• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.7 Teknik Analisis Data

Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul supaya dapat mengahsilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data kualitatif. Cara perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:

a) Merekapitulasi hasil tes.

b) Merekapitulasi hasil pengamatan.

Menghitung jumlah skor yang tercapai dan persentasenya untuk masing-masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian, yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal 75, sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 75%.

Tabel III

Indikator Keberhasilan Siklus I dan Siklus II

Indikator Kondisi Awal Siklus I Siklus II Kemampuan membaca cerita pendek Sebesar 7,1% siswa mencapai KKM (nilai 75) Sebesar 50% siswa mencapai KKM membaca cerpen Sebesar 80% siswa mencapai KKM Membaca cerpen

38 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis akan menguraikan : (1) deskripsi data, (2) hasil penelitian, (3) pembahasan. Berikut uraian mengenai ketiga hal tersebut:

4.1Deskripsi Data Pelaksanaan Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA Marsudi Luhur Yogyakarta, jln. Bintaran Kidul No. 12. Penelitian ini dilakukan lebih khusus pada siswa kelas XI dengan jumlah siswa sebanyak 28 orang yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan.

Penelitian dilakukan dengan dua siklus, yaitu siklus I pada tanggal Kamis, 19 Maret 2015 dan siklus II pada Kamis, 26 Maret 2015. Penelitian ini melibatkan guru Bahasa Indonesia kelas XI yaitu Ibu Satya Adi Wulansari, S.Pd, sebagai observer dan peneliti sebagai pengajar dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini. Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, peneliti melibatkan rekan peneliti yaitu Flavianus Mario Malo untuk membantu kegiatan penelitian untuk menjadi observer dan mendokumentasi proses pembelajaran berlangsung.

Pada penelitian tindakan kelas yaitu siswa kelas XI ini, peneliti menggunakan metode Quntum Reading untuk meningkatkan kemampuan membaca cerpen siswa kelas XI. Hasil evaluasi dari penelitian ini adalah untuk mengukur kemampuan membaca cerpen siswa kelas XI. Kriterian

keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila hasil membaca cerpen mengalami peningkatan pada siswa kelas XI.

Berikut akan dijelaskan mengenai siklus pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:

4.2Analisis Data Pelaksanaan Penelitian 4.2.1 Analisis Siklus I

Pelaksanaan penelitian pada siklus I terdiri atas 4 tahap yaitu, tahap perencanaan, indakan, observasi dan refleksi. Berikut ini akan dijelaskan tahapan-tahapannya.

4.2.1.1Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran seperti silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan bacaan berupa teks cerita pendek. Tes kemampuan membaca berupa pilihan ganda, dan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk individu. Peneliti juga mempersiapkan pedoman penilain, pedoman observasi, alat pengumpul data berupa kamera handphone.

4.2.1.2Tindakan

Penelitian siklus I dilakukan pada hari Kamis, tanggal 19 April 2015 pukul 07.00-08.45 WIB. Pembelajaran dilangsungkan pada jam ke 1-2 hal ini dikarenakan kondisi siswa masih bersemangat.

Penelitian pada tahap tindakan ini diawali dengan kegiatan apersepsi dari guru dengan memberikan salam kepada siswa, mengecek kesiapan siswa dan

melakukan presensi. Kegiatan pembelajaran selanjutnya adalah guru memberikan penjelasan mengenai pokok materi pembelajaran yang akan dijalani oleh siswa yaitu mengenai pengertian metode Quantum Reading, karakteristik metode Quantum Reading, dan terakhir pengertian cerpen dan ciri-ciri cerpen.

Setelah guru menjelaskan materi pembelajaran, guru menyediakan kesempatan bagi para siswa untuk bertanya terkait pokok pembelajaran yang telah diikuti oleh para siswa. Setelah sesi tanya jawab selseai guru memberikan tes kepada siswa. Tes ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan membaca cerpen siswa dengan menggunakan metode Quantum Reading. kegiatan selanjutnya guru meberikan tes kepada siswa untuk dikerjakan. kegiatan terakhir adalah guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan tujuan untuk mematangkan kemampuan siswa akan materi yang telah diberikan.

