BAB III JENIS TEKNIK PENGOLAHAN DATA
3.6. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
A. Pengertian Teknik Pengambilan Sampel
Teknik Pengambilan Sampel adalah suatu cara atau proses untuk memperoleh sampel daru suatu populasi
B. Macam-Macam Teknik Pengambilan Sampel
Jenis teknik pengambilan sampel dapat dibedakan berdasarkan 2 hal, yaitu :
1. Proses Pemilihannya
• Teknik Pengambilan Sampel dengan Pengembalian (Sampling With Replacement) Caranya : setiap anggota sampel yang terpilih dikembalikan lagi ke tempatnya sebelum pemilihan selanjutnya dilakukan. Hal ini memungkinkan bahwa suatu sampel akan terpilih lebih dari sekali.
• Teknik Penarikan Sampel Tanpa Pengembalian (Sampling Without Replacement) Caranya : setiap anggota sampel yang terpilih tidak dikembalikan lagi ke dalam satuan populas.
C. Peluang Pemilihannya
1. Teknik Penarikan Sampel Probabilitas (Probability Sampling) Pemilihan sampel dalam sampling probability dilakukan secara acak dan objektif. Hal bermakna bahwa pemilihan sampel tidak hanya didasarkan pada keinginan peneliti, sehingga setiap anggota populasi memiliki kesempatan tertentu untuk terpilih sebagai sampel.
2. Teknik Penarikan Sampel Sistematik (Systematic Sampel) Cara sistematik tidak jauh berbeda dengan cara acak. Cara sistematik merupakan cara acak yang dilakukan secara sistematik, yaitu mengikuti suatu pola tertentu dari nomor anggota populasi yang dipilih secara acak berdasarkan jumlah sampel yang sudah ditetapkan.
Contoh : Seorang peneliti ingin memilih sampel sebanyak 40 dari suatu populasi yang berjumlah 200. Berilah nomor setiap objek dari populasi dengan 16 nomor urut 1 sampai dengan 200. Kemudian bagi objek tersebut menjadi 40 kelompok, dimana setiap kelompoknya terdiri atas 5 individu. Kelompok
pertama beranggotakan objek dengan nomor 1 sampai 5, kelompok kedua beranggotakan objek dengan nomor 6 sampai 10 dan seterusnya sampai kelompok ke-40 beranggotakan objek dengan nomor 196-200. Masing-masing kelompok diambil satu objek untuk ditetapkan sebagai sampel.
3. Teknik Penarikan Sampel Berstrata (Stratified Sampling) Pengambilan sampel secara strata biasanya dilakukan terhadap populasi yang berkelompok. Hal ini dilakukan supaya anggota populasi terpilih secara acak dan setiap kelompok yang ada dalam popualsi dapat terwakili. Pada teknik ini banyaknya sampel pada setiap kelompok berjumlah sama.
4. Teknik Penarikan Sampel Klaster (Cluster Sampling) Pengambilan sampel secara klaster, anggota populasi dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian dipilih semuanya atau dapat juga sebagian elemen dari setiap kelompok yang terpilih untuk dijadikan sampel. Contoh : Penelitian untuk mengetahui rata-rata penghasilan keluarga pada sebuah daerah. Daftar yang mungkin diperoleh adalah daftar namanama desa di daerah tersebut. Desa merupakan kumpulan keluarga. 17 Sehingga desa dianggap sebagai klaster. Pemilihan sampel dilakukan dengan memilih secara acak klaster-klaster tersebut
D. Teknik Penarikan Sampel Non-Probabilitas (Non-Probability Sampling)
Teknik penarikan sampel non-probabilitas merupakan pengembangan dari teknik sampel probabilitas. Hal ini dimaksudkan untuk menjawab kesulitan yang timbul dalam mengaplikasikan teknik sampel probabilitas.
Kesulitan-kesulitan tersebut terutama dalam hal biaya dan kerangka sampel. Sampel yang termasuk dalam kategori sampel nonprobabilitas diantaranya:
1. Teknik Penarikan Sampel Kemudahan (Convenience Sampling) Pada teknik ini, sampel diambil secara spontanitas.
Hal ini diartikan bahwa siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan memenuhi kriteria yang sesuai, maka orang tersebut dapat dijadikan sebagai sampel. Teknik ini didasarkan pada pertimbangan kemudahan dan kepraktisan menurut pandangan peneliti. Kekurangan pada teknik ini yang
paling utama adalah kesulitan untuk generalisasi dari data yang diperoleh.
