IV. PENDEDERAN BENIH
4.3. Teknik Pendederan II di Tambak
Pendederan II merupakan lanjutan dari pendederan I yang dapat dilakukan baik di bak maupun tambak. Pendederan benih ikan nila salin di tambak dapat dilakukan mulai dari pendederan 1 (P-1), pendederan 2 (P-2) maupun pendederan 3 (P-3). Di tambak, kegiatan produksi benih ikan nila salin dapat dilakukan dengan 2 sistem yaitu:
terintegrasi mulai dari pemijahan induk hingga pendederan dan hanya
22
mengkhususkan pendederan benih saja. Sistem terintegrasi, lahan tambak terbagi dalam petak perkawinan induk, pemijahan hingga pendederan benih ukuran petakan relatif kecil. Petakan tambak dapat dikonstruksi dengan berbagai ukuran sekitar 10 x 20 m dan ketinggian air kurang dari 50 cm dan antar petakan dipisahkan oleh pematang (Gambar 9). Digunakan petakan tambak untuk perkawinan induk sekaligus penetasan telur menjadi larva. Dalam petakan ini disekat dengan jaring happa untuk menampung induk yang telah melepaskan telur atau larva. Ukuran petakan tambak dalam sistim ini dapat dirubah sesuai kebutuhan dan luasan lahan tambak.
Proses produksi benih di tambak, digunakan induk ikan nila warna merah atau hitam dalam petakan perkawinan induk terpisah atau dicampur bersamaan. Rasio induk ikan nila betina dan jantan 2-3 : 1. Salinitas perkawinan atau pemijahan induk ikan nila salin diatur sekitar 5-10 ppt. Umumnya pemijahan induk membutuhkan waktu sekitar 2 minggu, selanjutnya induk dipindahkan atau dengan memindahkan larva yang berada di permukaan air tambak dengan alat seser. Larva ikan dipindahkan ke petakan tambak pendederan yang bersebelahan dengan petakan tambak pemijahan induk (Gambar 10).
Tiap siklus pemijahan induk (sekitar 2 minggu) dengan sejumlah induk tersebut dihasilkan larva sedikitnya 15.000 ekor tergantung pada jumlah induk dan luasan lahan yang tersedia. Semakin banyak induk ikan yang digunakan dan semakin luas lahan, produksi benihnya akan semakin besar.
23
Gambar 9. Petakan tambak untuk perkawinan in duk dan pemeliharaan larva ikan nila salin
Larva ikan nila salin yang dihasilkan dari pemijahan induk berukuran sekitar 8-9 mm dipanen dengan cara penyeseran larva yang berkumpul di permukaan media pemijahan. Larva didederkan dalam waktu sekitar 2 minggu hingga benih berukuran 3-5 cm per ekor.
Salinitas air pendederan benih dikeloka sekitar 10-12 ppt yang diatur dengan penambahan air tawar dari unit pompa (Gambar 11). Larva awal diberikan pakan bentuk tepung selanjutnya diganti dengan butiran halus seiring dengan bertambahnya ukuran benih. Dosis pakan larva dan dan benih deder adalah adlibitum. Dalam pendederan benih ini diperoleh tingkat kehidupan atau sintasan sekitar 70 % dari jumlah larva yang ditebar.
24
Gambar 10. Petakan tambak pendederan benih ikan nila salin Salinitas media pemijahan induk maupun pendederan yaitu sekitar 5-10 ppt dan 10-12 ppt, digunakan 1 unit pompa boor air tawar (Gambar 11) dengan kedalaman air sekitar 20 meter. Posisi pompa berdekatan dengan petakan tambak pemijahan maupun pendederan benih.
25
Gambar 11. Unit pompa air tawar untuk mengatur salinitas pemijahan induk dan pendederan benih di tambak
Sistem kedua adalah kegiatan yang hanya mendederkan benih mulai dari penebaran larva ikan hingga berukuran siap tebar.
