• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM YANG TERKANDUNG DALAM AL-QUR AN SURAT AL-ISRAA AYAT SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM YANG TERKANDUNG DALAM AL-QUR AN SURAT AL-ISRAA AYAT SKRIPSI"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM YANG TERKANDUNG DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-ISRAA’ AYAT 23-24

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam

Pada Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan

Oleh:

ILHAM SYAPUTRA NIM. 2113. 078

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

1438 H / 2017

(2)

ABSTRAK

Ilham Syaputra, NIM. 2113. 078. Skripsi ini berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Islam yang Terkandung dalam al-Qur’an Surat Al-Israa’ ayat 23-24. Maksud judul ini adalah sifat-sifat atau hal-hal yang bermanfaat atau dipandang baik dalam surat Al-Israa‟ ayat 23-24 yang berhubungan dengan pendidikan Islam dari aspek Aqidah dan akhlak, sehingga dapat dijadikan pegangan dalam menjalankan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Latar belakang penelitian ini adalah karena masih banyaknya umat Islam yang belum mengetahui serta mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan Islam dari aspek Aqidah dan Akhlak kepada kedua orang tua berdasarkan tuntutan al-Qur‟an dan Sunnah. Buktinya dapat dilihat manusia khususnya umat Islam belum menjalankan perintah agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

masyarakat yang masih beribadah kepada selain Allah SWT dan anak tidak berbuat baik kepada orangtua,. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam mengenai penafsiran surat Al-Israa‟ dan nilai pendidikan Islam dari aspek Aqidah dan akhlak kepada kedua orang tua yang terkandung dalam al- Qur‟an surat Al-Israa‟ ayat 23-24

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research (studi pustaka), yaitu pendalaman, penelaahan dan pengidentifikasian pengetahuan yang ada dalam kepustakaan (sumber bacaan, buku-buku referensi atau hasil penelitian lain) yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Penelitian ini merupakan analisis konsep dan terfokus pada ayat-ayat al-Qur‟an, maka metode yang digunakan dalam pembahasan ini adalah metode tafsir tahlili, yaitu metode tafsir yang menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur‟an dari seluruh aspeknya berdasarkan urutan ayat dalam al-Qur‟an mulai dari mengemukakah arti kosa kata, munasabah (persesuaian) antar ayat, antar surat, serta asbab al-nuzul.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam surat Al-Israa‟ ayat 23-24 terdapat bermacam penafsiran mengenai ayat tersebut, selain itu dalam ayat ini juga terkandung nilai pendidikan Islam dari aspek Aqidah dan akhlak kepada kedua orang tua. Banyak pendapat para mufasir mengenai penafsiran surat Al- Israa‟ ayat 23-24, namun secara umum dapat dipahami bahwa kandungan surat Al-Israa‟ ayat 23-24 adalah membahas tentang Aqidah dan akhlak kepada kedua orang tua. Apabila manusia telah menyembah atau melaksanakan perintah Allah yang merupakan hak Allah, maka benarlah akidah dan segala perbuatan yang dilakukan manusia. Hal ini akan terlihat dari akhlak yang baik kepada sesama manusia khususnya kepada orangtua yang akan menciptakan suatu kebaikan yang disenangi sesuai dengan ajaran Islam. Allah tidak menyukai manusia memiliki sifat sombong tapi Allah menganjurkan kepada umat-Nya agar berbuat baik (ihsan) kepada sesama manusia. Nilai pendidikan Islam dari aspek akhlak kepada sesama manusia khususnya akhlak kepada orang tua yang terkandung dalam ayat ini adalah berbuat baik (ihsan) kepada orangtua dengan cara melakukan sesuatu yang menggembirakan, disenangi oleh orangtua sesuai dengan ajaran Islam seperti memiliki rasa pengabdian, kasih sayang, toleransi merupakan suatu etika yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSEMBAHAN SURAT PERNYATAAN

PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN TIM PENGUJI

ABSTRAK ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan Masalah dan Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7

D. Penjelasan Judul ... 8

E. Sistematika Penulisan... 10

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Nilai-Nilai Pendidikan Islam ... 11

B. Sumber Pendidikan Islam ... 19

C. Tujuan Pendidikan Islam ... 21

D. Nilai-Nilai pendidikan Islam ... 23

E. Ruang Lingkup Pendidikan Islam ... 39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 41

(4)

B. Sumber Data ... 42

C. Teknik Analisis Data ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Temuan Umum... 1. Lafaz Surat Al-Israa‟ ayat 23-24... 44

2. Tafsir Mufradat Surat Al-Israa‟ ayat 23-24... 44

3. Kandungan Surat Al-Israa... 46

4. Muhasabah Surat Al-Israa‟ ayat 23-24... 48

5. Asbabul An-Nuzul Surat Al-Israa‟... 52

6. Penjelasan mufassir Surat Al-Israa‟ ayat 23-24... 53

B. Temuan Khusus ... 1. Nilai-Nilai Pedidikan Islam dilihat dari Aspek Aqidah... 61

2. Nilai-Nilai Pedidikan Islam dilihat dari Aspek Ibadah... 65

3. Nilai-Nilai Pedidikan Islam dilihat dari Aspek Akhlak... 68

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 79

B. Saran ... 80 DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama yang sempurna, karena mengatur seluruh aspek kehidupan. Pengaturan tersebut dinyatakan dalam bentuk perintah dan larangan yang terdapat didalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Perintah dan larangan yang dimaksud harus dijalankan dan dilaksanakan dengan sepenuh hati tanpa ada paksaan sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah 256



















































Artinya : tidak ada paksaan untuk agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Dalam tafsir Ibnu Katsir menyatakan, tidak ada yang dipaksa untuk memeluk agama Islam karena telah jelas dan tegas tanda dan bukti kebenaran Islam sehingga tidak perlu lagi memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam. Orang yang diberi hidayah oleh Allah untuk menerima Islam, lapang dadanya dan dicerahkan pandangannya sehingga ia memeluk Islam dengan alasan yang pasti. Namun orang yang hatinya dibutakan oleh Allah dan