2. Teknik Penarikan Sampel Judgement (Judgement Sampling / Purposive Sampling) 18 Teknik penarikan sampel ini dilakukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan terhadap anggota dari populasi yang disesuaikan dengan tujuan atau rumusan masalah penelitian. Dalam hal ini, subjektifitas dan pengalaman peneliti memiliki andil yang besar.
3. Teknik Penarikan Sampel Kuota (Quota Sampling) Teknik ini mengandung arti bahwa apabila peneliti mengambil sampel dari suatu populasi penelitian dengan cara menentukan sejumlah anggota sampel secara kuota. Tahapan dalam penarikan sampel secara kuota, yang pertama adalah menetapkan jumlah sampel yang dibutuhkan, lalu menetapkan banyaknya kuota. Kuota tersebut yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang dibutuhkan.
4. Snowball Sampling Snowball Sampling adalah salah satu bentuk judgement sampling yang sangat tepat digunakan jika populasinya kecil dan spesifik. Cara penarikan sampel dengan teknik ini dilakukan secara berantai. Artinya semakin lama, jumlah sampel semakin besar, layaknya bola salju yang menggelinding. Dalam prakteknya, responden yang diwawancarai diminta untuk menyebutkan responden lainnya yang memiliki spesifikasi yang sama (karena biasanya mereka saling mengenal) sampai diperoleh sampel sebanyak yang dibutukan oleh peneliti.
3.7 Definisi Variabel dan Jenis-Jenisnya A. Pengertian Variabel
Variabel adalah sesuatu yang menjadi objek pengamatan penelitian. Nilai untuk setiap variabel dapat bervariasi. Variabel dari suatu penelitian dapat diamati atau dihitung dan diukur.
B. Macam-Macam Variabel
Variabel dapat dikelompokkan menurut beragam cara. Namun terdapat tiga jenis pengelompokkan variabel yang sangat penting dan mendapatkan penekanan
1. Variabel Bebas dan Variabel Terikat
Variabel Bebas sering disebut Variabel Independent. Variabel Bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan
atau timbulnya variabel terikat. Sedangkan Variabel Terikat atau disebut juga sebagai Variabel Dependent, diartikan sebagai variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
Contoh : Penelitian dalam Bidang Pendidikan. Variabel Terikat yang biasa diteliti di antaranya : Prestasi Belajar. Selanjutnya, untuk mengetahui faktor-faktor yang 21 mempengaruhi prestasi belajar, yang kemudian disebut sebagai Variabel Bebas, di antaranya : Kecerdasan, Metode Pembelajaran, Suasana Kelas, Tingkat Ekonomi, dan sebagainya. Untuk lebih memahami tentang variabel bebas dan variabel terikat, akan dijelaskan pada jenis-jenis variabel berikutnya.
2. Variabel Aktif dan Variabel Atribut
Variabel Aktif adalah variabel bebas yang dimanipulasi. Contoh penggunaan atau pemilihan metode pembelajaran yang berbeda terhadap suatu kelompok (kelas) dengan kelompok (kelas) lainnya. Variabel Atribut adalah variabel yang tidak dapat dimanipulasi. Hal ini berarti variabel atribut merupakan variabel yang sudah melekat dan merupakan ciri dari subjek penelitian.
Contoh : Kecerdasan, Jenis Kelamin, Tingkat Ekonomi, Daerah Geografis suatu wilayah, dan sebagainya. Ketika seorang peneliti melakukan penelitian, maka subjek-subjek dalam penelitian tersebut sudah membawa variabel-variabel (atribut) itu. Yang membentuk subjek penelitian tersebut di antaranya adalah Lingkungan, Keturunan, dan Kondisi-Kondisi lainnya.
3. Variabel Kualitatif dan Variabel Kuantitatif
Variabel Kualitatif merupakan Variabel Kategori. Variabel kualitatif berkaitan dengan suatu jenis pengukuran. Yang termasuk variabel kualitatif adalah Variabel Nominal dan Variabel Ordinal. 22 Pengukuran tersebut dinamakan pengukuran nominal. Dalam pengukuran nominal terdapat 2 himpunan bagian ataupun lebih yang merupakan bagian dari himpunan objek yang diukur. Objek-objek tersebut dikategorikan menurut ciri-ciri yang dimiliki dari objek tersebut, di mana ciri-ciri tersebut merupakan penentu suatu himpunan bagian.
