Hassetsu : Delapan Tahapan Dalam Memanah
Menurut Hideharu Onuma (2013:65-85) Kajian Kyudo dibagi ke dalam 8 tahapan teknk memanah yang dikenal sebagai hassetsu. Berikut macam-macam teknik dan penjelasannya :
3.1 Ashibumi (Kaki)
Ashibumi adalah dasar dimana tahapan dari hassetsu dimulai. Tanpa itu, kaki yang stabil dengan panahan yang baik akan sangat sulit diperoleh. Sangat imperatif
dibandingkan ketika anda mengembangkanya melalui pemahaman ashibumi.
Ada dua cara untuk menempatkan kaki ketika membuat ashibumi: metode melangkah dan geser yang digunakan dalam reishakei dan juga metode dua langkah yang digunakan dalam Bushakei. Dalam kedua kasus ini, sangat penting untuk menjaga tubuh tetap tegak dan membiarkan kaki bergeser mulus di lantai untuk menghindari bobbing atau ayunan. Sebagai aturan,kaki dilebarkan sejarak panjang panah (Yazuka) dengan ibu jari besar segaris dengan bagian tengah target. Sudut kaki harus enam puluh derajat, dan berat badan harus didistribusikan merata sehingga bagian tengah gravitasi dapat dipertahankan diantara kedua kaki. Tekanan yang sama
harus diberikan pada kedua kaki dan lutut harus diregangkan secara alami. Kaki harus diletakkan ditanah, tetapi anda harus berhati-hati untuk tidak terlalu melebarkan kaki anda atau menekan berlebihan di lantai. Disamping itu anda harus merasa bila energi bumi itu naik ke atas melalui lantai dan masuk ke dalam kaki dan tubuh bagian atas anda. Busur dan panah dipegang setinggi pinggul dengan busur pada sebelah kiri dan panah di sebelah kanan.Kedua siku harus mengarah ke atas. Bagian atas busur dipertahankan sejajar dengan tengah tubuh dan dipertahankan sepuluh sentimeter di atas lantai. Dalam reishakei, panah dipegang sedemikian sehingga titik yang menonjol sekitar sepuluh sentimeter dari sarung tangan. Dalam bushakei, hanya ujung titik yang terlihat. Dalam kasus ini, panah dipegang pada sudut yang sama seperti busur untuk membentuk segitiga di depan anda.
3.2 Dozukuri (Memperbaiki Postur)
Setelah kaki ditempatkan maka anda harus mengalihkan perhatian anda kepada postur bagian atas tubuh anda. Perhatian khusus harus ditujukan dengan apa yang disebut hubungan tiga silang, dimana bahu, pinggul dan kaki adalah sebaris satu dengan yang lain, sejajar dengan lantai. Agar postur ini bekerja dengan benar, maka bahu harus diturunkan kearah punggung dan punggung leher diregangkan. Panah pertama (Haya) diknock dan dipertahankan dengan jari tangan kiri, sementara panah kedua (Otoya) dipertahankan pada Haya diantara jari manis dan jari kelingking (Reishakei atau antara jari tengah dan jari manis Bushakei). Ujung bawah dari busur harus diletakkan pada lutut kiri dan busur dipegang sehingga lengkungan atas adalah
sebaris dengan bagian tengah tubuh. Ketika tangan kanan diletakkan pada paha kanan anda harus memperbaiki postur anda, dan berhati-hati untuk tidak condong ke depan atau kebelakang, dan tidak juga ke kiri atau ke kanan. Kemudian tergantung pada jenis sarung tangan yang digunakan, Otoya dipegang dan dipertahankan pada sisi kanan dalam satu dari dua cara yang diperlihatkan. Mata melihat lembut sepanjang garis hidung ke titik lantai sekitar empat meter jauhnya. Pada titik ini, anda harus mengatur pernafasan anda dan membiarkan berat badan anda mengarah secara alami sehingga tenangkan pikiran dan kirimkan semangat anda ke depan dalam setiap arah, ciptakan apa yang disebut dalam Kyudo sebagai Enso, perasaan yang membulat. Ketika persiapan akhir pada Tsurushirabe, maka pemeriksaan string, dengan melihat pertama ke bawah string kemudian sepanjang dari panah ke target. Setelah gerakan itu kembalikan pandangan anda pada bagian nocking dan persiapkan untuk melakukan yugamae.
