DI KELAS VIII SMP YPK KOTARAJA TAHUN AJARAN 2018/2019
7. Teknik Analisis Data
Analisis data penelitian dilakukan melalui tes dan nontes. Dalam penelitian ini, nontes dilakukan dengan observasi langsung observasi langsung, yaitu pengamatan yang dilakukan terhadap proses yang terjadi dalam proses pembelajaran yang sebenarnya dan langsung diamati oleh penulis. Pengamatan ini untuk mengukur keaktifan siswa selama proses pembelajaran dan mengukur keterlaksanaan model pembelajaran yang digunakan penulis sebagai guru. Pada lembar observasi telah ditentukan indikator-indikator yang menjelaskan bahwa siswa atau guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik atau tidak.
Hasil dan Pembahasan
17 | S e m i n a r N a s i o n a l M I P A d a n T e r a p a n n y a I I I T a h u n 2 0 2 0
Dalam penerapan model Kooperatif tipe Jigsaw, guru tidak memberikan materi secara utuh kepada siswa. Penyajian materi diberikan melalui sebatas penyampaian informasi awal materi penyelesaian sistem persamaan linaer dua variabel. Materi utama yaitu penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel yang dibagi dalam 3 bagian yaitu dengan menggunaka melalui metode grafik, metode substitusi dan metode eliminasi disajikan melalui tugas pada LKK yang dikerjakan siswa dalam kelompok belajar. Dalam hal ini yaitu pada kelompok ahli. Tugas yang diberikan berupa kegiatan-kegiatan dimana setiap kegiatan berisi soal dengan tingkat kesukaran yang bertahap. Setiap kelompok ahli mendapatkan soal yang sama, yang membedakan pada penyelesaian dari soal tersebut karena setiap kelompok ahli menggunakan metode yang berbeda dalam menyelesaikan soal yang terdapat pada LKK.
Adapun pemberian materi dengan cara ini, mendapatkan hasil yang baik. Pengetahuan yang diperoleh tidak langsung ditransfer dari guru kepada siswa, melainkan siswa harus terlibat dalam pengerjaan soal untuk memahami materi. Guru tidak secara langsung memberikan semua pengetahuannya melainkan siswa belajar dengan terlibat langsung dalam pengerjaan soal. Hal ini sejalan dengan teori belajar konstruktivisme, dimana teori ini memandang bahwa guru tidak hanya sekadar memberikan pengetahuannya kepada siswa. siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya (Trianto, 2014: 30). Guru berperan sebagai perancang, fasilitator dan pembimbing siswa selama proses pembelajaran.
Dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif khususnya model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, ditemukan bahwa interaksi antara siswa dengan siswa lainnya berjalan dengan baik. Isjoni (2009: 77) menambahkan untuk mengoptimalkan manfaat belajar kelompok, keanggotan kelompok seyogyanya heterogen baik dari segi kemampuan maupun karakteristik lainnya. Dengan demikian, cara yang efektif untuk menjamin heterogenitas kelompok ialah guru yang membuat kelompok-kelompok itu. Adanya kelompok heterogen tidak hanya memberikan keuntungan bagi siswa berkemampuan tinggi, melainkan juga memberikan keuntungan bagi siswa berkemampuan sedang dan rendah. Dengan adanya siswa berkemampuan tinggi dapat membantu siswa yang lain untuk memahami materi. Siswa berkemampuan tinggi pun mendapat keuntungan dengan mengajarkan kepada siswa yang lain, sehingga dapat menambah pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan.
Dengan menerapkan kelompok heterogen, adanya saling ketergantungan positif antara siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Selain itu dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, masing-masing siswa akan bertanggung jawab atas pengetahuannya dalam kelompok ahli yang terbentuk. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Diskusi kelompok dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai materi pelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Slavin (2016: 5) yang mengatakan bahwa pembelajaran Kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Slavin juga menambahkan bahwa dengan model pembelajaran koooperatif, siswa belajar dengan cara bekerja bersama dalam kelompok kecil untuk menguasai materi yang disampaikan guru.
Selain itu, berdasarkan analisis lembar observasi keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung menunjukkan keaktifan siswa yang tergolong sangat aktif. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran dikelas, model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dapat digunakan guru sebagai variasi dalam pengajaran di kelas. Penerapan model Kooperatif tipe Jigsaw yang masih jarang digunakan membuat siswa terlihat lebih antusias dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Dengan adanya model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, guru tidak lagi mendominasi proses pembelajaran tetapi siswa yang lebih berperan aktif dalam mengembangkan pemahaman mereka terhadap materi penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel bersama teman kelompoknya.
