• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Teknik Analisis Data

1. Induktif yaitu mengemukan masalah yang bersifat khusus untuk generalisasi yang bersifat umum, pengambilan kesimpulan kepada prinsip yang dikemukan ahli Tafsir.73

70 Rosihin Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm 185

71 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktis, (Jakarta: PT Reneka Cipta, 2006), hlm 23

72 Rosihin Anwar, Ilmu Tafsir..., hlm 186

73 Sutrisno Anwar, metode penelitian, (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, 1986) hlm 42

2. Deduktif yaitu pembahasan yang dimulai dari persoalan yang bersifat umum untuk menilai suatu kejadian yang bersifat khusus. Pengambilan kesimpulan dari pendapat yang dikemukan ahli tafsir untuk dikembangkan dalam teori pendidikan pada umumnya.

3. Komparatif yaitu membandingkan beberapa pendapat yang lebih tepat.

Pengambilan kesimpulan dari data yang dikemukakan para ahli untuk diambil diantara pendapat yang lebih tepat.74

Dalam penelitian ini, penulis tidak mengunakan semua metode analisis data, akan tetapi metode analisis data yang penulis pakai adalah Deduktif yaitu pembahasan yang dimulai dari persoalan yang bersifat umum untuk menilai suatu kejadian yang bersifat khusus.

74 Winarto Suracmad, Pengantar Penelitian ilmiah, (Bandung: Tersito, 1994) hlm 143

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Temuan Umum

1. Lafaz Surat Al-Israa’ Ayat 23-24



Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.

2. Tafsir Mufradat surat Al-Israa’ Ayat 23-24

Syaikh Abu Bakar Jabir Jazairi dalam tafsir Qur‟an Al-Aisar menjelaskan arti mufradat (kosakata) dari surat Al-Israa‟ Ayat 23-24 sebagai berikut.75:



: Allah memerintahkan dan mewasiatkan.

 

: Agar kamu berbuat baik kepada kedua orang tua yaitu dengan mengabdi kepadanya.

75 Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Aisar At-Tafaasir Li Kalamami Al-Aliyyi Al-Kabaiir Jilid 4 (jakarta : Darul Sunnah Press 2015) hlm 315-316

   

: Jangan kamu berkata Uff atau celaan, pekataan buruk dan menyesatkan.

 

: Jangan kamu bentak atau mencaci keduanya dengan perkataan kasar.

 

: Perkataan yang baik dan lemah lembut.

 

: lemah-lemahlah dan merendah dirilah kepadanya

Sedangkan dalam dalam tafsir al-Maraghi yang dikarang oleh Ahmad Mustafa al-Maraghi dijelaskan bahwa.76:



: Memberi keputusan dan perintah.



: Nama suara yang menyatakan kejengkelan dan sakit.



; Mencegah dengan kasar.



: Bersikap baik tanpa kekerasan.

  

: Tawadhu‟ dan merendahkan diri.

 

: Karena sangat sayangnya kamu terhadap

orang tua.

Kemudian dalam dalam tafsir lain dijelaskan bahwa:



: lebih tepat dipilih

 

: memberikan nikmat kepada pihak yang lain

dan perbuatan yang baik

76 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi juz 15, (Semarang: Karya Toha Putra, 1993), hlm. 53-54



: Terbaik sesuai dengan objeknya atau keadaan

  

Disebabkan dia telah mendidik dari kecil

Dari penjelasan diatas maka kosa kata di dalam al-Quran, sedikit berbeda dengan kata-kata yang digunakan Bahasa Arab. Bahasa arab yang digunakan sehari-hari itu disusun oleh manusia yang mana mempunyai sifat-sifat kemanusiaan, yakni ada yang kasar, halus dan indah. Akan tetapi, berbeda dengan al-Quran, dimana ayat-ayat al-Quran merupakan ayat-ayat ilahi.yang tiada keraguan padaNya. Walaupun berbeda-beda dalam menafsirkan ayat ini tetapi tetap sama maknanya.