Data siklus 1 diperoleh dari tes individu siswa yaitu tes kemampuan membaca cerpen berupa pilihan ganda.

a. Tes Kemampuan Membaca Cerpen

Kemampuan membaca cerpen siswa diukur dengan memberikan tes individu. Hasil tes kemampuan membaca cerpen siswa kelas XI IPA dan IPS SMA Marsudi Luhur Yogyakarta berupa penjumlahan skor atas beberapa aspek kemampuan membaca cerpen siswa yang kemudian diolah menjadi nilai akhir. Nilai kemampuan membaca cerpen dikatakan tuntas apabila bisa mencapai batas ketuntasan nilai 80. Adapun rincian frekuensi nilai kondisi

awal (prasiklus) dan siklus 1 kemampuan membaca cerita pendek siswa SMA Marsudi Luhur kelas XI Yogyakarta adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3.1

Tabel Frekuensi Prasiklus dan Siklus 1

No Nilai akhir Kemampuan Membaca Cerpen

Frekuensi (f) Persentase Pra siklus Siklus I Pra siklus Siklus I

1 90-99 - 2 0% 7,1% 2 80-89 - 6 0% 25% 3 70-79 7 6 25% 17,8% 4 60-69 13 8 46,4% 28,5% 5 50-59 5 4 17,8% 14,2% 6 40-49 1 2 3,5% 7,1% 7 30-39 2 - 7,1% 0% 8 20-29 - - 0% 0% 9 0 - - 0% 0% Jumlah siswa 28 28

Berdasarkan tabel di atas, jumlah siswa yang mengikuti tes prasiklus sebanyak 28 orang. Data tersebut menunjukan bahwa tidak ada siswa yang tuntas dalam mengikuti tes prasiklus kemampuan membaca cerpen. pada siklus I sebanyak 8 siswa yang dapat mencapai ketuntasan dan sebanyak 20 siswa belum tuntas mencapai KKM. Berdasarkan frekuensi nilai siswa kelas XI dari tabel di atas, peneliti menghitung

persentase ketuntasan belajar siswa. Dengan demikian dapat diketahui peningkatan jumlah frekuensi siswa yang mencapai ketuntasan.

Persentase ketuntasan kemampuan membaca cerpen siswa kelas XI SMA Marsudi Luhur Yogyakarta pada siklus I dapat dilihat pada diagram berikut ini

Diagram 4.3.1

Persentase Ketuntasan Kemampuan Membaca Cerpen Siswa siklus I

28,57% 71,42%

Sales

tuntas tidak tuntas

Berdasarkan diagram ketuntasan nilai siswa pada siklus I, dapat dijelaskan bahwa dari 28 siswa yang mengikuti tes kemampuan membaca cerpen, sebanyak 8 siswa yang dapat mencapai ketuntasan dengan persentase 28,57%. Dapat dikatakan bahwa masih banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan KKM atau tidak tuntas dengan nilai di bawah 75. Banyaknya siswa yang belum dapat mencapai ketuntasan KKM adalah 28 orang dengan persentase 67, 86%.

4.2.1.3Observasi

Kegiatan pembelajaran diawali dengan guru memberikan salam dan mengecek kesiapan siswa. Setelah kegiatan tersebut selesai, guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Guru melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan prosedur yang sudah disiapkan dalam RPP.

Materi pembelajaran dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur intrinsik dan ekstrinsik cerita pendek. Cerpen yang disajikan tidak terlalu berat baik dari segi tata bahasa, maupun isi dari cerpen. cepen yang diberikan peneliti sangat mudah untuk dibaca oleh siswa. Materi ini sangat sesuai dengan karakteristik siswa sehingga pada saat proses pembelajaran siswa sangat antusias mengikuti proses pembelajaran. Metode yang digunakan oleh peneliti untuk memudahkan pross pembelajaran ini adalah metode Quantum Reading. Pada proses pembelajaran ini, guru dengan terbuka memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya sesuai dengan pokok materi yang disajikan. Metode Quantum Reading yang diterapkan oleh peneliti ternyata membuat siswa semakin antusias dalam mengikuti proses pembelajaran,

walapun masih ada sebagian siswa yang kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.

4.2.1.4Refleksi

Kegiatan refleksi ini digunakan oleh peneliti untuk meninjau hasil pembelajaran siswa pada siklus I ini, secara umum, siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Hasil tes pada siklus I ada 8 orang siswa yang tuntas KKM, sementara yang belum tuntas ada 20 orang. hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya: siswa belum bisa membaca cerpen secara sembari memahami substansi cerpen, siswa belum mampu membaca cerpen dengan baik dan benar, belum bisa secara intens membaca, dan merasa malas jika berhadapan dengan teks bacaan, dll.

