• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Teknik dan Langkah Peternakan Jalak suren

1. Pemilihan Calon Indukan

Anakan Jalak Suren yang bagus dari hasil ternak, selain nilai ekonominya tinggi, nama peternak juga akan ikut terangkat. Oleh sebab itu, sebelum ternak dimulai, sebaiknya dilakukan persiapan-persiapan terlebih dahulu, yaitu mencari dan memilih burung yang bagus dan memenuhi syarat-syarat sebagai induk (Karso, 1996).

a. Memilih Kualitas yang Baik

Burung Jalak Suren yang baik dan memenuhi syarat-syarat sebagai calon induk sangat menentukan keberhasilan usaha peternakan, karena induk yang baik akan menghasilkan anak (bibit) dengan kualitas yang baik pula. Selain kicau, kondisi fisik dan mentalnya, yang juga perlu mendapat perhatian adalah daerah asalnya.

b. Kondisi dan Kesehatan Burung

Kesehatan burung tidak boleh diabaikan, sebab induk yang sehat akan menghasilkan keturunan yang sehat dan kuat. Burung yang sehat dapat dilihat dan ditentukan dari penampilan luarnya, antara lain sinar matanya terang, tajam dan bercahaya. Nafsu makan tinggi (setiap kali diberi pakan selalu berusaha mendapatkannya). Gerakannya lincah, energik dan selalu berkicau. Bulunya menempel rapi di tubuhnya. Kotorannya baik, tidak terlalu keras dan tidak encer serta tidak terlalu berbau. Kotoran yang berbau, biasanya dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi.

commit to user

c. Memiliki Kicau yang Baik

Burung yang baik tidak hanya dilihat dari bentuk fisiknya saja, tetapi juga kicauannya yang melipiti volumenya keras, nada dan iramanya baik dan benar, enak didengar, bersih, mengkristal, jelas dan panjang-panjang, temponya lama serta tidak putus-putus.

d. Tidak Cacat Fisik dan Mental

Sebagai calon induk, burung harus tidak cacat fisik dan mental. Fisik, antara lain kaki tidak pincang, paruh, mata dan ekornya utuh dan baik. Selain itu calon induk juga harus memiliki mental yang bagus, artinya tidak mudah stress, mudah beradaptasi dan tidak penakut.

e. Produktivitas Tinggi

Calon induk, Selain mampu melakukan perkawinan dengan baik dan memiliki daya tetas tinggi, juga harus pandai mengasuh dan sayang kepada anak-anaknya, sehingga dapat tumbuh cepat dan sehat. Induk yang produktif baru diketahui setelah menetaskan telur-telurnya. Sifat-sifat induk burung yang baik dapat diketahui dari beberapa cirinya yaitu mudah bergaul, tidak bengis, rajin mencari makan, dan tidak mudah kaget.

2. Menentukan Jenis Kelamin

Salah satu syarat dalam usaha peternakan Jalak Suren adalah mengetahui dan menentukan jenis kelaminnya. Bagi peternak pemula memang sulit untuk membedakan antara jantan dan betina, karena bentuk tubuh maupun suara kicaunya sangat mirip. Namun dengan pengamatan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

yang cermat selama beberapa waktu dapat dilihat perbedaan-perbedaan yang bias dipakai sebagai pedoman untuk menentukan jantan dan betinanya (Karso, 1996).

a. Bentuk Luar

Bentuk tubuh bagian luar burung Jalak Suren dapat dipakai untuk membedakan jenis kelaminnya. Burung jantan tubuhnya lonjong dan panjang, kepalanya lebih besar dan bulat, paruhnya besar. Bulu kepala, punggung dan dada berwarna hitam legam mengkilap. Demikian pula warna putihnya lebih bersih, ekornya lebih panjang dan menyatu. Terlihat ketika burung berkicau sambil bergerak seperti menari atau mengangguk-anggukkan kepalanya.