18 | S e m i n a r N a s i o n a l M I P A d a n T e r a p a n n y a I I I T a h u n 2 0 2 0
Beberapa hal juga ditemui dalam penelitian ini, diantaranya selama pengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok asal juga kelompok ahli, siswa terlihat sibuk dan mengganggu teman-temannya yang mengakibatkan suasana kelas menjadi gaduh. Banyaknya kelompok asal yang terbentuk membuat guru kesulitan dalam mengontrol jalannya pembelajaran terutama saat pengelompokkan kelompok asal. Selain itu, dalam pengerjaan tugas LKK, didapati beberapa kekeliruan siswa dalam mengoperasikan (menjumlahkan, mengurangkan, mengalikan atau membagi) dalam bentuk aljabar. Akibatnya meskipun langkah pengerjaan tepat, tetapi hasil yang diperoleh kurang tepat. Kesalahan lain yang ditemukan adalah siswa sering melakukan kesalahan dalam mensubsitusikan nilai dalam variabel. Siswa juga kurang teliti sehingga terdapat bilangan yang tidak tertulis, maupun tulisannya tidak jelas namun siswa tetap mengerjakannya sesuai dengan langkah pengerjaan. Dalam pengerjaan tugas pada LKK terdapat beberapa kelompok ahli yang tidak menyelesaikan tugas yang diberikan. Hal ini berdampak pada hasil kerja kelompok juga pada hasil kerja individu yang diberikan pada guru. Selain itu, guru tidak mengarahkan setiap kelompok ahli yang membahas materi yang sama untuk mendiskusikan hasil kerja LKK antar kelompok ahli yang membahas sub materi yang sama sehingga menyebabkan adanya kekeliruan dalam pemahaman pengerjaan yang dilakukan setiap kelompok ahli yang membahas sub materi yang sama setelah diskusi kelompok. Penghargaan kelompok yang seharusnya diberikan kepada kelompok sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Guru tidak dapat mengukur skor perkembangan siswa dikarenakan penelitian yang dilakukan hanya dalam sekali pertemuan pembelajaran. Oleh karenanya, guru hanya memberikan penghargaan sebagai apresiasi kepada setiap siswa karena telah bekerja dengan baik dalam kelompok maupun individu.
Selama proses penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, terdapat beberapa kendala maupun kekurangan yang dialami penulis dalam penelitian ini. Kendala dan kekurangan tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan menggunakan model Kooperatif tipe Jigsaw merupakan hal yang baru bagi siswa sehingga pada awal pengelompokkan siswa ke dalam kelompok yaitu pada kelompok asal menuju ke kelompok ahli, siswa terlihat masih bingung dalam mengikuti arahan dari guru.
2. Ruang kelas yang sempit mengakibatkan guru sulit dalam membagi tempat duduk untuk setiap kelompok sehingga selama proses pengerjaan tugas secara kelompok, guru kesulitan bergerak untuk membimbing setiap kelompok
3. Proses pembelajaran yang berlangsung di jam terakhir berakibat pada berkurangnya semangat siswa terutama pada kegiatan penutup dari proses pembelajaran. Pada awal pembelajaran hingga pada pengerjaan tugas secara kelompok siswa dapat mengikuti dengan baik, namun pada saat siswa mengerjakan soal tes yang diberikan, terlihat siswa mulai tidak fokus dalam mengerjakannya hingga pada kegiatan menyimpulkan hasil pembelajaran. Guru mengkondisikan situasi ini dengan meminta siswa untuk tetap mengikuti pelajaran hingga selesai.
4. Penulis tidak mengarahkan setiap kelompok ahli yang membahas materi yang sama untuk mendiskusikan hasil kerja LKK antar kelompok ahli yang membahas sub materi yang sama sehingga menyebabkan adanya kekeliruan dalam pemahaman pengerjaan yang dilakukan setiap kelompok ahli yang membahas sub materi yang sama setelah diskusi kelompok.
5. Tidak adanya penghargaan kelompok mengakibatkan motivasi dalam pengerjaan tugas kelompok tidak ada. Penghargaan yang diberikan hanya dalam bentuk apresiasi siswa karena telah mengerjakan tugas kelompok maupun individu dengan baik. Hal ini juga berpengaruh pada hasil kerja kelompok yaitu terdapat beberapa kelompok ahli yang tidak menyelesaikan tugas yang diberikan pada LKK
19 | S e m i n a r N a s i o n a l M I P A d a n T e r a p a n n y a I I I T a h u n 2 0 2 0
Berdasarkan temuan dalam penelitian, penulis merumuskan kelebihan dari penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw pada materi penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel, diantaranya adalah:
1. Dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, aktifitas belajar siswa tergolong aktif.
Hal ini didasarkan pada hasil lembar observasi keaktifan siswa
2. Dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, siswa dapat berinteraksi dengan siswa lainnya. Siswa dapat mempelajari materi dengan siswa yang lain, sehingga kesulitan dalam memahami penjelasan guru dapat teratasi dengan penjelasan teman sebaya. Interaksi yang terjadi dapat melatih kemampuan sosial siswa sehingga siswa tidak hanya mendapatkan kemampuan kognitif dan keterampilan melainkan juga kemampuan afektifnya.
