• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Uraian Materi

4. Teknik Bimbingan Kelompok

Teknik bimbingan kelompok dipilih sesuai dengan topik permasalahan yang akan dibicarakan dalam bimbingan kelompok. Banyak teknik bimbingan kelompok yang bisa dipakai, karena pembatasan halaman, pada modul ini hanya dibahas empat teknik yaitu diskusi kelompok, sosiodrama, psikodrama, dan homeroome. Teknik-teknik lain silahkan dipelajari sendiri di luar modul ini.

Penggunaan/implementasi teknik-teknik bimbingan kelompok dalam keseluruhan tahapan bimbingan kelompok dilaksanakan pada tahap inti. Pada tahap inti diuraikan secara detail tahapan yang dilakukan (sesuai teknik yang dipakai) dan dijelaskan pula kegiatan yang harus dilakukan pemimpin kelompok. Pada tahap pembukaan, transisi, dan penutup disesuaikan dengan tujuan dan hal-hal lain terkait teknik yang digunkan.

Keempat teknik (diskusi kelompok, sosiodrama, psikodrama, dan homeroome) dijelaskan sebagai berikut:

10 a. Diskusi Kelompok

1) Konsep Dasar

Metode diskusi kelompok adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana seorang guru memberi kesempatan kepada siswa (kelompok siswa) untuk mengadakan percakapan guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas masalah.

Dijelaskan bahwa diskusi kelompok adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok untuk saling bertukar pendapat suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban atau kebenaran atas suatu masalah (Damayanti, Sudarmanto, & Rusman, 2013). Diskusi kelompok dapat pula diartikan sebagai percakapan yang sudah direncanakan antara tiga orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk memperjelas suatu persoalan, di bawah pimpinan seorang pemimpin (Romlah, 2006).

Sukerteyasa, Koyan, & Suarni (2014) menyatakan bahwa diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan suatu proses bimbingan dimana murid-murid akan mendapatkan suatu kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan masalah bersama. Dalam diskusi ini tetanam pula tanggung jawab dan harga diri (Djumhur & Surya, 1975)

Jadi diskusi kelompok adalah suatu percakapan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih melalui proses bertukar pikiran dan argumentasi kearah pemecahan masalah secara bersama-sama. Proses diskusi kelompok ini dapat dilakukan melalui forum diskusi diikuti oleh semua siswa di dalam kelas, dapat pula dibentuk kelompok-kelompok lebih kecil. Yang perlu diperhatikan ialah para siswa dapat melibatkan dirinya untuk ikut berpartisipasi secara aktif di dalam forum diskusi kelompok.

11 2) Tujuan

Dalam pelaksanaan bimbingan kelompok, diskusi kelompok tidak hanya untuk memecahkan masalah, melainkan juga untuk mencerahkan suatu persoalan serta untuk pengembangan pribadi. Dinkmeyer dan Muro menyebutkan tiga macam tujuan diskusi kelompok yaitu (1) untuk mengembangkan pengertian terhadap diri sendiri; (2) mengembangkan kesadaran tentang diri (self) dan orang lain; (3) mengembangkan pandangan baru mengenai hubungan antara manusia (Romlah, 2006).

Diskusi kelompok dapat dikatakan sebagai jantungnya bimbingan kelompok karena hampir semua teknik bimbingan kelompok menggunakan diskusi sebagai cara kerjanya, misalnya permainan peranan, karya wisata, permainan simulasi, pemecahan masalah, homeroom, dan pemahaman diri melalui proses kelompok.

3) Tipe Diskusi Kelompok

Diskusi Kelompok dapat dilakukan dengan beberapa bentuk. Pengunaan model atau bentuk dari diskusi kelompok disesuaikan dnegan kebutuhan dari tema dan bentuk kelompok yang ada. Beberapa bentuk atau tipe diskusi kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. The social problem meeting

Para siswa berbincang-bincang memecahkan masalah sosial di kelasnya atau di sekolahnya dengan harapan setiap siswa akan merasa terpanggil untuk mempelajari dan bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

b. The open-ended meeting

Para siswa berbincang-bincang mengenai masalah apa saja yang hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari dengan kehidupan mereka di sekolah dengan sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.

c. The educational-diagnosis meeting

Para siswa berbincang-bincang mengenai pelajaran di kelas dengan maksud untuk saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang

12

telah diterima agar masing-masing anggota memperoleh pemahaman yang baik/benar.