3. Kandungan Surat Al-Israa’

Surat Al-Israa‟ tergolong surat Makkiyah, diturunkan setelah surat al-Qashash. Surat ini terdiri atas 111 ayat. Dinamakan dengan Al Israa‟

yang berarti memperjalankan di malam hari, berhubung peristiwa Israa‟

Nabi Muhammad SAW. dari Masjidil Haram diMekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.77

Surat ini dinamakan pula dengan Bani Israil artinya keturunan Israil berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa

77 M.Nur Idris, Tafsir Al-Qur‟anul Karim jilid 3, (Jakarta: Perkumpulan Haji Muhammad Nur Idris, 2015), hlm 480

yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah SWT Dihubungkannya kisah Israa‟ dengan riwayat Bani Israil pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.78

Pokok-pokok isinya surat Al-Israa a. Keimanan

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat, Allah pasti memberi rezki kepada manusia, Allah mempunyai nama-nama yang paling baik, Al Quran adalah wahyu dan Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

b. Hukum-hukum

Larangan-larangan Allah tentang menghilangkan jiwa manusia, berzina, mempergunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang dibenarkan agama, ikut-ikutan baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan dan durhaka kepada ibu bapak. Perintah Allah tentang memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan takaran, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

c. Kisah-kisah

Kisah Israa‟ Nabi Muhammad SAW beberapa kisah tentang Bani Israil.Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap

78 Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz 5, (Jakarta: Gema Insani,2015), hlm 244

amal perbuatannya, beberapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat, petunjuk-petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat, manusia makhluk Allah SWT yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat-sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru, dan persoalan roh.79

4. Munasabah (Korelasi) Surat Al-Israa’ Ayat 23-24 a) Munasabah antara surat dengan surat

Munasabah surat Al-Israa‟ dengan surat sebelumnya (An-Nahl) bahwa bagian awal surat An-Nahl disebutkan Kedua surat tersebut sama-sama menerangkan tentang ketuhanan serta keesaan Allah, karena awal surat Al-Israa‟ diawali dengan kata Subhana yang berarti Maha Suci Allah. Surat An-Nahl secara global menerangkan tentang kehendak manusia dalam konteks iman, kufur, hidayah dan kesesatan, sedang dalam surat Al-Israa‟ menerangkan mengenai Bani Israil mengenai Isra‟nya Nabi Muhammad SAW. Surat An-Nahl menyebutkan mengenai soal interaksi sosial, seperti ihsan yang merupakan penutup dari surat tersebut, sedangkan dalam surat Al-Israa‟ menyinggungnya pula.

Sedangkan hubungan antara surat Al-Israa‟ dengan surat sesudahnya (Al-Kahfi) adalah sebagai berikut:

79 Wahdah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith Jilid 2, (Jakarta: Gema Insani, 2012), hlm 295

1. Surat Al Israa‟ dimulai dengan tasbih (membaca subhanallah) pada Allah sedang surat Al Kahfi dibuka dengan tahmid (membaca alhamdulillah) kepada-Nya. Tasbih dan tahmid adalah dua kata yang acapkali bergandengan dalam firman-firman Allah.

2. Persamaan antara penutup surat Al Israa‟ dengan pembukaan surat Al Kahfi yaitu sama-sama dengan tahmid kepada Allah.

3. Menurut riwayat, ada tiga buah pertanyaan yang dihadapkan oleh orang-orang Yahudi dengan perantaraan orang-orang musyrikin kepada Nabi Muhammad SAW yakni masalah roh, cerita Ashabul Kahfi dan kisah Zulqarnain. Masalah roh itu dijawab dalam surat Al Israa‟, dan dua masalah lainnya pada surat Al Kahfi, dalam riwayat lain nabi Musa dan Khidir dan Isyarat tentang Ya‟juz dan Ma‟juz.80

b) Munasabah antara ayat dengan ayat

Menurut al-Maraghi, munasabah surat Al-Israa‟ Ayat 23-24 dengan ayat sebelumnya bahwa pada awal ayat 22, Allah SWT berfirman :





















Artinya: Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).

