BAB III: METODOLOGI PENELITIAN
F. Teknik Analisis Data
Menurut Parton (dalam Moleong, 1998) analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan suatu uraian dasar. Data yang telah dikumpulkan, dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan bagaimana sebenarnya keberadaan da‟iyah di tengah masyarakat kecamatan Dolok, serta apa saja tantangan yang mereka hadapi dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah ke masyarakat. Analisis data bertujuan untuk mengubah data mentah yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi menjadi data final sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini, analisis data terdiri atas 3 (tiga) tahapan sesuai dengan tahapan analisis yang yaitu reduksi data, penyajian data, dan verivikasi data.
Pertama, reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Kedua, setelah data direduksi,
maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Ketiga, langkah terakhir dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman sebagaimana dikutip oleh Sugiyono adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Analisis data yang digunakan di sini adalah deskriptif-kualitatif. Metode ini mencakup beberapa teknik analisis yang diantaranya penyelidikan atas posisi da‟iyah di tengah kehidupan sosial beserta pola dakwah yang diterapkan di masyarakat Kecamatan Dolok, lalu menganalisis dan mengklasifikasikan penyelidikan dengan menggunakan pendekatan gender dan strukturalis.
Penerapan analisis deskriptif ini akan difokuskan kepada respon masyarakat Kecamatan Dolok terhadap posisi perempuan yang dalam hal ini dikhususkan pada da‟iyah sebagai penyampai pesan-pesan keagamaan.
G. Teknik Penyajian Analisis Data
Teknik penyajian analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, yaitu mendeskripsikan data dan fakta-fakta yang ditemukan kemudian disusun dengan analisis terhadap data-data tersebut sesuai dengan tujuan yang ingin dikemukakan oleh peneliti.
BAB IV PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi dan Objek Penelitian
1. Kecamatan Dolok
Dolok adalah adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Ibu kota kecamatan ini berada di desa Pasar Sipiongot, memiliki luas wilayah 492,45 km2, dengan kepadatan penduduk 46,89 jiwa/km2 dari total jumlah 86 desa. Pada mulanya kecamatan Dolok merupakan bagian dari wilayah kabupaten Tapanuli Bagian Selatan (TABAGSEL), hingga kemudian kabupaten tersebut mengalami pemekaran. Pemekaran ini menjadikan status Kecamatan Dolok bukan lagi menjadi bagian dari Tabagsel, melainkan masuk dalam wilayah kabupaten Padang Lawas Utara, salah satu bagian dari pemekaran Tabagsel. Setelah terjadinya pemekaran dan berpisahnya Kecamatan Dolok dari Tabagsel, Kecamatan Dolok pun turut mengalami pemekaran wilayah yang kemudian melahirkan kecamatan baru bernama Dolok Sigompulon yang beribukota di Pasar Simundol.
Luas wilayah dan topografi wilayah Kecamatan Dolok membuat kepadatan penduduk dan pembangunan wilayah belum merata. Kondisi perbukitan dengan banyak batuan terjal dan tebing-tebing curam turut menjadikan akses dari satu desa ke desa lainnya seringkali susah dilalui kendaraan, khususnya ketika musim penghujan. Kehidupan masyarakat yang didominasi oleh suku Batak Angkola, Mandailing, Batak Toba, dan suku Jawa yang menjadi minoritas, membuat kehidupan sosial serta
budaya yang berlaku di tengah masyarakat Kecamatan Dolok lebih condong pada budaya yang lebih mengutamakan kedudukan laki-laki (patriakhi). Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya pendidikan anak, mayoritas masyarakat Kecamatan Dolok hidup dari bertani dan berkebun karet, sawit dan hanya sedikit sekali yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), guru, tenaga kesehatan, dan wiraswasta.
