SUBORDINASI DAN MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM KANCAH DAKWAH
(Studi Kasus Tokoh Agama (Da’i dan Da’iyah) dan Tokoh Adat di Masyarakat Kecamatan Dolok, Padang Lawas Utara)
S KR I P S I
Diajukan oleh:
MHD ADE PUTRA RITONGA NIM 160901050
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2020
SUBORDINASI DAN MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM KANCAH DAKWAH
(Studi Kasus Tokoh Agama (Da’i dan Da’iyah) dan Tokoh Adat di Masyarakat Kecamatan Dolok, Padang Lawas Utara)
ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana permasalahan yang terjadi terhadap posisi ustadzah perempuan yang tersubordinasi serta dipinggirkan haknya akibat dominasi ustadz laki-laki dalam kegiatan menyampaikan dakwah di tengah-tengah masyarakat, yang berdampak terhadap tidak maksimalnya peran, kontribusi serta penghasilan yang diterima oleh ustadzah dalam menyampaikan ilmu agama kemasyarakat. Secara tidak langsung dapat memiskinkan ulama perempuan akibat kurangnya kesempatan mereka dalam kancah dakwah. Posisi ustadzah (da‟iyah) sebagai seorang penceramah belum menjadikan kancah dakwah itu sebagai sumber mata pencaharian bagi mereka. Hal ini dikarenakan oleh pandangan yang berlaku dimasyarakat yang menganggap kedudukan laki- laki lebih tinggi dibanding perempuan (Patriarki).
Studi ini dilakukan di Kecamatan Dolok, Kabupatean Padang Lawas Utara menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara (interview) dan dokumentasi kepada narasumber yakni ulama (tokoh agama), tokoh adat dan guru agama di pondok pesantren yang ada di Kecamatan Dolok. Dalam penelitian ini pemilihan informan ditetapkan dengan cara purposive sampling sebanyak 12 orang.
Berdasarkan hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa telah terjadinya proses subordinasi terhadap posisi mereka sebagai ustadzah serta terjadinya pemiskinan terhadap ustadzah (da‟iyah) dalam kancah dakwah. Para tokoh agama dan tokoh adat menganggap ustadzah harus menjaga marwahnya sebagai perempuan yang harus selalu berada dibawah kendali suami supaya tidak menimbulkan aib atau fitnah bagi mereka ustadzah (da‟iyah), posisi mereka harus tetap pada peran domestik sebagai ibu rumah tangga. Posisi tawar sebagai ustadzah masih kalah dari keberadaan ustadz sehingga para tokoh agama dan adat menganggap kurang lazim ustadzah itu memberikan ceramah ditengah masyarakat umum serta untuk mendapatkan bayaran ketika memberikan ceramah.
Kata Kunci : Subordinasi, Marginalisasi, Da’iyah, Dakwah
THE SUBORDINATION AND THE MARGINALIZATION OF WOMEN IN PREACHING FIELD
(Case Study of Religious Leaders (Da'i and Da'iyah) and Traditional Leaders in the Community of Dolok District, Padang Lawas Utara)
ABSTRACT
This study examines how the problems that occur in the position of women ustadzah who are subordinated and marginalized due to the domination of male religious teachers in the activities of delivering da'wah in the midst of society, which has an impact on the role, contribution and income received by ustadzah in delivering knowledge. social religion. This can indirectly impoverish women ulama due to their lack of opportunities in the field of da'wah. The position of the ustadzah (da'iyah) as a speaker has not made the da'wah scene a place to earn a living, or as a source of livelihood for the da'iyah. This is due to the prevailing view in society which considers the position of men to be higher than women (Patriarchy).
This study was conducted in Dolok District, North Padang Lawas Regency using a qualitative approach. Data collection was carried out through interviews and documentation to resource persons, namely scholars (religious leaders), traditional leaders and religious teachers at Islamic boarding schools in Dolok District. In this study, the selection of informants was determined by purposive sampling of 12 people.
Based on the results of this study, it is concluded that there has been a process of subordination to their position as ustadzah and the impoverishment of ustadzah (da'iyah) in the domain of da'wah. Religious and traditional leaders consider ustadzah to maintain their spirit as a woman who must always be under the control of their husbands so as not to cause disgrace or slander for them ustadzah (da'iyah), their position must remain in the domestic role as housewives.
The bargaining position as an ustadzah is still inferior to that of the ustadz so that religious and traditional leaders consider it unusual for the ustadzah to give lectures in the middle of the general public and to get paid when giving lectures.
Keywords: Subordination, Marginalization, Da'iyah, Da'wah.
KATA PENGANTAR
Puji syukur yang termat dalam kehadirat Allah SWT, karena atas segala rahmat serta ridho-Nya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“SUBORDINASI DAN MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM KANCAH DAKWAH (Studi Kasus Tokoh Agama (Da’i dan Da’iyah) dan Tokoh Adat di Masyarakat Kecamatan Dolok, Padang Lawas Utara)” dengan baik. Studi ini mendeskripsikan bagaimana keadaan serta posisi ustadzah (da‟iyah) dalam masyarakat Kecamatan Dolok akibat subordinasi dan marginalisasi yang dialami oleh mereka dalam kancah dakwah sehingga menyebabkan pemiskinan baik secara materi dan keilmuan terhadap ustadzah.
Selama melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis memperoleh dukungan moril dan materil tanpa pamrih yang telah diberikan dari berbagai pihak sampai hari ini sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di FISIP USU ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada :
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Harmona Daulay, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi saya dan juga sebagai Ketua Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara penulis ucapkan terimakasih banyak atas ilmu pengetahuan yang diberikan serta kesabaran dalam membimbing saya dan menjadi amal ibadah. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan panjang umur selalu kepada ibuk..
3. Bapak Drs. T. Ilham Saladin, MSP selaku ketua penguji skripsi saya serta selaku Sekretaris Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara dan juga terimakasih banyak kepada ibuk Dra. Linda Elida, M.Si sebagai penguji skripsi saya.
4. Bapak DRS. Muba Simanihuruk, M.Si selaku dosen pembimbing akademik selama kuliah di Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara
5. Staf dan karyawan Program Studi Sosiologi yakni Kak Ernita dan Bang Abel Staf dan karyawan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
6. Secara khususnya saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua yang saya cintai dan sayangi. Terima kasih telah membesarkan dan mendidik saya, memberikan dukungan moril, materil, cinta, perhatian, kasih sayang dan terutama doa yang senantiasa disampaikan. Terima kasih untuk selalu mendukung, mendoakan, dan menyemangati saya. Terima kasih karena selalu ada untuk saya, kalian adalah anugerah terbesar yang Allah berikan dalam hidup saya. Tanpa kalian berdua, saya tidak akan bisa sampai pada tahap ini dan menyelesaikan skripsi ini dengan baik, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, karunia dan keberkahan di dunia dan di akhirat kepada kedua orang tua untuk semua yang telah diberikan kepada penulis
7. Terimakasih banyak kepada seluruh keluarga saya terkhusus kepada kakak saya Deffi Syahfitri Ritonga, M.Hum, Syilvia Kurnia Ritonga, LC, MPd. Dan juga abang saya Andi Darussalam Ritonga, ST, Sultan Hasanal Bolkia Ritonga, ST.
8. Kepada sahabat seperjuangan Hasan Manganju Azhari Purba dan Yobel Tri Putra Pinem yang telah menghibur di saat stress melanda terimakasih banyak telah telah mewarnai kehidupan semasa kuliah saya.
9. Kepada Hotmaida Ritonga, Rosmawati Sagala, Nurul Hidayah Siregar, dan Adelina Huta Barat terimakasih banyak telah membantu semoga jadi amal ibadah untuk kita semua
10. Terkhusus untuk adek saya Mariana Libra Rambe S.Sos terimakasih banyak telah memahami, saling membantu dan saling memotivasi serta saling menguatkan dalam perjuangan menyelesaikan skripsi ini.
11. Kepada teman – teman stambuk 2016 Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, terkhusus untuk Noor Atika S.Sos, Dyah Anggeraini S.Sos, Harisah Putri, Yogi Pras Aditya terima kasih atas segala bantuan dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini dan terimakasih telah menjadi teman menimba ilmu selama menjalani masa – masa perkuliahan.