Contoh Variabel Kategori :
a. Jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) b. Bentuk negara (republik dan demokrat) c. Warna kulit (kulit putih dan kulit hitam) d. Kewarganegaraan (WNI dan WNA)
e. Agama f. Pendidikan g. Pekerjaan
Suatu variabel yang secara teoritis dapat menyandang nilai yang terletak di antara dua buah nilai tertentu disebut sebagai variabel kontinu. Jika tidak demikian, kita menyebutnya sebagai variabel diskrit. Furqon (1999:10) berpendapat bahwa ada beberapa peubah (variable) yang sangat penting dipahami, antara lain: pengaruhnya kepada peubah terikat dikendalikan.
d. Peubah Moderator (Moderator Variable), yaitu peubah yang mempengaruhi hubungan antara peubah bebas dengan peubah terikat. Contoh : • “Usia” adalah gejala kualitatif, akan tetapi gejala yang bersifat kualitatif itu dilambangkan dengan angka, misalnya: 17 tahun, 25 tahun dan sebagainya. • “Nilai Ujian”
pada dasarnya adalah gejala kualitas yang dilambangkan dengan angka, seperti : 5, 7, 8, 50, 70 dan sebagainya.
C. Kegunaan Variabel Penelitian Berikut adalah beberapa kegunaan variabel penelitian :
1. Untuk mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data 2. Untuk mempersiapkan metode analisis atau pengolahan data 3. Untuk pengujian hipotesis.
D. Kriteria Variabel Penelitian Variabel penelitian yang baik, memiliki kriteria sebagai berikut :
1. Relevan dengan tujuan penelitian 2. Dapat diamati dan diukur
3. Dalam suatu penelitian, variabel perlu diidentifikasi, diklasifikasi, dan didefinisikan secara operasional dengan jelas dan tegas. Agar tidak menimbulkan kesalahan dalam pengumpulan dan pengolahan data dan juga dalam pengujian hipotesis.
E. Pengertian Variabel Penelitian Menurut Ahli (Pakar)
5. Menurut Suharsimi Arikunto (1998), pengertian variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi perhatian suatu titik perhatian suatu penelitian.
6. Menurut Sugiyono (2009), pengertian variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
7. Menurut Kerlinger (2006), pengertian variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari yang mempunyai nilai yang bervariasi. Variabel adalah simbol atau lambang yang padanya kita letakkan sembarang nilai atau bilangan.
F. Klasifikasi Variabel Penelitian
Variabel dapat diklasifikasikan berdasarkan antara lain:
1. skala pengukurannya, 2. konteks hubungannya, dan
3. dapat tidaknya variabel dimanipulasi.
G. Macam Variabel Berdasarkan skala pengukurannya
Variabel penelitian berdasarkan skala pengukurannya yaitu antara lain:
1. Variabel Nominal 2. Variabel Ordinal 3. Variabel Interval 4. Variabel Rasio
1. Variabel nominal
Variabel nominal adalah variabel dengan skala paling sederhana karena fungsinya hanya untuk membedakan atau memberi label suatu subjek atau kategori. Contoh variabel nominal: jenis kelamin (laki-laki dan perempuan).Variabel nominal merupakan variabel dengan derajat paling rendah.
Variabel ini mempunyai ciri-ciri yaitu tidak bisa dilakukan operasi matematis sebab bentuk datanya adalah kualitatif. Sesuai contoh diatas misalnya jenis
kelamin. Tidak bisa dilakukan operasi matematis misalnya laki-laki ditambah perempuan menjadi sesuatu.Beda halnya dengan data interval atau rasio yang dapat dilakukan operasi matematis misalnya berat badan 50 Kg ditambah 10 Kg = 60 Kg.
Selain itu, variabel nominal ini berbeda dengan variabel ordinal atau bertingkat. Jadi tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, lebih baik ata lebih buruk dan lain sebagainya yang menunjukkan perbedaan tingkat. Seperti contoh diatas misalnya, jeis kelamin laki-laki belum tentu lebih baik dari pada jenis kelamin perempuan.