(6)

ditutup hati serta pandangannya, tidak ada manfaatnya memaksa mereka untuk masuk Islam.1

Sedangkan pendidikan berasal dari kata dasar didik atau mendidik, yang secara harfiah berarti memelihara dan memberi latihan.2 Pendidikan secara istilah adalah usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah peserta didik melalui ajaran Islam kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan.3

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.4

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa pada hakikatnya pendidikan adalah ikhtiar manusia untuk membantu dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan fitrah (kemampuan dasar) atau potensi manusia agar berkembang sampai titik maksimal sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

Sedangkan Pendidikan Islam adalah usaha membimbingan jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial untuk mengembangkan

1 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Pustaka Imam Asy-Syafii 2009) juz 3 hlm 42

2 Muhibin Syah, M. Ed., Psikologi Pendidikan, (Bandung,, PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm 32

3 Ahmad. D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Maarif 1981) hlm 23

4 UU RI. No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : Departemen Pendidikan, No. 01, 2003), hlm 6

(7)

fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya manusia ideal (insan kamil) yang berkepribadian muslim dan berAqidah Shahih yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi manusia baik lahir maupun batin agar terbentuknya pribadi muslim seutuhnya.5

Dilihat dari segi aspek pendidikan Islam, pendidikan Islam mempunyai berbagai aspek-aspek pendidikan Islam. Menurut Abuddin Nata mengemukan Bahwa aspek kandungan materi dari pendidikan Islam, secara garis besarnya mencakup Aspek Akidah, Ibadah, dan Akhlak.6

Al-Qur‟an banyak mengkaji permasalahan yang berhubungan dengan nilai pendidikan Islam dari berbagai aspek, salah satunya nilai pendidikan Islam dari aspek akhlak. Akhlak terbagi menjadi dua macam yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, Diantara ayat yang membahas tentang nilai pendidikan Islam adalah surat Al-Israa‟ ayat 23-24:















































































Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya

5 Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam perspektif Filsafat, ((Jakarta: Kencana 2014), hlm 11

6 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2001) cet ke-6. hlm 84

(8)

atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.

Berdasarkan ayat di atas dapat diperoleh nilai pendidikan Islam, antara lain perintah menyembah kepada Allah SWT, serta berbuat baik kepada dua orang tua. Namun kenyataannya banyak kaum muslim yang menyembah selain Allah SWT dan menyepelekan bahaya Syirik ini dan hal ini telah tersebar luas di tengah-tengah masyarakat di zaman modern ini. Contoh perbuatan Syirik yang banyak tersebar di masyarakat adalah:

1. Menyembah atau memohon kepada selain Allah Ta‟ala, seperti berdoa kepada orang-orang shaleh yang telah mati.

2. mengagungkan kuburan orang-orang shaleh dan orang yang dikeramatkan.

3. menggantungkan jimat, yang berupa benang, manik-manik atau benda lainnya, pada leher, tangan, atau tempat-tempat lainnya, dengan meyakini jimat tersebut sebagai penangkal bahaya dan pengundang kebaikan.

4. Mendatangi para dukun, tukang sihir, peramal (paranormal) dan sebagainya, serta membenarkan ucapan mereka. Ini termasuk perbuatan kafir (mendustakan) agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.

(9)

5. Pengagungan benda-benda,bertuah atau keramat seperti keris, tongkat dan lainnya.

6. Mengharap keberkahan terhadap benda atau tempat seperti pohon,batu,sungai atau gua.7

Pada zaman ini pula akhlak anak kepada kedua orang tua semakin menjadi-jadi, seorang anak menyakiti kedua orang tua dengan kata-kata atau ucapan tapi menyakiti kedua orang tua dengan perbuatan. Lebih mirisnya lagi seorang anak tega membunuh orang tua kandungnya disebabkan orang tua tidak bisa mengabulkan keinginan anak.

Padahal Allah SWT telah menegaskan kepada umat-Nya jangan menyekutukan Allah dan durhaka kepada dua orang tua sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

َو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص ِللها ُلْوُسَر َلاَق : َلاَق ، ُوْنَع ُللها َيِضَر ِثِراَْلْا ِنْب ِعْيَفُ ن َةَرْكَب ِْبَِأ ْنَع : َمَّلَس

اًث َلََث ؟ِرِئاَبَكْلا َِبَْكَأِب ْمُكُئِّبَ نُأ َلََأ

،ِللهاِب ُكاَرْشِْلَْا :َلاَق ،ِللها َلْوُسَر اَي ىَلَ ب :اَنْلُ ق - ُقْوُقُعَو

اَىُرِّرَكُي َلاَزاَمَف ،ِرْوُّزلا ُةَداَهَشَو ،ِروُّزلا ُلْوَ قَو َلََأ :َلاَقَ ف َسَلَجَف اًئِكَّتُم َناَكَو .ِنْيَدِلاَوْلا :اَنْلُ ق َّتََّح

َتَكَس ُوَتْيَل

8

Artinya: Dari Abu Bakrah Nufai‟ bin al-Hârits Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, Maukah aku beritahukan kepadamu dosa besar yang paling besar? Beliau Shallallahu

„alaihi wa sallam bertanya tiga kali Kami (para Shahabat) menjawab, Tentu, wahai Rasûlullâh. Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, Menyekutukan Allâh dan durhaka kepada kedua orang tua. Awalnya Beliau bersandar kemudian duduk dan bersabda, Serta camkanlah, juga perkataan bohong dan saksi palsu. Nabi selalu mengulanginya sehingga kami berkata (dalam hati kami), Semoga Beliau diam. (HR. Bukhari)

7 Perdana Akhmad, Membongkar Kesesatan Perilaku Syirik Masyarakat Indonesia (Jakarta: Media Pustaka, 2011), hlm 22

8 Al-Imam Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, (Jakarta: Griliya Ilmu, 2013), Jilid I, hlm. 28

(10)

Berdasarkan hadist di atas dapat dipahami bahwa termasuk dosa besar mempersekutukan Allah SWT, durhaka kepada kedua orang tua, perkataan dusta serta kesaksian palsu hal tersebut merupakan bentuk-bentuk akhlak tercela. Adakala seorang anak terlena atau lupa dengan kedua orang tua, seperti: anak berlimpahan harta sedangkan orang tua serba kekurangan tidak merawat orang tua dengan baik, membiarkan orang tua hidup sendiri dengan hidup tidak memiliki harta baik, dan terkadang ada yang tidak mengakui kedua orang tuanya.