Kecamatan Dolok terkenal dengan penduduknya yang mayoritas Muslim. Sekalipun begitu, nilai-nilai keagamaan yang ada di wilayah ini masih sangat rentan dengan campuran klenik. Mayoritas masyarakatnya masih sangat percaya kepada hal-hal berbau supranatural. Selain itu, perkembangan zaman dan teknologi yang pesat turut mendorong shock culture bagi sebagian masyarakat. Hal ini terbukti dengan mewabahnya tren kehidupan kota yang serba bebas, di mana tidak jarang didapati sekelompok orang yang mabuk-mabukan, main judi, hamil di luar nikah, dan masih banyak tren negatif lainnya yang dicopy dari apa yang mereka lihat di social media dan televisi. Meskipun begitu, masyarakat Kecamatan Dolok juga terkenal cukup religius, hal ini dapat disimpulkan dari banyaknya orang tua yang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Islam (pesantren) yang tersebar di beberapa wilayah Kecamatan Dolok maupun di luar kecamatan Dolok. Pola hidup religious juga tergambar dari membludaknya jumlah peserta majelis taklim yang hadir setiap kali diadakannya majelis taklim akbar oleh kecamatan. Sayangnya, tren ini mayoritas hanya diikuti oleh ibu-ibu.
Pola keberagamaan masyarakat Muslim Kecamatan Dolok yang masih sangat abu-abu menjadikan kebutuhan akan keberadaan juru dakwah sangat terbuka lebar. Sekalipun sebagian masyarakat kecamatan dolok terkesan anggap enteng dengan agama, akan tetapi jika terdapat suatu masalah yang berkaitan dengan hidup, kesehatan dan masalah agama kelompok masyarakat ini cenderung menjadikan ulama, ustadz, da‟i dan juru dakwah sebagai solusi utama. Kelompok-kelompok religious ini (da‟i, ulama, guru agama, ustadz) merupakan kelompok masyarakat yang sangat dihormati dan disegani dalam kehidupan masyarakat kecamatan Dolok.
Tak jarang masyarakat jauh lebih segan dan hormat kepada ulama dibandingkan pada pemimpin-pemimpin desa dan aparatur sipil lainnya.
Secara umum penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Dolok, Kabupaten Padang Lawas Utara dan dikhususkan pada Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan yang berlokasi di wilayah kecamatan Dolok. Pesantren ini dipilih karena dianggap mampu merepresentasikan kondisi keseluruhan pesantren yang ada di Kecamatan Dolok. Alasan lain yang juga penting adalah fakta bahwa Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan merupakan pesantren tertua, terbesar, dan paling multikultural di antara pesantren-pesantren lain yang ada di Kecamatan Dolok. Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan terletak di pinggiran hutan Desa Parmeraan Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara. Pondok Pesantren ini didirikan pada tahun 1984 di Desa Parmeraan oleh kyai H.
Abdullah Efendi, BA yang sampai saat ini masih utuh dan eksis di dunia pendidikan hingga usianya sudah lebih dari 35 tahun. Pondok pesantren ini
menawarkan jenjang pendidikan madrasah tsanawiyah swasta (MTS), madrasah aliyah swasta (MAS), Diniyyah, dan pemondokan Birrul Walidayin (panti jompo). Pondok pesantren Darussalam Parmeraan memiliki seribu lebih santri dan guru-guru (ustadz-ustadzah) yang merupakan tamatan perguruan tinggi dari berbagai universitas Islam dan umum yang ada di Indonesia. Dari keseluruhan guru tersebut, terdapat pula yang lulusan universitas luar negeri seperti al-Azhar University Cairo Mesir.
Keberadaan pondok pesantren Darussalam Parmeraan memberi pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan beragama dan sosial masyarakat kecamatan Dolok. Melalui dakwah yang terus disyiarkan oleh para ustadz dan ustadzah tanpa kenal lelah, sedikit banyaknya berhasil mengubah pola pikir dan prilaku masyarakat baik dalam hal prilaku, ibadah maupun pemikiran-pemikiran yang condong pada kemusyrikan.
Dengan program pemberdayaan yang dilakukan oleh pesantren terhadap santrinya melalui program pelatihan muhadhorah atau pelatihan ceramah bagi seluruh santrinya dengan tujuan menyiapkan generasi ulama sebagai pengajar ilmu agama dimasyarakat.