2. Variabel ordinal
Variabel ordinal adalah variabel yang dibedakan menjadi beberapa secara bertingkat. Contoh variabel ordinal adalah: status sosial ekonomi rendah, sedang, tinggi.Variabel ordinal ini sifatnya hampir sama dengan variabel nominal, hanya saja perbedaannya yaitu disini bertingkat. Artinya ada yang lebih baik atau buruk.
Misalnya status sosial ekonomi tinggi adalah lebih baik dari pada status sosial ekonomi sedang. Dan ekonomi sedang lebih baik dari pada ekonomi rendah, begitu pula sebaliknya.
Variabel ordinal berbeda dengan variabel interval atau rasio, dimana disini juga tidak dapat dilakukan operasi matematis.
3. Variabel interval
Variabel interval adalah variabel yang selain dimaksudkan untuk membedakan, mempunyai tingkatan, juga mempunyai jarak yang pasti atau satu kategori dengan kategori lainnya, contoh prestasi belajar atau motivasi belajar: 5, 6, 7, 8, dst.
4. Variabel rasio
Variabel rasio merupakan variabel selain bersifat membedakan, mempunyai tingkatan yang jaraknya pasti, dan setiap nilai kategori diukur dari titik yang sama, contoh variabel rasio adalah: berat badan, tinggi badan, dst.
Variabel rasio ini sebenarnya sama dengan variabel interval, namun mempunyai perbedaan yaitu dalam variabel rasio ada nilai 0 absolut yang artinya diukur dari titik awal atau titik mula yang sama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa variabel rasio merupakan variabel dengan derajat tertinggi.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan urutan derajat variabel dari yang terendah ke yang tertinggi adalah sebagai berikut: Nominal, Ordinal, Interval kemudian Rasio.
H. Variabel numerik berdasarkan perolehannya
Variabel numerik berdasarkan perolehannya ada 2 macam yaitu variabel kontinyu dan variabel diskrit.
1. Variabel Kontinyu
Variabel Kontinyu adalah variabel numerik yang cara perolehannya dari menghitung. Misalnya nilai ulangan Bahasa Indonesia.
2. Variabel Diskrit
Variabel Diskrit adalah variabel numerik yang cara perolehannya dari mengukur. Misalnya Suhu Badan. Dalam hal ini mendapatkan nilai suhu bada maka harus melakukan pengukuran misalnya menggunakan alat termometer.
I. Variabel Penelitian Berdasarkan konteks hubungannya
Variabel dalam suatu penelitian jumlahnya bisa lebih dari satu.
Variabel-variabel tersebut saling berhubungan dan jika ditinjau dari konteks hubungannya ini, maka jenis variable dapat dibedakan menjadi variabel antara lain:
1. Variabel bebas 2. Variabel Terikat
3. Variabel Moderator atau Interveining 4. Variabel Perancu
5. Variabel Kendali 6. Variabel Rambang
J. Penjelasan Jenis Variabel Berdasarkan Konteks Hubungannya:
1. Variabel bebas atau independent variable
Variabel bebas adalah variabel yang nilainya mempengaruhi variabel lainnya, yaitu variable terikat.Contoh variabel bebas adalah misalnya dalam penelitian yang berjudul: Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Siswa. Dalam hal ini, motivasi belajar diduga mempengaruhi prestasi belajar. Maka motivasi belajar sebagai variabel bebas. Dikatakan bebas sebab nilanya dapat berubah-ubah dan setiap perubahan itu mempengaruhi nilai variabel terikat.
2. Variabel terikat atau dependent variable
Variabel terikat merupakan variabel yang nilainya tergantung dari nilai vaiabel lainnya.Contoh variabel terikat adalah misalnya seperti yang dijelaskan dalam poin pertama diatas, yaitu dalam penelitian yang berjudul: Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Siswa. Dalam hal ini, prestasi belajar diduga dipengaruhi oleh motivasi belajar. Maka prestasi belajar sebagai variabel terikat. Dikatakan terikat karena nilainya tergantung kepada variabel bebas yaitu motivasi belajar.
3. Variabel moderator atau variable intervening
Variabel moderator merupakan variable yang juga mempengaruhi variabel terikat, namun dalam penelitian pengaruhnya tidak diutamakan.