Dari pemaparan penulis diatas maka adanya suatu titik tolak, maka dari itu penulis tertarik untuk mengkaji ayat ini di karnakan menurut penulis ayat ini sangatlah penting karena berhubungan Aqidah dan Akhlak umat Islam dan agar pendidikan lebih mengedepankan pendidikan Aqidah dan Akhlak . Oleh sebab itu, bagi penulis penting untuk di lakukan penelitian yang membahas tentang : NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM YANG TERKANDUNG DALAM SURAT Al-ISRAA' AYAT 23-24

(11)

B. Batasan Masalah dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Untuk memudahkan penulisan sampai apa yang dimaksud dan menghindari terlalu luasnya ruang lingkup pembahasan ini, maka penulis membatasi masalah ini mengenai bagaimana Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam yang terkandung Surat Al-Israa‟ ayat 23-24.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah diatas maka rumusan masalah ini adalah:

a. Bagaimana penafsiran Surat Al-Israa‟ ayat 23-24 menurut para mufasir ?

b. Apa Saja Nilai-nilai Pendidikan Islam yang terkandung dalam Surat Al-Israa‟ ayat 23-24.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui penafsiran terhadap Surat Al-Israa‟ ayat 23-24 menurut para mufasir.

b. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Surat Al-Israa‟ ayat 23-24.

2. Kegunaan Penelitian

a. Untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas

(12)

Tarbiyah Ilmu Keguruan (FTIK) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi.

b. Sebagai tambahan Bacaan untuk memperkaya ilmu pengetahuan pada PerpustakanInstitut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi.

c. Memberikan sumbangan pemikiran tentang nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung Surat Al-Israa‟ ayat 23-24.

D. Penjelasan Judul

Untuk menghidari kekeliruan dalam memahami judul ini, maka penulis akan memjelaskan istilah-istilah yang terdapat dalam judul ini sebagai berikut:

Nilai :Menurut Kamus Besar Bahasa Indnesia (KBBI) nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang berguna bagi manusia.9 Sifat atau hal-hal penting atau berguna bagi kemanusian atau Proses perubahan seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan proses pembuatan yang mendidik.10

Pendididikan Islam :Segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah Manusia serta sumber daya manusia yang ada

9 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), hlm 667

10 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1984), Cet. Ke-9, hlm 690

(13)

padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya sesuai dengan norma Islam.11

Surat Al-Israa‟ 23-24 :Salah satu nama Surat dalam Al-Qur‟an yang terdiri dari 111 yang berarti memperjalankan dimalam hari yang berhubungan dengan peristiwa Israa‟ Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Asqha di Baitul Maqdis dan termasuk golongan surat Makiyah.12 Surat Al-Israa‟ ayat: 23-24 membahas tentang Akidah dan akhlak kepada orang tua

E. Sistematika Penulisan

Agar penulisan ini tidak menyimpang dari jalur pembahasan dan untuk mempermudah pemahaman pembaca, maka penulis membagi menjadi beberapa komponen (Lima Bab) dan masing-masing bab mempunyai sub-sub bagian, sebagai berikut

Bab I pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan Judul dan sistematika penulisan.

Bab II pendidikan Islam yang terdiri dari pengertian pendidikan Islam, dasar-dasar pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam, nilai-nilai pendidikan Islam dalam Al-Qur‟an dan ruang lingkup pendidikan Islam.

11 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: pustaka Pelajar, 2008), cet. Ke-2, hlm 28-29

12 M.Nur Idris, Tafsir Al-Qur‟anul Karim, (Jakarta: Perkumpulan Haji Muhammad Idris, 2015), hlm 480

(14)

Bab III metodologi penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, metode penelitian, sumber data.

Bab IV yaitu menguraikan kandungan Surat Al-Israa‟ ayat 23-24, penafsiran Surat Al-Israa‟ ayat 23-24, nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam Surat Al-Israa‟ ayat 23-24.

Bab V penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

(15)

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Pengertian Nilai Pendidikan Islam

Nilai berasal dari bahasa latin valere yang artinya berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang. Nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diinginkan, kejar, dihargai, berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya menjadi bermartabat.13

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang berguna bagi manusia. Beberapa para ahli mendefinisikan pengertian nilai sebagai berikut yaitu, menurut Purwardaminta menerjemahkan nilai sebagai sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.14 Menurut Chabib Thoha nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (system kepercayaan) yang telah berhubungan dengan subjek yang memberi arti (manusia yang meyakini).15

Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa nilai adalah harga atau kadar sesuatu yang dapat diambil atau bermanfaat bagi manusia yang menjadi dasar penentu tingkah laku manusia sehingga setiap sesuatu

13 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai-Karakter Konstuktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012) cet ke 1 hlm 56

14 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999) hlm 677

15 Thoha, M.Chabib, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996) hlm 18

(16)

dianggap bernilai apabila nilai tersebut dapat berguna bagi manusia dan sekitarnya.