Peta Wilayah Kecamatan Dolok
2. Gambaran Umum Informan
Sebagaimana telah dijelaskan singkat di atas, kondisi keagamaan masyarakat Kecamatan Dolok yang rentan dengan praktik berbau supranatural, menjadikan kesempatan bagi instansi pendidikan agama dan pada juru dakwah terbuka luas untuk melebarkan sayapnya. Kondisi ini pulalah yang ditanggapi oleh kelompok-kelompok intelektual untuk membuka yayasan pendidikan bernuansa Islami, dengan tujuan sebagai bentuk dakwah bi al-fi‟il (perbuatan) dalam penyebaran ajaran-ajaran agama di tengah masyarakat. Tidak heran jika kemudian, di wilayah ini terdapat enam pondok pesantren dengan berbagai macam latar belakangnya.
Keberadaan pesantren ini sangat berpengaruh terhadap perubahan pola prilaku dan kehidupan sosial, budaya dan agama masyarakat dari dulunya masih tradisional dengan kemusyrikan yang merajalela menjadi lebih beradab dan agamis. Banyaknya jumlah pesantren yang terdapat di wilayah Kecamatan Dolok secara otomatis menjadikan kesempatan bagi masyarakat untuk bertanya perihal urusan agama lebih terbuka luas, khususnya kepada ustadz ustadzah yang mengasuh di pondok pesantren.
Namun berbanding terbalik dengan kesempatan yang ada bagi masyarakat untuk bertanya, para ustadz dan ustadzah ini justru tidak mendapat kesempatan yang sama untuk mengajarkan syiar Islam di tengah masyarakat. Hal ini disebabkan masih rendahnya penerimaan masyarakat terhadap intelektualitas perempuan khususnya dalam menanggapi masalah keagamaan atau sekedar memberikan ceramah di tengah masyarakat luas.
Kontribusi para ustadzah ini hanya mendapati porsi kecil dalam urusan penyebaran dakwah Islam di tengah masyarakat, seperti halnya menjadi guru mengaji untuk anak-anak, imam wiridan khusus ibu-ibu pengajian, dan sesekali memberikan ceramah yang jamaahnya terbatas hanya perempuan saja. Mengutip dari data Badan Silaturahmi Pondok Pesantren (BSPP) Padang Lawas Utara jumlah ustadzah di daerah kecamatan Dolok lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ustadz yang mengajar di pondok pesantren. Namun, keberadaannya hanya sebatas guru bagi mata pelajaran-mata pejaran tertentu dalam lingkungan pesantrennya saja. Di bawah ini akan dijabarkan profile informan yang turut menjadi objek dalam penelitian ini untuk melihat sejauh mana tingkat
ketidaksetaraan gender yang terjadi antara ustadz/ustadzah (da‟i -da‟iyah) yang terjadi di wilayah Kecamatan Dolok.
Berikut akan dijabarkan beberapa profil informan yang ada dan membantu peneliti untuk mendapatkan data real sebagaimana terjadi di lapangan. Informan-informan ini adalah mereka yang kesehariannya selalu bersinggungan dengan masyarakat. Apakah itu pekerjaanya sebagai tenaga pengajar di pondok pesantren, ketua MUI, pemangku adat, ustadz/ustadzah, dan pengurus di KUA Kecamatan Dolok. Informan ini dipilih berdasarkan status pekerjaan mereka dan kontribusinya terhadap masyarakat.
Profile Informan Kunci
Nama : Hotder Liana Ritonga, S.Pd
Alamat : Komplek Pondok Pesantren Darussalam, Desa Parmeraan Jenis Kelamin : Perempuan
Etnis : Batak Angkola Status : Menikah Pekerjaan : Guru
Penghasilan : Rp 5.000.000,-/bulan
Ustadzah Hotder Liana merupakan seorang ustadzah yang sudah berkiprah lama dalam dunia pendidikan terutama pendidikan Islam di pesantren. Beliau pada masa kecilnya bersekolah di SDN Parmeraan pada tahun 1976, terlahir di keluarga yang kurang mampu dan serba kekurangan. Selama enam tahun beliau bersekolah di SDN Permeraan dan jika sudah ujian nasional barulah ujiannya di ibu kota kecamatan (Sipiongot) yang kira berjarak 7-8 kilo meter dari desa Permeraan dengan berjalan kaki melewati hutan dengan jalan setapak berlumpur. Setelah menammatkan pendidikan sekolah dasar beliau melanjutkan pendidikan ke
jenjang selanjutnya dan memilih masuk pondok pesantren MTs S (Madrasah Tsanawiyah Swasta) Sosopan yang berlokasi di daerah Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara. Pondok pesantren Sosopan berjarak sekitar 35 km dari desa Parmeraan kampung ustadzah Hotder Liana. Untuk menuju ke pesantren dulunya beliau menyusuri sungai asahan di kecamatan Dolok dan setelah di Desa Pangirkiran barulah ada angkutan bus menuju ibu kota kabupaten Gunung Tua, jarak dari desa Permeraan sendiri ke desa Pengirkiran sekitar 15 km. Hal ini tidak terlepas dari susahnya akses jalur tranportasi di masa itu.