12. Terimakasih juga kepada Pondok-pondok pesantren yang ada di daerah kecamatan Dolok, Kabupaten Padang Lawas Utara terkuhusus Pesantren Darussalam Parmeraan. Terimakasih sebesar-besarnya juga
kepada seluruh informan yang sangat membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih ada kekurangan baik dari segimateri maupun penyajiannya. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan karya tulis ini. penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan menambah wawasan bagi pembaca khususnya bagi penulis juga.
Medan, 01 September 2020 Penulis
Mhd Ade Putra Ritonga NIM : 160901050
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ……… iii
DAFTAR ISI ………. vii
DAFTAR TABEL ... ix
BAB I: PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 15
C. Tujuan Penelitian ... 15
D. Manfaat Penelitian ... 15
E. Definisi Konsep ... 16
1. Subordinasi ... 16
2. Marginalisasi Perempuan ... 17
3. Da‟iyah ... 18
4. Dakwah ... 18
BAB II: KAJIAN PUSTAKA ... 20
A. Subordinasi Perempuan ... 20
B. Marginalisasi Perempuan ... 21
C. Dakwah ... 26
D. Da‟i dan Da‟iyah ... 31
E. Teori Gender ... 37
F. Penelitian Terdahulu ... 39
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN ... 42
A. Jenis Penelitian ... 42
B. Lokasi Penelitian ... 42
C. Teknik Pengumpulan Data ... 43
1. Wawancara ... 43
2. Dokumentasi ... 44
D. Sumber Data ... 44
E. Informan ... 44
F. Teknik Analisis Data ………. 35
G. Teknik Penyajian Data ……….. 47
BAB IV: PEMBAHASAN ... 48
A. Gambaran Umum Lokasi dan Objek Penelitian ... 48
1. Kecamatan Dolok ... 48
2. Gambaran Umum Informan ... 52
B. Subordinasi Ulama Perempuan Dalam Kancah Dakwah ... 77
1. Budaya, Dogma Agama Mempengaruhi Pandangan Masyarakat Terhadap Keberadaan Ulama Perempuan ... 78
2. Kurangnya Peluang Ulama Perempuan Untuk Mengembangkan Dakwah …... ……….. 86
3. Pandangan Perbedaan Posisi Antara Perempuan dan Laki-Laki Sebagai Hambatan Ulama Perempuan Untuk Berdakwah ……… 88
C. Marginalisasi Ulama Perempuan Dalam Kancah Dakwah……….. 97
1. Peminggiran Hak Ulama Perempuan ……….. 98
2. Pemiskinan Ulama Perempuan ……….……. 105
D. Analisis Gender Keberadaan Ulama Perempuan (Da‟iyah) Dalam Masyarakat Kecamatan Dolok ………. 111
BAB V: PENUTUP ... 121
A. Kesimpulan ... 121
B. Saran ………... 123
DAFTAR PUSTAKA ... 125 LAMPIRAN – LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tebel 1 Data Jumlah Ustadz dan Ustadzah ... 11
Tabel 2 Data Alumni Pon-Pes Darussalam Parmeraan Tahun 2017-2019 ... 11
Tabel 3 Pandangan Masyarakat Terhadap Da‟iyah ... 82
Tabel 4 Hambatan Da‟iyah Dalam Berdakwah ... 90
Tabel 5 Peminggiran Hak Da‟iyah Untuk Berdakwah ………..…….101
Table 6 Perbedaan Pendapatan Ustadz dan Ustadzah dalam berdakwah …..106
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Subordinasi perempuan dimaknakan sebagai „penomorduaan‟
perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat, bahwa kedudukan perempuan lemah/rendah dibanding kedudukan laki-laki sehingga fungsi serta peran perempuan seolah-olah menjadi lebih rendah dibanding laki-laki. Perbedaan gender ini mengakibatkan ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan.
Perbedaan fungsi, peran atau tingkah laku laki-laki dan perempuan sebenarnya terlahir dan dibentuk oleh sosial-budaya serta penafsiran dogma agama yang salah pada masyarakat tertentu. Feminis liberal memandang bahwa
“subordinasi perempuan berakar pada seperangkat kendala dan kebiasaan budaya yang menghambat akses perempuan terhadap kesempatan untuk berkompetisi secara adil dengan laki-laki” (Saptari,1997).
Proses pembentukan tersebut diajarkan dan tersosialisasi secara turun- temurun dengan baik oleh setiap orangtua, adat istiadat, masyarakat, bahkan lembaga pendidikan, atau tafsir agama yang dengan sengaja atau tidak telah memberikan peran yang membuat manusia berpikir bahwa memang demikian adanya peran yang harus kita jalankan. Kenyataan ini, telah memunculkan polemik di kalangan umat Islam, khususnya para ulama, dan organisasi islam lainnya yang berkiatan dengan pandangan Islam terhadap keberadaan wanita dalam jabatan atau kedudukan strategis seorang perempuan di sektor publik itu baik itu dibidang politik, pendidikan, budaya, dan agama. Polemik ini bermula dari cara pandang masyarakat terhadap perbedaan struktur biologis
antara laki-laki dan perempuan yang berimplikasi pada peran yang diembannya dalam kehidupanbermasyarakat.
Dari struktur anatomi biologis, wanita dikonstruksi memiliki beberapa kelemahan yang lebih banyak dibandingkan dengan kaum laki-laki. Oleh sebab itu, anatomi biologi laki-laki sangat memungkinkan menjalankan sejumlah peran utama dalam masyarakat (sektor publik) karena dianggap lebih potensial, lebih kuat dan lebih produktif. Organ reproduksi dinilai membatasi ruang gerak wanita, karena secara kodrati mereka akan hamil, melahirkan dan menyusui. Sedangkan laki-laki secara kodrati tidak memiliki fungsi reproduksi tersebut. Perbedaan itu melahirkan pemisahan fungsi dan peran serta tanggung jawab antara laki-laki dengan wanita. Dalam hal ini laki-laki dipandang cocok berperan di sektor publik sedangkan wanita dipandang cocok berperan di sektor domestik.
Dalam praktik yang berkembang dimasyarakat, tidak semua golongan mendapat pengakuan atas peran serta kontribusinya secara universal. Terlebih jika peran serta kontribusinya dikaitkan dengan aturan-aturan agama, adat, dan budaya seperti contoh sistem budaya patriarki. Langgengnya praktik budaya patriarki dimasyarakat sudah barang tentu menguntungkan bagi beberapa pihak dan merugikan pihak-pihak lainnya baik secara moral maupun secara material. Dalam kasus ini pihak yang biasanya paling dirugikan adalah perempuan. Perempuan dalam persepsi patriarki identik dengan tugas-tugas rumah, malayani suami, anak, mertua, mengurus segala urusan rumah tangga lainnya, dan kehidupan tentangnya dipenuhi oleh tabu yang secara tidak langsung mengekang perempuan untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan
yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Dalam kehidupan sosial, pola ini terlihat dari pembagian kerja sosial yang terjadi di tengah masyarakat, di mana profesi sebagai guru, perawat, SPG, buruh pabrik lebih banyak didominasi oleh perempuan. Hal ini berbanding terbalik dengan profesi sebagai engineer, kontraktor, polisi, pengusaha, pendakwah dan masih banyak lagi didominasi oleh laki-laki.
Pola pembagian kerja yang seperti ini dalam masyarakat tidak terjadi begitu saja, melainkan sebagai hasil dari penanaman budaya sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam. Pekerjaan-pekerjaan yang identik dengan perempuan dianggap feminism dan pekerjaan yang identik dengan laki-laki dianggap maskulin. Sebagai contoh, tingginya rasio antara guru laki-laki dengan perempuan salah satunya diakibatkan oleh pemahaman yang menganggap pekerjaan sebagai guru berasimilasi feminim. Hal ini dikarenakan guru dipersepsikan sebagai seseorang yang lemah lembut dan mengayomi serta sabar menghadapi murid-muridnya. Sikap lemah lembut, sabar dan mengayomi adalah sifat-sifat yang lebih berafiliasi feminism ketimbang maskulin. Oleh sebab itu, tidak heran jika pekerjaan ini kemudian lebih dinisbatkan sebagai tugasnya perempuan.