Adapun beberapa pendapat ahli tentang pengertian pendidikan yaitu:

1. Menurut Darul Ilmi pendidikan adalah usaha sadar yang dapat dimaknai bahwa proses pendidikan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab antara pendidik dan peserta didik melalui latihan dan bimbingan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri seseorang.16

2. Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.17 3. Menurut KI Hajar Dewantara, Pendidikan adalah menutun segala

kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamtan dan kebahagian yang setinggi-tingginya.18

Dari ketiga pendapat tersebut maka jelaslah bahwa pendidikan itu merupakan perbuatan untuk membantu anak dengan sengaja (dengan bimbingan) untuk menjadi dewasa dan dapat bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya. Bimbingan yang dilakukan pada anak, tidak saja pada aspek jasmaninya saja, tetapi juga pada aspek rohaniyah atau jiwanya.

16 Darul Ilmi, Dasar-Dasar Pendidikan dan Pembelajaran, (Bukittinggi: STAIN Bukitttinggi, 2009) hlm 3

17 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma‟arif,1989) hlm 19

18 Suwarno, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992) hlm 3

(17)

Setelah membicarakan pengertian pendidikan secara umum berikut penulis akan mengemukan pengertian pendidikan Islam secara istilah menurut para ahli. Untuk lebih jelasnya penulis akan kemukakan beberapa pendapat mengenai pendidikan Islam yaitu:

1. Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa pendidikan Islam sebagai bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam. Menuju terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran- ukuran Islam.19

2. Abu Ahmad dan Nur Uhbiyat mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah suatu aktivitas atau usaha pendidikan terhadap anak didik menuju kearah terbentuknya muslim yang muttaqin.20

3. Zuhairini mengatakan bahwa pendidikan Islam usaha secara sistematika dan pragmatis dalam membantu anak didik, agar mereka hidup secara baik sesuai dengan ajaran agama Islam.21

4. Abuddin Nata mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi ( fisik, intelektual, sosial, dan spritual) yang terdapat pada peserta didik, sehingga dapat tumbuh dan terbina dengan optimal melalui cara memelihara, mengasuh, merawat, dan memperbaiki dan mengaturnya secara terancana, sistematis dan berkelanjutan.22

19 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam... hlm 23

20 Abu Ahmad dan Nur Uhbiyat, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), cet ke- 1, hlm 110

21 Zuhairini, Metode Khusus Pendidikan Islam, (Malang: Kalam Mulia, 1986) hlm25

22 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Kencana,2010), hlm 8

(18)

5. Zakiyah Drajat mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan petunjuk ajaran Islam.23

Dari penjelasan tersebut, jelaslah bahwa pendidikan Islam itu merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik dengan cara pengajaran, pembiasaan, pengasuhan, membimbing, membina serta mengembangkan potensi sesuai ajaran Al-Qur‟an dan Sunnah sehingga menjadi seseorang yang berakhlak mulia berguna bagi Agama, nusa dan bangsa.

Dalam bahasa Arab ada tiga kata yang berhubungan dengan pendidikan Islam jika kita telusuri dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Adapun yang tiga itu yaitu:

a. Tarbiyah

Tarbiyah berasal dari kata rabaa, yarbu, tarbiyah yang memiliki makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur.

Sedangkan Tarbiyyah secara istilah proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia ke arah yang lebih sempurna. Ia bukan saja dilihat proses mendidik saja tetapi merangkumi proses mengurus dan mengatur supaya perjalanan kehidupan berjalan dengan lancar. Salah satu pengertian Tarbiyah adalah bertambah atau berkembang seperti terdapat dalam surat ar-Rum ayat: 39.

23 Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (jakarta: bumi Aksara, 1992) Cet Ke-2 hlm 28

(19)















































Artinya : dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

Berdasarkan ayat diatas maka Tarbiyah merupakan proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.24Maka tarbiyah berarti usaha memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar dapat bertahan lebih baik dalam kehidupannya.25

b. Ta‟lim

Ta‟lim berasal dari kata a‟lama, yu‟limu, ta‟lim yang memiliki makna pemberian, pengajaran atau penyampaian. Sedangkan secara istilah Ta‟lim adalah penyampaian ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah kepada anak. Oleh karena itu Ta‟lim di sini mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan yang di butuhkan seseorang dalam hidupnya dan pedoman perilaku yang baik. Kata Ta‟lim dalam al- Qur‟an menunjukkan sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan

24 Abdul Mujib, Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta:Kencana Prenada Media ,2010), cet ke-3 hlm 10-11

25 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,,,,,,,,,,, hlm 8

(20)

sesuatu berupa ilmu pengetahuan seperti terdapat dalam surat Al- Baqarah ayat 102





































































































 















































Artinya: Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

(21)

Dari ayat tersebut maka Ta‟lim merupakan pemberian pengetahuan, pemahaman dan keterampilan secara terus menerus sejak lahir sampai meninggal tanpa ada batas waktu dan umur sehingga siap menerima ilmu yang akan diberikan oleh pendidik yang bertujuan diterapkan dilingkungan masyarakat.

c. Ta‟dib

Secara bahasa,Ta‟dib berasal dari kata addaba- yuaddibu- ta‟diban, yang berarti mengajarkan sopan santun. Sedangkan menurut istilah Ta‟dib dapat diartikan sebagai proses mendidik yang memfokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar atau Ta‟dib yaitu pengenalan dan pengukuhan secara beransur-ansur ditanamkan kepada manusia tentang tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptanan sedemikian rupa, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengukuhan kekuasaan dan keagungan Tuhan didalam tatanan wujud dan keberadaannya.26

Pengunaan kata Ta‟dib dapat ditemui dalam hadist Rasullullah SAW sebagai berikut :

َّنِإَف .ِنآْر ُقلْا ِتَوَلَ ِتَو ,ِوِت ْيَ ب ِلآ ِّبُحَو ْمُكِّي ِبَن ِّبُح : ٍلا َصِح ِثَلََث ىَل َع ْمُكَدَلَْوَأ اْو ُبِّدَأ و ِئآَي ِفْصَأَو ِو ِئآَي ِبْنَأ َعَم ُو ُّلِظ َّلَِإ َّل ِظ َلَ َمْو َي ِللها ِشْر َع ِّل ِظ ِفِ ِنآْر ُقْلا َةَلا ََحَ