Setelah lulus MTS beliau melanjutkan pendidikannya ke madrasah aliyah di pesantren yang sama. Ustazah Hotder Liana berada di pesantren Sosopan selama 6 tahun lamanya, selama di pesantren pula beliau diajari dan dibimbing menjadi seorang ustazah yang siap berdakwah langsung di tengah masyarakat. Hal ini dikarenakan pada masa itu ilmu agama di daerah kecamatan Dolok sangat minim dan rentan orang masih percaya kepada hal-hal yang ghaib (berbuat syirik) dalam kegiatan kesehariannya.
Setelah tamat dari pesantren Sosopan beliau tidak langsung melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi dikarenaka susahnya kondisi perekonomian masayarakat pada saat itu.
Beliau kembali kekampung halaman untuk mengajar disalah satu pondok pesantren Darussalam Parmeraan yang baru saja didirikan oleh abang kandungnya sendiri yang tamatan dari Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang Sumatera Barat. Di tahun keempat beliau mengajar di pesantren beliau mengakhiri masa mudinya dan menikah dengan salah
satu pemuda dari kampungnya sendiri. Selain menjadi seorang guru dipesantren beliau juga menjadi petani, hal ini dilakukan karena pendapatan dari mengajar dipesantren tidaklah seberapa dikerenakan masih minimnya santri dan santriwati yang belajar di pesantren kala itu.
Menjadi seorang ustadzah yang mengajar di pesantren dilakukan sudah hampir 30 tahunan. Menjadi seorang ustadzah ditengah masyarakat Batak Angkola yang dominan patriarki tidak meyurutkan semangatnya untuk mengabdi kemasyarakat sebagai suluh dari ketidaktahuan ilmu agama.
Dalam kesempatan dakwah beliau pernah memberikan ceramah agama di hadapan semua kalangan masyarakat meskipun tidak sesering ustadz laki-laki.
Setalah 10 tahunan lebih mengajar di pesantren barulah beliau melanjutkan pendidikannya dijenjang perguruan tinggi Universitas Islam Labuhan Batu (UNISLA). Perguruan tinggi ini membuka cabang di ibu kota kecamatan (Sipiongot) dan berpusat di kota Rantau Prapat Labuhan Batu. Ustadzah Hotder Liana merupakan seorang ustadzah yang yang dituakan dan disegani di Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan, beliau mengampu mata pelajaran fiqih dan masuk ke kelas MTs dan Aliyah.
Pandangan–pandangan beliau mengenai permasalahan agama terutama mengenai hukum-hukum fiqih dalam Islam sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat jika beliau langsung mengajarkannya ke masyarakat. Namun kendala pemikiran yang masih mengutamakan ustadz dibanding ustadzah serta akses jalan yang kurang bagus di daerah kecamatan Dolok membuat jangkauan ustadzah hanya di sekitar pesantren dengan hubungan antara
beliau sebagai seorang guru dengan santri sebagai murid. Sekarang beliau masih aktif mengajar di pesantren Darussalam Permeraan dan selama keikutsertaannya di pesantren itu beliau tidak pernah mendapatkan jabatan sterategis dalam kepengurusan dipesantren itu.