Perbedaan gender dan sifat-sifat maskulin feminism secara tidak langsung membentuk kotak-kotak penghalang antara laki-laki dan perempuan di tengah masyakat, yang mana hal ini berimbas pada pandangan masyarakat berkaitan dengan pilihan kerja masing-masing pihak. Sebagai contoh, ketika perempuan mendobrak tradisi dengan memilih pekerjaan yang sifatnya maskulin, secara otomatis akan terdapat banyak anggapan-anggapan
meremehkan yang muncul di tengah kehidupan masyarakat. Salah satu bentuk pekerjaan yang selama ribuan tahun dinisbatkan kepada laki-laki adalah sebagai pendakwah (da‟i, muballigh, ulama, ustadz dan masih banyak istilah lainnya). Laki-laki yang berprofesi sebagai pendakwah diberi tempat yang mulia di tengah masyarakat, reputasinya disegani, Namanya banyak dikagumi orang, dan sepak terjangnya diapresiasi.
Penerimaan masyarakat yang luar biasa terhadap kiprah pendakwah laki-laki, seringkali berbanding terbalik jika pendakwah tersebut berjenis kelamin perempuan. Hal ini tentu saja kembali kepada persoalan representasi citra perempuan di tengah masyarakat. Agama dan budaya memoles perempuan sebagai makhluk yang lemah lembut, mudah goyah pendiriannya, suara yang lembut adalah aurat yang bisa menjadi malapetaka bagi laki-laki, dan penampakan tubuhnya dianggap dapat memberikan godaan pada laki-laki.
Kepercayaan-kepercayaan ini yang kemudian menggiring opini bahwa perempuan tidak seharusnya meninggikan suara di atas suara laki-laki, bahwa perempuan tidak semestinya berada di tengah laki-laki untuk memberikan ceramah, yang mana secara akal dan mental laki-laki lebih teguh pendirian dari pada perempuan. Oleh sebab itu, muncullah anggapan bahwa perempuan hanya layak memberi ceramah bagi sesama kaumnya, bahkan jika perempuan tersebut memiliki tingkat keilmuan yang lebih mumpuni dibanding para lelaki yang ada.
Dalam Islam, pada dasarnya ajaran agama Islam yang terdapat dalam al-Qur‟an maupun hadits-hadits Nabi sangat toleran dan menghargai perempuan. Hal ini terbukti dari banyaknya pernyataan dalam al-Qur‟an yang
menunjukkan persamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Satu- satunya perbedaan paling sering disebutkan al-Qur‟an antara laki-laki dan perempuan adalah tingkat keimanan dan ketaqwaan mereka di sisi Allah saw.
Persoalan pembedaan ini kemudian muncul menggiringi banyaknya penafsiran-penafsiran al-Qur‟an dan hadith yang bersifat misoginis (mengintimidasi perempuan). Penafsiran-penafsiran atas tubuh dan laku perempuan tentunya dilakukan secara sadar oleh laki-laki dari berbagai zaman ke zaman lainnya, sesuai dengan bagaimana zaman tersebut ingin merepresentasikan perempuan untuk keuntungan mereka.
Sebagai contoh, dalam ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur‟an dan Hadits, perempuan dituntut memiliki dan menuntut ilmu pengetahuan sama seperti halnya laki-laki. Islam menyamakan perempuan dan laki-laki dalam kewajiban-kewajiban keagamaan maupun akademis. Hal ini dipertegaskan dalam hadits Rasulullah, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim perempuan dan laki-laki,” tanpa perbedaan. Tidak ada pengecualian bagi laki-laki maupun perempuan dalam menuntut ilmu. Namun dalam pelaksanaannya perbedaan di antara keduanya sangat terlihat kentara. Jika ditilik, fenomena ini sesungguhnya bersumber dari cara budaya dan agama merepresentasikan perempuan.
Kadang-kadang budaya bersekongkol dengan agama, tak jarang pula sebaliknya. Budaya kolot yang berkembang di tengah masyarakat dengan anggapan bahwa perempuan tidak harus memiliki ilmu akademik yang tinggi, sebab pada akhirnya akan mengurus orang tua, anak, dan suami, serta urusan-
urusan rumah tangga lainnya, yang pada dasarnya bisa dipelajari tanpa harus bersekolah tinggi-tinggi.
Peminggiran ini tidak terbatas pada konteks menuntut ilmu sebagai audiens, tetapi juga sebagai penyampai materi khususnya yang berkaitan dengan agama. Sebagai contoh, kebaradaan ulama-ulama perempuan dalam kancah dakwah yang berkembang di masyarakat masih mengalami intimidasi social dalam penerimaannya di masyarakat. Sedikitnya figur ulama perempuan yang eksis di tengah kehidupan masyarakat baik itu lewat media televisi, saluran Youtube, maupun keberadaannya dalam departemen-departemen keagamaan di bawah naungan negara, menandai bahwa masih kuatnya pemahaman patriarki di tengah masyarat. Jumlah ini tentunya berbanding terbalik dengan keberadaan serta mendominasinya laki-laki dalam dunia dakwah maupun sebagai pengurus di departemen-departemen keagamaan milik negara.
Salah satu contohnya dapat ditelusuri dalam kepengurusan kelembagaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang mana jumlah ulama perempuan yang berada di bawah naungan MUI tidak sebanding dengan jumlah anggota ulama laki-laki. Hal ini juga berpengaruh pada pola pembagian kerja di MUI yang posisi-posisi strategisnya didominasi ulama laki-laki. Kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) priode 2015–2020 yang diketuai oleh Kyai H. Makruf Amin hanya terdapat tiga posisi strategis yang dijabat oleh ulama perempuan yaitu pertama di bidang Fatwa yang diketuai oleh ibu Prof.Dr. Hj. Huzaemah T. Tango, dan di bidang perempuan, remaja, dan keluarga yang diketuai oleh ibu Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, MA
dan wakil sekjennya ibu Prof. Dr. Hj. Valina Singka Subekti(https://mui.or.id/kepengurusan-mui/ – diakses tanggal 28, Oktober 2019, pada jam 13.20 WIB).
Sedikitnya keanggotaan ulama perempuan dalam formasi kepengurusaan MUI sangat berpengaruh terhadap keberadaan, peran, serta kontribusi ulama perempuan dalam kancah dakwah di masyarakat. Sedikitnya ulama perempuan yang bisa diterima masyarakat dalam kancah dakwah di Indonesia meski pendidikan agama seperti pesantren-pesantren dan juga perguruan tinggi Islam sangat banyak meluluskan santriwati yang kompeten dalam keilmuan agam Islam, menunjukkan bahwa kondisi yang terjadi di masyarakat masih terdapat blok-blok pemisah atau pembagian peran antara pandangan terhadap laki-laki dan perempuan.
Mirisnya peminggiran hak ulama perempuan dalam kancah dakwah juga terjadi ketika moment bulan Ramadhan. Hal ini mengacu pada setiap rehat antara sholat isya dan sholat tarawih diisi dengan ceramah yang biasa disebut dengan istilah kultum (kuliah tujuh menit). Tujuan kultum sendiri adalah memberikan ceramah maupun wejangan singkat terkait permasalahan agama sebelum melaksanakan ibadah solat tarawih. Yang kemudian menjadi perhatian adalah dalam penyampaiannya di masjid manapun belum pernah didapati ustadzah atau ulama perempuan yang menjadi penceramah sejak malam pertama sampai terakhir Ramadhan dan terus berulang setiap tahunnya (https://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/dimanakah-
penceramahperempuan/ diakses 28, Oktober 2019, pada jam 15.00 WIB).