3. Dengan penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, guru tidak perlu menjelaskan keseluruhan materi. Guru hanya akan menyajikan konsep dan memberikan tugas materi dengan tingkat kesukaran bertahap kepada siswa. Guru bertindak sebagai perancang, fasilitator dan pembimbing pada saat proses pembelajaran. Siswa yang belajar dengan metode ini akan memperoleh pengetahuannya sendiri dengan baik.
4. Penerapan model Kooperatif tipe Jigsaw merupakan cara pembelajaran materi yang efesien karena dibagi siswa dikelompokkan dalam beberapa kelompok ahli dan masing-masing kelompok ahli mempelajari salah satu materi yang telah diberikan oleh guru
Selain itu, penulis juga merumuskan beberapa saran yang sebaiknya dipertimbangkan dalam pemilihan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw. Adapun saran yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw membutuhkan waktu pelaksanaan yang lama sehingga guru perlu mengalokasikan waktu pembelajaran dengan baik.
2. Model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw membutuhkan perencanaan yang matang, dimana guru harus menyiapkan bahan tugas belajar, pengelompokkan siswa ke dalam kelompok belajar yakni kelompok asal dan kelompok ahli yang heterogen. Guru perlu menentukan materi pembelajaran yang cocok untuk diterapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.
Simpulan
Dalam proses pembelajaran, penulis telah melaksanakan kegiatan pendahuluan sampai dengan kegiatan penutup yang tersusun dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sesuai dengan sintak model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw. Hal ini terbukti dengan hasil observasi yang menunjukkan bahwa pelaksanaan model pembelajaran terlaksana dengan sangat baik. Selama proses pembelajaran pada materi penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel, siswa menunjukkan respon yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas siswa yang tergolong sangat aktif. Namun dalam pencapaian hasil belajar, rata-rata siswa mendapatkan nilai yang tidak memenuhi KKM matematika dari sekolah yang telah ditentukan, hal ini disebabkan oleh beberapa kendala selama penelitian berlangsung.
Daftar Pustaka
BSNP. (2016). Panduan Pemanfaatan Hasil UN untuk Perbaikan Mutu Pendidikan. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan.
Huda, M. (2011). Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur dan Model Pembelajaran. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Isjoni. (2009). Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
20 | S e m i n a r N a s i o n a l M I P A d a n T e r a p a n n y a I I I T a h u n 2 0 2 0
Ismail, Raoda. & Imawan, O. R. (2014). Project-based learning on learning mathematics. Proceeding of International Seminar on Innovation in Mathematics and Mathematics Education 1st 2014 (ISIM-MED 2014), Yogyakarta State University. Retrieved from http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/24287 Ismail, Raoda. (2015). The comparison of effectiveness of project-based learning and problem-based
learning on the space model of flat side in terms of achievement of student’s learning. Proceeding of International Conference on Research, Implementation and Education of Mathematics and Science 2015 (ICRIEMS 2015), Yogyakarta State University. Retrieved from http://eprints.uny.ac.id/22978 Parinussa, V., Lumbantobing, H., & Ismail, R. (2017). Daya serap hasil belajar menggunakan model
pembelajaran Kooperatif tipe teams games tournament (TGT) dan tipe student teams achievement divisions (STAD). Journal Ilmiah Matematika dan Pembelajarannya, Universitas Cenderawasih.
Diakses dari http://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JIMP/article/view/239/211
Prabaningrum, T. (2016). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Sidoharjo Wonogiri Tahun Pelajaran 2015/2016. Skripsi. Surakarta; Universitas Sebelas Maret. (Online), (http://media.neliti.com) diakses pada tanggal 10 Maret 2018.
Suprijono, A. (2009). Cooperative Learning: Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Suryati, R. S. (2016). Upaya Meningkatkan Keaktifan Dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Siswa Kelas VIIIA Di SMP Negeri 2 Pakem Sleman Tahun 2014/2105. Skripsi. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta. (Online), (http://repository.upy.ac.id), diakses pada tanggal 26 Maret 2018.
Trianto. (2014). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Konstektual Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum 2013. Jakarta: Kencana.
21 | S e m i n a r N a s i o n a l M I P A d a n T e r a p a n n y a I I I T a h u n 2 0 2 0