• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

4.2 Temuan Penelitian

4.2.3 Teknik Penerjemahan yang Diterapkan Mahasiswa

Berdasarkan analisis terhadap teknik penerjemahan yang digunakan mahasiswa dalam menerjemahkan TBI ke dalam TBJ terdapat tujuh teknik penerjemahan yang digunakan oleh mahasiswa. Ketujuh teknik penerjemahan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Teknik Terjemahan Harfiah (literal translation)

Teknik ini merupakan teknik yang digunakan oleh seluruh mahasiswa. Pada teks 1 sebanyak 15 orang mahasiswa (93,75 %) menggunakan teknik ini dan 2 diantaranya menggunakannya hingga 9 kali dan 2 lainnya menggunakannya hingga 8 kali. Sedangkan pada teks 2 sebanyak 16 orang mahasiswa (100 %) menggunakan teknik ini dan 3 orang diantaranya menggunakan teknik ini hingga 9 kali dan 4 orang lainnya menggunakannya hingga 8 kali. Berdasarkan persentase tersebut maka teknik ini tergolong teknik yang banyak digunakan mahasiswa. Adapun sebagian besar contoh bentuk teknik penerjemahan ini adalah sebagai berikut:

1) ’Nama-nama Batak pun tidak asing bagi kita, seperti Hutasoit, Hutagalung, Nababan, Simanjutak, Silalahi, Simatupang, dan masih banyak lainnya’ (teks 1), diterjemahkan:

’Nama-nama Batak tidak asing bagi kita, seperti Hutasoit, ’Die Namen Batak nicht fremd für uns, wie Hutasoit, Hutagalung, Nababan, Simanjutak, Silalahi, Simatupang, dan masih Hutagalung, Nababan, Simanjutak, Silalahi, Simatupang, und noch banyak lainnya’

mehr anders’

Kalimat tersebut diterjemahkan kata demi kata dengan makna dan urutan kata yang sama persis dengan makna dan urutan kata dalam teks sumber (TBI). Terjemahan mahasiswa pada kalimat tersebut sebagai berikut:

’Die Namen von Batak sind nicht fremd für uns, wie Hutasoit, Hutagalung, Nababan, Simanjutak, Silalahi, Simatupang, und noch mehr anders’ (5 orang mahasiswa)

2) ’Menurut keyakinan mereka, bambu-bambu itu adalah benteng baik terhadap ancaman fisik maupun metafisik, seperti ilmu teluh dan sebagainya’ (teks 1), diterjemahkan:

’Menurut keyakinan mereka, bambu-bambu itu adalah ’Nach Glaube ihrem Bambuse die sind benteng baik terhadap ancaman fisik maupun metafisik, Wall guter aus drohung die Physike und Metaphisik seperti ilmu teluh dan sebagainya’

wie schwarze Magic und so weiter’

Kalimat tersebut diterjemahkan kata demi kata dengan makna yang sama dengan kata dalam teks sumber (TBI). Terjemahan mahasiswa adalah:

’Nach ihrem Glaube, sind die Bambuse ein guter Wall aus die Physike und Metaphisikdrohung wie schwarze Magic, und so weiter’ (4 orang mahasiswa)

3) ’Rumah adat Batak juga memiliki keunikan, mulai dari arsitekturnya hingga motif yang menghiasi rumah tersebut’ (teks 1),diterjemahkan:

’Rumah adat Batak juga memiliki keunikan, ’Das Haus Traditionelle Batak auch hat Einzigartigkeit, mulai dari arsitekturnya hingga motif yang menghiasi von dem Architektur bis das Motiv, das dekoriert rumah tersebut’

Haus das’

Pada kalimat tersebut mahasiswa menerjemahkan kata demi kata yang mengandung makna yang sama dengan kata dalam teks sumber (TBI). Terjemahan mahasiswa adalah:

’Das Traditionelle Haus von Batak hat auch Einzigartigkeit von dem Architektur bis das Motiv, das das Haus dekoriert’ (6 orang mahasiswa)

4) Volkswagen (biasa disingkat VW) adalah sebuah perusahaan otomotif di Wolfsburg, Niedersachsen, Jerman’ (teks 2), diterjemahkan:

’Volkswagen (biasa disingkat VW) adalah sebuah ’Volkswagen (normalerweise wird abgekürzt VW) ist eine perusahaan otomotif di Wolfsburg, Niedersachsen, Jerman’ Firma Otomotive in Wolfsburg, Niedersachsen, Deutschland’ Kalimat tersebut diterjemahkan kata demi kata dengan makna yang sama dengan kata dalam teks sumber (TBI). Terjemahan mahasiswa adalah:

’Volkswagen (normalerweise wird VW abgekürzt) ist eine Otomotive Firma in Wolfsburg, Niedersachsen, Deutschland’ (11 orang mahasiswa)

5) ’Insinyur yang terpilih untuk mengembangkan projek ini adalah Ferdinand Porsche’ (teks 2), diterjemahkan:

’Insinyur yang terpilih untuk mengembangkan ’Ein Ingenieur, der gewählt ist, um zu entwickeln ist projek ini adalah Ferdinand Porsche’

Kalimat tersebut diterjemahkan kata demi kata dengan makna yang sama dengan kata dalam teks sumber (TBI). Terjemahan mahasiswa adalah:

’Ein Ingenieur, der gewählt ist, um dieses Projekt zu entwickeln ist, ist Ferdinand Porsche’ (13 orang mahasiswa)

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa teknik terjemahan harfiah adalah teknik yang banyak digunakan mahasiswa, karena mahasiswa cenderung menggunakan pola-pola atau gramatika bahasa ibunya.

b. Teknik Penambahan (Additions)

Teknik ini merupakan teknik yang digunakan oleh hampir seluruh mahasiswa. Pada teks 1 sebanyak 12 orang mahasiswa (75%) menggunakan teknik ini dan 1 diantaranya menggunakannya hingga 7 kali dan 1 lainnya menggunakannya hingga 6 kali. Hanya 4 orang mahasiswa (25%) yang tidak menggunakan teknik ini. Sedangkan pada teks 2 sebanyak 14 orang mahasiswa (87,5 %) menggunakan teknik ini. Dan hanya 2 orang mahasiswa (12,5%) yang tidak menggunakan teknik tersebut. Berdasarkan persentase tersebut maka teknik ini tergolong teknik yang cukup banyak digunakan mahasiswa. Contoh bentuk teknik penerjemahan ini adalah sebagai berikut:

1) ’Rumah adat batak, cermin kearifan lingkungan’ (teks 1), diterjemahkan:

’Das Traditionelle Haus von Batak Stamm malen Weisheitumwelt’ (12 orang mahasiswa)

2) ’Nama-nama Batak pun tidak asing bagi kita, seperti Hutasoit, Hutagalung, Nababan, Simanjutak, Silalahi, Simatupang, dan masih banyak lainnya’ (teks 1), diterjemahkan:

’Sogar sind die Namen vom Bataksstamm nicht fremd für uns, wie Hutasoit, Hutagalung, Nababan, Simanjutak, Silalahi, Simatupang, und noch die andere zu viel’ (6 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan ini mahasiswa menambahkan kata ‘sogar’ yang berarti bahkan dan kata ‘Stamm’ yang berarti suku.

3) ’Melihat sebuah pasar potensial, beberapa pabrikan membuat proyek independen untuk “mobil rakyat” seperti Mercedes' 170H, Adler AutoBahn, Steyr 55, Hanomag 1.3L, dan lainnya’ (teks 2), diterjemahkan:

’Wegen Fabrikant einen potenziellen Markt sieht, machen einigen Fabrikanten selbständige Projekt für „Volkswagen“ wie Mercedes 170 H, Adler Autobahn, Steyr 55, Hanomag 1,3L und so weiter’ (4 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan ini mahasiswa menambahkan kata ‘wegen’ yang berarti dikarenakan.