Bahasan mengenai subordinasi, marginalisasi ulama perempun dan kontribusinya di tengah masyarakat menjadi keresahan akademik sendiri bagi penulis. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini, penulis secara khusus akan meneliti lebih lanjut berkaitan dengan posisi ulama perempuan di tengah masyarakat, pandangan-pandangan yang mengitarinya, serta bagaimana bentuk pemiskinan yang dirasakan oleh ulama perempuan (da‟iyah) . Disebabkan persoalan ini memiliki ranah yang sangat luas sekali, oleh sebab itu, penulis akan membatasi ranah penelitian hanya dalam kawasan kecamatan Dolok saja. Pemilihan kecamatan Dolok sebagai lapangan penelitian dintinjau dari gaya hidup masyarakatnya yang sangat patriarkis meskipun mayoritasnya beragama Islam. Hal ini tidak terlepas pula dari latar belakang penulis yang asli orang kecamatan Dolok. Faktor yang kemudian menjadikan penelitian ini kemudian lebih menarik adalah banyaknya terdapat pesantren sebagai moda pembelajaran ilmu-ilmu agama dengan banyak guru-guru (ustadzah) perempuan di dalamnya.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, kuatnya akar patriarki yang berkembang dimasyarakat Kecamatan Dolok tidak terlepas dari keberadaan masyarakatnya yang didominasi bersuku Batak. Meskipun masyarakatnya mayoritas Muslim, akan tetapi akar budaya Batak yang mengelukan dan membanggakan laki-laki lebih tertanam kuat di benak masyarakatnya dibandingkan ajaran-ajaran agama berkaitan dengan posisi laki-laki dan perempuan. Pemahaman ini secara tidak langsung berimbas pada pandangan masyarakat terhadap keberadaan pendakwah perempuan, yang sampai sekarang masih terlihat jauh dari kesan adil secara gender. Hal ini dapat
disimpulkan dari jarangnya da‟iyah diundang dalam kajian-kajian umum yang dihadiri oleh laki-laki maupun perempuan. Keberadaan da‟iyah hanya diakui sebatas pada kelompok gendernya sendiri.
Struktur sosial masyarakat yang menonjolkan peran kaum laki-laki, menjadi salah satu alasan besar dari tidak terlihatnya peran da‟iyah perempuan di tengah masyarakat. Laki-laki direpresentasikan melalui perannya di tengah kehidupan publik, bersentuhan langsung dengan anggota masyarakat lainnya, berperan sebagai yang maskulin, meski tidak jarang justru tampak tidak punya empati terhadap perempuan. Di sisi lain, perempuan direpresentasikan melalui perannya dalam ranah domestik seperti memasak, mencuci, mengurus suami, anak, orang tua, dan seringkali mengurus sawah dan ladang. Poin terakhir ini disadari atau tidak sangat mendarah daging di tengah kehidupan masyarakat kecamatan Dolok. Persepsi bahwa pekerjaan mengurus sawah dan ladang adalah bagian perempuan disamakan dengan pekerjaan mengurus keluarga yang butuh ketelatenan dan kegigihan dalam pelaksanaannya.Oleh sebab itu, tidak jarang terdapat perempuan-perempuan yang sudah lelah seharian bekerja di sawah dan ladang masih harus mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah tanggga dari mulai yang paling besar sampai yang kecil.
Tebalnya dinding pembatas antara peran laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat kecamatan Dolok, tidak bisa dipungkiri berimbas langsung pada penerimaan da‟iyah perempuan di tengah masyarakat. Dengan kondisi buadaya patriarki yang tertanam kuat, susah bagi da‟iyah perempuan maupun santriyah pesatren untuk mengorbitkan diri mereka di tengah kehidupan masyarakat seperti selayaknya penerimaan yang diterima ulama laki-laki.
Tidak diterimanya secara luas da‟iyah maupun guru-guru agama perempuan pada hakikatnya menjadi sebuah ironi tersendiri, mengingat dilingkungan kecamatan Dolok sendiri terdapat beberapa pendidikan agama Islam atau pesantren. Keberadaan pesantren ini seolah-olah tidak berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan masyarakat terhadap posisi ulama perempuan dalam berdakwah dimasyarakat. Padahal dari beberapa pesantren tersebut melakukan pemberdayaan atau pelatihan ceramah terhadap santri dan santriwatinya. Seperti contoh salah satu pesantren terbesar yang ada di daerah kecamatan Dolok, Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan yang memiliki seribu lebih santri, dalam praktiknya para santri sangat didik untuk menjadi seorang penceramah yang siap tempur di tengah masyarakat tanpa membedakan gender laki-laki ataupun perempuan.
Program pembelajaran ceramah yang berlangsung di Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan meliputi muhadharah atau belajar berceramah dan kultum (kuliah tujuh menit), yang mana program ini dijalankan tanpa membatasi gender. Santri putra dan putri semua mempunyai hak sama dalam mengikuti program pelatihan ceramah ini, akan tetapi yang mengherankan setelah mereka berada di tengah masyarakat terlihat perbedaan yang mencolok di antara keduanya. Keberadaan da‟iyah atau santri putri lulusan pesantren ini seperti tertelan bumi peran dan kontribusinya di dalam masyarakat. Dalam forum-forum ceramah di tengah masyarakat perempuan tidak mendapatkan tempat menjadi penceramah, karena menurut kebiasaan yang berlaku mereka hanya di posisikan sebagai pendengar atau penyedian makanan. Dalam penelitian ini, selain berfokus meneliti pandangan-pandangan tokoh adat dan
tokoh agama, sumber penelitian ini juga akan difokuskan kepada ustadz dan ustadzah yang mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan. Hal ini dilakukan mengingat kontribusi Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan yang sangat besar bagi pengembangan dakwah Islamiyah di tengah kehidupan masyarakat kecamatan Dolok.
Adapun perbandingan jumlah ustadz dan ustadzah serta perbandingan jumlah santri dan santriwati pondok pesantren Darussalam Parmeraan di tiga tahun tamatan terakhir adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Data jumlah ustadz dan ustadzah
No Pengajar Jumlah
1 Ustadz 17 Orang
2 Ustadzah 21 Orang
Tabel 2. Data alumni Pon-Pes Darussalam Parmeraan tahun 2017-2019
Sumber : 1. Badan Silaturahmi Pon-Pes (BSPP) Padang Lawas Utara 2.Tata Usaha (TU) Pon-Pes Darussalam Parmeraan
Apabila diperhatikan seksama, data di atas menunjukkan bahwa di lingkungan intern pesantren jumlah ustadzah perempuan lebih mendominasi dibandingkan dengan jumlah ustadz laki-laki. Kelebihan jumlah ini pada satu titik cukup membanggakan sebab menjadi bukti bahwa Pondok Pesantren
No Tahun Tamatan Santri Santriwati 1 Alumni 2017 43 Santri 75 Siswi 2 Alumni 2018 48 Santri 86 Siswi 3 Alumni 2019 50 Santri 97 Siswi
Darussalam Parmeraan cukup terbuka memandang perbedaan gender. Akan tetapi, masalah kemudian muncul ketika jumlah ini dibawa ke ranah publik yang lebih luas, di mana jumlah ustadz laki-laki yang lebih sedikit justru lebih unggul dan diterima di tengah publik dibanding para ustadzah ini. Kondisi terjadi akibat masih tidak lazimnya pandangan terhadap perempuan bekerja sebagai juru dakwah di tengah masyarakat, sehingga keberadaan mereka hanya diakui sebatas ruang internal saja, antara guru dan murid atau antar sesama guru di wilayah internal pesantren.
Persoalan marginalisasi terhadap ustadzah (juru dakwah) perempuan pada dasarnya bukan hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga terjadi di lingkungan internal dunia kerja mereka. Ustadzah perempuan hampir tidak pernah menjabat posisi-posisi strategis dalam struktur administrasi sekolah.
Hal ini merupakan akibat dari tata kelola pesantren yang berbasis kekeluargaan, sehingga hanya keluarga-keluarga dekat saja yang dapat menduduki jabatan-jabatan strategis dalam kepengurusan yayasan.
Sekalipuun begitu, ustadzah jangankan ustadzah yang tidak memiliki hubungan secara keluarga, ustadzah yang memiliki hubungan erat sebagai keluarga juga sangat sulit mendapatkan posisi strategis tersebut. Kalaupun ada, posisinya hanya sebatas bendahara sekolah.
Posisi sulit bagi para ustadzah ini untuk mengembangkan potensi dirinya sebagai juru dakwah di tengah masyarakat didukung oleh kepercayaan masyarakat yang masih sangat patriarkal. Mereka yang berani menyuarakan haknya di tengah publik tak jarang justru menjadi bahan omongan bagi masyarakat, yang parahnya tidak hanya dilakukan oleh kaum lelaki, tetapi
juga oleh kaum perempuan itu sendiri. Kondisi fisik, mental, ajaran agama, dan budaya yang berlaku menggiring opini publik bahwa perempuan tidak layak berada berdiri di tengah masyarakat sebagai juru dakwah yang menyuarakan firman-firman Tuhan dan hadist-hadist Nabi. Sekalipun tidak mendapat tempat terbuka di tengah publik yang berisi laki-laki dan perempuan, jika diamati lebih dalam, para juru dakwah perempuan ini ternyata masih tetap bisa berkontribusi menjalankan profesinya sebagai pembawa pesan keagamaan. Hanya saja,ruang yang tersedia bagi mereka lebih sempit dibanding ruang yang disediakan bagi juru dakwah laki-laki.
