• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data merupakan cara menganalisis data yang telah didapatkan dari lapangan setelah sebelumnya diolah berdasarkan masing-masing kriterianya. Pada penelitian ini, penulis berencana menggunakan teknik analisis data diantaranya:

1. Analisis persentase

Analisis persentase adalah untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan jawaban responden dan fenomena-fenomena dilapangan. Adapun rumus persentase yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Keterangan:

P = Persentase

f = Frekuensi tiap kategori jawaban narasumber n = Jumlah keseluruhan narasumber

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

100 % = Bilangan konstanta

Menurut Arikunto (2005, hlm.57), “setelah dilakukan perhitungan, maka hasil persentase tersebut ditafsirkan dengan kategori sebagai berikut”: 0 % : Tidak seorangpun 15 % - 24 % : Sebagian kecil 25% - 49 % : Hampir setengahnya 50 % : Setengahnya 51 % - 74 % : Sebagian besar 75 % - 99 % : Hampir seluruhnya 100 % : Seluruhnya

2. Analisis SWOT untuk strategi pengelolaan yang perlu dilakukan Perum Perhutani.

Berdasarkan pengumpulan data hasil penelitian dari data sekunder dan data primer mengenai pengelolaan yang dilakukan Perum Perhutani kemudian dilakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat) yang dikategorikan menjadi 4 bagian yaitu kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dengan tujuan untuk mengetahui strategi pengelolaan yang perlu dilakukan di Wana Wisata Urug Kawalu Kota Tasikmalaya. Menurut Ukas (2006, hlm.215) menyatakan “analisis SWOT memungkinkan untuk mengembangkan model strategi yang didasarkan pada informasi yang telah dikumpulkan. Analisis SWOT mengasumsikan kekuatan dan peluang serta meminimalkan kelemahan dan hambatan.”

Analisis SWOT bertujuan sebagai tinjauan strategi pengelolaan agar nantinya bisa menjadi masukan dalam mengambil sebuah kebijakan

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dalam mengelola sebuah kawasan wisata. Analisis SWOT terdiri dari 4 bagian utama yaitu adalah:

a. Kekuatan (Strength)

Kekuatan/Strength merupakan kekuatan suatu objek wisata ditinjau dari aspek-aspek yang dimiliki objek wisata tersebut. Dengan mengetahui kekuatan objek wisata tersebut maka objek wisata dapat menjadi kokoh dan memiliki daya tawar yang unggul selanjutnya menjadi arahan dalam mengambil sebuah kebijakan dalam pengelolaan dan pengembangannya.

b. Kelemahan (Weakness)

Kelemahan (Weaknees) merupakan kelemahan suatu objek wisata ditinjau dari aspek-aspek yang tidak menguntungkan bagi objek wisata tersebut.

c. Peluang (Opportunities)

Peluang (Opportunities) merupakan peluang suatu objek wisata ditinjau dari kebijakan pengelola, pemerintah serta lembaga terkait dalam membangun dan mengelola objek wisata, situasi dan kondisi ekonomi yang menjadi peluang dalam menumbuhkembangkan objek wisata agar lebih maju dalam jangka waktu panjang.

d. Ancaman (Threats)

Ancaman (Threat) merupakan ancaman suatu objek wisata yang mendatangkan kendala dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan pengelolaan maupun aspek yang dapat mendatangkan kerugian bagi objek wisata tersebut misalnya: kemudahan mengakses objek wisata sangat sulit dijangkau, lingkungan yang rusak, dan pelayanan yang buruk.

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dengan mengukur tingkat kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats) dalam suatu objek wisata maka menghasilkan sebuah strategi yang dapat menjadi alternatif dalam mengambil sebuah kebijakan dalam mengelola sebuah objek wisata.