Artinya: Didiklah anak-anakmu dalam tiga hal: mencintai Nabimu, mencintai keluarga nabi, dan membaca Al Qur‟an. Maka sesungguhnya yang membaca Al Qur‟an berada dalam naungan Nya, bersama para Nabi dan orang-orang Suci (HR Dailani)

26 Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam..., hlm 42

(22)

Melalui kata Ta‟dib diharap pendidikan sebagai tranformasi nilai- nilai Akhlak mulia yang bersumber pada ajaran agama Islam kedalam diri manusia serta menjadi dasar ilmu pengetahuan dalam rangka membendung pengaruh materialisme, sekularisme dan dikotomisme ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Barat.27

Berdasarkan uraian diatas maka jelaslah bahwa Tarbiyah lebih popoler dari yang lain karena sering digunakan oleh para ahli dalam penyebutan pendidikan Islam. Bagi para ahli yang tidak sependapat dengan istilah ini, maka mereka melakukan rekontruksi pengertian Tarbiyah sesuai apa yang diharapkan, sehingga diproleh kesamaan istilah dan pengertian dalam pendidikan Islam.28

B. Sumber Pendidikan Islam 1. Al-Qur‟an

Al-Quran merupakan sumber pertama syariat Islam, yang dijadikan pedoman hidup semua muslim termasuk dalam aspek pendidikan. Al- Qur‟an merupakan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai mukjizat, disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah SWT sendiri dengan perantara malaikat jibril dan mambaca Al-Qur'an dinilai Ibadah kepada Allah SWT. 29 Al-Qur'an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa sebagai Firman Allah dalam Al- Qur‟an surat Al-Jaatsiyah ayat 20

27 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,,,,,,,,,,, hlm 14

28 Abdul Mujib, Ilmu pendidikan Islam... hlm 24-25

29 Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu,1999), hlm 32

(23)

















Artinya: Al Qur‟an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

Dari ayat tersebut maka Al-Qur‟an adalah dasar pendidikan Islam dan Allah SWT menciptakan manusia dan Dia pula yang mendidik manusia. Semua nilai pendidikan telah termaktub didalam Al-Qur‟an, tidak satupun pesoalan pendidikan luput dari Al-Qur‟an.30

Al-Qur‟an adalah petunjukNya yang bila dipelajari dengan sesungguh-sungguhnya yang akan membantu menemukan nilai-nilai Islam yang akan dijadikan pedoman berbagai problem hidup.31 Sebagaimana hal ini disebutkan dalam Dalam firman Allah surah Al-Isra`: 82





























Artinya: dan Kami turunkan dari Al Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

2. Sunnah

As-Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, ketetapan, keadaan dan keinginan yang berasal dari nabi Muhammad SAW.32 Sunnah sumber atau dasar hukum yang kedua setelah Al-Quran yang berisi Aqidah, Ibadah, Muamalah dan Syariah yang bertujuan untuk membina umat manusia seutuhnya. Untuk itu Rasullullah SAW menjadi guru dan

30 Muhammad Chirzin, Al-Quran dan Ulumul Qur‟an, (Yogyakarta: PT Dana Bakti Yasa, 2003) hlm 52

31 Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,2000), hlm 20

32 Abdul Mujib, Ilmu pendidikan Islam,,,,,,,,, hlm 38

(24)

pendidik yang utama dan amalan yang dikerjakan oleh Rasullullah SAW sehari-hari menjadi sumber utama pendidikan Islam. Sebagai firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21.





































Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Dan juga didalam hadist Rasululullah SAW yang berbunyi:

َأ ْنَع ْمُكْيِف ُتْكَرَ ت ِّنِِّإ َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص ِللها ُلْوُسَر َلاَق :َلاَق ُوْنَع ُوَّللا َيِضَر َةَرْ يَرُى ِْبِ

َضْوَْلْا َّيَلَع اَدِرَي َّتََّح

33

َقَّرَفَ تَ ي ْنَلَو ِْتَِّنُسَو ِللها َباَتِك اَُهُ َدْعَ ب اْوُّلِضَت ْنَل ِْيَْ ئْيَش

Artinya :Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam : Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di Telaga (di Surga).

Dari ayat dan Hadist diatas menyatakan bahwa segala apa yang dilaksanakan oleh manusia hendaknya berpedoman kepada kitab Allah SWT dan Sunnah rasulNya. Begitu juga dengan pendidikan harus berdasarkan kitab Allah SWT dan SunnahNya, maka orang yang berjalan diatas Al-Qur‟an dan Sunnah akan memperoleh hidup yang bahagia didunia dan maupun akhirat.

33 Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra Jilid 10 (Jakarta: Pustaka Azam, 2009) hlm 114

(25)

Dalam dunia pendidikan Islam, sunnah mempunyai dua manfaat yang paling pokok yaitu:

a. Mampu menjelaskan konsep dan kesempurnaan pendidikan Islam sesuai dengan konsep Al-Qur‟an serta lebih merinci penjelasan Al-Qur‟an dan Sunnah.

b. Dapat menjadi contoh yang tepat dalam penentuan metode pendidikan.34

C. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan adalah sarana yang hendak dicapai dalam aktivitas. Aktivitas tidak akan ada artinya tanpa tujuan. Adapun tujuan pendidikan Islam ialah memberikan bantuan kepada manusia yang belum dewasa supaya cakap melaksanakan tugas hidupnya yang diredhoi oleh Allah, sehingga terjalinlah kebahagian didunia dan akhirat.35

Tujuan pendidikan pendidikan Islam menurut adalah menciptakan pribadi hamba Allah yang selalu bertaqwa kepadaNya dalam mencapai kehidupan bahagia didunia dan diakhirat. Dalam kontek sosial masyarakat, bangsa dan negara menjadi pribadi bertaqwa Rahmatan lil „alamin baik dalam skala kecil maupun besar.