Keberadaan juru dakwah perempuan ini diakui untuk memimpin doa-doa, yasinan, tahlilan, maupun pengajian-pengajian keagamaan, dengan cacatan hanya untuk golongan mereka sendiri (perempuan).
Fenomena ini pulalah yang kemudian juga mengikuti para santriyah lulusan pesantren, yang di antara mereka tak jarang terdapat santriyah yang keilmuan agamanya sangat mumpuni, akan tetap ketika kembali ke masyarakat, mereka hanya dianggap kredibel hanya sebatas guru ngaji anak- anak kampung atau menjadi pemimpin doa-doa dan tahlilan yang hanya dihadiri oleh kaum perempuan. Di mata kaum laki-laki, sekalipun keilmuan dan prestasi mereka diakui, akan tetapi selalu terdapat pembatas bernama norma dan adat budaya yang menghalangi mereka untuk berperan secara bebas di tengah masyarakat yang lebih universal.
Pesantren-pesantren yang terdapat di Kecamatan Dolok pada dasarnya memiliki guru-guru perempuan (ustadzah) yang sangat mumpuni dan kredibel dalam bidang keilmuan mereka masing-masing. Sehingga sangat mungkin
mereka dapat mengajarkan ilmu-ilmu agama di tengah masyarakat secara kritis dan kompeten.
Namun, batasan-batasan tak tertulis yang dipegang masyarakat sebagai tuntunan hidup menjadikan potensi dan keberadaan mereka hanya berlaku dalam ruang-ruang kelas dengan santri/santriyah sebagai audiensnya.
Dalam cakupan yang lebih besar, para juru dakwah perempuan ini juga belum mendapatkan tempat dalam kajian keagamaan bulanan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah kecamatan Dolok. Acara majelis taklim yang diselenggarakan sebulan sekali tersebut tidak pernah mengundang perempuan baik sebagai penceramah maupun sebagai pengurus organisasi, sekalipun kajian tersebut pada kenyataannya dihadiri oleh mayoritas kaum perempuan dari berbagai desa di Kecamatan Dolok. Fakta ini menyadarkan bahwa fenomena ketidak setaraan gender yang terjadi di Kecamatan Dolok bukan hanya terjadi dalam ranah social saja antar masyarakat, tetapi juga terjadi dalam sistem hirearki lembaga-lembaga keagamaan yang ada seperti majelis taklim, Kantor Urusan Agama (KUA), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang orang-orang yang ambil bagian di dalamnya adalah laki-laki.
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut dalam mendalam berkenaan dengan posisi da‟iyah perempuan dan kurangnya peran mereka di tengah masyarakat Kecamatan Dolok, Padang Lawas Utara. Untuk itu, penulis akan memberi judul penelitian ini, “Subordinasi dan Marginalisasi Perempuan dalam Kancah Dakwah: Studi Kasus Tokoh Agama (Da‟i dan
Dai‟yah) dan Tokoh Adat di Masyarakat Kecamatan Dolok, Padang Lawas Utara.”
B. Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini akan difokuskan pada pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut:
1. Apa bentuk subordinasi serta pemiskinan ekonomi yang dialami oleh para juru dakwah perempuan (da‟iyah) yang menyebabkan kurangnya peran mereka dalam berdakwah di Kecamatan Dolok dan bagaimana mereka menyikapi fenomena tersebut?
2. Apa pandangan tokoh adat dan agama Kecamatan Dolok dalam menyikapi posisi da‟i dan dai‟yah di tengah masyarakat?
C. Tujuan Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk subordinasi dan marginalisasi yang dialami oleh para da‟iyah dan tanggapan mereka berkenaan kondisi tersebut.
2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pandangan-pandangan tokoh agama maupun adat dalam menyikapi peran perempuan sebagai da‟iyah di tengah masyarakat yang masih menganut paham patriarki.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkandapat memberi manfaat berkelanjutan baik itu bagi masyarakat umum maupun akademisi. Oleh itu, manfaat penelitian dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu:
1. Manfaat teoritiis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi pelengkap penelitian-penelitian sebelumnya dan menjadi tambahan referensi bagi akademisi yang berminat untuk meneliti persoalan gender dan perempuan.
2. Manfaat praktis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang gender dan perempuan, supaya masyarakat khususnya perempuan lebih aware menyikapi permasalahan dan tuduhan-tuduhan bias gender yang berkembang di tengah masyarakat yang masih berpaham patriarki.
E. Defenisi Konsep 1. Subordinasi
Sebuah pandangan yang tidak adil terhadap salah satu jenis kelamin yang didasarkan pada stereotype gender, menyebabkan penempatan salah satu jenis kelamin pada status, peran, dan relasi yang tidak setara dan adil. Biasanya laki-laki lebih dipandang unggul berada pada supraordinat posisi yang banyak berperan dalam produksi maupunpengambilan keputusan, Sementara perempuan dianggap berada pada subordinat, posisi ini merupakan penghambat akses partisipasi, fungsi kontrol terutaama yang berhubungan dengan pengambilan keputusan. Subordinasi perempuan berawal dari pembagian kerja berdasarkan gender dan dihubungkan dengan fungsi perempuan sebagai ibu.
Kemampuan perempuan ini digunakan sebagai alasan untuk membatasi perannya hanya pada peran domestik dan pemeliharaan anak, jenis pekerjaan yang tidak mendatangkan penghasilan yang secara
berangsur menggiring perempuan sebagai tenaga kerja yang tidak produktif dan tidak menyumbang kepada proses pembangunan.
2. Marginalisasi Perempuan
Menurut Fakih (2008:14), proses marginalisasi sama saja dengan proses pemiskinan. Hal ini dikarenakan tidak diberinya kesempatan kepada pihak yang termaginalkan untuk mengembangkan dirinya.
Demikian juga yang dialami oleh perempuan saat proses marginalisasi ini terjadi pada jenis kelamin. Perempuan merupakan pihak yang dirugikan dari pada laki-laki dalam hal ketidak adilan gender ini. Sebagai contoh dalam hal pekerjaan. Perempuan yang bekerja dianggap hanya untuk memberikan nafkah tambahan bagi keluarga, maka perbedaan gaji pun diterapkan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan yang telah berhasil mendapat pekerjaan di luar pun masih harus dihadapkan dengan beberapa masalah baru, misalnya saja masalah pelecehan seksual di tempat kerja, perlakuan tidak adil sesama pekerja, dan beban kerja ganda.
Perempuan menjadi pekerja kelas dua karena anggapan-anggapan yang diberikan pada pekerja perempuan membuat posisi perempuan menjadi terbelakang dan akan terus menjadi pihak yang tergantung pada laki-laki.proses marginalisasi tidak hanya terjadi di luar perempuan saja, namun marginalisasi dalam diri pribadi pun turut melanda perempuan. Hal tersebut dikarenakan adanya ketidakpercayaan diri perempuan yang membuatnya kemudian menyingkir dari persaingan. Selain itu, juga karena paksaan dari masyarakat patriarki yang telah menanamkan sifat lemah dan lembut membuat diri perempuan sendiri seperti membentengi diri dari
semua aturan tersebut. Dari berbagai sumbernya marginalisasi perempuan bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan.
3. Da’iyah
Ulama Perempuan adalah cendikiawan, intelektual pemuka agama Islam, tokoh perempuan yang dilandasi kompetensi religius (Purnama:
2006). Dalam masyarakat Indonesia, ulama perempuan sering juga disebut sebagai ustadzah atau ummi, istri ulama juga sering juga disebut dengan ummi atau bunda (guru-guru pengajian perempuan). Ustadzah, ummi maupun bunda adalah panggilan terhadap guru pengajian dalam masyarakat Indonesia pada umumnya. Ustadzah atau ummi baru diakui sebagai Ulama dalam masyarakat Indonesia khususnya kecamatan Dolok apabila ia mengajar disalah satu pesantren dan memiliki pengetahuan tentang Agama serta mendapat pengakuan dari masyarakat sebagai ulama perempuan (Dahlan: 1999).
4. Dakwah
Dakwah dalam Bahasa Arab, da„wah; "ajakan") adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak islam.