4) ’Tahun itu, pabrik VW ada di bawah kontrol Inggris’ (teks 2), diterjemahkan: ’Im Jahr 1946 wird VW Fabrik bei England beherrscht’ (7 orang mahasiswa) Dalam terjemahan tersebut mahasiswa menambahkan tahun 1946. dalam teks BSu tidak disebutkan tahunnya, hanya disebutkan ‘tahun itu’

Melihat contoh di atas, dapat dikatakan bahwa teknik penambahan (additions) adalah teknik yang cukup banyak digunakan mahasiswa, karena mahasiswa menambahkan satu atau dua kata yang mereka anggap dapat membantu mempermudah menerjemahkan teks, sehingga tanpa disadari mereka telah menggunakan teknik penambahan.

c. Teknik Penghilangan (Omissions)

Teknik ini merupakan teknik yang digunakan oleh seluruh mahasiswa. Baik pada teks 1 maupun pada teks 2 sebanyak 16 orang mahasiswa (100 %) menggunakan teknik ini dan pada teks 1 sebanyak 1 orang mahasiswa menggunakannya hingga 8 kali. Sedangkan pada teks 2 sebanyak 3 orang mahasiswa menggunakannya hingga 7 kali. Berdasarkan persentase tersebut maka teknik ini tergolong teknik yang banyak digunakan mahasiswa. Adapun sebagian besar contoh bentuk teknik penerjemahan ini adalah sebagai berikut:

1) ’Dari nama-nama belakang itu dapat terlihat asal usul tanah leluhur mereka’ (teks 1), diterjemahkan :

’Familienname kann die Abstammung Ihrer Ahnen aussehen’ (5 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa menghilangkan kata ‘an den’ yang berarti dari.

2) ’Satu kelompok rumah dalam sebuah huta, dibatasi oleh tanaman bambu’ (teks 1), diterjemahkan :

’Ein Gruppehaus in einem Dorf wird einen Bambus beschrenkt’ (6 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa menghilangkan kata ‘von’ yang berarti oleh.

3) ’Dinding rumah adat Batak dibuat miring menengadah seperti perahu’ (teks 1), diterjemahkan :

‘Die Wand von traditionalen Haus von Batak wird schief gemacht, wie ein Schiff’ (16 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa menghilangkan kata ‚nach oben’ yang berarti menengadah.

4) ’Pintu rumah adat Batak sangat kecil, sehingga orang harus menundukkan kepalanya untuk masuk ke dalam rumah’ (teks 1), diterjemahkan :

’Die Tür des von traditionale Haus von Batak ist sehr klein, so dass man Ihr Kopf sich beugen muss’ (10 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut 1 orang mahasiswa menghilangkan bagian kalimat yaitu ‘um eintreten zu kommen’ yang berarti untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan 9 orang mahasiswa lainya menghilangkan kata ‘um’ yang berarti untuk.

5) ’Sampai pada awal 1930-an pabrikan otomotif Jerman masih memproduksi mobil mewah, dan rata-rata orang Jerman hanya bisa membeli sebuah motor’ (teks 2), diterjemahkan :

’Bis Anfang 1930 hat noch der Fabrikan des Otomotifen Deutschland das luxuriöuse Auto und durchschnittlich kann die deutsche nur ein Motorrad gekauft’ (6 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa menghilangkan kata ‚herstellen/produzieren’ yang berarti memproduksi.

6) ‚Tapi, sampai tahun 1933, banyak dari proyek tersebut masih dalam pengembangan atau produksi tahap awal’ (teks 2), diterjemahkan :

’Aber bis im Jahr 1933 sind viele Projekte noch in einer Entwicklung oder in der ersten Stufe zu produzieren’ (11 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa menghilangkan kata ‘von den’ yang berarti dari.