Profile Informan Kunci
Nama : Siti Rayo Pane, S.Pd Alamat : Desa Parmeraan Jenis Kelamin : Perempuan Etnis : Batak Angkola Status : Menikah Pekerjaan : Guru
Penghasilan : Rp 3.000.000,-/bulan
Ustadzah Rayo Pane lahir ditahun 1968 di desa Turunan, kecamatan Saipar Dolok Hole, kabupaten Tapanuli Selatan. Beliau merupakan seorang ustadzah tamatan pondok pesantren tertua d Sumatera Utara yaitu pondok pesantren Mustofawiyah Purba Baru di kabupaten Mandailing Natal, Panyabungan. Ustadzah Rayo Pene berasal dari daerah paling terujung kawasan kabupaten Tapanuli Selatan. Kehidupan masyarakat hanya bersandar dari hasil pertanian, kopi, dan karet. Tingkat kesejahteraan masyarakat sangat rendah sehingga masih lazim didapati masyarakat yang hidup dalam belenggu kemiskinan.
Ustadzah Rayo Pane kecil bersekolah di SDN Turunan di desa Turunan, kecamatan Saipar Dolok Hole, Tapanuli Selatan tahun 1973.
Setelah tamat dari sekolah dasar beliau tidak mau menganggur dan mesti melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi. Di tahun 1979 beliau masuk pondok pesantren Mustofawiyah Purba Baru kabupaten Mandailing Natal. Beliau masuk madrasah Tsanawiyah swasta (MTsS) Mustofawiyah Purba Baru yang jaraknya lebih dari 50 km dari kampungnya desa
Turunan. Tiga tahun ustadzah Rayo Pane di pesantren menimba ilmu agama beliau lulus tingkatan Tsanawiyah dan melanjutkan pendidikannya sampai jenjang aliyah di pesantren itu. Selama beliau di pesantren beliau merupakan orang yang aktif dalam keorganisasian baik osis sekolah maupun organisasi yang kedaerahan yang berasal dari wilayah kelahiran beliau. Dalam kepengurusan keorganisasian itu beliau menjadi ketua umum khusus untuk perempuan.
Organisasi kedaerahan yang beliau ketuaimenjabat selama 1 tahun dan setiap permasalahan serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan santriwati yang berasal dari daerah beliau berada di bawah tanggung jawab beliau. Selama beliau enam tahun di pesantren Mustofawiyah, beliau dan santri serta santriwati yang lain sering diajak oleh pimpinan untuk ikut berdakwah memberikan ceramah kekampung-kampung untuk melatih mental dan ikut serta menyiarkan ajaran agama Islam pada saat itu. Setelah tamat beliau tidak langsung melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi namun beliau lebih memilih mengajar di pesantren. Tempat megajar beliau pertama kali di pondok pesantren Darul Ulum desa Pijorkoling kecamatan Dolok selama lebih kurang tiga tahun. Selama beliau mengajar di pondok pesantren tersebut beliau sangat dipandang oleh masyarkat di sekitaran pesantren, beliau berani berceramah mengatakan mana yang salah dan mana yang benar di hadapan semua kalangan sehingga orang sangat menaruh hormat dan decak kagum terhadapnya. Di tahun ketiga beliau mengajar di pesantren beliau melepas masa kegadisannya menikah dengan seorang pria yang berasal dari desa Parmeraan. Setelah tinggal di desa
Parmeraan beliau mengajar di pondok pesantren Darussalam Parmeraan sebagai guru akidah akhlak dan ilmu bahasa arab (syorof). Dari sejak beliau menikah sampai sekarang masih mengajar dipondok pesantren Darussalam Parmeraan lebih kurang hampir 20 tahunan lamanya beliau mangabdikan diri untuk pesantren Darussalam Parmeraan dan berdakwah di tengah-tengah masyarakat.
Profile Informan Kunci
Nama : Emna Surya Darma Rittonga, S.Pd.I Alamat : Desa Parmeraan
Jenis Kelamin : Perempuan Etnis : Batak Angkola Status : Menikah Pekerjaan : Guru
Penghasilan : Rp 3.000.000,-/bulan
Ustadzah Emna Surya Ritonga merupakan seorang ustadzah yang menammatkan kuliahnya diperguruan tinggi Islam Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat. Beliau lahir tahun 1983 di desa Parmeraan dari keluarga yang sangat sederhana dengan enam bersaudara empat perempuan dan dua laki-laki. Ustadazah Emna kecil bersekolah di SDN Parmeraan sempai tamat, selama beliau bersekolah di sekolah dasar acapkali beliau dengan orang tuanya dan juga saudara-saudara yang masih belajar di bangku sekolah dasar menginap di sawah untuk menjaga sawah dari binatang buruan. Setelah menammatkan pendidikan sekolah dasar beliau melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren yang ada di desa tersebut, yaitu pondok pesantren Darussalam Parmeraan.