Lebih lanjut Amirsyah mengemukan bahwa tujuan pendidikan Islam diuraikan sebagai berikut:

1. Terwujudnya insan akademik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah

34 Abudin Nata, Al-Quran, (Dirasah Islamiyah I), (Jakarta PT. Raja Grafindo Persada 1996) Cet -5 hlm 156

35 Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, (Semarang: Rineka Cipta, 2001), hlm 11

(26)

2. Terwujudnya insan kamil yang berakhlak karimah 3. Terwujudnya insan muslim yang berkepribadian

4. Terwujudnya insan yang cerdas dalam mengaji dan mengaji ilmu pengetahuan

5. Terwujudnya insan yang bermanfaat untuk kehidupan orang lain 6. Terwujudnya insan yang sehat jasmani dan rohani

7. Terwujudnya karakter muslim yang menyebarkan ilmunya kepada sesama manusia.36

Menurut Achmadi ada dua tujuan pendidikan Islam:

1. Tujuan tertinggi dan terakhir

a. Menjadi hamba Allah yang bertaqwa

Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pengertian ibadah yang demikian, implikasinya dalam pendidikan adalah: pendidikan Islam harus mencakup dua hal:

Pertama: pendidikan memungkinkan manusia mengerti Tuhan-Nya secara benar, sehingga semua perbuatannya terbingkai ibadah yang dilakukan dengan penuh penghayatan akan keesaan- Nya.

Kedua: pendidikan harus menggerakkan seluruh potensi manusia (sumber daya manusia) untuk memahami sunnah Allah di

36 Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm 147

(27)

atas bumi, menggalinya, dan memanfaatkannya untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bersama (rahmatan lil „alamin).

b. Mengantarkan subjek didik menjadi khalifatullah fil ard (wakil Tuhan di bumi) yang mampu memakmurkannya (membudayakan alam sekitarnya).

c. Memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat.37

2. Tujuan umum pendidikan Islam

Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, prilaku dan kepribadian subjek didik, sehingga mampu menghadirkan dirinya sebagai sebuah pribadi yang utuh.38

D. Nilai-nilai Pendidikan Islam

Islam adalah agama yang ajarannya diwahyukan tuhan kepada manusia melalui nabi Muhammad sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengacu pada suatu aspek, tetapi ada beberapa pada aspek kehidupan manusia diantaranya yaitu:

1. Aqidah

Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kata al-'aqdu ( دْقَعْلا) yang berarti ikatan, kepercayaan atau keyakinan yang kuat sedangkan secara istilah adalah Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan yang berkaitan dengan keyakinan

37 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hal. 95-97

38 Achmadi, Ideologi Pendidikan …, hal. 98

(28)

(bukan perbuatan).39 Aqidah ini wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa sehingga hati menjadi tenteram yang tidak tercampuri oleh kesyirikan dan keraguan baik berkaitan Rububiyyah Uluhiyyah-Nya, dan Asma wa Sifat Allah SWT, dan apa yang sudah disepakati oleh Salafush Shalih yaitu tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabi'in dan Tabii‟ Tabi'in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

ويلع للها َّىلَص ِللها ُلْوُسَر اَنَظَعَو :َلاَق ونع للها يضَر َةيراَس ِنْب ِضاَبْرِعْلا ٍحْيَِنَ ِبَِأ ْنَع ،ِللها َلْوُسَر اَي :اَنْلُقَ ف ،ُنْوُ يُعْلا اَهْ نِم ْتَفِرَذَو ،ُبْوُلُقْلا اَهْ نِم ْتَل ِجَو ًةَظِعْوَم ملسو ُةَظِعْوَم اَهَّ نَأَك ِةَعاَّطلاَو ِعْمَّسلاَو ،َّلَجَو َّزَع ِللها ىَوْقَ تِب ْمُكْيِصْوُأ :َلاَق ،اَنِصْوَأَف ،ٍعَّدَوُم

ِتَِّنُسِب ْمُكْيَلَعَ ف .ًاْيِْثًك ًافَلَِتْخا ىَرَ يَسَف ْمُكْنِم ْشِعَي ْنَم ُوَّنِإَف ،ٌدْبَع ْمُكْيَلَع َرَّمَأَت ْنِإَو ِشاَّرلا ِءاَفَلُْلْا ِةَّنُسَو َّنِإَف ِرْوُمُلأْا ِتاَثَدُْمَُو ْمُكاَّيِإَو ،ِذِجاَوَّ نلاِب َوْيَلَع اوُّضَع َْيِّْ يِدْهَمْلا َنْيِد

ةلَلََض ٍةَعْدِب َّلُك

40

Artinya : Abu Najih, Al „Irbad bin Sariyah ra. ia berkata: Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran. Kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat” Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta‟at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya siapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid‟ah itu sesat.(HR. Abu Daud)

39 Kelompok Study Ummah, Aqidah Seorang Muslim, (Bandung: Mirzan Press, 1994), hlm 01

40 Abu Daud, Sunan Abu Daud, jilid III(Jakarta: Pustaka Azzam,2009) 114

(29)

Dari hadist tersebut itu, maka jelaslah bahwa Allah SWT memerintahkan agar umat Islam yang beriman agar berpegang teguh kepada SunnahNya. Berpegang teguh pada Sunnah adalah cerminan dari ketaatan kepada Rasullullah SAW serta juga merupakan cermin utama dari ketaatan kepada Allah SWT.

Aqidah meliputi semua persoalan keimanan yaitu hal yang harus dipercayai atau diyakini oleh seorang muslim atau mukmin.41 Dalam Islam Aqidah harus diyakini sepenuh hati oleh setiap muslim dan harus dimanifentasikan dalam amal perbuatan dan tingkah laku.