Faktor lain yang menyebabkan tes siklus I kurang efektif adalah keterbatasan waktu. Hal ini dipengaruhi oleh kurang sesuai dengan waktu yang dialokasikan dalam RPP dengan waktu penelitian.

4.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketuntasan dan Ketidaktuntasan Siswa Pada Siklus I

Ketuntasan dan ketidaktuntasan nilai siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut ditemukan setelah penelitian dilakukan dan pada saat peneliti melakukan observasi.

Berdaasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, fakor-faktor tersebut adalah, peneliti kurang efektif menggunakan waktu yang telah

disediakan, bacaan yang terlalu panjang sehingga waktu banyak dihabiskan untuk membaca.

Selain faktor tersebut di atas, adapun faktor lain yaitu, pada saat memulai kegiatan masih ada siswa yang juga belum hadir dalam kelas, mereka sengaja datang terlambat, karena ini sudah menjadi kebiasaan mereka. Hal ini menyebabkan banyak waktu yang terbuang sisa-sia. Ketika semua masuk kelas dan mulai mengerjakan tes yang telah dibagikan, mereka mengerjakan soal dengan terburu-buru dan tidak dari hati sehingga hasil yang mereka dapatkan belum memuaskan.

Kemampuan siswa dalam membaca kritis diuji dari seberapa besar kemampuan mereka mengidentifikasi struktur intrinsik dan ekstrinsik cerpen. Kemampuan tersebut diuji dengan pengerjaan tes kemampuan membaca cerpen siswa. Peneliti memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa yang berupa pilihan ganda. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengandung beberapa aspek dari cerpen. Pada saat proses pengerjaan tes tersebut, ada siswa yang mengeluh akibat pertanyaan yang sedikit panjang. Hal inilah yang membuat para siswa mendapatkan hasil yang kurang memuaskan pada pengerjaan tes kemampuan membaca cerpen.

Dari hasil penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketuntasan dan ketidaktuntasan membaca cerpen siswa pada siklus I, adalah penggunaan waktu yang kurang efektif, teks bacaan yang terlalu panjang. Sehingga pada tes siklus II akan diperbaiki oleh peneliti untuk mendapatkan nilai maksimal seseuai dengan standar maksimal KKM.

4.2.3 Analisis siklus II

Pelaksanaan siklus II terdiri dari empat tahap, seperti pada siklus I, yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Berikut akan dijelaskan mengenai empat tahapan tersebut.

4.2.3.1Perencanaan

Kegiatan siklus II dilaksanakan pada hari tanggal Kamis, 26 Maret 2015 pada kelas dan jam pelajaran yang sama. Pada pelaksanaan siklus II ini, keadaan masih seperti biasa yaitu masih banyak siswa yang belum datang tepat waktu, dan tentunya peneliti harus menunggu mereka. Persiapan dan perencanaan pada siklus II hampir sama dengan yang ada pada siklus I. Hanya saja RPP yang digunakan sedikit berbeda. Untuk materi bacaan yang digunakan pada tes kemampuan membaca cerpen, peneliti masih menggunakan tes yang sama, karena tes pada siklus I hasil yang dicapai siswa belum maksimal. Selain itu, soal yang diberikan relatif singkat dari siklus I. Soal yang diberikan masih sama yaitu mengindentifikasi unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen tetapi bahasa yang digunakan sederhana dan tidak terlalu panjang. Hal ini bertujuan agar para siswa cepat memahami dan mudah untuk menjawab, dan para siswa tidak lagi mengeluh seperti pada siklus I.

4.2.3.2Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II tidak jauh berbeda dengan tindakan pada siklus I, yaitu kesalahan pada tindakan siklus I kemudian diperbaiki pada siklus II dengan memberikan tes kemampuan membaca cerpen yang sama, tetapi dengan

bahasa dan pertanyaan yang relatif sederhana dan singkat. Pada tahap ini, penekanan yang diutamakan yaitu pada kesalahan yang menonjol yang terjadi pada siklus I. Pada siklus I kelemahan siswa adalah kurang memahami gaya bahasa, dan kurang memahami unsur-unsur ektrinsik cerpen. Karena itu pada siklus II perbaikan yang diutamakan yaitu pada kelemahan-kelemahan yang dialami oleh siswa.