Selain bentuk-bentuk atau tipe diskusi kelompok di atas tipe kelompok diskusi juga dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk lain. Sebagaimana Sukardi & Kusmawati (2008) membagi tipe kelompok diskusi berdasarkan tujuan-tujuan tertentu sebagaimana berikut:

a. Dilihat dari jumlah anggota

Jika dilihat dari jumlah anggota, diskusi kelompok berbentuk kelompok besar dan kelompok kecil. Kelompok besar berjumlah 20 orang atau lebih. Sedangkan kelompok kecil berjumlah kurang dari 20 orang, biasanya sekitar 2-12 orang.

b. Dilihat dari pembentukan

Jika dilihat dari pembentukannya, diskusi kelompok berbentuk formal dan informal. Dalam bentuk formal, proses pembentukannya sengaja untuk dibentuk suatu diskusi kelompok. Sedangkan yang informal, proses terbentuknya diskusi secara spontan dan tanpa direncanakan. c. Dilihat dari tujuan

Jika dilihat dari tujuan diskusi kelompok ada dua macam yaitu pemecahan masalah dan terapi anggota. Pemecahan masalah memiliki ciri utama menekankan pada hasil diskusi, sedangkan terapi anggota menekankan pada proses diskusi.

d. Dilihat dari waktu diskusi

Jika dilihat dari waktu dalam diskusi, diskusi kelompok ada dua bentuknya, marathon dan singkat/regular. Marathon dilakukan secara terus menerus tanpa jeda waktu selama 5-12 jam, sedangkan singkat atau regular dilakukan 1-2 jam dan dilakukan secara berulang-ulang.

e. Dilihat dari masalah yang dibahas

Jika dilihat dari masalah yang dibahas, diskusi kelompok ada dua macam yaitu sederhana dan kompleks/rumit. Sederhana mempunyai ciri utama masalah yang dipecahkan relatif mudah, sedangkan kompleks/rumit masalah yang dipecahkan cukup sulit.

13 f. Dilihat dari aktivitas kelompok

Jika dilihat dari aktifitas kelompok, diskusi kelompok ada dua macam, yaitu terpusat pada pemimpin dan demokratis (terbagi ke semua anggota). Diskusi yang terpusat pada pemimpin cenderung anggotanya yang kurang aktif akan tetapi pemimpin yang lebih aktif. Sedangkan demokrasi, anggota dan pemimpin sama-sama aktif dalam memberikan saran dan pendapat.

4) Prosedur Diskusi Kelompok

Menurut Tatiek Romlah (2006), pelaksanaan diskusi kelompok meliputi tiga langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.

1. Perencanaan, meliputi

a. Merumuskan tujuan diskusi

b. Menentukan jenis diskusi (diskusi kelas, kelompok kecil, atau panel) c. Melihat pengalaman dan perkembangan siswa

d. Memperhitungkan waktu yang tersedia untuk kegiatan diskusi

e. Mengemukakan hasil yang diharapkan dari diskusi, misalnya rangkuman, kesimpulan atau pemecahan masalah.

2. Pelaksanaan

Fasilitator memberikan tugas yang harus didiskusikan, waktu yang tersedia untuk mendiskusikan tugas itu dan memberitahu cara melaporkan tugas serta menunjuk pengamat diskusi apabila diperlukan.

3. Penilaian

Fasilitator meminta pengamat melaporkan hasil pengamatannya, memberikan komentar mengenai proses diskusi dan membicarakannya dengan kelompok.

14 b. Sosiodrama

1) Konsep Dasar

Kepribadian seseorang adalah keseluruhan peranan yang diperankannya dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan pekerjaan. seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri yang baik apabila ia dapat berperilaku sesuai dengan perananan yang dimilikinya baik sebgai individu maupun makhluk sosial. Pribadi seorang individu berkembang melalui proses bagaimana Ia mereaksikan terhadap stimulus-stimulus dari lua dirinya dan bagaimana melakukan peranannya dalam hubungan dengan perasaan orang lain dan dari status yang ia terima dalam menghadapi situasi yang berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar dari berkembangnya konsep bermain peran baik itu sosiodrama maupun psikodrama.