Beliau merupakan seorang santri yang pintar dan cerdik sehinggga sering sekali menjadi utusan untuk perlombaan cerdas cermat di
kecamatan pada moment tujuh belasan. Bukan hanya pintar, beliau juga mempunyai suara yang lantang sehingga sehingga jika ada acara pelatihan muhadrah (ceramah) di pesantren beliau sering dijadikan sebagai pembawa acara dan menjadi penceramahnya karena kejelasan suara serta intonasi suara yang disukai oleh orang banyak. setelah tamat Tsanawiyah beliau melanjutkan ke madarasah aliyah selama tiga tahun di pesantren yang sama. Dalam kurun waktu ini kemampuan beliau semakin terasah dan terbimbing dengan baik.
Setelah menammatkan pesantren beliau melanjutkan pendidikan keperguraan tinggi Agama Islam Negeri Imam Bonjol, di sana beliau mengambil jurusan pendidikan sejarah kebudayaan Islam (SKI). Selama empat tahun kuliah di Padang beliau dalam serba kekurangan yang memaksa beliau memutar otak untuk bisa bertahan hidup dan melanjutkan pendidikan sampai tamat. Sebagai seorang tamatan pesantren menjadi modal yang sangat berharga dan besar yang dimiliki beliau. Menjadi guru mengaji anak menajadi salah satu alternative yang beliau lakukan untuk mendapatkan rupiah demi bertahan dalam menuntut ilmu. Penghasilan yang beliau dapatkan memang tidak seberapa namun sangat membantu keuangan beliau, bukan itu saja, bermodal bekal ilmu agama yang didapat di pesantren acapkali beliau dipanggil untuk mengisi ceramah dipengajian khusus perempuan selama menempuh Pendidikan sarjana.
Setelah lulus S1 beliau lebih memilih pulang ke kampung halaman dan mengabdikan diri di pondok pesantren tempat beliau dulu menimba ilmu. Setelah kira–kira beliau mengajar di pesantren selama setahun
setengah beliau menikah dengan pemuda yang berasal dari desa yang sama. Dari profesi beliau sebagai seorang ustadzah beliau berpenghasilan tiga juta rupiah perbulannya dan beliau juga merupakan sudah menjadi guru yang sertifikasi. Namun manjadi seorang ustadzah hanya terbatas pada urusan antara guru dengan murid, beliau tidak memiliki kebebasan untuk berceramah di tengah masyarakat terlebih setelah berkeluarga.
Profile Informan Kunci
Nama : Tiromlah Harahap, S.Pd Alamat : Desa Parmeraan
Jenis Kelamin : Perempuan Etnis : Batak Angkola Status : Menikah Pekerjaan : Guru
Penghasilan : Rp 3.000.000,-/bulan
Ustadzah Tiromlah Harahap merupakan seorang ustadzah yang lahir di desa Rongkare sebuah desa di tengah perbukitan yang jaraknya sangat jauh dari Pasar Sipiongot, kecamatan Dolok sekitar tahun 1970-an.
Jarak yang harus ditempuh beliau pada masanya lebih kurang 5 jam perjalanan dengan berjalan kaki menuju Sipiongot ibu kota kecamatan.
Ustadzah Tiromlah di masa kecilnya bersekolah di SDN Sibayo tahun 1976. Sekolah dasar tersebut berjarak sekitar 2 km dari desa beliau sehingga setiap harinya beliau harus pulang-pergi berjalan kaki menyusuri
Ustadzah Tiromlah di masa kecilnya bersekolah di SDN Sibayo tahun 1976. Sekolah dasar tersebut berjarak sekitar 2 km dari desa beliau sehingga setiap harinya beliau harus pulang-pergi berjalan kaki menyusuri