Pada siklus II kemampuan membaca cerpen siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai-nilai tes kemampuan membaca cerpen siswa sebesar 80,00 dibandingkan Pada pelaksanaan siklus I nilai rata-rata kelas hanya sebesar 67,00. Hasil ini menujukkan bahwa, ada peningkatan kemampuan membaca cerpen siswa pada siklus II dibandingkan pada siklus I.

Adapun peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel frekuensi kemampuan membaca cerpen siswa kelas XI pada siklus II berikut ini

Tabel 4.3.2

Tabel Frekuensi Siklus I dan Siklus II

No Nilai akhir Kemampuan Membaca Cerpen Frekuensi (f) Persentase Pra siklus Siklus I Pra siklus Siklus I

1 90-99 1 8 3,5% 28,5% 2 80-89 9 16 32,1% 57,1% 3 70-79 3 2 10,7% 7,1% 4 60-69 8 1 28,5% 3,5% 5 50-59 4 - 14,2% 0% 6 40-49 3 1 10,7% 3,5% 7 30-39 - - 0% 0% 8 20-29 - - 0% 0% 9 0 - - 0% 0% Jumlah siswa 28 28

Berdasarkan tabel di atas, frekuensi ketuntasan siklus II lebih tinggi dibandingkan siklus I. Pada siklus I hanya terdapat 8 siswa yang bisa mencapai KKM. Persentase ketuntasan pada siklus II jauh lebih tinggi. dibandingkan siklus I.

Persentase ketuntasan kemampuan membaca cerpen siswa kelas XI akan dipaparkan dalam diagram berikut ini.

Diagram 4.3.2

Persentase Ketuntasan Kemampuan Membaca Cerpen Siklus II

Diagram di atas menunjukkan bahwa persentase siswa sebanyak 85,71% sementara yang belum tuntas hanya mencapai 14,28%. Persentase tersebut menunjukkan sebanyak 24 siswa dapat mencapai nilai ketuntasan. Hal ini menunjukkan bahwa kentuntasan yang dicapai oleh siswa pada siklus II lebih meningkat dibandingkan pada siklus I. pada siklus II, sebesar

14,28% 85,71%

Sales

tidak tuntas tuntas

14,28%, atau sebanyak 4 siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan KKM.

4.2.3.3Observasi

Metode yang digunakan oleh peneliti masih sama pada siklus I dan meteri yang digunakan juga masih sama yaitu cerpen “Pelajaran Mengarang”. Khusus pada proses pembelajaran, pada siklus II siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, tidak ada siswa yang datang terlambat, dan di dalam kelas siswa lebih konsentrasi dan fokus mengikuti proses pembelajaran. Banyak siswa seringa bertanya terkait materi yang disajikan.

4.2.3.4Refleksi

Pelaksanaan siklus II keberhasilan yang dicapai oleh siswa lebih meningkat, dilihat dari jumlah siswa yang mencapai KKM yaitu sebanyak 24 orang. walaupun sebelumnya terhambat oleh penggunaan waktu yang efektif, tetapi hasil tes kemampuan membaca cerpen siswa dapat meningkat. Secara umum, kesalahan pada siklus I tidak terulang pada siklus II. Hal itu dapat diketahui melalui hasil yang dicapai oleh siswa secara keseluruhan.

Data hasil kemampuan membaca cerpen siswa pada siklus II sebanyak 24 siswa yang mencapai ketuntasan KKM dan 4 orang siswa tidak tuntas. Jika dipersentasekan sebanyak 85,71% siswa yang tuntas dan 14,28% siswa yang tidak tuntas.

4.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketuntasan dan Ketidaktuntasan Siswa Pada Siklus II

Persentase ketuntasan siswa kelas XI mengalami peningkatan pada siklus II dibandingkan siklus I. Faktor-faktor yang terjadi pada siklus I dapat diatasi pada siklus II. Meskipun masih ada kesalahan-kesalahan yang terjadi pada siklus I, tetapi secara keseluruhan tidak terjadi lagi pada siklus II. Kesalahan-kesalahan yang masih terjadi pada siklus I yaitu pada awal pelajaran, siswa belum begitu siap untuk mengikuti pelajaran, sehingga penggunaan waktu kurang begitu efektif. Akan tetapi pelaksanaan tindakan Siklus II bisa berlangsung lancar. Hasil yang diperoleh siswa pada siklus II lebih meningkat, dibandingkan dengan siklus I.

Dokumen terkait