Bermain peran (role playing) dapat dipahami sebagai dramatisasi tingkah laku untuk memfasilitasi peserta didik/konseli melakukan dan menafsirkan suatu peran tertentu. Role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang (Kanti & Sugiyo, 2014).

Menurut pendapat Moreno salah satu faktor penting yang menentukan dalam permainan peran yang akan menghasilkan perubahan perilaku adalah pengurangan hambatan-hambatan (Romlah, 2006). Hambatan biasa timbul adalah perasaan takut dikritik, takut dihukum atau ditertawakan. Permainan peran menyediakan kondisi yang dapat menghilangkan takut atau cemas karena dalam permaianan peran individu dapat mengekspresikan dirinya secara bebas tanpa takut kena “sanksi sosial” terhadap perbuatannya.

Siswa akan menyadari dan melakukan perilaku yang sudah jelas dan biasa dilakukan, menemukan bahwa perilaku itu tidak efektif untuk dilakukan dan mengetahui sebab-sebabnya, mencoba perilaku baru yang lebih efektif dan akhirnya melaksanakan pola-pola perilaku baru yang ditemukan tersebut dalam

15

kehidupan sehari-hari. Melalui role playing, siswa dapat memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat dipraktekkan dalam hal pribadi danhubungannya dengan sosial, termasuk ketika menghadapi konflik-konflik yang muncul.

Sebagai bagian dari teknik role playing sosiodrama sendiri dipahami sebagai dramatisasi dari persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam pergaulan dengan orang lain. Termasuk konflik yang sering dialami dalam pergaulan sosial. Untuk itu digunakan role playing, yaitu beberapa orang mengisi peranan tertentu dan memainkan suatu adegan tentang pergaulan sosial yang mengandung persoalan yang harus diselesaikan (Winkel & Hastuti, 2005). Sosiodrama sebagai sebuah permainan peranan digunakan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam hubungan antar manusia. Konflik-konflik atau permasalahan sosial yang dilakukan dalam konsep drama adalah konflik-konflik yang tidak mendalam dan tidak menyangkut gangguan kepribadian.

Dari sini dapat dipahami bahwa melalui sosiodrama atau permainan peran ini konseli atau setiap anggota kelompok akan diajak untuk melakukan serangkaian peran yang mencerminkan kehidupan nyata atau perilaku-perilaku sosial yang menjadi kepedulian bersama setiap anggota. Dari peran yang dimainkan dilakukan diskusi dan pembahasan secara mendalam untuk mendapatkan insight sehingga menjadi bahan pembelajaran sekaligus refleksi bagi setiap anggota.

2) Tujuan Sosiodrama

Dalam penggunaan teknik sosiodrama terdapat beberapa tujuan dan manfaat yang dapat diperoleh. Dijelaskan bahwa tujuan metode sosiodrama adalah agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab, dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan, dan merangsang kelas untuk berfikir dan memecahkan masalah (Kusumaningrum, 2014). Dari apa yang disampaikan dipahami bahwa sosiodrama tidak hanya mengajarkan konteks keterampilan sosial pada anggota melainkan nilai sosial psikologi

16

dalam diri. Penggunaan sosiodrama tidak hanya menegaskan pada tujuan kognisi tetapi lebih kepada nilai atau sikap afeksi sebagai upaya pengembangan pribadi sekaligus pemecahan masalah serupa yang mungkin dialami oleh anggota kelompok.

Sedangkan Romlah (2006) menegaskan bahwa sosiodrama merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mendidik atau mendidik kembali dari kegiatan penyembuhan. Terkait dalam penelitian ini tujuan sosiodrama bertujuan untuk memudahkan siswa dalam memahami etika bergaul dengan lawan jenis. Selain konsep-konsep yang telah dijelaskan sebelumnya akan tujuan dari sosiodrama beberapa manfaat yang dapat diperoleh akan penggunaan teknik sosiodrama dalam konseling antara lain:

1) Membantu peserta didik/konseli memperoleh pemahaman yang tepat tentang permasalahan sosial yang dialaminya.

2) Dapat mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang efektif sehingga diharapkan nanti tidak canggung menghadapi situasi dalam kehidupan sehari-hari.

3) Menghilangkan perasaan kurang percaya diri dan rendah diri yang tidak sesuai dengan keadaan diri.

