BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Teknik pemeliharaan kopi
Kebutuhan pemupukan dalam tanaman kopi ini ditentukan oleh 2 faktor utama, yaitu: pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah dan persediaan kandungan
6 hara dalam tanah.Tanaman kopi ini mengambil hara dari dalam tanah untuk pertumbuhan vegetatif dan juga untuk pertumbuhan buah. Pertumbuhan vegetatif ini sama pentingnya dengan pembuatan buah, karena buah kopi ini hanya terbentuk oleh cabang-cabang lateral yang merupakan produk pertumbuhan vegetatif. Pengambilan hara dari tanaman kopi ini sangat berbeda-beda dan menurut jenis kopi itu sendiri.
Pemupukan bermanfaat untuk perbaikan kondisi tanaman, peningkatan produksi pada mutu, dan stabilisasi produksi.Secara Umum pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk organik dan an organik.Pupuk organik berasal dari kotoran ternak dan sisa sisa tumbuhan, Pupuk an organik Pupuk itu dibagi menjadi 2 golongan, yaitu pupuk tunggal (single fertilizer) dan pupuk majemuk (compound fertilizer).Pupuk tunggal hanya mengandung satu jenis unsur hara, yaitu N,P, atau K, sedangkan pupuk majemuk mengandung lebih dari satu unsur hara dalam berbagai kombinasi. (PSP3-LPPM-IPBet al, 2018).
b. Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma dilaksanakan sebelum pemupukan dan panen.Pengendalian gulma sebelum pemupukan bertujuan untuk menghindari persaingan penyerapan hara antara tanaman kopi dengan gulma, sedangkan pengendalian gulma menjelang panen bertujuan untuk memudahkan dalam pemanenan dan mengurangi jumlah kehilangan buah yang jatuh ke tanah. Pengendalian gulma dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara manual dan kimia disesuaikan dengan kebutuhan kebun. Pengendalian gulma secara manual dilaksanakan dengan cara membabat gulma disekitar tanaman kopi seluas proyeksi tajuk tanaman dengan
7 menggunakan sabit atau cangkul. Pengendalian gulma secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan herbisida. Herbisida yang digunakan adalah herbisida sistemik dengan bahan aktif yaitu Gliphosate, Sulphosate, dengan sasaran selektif gulma berdaun sempit, 2.4 Damin dengan sasaran utama gulma berdaun lebar (Febriana et al, 2016).
c. Pemangkasan
Tujuan Pemangkasan adalah mempertahankan ketinggian tanaman dengan tinggi 160 cm untuk memudahkan perawatan atau pemeliharaan dan panen.
Pemangkasan batang tunggal (single stem) terdiri dari pangkas bentuk, pemeliharaan, dan peremajaan.Pemangkasan bentuk yaitu perlakuan kliping terutama untuk tanaman yang sulit menumbuhkan cabang reproduktif.
Pemangkasan pemeliharaan atau pemangkasan produksi terdiri atas pangkas lepas panen (PLP), pangkas seleksi (wiwil selektif) dan wiwil kasar. Cabang-cabang yang terdapat di tanaman kopi adalah cabang belum berbuah (B0), cabang yang telah berbuah satu kali (B1), cabang yang yang telah berbuah dua kali (B2), dan cabang yang telah berbuah tiga kali (B3). Cabang-cabang yang termasuk cabang produktif adalah cabang B1, B2, dan B3 (Febriana et al, 2016).
Pemangkasan seleksi bertujuan mempersiapkan cabang pemikul buah untuk persediaan tahun yang akan datang. Pada prinsipnya cabang–cabang yang berlebihan harus dipangkas agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam tajuk dan sirkulasi udara berlangsung baik, sehingga proses pertumbuhan menjadi baik.
Pemangkasan seleksi dilaksanakan dua kali dalam setahun. Pemangkasan seleksi mulai dilakukan 23 bulan setelah PLP (Desember–Januari) dengan memilih
8 cabang–cabang yang akan dipelihara pada musim pembungaan yang akan datang.
Pemangkasan halus dilakukan untuk mengurangi kelembaban yang terjadi pada tanaman, sehingga dapat mengurangi gugur buah. Alat yang digunakan gergaji dan gunting pangkas (Febriana et al, 2016).
d. Pengendalian Hama dan Penyakit
Penanganan hama dan penyakit kopi merupakan bagian penting pemeliharaan tanaman kopi dalam rangka mempertahankan potensi produksi kopi sesuai kapasitas genetiknya. Hama tanaman kopi yang mudah ditemukan di pertanaman kopi di Indonesia adalah penggerek buah kopi, penggerek cabang kopi, kutu putih, dan penggerek batang/cabang. Sedangkan penyakit tanaman kopi mencakup karat daun kopi, bercak daun, busuk buah kopi, jamur upas, penyakit akar dan nematode. Di antara hama dan penyakit tersebut yang dilaporkan menimbulkan kerugian besar adalah penggerek buah kopi, karat daun dan nematode (PSP3-LPPM-IPBet al, 2018).