Variabel interveining disebut juga variabel perantara, sebab keberadaannya dapat mempengaruhi hubungan variabel bebas dengan
variabel terikat.Contoh variabel interveining adalah misalnya dalam penelitian yang berjudul pengaruh IQ terhadap nilai matematika melalui frekuensi belajar. Konsep dari judul tersebut, diduga IQ mempengaruhi nilai matematika siswa namun harus melalui frekuensi belajar. Sebab meskipun IQ tinggi tetapi tidak belajar maka nilai ujian matematika juga akan diduga rendah.
4. Variabel perancu (confounding variable)
Variabel perancu merupakan variabel yang berhubungan variabel bebas dan variabel terikat, tetapi bukan variable antara.
5. Variabel kendali
Variabel kendali merupakan variabel yang juga mempengaruhi variabel terikat, tetapi dalam penelitian keberadaannya dijadikan netral.
BAB IV
MENGOLAH DATA HASIL PENELITIAN
4.1 DATA BERDASARKAN SUMBERNYA A. DATA PRIMER
Adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber data utama. Data primer disebut juga sebagai data asli asli atau data baru yang memiliki sifat up to date.untuk mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara primer antara lain observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner.
B. DATA SEKUNDER
Adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dan berbagai sumber yang telah ada (peneliti senagai tangan ke dua). Data sekunder dapat di pereroleh dari berbagai sumber seperti biro pusat statistik(BPS) buku, laporan, dan lainnya.
4.2 DATA BERDASARKAN BENTUK DAN SIFATNYA
Data mencari dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu data kualitatif (berbentuk kata-kata/kalimat) dan data kuantitatif (berbentuk angka). Data kuantitatif dapat sujud berdasarkan cara untuk dapatkan yaitu data diskrit dan data kontinium. Berdasarkan seperti data kuantitatif terdiri atas data norminal, data urut, data selang dan data rasio.
A. DATA KUALITATIF
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata,bukan dalam bentuk angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumendiskusi terfokus atau observasi yang telah dan dalam catatan lapangan (transkip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman vidio.
B. DATA KUANTITATIF
Data kualitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan bentuk, bentuk data kuantitatif dapat diperoleh atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika.
Data kuantitatif terdapat dua bentuk yaitu:
A. Data diskrit adalah data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara membilang. Contoh data diskrit misalnya:
❖ Jumlah sekolah dasar negara di kecamatan XXX sebanyak 20
❖ Jumlah siswi laki-laki di SD YYY sebanyak 67 orang B. Data kontinum adalah data dalam bentukangka/bilangan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengukuran. Data kontinium dapat berbentuk bilangan bulat atau ini tergantung jenis skala
pengukuran yang digunakan. Contoh data kontinium adalah:
❖ Tinggi badan budi adalah 150,5 sentimen
❖ IQ budi adalah 120.
4.3 DATA MENURUT WAKTU PENGUMPULANYA A. Data berkala (time series)
Data berkala adalah data yang berkumpul dari waktu ke waktu untuk memberikan gambaran perkembangan harga bahan pokok selama 10 bulan terakhir yang terkumpul setiap bulan.
B. Data cross section
Data cross section adalah data yang terkumpul pada suatu waktu tertentu untuk memberikan gambaran perkembangan keadaan atau kegiatan pada waktu itu. Misalnya hasil ujian semester 1, datasensus penduduk tahun 2010.
4.4 Data menurut susunan
A. Data acak atau data tunggal
Data acak atau tunggal adalah data yang belum tersusun atau dikelompokkan kedalam kelas-kelas interval
B. Data kelompok
Data kelompok adalah data yangsudah tersusun atau dikelompokkan ke dalam kelas-kelas interval. Data kelompok disusun dalam bentuk distribusi frekuensi atau frekuensi.