7) ’Pada saat itu Porsche sudah menjadi desainer Mercedes 170H dan juga pernah bekerja pada Steyr untuk beberapa waktu pada akhir 1920an’ (teks 2), diterjemahkan :

’In der Zeit hat Porsche einen Designer von Mercedes 170H geworden, und auch hat schon bei Steyr für einige Zeiten am Ende 1920 gearbeitet’ (13 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa menghilangkan kata ‚ein mal’ yang berarti pernah

8) ’Baru tahun 1948, pabrik itu diserahkan pada Jerman, dan mengambil posisi penting dalam perekonomian Jerman Barat’ (teks 2), diterjemahkan :

’Im Jahr 1948 wird die Fabrik an Deutschland gegeben, und die wichtigste Position im Westdeutschland Wirtschaft’ (15 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa menghilangkan kata ‚erst’ yang berarti baru.

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa teknik penghilangan (omissions) adalah teknik yang banyak digunakan oleh mahasiswa, karena mereka tidak menerjemahkan kata yang tidak mereka ketahui atau tidak ditemukan dalam kamus, sehingga untuk mempermudah mereka menerjemahkan teks maka kata-kata tersebut tidak diterjemahkan.

d. Teknik Penggantian (replacements)

Teknik ini merupakan teknik yang digunakan oleh seluruh mahasiswa. Baik pada teks 1 maupun pada teks 2 sebanyak 16 orang mahasiswa (100 %) menggunakan teknik ini dan pada teks 1 sebanyak 1 orang mahasiswa menggunakannya hingga 11 kali dan 2 orang lainnya menggunakan teknik ini sebanyak 8 kali. Sedangkan pada teks 2 sebanyak 2 orang mahasiswa menggunakannya hingga 9 kali. Berdasarkan persentase tersebut maka teknik ini tergolong teknik yang banyak digunakan

mahasiswa. Adapun sebagian besar contoh bentuk teknik penerjemahan ini adalah sebagai berikut:

1) ’Bangsa Batak terdiri dari berbagai suku, seperti Karo, Mandailing, Simalungun, dan lainnya’ (teks 1), diterjemahkan :

’Batak Stamm besteht aus einigen Stämmen, nämlich Karo, Mandailing, Simalungun, usw’ (9 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa mengganti kata ‘Volk’ yang berarti bangsa dengan kata ‘Stamm’ yang berarti suku

2) ’Huta dalam Bahasa Batak adalah kampung’ (teks 1), diterjemahkan : ’Huta bedeutet ist Heimat’ (5 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa mengganti kata ‘Dorf’ yang berarti kampung dengan kata ‘Heimat’ yang berarti kampung halaman.

3) ’Dari nama-nama huta itulah asal nama marga mereka’ (teks 1), diterjemahkan : ‘Von den Dorfnamen kommen Ihren Familiennamen’ (7 orang mahasiswa) Dalam terjemahan tersebut mahasiswa mengganti kata huta dengan ‘Dorf’

4) ’Hitler menginginkan sebuah mobil standar untuk 2 dewasa dan 3 anak dan berkecepatan 100 km/jam’ (teks 2), diterjemahkan :

’Hitler möchte ein standardes Auto für zwei Erwachsene und drei Kinder und mit der Geschmindigkeit 100 km/Stunden’ (13 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa mengganti kata ‚wollte’ dengan kata ‚möchte’.

5) ’Sayangnya pabrik ini hanya memproduksi sedikit mobil karena Perang Dunia II pecah pada tahun 1939’ (teks 2), diterjemahkan :

’Leider, diese Fabrik hat nur wenig Auto produziert, weil zweite Weltkrieg im Jahr 1939 ist passiert’ (14 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa mengganti kata ‚anfangen’ yang berarti mulai dengan kata ‚ist passiert’ yang berarti terjadi.