Para Rasul pertama kali menyeru kaumnya untuk membenahi Aqidah mereka sebab Aqidah merupakan dasar pondasi seluruh amal ibadah dan perbuatan yang dilakukan.42 Tanpa pembenahan aqidah amal menjadi tiada berguna, sebagaimana firman Allah SWT Yang berbunyi:



































Artinya: Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba- hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

41 Muhammad Syaitul, Islam Aqidah dan syariah Islam (Jakarta: Bina Aksara,1994), hlm 1

42 Lilis fauziyah dan andi setyawan, Kebenaran Al-Qur‟an dan hadist, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), hlm 21

(30)

Dari ayat-ayat diatas dan beberapa ayat lainnya jelaslah bahwa urgensi Aqidah merupakan prioritas yang utama dan pertama dalam dakwah. Seruan dakwah pertama kali adalah kepada pembenahan Aqidah. Rasulullah SAW bermukim di kota Mekkah setelah diangkat menjadi rasul selama tiga belas tahun menyeru umat manusia kepada pembenahan Aqidah, yakni kepada Tauhid. Sebab keimanan itu akan sempurna dengan memiliki Aqidah yang benar dan lurus. Adapun jika Aqidah belum benar, maka tidak akan ada tersisa Iman dan nilai agama sedikitpun.

jika seorang muslim memiliki aqidah yang benar maka amal ibadahnya-pun menjadi benar. Sebab Aqidah yang benar akan mendorongnya melakukan amal shalih dan mengarahkannya kepada nilai-nilai kebaikan dan perbuatan terpuji.

2. Ibadah

Dalam bahasa Arab Ibadah berasal „abada yang artinya pengabdian, penyembahan, ketaatan, menghinakan merendahkan diri dan doa.43 Sedangkan secara istilah Ibadah adalah segala yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman: Adz-Dzaariyaat: 56

43 Abdullah Arief Cholil dkk, Studi Islam II,,,,,,,,,, 25

(31)















Artinya: dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Allah SWT memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah SWT. Barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong, dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari‟atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah). Allah adalah Raja segala sesuatu Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rezki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya; Dia.44

Ibadah di dalam Islam tidak disyari‟atkan untuk mempersempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari‟atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Karena manusia secara tabi‟at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah SWT. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demikian pula hati dan ruh memerlukan Ibadah dan menghadap kepada Allah SWT.

44 Ibnu Taimiyah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah (Solo Daarul Wathan At-Tibyan 2002) hlm 20

(32)

Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada Ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya bukan jasad, dan keduanya (hati dan ruhnya) tidak akan baik kecuali dengan menghadap wajah kepada Allah SWT dengan beribadah. Agar ibadah dapat diterima, Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:

a. Ikhlas yaitu harus ikhlas mengharap wajah Allah Ta'ala, tidak ada kesyirikan sedikitpun di dalam ibadah tersebut Sebab, jika tercampuri dengan kesyirikan maka batallah ibadah tersebut, semisal thaharah yang tercampuri hadats, sehingga batal.

Demikian juga jika kalian beribadah kepada Allah Ta'ala, kemudian kalian menyekutukan Allah, maka batallah peribadatan kalian. Itulah syarat yang pertama.

b. Ittiba‟ yaitu Jenis peribadatan apapun yang tidak ada contohnya dari Rasulullah maka ibadah tersebut batil dan tertolak, karena ibadah tersebut adalah bid'ah dan sesuatu yang diada-adakan.

Rasulullah mengatakan:

دَر َوُهَ ف ُوْنِم َسْيَل اَم اَذَى اَنِرْمَأ ِفِ َثَدْحَأ ْنَم

45

Artinya: Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak

Sehingga menjadi satu keharusan, bahwa peribadatan itu harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah & bukan

45 An-Nawawi, Arbaun An-Nawawi, (Solo: Maktabah Al-Ghuroba‟, 2007) hlm 19

(33)

dengan perkara-perkara yang dianggap baik oleh manusia dan juga bukan karena niatan-niatan dan tujuan-tujuan mereka, selama tidak ada dalil dari syari'ah ini yang menunjukkan hal itu, maka perkara tersebut adalah diada-adakan dan tidak memberi faedah kepada pelakunya, bahkan akan memberikan madharat kepada pelakunya, karena perbuatan tersebut termasuk kemaksiatan. Walaupun dia menyangka bahwa dia melakukan perbuatan tersebut dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT.46 3. Nilai Pendidikan Akhlak

Menurut etimologi bahasa Arab, akhlak adalah bentuk masdar dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yang memiliki arti perangai, kelakuan, tabiat, atau watak dasar, kebiasaan atau kelaziman, peradaban yang baik. Kata khuluqu juga ada yang menyamakannya dengan kesusilaan, sopan santun, serta gambaran sifat batin dan lahiriah manusia. Secara terminologi ulama sepakat mengatakan bahwa akhlak adalah merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan perbuatan-perbuatan baik atau buruk secara spontan tanpa memerlukan pikiran dan dorongan dari luar.47

Menurut Abdul Rahman Ghazali, akhlak adalah sifat dan keadaan yang tertanam dengan kokoh dalam jiwa yang kemudian

46 Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, 4 Kaedah memahami Tauhid Syarah Qowa'idul Arba‟ (empat kaidah pokok)(Team Maktabah Al-Ghuraba' 2007) hlm 31-32

47 Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur‟an, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hal. 72-73

(34)

memancarkan dalam ucapan, perbuatan, penghayatan, dan pengalaman yang dilakukan dengan mudah.48

Menurut Tiswarni akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong melakukan suatu perbuatan secara spontan tanpa pertimbangan dan proses berfikir terlebih dahulu dan tanpa ada unsur keterpaksaan, sehingga dapat diketahui akhlak mempunyai beberapa ciri khusus, yaitu:

a. Akhlak mempunyai suatu sifat yang tertanam kuat di dalam jiwa atau lubuk hati seseorang, menjadi kepribadiannya, dan membuatnya berbeda dengan orang lain.