Burung Jalak Suren betina secara umum mempunyai ciri-ciri fisik yang berkebalikan dengan ciri-ciri burung Jalak Suren jantan, yaitu badan lebih bulat dan pendek, warna hitam dan putihnya agak suram, paruh dan ekornya lebih pendek.

b. Gerakan dan Tingkah Laku

Jalak Suren jantan lebih agresif dan bila didekatkan seolah-olah ingin saling menyerang. Selain itu, bulu kepala atau jambulnya mengembang lebih besar dan tinggi, kepala tegak mendongak ke atas seakan-akan menantang dan kelihatan pemberani.sebaliknya, burung jalak suren betina tampak lebih lembut. Bulu kepalanya bila mengembang kelihatan agak ramping dan gerakannya ketika berkicau sambil menari pun lebih halus dan lebih bersahabat.

commit to user

c. Suara Kicau

Dengan mendengarkan suara kicaunya, jalak suren dapat ditentukan jenis kelaminnya. Jalak Suren jantan suaranya lebih keras dan mempunyai lebih banyak variasi. Bila berkicau biasanya memulai lebih dahulu, ketika bersama-sama berkicau seakan memimpin. Burung Jalak Suren betina variasi kicauanya terbatas dan biasanya selalu mengikuti irama kicau burung jantan.

d. Bentuk Alat Kelamin (Kloaka)

Alat kelamin pada burung jantan kelihatan kecil tetapi lebih menonjol. Apabila kloaka dipencet dan dibalik, seperti akan dikeluarkan, kelihatan di bagian atas permukaannya runcing, keluar seperti ujung pipa kecil.

Alat kelamin pada burung betina lubang kloakanya lebih lebar, lebih basah, halus han lembut. Bila dibalik dan dikeluarkan atau dipencet terdapat belahan keatas menuju suatu sudut. Tulang supit (tulang rawan yang bertemu di bawah dubur) pada burung betina lebih lebar daripada burung jantan (Karso, 1996: 20-23).

3. Kandang

Kandang untuk ternak Jalak Suren sebaiknya dibuat mendekati kondisi dan keadaan habitat asli burung di alam bebas. Kandang untuk ternak memerlukan persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain (Karso, 1996):

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

a. Lokasi yang Cocok dan Strategis

Agar dalam usaha peternakan nanti tidak mengalami hambatan, sebaiknya lokasi kandang diusahakan di tempat yang strategis. Artinya, mudah dijangkau dan terdapat banyak faktor pendukung, misalnya tersedia cukup air untuk minum dan mandi, dekat pasar burung atau tempat memperoleh pakan, dsb. Tetapi, harus dipertimbangkan pula agar lokasi peternakan cukup jauh dari keramaian yang dapat mengganggu ketenangan burung. Ketentraman dan ketenangan burung juga harus diperhatikan, misalnya bebas dari gangguan manusia atau binatang pengganggu yang lain, misalnya anjing, kucing dan tikus.

b. Bentuk dan Kontruksi Kandang yang Memadai

Sebelum kandang untuk peternakan dibuat, bentuk dan kontruksi kandang perlu dipertimbangkan dan direncanakan terlebih dahulu. Pertimbangan-pertimbangan tersebut antara lain meliputi antara lain kandang harus kuat agar dapat melinduni burung dari panas dan hujan, serta gangguan binatang. Kandang harus tahan lama, kurang lebih tahan dalam jangka waktu 5-10 tahun. Bahan pembuat kandang dipilih yang bagus, karena apabila kehujanan atau kepanasan dapat tahan lama dan tidak cepat rusak. Ukuran untuk kandang ternak burung jalak suren biasanya dengan ukuran panjang 1 m, lebar 1m, dan tinggi 2 m (Karso, 1996: 24).