Pengendalian Hama Tanaman Kopi
a. Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei)
Hama PBKo menyerang semua jenis kopi (Arabika, Robusta, dan Liberika). Ada dua tipe kerusakan yang disebabkan oleh hama ini, yaitu gugur buah muda dan kehilangan hasil panen secara kuantitas maupun kualitas. Serangan pada buah kopi yang bijinya masih lunak mengakibatkan buah tidak berkembang, warnanya berubah menjadi kuning kemerahan, dan akhirnya gugur, sedangkan serangan pada buah yang bijinya telah mengeras akan berakibat penurunan mutu biji kopi karena biji berlubang. Biji kopi yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap
9 susunan senyawa kimianya, terutama pada kafein dan gula pereduksi yang akan mempengaruhi citarasa.
Pengendalian hama PBKo dapat dilakukan dengan cara:
Pemupukan dilakukan secara berkala sesuai dosis anjuran, untuk memicu
waktu pembungaan yang relatif seragam sehingga dapat memutus siklus hidup PBKo.
Pengendalian gulma setelah panen, agar memudahkan pengambilan
sisa-sisa buah kopi yang jatuh ke tanah.
Pemangkasan tanaman kopi dan penaungnya dilakukan secara rutin untuk
mengurangi tingkat kelembapan dan suhu lingkungan sehingga menciptakan kondisi yang kurang cocok untuk perkembangan PBKo.
Petik bubuk, yaitu memetik semua buah yang sudah terserang PBKo pada
saat 15-30 hari menjelang panen raya. Kemudian semua buah tersebut direndam dengan air panas atau dikubur untuk membunuh serangga yang ada di dalam buah.
Rampasan/racutan, yaitu memetik semua buah kopi yang ada, baik yang
sudah matang maupun yang belum pada akhir masa panen raya.
Pengendalian secara fisik dan mekanis dengan menggunakan alat dan
senyawa perangkap kumbang betina. Alat perangkap sederhana terbuat dari botol air mineral yang dicat merah dilubangi di bagian samping untuk masuk kumbang dan pada bagian dasar diisi air ditambah dengan deterjen sebagai tempat penampung hama. Senyawa penarik hama (atractant)
10 berupa cairan dengan bahan dasar etanol dalam plastik atau botol kecil yang digantungkan di dalam alat perangkap.
b. Penggerek Cabang dan Ranting (Xylosandruscompactus L.)
X. compactus ini dianggap sebagai hama yang sangat penting karena mudah beradaptasi dengan lingkungan, meskipun hidupnya terbatas di daerah panas dan tropis. Kumbang betina menggerek cabang dan ranting, kemudian meletakkan telur di dalam lubang gerekan. Larva dan kumbang dewasa aktif menggerek jaringan kayu dari cabang dan ranting kopi sehingga terputus aliran makanan ke bagian atas cabang yang mengakibatkan bagian tanaman tersebut mengering.
Lebih dari 224 spesies tanaman, dalam 62 famili, menjadi inang penggerek cabang ini.
Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Pemeliharaan tanaman kopi sesuai dengan GAP untuk menjaga kesehatan
tanaman.
Pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman telah terserang, kemudian
dibakar agar telur, larva dan imago yang masih ada di dalamnya mati.
Pengendalian secara fisik dan mekanis dengan menggunakan alat dan
senyawa perangkap kumbang betina.
Menggunakan insektisida nabati BIOTRIS yang berbahan aktif
alpha-eleostearic acid.
c. Kutu Hijau (Coccus viridis)
Kutu hijau menyerang tanaman kopi dengan cara mengisap cairan daun dan cabang yang masih hijau sehingga menyebabkan daun menguning dan mengering.
11 Kutu ini biasanya menggerombol dan tinggal di permukaan bawah daun, terutama pada tulang daun.Daun atau ranting-ranting muda yang terserang, terutama permukaan bawah daun ditumbuhi jamur embun jelaga (Capnodium sp.) yang berwarna hitam.
Pengendalian hama kutu hijau dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Pengendalian secara kultur teknis ditekankan pada pemangkasan dan
pengaturan tanaman penaung agar tidak terlalu rimbun.
Aplikasi insektisida nabati yang paling mudah adalah dengan
menggunakan air rendaman tembakau (1 kg tembakau/ 2 liter air) yang diencerkan menjadi 10 kali .
Pemanfaatan musuh alami berupa predator, prasitoid, dan patogen.