3.3 Yugamae (Mempersiapkan Busur)
Ada dua gaya yugamae dalam Kyudo modern. Pertama disebut shomen no kamae, busur yang tetapi di depan tubuh. Dalam posisi kedua disebut Shamen no Kamae, busur dipertahankan pada sisi kiri. Kedua cara ini melibatkan gerakan persiapan yang dikenal sebagai Torikake (mempersiapkan sarung tangan),Tenouchi
3.3.1 Torikake
Salah satu tugas yang sulit dalam Kyudo adalah belajar bagaimana membuat panah yang dilepaskan bersih tanpa usaha. Kemampuan untuk melakukannya tergantung sebagian pada kemampuan seseorang untuk memasang sarung tangan apa
string dengan cara yang benar.
Untuk membuat Torikake, pertama tetapkan string pada alur nocking pada dasar ibu jari kemudian tergantung pada apakah ini sarung tangan tiga atau empat jari, letakkan dua jari pertama atau tiga jari pertama pada ibu jari. Kemudian geser ibu jari anda pada string hingga menemui panah.
Ada empat titik yang harus dipertimbangkan secara cermat ketika membuat
Torikake. Pertama, anda harus memastikan bahwa untuk mengatur ibu jari dari sarung tangan yang tegak lurus pada string. Kemudian, anda harus menjaga pergelangan tangan anda tetapi lurus sehingga lengan bawah sejajar dengan ibu jari. Juga ibu jari harus dipertahankan lurus di dalam sarung tangan dan tidak pernah digantung atau ditekan. Akhirnya, lengan kanan bawah harus diputar sedemikian. Ini akan menarik panah terhadap Tenouchi yang benar tidak busur dan menjaganya tetap di tempat selama memanah.
3.3.2 Tenouchi
Setelah memasang sarung tangan anda harus mempersiapkan Tenouchi, metode khusus memegang busur terutama pada panahan Jepang. Hal penting dalam dapat ditekankan. Keadaan dan kecepatan panah tidak mungkin terkontrol bila
Tenouchi tidak dilakukan dengan benar. Demikian juga Yugaeri, aksi dimana pada sasat melepaskannya, busur akan kembali ke tempatnya dan string mengayun ke kiri, tidak terjadi bila Tenouchi tidak digunakan dengan benar.
Ketika Tenouchi yang baik berhasil dikembangkan dalam beberapa tahun, maka teknik dasar akan jauh lebih sederhana, kita hanya menjaga tangan lurus dengan jari-hari yang dilepas dan kemudian memegangnya bersamaan, kemudian memegang tiga jari terakhir untuk bertemu dengan ibu jari. Perhatian khusus ditujukan untuk memperbaiki kelurusan tangan, pergelangan tangan, lengan dan juga hubungan diantara ibu jari dan jari tengah. Demikian juga ruang terbuka diantara busur dan dasar ibu jari yang harus dipertahankan. Dengan latihan yang cermat, unsur ini harus mengarah pada Tenouchi yang telah dipersiapkan dengan benar.
3.3.3 Monomi
Monomi, yang secara harafiah berarti melihat objek, adalah persiapan akhir dalam Yugamae. Dalam Monomi anda melihat pada target dengan tenang, dengan mata separuh tertutup. Anda tidak memikirkan tujuan, Monomi tidak menjadi teknik penentuan tujuan anda harus memberikan semangat anda untuk membuat kontak dengan target. Dan dari saat itu anda tidak pernah berkedip atau melepaskan pandangan anda dari target bila anda tidak ingin kehilangan koneksi yang vital.
3.4 Uchiokoshi (Mengangkat Busur)
Dalam Uchiokoshi anda bersiap memanah dengan membiarkan semangat anda melintasi hingga ke ujung busur dan panah sehingga akan menjadi bagian dari tubuh anda. Anda kemudian mengangkat busur dalam dua cara : Shomen Uchiokoshi, dimana busur diangkat lurus di depan tubuh anda, atau Shamen Uchiokoshi, dimana busur diangkat pada posisi Shamen sebelah kiri.
Busur harus diangkat tanpa gaya, seperti asap naik ke udara. Dan dalam kasus
Shomen Uchiokoshi, maka harus tetap lurus dengan sempurna dengan panah sejajar dengan lantai. Normalnya, busur ini diangkat pada suatu titik dimana tangan tepat berada di atas kepala dan lengan berada pada sudut empat puluh lima derajat, meskipun ini bervariasi tergantung pada kondisi fisik seseorang. Etika mengangkat busur maka perlu untuk menjaga lengan dan dada tetapi rileks dan bahu ke depan. Postur ini sering dikatakan seperti memegang tiga badan. Kita juga harus tidak mengabaikan hal ini secara harafiah dengan lengan yang ada.