commit to user

4. Cara Penjodohan Burung Jalak Suren

Jalak suren mulai siap berkembang biak pada umur 10-12 bulan. Satu tahun untuk betina dan 1,5-2 tahun untuk jantan merupakan umur ideal untuk penjodohan. Biasanya betina lebih cepat dewasa kelamin dibanding jantan. Tehnik penjodohan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, kalau jumlahnya banyak, penjodohan bisa dilakukan secara bebas. Artinya, masing-masing burung dibebaskan memilih pasangannya. Bila ada sepasang burung yang saling berdekatan, berkicau sahut-sahutan, dan bercumbu, itu pertanda jodoh. Burung yang sudah jodoh harus dipindahkan dalam kandang tersendiri. Biasanya burung yang sudah jodoh akan merajai di antara yang lain dan menyerang sesamanya atau sebaliknya diganggu oleh yang lain yang sama-sama jodoh atau berebut jodoh. Ini akan mengganggu proses perkawinan dan perkembangbiakan selanjutnya. Jika hanya ada dua ekor, seekor jantan dan seekor betina, penjodohan dapat dilakukan dengan mendekatkan betina ke jantan. Caranya, burung betina dimasukkan dalam sangkar kecil atau sangkar gantung. Burung jantan dibiarkan dalam kandang penangkaran. Selanjutnya, sangkar kecil berisi burung betina dimasukkan ke dalam kandang penangkaran. Karena memiliki sifat berahi yang tinggi dan musim kawin sepanjang tahun, kedua burung ini akan segera jodoh (Karso, 1996).

Burung yang sudah jodoh akan melakukan perkawinan 2-4 minggu setelah penjodohan. Selanjutnya, burung akan membuat sarang untuk bertelur pada tanaman yang banyak cabangnya. Dalam kandang peternakan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

Jalak Suren dapat dirangsang membuat sarang. Caranya, di beberapa tempat yang layak untuk bersarang misalnya pada tanaman yang memiliki banyak cabang kuat, terlidung, dan aman dari gangguan diberi tatanan dasar sarang. Di tempat-tempat yang telah ditentukan itu ditaruh bahan sarang seperti jerami, akar sulur yang panjang, ranting-ranting, atau daun-daunan. Bahan sarang ini ditata melingkar atau dalam tumpukan yang teratur. Cara ini dapat merangsang dan membantu Jalak Suren untuk bersarang. Jalak Suren akan memilih sendiri tempat yang sesuai untuk bersarang (Karso, 1996).

Pembuatan sarang dilakukan selama 5-10 hari, tergantung agresivitas burung. Ukuran sarang termasuk besar. Panjang tumpukan susunan sarang antara 35-45 cm, lebar 20-30 cm, dan tinggi sekitar 20 cm. Lubang tempat keluar masuknya burung berada di permukaan atas sarang, agak miring dengan derajat kemiringan antara 40-45°. Jalak suren merupakan salah satu, mungkin satu-satunya, jenis dari keluarga Sturnidae yang membuat sarang bukan di dalam rongga pohon, tetapi menaruh sarang pada cabang-cabang pohon. Telur Jalak Suren berwarna biru, berukuran 19,8 x 27,7 mm, dan berjumlah 3-4 butir. Telur dierami bergantian oleh burung jantan dan betinanya. Telur-telur itu akan menetas setelah 14 hari dierami. Selain sebagai pengganti selama pengeraman telur, yang jantan juga bertindak sebagai pengaman di luar sarang. Anak Jalak Suren akan dipelihara induknya sampai berumur 1,5 bulan. Pada umur tersebut kita tinggal menanti saat yang tepat untuk mengambil dan memisahkannya dari kandang ternak. Jalak Suren bisa berkembang biak sepanjang tahun. Puncak

commit to user

perkembangbiakan terjadi pada pertengahan tahun, yaitu antara bulan Januari-Juni. Bulan Juli-Desember merupakan masa penurunan perkawinan (Karso, 1996).

5. Cara Mempercepat Produksi

Langkah-langkah terbaik untuk mempercepat produksi adalah (Karso, 1996):

a. Terlebih dahulu kita persiapkan box listrik (dengan bolam 5 watt), dengan ukuran : tinggi 60 cm, lebar 50 cm, panjang 60 cm, jarak bolam dari bawah ± 18 cm.

60cm

50 cm

b. Setelah box listrik sudah tersedia, ambilah anakan (piyek) berumur 1 hari dari sarang dan masukan ke dalam box listrik.

c. Beri makan piyek dengan kotro yang bersih dan segar selama 5 hari, sesuai kebutuhan atau kenyang.

d. Piyek yang berumur 6 sampai 15 hari diberi makan dengan voor (lembut) dicampur kroto dan diberi air.

e. Piyek berumur 16 sampai 30 hari hanya makan dengan voor basah. f. Setelah piyek berumur > 30 hari dicoba makanan voor yang kering.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

Dokumen terkait