4) Membiasakan diri untuk sanggup menerima dan menghargai orang lain.

3) Prosedur Teknik Sosiodrama

Secara umum tahapan atau prosedur daalam sosiodrama setiap individu akan memerankan suatu peranan tertentu dalam suatu situasi masalah sosial. Dalam kesempatan itu, individu akan menghayati secara langsung situasi masalah yang dihadapinya. Kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalahnya. Sedangkan menurut Winkel & Hastuti (2005) menjelaskan secara rinci langkah-langkah metode sosiodrama adalah dengan urutan (a) Menentukan persoalan, (b) Menentukan para pemeran drama untuk membawa adegan sesuai dengan situasi, (c) para pemain membawakan adegan secara spontan, (d) para pemain melaporkan apa yang mereka rasakan selama drama, (e) para penyaksi berdiskusi.

17

Romlah (2006) menjelaskan pelaksanaan layanan konseling dengan metode sosiodrama secara umum mengikuti langkah-langkah persiapan, membuat skenario sosiodrama, menentukan kelompok yang akan memainkan sosiodrama, menentukan kelompok penonton dan menjelaskan tugasnya, pelaksanaan sosiodrama, evaluasi dan diskusi, ulangan permainan. Secara lebih detail pembagian tahapan kegiatan dijelaskan sebagai berikut:

1) Persiapan, yaitu mengemukakan masalah dan tema yang akan disosiodramakan. Kemudian diadakan tanya jawab untuk memperjelas masalah dan peranan-peranan yang akan dimainkan. 2) Membuat skenario sosiodrama. Terkait dengan tahap ini, sebelum

bermain peran, konselor telah menyiapkan skenario sosiodrama terlebih dahulu dan di dalam memainkan peran siswa tidak perlu menghafal naskah, mempersiapkan diri, dan sebagainya. Siswa hanya melihat judul dan garis besar dari isi skenarionya berkaitan etika bergaul dengan lawan jenis.

3) Menentukan kelompok yang akan memainkan sosiodrama, sesuai dengan kebutuhan skenarionya konselor memilih individu yang akan memegang peran tertentu. Dalam tahap ini, sebelumnya konselor mengemukakan garis besar dari skenario tersebut. Kemudian memilih kelompok siswa yang akan memerankan peran, serta mengatur situasi tempat bersama-sama dengan siswa yang terlibat peran tersebut.

4) Menentukan kelompok penonton dan menjelaskan tugasnya. Kelompok penonton adalah anggota kelompok lain yang tidak ikut menjadi pemain (apabila ada). Tugas kelompok penonton adalah untuk mengobservasi pelaksanaan permainan. Hasil observasi kelompok penonton merupakan bahan diskusi. Selain diperoleh dari kelompok yang kebetulan tidak bermain, penelituan kelompok penonton atau kelompok pengamat juga dapat ditunjuk konselor dari luar anggota kelompok. Ditegaskan bahwa siswa yang tidak ikut memerankan peran atau kelompok pengamat diminta supaya

18

mendengarkan dan mengikuti dengan teliti semua pembicaraan, tindakan-tindakan serta keputusan-keputusan yang dilakukan para pemeran. Setelah pementasan selesai, konselor mengatur diskusi untuk mengaplikasikan apa yang dilakukan oleh siswa yang bermain peran sesuai dengan isi skenario.

5) Pelaksanaan sosiodrama. Pemimpin kelompok atau konselor memberikan kebebasan kepada anggota kelompok yang mendapat peran untuk melaksanakan peran yang dimainkan. Dalam permainan ini diharapkan terjadi identifikasi antara pemain maupun penonton dengan peran-peran yang dimainkannya. Siswa diberi kesempatan untuk mengekspresikan penghayatan mereka pada saat memainkan peran.

6) Evaluasi dan diskusi. Setelah selesai permainan diadakan diskusi mengenai pelaksanaan permainan berdasarkan hasil observasi dan tanggapan-tanggapan penonton. Dalam tahapan ini diskusi diarahkan untuk membicarakan tanggapan mengenai bagaimana pemain membawakan peranya sesuai ciri-ciri masing-masing peran, cara memecahkan masalah, dan kesan-kesan pemain dalam memerankan perannya.