Analisis SWOT ini ditujukan berdasarkan pengamatan serta aspek yang berkaitan langsung dengan Wana Wisata Urug Kawalu Kota Tasikmalaya. Hal ini supaya dijadikan bahan masukan bagi lembaga pengelola dalam mengelola dan mengembangkan Wana Wisata Urug Kawalu. Setelah diklasifikasikan mengenai tingkat kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats) lalu membuat matriks internal factor evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE). Menurut David dalam Nurahmah (2001) mengenai langkah-langkah membuat matrik IFE dan EFE yaitu sebagai berikut:

 Membuat daftar faktor-faktor utama yang mempunyai dampak penting pada kesuksesan atau kegagalan usaha untuk aspek internal yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan serta aspek eksternal yang terdiri dari peluang dan ancaman

 Menentukan bobot dari faktor-faktor strategi internal dan eksternal. Pemberian bobot berkisar 0 diartikan sebagai tidak penting sampai 1000 yang diartikan sangat penting. Jumlah total seluruh bobot yang diberikan pada faktor itu harus sama dengan 1000. Penentuan bobot dilakukan dengan cara mengajukan identifikasi faktor strategis internal dan eksternal kepada pengelola wisata menggunakan matriks berpasangan seperti pada tabel 3.3 mengenai penilaian bobot faktor strategis internal dan eksternal.

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tabel 3.3

Penilaian bobot Faktor Strategis Internal dan eksternal Faktor Strategis Internal & Eksternal A B C D … Total A Xi B C D … Total

Untuk menentukan bobot setiap faktor strategi internal dan eksternal diperoleh dengan menggunakan proporsi nilai setiap faktor terhadap jumlah nilai keseluruhan dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

αi = Bobot Variabel ke-i Xi = Nilai Variabel x ke-i n = Jumlah Data

I = 1, 2, 3,…, n

Memberikan peringkat (rating) antara 1 sampai 4 pada setiap faktor internal dan eksternal utama untuk menunjukan pengaruh strategi Wana Wisata Urug saat ini terhadap faktor tersebut, skala yang digunakan adalah :

 4 = Berpengaruh sangat baik

 3 = Berpengaruh baik

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu  1 = Kurang berpengaruh

Menentukan skor bobot berdasarkan perkalian bobot setiap faktor dengan peringkatnya (rating)

 Menentukan skor total faktor strategi internal dan eksternal

 Matrik internal-eksternal (IE) merupakan pemetaan total skor Eksternal Factor Evaluation (EFE) dan Internal Factor Evaluation (IFE) untuk memposisikan pengelola wisata. Menurut David, (2001) mengemukakan strategi pengelolaan yang perlu dilakukan berdasarkan matrik SWOT yaitu:

1) sel 1, 2, dan 4 merupakan daerah tumbuh dan bina (grow and build). Strategi pengelolaan yang paling tepat untuk semua divisi ini adalah strategi intensif yaitu meningkatkan promosi, pengembangan produk wisata. 2) sel 3, 5, dan 7 merupakan daerah pertahanan dan pelihara

(hold and maintain). Strategi pengelolaan yang tepat untuk tipe ini adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk wisata.

3) sel 6, 8, atau 9 adalah daerah panen atau divestasi (harvest or divestiture). Strategi pengelolaan yang sesuai untuk kondisi dalam sel ini adalah strategi menjual sebagian kepemilikan unit usaha wisata kepada pihak lain, menambah produk baru selain produk wisata dan menjual seluruh aset dan penutup usaha wisata.

Dibawah ini gambar mengenai skor bobot Internal-Evaluation (IE) setelah diketahui Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE) gambar 3.2 sebagai berikut:

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.2 Matrik Internal-Eksternal (IE) Sumber: David (2001)

 Menurut David (2001) dalam Nurahmah langkah pembuatan matriks SWOT (strength, weakness, opportunity, threats) adalah :

1. Membuat daftar peluang (opportunity) utama wisata. 2. Membuat ancaman (threats) eksternal utama wisata 3. Membuat daftar kekuatan (strength) internal utama

wisata.