Dari ayat diatas sudah mengandung seruan umum, tentang larangan mengadakan tuhan selain Allah SWT yakni menyeru

80Wahdah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Wasit jilid 2 ,,,,,,,,,hlm 244

manusia kepada Tauhid, mengakui keesaan Allah SWT, tidak mempersekutukannya dengan yang lain, dan haramnya berbuat syirik dan ancaman bagi yang melakukannya berupa kekekalan didalam neraka jahanam.81 Dan Allah SWT mengacamkan bagi orang yang berbuat Syirik dalam surat Al-Maidah ayat 72 yang berbunyi:



Artinya: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:

Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam, Padahal Al masih (sendiri) berkata: Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Sebagian Ahli tafsir berkata makna dari ayat yaitu bahwa Allah SWT mengancam orang yahudi dan nasrani tentang kesyirikan mereka lakukan Pada akhirnya di akhirat kelak kalian akan dimasukkan ke dalam neraka dan merasakan azab Allah.

Kemudian pada surat Al-Israa‟ Ayat 25 yang berbunyi:

81 Abu Bakar Jabir Al-Jazairi Tafsir Aisar jilid 4,,,,,,,,,, hlm 315-316

























Artinya: Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu;

jika kamu orang-orang yang baik, Maka Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.

Ayat ini berkenaan tentang Allah SWT lebih mengetahui apa yang ada didalam hati dari pada kalian, baik berupa peghormatanmu kepada ibu bapakmu, serta berbuat baik terhadap mereka atau meremehkannya hak atau durhaka terhadap mereka. Sungguh Allah SWT akan memberi balasan kepada kalian atas kebaikan atau keburukan, oleh sebab berhati-hatilah jangan sampai tersimpan dalam hatimu keburukan terhadap orang tua dan sikap durhaka terhadap mereka.82

Maka barang siapa yang menyembunyikan ketidakridhoan kepada kedua orang tuanya dan membenci keduanya, maka Allah SWT mengetahuinya. Dan barang siapa yang menyembunyikan kecintaan, kasih sayang, dan ridho pada keduanya, maka Allah SWT mengetahuinya dan Dia akan membalasnya83

5. Asbab an-Nuzul Surat Al-Israa’

Surat ini dinamakan Israa‟ yang berarti perjalanan terkait peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

82 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi juz 15,,,,,,,,,,, hlm 67

83 Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Aisarjilid 4,,,,,,,,,hlm 315-316

terus kelangit. Dalam sepanjang sejarah Islam perjalanan ini adalah perjalanan yang paling suci dan sejatinya adalah perjalanan Rasulullah SAW ke langit dan kembalinya beliau ke bumi atau yang dikenal dengan nama Mi‟raj.

Berdasarkan riwayat-riwayat Shahih tentang Mi‟raj yang disampaikan Nabi Muhammad Saw kepada umat Islam, dalam perjalanannya beliau menyaksikan dari dekat surga dan neraka serta kondisi ahli surga dan neraka. Dalam perjalanan Mi‟raj, Nabi sempat bertemu dengan para nabi-nabi terdahulu dan menyaksikan keajaiban penciptaan dunia. Dasar perjalanan langit ini disepakati oleh seluruh umat Islam dan yang mengingkarinya berarti mengingkari prinsip agama.

Mayoritas mazhab Islam meyakini perjalanan ini dilakukan dengan jasad dan hanya sebagian kecil yang menyebutnya hanya perjalanan rohani.

peristiwa ini terjadi sebelum hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah saat itu Nabi Muhammad Saw baru saja selesai menunaikan shalat Maghrib di Masjidil Haram lalu meninggalkannya menuju Masjidul Aqsa.

Dari sana dengan mengendarai kendaraan langit bernama Buraq beliau melewati lapisan-lapisan langit. Sekembalinya dari langit, Rasulullah SAW melaksanakan shalat Subuh di Masjidul Haram.