4.5 UKURAN PEMUSATAN DAN PENYEBARAN DATA A. UKURAN PEMUSATAN DATA
Ukuran pemusatan data adalah ukuran yang banyak dipakai sebagai alat atau parameter untuk digunakan sebagai bahan pegangan dalam menafsirkan suatu gejala yang akan diteliti berdasarkan hasil pengolahan data. Ukuran pemusatan terdiri dari:
❖ Rata-rata hitung
❖ Rata-rata ukur
❖ Rata-rata hormonik
❖ Modus
❖ Meedian
B. UKURAN PENYEBARAN DATA
Selain ukuran pemutusan data, juga terdapat ukuran penyebaran data. Ukran ini digunakan untuk menunjukan seberapa jauhnya suatu data menyebar dari rata-ratanya. Ukuran penyebaran data terdiri dari :
❖ Jangkauan data(range)
❖ Jangkauan antar kuartil
❖ Simpangan kuartil
❖ Simpangan rata-rata
4.6 MENGOLA DATA HASIL PENELITIAN TENTANG DISTRIBUSI FREKUENSI, PEMUTASAN DAN DATA PENYEBARAN
A. Distribusi Frekuensi
Data pertama yang diperoleh pada suatu observasi disebut dengan data mentah (raw data). Data ini belum tersusun secara numerik. Sebagai contoh data mengenai tinggi badan siswa yang penyajiannya masih dalam bentuk presensi kehadiran yang biasanya hanya diurutkan berdasarkan alphabet nama siswa. Terkadang data mentah disajikan berdasarkan urutan naik (ascending) atau urutan turun (descending). Bentuk penyajian seperti ini disebut array. Selisih antara nilai data terbesar dan terkecil disebut rentang (range). Dalam bekerja dengan jumlah data yang cukup besar, biasanya lebih menguntungkan jika data ini disajikan dalam kelas-kelas atau kategori tertentu bersamaan dengan frekuensi yang bersesuaian.
Frekuensi yang dimaksud adalah banyaknya kejadian yang ada pada kelas-kelas tertentu. Suatu tabel yang menyajikan kelas-kelas-kelas-kelas data beserta frekuensinya disebut distribusi frekuensi atau tabel frekuensi.
Macam-macam distribusi frekuensi yaitu :
1. Distribusi frekuensi menurut bilangan adalah distribusi frekuensi yang pembagian kelas-kelasnya dinyatakan dalam angka-angka atau secara kuantitatif.
2. Distribusi frekuensi menurut kategori adalah distribusi frekuensi yang pembagian kelas-kelasnya berdasarkan atas macam-macam data, atau golongan data.
BAB V
MENYAJIKAN DATA HASIL PENELITIAN SEBAGAI SUMBER INFORMASI
5.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan peneliti adalah analisis teks media, dalam penelitian komunikasi yang khususnya berkaitan dengan media konvensional maupun media televisi. Beberapa definisi dalam menganalisis isi media antara lain, sebagai metode pembelajaran dan menganalisa komunikasi secara sistematis, secara objektif, dan bersifat kuantitatif. Tabel distribusi frekuensi adalah cara penyajian data berdasarkan pengelompokan data dalam kelas interval dengan frekuensi tertentu. Penyajian data dengan tabel distribusi frekuensi berfungsi untuk memudahkan pembaca atau mengkomunikasikan sekumpulan data yang sangat banyak. Pengelompokan data dengan frekuensi ke dalam kelas interval dapat diurutkan dari data terkecil ke data terbesar dan sebaliknya.
Adapun beberapa alternatif dalam menganalisa (terutama teks) media, yakni analisis wacana, hermeneotik, semiotika, dan analisis isi20. Dalam menganalisis media massa ada 4 metode penelitian dalam analisis teks media yang sering di lakukan oleh banyak peneliti, alias analisis media yaitu:
1. Analisis Isi Analisis isi (Content Analysis) adalah Suatu metode untuk menganalisis isi sebuah pesan atau teks.Pendekatan media ini adalah kuantitatif yang ditafsirkan dalam unit analisis yang bisa dihitung.Analisis isi bertujuan untuk mendapatkan pemahaman struktur makna sebuah teks dan pesan secara konsisten.
2. Analisis Isi Wacana
Analisis wacana adalah metode penelitian yang bersifat konstruktivisme, suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu dan suatu upaya
pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan.
3. Analisis Semiotika
Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya. Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik.
4. Analisis Framing nalisa
Framing adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas aktor, kelompok, atau apa saja yang bisa dikonstruksi oleh media. Analisa framing memiliki dua konsep yakni konsep pskiologis dan sosiologis.Konsep psikologis lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas. Analisis Framing