Busur harus diangkat dengan menarik nafas. Pada puncak gerakan maka akan ada penghentian singkat ketika nafas dibuang secara perlahan. Kemudian pemanah menghirup nafas sekali lagi dan kemudian mulai menarik.
3.5 Hikiwake (Menarik Busur)
Busur Jepang ini ditarik dalam dua langkah. Pertama disebut Daisan, yaitu gerakan pendahuluan yang membuat tarikan. Daisan ini diikuti oleh penarikan sendiri.
Daisan berarti tiga besar. Istilah ini sesuai dengan pengajaran dari dorongan besar dan tarikan sepertiga. Daisan dibentuk dengan menarik busur ke kiri seperti ke kanan dalam lipatan siku. Gerakan ini lengkap ketika panah ditarik setengah panjang dan tangan kanan sedikit ke atas dan disesuaikan ke arah kening. Pada titik ini, penarikan gaya panahan ini berhenti sejenak.Tetapi meskipun gerakannya terlihat berhenti, namun tetapi aktif, karena pause itu adalah berarti membuang nafas dan semangatnya terus mengalir.
Tahapan kedua dari Hikiwake, menarik busur secara aktual, dimulai ketika dan menarik nafas. Anda harus terus menarik nafas hingga anda telah menyelesaikan sepertiga tarikan. Anda kemudian memasukkan nafas anda ke perut bagian bawah. Jangan mendorong nafas ke bawah atau anda akan menciptakan ketegangan berlebihan pada otot tubuh bagian atas anda.
Dalam Kyudo, busur tidak ditarik sepanjang penyebarannya. Ini dapat menyebar sama ke kiri dan ke kanan yang tentu saja tetapi tentu harus memiliki perasaan bahwa busur itu telah bergeser sepanjang panah, dan tidak dapat berbalik. Ide yang sama juga tercermin dalam mengajarkan Lepaskan string dengan lengan kiri dan tarik busur dengan kanan.
Busur ditarik terutama dengan otot punggung dan dada dan tidak dengan lengan atau tangan. Ini memungkinkan anda untuk mendistribusikan gaya tarikan melalui seluruh tubuh anda, yang kemudian membuat tarikan yang mulus dan halus tanpa usaha. Selama menarik dari daisan ke kai, maka tangan kiri dan siku kanan bergerak serentak ke bawah dn ke belakang sepanjang jalur melengkung. Ini terlihat bila busur adalah memndu tubuh pemanah. Untuk menekankannya, maka master pemanah seringkali mengatakan kepada muridnya untuk merasakan tubuh mereka antara busur dan string ketika mereka telah melakukan penarikan.
3.6 Kai (Menyelesaikan Penarikan)
Kai berarti Pertemuan. Ini berasal dari pengajaran Buddha bahwa setiap pertemuan diikuti oleh perpisahan. Dalam Kyudo ini berarti bahwa setiap tahapan memanah sebelumnya mengarah pada kai, dan bahwa pelepasan adalah hasil alami dari pertemuannya. Sehingga, keberhasilan atau kegagalan dari memanah tidak ditentukan setelah pelepasannya, ini ditentukan dalam Kai.
Dapat dikatakan bahwa bila hikiwake adalah tarikan fisik, maka kai adalah tarikan spritual. Dalam hikiwake, kekautan yang kita gunakan untuk menarik busur berasal dari penggunaan tubuh kita yang efisien, pekerjaan tulang dan otot dikaitkan dengan teknik yang benar. Tetapi dalam Kai, sebagian kerja fisik dilakukan. Ini saatnya untuk mengambil alih dan sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan.
Ini tidak berarti bahwa sisi fisik adalah diabaikan secara total dalam Kai. Anda harus melengkapi apa yang dikenal sebagai kerja akhir dari tubuh. meregangkan garis vertikal dari leher dan tulang punggung (Tetesan), bersama dengan garis horizontal dada, bahu dan lengan (Yokosen). Kondisi ini yang disebut
Tsumeai, berlanjut hingga slak dalam tubuh terbentuk dan bagian yang tersisa dari kelemahan dapat dihilangkan. Pada titik ini, kerja tubuh lengkap karena usaha fisik lebih lanjut hanya akan menciptakan ketegangan dalam tubuh. Tetapi anda tidak dapat berhenti sampai disini atau suki, pembukaan atau titik dari kelemahan akan dicapai. Ini dimana kerja dari roh datang. Bersamaan dengan aliran yang mulus maka tidak ada suki. Dibantu oleh kekuatan dan stabilitas Tsumeai, semangat anda menjadi lebih besar hingga mencapai suastu titik dimana pelepasan ini tidak dapat dielakkan. Dan akhirnya ini disebut sebagai Nobiai.