b. Akhlak mengandung perbuatan yang dilakukan secara terus menerus dalam keadaan bagaimanapun juga.

c. Akhlak mengandung perbuatan yang dilakukan karena kesadaran sendiri, bukan karena terpaksa, atau mendapatkan tekanan dan intimidasi dari orang lain.

d. Akhlak merupakan manisfestasi dari perbuatan yang tulus ikhlas, tidak dibuat-buat.49

Secara garis besar akhlak dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut:

1) Akhlak yang terpuji (al-akhlak al-karimah) yaitu akhlak yang senantiasa berada dalam kontrol ilahiyah yang dapat membawa nilai- nilai positif dan kondusif bagi kemaslahatan umat, seperti: sabar, jujur,

48 Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hal. 215

49 Tiswardi, Akhlak Tasawuf , (Jakarta: Bina Pratama, 2007), hal. 2

(35)

ikhlas, bersyukur, tawadhu (rendah hati), husnudzdzon (berprasangka baik), optimis, suka menolong orang lain, suka bekerja keras dan lain- lain.50

2) Akhlak yang tercela (al-akhlak al-madzmumah), yaitu akhlak yang tidak dalam kontrol ilahiyah, atau berasal dari hawa nafsu yang berada dalam lingkaran syaitaniyah dan dapat membawa suasana negatif serta destruktif bagi kepentingan umat manusia, seperti takabbur (sombong), su-„udzdzon (berprasangka buruk), tamak, pesimis, dusta, kufur, berkhianat, malas, dan lain-lain.51

Sementara itu menurut obyek atau sasarannya, akhlak dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:

1) Akhlak yang berhubungan dengan Allah a) Mentauhidkan Allah

Mentauhidkan Allah adalah mengEsakan Allah, atau dia bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata dan komitmen untuk selalu beribadah kepadaNya semata Yang tiada sekutu bagiNya.52 Sebagaimana firman Allah dalam al- Qur‟an surat Ikhlas ayat 1-4







































50 Aminuddin, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hal. 153

51 Aminuddin, Pendidikan Agama Islam…, hal. 153

52 Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid Syarah kitab Tauhid , (Jakarta : Pustaka Azzam 2002) hlm 26

(36)

Artinya: Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

b) Dzikrullah

Dzikir mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam karena dzikir adalah kunci kebaikan dan penutup pintu kejelekan Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur‟an surat Al-Baqarah:152















Artinya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

c) Tawakal

Tawakal berarti adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah dengan segala daya dan uapaya. Orang yang mempunyai sikap tawakal akan senantiasa bersyukur jika mendapatkan suatu keberhasilan dari usahanya. Sementara itu, jika mengalami kegagalan orang yang mempunyai sifat tawakal akan senantiasa merasa ikhlas menerima keadaan tersebut tanpa merasa putus asa dan larut dalam kesedihan Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur‟an surat Asy-Syuaraa ayat 217 yang berbunyi:











Artinya: Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,

(37)

Mewujudkan tawakal bukan berarti meniadakan ikhtiar atau mengesampingkan usaha. Takdir Allah SWT dan sunnatullah terhadap makhluk-Nya terkait erat dengan ikhtiar makhluk itu sendiri sebab Allah SWT yang telah memerintahkan hamba-Nya untuk berikhtiar dan pada saat yang sama juga memerintahkan hamba-Nya untuk bertawakal.53

Akhlak kepada Allah melahirkan akidah shahih- baik itu rububuyyah uluhiyyah maupun asma wasifat. Patuh melaksanakan seluruh perintah Allah baik yang berbentuk ibadah mahdah maupun ghairu mahdah. Berupaya mendekati Allah sedekat- dekatnya dengan jalan membersihkan hati, pikiran, perbuatan, dan menempuh jalan hidup yang benar. Apabila telah terjalin hablumminallah yang baik, maka sikap tersebut membawa implikasi kepada kehidupan manusia. Muncul perasaan malu dan takut untuk berbuat sesuatu yang dilarang Allah. Inilah inti dan hakikat dari akhlak kepada Allah.54

2) Akhlak terhadap sesama manusia a) Akhlak kepada Rasulullah

Seorang muslim wajib mencontoh akhlaknya Rasulullah SAW dalam kehidupannya sehari-hari dan menempatkan Rasullah sebagai idola, uswah hasanah melebihi yang lainnya.55 Berkenaan

53 Rosihon Anwar, Akidah Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2008) hlm. 215-220

54Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, ( Jakarta: Kencana, 2014), hal. 136

55Tiswarni, Akhlak Tasawuf , (Jakarta: Bina Pratama, 2007), hal. 57-58

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan dalam skripsi ini dapat ditarik kesimpulan bahawa nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam surat al Israa’ ayat 23-27 adalah, 1)

Dan yang paling utama adalah bahwa penulis lebih memfokuskan pembahasan pada pesan yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 233, tentang pendidikan anak.. Dalam penelitian

Berkaitan dengan pendapat para mufassir yang telah di jelaskan dalam bab sebelumnya, maka dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 90 terdapat beberapa nilai-nilai Pendidikan

Menurut Al-Ghazali, takwa berarti ketundukan dan ketaatan (manusia) kepada perintah Allah dan menjahui segala yang dilarangnya. 139 Melaksanakan perintah Allah bila

Kandungan dari surat an-Nisa’ ayat 36 yang menjadi bahasan utama dalam penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan Islam yang harus diajarkan kepada peserta didik, karena

 Isi kandungan Al-Isra ayat 26 yaitu perintah Allah kepada hamba-Nya yang beriman agar mereka menunaikan hak-hak kerabat mereka berupa memberikan kebaikan

Dari ayat di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah telah menganugerahi sifat sosial dan pendidikan yang tinggi kepada hamba-Nya, sehingga mereka

Nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam surat „Abasa ayat 1-10, antara lain: memberikan penghargaan yang sama, tidak berfikir negatif terhadap orang lain