6) ’Salah satu produksinya, Type 1 Cabriolet dipersembahkan pada Hitler tanggal 20 April 1938, di ulang tahun Hitler ke 49’ (teks 2), diterjemahkan :

’Manche die Produktion, wird Type 1 Cabriolet für Hitler am 20. April 1938 gegeben, in Hitler 49. Geburtstag’ (13 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa mengganti kata ‚widmen’ yang berarti mempersembahkan dengan kata ‚geben’ yang berarti memberikan.

7) ’Tapi, pertengahan perang, kota KdF-Stadt beserta pabriknya di bom hingga rusak berat’ (teks 2), diterjemahkan :

’Aber im Mittelkrieg wird KdF-Stadt und seine Fabrik bis sehr Kaputt gebombet’ (14 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut mahasiswa mengganti kata ‚zerstört’ yang berarti rusak karena perang dengan kata ‚kaputt’ yang berarti rusak (untuk benda).

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa teknik penggantian (replacements) adalah teknik yang banyak digunakan oleh mahasiswa, karena mahasiswa hanya melihat makna kamus dan tidak mengetahui penggunaan kata tersebut dalam konteks sebuah kalimat. Walaupun memiliki makna yang sama namun penggunaannya tidak selalu sama.

e. Kompresi (Compressions)

Teknik ini merupakan teknik yang sangat jarang digunakan oleh mahasiswa. Pada teks 1 hanya 8 orang mahasiswa (50 %) menggunakan teknik ini dan setiap mahasiswa hanya menggunakannya 1 kali, 8 orang lainnya (50%) tidak menggunakannya. Pada teks 2 hanya 1 orang mahasiswa (6,25 %) menggunakan teknik ini dan juga hanya digunakan 1 kali. Sedangkan 15 orang lainnya (93,75%) tidak menggunakan teknik kompresi. Berdasarkan persentase tersebut maka teknik ini tergolong teknik yang tidak banyak digunakan mahasiswa. Adapun contoh bentuk teknik penerjemahan ini adalah sebagai berikut:

1) ’Pintu yang kecil ini bermakna bahwa setiap orang yang masuk rumah harus mematuhi peraturan yang berlaku di dalam rumah tersebut, siapapun orang itu’ (teks 1), diterjemahkan :

’Diese kleine Tür bedeute, Jemand in Haus gehts, muss man die Ordnung im Haus folgen, keine Ausnahme’ (8 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut kalimat ’siapapun orang itu’ di kompresi menjadi ’keine Ausnahme’ yang berarti tanpa terkecuali.

2) ’Volkswagen (biasa disingkat VW) adalah sebuah perusahaan otomotif di Wolfsburg, Niedersachsen, Jerman’ (teks 2), diterjemahkan :

’Volkswagen (Abkürzung VW) ist ein Automotife Betrieb in Wolfsburg, Niedersachsen, Deutschland’ (1 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut kalimat ’biasa disingkat VW’ dikompresi menjadi ’Abkürzung’ yang berarti singkatan dari.

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa teknik kompresi adalah teknik yang sangat jarang digunakan mahasiswa. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mahasiswa mengenai teknik-teknik penerjemahan termasuk teknik kompresi.

f. Substitusi

Teknik ini merupakan teknik yang jarang digunakan oleh mahasiswa. Pada teks satu hanya 4 orang mahasiswa (25 %) menggunakan teknik ini dan setiap mahasiswa hanya menggunakannya satu kali, sedangkan 12 orang lainnya (75%) tidak menggunakan substitusi. Namun pada teks 2 sebanyak 16 orang mahasiswa (100 %) menggunakan teknik ini dan 13 orang mahasiswa menggunakannya sebanyak 3 kali. Berdasarkan persentase tersebut maka teknik ini tergolong teknik yang jarang digunakan mahasiswa. Adapun contoh bentuk teknik penerjemahan ini adalah sebagai berikut:

1) ’Pintu yang kecil ini bermakna bahwa setiap orang yang masuk rumah harus mematuhi peraturan yang berlaku di dalam rumah tersebut, siapapun orang itu’ (teks 1), diterjemahkan :

’Diese kleine Tür bedeutet, dass jede Person, die im Haus tritt ein, muss die Regeln in diesem Haus folgen. Irgendwer’ (3 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut kalimat ‚siapapun orang itu’ langsung diterjemahkan ‚irgendwer’ yang dalam bahasa Jerman berarti siapa saja.