Pelaksanaan produksi benih deder ikan nila dilakukan dalam lahan tambak yang berukuran lebih luas (Gambar 12). Lahan tambak pendederan benih berupa petakan berbentuk empat persegi panjang, berukuran sekitar 30 x 60 m (seluas 1.800 m2), dengan kedalaman air sekitar 30 cm. Salinitas air diatur sekitar 5 ppt dengan memanfaatkan sumber air tawar dari sumur bor dengan pompa air dalam tanah, kedalaman sekitar 20 m dan posisi pompa air di pematang tambak (Gambar 13). Air tanah selanjutnya dialirkan menggunakan pipa plastik ke lahan tambak pendederan ikan (Gambar 14).
Gambar 12. Petakan tambak pendederan dengan dasar tanah
26
Gambar 13. Unit pompa air tanah, posisi di pematang tambak
Gambar 14. Pipa air untuk pengaturan volume dan salinitas media pendederan benih
Sebelum diisi air, lahan tambak pendederan dipersiapkan dengan cara pengeringan selama beberapa hari kemudian dipupuk
27
organik untuk menumbuhkan pakan alami. Tambak selanjutnya diisi air dengan cara mencampur air laut dan air tawar yang diperoleh dari sumur bor untuk mendapatkan salinitas air antara 3-5 ppt. Larva ikan nila diperoleh dari unit pembenihan ikan air tawar sejumlah 150.000 - 200.000 ekor kemudian ditebarkan ke petak pendederan melalui adaptasi temperatur dan salinitas. Padat tebar larva sekitar 75 - 100 ekor per m2 luas lahan tambak. Larva ikan nila dipelihara selama 15-20 hari dengan pemberian pakan ikan bentuk tepung hingga berukuran panjang 2-3 cm per ekor.
Sistim pendederan benih nila salin lainnya adalah menggunakan wadah pendederan di dalam tambak. Wadah dikonstruksi dari jaring happa dengan bahan penguat (bambu atau kayu) yang ditancapkan pada beberapa sisi happa. Bentuk happa adalah segi empat dan ukurannya bervariasi tergantung luasan lahan tambak. Dalam lahan terbatas dapat dikonstruksi ukuran unit happa 2x5x1 m3 yang dipasang dalam tambak (Gambar 15).
Gambar 15. Wadah pendederan benih nila di lahan tambak Petakan tambak pendederan benih ikan nila disiapkan dengan cara pengeringan tanah, perbaikan pematang agar tidak mengalami
28
kebocoran. Langkah berikutnya adalah pengaturan salinitas media pemeliharaan seperti awal pemeliharaan larva ikan di unit pembenihan. Media air pendederan merupakan pencampuran air tawar dan air laut dengan rasio air tawar dan air laut 50:50 dan ketinggian air sekitar 1 m. Penyiapan media air pendederan dilakukan satu minggu sebelum penebaran benih, hingga volume dan salinitas yang diinginkan. Salinitas dinaikkan bertahap hingga batas yang diinginkan, sekitar 15 ppt dan dipertahankan hingga panen.
Media air pemeliharaan benih deder yang telah siap sesuai salinitas awal larva, selanjutnya dilakukan penebaran larva. Larva yang ditebar berumur D14 (panjang sekitar 1,5 cm/ekor). Larva ikan nila dari bak pembenihan kemudian diangkut ke tambak pendederan dengan kepadatan 200-400 ekor/m2. Penebaran benih dilakukan saat pagi atau sore hari.
Waktu pemeliharaan benih di bak sekitar tiga atau empat minggu. Penggantian air dilakukan saat densitas/kepadatan plankton tinggi (air pekat), dalam jumlah minimal untuk menjaga salinitas air agar optimum. Benih ikan diberi pakan komersial bentuk tepung/powder, frekwensi tiga kali sehari (pagi, siang, sore) dengan dosis 10-20% biomas.