3.7 Hanare (Melepaskan)
Bila Kai telah menjadi hal penting dalam Kyudo, maka Hanare itu mengungkapkan misterinya. Hanare adalah sesuatu yang lebih besar, ini terletak pada sisi pemahaman dan akibatnya tidak ada cara yang cukup untuk menjelaskannya kecuali melalui analogi. Hanare telah dibandingkan dengan momen ketika flint dan besi dipadukan untuk mencipakan lembing, atau ketika salju jatuh dengan beratnya sendiri dari daun. Sebagian guru menyatakan tunggu dalam kai hingga enam sampai delapan detik untuk mencapai hanare yang baik. Pelepasan (Hayake) tidak memungkinkan waktu yang cukup untuk berbagai komponen mental dan fisik dari
memanah untuk dapat dimunculkan. Dan pelepasan itu adalah datang setelah periode tertentu dalam Kai (Motare) kehilangan momen kemasakannya.
Hanare yang benar adalah produk dari pemikiran dan tubuh yang menyatu. kemudian dilepaskan dari tengah dada, yang sebagian besar terbelat dengan pisau. Sebagian guru juga memiliki murid yang menutup mata dan memegang taut string
diantara tangan dan kemudian guru memotong string di bagian tengah untuk mengajarkan kepada murid perasaan tentang hanare yang benar.
Mengamati Hanare yang murni adalah seperti menyaksikan striking dari
drum. Aksi ini berlangsung dalam kedipan mata, tetapi daya strike ini terus dirasakan untuk waktu setelah itu. Dengan melihat pada Hanare yang kurang baik pada sisi lain, adalah mengamati film dari drum yang dipukul tetapi dengan bunyi yang lepas.
Yugaeri
Pada saat melepaskannya, bila Tenouchi benar, maka bagaimana kita dapat mengembalikannya ke tempatnya semula sehingga ayunan string itu menyentuh lengan kiri terluar anda. Aksi ini disebut Yugaeri.
Belum jelas kapan dan mengapa yugaeri ini dipadukan ke dalam metode memanah. Sebagian sumber menyatakan bahwa pertama kali muncul sekitar abad kelima belas ketika perubahan utama dilakukan pada bentuk busur dan teknik memanah. Ini sudah pasti bahwa ini pertama kali digunakan dalam panahan
mengembalikan string itu ke posisinya semula. Gaya memanah ini termasuk teknik yang mengadopsi Yugaeri.
3.8 Zanshin (Kelanjutan)
Di dalam Kyudo, memanah tidak diakhiri dengan pelepasan panah, ini berakhir dengan Zanshin. Zanshin berarti menyisakan tubuh Kai. Definisi ini digunakan untuk menjelaskan periode setelah pelepasan ketika anda terus menahan posisi anda dan mengirimkan semangat anda ke depan bahkan setelah panah mencapai target.
Secara fisik, Zanshin harus tentang, utuh dan seimbang sempurna. Tubuh harus kuat, tidak tegang, santai tetapi tanpa menunjukkan kelemahan. Secara mental
Zanshin adalah kondisi kewaspadaan yang luar biasa, dengan semangat yang mengalir tanpa hambatan dan tidak hanya ke arah target tetapi dalam setiap arah lain.
Kita dapat memikirkan zanshin sebagai sesuatu yang bersifat gema dari lonceng kuil, yang kemudian dirasakan berlalu waktu ketika bunyi itu kemudian akan menghilang.
Yudaoshi
Termasuk di dalam konteks Zanshin adalah gerakan terpisah yang disebut
Yudaoshi, menurunkan busur. Dalam Yudaoshi, mempertahankan kontak visual dengan target secara perlahan dengan menurunkan tangan anda ke samping anda,
sehingga ujung busur mengenali dan sejajar dengan tengah tubuh anda. Kemudian, putar kepala anda menghadap Kamiza. Setelah itu, melangkah dengan kaki kanan dalam langkah separuh ke arah tengah tubuh, kemudian bawah kaki kiri anda untuk bertemu dengan kaki kanan anda, dan ini melakukan prosedur penutupan.
BAB IV