2) ’Melihat sebuah pasar potensial, beberapa pabrikan membuat proyek independen untuk “mobil rakyat” seperti Mercedes' 170H, Adler AutoBahn, Steyr 55, Hanomag 1.3L, dan lainnya’ (teks 2), diterjemahkan :

’Wegen Fabrikant einen potenziellen Markt sieht, machen einigen Fabrikanten selbständige Projekt für „Volkswagen“ wie Mercedes 170 H, Adler Autobahn, Steyr 55, Hanomag 1,3L und so weiter’ (14 orang mahasiswa)

Dalam terjemahan tersebut ‚mobil rakyat’ langsung diterjemahkan ‚Volkswagen’ Melihat contoh tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa teknik substitusi adalah teknik yang jarang digunakan mahasiswa, kalaupun mereka menggunakannya, mereka menggunakan teknik ini secara tidak disadari, karena mahasiswa tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai teknik penerjemahan.

g. Terjemahan Bebas (free translation)

Teknik ini merupakan teknik yang sangat sedikit digunakan oleh mahasiswa. Pada teks 1 hanya 1 orang mahasiswa (6,25 %) menggunakan teknik ini dan hanya digunakan 1 kali oleh mahasiswa, 15 orang mahasiswa lainnya (93,75%) tidak menggunakan teknik ini. Sedangkan pada teks 2 sebanyak 2 orang mahasiswa (12,5 %) menggunakan teknik ini dan hanya digunakan 1 hingga 2 kali, 14 orang

mahasiswa lainnya (87,5%) tidak menggunakan teknik terjemahan bebas. Berdasarkan persentase tersebut maka teknik ini tergolong teknik yang sangat jarang digunakan mahasiswa. Adapun contoh bentuk teknik penerjemahan ini adalah sebagai berikut:

1) ’Orang Batak percaya, hendaknya orang dapat hidup seperti cicak, yang dapat hidup di rumah mana saja’ (teks 1), diterjemahkan :

’Bataksvolk glaubt, man soll besser als Hauseldechse leben’ (1 orang mahasiswa) Kalimat mahasiswa tersebut bila diterjemahkan secara harfiah berarti “bangsa Batak percaya, orang harus hidup lebih baik dari cicak”

2) ’Moto Volkswagen saat ini adalah The Car’ (teks 2), diterjemahkan : ’Heute ist Volkswagenmotto The Car’ (1 orang mahasiswa)

Kalimat mahasiswa tersebut bila diterjemahkan secara harfiah berarti “Saat ini moto Volkswagen adalah The Car”

3) ’Baru tahun 1948, pabrik itu diserahkan pada Jerman, dan mengambil posisi penting dalam perekonomian Jerman Barat’ (teks 2), diterjemahkan :

’Im Jahr 1948 wird diese Fabrik an Deutschland gegeben und sie hat große Rolle in der WirtschaftsWestdeutschland gespielt’ (1 orang mahasiswa)

Kalimat mahasiswa tersebut bila diterjemahkan secara harfiah berarti ”Pada tahun 1948 pabrik itu diserahkan pada Jerman dan dia berperan penting dalam perekonomian Jerman Barat“

Melihat contoh tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa teknik terjemahan bebas merupakan teknik yang sangat jarang digunakan mahasiswa. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mahasiswa tentang teknik-teknik penerjemahan.

Dokumen terkait