40 – 44 tahun sebanyak 1 orang (3,12 %), 45 – 49 tahun sebanyak 6 orang (18,7 %), 50 – 54 tahun sebanyak 5 pasien (15,6 %), 55 – 59 tahun sebanyak 4 pasien (12,5 %), 60 – 64 tahun sebanyak 4 pasien (12,5 %), 65 – 69 tahun sebanyak 7 pasien (21,8 %), dan ≥ 70 tahun sebanyak 4 pasien (12,5 %). Dari data tersebut didapatkan bahwa dengan bert am bahnya usia, m aka kemungkinan untuk
terjadinya dem ensia m enjadi lebih besar. Kejadian tersebut m encapai puncaknya pada pasien yang berusia 60 – 69 tahun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kaplan (1997) yang m engatakan bahwa dem ensia vaskular paling sering ditemukan pada orang yang berusia 60 – 70 tahun.
Dari tabel 3, distribusi sampel demensia berdasarkan jenis kelamin, memperlihatkan bahwa demensia vaskular lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita. Pada 32 pasien yang menderita dem ensia, didapatkan 19 pasien (59,37 %) berjenis kelamin pria sedangkan 13 pasien (40,62 %) berjenis kelamin wanita. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lum bant obing (2004) yang mengatakan bahwa prevalensi Alzheim er lebih tinggi pada wanita dan demensia multi-infark lebih banyak dijumpai pada pria.
Dari tabel 4, distribusi sampel berdasarkan subtipe stroke yang diderita pasien terhadap kejadian dem ensia, dapat diket ahui bahwa dem ensia yang disebabkan oleh post stroke iskemik sebanyak 11 pasien (18,33 %). Sedangkan, dem ensia yang diakibatkan oleh post stroke hemoragik sebanyak 21 pasien (35 %). Hal ini menunjukkan bahwa penderita post stroke hemoragik m em iliki kecenderungan lebih besar unt uk menjadi demensia daripada penderita post stroke iskemik. Pernyataan tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh De Koning (2000) ataupun penelitian yang dilakukan oleh Henon (1999), dim ana dalam penelitiannya menem ukan bahwa pasien dengan stroke hemoragik intraserebral mem iliki kecenderungan lebih besar untuk menjadi demensia vaskular dibandingkan pasien dengan stroke iskemik
49
Tetapi ada beberapa jurnal yang menyatakan bahwa prevalensi terjadinya dem ensia vaskular lebih banyak diderita oleh pasien post stroke iskhemik dibandingkan dengan pasien post stroke hemoragik (Barba et al., 2000). Berbedanya hasil yang didapat kan oleh peneliti dengan penelitian yang dilakukan oleh Barba et al (2000) dapat diakibatkan oleh karena adanya:
A. Perbedaan status pendidikan
Status pendidikan mem pengaruhi hasil skor MMSE, sehingga dim ungkinkan terdapat pasien demensia post stroke iskemik yang hasil MMSEnya mencapai ≥ 24 dikarenakan m em iliki status pendidikan yang tinggi.
B. Usia
Usia mem pengaruhi kejadian demensia, sehingga dimungkinkan sebaran sampel yang didapatkan pada pasien post stroke iskemik relative lebih muda usianya dibandingkan dengan pasien post stroke hem oragik.
C. Jenis kelam in
Dim ana pada penelitian tersebut jum lah sampel pasien pria penderita stroke hem oragik lebih banyak daripada jumlah sam pel pasien pria penderita stroke iskemik, dimana sudah dikemukakan sebelum nya bahwa prevalensi dem ensia multi-infark lebih banyak dijumpai pada pria.
D. Fakt or resiko demensia
Hasil penelitian ini tidak turut m em perhitungkan variabel luar lainnya yang mungkin mempengaruhi hasil daripada penelitian sepert i obesitas, hipert ensi, penyakit jantung (infark miokard, gagal jant ung, fibrilasi atrial, EKG yang abnorm al), diabetes melitus, bising di arteri karotis, polisitem ia, hiperlipidem ia, merokok, hiperurisemia, depresi psikologis, dan nephropati.
51 BAB VI