Setelah menjelaskan perjalanan Nabi Muhammad Saw ke Masjidil Aqsa, ayat ini memberi petunjuk masyarakat kepada tauhid dan penghambaan. Oleh karenanya, sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW Allah telah mengutus Nabi Musa As kepada Bani Israel. Nabi Musa

As berdasarkan Kitab Taurat yang diturunkan Allah mengajak Bani Israel kepada Allah SWT.

Perjalanan ini merupakan mukjizat dari Allah SWT karena dengan mencermati jauhnya jarak dari Mekah hingga ke Baitul Maqdis, sangat tidak mungkin membayangkan perjalanan sejauh itu dapat dilalui hanya semalam dengan menggunakan kendaraan yang biasa dipakai masa itu84 6. Penjelasan Mufasir Mengenai Surat Al-Israa’ Ayat 23-24













Ahmad Mustafa Al-Maraghi menjelaskan dalam tafsir Al-Maraghi pada pangkal ayat 23 yang artinya: dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah maksudnya adalah ibadah adalah puncak pengagungan yang tidak patut dilakukan kecuali kepada Allah SWT, yang mana Dia keluarkan kenikmatan dan anugrah atas hambanya dan tidak ada yang dapat memberikan kenikmatan kecuali Dia.85

Dalam tafsir menjelaskan bahwa ayat dimulai dengan bentuk perintah yaitu mengesakan Allah SWT dalam beribadah kepadaNya dan tidak mempersekutukanNya dan ayat ini pula bukan ditujukan hanya kepada orang-orang Musyrikin tapi ayat ini ditujukan juga kepada orang muslim.

Dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa tujuan hidup didunia yaitu mengakui hanya satu tuhan yaitu Allah SWT. Barangsiapa

84 Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz 5,,,,,,,, hlm 243-244

85 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi juz 15,,,,,,,,, hlm 59

mempersekutukanNya dengan yang lain, akan tercelalah dia dengan terhina.86

Didalam tafsir Al-Qur‟anul Karim dijelaskan bahwa Allah SWT melarang dengan sekeras-kerasnya kepada umat manusia untuk tidak menyembah selain Dia dan yang wajib disembah hanya Allah SWT satu-satunya.87Lalu Allah SWT melanjutkan ayatnya yang berbunyi:





Menurut ahli tafsir menjelaskan bahwa: Istilah yang digunakan untuk menunjukkan kedua orangtua adalah (

نيدل اولا

). Kata ini adalah bentuk dual dari kata (

دلاو

) yang diterjemahkan bapak atau ayah. Kata lain yang menunjuk kepada makna bapak atau ayah yakni kata (

بأ

) ayah dan (

مأ

) ibu. Akan tetapi kata (

دلاو

) digunakan secara khusus kepada ayah/bapak kandung, demikian pula kata (

تادلاولا

) untuk makna ibu kandung. Berbeda dengan kata (

بأ

) dan (

مأ

) yang digunakan baik untuk ayah dan ibu kandung maupun yang bukan ibu kandung. Sedangkan kata (

نسح

) mencakup segala sesuatu yang menggembirakan dan disenangi.

Kata (

نسح

) digunakan untuk menggambarkan apa yang menggembirakan manusia karena perolehan nikmat, menyangkut diri, jasmani, dan keadaannya. Al-Qur‟an menggunakan kata penghubung (

ب

)

ketika berbicara tentang bakti kepada ibu-bapak (

اناسحا نيدل اولابو

),

86 Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz 5,,,,,,,, hlm 268

87 M.Nur Idris, Tafsir Al-Qur‟anul Karim,,,,,,,,,,,,, hlm 486

padahal bahasa juga membenarkan penggunaan (

يل

) yang berarti untuk dan (

ىلا

) yang berarti kepada untuk penghubung kata ( نسحا ).

Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT menyuruh hambanya untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Yang demikian itu seperti firman-Nya dalam Surat yang lain, di mana Dia berfirman dalam surat Luqman ayat 14 yang artinya: Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku tempat kembalimu.88 Apabila Allah SWT memerintah berbuat baik terhadap orang tua karena beberapa sebab sebagai berikut:

a. Karena kedua orang tua itulah yang belas kasih kepada anaknya, dan telah bersusah payah dalam memberikan kebaikan kepadanya dan menghindari dari bahaya. Oleh sebab itu wajiblah hal itu diberi imbalan dengan berbuat baik dan bersyukur pada keduanya.

b. Bahwa anak adalah belahan jiwa dari orang tua.

c. Bahwa kedua orang tua telah memberikan kenikmatan kepada anak, ketika anak itu sedang dalam keadaan lemah dan tidak berdaya sedikitpun, oleh karena itu wajib hal itu dibalas dengan rasa syukur ketika keduanya telah tua.89 Sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman ayat 14:

88 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi‟i, 2009), hlm 297

89 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi juz 15,,,,,,,,, hlm 59-60



Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Kemudian Allah SWT melanjutkan ayatnya:

tua atau salah seseorang diantara keduanya sampai meningkat tua, sehingga tidak kuasa lagi hidup sendiri, sudah sangat bergantung kepada belas kasihan putranya hendaklah dia sabar,dan berlapang hati memelihara keduanya.90

Ibnu Katsir menjelaskan ayat diatas bahwa janganlah engkau memperdengarkan kata-kata yang buruk sampai kata “ah” sekalipun yang merupakan tingkatan ucapan buruk yang paling ringan.91 Hal ini untuk menekankan bahwa apapun keadaan mereka baik berdua atau sendiri, masing-masing harus mendapatkan perhatian anak. Maka perlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, perlakukan ini akan menjadi nyata apabila melalukan hal sebagai berikut:

a. Jangan kamu jengkel terhadap sesuatu yang kamu lihat dilakukan oleh salah satu dari mereka atau kedua-keduanya yang mungkin

90 Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz 5,,,,,,,, hlm 269

91 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir jilid 5,,,,,,,,,,,,, hlm 297

dapat menyakitkan hati orang lain, tetapi bersabarlah menghadapi semua itu, sebagaimana keduanya telah bersikap sabar terhadapmu ketika kamu kecil.

b. Jangan kamu menyusahkan keduanya dengan suatu perkataan yang membuat mereka berdua merasa tersinggung dan anak dilarang untuk menampakkan kejemuan baik sedikit maupun banyak.

c. Ucapkanlah dengan perkataan yang baik kepada kedua orang tua dan perkataan yang manis, sopan, lemah lembut dan dengan diiringi rasa hormat. Jangan sampai anak memanggil orang tua dengan nama mereka, dan jangan pula anak meninggikan suara di hadapan mereka, apalagi membelalakan mata terhadap mereka berdua.

d. bersikaplah kepada kedua orang tua dengan sikap tawadhu‟ dan merendahkan diri, dan taatlah kamu kepada mereka berdua dalam segala yang diperintahkan selagi tidak dalam kemaksiatan sebagaimana firman Allah SWT dalam suratAl-Ankabut ayat 8 yang berbunyi:

Artinya: Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lahkembali, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

e. Hendaknya anak selalu mendoakan kedua orang tua agar Allah SWT memberikan rahmat kepada mereka, sebagai balasan kasih sayang mereka berdua terhadap anak ketika masih kecil.92

Kemudian Allah SWT melanjutkan ayatnya:















Ibnu Katsir menjelaskan ayat diatas bahwa maksudnya yaitu jangan sampai ada perbuatan buruk yang kamu lakukan terhadap keduanya.