Predator yang dilaporkan efektif adalah kumbang Azya lutiepes dan Halmus chalybeus. Parasitoid yang banyak digunakan adalah Coccophagus rusti dan Encarsia sp. Selain predator dan parasitoid, pengendalian biologi untuk mengendalikan C. viridis adalah jamur patogen serangga, yaitu Lecanicillium lecanii. Jamur ini dapat menyebabkan kematian kutu hijau sampai 90% selama musim hujan dan akhir musim kemarau.
Pengendalian Penyakit Tanaman Kopi a. Penyakit Karat Daun (Hemileia vastatrix)
Gejala penyakit karat daun dapat dilihat pada permukaan atas dan bawah daun, ditandai dengan bercak kuning-jingga seperti serbuk (powder).Daun yang terinfeksi timbul bercak kuning, kemudian berubah menjadi cokelat. Jika diamati
12 pada bagian bawah daun tampak bercak yang awalnya berwarna kuning muda, selanjutnya berubah menjadi kuning tua, pada bagian tersebut akan terlihat jelas tepung yang berwarna oranye atau jingga. Tepung tersebut adalah uredospora jamur (H. vastatrix). Gejala lanjut pada daun tampak bercak cokelat saling bergabung, menjadi lebih besar, kemudian mengering, dan gugur. Pada serangan berat mengakibatkan hampir seluruh daun gugur sehingga tanaman akan kelihatan gundul. Pengendalian penyakit ini yaitu dapat dilakukan sebagai berikut:
Penggunaan varietas tahan. Beberapa klon kopi yang tahan terhadap penyakit karat daun sudah ditemukan di antaranya S795 dan USDA762.
Kultur teknis meliputi: penyiangan, pemupukan, pemangkasan, dan pengelolaan naungan. Pengendalian dengan kultur teknis jika dilakukan dengan benar dapat menurunkan intensitas serangan karat daun.
Fungisida nabati yang sudah dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit
karat daun adalah ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 0,1–0,2% efektif menekan penyakit karat daun.
Fungisida kimia yang digunakan untuk pengendalian karat daun biasanya
berbahan aktif tembaga, seperti tembaga oksida, tembaga khlorida, tembaga hidroksida, atau tembaga sulfat yang dibuat bubur bordo
b. Penyakit bercak Daun (Cercospora coffeicola)
Gejala serangan pada daun terdapat bercak-bercak bulat, cokelat kemerahan, atau cokelat tua, berbatas jelas, dan konsentris. Pada bercak yang tua terdapat pusat
13 berwarna putih kelabu, sering tampak seperti tepung hitam yang merupakan konidium jamur. Pengendalian penyakit ii dapat dilakukan dengan cara:
Pengendalian dengan fungisida kimia, misalnya fungisida mancozeb
seperti Dhitane dan Delsene.
Kelembapandikurangi dengan mengurangi penyiraman,menjarangkan atap
penaung sehingga sinar matahari dapat langsung masuk.
Sanitasi dengan menggunting daun yang sakit kemudian dibakar atau
dibenamkam di dalam tanah.
c. Penyakit Jamur Upas (Upasiasalmonicolor)
Gejala khas serangan jamur upas adalah cabang atau ranting yang terserang layu mendadak.Serangan dapat terjadi pada cabang yang di bawah, tengah, maupun di ujung pohon, bahkan dapat terjadi pada batang. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan
Cabang yang sakit dipotong sampai batas sehat ditambah 30 cm.
Kelembapan dikurangi dengan memangkas tanaman kopi dan pengaturan
pohon penaung.
Ranting yang sakit diolesi dengan fungisida tembaga konsentrasi 10%
seperti Nordox, Cupravit, atau fungisida tridemorf (Calixin RM).
Batang atau cabang yang besar yang terserang jamur upas dilumas dengan
fungisida.
Buah-buah yang sakit dipetik, dikumpulkan, dan dibakar atau dipendam d. Jamur Akar (Rigidoporus lignosus, Phellinus noxiu s, dan Roselina
bunodes).
14 Gejala serangan jamur akar baik jamur akar putih, cokelat, dan hitam, biasanya sama yaitu daun-daun tanaman sakit menguning, layu, dan rontok. Pengendalian penyakit ini dapa dilakukan dengan cara:
Sanitasi dengan membongkar tanaman yang sakit bersama akar-akarnya
sampai bersih, kemudian dibakar.
Fungisida dioleskan pada pangkal batang/akar tanaman sakit atau sebagai
tindakan preventif dapat menggunakan agens hayati Trichodermasp.
Membuat parit isolasi sedalam 60–90 cm, untuk mencegah penyebaran
pada tanaman disekitarnya.
Pengendalian juga dapat menggunakan belerang atau kapur 300 g/pohon (Harni et al, 2015).
2.3. Rekomendasi pemeliharaantanaman kopi