4. Membuat daftar kelemahan (weakness) internal utama wisata.

5. Mencocokan kekuatan (strength) di internal dengan peluang (opportunity) eksternal, dan catat hasilnya pada sel strategi SO (strength opportunity).

6. Mencocokan kelemahan internal dengan peluang eksternal, dan catat hasilnya pada sel strategi WO (weakness opportunity).

Sko

r B

o

b

o

t T

o

ta

l E

F

E

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

7. Mencocokan kekuatan (strength) internal dengan ancaman (threats) eksternal, dan catat hasilnya pada strategi ST (strength threats).

8. Mencocokan kelemahan (weakness) internal dengan ancaman (threats) eksternal, dan catat hasilnya pada sel strategi WT (weakness threats).

 Setelah itu terdapat empat strategi sebagai hasil dari matriks SWOT antara lain :

1) Strategi SO dipakai untuk menarik keuntungan dari peluang yang tersedia dalam lingkungan eksternal. Strategi ini berusaha menggunakan kekuatan dan peluang yang dimiliki untuk mengambil peluang yang ada.

2) Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang dari lingkungan luar.

3) Strategi ST digunakan untuk menghindari atau memperkecil dampak dari ancaman yang datang dari luar.

4) Strategi WT adalah strategi pertahanan yang diarahkan pada usaha memperkecil kelemahan internal.

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu K. Alur Pemikiran

Gambar 3.3

Wana Wisata Urug Kawalu objek wisata belum banyak dikenal

Potensi sumber daya alam dan sosial budaya

Aksesibilitas

Sarana prasarana

Atraksi Wisata

Pengelolaan

Potensi yang dapat dikembangkan di Wana Wisata Urug Kawalu Kota Tasikmalaya

PERMASALAHAN

Strategi pengelolaan untuk pengembangan Wana Wisata Urug Kawalu

Solusi pemecahan masalah (meminimalisir konflik)

1. Peta administrasi Kawalu 2. Peta administrasi Tasikmalaya 3. Peta dan Materi Teknis RTRW Kota

Tasikmalaya

4. Profil Kelurahan Urug

5. Masterplan Wana Wisata Urug Survei Narasumber 1. Wisatawan 2. Pengelola 3. Masyarakat Overlay Data Primer Data Sekunder

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

127

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV yang telah dijabarkan mengenai potensi Wana Wisata Urug Kawalu Kota Tasikmalaya maka dalam penelitian ini dapat menguraikan kesimpulan dan saran sebagai berikut :

1. Wana Wisata Urug Kawalu dapat dikembangkan dari segi potensi fisik dan sosial potensi fisik tersebut berupa keindahan dan keasrian lingkungan merupakan modal utama sumber daya wisata Wana Wisata Urug Kawalu. Beberapa potensi yang dimanfaatkan berupa fasilitas sarana prasarana, atraksi dan kegiatan wisata yang tersedia yaitu: camping area, Outbound¸ Jogging Track, trekking, offroad, motorcross, kuliner, mengagumi keindahan alam di cottage/pondokan, area bermain permainan tradisional anak-anak, memotret flora dan fauna, ruang pertemuan untuk seminar atau pelatihan-pelatihan, kegiatan wisatanya dapat berupa foto-foto, jalan-jalan, berkumpul dengan keluarga atau sahabat di tempat peristirahatan dan membeli makanan ataupun minuman di warung serta toko oleh-oleh.