7) Ulangan permainan. Dari hasil diskusi dapat ditentukan apakah perlu diadakan ulangan permainan atau tidak.

c. Psikodrama 1) Konsep Dasar

Sejak kita kecil kita telah terbiasa dengan bermain dalam dunia kita sendiri. Semisal saat dahulu anak perempuan sering bermain dengan boneka atau mainan atau saat kita sering berdandan layaknya orang dewasa. Begitu juga dengan anak laki-laki yang senang bermain perang-perangan. Konsep drama sebenarnya telah kita kenal jauh lama sebelum masa ini. Drama yang

19

dimainkan merupakan padangan anak kecil terhadap dunia nyata. Begitulah pengalaman pribadi diungkapkan dalam drama dan dimainkan oleh orang lain.

Pengalaman-pengalaman melalui drama akan menimbulkan pemahaman serta kesadaran bahwa pengalaman perseorangan bukanlah suatu milik pribadi yang tidak diketahui oleh orang lain. Disinilah konsep dasar psikodrama secara mudah dipahami. Psikodrama memberikan kesempatan bagi orang untuk melihat kehidupan pribadi dengan cara berbeda setelah kehidupan pribadi itu didramakan dan bahkan diperankan oleh orang lain yang berada dalam kelompok bersama (Prawitasari, 2011). Hal ini akan membuat pribadi tersebut merasa bahwa pengalamanya bukanlah sesuatu yang mempribadi tetapi juga pengelaman banyak orang dan dapat dipahami oleh banyak orang pula.

Psikodrama merupakan permainan peran yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian lebih tentang dirinya, dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan kebutuhan-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya (Corey, 2012). Psikodrama dipahami sebagai prosedur penangan yang digunakan sebagai tempat belajar dan saling mendukung di antara anggota kelompok di bawah bimbingan seorang terapis/konselor. Dalam aplikasinya seorang terapi juga dapat berperan sebagai suber dukungan bagi anggota kelompok. Terapi memposisikan dirinya sejajar dengan anggota sebagai mitra dalam upaya yang dilakukan.

Psikodrama dalam bimbingan kelompok digunakan untuk memecahkan masalah-masalah psikis yang dialami oleh individu. Dalam teknik ini siswa memerankan suatu peranan tertentu tentang konflik atau ketegangan dapat dikurangi atau dihindarkan. Dipertegas lebih jauh dijelaskan bahwa Psikodrama merupakan dramatisasi dari persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gangguan serius dalam kesehatan mental partisipan, sehingga tujuannya ialah perombakan dalam struktur kepribadian seseorang. Psikodrama bersifat kegiatan terapi dan ditangani oleh seorang ahli psikoterapi (Winkel & Hastuti, 2005).

Pelaksanaan psikodrama tersebut membutuhkan latar atau panggung yang bebas dari paksaan dan batasan kehidupan sehari-hari sehingga, pada saat

20

yang sama, memberikan keamanan bagi ekspresi diri dan eksplorasi. Hal ini biasanya dilakukan oleh kelompok terapi yang juga melibatkan pengaturan adegan sehingga individu juga berusaha menciptakan atau menciptakan kembali suasana fisik dan emosional yang dikehendaki, tindakan menjadi berubah. Tindakan yang terjadi disitu adalah berpusat pada masa kini (present centered) berubah menjadi disini dan kini, dan seolah-olah berlangsung untuk pertama kali.

Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Atas tahun 2016 menyebutkan bahwa Psikodrama merupakan upaya memfasilitasi peserta didik/konseli memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya sendiri, menemukan konsep diri, menyatakan kebutuhan, dan menyatakan reaksi terhadap tekanan diri melalui penghayatan situasi dramatis yang diperankannya.

2) Tujuan Psikodrama

Tujuan psikodrama adalah membantu peserta didik/konseli memperoleh pengertian yang baik tentang diri sendiri sehingga dapat menemukan konsep diri, kebutuhan-kebutuhan, dan reaksi-reaksi yang tepat terhadap tekanan yang dialaminya.