Dakwah merupakan bentuk masdar (kata kebendaan) dari kata da‟a, sehingga dakwah lebih cenderung memiliki arti ajakan dan seruan kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Dakwah Islam" atau al-dakwah al- Islamiyah. Ilmu dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara dan tuntunan
untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu.
Orang yang menyampaikan dakwah disebut "da'i" sedangkan yang menjadi objek dakwah disebut "mad'u". Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah "da'i". Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan.
Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja- raja yang berkuasa pada saat itu. (https://id.wikipedia.org/wiki/Dakwah.–
di akses tanggal 1 November 2019, pada jam 20.00 WIB.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Subordinasi Perempuan
Menurut direktorat pembinaan pendidikan masyarakat (2010), subordinasi perempuan diartikan sebagai “anggapan bahwa perempuan lemah, tidak mampu memimpin, cengeng dan lain sebagainya, mengakibatkan perempuan jadi nomor dua setelah laki-laki”. Dede Wiliam de Vries dan Nurul Sutarti (2006) mengatakan bahwa “penomorduaan terhadap perempuan merupakan titik pangkal terjadinya ketidakadilan gender”. Penomorduaan terjadi karena segala sesuatu dipandang dari sudut pandang laki-laki. Artinya, menempatkan laki-laki sebagai nomor satu atau lebih penting daripada perempuan. Sebaliknya, ketika terjadi penomorduaan terhadap perempuan menimbulkan anggapan bahwa perempuan menyandang „label‟ lemah dan laki-laki kuat. Akibatnya peran perempuan dipinggirkan. Perempuan ditempatkan di ranah domestik, sedangkan laki-laki di ranah public, yang disadari atau tidak sangat merugikan perempuan. Perempuan yang bekerja di luar rumah tangga, masih saja dibebani dengan pekerjaan-pekerjaan domestik dan sosial tanpa dibarengi dengan pembagian kerja yang adil antara laki-laki dan perempuan.
Hal ini kerap terjadi di lingkungan kita dimana perempuan memang memiliki tugas yang luar biasa sibuk dan berat. Dengan kata lain perempuan mengalami beban kerja yang lebih. Selain itu, perempuan sangat rentan terhadap kekerasan berbasis gender baik terjadi di rumah tangga maupun publik. Di kalangan masyarakat pedesaan, anak laki-laki umumnya
mendapatkan lebih banyak prioritas dibandingkan dengan anak perempuan, Subordinasi perempuan yang “lumrah” berkembang dalam budaya patriarkhi tersebut, menempatkan perempuan pada posisi yang kurang menguntungkan baik dari segi sosial, ekonomi maupun politik. Posisi ekonomi yang lemah akan berpengaruh terhadap proses komunikasi dan negosiasi dalam forum pengambilan keputusan, baik itu di rumah tangga ataupun di masyarakat luas.
Di Indonesia perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan satu dibanding empat, artinya jumlah laki-laki lebih sedikit dibanding jumlah perempuan akan tetapi sektor-sektor real perekonomian didominasi oleh laki- laki, sehingga untuk sebagian masyarakat Indonesia yang masih terkurung oleh kontruksi budaya tidak adil gender, menempatkan perempuan sebagai makhluk ‟pembantu‟ tugas laki-laki atau suami, dan memiliki beban tugas yang lebih berat ketimbang laki-laki.
B. Marginalisasi Perempuan
Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan, banyak terjadi dalam masyarakat di negara berkembang seperti penggusuran dari kampung halaman, dan eksploitasi. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. Sebagai contoh, banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki.
Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang
semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva, 1997; Mosse, 1996).
Secara bahasa, perempuan diartikan sebagai orang (manusia) yang dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui (Wolf, 1990).
Dalam perspektif ajaran Islam, antara kaum laki-laki dan kaum perempuan memiliki kodrat dan tabiat bawaan sejak lahir yang berbeda baik secara phisic maupun psychis. Tidak ada seorangpun yang dapat membantah realitas yang demikian. Dengan perbedaan yang demikian tidak berarti menurut Islam kaum laki-laki lebih unggul atau lebih rendah dari kaum perempuan, melainkan hanya menunjukkan adanya bentuk physic dan psychis atau karakter yang berbeda. Makna filosofis yang terkandung dibalik penciptaan yang demikian adalah, bahwa antara keduanya harus dapat bekerjasama dan berperan sesuai dengan kodrat dan tabiatnya masing-masing (Shihab, 2015).
Perempuan dalam pandangan Islam sesungguhnya menempati posisi yang sangat terhormat. Pandangan Islam tidak bisa dikatakan mengalami bias gender. Islam memang kadang berbicara tentang perempuan sebagai perempuan (misalnya dalam soal haid, mengandung, melahirkan dan kewajiban menyusui) dan kadang pula berbicara sebagai manusia tanpa dibedakan dari kaum laki-laki (misalnya dalam hal kewajiban shalat, zakat, haji, berakhlaq mulia, amar makruf nahi mungkar, makan dan minum yang halal dan sebagainya). Kedua pandangan tadi sama-sama bertujuan mengarahkan perempuan secara individual sebagai manusia mulia dan
kolektif, bersama dengan kaum laki-laki, menjadi bagian dari tatanan (keluarga dan masyarakat) yang harmonis.
Memahami pengertian perempuan tentunya tidak bisa lepas dari persoalan fisik dan psikis. Dari sudut pandang fisik didasarkan pada struktur biologis komposisi dan perkembangan unsur-unsur kimia tubuh. Sedangkan Sudut pandang psikis didasarkan pada persifatan, maskulinitas atau feminitas.
Perempuan dalam konteks psikis atau gender didefinisikan sebagai sifat yang melekat pada seseorang untuk menjadi feminim. Sedangkan perempuan dalam pengertian fisik merupakan salah satu jenis kelamin yang ditandai oleh alat reproduksi berupa rahim, sel telur dan payudara sehingga perempuan dapat hamil, melahirkan dan menyusui. Pada dasarnya, pola budaya patriarki yang terlanjur mengakar kuat di tengah masyarakat yang kemudian menjadikan posisi perempuan sebagai liyan. Keberadaan ini tidak jarang didukung oleh legitimasi agama maupun budaya yang diyakini. Perbedaan secara bilogis dianggap menjadi salah satu akar masalah termarginalkannya perempuan dalam kancah kehidupan sosial.
Persoalan perbedaan biologis ini menjalar pada aspek-aspek kehidupan lainnya, yang kemudian secara sepihak memberikan batasan-batasan dan larangan berupa norma-norma adat dan agama bagi perempuan untuk eksis di tengah masyarakat dengan peran-peran yang tidak dikotak-kotakkan. Dalam aksi maupun diskusi tentang perempuan, agak terkesan selalu dimulai dari pra- anggapan bahwa perempuan berada pada lapis bawah (low-layer), tertindas, dan tidak berdaya dengan bukti faktual sederet kasus seperti soal TKW, PRT, buruh perempuan, eksploitasi perempuan dalam bisnis dan sebagainya,
termasuk yang mengemuka diwaktu-waktu terakhir ini adalah tuntutan kuota perempuan dalam parlemen. Perempuan mendapat perlakuan tidak adil, tidak hanya di tempat kerja, namun juga di dalam keluarganya sendiri, yakni dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga laki-laki terhadap perempuan (Fakih, 2008:15).
Anggota keluarga berjenis kelamin perempuan tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam mengambil keputusan dalam keluarganya.
Ayah memiliki kekuasaan mutlak terhadap kehidupan istri maupun anak- anaknya, begitu pula dengan kedudukan anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki akan langsung menggantikan ayah jika yang bersangkutan pergi atau meninggal, walaupun posisi anak perempuan lebih tua dari anak laki-laki.
Kedudukan laki-laki yang dianggap lebih tinggi juga akan berimbas pada pendidikan yang rendah untuk perempuan. Hal tersebut dicontohkan ketika keadaan keluarga yang sedang mengalami krisis keuangan, maka anak laki- laki akan mendapat prioritas utama untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi daripada anak perempuan. Anak perempuan akan lebih banyak digunakan tenaganya untuk membantu urusan rumah. Hal ini karena anggapan masyarakat patriarki bahwa anak laki-laki sebagai pengganti kepala keluarga (pengganti pencari nafkah) sedangkan perempuan akan menjadi ibu rumah tangga kelak kalau sudah menikah.