Sebagaimana yang dikatakan `Atha‟ bin Abi Rabah mengenai firman-Nya ini ia berkata: Artinya janganlah kamu meringankan tangan kepada keduanya. Dan setelah Allah melarang melontarkan ucapan buruk dan perbuatan tercela, Allah menyuruh berkata-kata baik dan berbuat baik kepada keduanya, di mana Dia berfirman: wa qul laHumaa qawlan kariiman (Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.) Yakni, dengan lemah lembut, baik, penuh sopan santun, disertai pemuliaan dan penghormatan.93

Ayat diatas menuntut agar apa yang disampaikan kepada orang tua bukan saja yang benar, tepat dan sesuai dengan adat kebiasaan didalam suatu masyarakat, tetapi juga harus yang terbaik dan termulia. Jika orang tua melakukan kesalahan kepada anak, maka kesalahan itu dianggap tidak ada/dimaafkan, karena tidak ada orang tua yang bermaksud buruk terhadap anaknya.

Kemudian Allah SWT melanjutkan ayat 24

92 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi juz 15,,,,,,,, hlm 62-64

93 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir jilid 5,,,,,,,,,,, hlm 297



Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini yakni tentang bertawadhu‟lah kamu kepada keduanya melalui tindakanmu pada usia tuanya dan pada saat wafatnya.94 ini adalah salah perintah Allah SWT cara berbakti kepada orang tua, maka jangan sampai kita membuat hatinya tersinggung dengan perkataan yang kasar-kasar apalagi durhaka kepadanya maka sepatutnya seorang anak tahu menjaga perasaan orang tua, supaya tidak timbul hal-hal yang tidak menyenangkan.95

Disamping perintah beribadah maka doakanlah mereka dengan hati yang tulus dan ikhlas supaya Allah SWT melimpahan rahmat kasih sayangNya kepada mereka kecuali bila mereka melakukan kesyirikan.

Kemudian Ibnu Abbas mengatakan Allah Ta‟ala menurunkan surat At-Taubah ayat 113 yang berbunyi :



Artinya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.

94 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir jilid 5,,,,,,,,,,, hlm 298

95 M.Nur Idris, Tafsir Al-Qur‟anul Karim jilid 3,,,,,,,,,hlm 487

Berbakti kepada ibu bapak itu tidak terbatas pada waktu keduanya masih hidup saja, tetapi sesudah mereka meninggal dunia pun disyariatkan kepada anak untuk berbakti kepada keduanya. Sebagaimana Seseorang bertanya kepada Rasullullah SAW cara untuk berbakti kepada ibu bapakku setelah keduanya meninggal dunia:

َلَع ُة َلََّصلا ْمَعَ ن َلاَق اَمِِتِْوَم َدْعَ ب ِوِب اَُهُُّرَ بَأ ٌءْيَش َّيَوَ بَأ ِّرِب ْنِم َيِقَب ْلَى ِوَّللا َلوُسَر اَي اَمِهْي

َو اَمِِبِ َّلَِإ ُلَصوُت َلَ ِتَِّلا ِمِحَّرلا ُةَلِصَو اَِهُِدْعَ ب ْنِم اَِهُِدْهَع ُذاَفْ نِإَو اَمَُلَ ُراَفْغِتْس ِلَاَو ُماَرْكِإ

اَمِهِقيِدَص

96

Artinya: Wahai Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, adakah tersisa perbuatan bakti kepada orang tua yang masih bisa saya lakukan sepeninggal mereka? Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam menjawab: Berdoa untuk mereka, memohonkan ampunan, melaksanakan janji mereka, menyambung tali silaturahim yang hanya terhubung melalui mereka serta memuliakan teman-teman mereka(HR. Bukhari dan Ahmad)

Itulah cara bakti yang harus dilakukan seorang anak kepada ibu bapak sesudah mereka meninggal.97

Dari pemaparan para ahli tafsir maka dapat suatu Kesimpulan bahwa Allah SWT benar-benar mewasiatkan mengenai kedua orang tua secara serius, sehingga siapa pun yang durhaka terhadap kedua orang tua akan bangun bulu romanya dan ngeri mendengarnya, karena wasiat Allah itu mulai dengan perintah supaya bertauhid dan beribadah kepadaNya.

Kemudian kewajiban tersebut digenapkan dengan kewajiban berbuat baik

Kemudian kewajiban tersebut digenapkan dengan kewajiban berbuat baik

Dokumen terkait