3) Komponen dalam Psikodrama

Metode psikodrama terdiri dari beberapa komponen pokok, yaitu: panggung permainan, pimpinan permainan (director), pemeran utama atau individu yang menjadi pusat psikodrama (protagonist), individu-individu yang membantu pemimpin psikodrama dan pemeran utama dalam pelaksanaan psikodrama (auxiliary egos), dan penonton (Haskell dalam Romlah, 2006). Berikut adalah penjelasan mengenai psikodrama:

a. Panggung permainan

Penggung permainan mewakili ruang hidup peran utama psikodrama. Panggung atau tempat permainan hendaknya cukup luas untuk memberi ruang gerak yang cukup bagi pemeran utama, pemimpin, dan individu-individu lain

21

yang berperan dalam psikodrama tersebut. Tempat permainan harus merupakan tiruan atau paling tidak secara simbolis mewakili adegan-adegan yang diuraikan klien. Apabila tidak ada panggung, sebagian ruangan dapat dijadikan panggung asal diberi batas yang jelas, dan para pemegang peran keluar masuk tempat itu.

b. Pemimpin psikodrama (Director)

Pemimpin psikodrama mempunyai 3 peranan, yaitu sebagai produser, katalisator/fasilitator, dan pengamat atau penganalisis. Pemimpin membantu pemilihan pemegang peran utama, dan kemudian menentukan teknik psikodrama yang mana yang paling tepat untuk mengekplorasi masalah individu tersebut merencanakan pelaksanaannya, menyiapkan situasi yang tepat, dan memperhatikan dengan cermat perilaku pemain utama selama psikodrama berlangsung.

Dalam usaha bimbingan, director dalam psikodrama ini tidak mesti mereka yang ahli persutradaraan. Mungkin bisa menggunakan naskah atau cerita karya orang lain untuk didramakan.

Pemimpin kelompok juga harus mempunyai keberanian. Sebab teknik-teknik yang digunakan mengandung beberapa resiko yang kadang-kadang belum diketahui. Ia harus mempunyai keberanian untuk mencoba teknik-teknik yang diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat pada anggota kelompok.

Seorang pemimpin harus mempunyai karisma, ia harus mempunyai antusiasme dan spontanitas. Dengan menggunakan karismanya, seorang pemimpin harus mampu mendorong anggota-anggota kelompoknya untuk dapat mengontrol dan berani menanggung resiko dalam mencoba perilaku baru. Seorang pemimpin harus mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, pengetahuan mengenai diri sendiri, dan pengalaman klinis.

c. Peran utama (Protagonis)

Pemegang peran utama adalah individu yang dipilih oleh kelompok danpemimpin kelompok untuk memerankan kembali kejadian penting yang dialami mulai dari kejadian waktu lampau, apa yang terjadi sekarang, dan

22

situasi yang diperkirakan atau terjadi. Dalam psikodrama protagonis didorong untuk memerankan lakon seperti keadaan yang pernah atau akan dialami.

Pola drama yang akan dimainkan harus mengandung atau berhubungan dengan kasus yang dialami oleh klien, dimana dalam pelaksanaanya terdapat situasi-situasi yang menimbulkan kekecewaan, ketakutan, kesusahan, kegembiraan, yang semua itu di atur dan diarahkan oleh seorang director atau pembimbing. Pemeran utama berkewajiban mengajar pemain lain yang terpilih bagaimana mereka harus membawakan perannya.

Pemimpin kelompok dapat memberikan saran-saran bagaimana sekenario masalah dimainkan, tetapi pemeran utamalah yang menentukan apakah ia akan mengikuti saran tersebut atau tidak. Pada akhir psikodrama, pemimpin dan pemeran utama dapat menyarankan peran yang berbeda terhadap adegan yang sama untuk melihat apakah pemeran utama dapat bereaksi lebih efektif.

Konsep dasar pendapat Moreno adalah bahwa pemain utama merupakan alat dari kelompok. Apa yang di perankannya bersama dengan pemeran lainnya merupakan wakil masalah kelompok. Dengan demikian psikodrama lebih merupakan proses kelompok daripada hanya alat untuk menyembuhkan individu melalui kelompok.

d. Pemeran pembantu (Auxiliary)

Pemeran pembantu atau pembantu terapis adalah siapa saja dalam kelompok yang membantu pemimpin kelompok dan pemeran utama dalam produksi psikodrama. Fungsi pemeran pembantu adalah mendorong pemeran utama agar terlibat secara mendalam ke hal-hal yang terjadi saat ini. Dengan bantuan yang efektif dari pembantu terapis, psikodrama dapat menjadi alat yang efektif untuk mengubah perilaku.

Dokumen terkait