Musa Hubeis (1997) dalam bukunya mengklasifikasikan perempuan menurut perannya terbagi dalam tiga kategori sebagai berikut:
1. Peran tradisional, peran ini mempercayai bahwa wanita harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, dari membersihkan rumah, memasak, mencuci,
mengasuh anak serta segala hal yang berkaitan dengan rumah tangga.
Pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dalam mengatur rumah serta membimbing dan mengasuh anak tidak dapat diukur dengan nilai uang.
Ibu merupakan figure yang paling menentukan dalam membentuk pribadi anak. Hal ini disebabkan karena anak sangat terikat terhadap ibunya sejak anak masih dalam kandungan.
2. Peran transisi, adalah peran wanita yang juga berperan atau terbiasa bekerja untuk mencari nafkah. Partisipasi tenaga kerja wanita atau ibu disebabkan karena beberapa faktor, misalnya bidang pertanian, wanita dibutuhkan hanya untuk menambah tenaga yang ada, sedangkan di bidang industri peluang bagi wanita untuk bekerja sebagai buruh industri, khususnya industri kecil yang cocok bagi wanita yang berpendidikan rendah. Faktor lain adalah masalah ekonomi yang mendorong lebih banyak wanita untuk mencari nafkah.
3. Peran kontemporer, adalah peran dimana seorang wanita hanya memiliki peran di luar rumah tangga atau sebagai wanita karier.
Sedangkan menurut Astuti sebagaimana dikutip Alghasiyah (2008) dalam skripsinya, peran gender perempuan terdiri atas:
1. Peran produktif, peran produktif pada dasarnya hampir sama dengan peran transisi, yaitu peran dari seorang wanita yang memiliki peran tambahan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarganya. Peran produktif adalah peran yang dihargai dengan uang atau barang yang menghasilkan uang atau jasa yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi. Peran ini diidentikan
sebagai peran wanita di sektor publik, contoh petani, penjahit, buruh, guru, pengusaha.
2. Peran domestik pada dasarnya hampir sama dengan peran tradisional, hanya saja peran ini lebih menitikberatkan pada kodrat wanita secara biologis tidak dapat dihargai dengan nilai uang/barang. Peran ini terkait dengan kelangsungan hidup manusia, contoh peran ibu pada saat mengandung, melahirkan dan menyusui anak adalah kodrat dari seorang ibu. Peran ini pada akhiranya diikuti dengan mengerjakan kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah.
3. Peran sosial pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan dari para ibu rumah tangga untuk mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peran wanita merupakan tata laku atau fungsi seorang wanita yang dijalankan sesuai kewajibannya sebagai seorang perempuan secara kodrati maupun secara kontruksi sosial.
C. Dakwah
Kata dakwah secara etimologis berasal dari bahasa Arab yaitu da‟a, yad‟u, da‟watan, yang berarti memanggil, menyeru, mengundang, maupun mengajak manusia kepada kebaikan dan menjauhkan dari larangan. Dakwah merupakan bentuk masdar (kata kebendaan) dari kata da‟a, sehingga dakwah lebih cenderung memiliki arti ajakan dan seruan. Abdul Aziz dalam Enjang dan Aliyuddin (2011), memberikan sedikitnya lima arti dari kata dakwah, yaitu: memanggil, menyeru, menegaskan atau membela sesuatu, perbuatan
atau perkataan yang menarik manusia kepada sesuatu, dan memohon atau meminta.
Sebagai salah satu cara untuk mengajak umat manusia (khususnya umat Muslim) ke arah kebenaran, dakwah memiliki banyak sekali definisi sebagaimana dikemukan para ahli dalam buku-buku maupun jurnal-jurnal mereka. H.S.M Nasaruddin Latif (1970) dalam bukunya Teori dan Praktik Dakwah Islamiyah, mendefinisikan dakwah sebagai setiap usaha atau aktifitas dengan lisan maupun tulisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lain untuk beriman dan mentaati Allah sesuai dengan garis-garis aqidah, syariah, dan akhlak Islamiyah. Sementara itu, Toha Yahya Umar sebagaimana dikutip Samsul Munir Amin (2009) mendefinisikan dakwah sebagai ajakan bagi manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk keselamatan dan kebahasiaan mereka di dunia dan akhirat. Menurut Syaikh Ali Mahfudz (1994), dakwah adalah memotivasi memotivasi manusia untuk berbuat kebaikan, mengikuti petunjuk, memerintahkan kebaikan dan mencegah keungkaran agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Menurut Asep Muhidin (2012), dakwah adalah upaya kegiatan mengajak atau menyeru umat manusia agar berada di jalan Allah (sistem Islami) yang sesuai dengan fitrah dan kehanifannya secara integral, baik melalui kegiatan lisan dan tulisan atau kegiatan nalar dan perbuatan, sebagai upaya menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran spiritual yang universal sesuai dengan dasar Islam. Dakwah juga dapat dimaknai sebagai proses transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam dari seorang atau sekelompok
da‟i kepada mad‟u dengan tujuan orang yang menerima transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam itu terjadi pencerahan iman dan juga perbaikan sikap serta prilaku yang Islami.
Dalam kaitannya dengan makna dakwah, Anas Habibi Ritonga (2019) dalam tulisannya menyimpulkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan secara seksama, agar dakwah dapat dilaksanakan dengan baik. Pertama, dakwah sering disalah artikan sebagai pesan yang datang dari luar.
Pemahaman ini akan membawa konsekuensi kesalah langkahan dakwah, baik dalam formulasi pendekatan atau metodologis, maupun formulasi pesan dakwahnya. Karena dakwah dianggap dari luar, maka langkah pendekatan lebih diwarnai dengan pendekatan interventif, dan para dai lebih mendudukkan diri sebagai orang asing, tidak terkait dengan apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Kedua, dakwah sering diartikan menjadi sekadar ceramah dalam arti sempit. Kesalahan ini sebenarnya sudah sering diungkapkan, akan tetapi dalam pelaksanaannya tetap saja terjadi penciutan makna, sehingga orientasi dakwah sering pada hal-hal yang bersifat rohani saja. Istilah “dakwah pembangunan” adalah contoh yang menggambarkan seolah-olah ada dakwah yang tidak membangun atau dalam makna lain, dakwah yang pesan-pesannya penuh dengan tipuan sponsor.
Ketiga, masyarakat yang dijadikan sasaran dakwah sering dianggap masyarakat yang vacum ataupun steril, padahal dakwah sekarang ini berhadapan dengan satu setting masyarakat dengan beragam corak dan keadaannya, dengan berbagai persoalannya, masyarakat yang serba nilai dan majemuk dalam tata kehidupannya, masyarakat yang berubah dengan
cepatnya, yang mengarah pada masyarakat fungsional, masyarakat teknologis, masyarakat saintifik dan masyarakat terbuka. Keempat, Sudah menjadi tugas manusia untuk menyampaikan saja.
Sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Ghaasyiah ayat 21-22;
ٍرِطۡيَصُمِب مِهۡيَلَع َت ۡسَّل ٞرِّكَذُم َتنَأ ٓاَمَّنِإ ۡرِّكَذَف
“Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.”
Dzakkir berasal dari kata dzakkara, artinya 'mengingatkan, menegur'.
Ingatkan mereka bahwa mereka berasal dari Allah. Ingatkan mereka dari mana mereka sebelumnya. Mereka disembunyikan oleh Allah di alam gaib.
Sekarang kita masing-masing berada di alam nyata, tapi akan dikembalikan ke alam gaib, dan pada saat itu kita akan melihat. Mengingatkan berarti meminta perhatian terhadap apa yang telah kita ketahui. Pengetahuan sudah ada dalam fitrah (sifat bawaan), dalam hati. Nabi saw, hanyalah pemberi peringatan, beliau di sini hanya untuk merefleksikan dan menggemakan kebenaran setiap orang.
Hakikat dakwah adalah seruan atau ajakan dengan menyentuh hati manusia sesuai dengan fitrahnya, supaya mereka menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk Ilahi. Dakwah merupakan tugas setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan sesuai dengan bakat di bidangnya masing-masing.