2. Partisipasi masyarakat di Wana Wisata Urug Kawalu memiliki peranan penting dalam pembangunan dan pengembangan objek wisata. Tujuan dari partisipasi masyarakat menciptakan suatu lingkungan kerjasama, meningkatkan pendapatan, dan menciptakan iklim kepemilikan hutan bersama. Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat adalah masyarakat mengetahui dan terlibat dalam adat istiadat di Wana Wisata Urug Kawalu, bentuk adat istiadatnya adalah gotong royong/ kerjasama, sedangkan untuk partisipasi dalam kesenian masyarakat mayoritas mengetahui dan ikut terlibat dalam keseniannya. Bentuk kesenian yaitu pencak silat. Kemudian partisipasi dalam kearifan lokal masyarakat kebanyakan tidak mengetahui namun ada yang mengetahui. Bentuk kearifan lokal yaitu budaya tanam pohon. Partisipasi dalam menjual cinderamata kebanyakan menyatakan belum ada cinderamata khas objek wisata dan masyarakat hanya menjual makanan dan minuman saja. Keuntungan masyarakat berpartisipasi di Wana Wisata Urug Kawalu secara tidak langsung yaitu menikmati kesejukan dan keindahan

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ekonomi untuk menambah hasil pendapatan.

3. Dari hasil analisis SWOT mengenai strategi pengelolaan yang perlu dilakukan Wana Wisata Urug Kawalu antara lain :

 Menjaga lingkungan supaya bersih dan nyaman tujuannya agar wisatawan nyaman dan memiliki kesan baik setelah mengunjungi Wana Wisata Urug Kawalu.

 Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui perekrutan yang benar dan professional.

 Menambah atraksi wisata beserta kreasi dan inovasi yang baru untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

 Mengelola pemasaran dan promosi agar meningkatkan daya saing dan daya jual Wana Wisata Urug Kawalu.

 Menambah sarana prasarana penunjang wisata.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan, maka peneliti dapat memberikan saran atau masukan untuk pengelola dalam mempertimbangkan arahan kebijakan dalam pengelolaan diantaranya adalah:

1. Potensi daya tarik wisata Wana Wisata Urug Kawalu sangat baik. Hal ini ditunjang dengan lingkungan nyaman dan indah namun atraksi wisata di dalamnya sangat terbatas perlu adanya inovasi dan kreasi untuk atraksi wisata agar konten atraksi wisata yang ditawarkan beragam. Kemudian dalam mekanisme pembagian tugas dalam mengelola penyewaan fasilitas dan sarana prasarana Wana Wisata Urug Kawalu sebaiknya ditata kembali dan diperbaiki agar pengelola lebih efektif dan efisien dalam menjalankan tugasnya.

2. Harus diperhatikan mengenai kemitraan antar pengelola berupa perwakilan masyarakat sekitar supaya dalam mengelola Wana Wisata Urug Kawalu terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik yang ujungnya dapat

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Wisata Urug Kawalu.

3. Dalam pelayanan terhadap wisatawan yang harus diperhatikan adalah kepuasan wisatawan dalam menikmati beragam fasilitas yang tersedia di Wana Wisata Urug Kawalu. Jika pengunjung merasa puas atas harapannya berrwisata di objek wisata tersebut, maka akan merasa nyaman dan lama untuk tinggal selanjutnya mempromosikan dan memasarkan secara tidak langsung lewat mengajak kerabatnya untuk datang bersama dan kembali berwisata ke Wana Wisata Urug Kawalu.

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 130

Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS IKIP Bandung.

Adisasmita, Rahadjo. 2006. Pembangunan Perdesaan dan Perkotaan, Graha Ilmu Yogyakarta.

Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Badan Pusat Statistik Kota Tasikmalaya, 2013. [Online]: Tersedia http://tasikmalayakota.bps.go.id/publikasi/kota-tasikmalaya-dalam-angka-2013

BAPPEDA Kota Tasikmalaya, 2013. Materi Teknis Rencana Tata Ruang Wilayah 2011-2031. Kota Tasikmalaya.

Bayu, W. R. 2012. Pariwisata Bali dan Global (Bali and Global Tourism). [online]. Tersedia di: http://madebayu.blogspot.com/2012/02/pengertian-potensi-wisata.html. Diakses 12 November 2014.

Cohen, J. M dan T. Uphoff. 1977. Rural Development Participation: Concepts and Measures for Project Design. Implementation and Evaluation. Cornell University. Ithaca. New York.

Data Monografi Kelurahan Urug. 2013. Laporan Data Profil Kelurahan Urug, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya: Pemerintah Kota Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat.

David, F. R. 2001. Manajemen Strategis Konsep. Edisi Ketiga. I.S. Budi, penerjemah: S. Rahoyo, Editor. Salemba Empat, Jakarta. Terjemahan dari Strategic Management Concepts.

Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kota Tasikmalaya, 2013. Data Pariwisata Kota Tasikmalaya. Tasikmalaya: Disbudpar.

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 131

Dinas Cipta Karya Kota Tasikmalaya, 2013. Laporan Rest Area dan Wana Wisata Urug Kawalu. Tasikmalaya: Dinas Cipta Karya.

Ismayanti, 2010. Pengantar Pariwisata. Jakarta; PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Kotler, P. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prenhallindo

Lupiyoadi, Rambat .2001. Manajemen Pemasaran Jasa. Jakarta: Salemba Empat. Maryani, Enok. 1991. Pengantar Geografi Pariwisata. Bandung. Institut

Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.

Maryani, Enok. 2010. Dimensi Geografi Dalam Kepariwisataan Dan Relevansinya Dengan Dunia Pendidikan. Pidato Pengukuhan Guru Besar.Bandung:Tidak Diterbitkan.

Nurahmah, Anindyah. (2014). Dampak Ekonomi dan Strategi Pengelolaan Ekowisata Di Wana Wisata Cikole Kabupaten Bandung Barat. Skripsi, Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Perum Perhutani. 1987. Pengelolaan Wana Wisata Kehutanan Indonesia. Perum Perhutani, Jakarta.

Perum Perhutani. 1989. Obyek Rekreasi Hutan Wana Wisata. Perum Perhutani Wilayah Kerja Unit I Jawa Tengah, Jakarta.

Perum Perhutani (2013). Masterplan Pembangunan Rest Area & Wana Wisata Urug 2010-2014. Kota Tasikmalaya: Perum Perhutani KPH Tasikmalaya. Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kota Tasikmalaya.

Rafi’i Suryatna. 1995. Meteorologi dan Klimatologi. Bandung: Angkasa.

Sastropoetro,S. (1986). Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Bandung:Alumni.

Seaton, A.V. & Bennet.1996. The Marketing of Tourism Products: Concepts, Issues, and Cases.London: International Thomson Business Press.

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 132

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta.

Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta.

Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung. Alfabeta.

Sumaatmadja, Nursid. 1998. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan. Bandung: Alumni.

Suwantoro, G. 2004. Dasar-dasar Pariwisata. Yogyakarta: Andi.

Singarimbun, Masri. & Effendi, Sofyan. (1987). Metode Penelitian Survai. Yogyakarta: LP3ES.

Tika, Pabundu. (2005). Metode Penelitian Geografi. Jakarta: PT Bumi Aksara. Ukas, M. (2006). Manajemen Konsep Prinsip dan Aplikasi. Bandung: Agnini

Bandung.

Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.

Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.

Universitas Pendidikan Indonesia. 2013. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI.

Deris Sugiawan , 2015

POTENSI WANA WISATA URUG KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 133

Prayogo, M. (1976). Pengantar Pariwisata Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Pariwisata Departemen Perhubungan.

PT. Perhutani (Persero) Nomor: 136/KPTS/DIR/2001 Tentang Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

Yoeti, Oka. A. 1991. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa. Yoeti, Oka. A 1994. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa.

Yoeti, Oka. A. 1996. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Pradya Paramita.

Yoeti, Oka. A. 1996. Pemasaran Pariwisata. Bandung: Angkasa.

Yoeti, Oka. A. 2008. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Dokumen terkait