Dakwah sebagai usaha terwujudnya ajaran Islam pada semua segi kehidupan manusia, merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dakwah yang dilakukan oleh setiap muslim harus berkesinambungan, yang bertujuan mengubah
perilaku manusia berdasarkan pengetahuan dan sikap yang benar, yakni untuk membawa manusia mengabdi kepada Allah secara total. Dalam menyampaikan pesan dakwah, prinsip amar ma‟ruf dan nahi munkar harus dijunjung tinggi oleh pada da‟i maupun da‟iyah, hal ini dimaksudkan agar pesan dakwah yang disampaikan dapat diterima oleh mad‟u (penerima dakwah) secara lapang dada dan terbuka.
Dakwah sebagai media penyampai risalah keislaman kepada khalayak ramai tentu saja memiliki pesan dan tujuannya tersendiri. Asmuni Syukir, mengklasifikasikan pesan dakwah dalam tiga bagian besar, yaitu: 1) Masalah keimanan (aqidah), keimanan (aqidah) pada hakikatnya adalah pengakuan dalam hati akan keutuhan dan kemahakuasaan Allah, serta kerasulan Nabi Muhammad (saw), yang dimanifestasikan dalam segala aspek kehidupan.
Pada masalah keimanan ini, pembahasannya tidak hanya pada hal-hal yang wajib di imani, tetapi juga meliputi hal-hal yang dilarang seperti syirik, (menyekutukan Allah dengan selain-Nya), ingkar kepada Allah dan sebagainya. 2. Masalah ke-Islaman (syari‟ah), syariah dalam agama Islam berhubungan erat dengan amal lahiriah (nyata) dalam mentatati peraturan/
hukum Allah guna mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesama manusia dan lingkungannya. 3. Masalah budi pekerti (akhlaq), akhlaq merupakan bentuk jamak dari khuluq yang artinya budi pekerti, peringai, tingkah laku atau tabiat.
Jadi akhlaq atau khuluq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga ia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan adanya
dorongan dari luar dirinya. Sedangkan dakwah jika dilihat dari tujuannya, mengacu pada pendapat Awaluddin Pimay terbagai dalam dua kategori besar, yaitu; 1) Tujuan umum, tujuan umum dakwah adalah menyelamatkan umat manusia dari lembah kegelapan dan membawanya ketempat yang terang benderang, dari jalan yang sesat kepada jalan yang lurus, dari lembah kemusyrikan dengan segala bentuk kesengsaraan menuju kepada tauhid yang menjanjikan kebahagiaan. 2) Tujuan khusus, tujuan khusus dakwah meliputsi antara lain:
a. Terlaksananya ajaran Islam secara keseluruhan dengan cara yang benar dan berdasarkan keimanan.
b. Terwujudnya masyarakat muslim yang diidam-idamkan dalam suatu tatanan hidup berbangsa dan bernegara, adil, makmur, damai dan sejahtera dibawah limpahan rahmat Allah.
c. Mewujudkan sikap beragama yang benar dari masyarakat.
Adapun unsur-unsur yang diperlukan dalam proses berlangsungnya dakwah meliputi; da‟i (subjek dakwah), mad‟u (objek dakwah), maudu‟
(pesan dakwah), uslub (metode dakwah), wasilah (media dakwah), dan tujuan dakwah.
D. Da’i dan Da’iyah
Da‟i adalah sebutan bagi orang yang melakukan ajakan atau menyampaikan ajaran (muballigh), sedangkan da‟‟iyah merupakan bentuk muannas dari kata da‟i yang dalam tata Bahasa Arab merujuk pada bentuk perempuan. Maka dapat disimpulkan bahwa dai‟iyah mempunyai pengertian
dan peran yang sama dengan da‟i. Adapun perbedaan di antara keduanya hanya terletak pada jenis kelaminnya saja.
Subjek dakwah merupakan unsur penting dalam pelaksanaan dakwah karena seorang da‟i akan menjadi pemandu titian yang mengemban misi risalah dan diserukan kepada objek dakwah dengan dalil yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Seorang da‟i dituntut mampu mengetuk dan menyentuh hati umat yang dihadapinya secara profesional agar misi yang disampaikan dapat diterima oleh umat. Menurut Syamsul Munir Amin, juru dakwah (da‟i da‟iyah) mengandung dua pengertian yaitu: 1) secara umum adalah setiap umat muslim yang berdakwah dan menyempaikan pesan- pesan kebenaran sebagaimana terkandung dalam al-Qur‟an dan hadist, yang dalam hal ini merupakan suatu kewajiban mutlak bagi seluruh pemeluk agama Islam, apakah dakwah itu dilakukan lewat perbuatan, perkataan, maupun tulisan; 2) secara khusus, yaitu mereka yang mengambil keahlian khusus dalam bidang dakwah Islam.
Da‟i dalam keseharian dan pandangan masyarakat umum, sering disamakan dengan ulama, sebab tujuan dari keberadaan mereka yang sama- sama menyebarkan pesan-pesan keislaman ke seluruh penjuru dunia.
Ulama (bahasa Arab: ءاملعلا,'orang-orang berilmu, para sarjana') adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika
diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.
Pengertian ulama secara harfiyah adalah “orang-orang yang memiliki ilmu”. Dari pengertian secara harfiyah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah; orang Muslim yang menguasai ilmu agama Islam; Muslim yang memahami syariat Islam secara menyeluruh (kaaffah) sebagaimana terangkum dalam Al-Qurandan As Sunnah; Muslim yang menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.
Di Indonesia, baik ulama maupun da‟i, apakah itu laki-laki ataupun perempuan selalu dinisbatkan dengan orang yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas, yang dengannya keduanya menjadi rujukan bagi masyarakat umum dalam memperoleh jawaban-jawaban atas persoalan-persoalan hidup maupun keagamaan yang terjadi masyarakat. Peran da‟i sebagai tokoh masyarakat dalam pembangunan fisik maupun rohani sangat penting, karena posisinya sebagai seorang “opinion leader” yaitu orang yang berpengaruh besar dalam mengambil keputusan. Oleh sebab itu, tidak jarang ditemukan dalam masyarakat mereka-meraka yang berprofesi sebagai da‟i maupun ulama sangat dihormati dan disegani, didengar petuah-petuah serta pesan- pesan kehidupan yang tersampai dari mereka, bahkan tidak jarang terdapat kelompok masyarakat yang sangat mengultuskan para ulama dan da‟i tersebut.
Dibalik posisinya yang sangat dihormati, jika dicermati secara mendalam, masih terdapat ketimpangan yang cukup serius berkaitan dengan penerimaan dan pengakuan masyarakat terhadap perempuan yang berprofesi sebagai da‟iyah. Dalam Bahasa Indonesia, penggunaan kata da‟iyah untuk
menyebut perempuan yang berprofesi sebagai penyampai pesan-pesan keagamaan masih sangat jarang digunakan. Masyarakat Indonesia lebih akrab menyebutnya dengan panggilan ustazah. Seperti halnya kata da‟iyah, penggunaan kata ulama bagi perempuan juga masih mengalami subordinasi, sebab sebutan ulama sebagaimana diyakini masyarakat luas hanya mengacu pada kelompok gender laki-laki sahaja. Jika tetap ingin disebut ulama maka harus ditambahkan kata "perempuan" di akhirnya sebagai bentuk penegasan dan pembeda gender, menjadi "ulama perempuan" atau "perempuan ulama".
Kenyataan ini jelas memperlihatkan bahwa kaum perempuan dianggap tidak layak disebut ulama. Dengan kata lain, tidak memiliki kapasitas intelektual, keilmuan, moral, dan keahlian lainnya.
Masih lazimnya ketimpangan dalam hal penerimaan masyarakat terhadap da‟iyah, tidak lain merupakan hasil dari kebudayaan patriarki yang selama ini telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Perempuan seolah-olah terlarang untuk berada pada posisi sebagai pengambil keputusan, ikut serta dalam ijtihad, mengelaborasi, dan mengimplementasikan hukum-hukum agama. Penciptaan konstruksi budaya ini seseungguhnya bertentangan dengan perintah agama, karena Allah sendiri melalui al-Qur‟an dan Rasulullah saw menyerukan pemulian terhadap perempuan. Dalam al-Qur‟an banyak ayat yang menyeru manusia secara umum tanpa membatasi jenis kelamin, budaya, agama, maupun suku untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan yang terdapat di alam semesta. Beberapa di antaranya adalah QS al-‟Alaq: 1-5, QS al-Mujadilah: 11, QS at-Taubah: 71, dan lain sebagainya. Yang kemudian menjadi permasalahan adalah, ketika ayat-ayat ini ditafsirkan, dinterpretasi